Offscreen
Not a member yet
34 research outputs found
Sort by
ANALISIS FUNGSI LIGHTING UNTUK MEMPERLIHATKAN SUASANA KEHIDUPAN ANAK JALANAN PADA FILM SURAT KECIL UNTUK TUHAN
ABTSRAK Film Surat Kecil Untuk Tuhan merupakan film drama keluarga. Film ini memperlihatkan kerasnya kehidupan anak jalanan di kota besar, menggunakan lighting dengan memberikan penekanan pada tokoh maupun objek. Penelitian berjudul ”Analisis Fungsi Lighting Untuk Memperlihatkan Suasana Kehidupan Anak Jalanan Pada Film Surat Kecil Untuk Tuhan” bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan fungsi lighting dalam memperlihatkan suasana kehidupan anak jalanan. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana penerapan lighting sehingga mendukung kerasnya kehidupan anak jalanan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paparan analisis deskriptif sebagai upaya mendeskripsikan data yang diperoleh dalam bentuk kata-kata dan bahasa untuk memberikan gambaran tentang suatu fenomena secara detail. Melalui proses analisis, pada akhirnya akan membentuk sebuah kesimpulan. Penelitian ini dianalisa berdasarkan scene yang berhubungan dengan anank jalanan. Dalam scene dipilih satu buah shot yang mewakili sebuah scene.Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa fungsi lighting pada film Surat Kecil Untuk Tuhan ini menggunakan cahaya pendukung suasana. Penerapan konsep lighting menggunakan warna jingga menjadi metode serta teknik yang ekspresif mendukung setiap adegan kehidupan anak jalanan yang disesuaikan dengan cerita dalam film. Kata kunci: Lighting, Suasana, Anak Jalanan.ABSTRACT Film Surat Kecil Untuk Tuhan is a famous family drama film in Indonesia. This film shows the hard life of street children in big cities, using lighting by giving emphasis to characters and objects. The research entitled "Analysis of the Functions of Lighting to Show the Life Atmosphere of Street Children on the Surat Kecil Untuk Tuhan Movie" aims to identify and describe the function of lighting in showing the life atmosphere of street children. In addition, this study also aims to find out how the application of lighting so as to support the rigors of the lives of street children.This study uses a qualitative approach with exposure to descriptive analysis in an effort to describe the data obtained in the form of words and language to provide an overview of a phenomenon in detail. Through the analysis process, it will eventually form a conclusion. This research was analyzed based on scenes related to street life. In the scene one shot is chosen which represents a scene.Based on the results of the analysis, it can be seen that the lighting function in the Surat Kecil Untuk Tuhan movie uses a light supporting the atmosphere. The application of lighting concepts using orange is an expressive method and technique that supports every life scene of street children adapted to the story in the film. Keywords: Lighting, Atmosphere, Street Childre
PENCIPTAAN SKENARIO FILM FIKSI PEREMPUAN BERSTEMPEL MERAH DENGAN FORMULA EIGHT SEQUENCE STRUCUTRE
ABSTRAK Skenario Film Fiksi Perempuan Berstempel Merah yang bergenre drama sosial merupakan skenario dengan menggunakan formula eight sequence structure. Eight Sequence Structure adalah pola pengembangan yang memiliki delapan tahapan kerja dalam mencapai akhir dari skenario. Perempuan Berstempel Merah menceritakan tentang seorang perempuan yang berjuang untuk demi mengharapkan tempat pulang dan mencari perlindungan dari takdir buruk yang ia alami. Kekerasan seksual yang terjadi mengakibatkan dampak buruk kepada korbannya, untuk melindungi korban dan demi mengatasi hal buruk tersebut, maka hadirlah skenario ini. Skenario ini bertujuan memperlihatkan dua puncak permasalahan yang dihadapi oleh pemeran utama dalam menghadapi masalahnya. Selain itu dengan menggunakan eight sequence structure skenario memiliki pengembangan yang baik agar lebih tersusun, dan detail sehingga memudahkan menciptakan skenario dan memudahkan pembaca dalam memahami cerita. Skenario ini menggunakan metode penciptaan dari persiapan, elaborasi, sintesis, realisasi hingga penyelesaian.Skenario Perempuan Berstempel Merah bertemakan kekerasan seksual yang terdiri dari 52 scene penceritaan dan menggunakan eight sequence structure dalam tahap penceritaan. Ke delapan