Journal Online ISI Padangpanjang
Not a member yet
1530 research outputs found
Sort by
Naskah Lakon Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik Punggung) sebagai Alih Wahana Roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai) Karya Marah Rusli
The creation of the play script Siti Nurbaya (Wajag di Sebalik Punggung) as a replacement for the romance Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) by Marah Rusli is an attempt to design a play script by turning the romance genre into a drama or play script. This design is the result of a new interpretation in terms of content and literary genre, namely a transfer of vehicles from the romance genre to the drama genre, which will later become the starting point in theatrical creativity. critical analysis of Siti Nurbaya's romance (Kasih Tak Sampai) so that a new structure for the play is formed, both from the characterizations, plot and setting of the story. The new structure resulting from the re-interpretation is then formatted in scene after scene and dialogue between characters, some of which are 'opposite' to what is stated and told in the novel Siti Nurbaya (Kasih Tak Sampai). The play script was later given the title Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik PunggungAbstrakPenciptaan naskah lakon Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik Punggung) sebagai alih wahana roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai) karya Marah Rusli merupakan upaya untuk merancang naskah lakon dengan menjadikan genre roman untuk dikreasi ulang ke dalam genre drama atau naskah lakon. Perancangan ini merupakankan hasil dari sebeuah penafsiran baru secara isian (content) maupun secara genre satra, yakni sebuah alih wahana dari genre roman menuju genre drama, yang kelak merupakan titik pijak dalam kreativitas teater.Penciptaan atau perancangan drama (naskah lakon) tersebut diawali dengan melakukan analisis kritis terhadap roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai) sehingga terbentuk struturisasi naskah lakon yang baru, baik yang tergambar dari penokohan, alur dan latar cerita. Struktur baru dari hasil tafsir ulang tersebut kemudian diformat dalam pengadegan demi pengadegan dan dialog antar tokoh yang di antaranya ‘berkebalikan’ dengan yang tertuang dan dituturkan dalam roman Siti Nurbaya (Kasih tak Sampai). Naskah lakon itu yang kemudian diberi judul Siti Nurbaya (Wajah di Sebalik Punggung
BAKAYAT DALAM UPACARA MAMBILANG AGHI KA-100 DI NAGARI SILANTAI KECAMATAN SUMPUR KUDUS KABUPATEN SIJUNJUNG
Silantai merupakan salah satu Nagari yang terletak di Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Sumatera Barat yang memiliki beragam kesenian. Salah satunya adalah kesenian bakayat. Bakayat merupakan seni tutur berbentuk nyanyian dan dibawakan dengan dialek lokal yang termasuk ke dalam tradisi lisan yang biasanya hadir dalam upacara mambilang aghi ka-100. Bakayat disajikan di sela-sela istirahat dalam pelaksanaan mauluak dan sesudah manamat kaji. Penelitian pada pertunjukan bakayat menggunakan metode penelitian kualitatif bersifat deskriptif sesuai dengan upacara yang dilaksanakan. Teori yang dipakai untuk membahas penelitian ini adalah teori bentuk yang dicetuskan oleh Bagus Susetyo dan teori struktur oleh Singer. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bakayat ditinjau dari bentuk, struktur dan aspek musikal yang dimilikinya, serta mendeskripsikan bentuk dari upacara mambilang aghi ka-100 yang ada di Nagari Silantai, yangbertujuan untuk mengetahui struktur dan aspek musikal dalam penyajian bakayat, sehingga hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam upaya pelestarian seni tradisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakayat bukan sebuah kesenian tunggal yang hadir dalam kegiatan mambilang aghi ka-100, melainkan pertujukan bakayat saling berkaitan satu sama lain dengan pelaksanaan mauluak dalam kegiatan mambilang aghi ka-100
EKSPERIMENTAL MEKANIKA GERAK KINCIA PADA KARYA SENI KINETIK
Kincia is one of the cultural products in Minangkabau that functions as a tool for pounding rice by utilizing the power of river water flow. The concept of creation is inspired by traditional technology and cultural values that exist in kincia in Minangkabau, the concept and idea of this creation are realized using the theoretical basis of form, function, aesthetic, and kinetic. The creation of this work goes through several stages, namely exploration, design, and realization In the process of working on this work using craft techniques, namely scroll techniques, lathe techniques, construction techniques and lamination techniques, the materials used in making this work are several types of wood such as Surian wood, jackfruit wood, jelutung wood, and rengas wood. created using a power source from the rotation of the lever which is allowed for direct movement by the audience and some works using a rotating motor such as a dynamo, some works highlight interaction with the audience to provide a different experience that will be felt by the audience. Kincia adalah salah satu produk kebudayaan di Minangkabau yang berfunfgsi sebagai alat untuk menumbuk padi dengan memanfaatkan tenaga aliran air sungai. Konsep penciptaan ini terinspirasi dari teknologi tradisional dan nilai-nilai budaya yang ada pada kincia di Minangkabau, konsep dan ide penciptaan ini diwujudkan mengunakan landasan teori bentuk, fungsi, estetis, dan kinetic, Penciptaan karya ini melewati beberapa tahapan yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan, dalam proses pengerjaan karya ini memakai teknik kriya yaitu teknik scroll, teknik bubut, teknik kontruksi dan teknik laminasi, bahan yang digunakan dalam pembuatan karya ini adalah beberapa jenis kayu seperti kayu surian, kayu nangka, kayu jelutung, dan kayu rengas, karya yang di ciptakan mengunakan sumber tenaga dari putaran tuas yang di perbolehkan untuk gerakan langsung oleh penikmat dan beberapa karya menggunakan motor putar sepeti dinamo, beberapa karya menonjolkan interaksi dengan penikmat untuk memberikan pengalaman berbeda yang akan dirasakan penikmat.