sequence tersebut adalah sequence 1 pengenalan tokoh hingga point of attack (scene 7), sequence 2 membangun permasalahan tokoh (scene 8-14), sequence 3 adalah penyelesaian permasalahan tokoh yang membuat masalah lebih besar (scene 15-17), sequence 4 puncak titik pertama (scene 18-30), sequence 5 adalah bagian-bagian tenang dalam skenario dan diperkenalkan tokoh baru (scene 31- 38), sequence 6 merupakan puncak titik ke dua dalam skenario (scene 39-42), sequence 7 ketika permasalahan tak terduga terlihat dan membuat karakter memaksa untuk berbalik dari tujuan utamanya (scene 43-51), sequence terakhir yaitu sequence 8, adalah akhir dari permasalahan dan mencapai titik dimana baik atau buruknya cerita telah terselesaikan, di sequence ini akan diperlihatkan epilog (scene 52). Kata Kunci : Skenario, Perempuan Berstempel Merah, Eight Sequence Structure, SequenceABSTRACTPerempuan Berstempel Merah is scenario with genre social drama which is using eight sequence structure as the main structure. Eight Sequence Structure is a development formula that has eight stages of work in reaching the end of the scenario. Perempuan Berstempel Merah tells the story about a broken woman who struggles to hope for place to return seek refuge from the bad fate she is experiencing. The sexual harassment has a bad impact on the victim, to protect the victim and to overcome this bad thing, creator made this screenplay. This scenario aims to show two peaks of problems faced by the main characters in dealing with their problems. In addition, by using an eight sequence structure, the scenario has a good development so that it is more structured and detailed, making it easier to create scenarios and make it easier for readers to understand the story. This scenario uses the method of creation from preparation, elaboration, synthesis, realization to completion.The Scenario of Perempuan Berstempel Merah with the theme of sexual harassment have 52 narrative scenes and uses eight sequence structures for main structure. The eight sequences are sequence 1 character introduction to the point of attack (scene 7), sequence 2 builds character problems (scene 8-14), sequence 3 is solving character problems that create bigger problems (scene 15-17), sequence 4 is first culmination (scene 18-30), sequence 5 is the quiet part in the scenario and new characters are introduced (scene 31-38), sequence 6 is second culmination in the scenario (scene 39-42), sequence 7 when the problem is unexpected looks and makes the character force to turn away from his main goal (scene 43-51), the last sequence, sequence 8, is the end of the problem and reaches a point where the good or bad story has been resolved, in this sequence an epilogue will be shown (scene 52) .Keywords : Scenario, Perempuan Berstempel Merah, Eight Sequence Strucutre, Sequenc
ANALISIS SUDUT PANDANG KAMERA DALAM MEMVISUALISASIKAN KARAKTER TOKOH PADA FILM MARLINA SI PEMBUNUH DALAM EMPAT BABAK KARYA MOULY SURYA
ABSTRACTThe camera viewpoint presented in visualizing the character makes Film Marlina The Murdere In The Four Acts, winning various awards at National and International. This paper aims to analyze the camera's point of view in visualizing the character of the character in the film. This study uses descriptive qualitative research to reveal the character of the characters that are illustrated by the camera's viewpoint. The film using the Sumba area setting. In the film is divided into four accounts in the story, act 1 the robbery round, act 2 the journey, act 3 the confession, and act 4 the birth. In the has several characters who have different characters, thanks to the deepening of the characters played by the cast in this film making the film gained many actor categories at National and International awards. Based on the character of the characters visualized by the angles of the camera. The analysis is based on empathy grouping character figures, based on Josep Mascelli's theory, namely character based on the words of the character, character based on the behavior of the character, character based on conversations between characters and characters based on the actions of figures. Keywords: Camera Viewpoint, Character, Film Marlina The Murdere In The Four Acts, Cinematic Elements ABSTRAKSudut pandang kamera yang dihadirkan dalam memvisualisasikan karakter tokoh membuat fim Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak berhasil memenangkan berbagai penghargaan di Nasional maupun Internasional. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis sudut pandang kamera dalam memvisualisasikan karakter tokoh. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif untuk mengungkap karakter tokoh yang divisualisasikan oleh sudut pandang kamera. Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak meggunakan setting daerah Sumba. Film ini dibagi menjadi empat pembabakan dalam ceritanya, yaitu babak perampokan, babak perjalanan, babak pengakuan dan babak kelahiran. Terdapat beberapa pemeran yang memiliki karakter tokoh yang berbeda-beda. Pendalaman karakter oleh para pemeran pada film ini membuat film ini banyak memenangkan kategori pemeran pada penghargaan Nasional maupun Internasional. Karakter tokoh yang divisualisasikan oleh sudut padang kamera dianalisis berdasarkan empat pengelompokkan karakter tokoh, berdasarkan teori dari Josep Mascelli yaitu, karakter tokoh berdasarkan perkataan tokoh, berdasarkan tingkah laku tokoh, berdasarkan percakapan antar tokoh dan berdasarkan tindakan tokoh. Kata kunci: Sudut Pandang Kamera, Karakter Tokoh, Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, Unsur Sinemati
PENCIPTAAN SKENARIO FILM FIKSI SIBILAH LANTAI DENGAN MENERAPKAN STRUKTUR TIGA BABAK DALAM MENINGKATKAN SUSPENSE
ABSTRAK Skenario berfungsi untuk menuangkan ide cerita, sebagai acuan dalam produksi. Skenario film adalah susunan-susunan adegan yang mengandung unsur naratif disampaikan melalui media film. Struktur tiga babak adalah plot cerita yang disusun melalui tiga tahap yaitu babak I, babak 2 dan babak 3. Dalam skripsi ini pengkarya menciptakan sebuah skenario film fiksi dari tahap menemukan ide sampai menjadikan skenario yang utuh. Pengkarya menciptakan skenario Sibilah Lantai dengan menggunakan pola cerita struktur tiga babak dengan tujuan untuk meningkatkan suspense agar cerita yang disampaikan lebih menanrik dan pembaca dapat menikmati jalan ceritanya. Pengkarya menata suspense dalan setiap babak, sehingga pembaca bisa merasakan ketegangan pada babak 1, 2, dan 3. Skenario film fiksi yang berjudul Sibilah Lnatai ini berkisah tentang seorang pemuda pengangguran dan pemalas yang selalu di hina oleh orang-orang dilingkungannya. Hingga akhirnya pemuda ini mempelajari ilmu pelet sibilah lantai pada seorang dukun terkenal di kampunya, akan tetap setelah ia mempelajari pelet tersebut, pemuda ini justru menyalah gunakan sibilah lantai untuk memperkosa gadis-gadis di kampungnya. Dengan ide ini pengkarya membangun jalan cerita dengan menciptakan suspense disetiap babak agar ceita yang ingin disampaikan pengkarya lebih menarik dan pembaca dibawa kedalam pikiran dan perasaan tokoh.Kata Kunci : Sibilah Lantai, Skenario, Struktur Tiga Babak, suspense. ABSTRACTScenarios serve to convey story ideas, as a reference in production. Film scenarios are scene arrangements containing narrative elements delivered through film media. The three-act structure is the plot of the story which is arranged in three stages, namely Act I, Act 2 and Act 3. In this thesis the author creates a fictional film scenario from the stage of finding ideas to making a complete scenario. The author creates the Sibilah Floor scenario using a three-act structure story pattern with the aim of increasing suspense so that the story told is more interesting and the reader can enjoy the storyline. The author arranges suspense in each act, so that the reader can feel the tension in acts 1, 2, and 3. This fictional film scenario entitled Sibilah Lnatai tells the story of an unemployed and lazy young man who is always despised by the people in his environment. Until finally this young man learned the science of floor sibilah pellets from a famous shaman in his village, but after he learned the pellets, this young man actually misused the floor sibilah to rape the girls in his village. With this idea, the writer builds the storyline by creating suspense in each chapter so that the story that the author wants to convey is more interesting and the reader is brought into the thoughts and feelings of the characters.Keywords: Floor Plan, Scenario, Three Act Structure, suspense