PERUBAHAN TARI PASAMBAHAN SYOFYANI KEBENTUK PERTUNJUKAN TARI PASAMBAHAN PADA ACARA ALEK BAKAJANG DI NAGARI GUNUNG MALINTANG LIMA PULUH KOTA SUMATERA BARAT
This study aims to examine the changes in Syofyani's Pasambahan dance to the form of Pasambahan dance performances at the alek bakajang event in Nagari Gunung Malintang. The method used in this research is descriptive analysis qualitative research method, namely all data obtained both written data and field data are described and then analyzed in accordance with the research problems raised. The theory used is the theory of dance performance form proposed by Soedarsono. The result of the research is that there is a partial change in the form of Syofyani's Pasambahan dance into the Pasambahan dance form at the alek bakajang event including movements, dancers, costumes, floor patterns and performance venue
PENCIPTAAN KARYA TARI “MADE BY SOCIETY” BERDASARKAN STANDARDISASI KECANTIKAN
The Made by Society dance work departs from the phenomenon of insecurity felt by performers who feel insecure as a result of always adhering to the standards created by society. The Made by Society dance work is a contemporary dance work danced in pairs with an abstract type of social theme, which is collaborated with techniques and movement dynamics. In creating this work, the artist uses several methods from Alma M. Hawkins, namely field observation, exploration, improvisation , composition, and evaluation. This work is expressed symbolically by using a mask as a property that symbolizes the standard of beauty. The dance music used is made from computer technology combined with live music using musical instruments such as cello, bass guitar and triagel. This dance work is also reinforced by video art in the form of ridicule sentences which are responded to through the body as a medium to express the contents of the work. This dance work conveys a message about the importance of facing insecurity with courage and encourages the audience to find strength in their weaknesses
Fantasia Andung Ni Si Boruadi ; Perwujudan Tradisi Andung Batak Toba Ke dalam Komposisi Musik Bentuk Fantasia Tiga Bagian (Fantasia Andung Ni Si Boruadi; Embodiment Of The Andung Batak Toba Tradition Into A Three-Part Fantasia Music Composition)
Andung Ni Si Boruadi dalam bahasa Batak Toba berarti ratapan seorang gadis adalah sebuah karya komposisi musik yang berangkat dari reinterpretasi terhadap budaya andung yang ada di masayarakat Batak Toba. Andung adalah nyanyian ratapan seseorang yang murni atau refleks saat sedang berduka. Dalam karya ini, aspek suasana, karakteristik dan teknik andung akan menjadi ide garapan yang digarap ke dalam sebuah komposisi musik fantasia tiga bagian. Karya komposisi ini digarap dengan menggunakan metode penciptaan yaitu: Interpretasi, orkestrasi dan improvisasi. Bagian penting dalam proses penggarapan karya ini terdiri dari ide tema garapan, tangga nada, sistem atonal, teknik pengembangan, motif sulim, motif hasapi dan motif taganing. Komposisi musik Fantasia Andung Ni Si Boruadi digarap ke dalam formasi full orkestra yang dikolaborasikan dengan penggunaan alat musik tradisonal Batak Toba yaitu sulim ( Seruling) dan pada bagian tertentu, penggarap memunculkan si pangandung (orang yang meratap) untuk menguatkan tema dari Andung tersebut. Hasil karya komposisi musik ini yaitu musik programa ideational dengan bentuk fantasia tiga bagian yang diberi judul Fantasia Andung Ni Si Boruadi.ABSTRACTAndung Ni Si Boruadi in the Toba Batak language means a girl's lament is a musical composition that departs from a reinterpretation of the Andung culture in the Toba Batak community. Andung is a pure or reflexive lamentation of someone when they are grieving. In this work, aspects of the atmosphere, characteristics and techniques of andung will be the ideas worked on into a three-part fantasia musical composition. This compositional work was worked on using creative methods, namely: interpretation, orchestration and improvisation. An important part of the process of creating this work consists of the theme ideas, scales, atonal systems, development techniques, sulim motifs, hasapi motifs and taganing motifs. The musical composition Fantasia Andung Ni Si Boruadi was worked on into a full orchestral formation which was collaborated with the use of traditional Toba Batak musical instruments, namely the sulim (flute) and in certain parts, the composers brought out si pandung (people who wail) to strengthen the theme of Andungthe. The result of this musical composition is ideational programmatic music in the form of a three-part fantasia entitled Fantasia Andung Ni Si Boruadi
Khidmat Dabuih Nagari Situjuah Gadang Kecamatan Situjuah Limo Nagari
Dabuih is a performance art that is Islamic religious in nature where in this art it shows the attraction of the body's immunity from various objects that can injure. As an art form with Islamic nuances, debuih performances are of course related to religious values. These religious values can be identified from several things, including the use of remembrance and recitation of several verses of the Koran. In this work of composition "KHIDMAT" which originates from the art of Dabuih Situjuah, it is divided into three parts. The first part focuses on dikia's vocal work, part two is composed by rabano and part 3 is a combination of vocals and rabano. In the form of a performance of the composition "KHIDMAT" a deep devotion and inspiration becomes a work achievement so that it can be realized
STILISASI MOTIF TUMBUHAN PADA FASHION AKSESORIS KALUNG MEDIA KUNINGAN
Penelitian “Stilisasi Motif Tumbuhan pada Fashion Aksesoris Kalung Media Kuningan“ ini bertujuan untuk membuat varian baru aksesoris pelengkap fashion yang simple dan mewah dengan menggunakan bahan plat kuningan dengan teknik etsa logam yang sumber bahan baku maupun pengerjaan mudah didapatkan dan dikerjakan. Metode penciptaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksplorasi, perancangan dan perwujudan dengan pendekatan estetika. Pembuatan karya ini diharapkan mampu berkontribusi bagi masyarakat maupun pegiat fashion, dengan memperkenalkan teknik etsa pada penggarapan plat kuningan bertemakan motif stilisasi tumbuhan sebagai aksesoris sebagai upaya memperluas ilmu pengetahuan dengan aspek pendekatan estetis. Hasil dari karya ini berupa kalung bertemakan tumbuhan yang digunakan pada pelengkap busana
Tari Kurenah: Interpretasi Dampak Negatif TikTok pada Perilaku Remaja Melalui Koreografi Tunggal
Penelitian ini mengkaji fenomena sosial yang terjadi akibat penggunaan aplikasi media sosial TikTok, khususnya dampak negatifnya terhadap perilaku remaja, yang diinterpretasikan melalui karya tari berjudul "Kurenah". Karya ini merupakan sebuah koreografi tunggal yang mengekspresikan perilaku malas dan pemberontakan remaja saat menyelesaikan pekerjaan rumah, sebagai akibat dari ketergantungan pada TikTok. Penggunaan aplikasi ini diketahui memicu perubahan perilaku, seperti kecenderungan untuk menunda pekerjaan, kurangnya disiplin, serta apatisme terhadap lingkungan sekitar. Melalui pendekatan eksplorasi gerak, improvisasi, dan pembentukan komposisi tari, karya "Kurenah" menggabungkan elemen gerakan realis dengan gerakan-gerakan yang diadaptasi dari tren TikTok, disertai ekspresi komikal. Koreografi ini tidak hanya menggambarkan pengaruh teknologi pada kehidupan sehari-hari remaja, tetapi juga menawarkan kritik sosial terhadap fenomena tersebut. Karya ini juga mencerminkan betapa kuatnya pengaruh media sosial dalam membentuk perilaku generasi muda. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan bagi para pendidik dan orang tua tentang pentingnya pengawasan terhadap penggunaan media sosial oleh remaja
Analysis Of Verbal And Nonverbal Communication Methods In The Cast Of The Character Antigone Performance Of Sophocles' Play Antigone
The study is based on the performance of the play Antigone by Sophocles. The aim is to analyze the way the cast uses body language, facial expressions, and voice intonation to convey messages and emotions of their characters. This research uses qualitative methods with text analysis, performance observation, and interviews. The study explains the various aspects of theatrical communication used in the cast of Antigone, providing an in-depth understanding of how communication can enrich the understanding of characters and stories in theatrical performances. The findings of this study are expected to deepen the understanding of theater arts practitioners and theater researchers, helping them develop more memorable interpretations and executions of characters in performing arts works. Furthermore, this research has the potential to enrich the repertoire of classical Greek literature and broaden the understanding of communication in modern performing arts