University of Surabaya Journal
Not a member yet
4058 research outputs found
Sort by
Faktor Penting Preferensi Konsumen Pada Water Kefir Teh Ashitaba
Preferensi konsumen terhadap sebuah produk perlu diperhatikan khususnya untuk produk yang masih jarang beredar di masyarakat seperti kefir air (water kefir). Pada penelitian ini, pembuatan water kefirmenggunakan bahan dasar berupa serbuk ashitaba (Angelica keiskei). Tanaman ashitaba banyak dibudidayakan di Indonesia namun sedikit pemanfaatannya. Ashitaba memiliki banyak manfaat seperti antihipertensi, antistroke, dan kaya akan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penting penentu preferensi konsumen terhadap water kefir teh ashitaba menggunakan kuesioner daring dengan metode Principal Component Analysis (PCA) serta mengetahui pengaruh dari variasi konsentrasi serbuk ashitaba dan lama perebusan terhadap aktivitas antioksidan water kefir teh ashitaba. Hasil analisis dengan metode PCA didapatkan beberapa faktor, dari faktor yang terpenting hingga faktor yang dianggap kurang penting bagi konsumen dalam membuat keputusan untuk membeli water kefir teh ashitaba. Faktor-faktor tersebut adalah aktivitas antioksidan, kandungan vitamin C, dan total bakteri asam laktat dengan skor berturut-turut 0,854; 0,816; dan 0,778. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari konsentrasi serbuk teh ashitaba (5 dan 10%) dan lama perebusan (2, 5, dan 8 menit) terhadap aktivitas antioksidan dari water kefir teh ashitaba. Hasil uji aktivitas antioksidan yang didapat dari nilai inhibisi terhadap DPPH yaitu sebesar 55,57±0,56% didapat dari konsentrasi serbuk teh ashitaba 10% b/v dan lama perebusan 8 menit
Psychological Distress and Dyadic Coping in the Context of Marital Satisfaction of Indonesian Search and Rescue (SAR) Rescuers: A Mixed-Method Study: [Tekanan Psikologis dan Dyadic Coping Dalam Konteks Kepuasan Pernikahan Search and Rescue (SAR) Rescuer di Indonesia: Studi Mixed-Method]
Marital satisfaction is an important resource that will determine the quality of life and personal well-being, as well as help maintain work performance in the context of Search and Rescue (SAR) rescuer profession. However, the risks associated with this profession put Search and Rescue (SAR) rescuers at risk of experiencing psychological distress that could hinder their marital satisfaction. In addition to psychological distress factors, efforts by Search and Rescue (SAR) rescuers in involving their sposes through dyadic coping were found to be associated with marital satisfaction. Using the mixed-method explanatory sequential method approach, this study aims to determine the role of psychological distress and social support on marital satisfaction of Search and Rescue (SAR) rescuers. Quantitative data collection involved Search and Rescue (SAR) rescuers in their first 10 years of marriage (n = 33). Qualitative data collection involved two Search and Rescue (SAR) rescuers with marital satisfaction in the high and low category, as well as dyadic coping in the high and low category. Results of quantitative analysis show that it is psychological distress, not dyadic coping, that significantly predict the decrease in marital satisfaction. Results of qualitative analysis show that psychological distress from the profession leads to symptoms of psychological distress in the form of emotional exhaustion, withdrawal behavior, and indifferent behavior, which has an impact on negative interactions, conflict triggers, and lack of quality time with spouses. Search and Rescue (SAR) rescuer who conduct dyadic coping (discussing with each other, providing opinions or points of view, and listening with empathy) leads to feelings of satisfaction in marriage, namely through feelings of togetherness and trust.
Kepuasan pernikahan adalah sumber daya penting yang akan menentukan kualitas hidup dan kesejahteraan diri, serta membantu mempertahankan performa kerja pada konteks profesi Search and Rescue (SAR) rescuer. Namun, risiko yang berkaitan dengan profesi tersebut menempatkan Search and Rescue (SAR) rescuer untuk memiliki kerentanan mengalami tekanan psikologis yang dapat menghambat kepuasan pernikahannya. Selain faktor tekanan psikologis, upaya Search and Rescue (SAR) rescuer untuk melibatkan pasangan melalui dyadic coping ditemukan turut berhubungan dengan kepuasan pernikahan. Melalui metode mixed-method dengan pendekatan explanatory sequential design, studi ini bertujuan untuk mengetahui peranan tekanan psikologis dan dukungan sosial pada kepuasan pernikahan Search and Rescue (SAR) rescuer. Pengambilan data kuantitatif melibatkan Search and Rescue (SAR) rescuer dengan rentang usia pernikahan dalam 10 tahun pertama (n = 33). Pengambilan data kualitatif melibatkan dua individu Search and Rescue (SAR) rescuer dengan kepuasan pernikahan berkategori tinggi dan rendah, serta dyadic coping berkategori tinggi dan rendah. Hasil analisa kuantitatif menunjukkan bahwa bukan dyadic coping yang memprediksi penurunan kepuasan pernikahan secara signifikan, namun tekanan psikologis. Hasil analisa kualitatif menunjukkan bahwa tekanan psikologis yang bersumber dari profesi tersebut mengarah pada gejala tekanan psikologis berupa kelelahan emosional, perilaku menarik diri, dan perilaku acuh yang berdampak pada interaksi yang cenderung negatif, pemicuan konflik, dan minimnya waktu berkualitas dengan pasangan. Search and Rescue (SAR) rescuer yang melakukan dyadic coping (saling berdiskusi, memberikan pendapat atau sudut pandang, dan mendengarkan dengan empati) mengarah pada perasaan puas pada pernikahan, yakni melalui perasaan kebersamaan dan rasa percaya
FAKTOR YANG MEMENGARUHI PERSEPSI MAHASISWA DALAM MENGGUNAKAN SOFTWARE AKUNTANSI SAAT PEMBELAJARAN JARAK JAUH
This study discusses the factors influencing students’ perceptions of using accounting software during distance learning. This study uses a descriptive quantitative approach. The data were obtained from questionnaires distributed to 134 students. SEM-PLS method with smartPLS was employed in this study. The result of this study states that distance learning has a negative effect on computer anxiety and computer anxiety itself negatively affects computer self-efficacy, perceived ease of use, and perceived usefulness. Computer self-efficacy has a positive effect on perceived ease of use. Perceived ease of use has a positive effect on perceived usefulness. This study examines only the factors influencing student perception and intention to use accounting software. This study provides empirical evidence on the effect of transactional distance and other factors such as computer anxiety and computer self-efficacy on perceptions of using accounting software. In addition, this research can enrich study materials or references for the future research
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KETIMPANGAN PENGELUARAN PENDUDUK INDONESIA
This study aims to analyze the inequality of population spending in Indonesia. The variables used are HDI, percentage of poor people, TPT, and GRDP per Capita and investment. This study uses multiple regression analysis, Spatial Autoregressive (SAR) Model, and Spatial Error Model (SEM). The criteria for the goodness of the model used is to compare the R2 and AIC values of the two models. The best models are those with higher R2 and lower AIC than other models. This study concludes that the distribution pattern of the Gini ratio in Indonesia appears to be clustered between adjacent areas. Based on the relationship between the Gini ratio and HDI, the percentage of poor people, TPT, GRDP per capita, and investment, it can be interpreted that the similarities and differences in characteristics in each adjacent province can lead to an increase or decrease in the Gini ratio/level of expenditure inequality in Indonesia. The SEM regression model is better than the OLS regression model in determining the factors that influence the level of expenditure inequality in Indonesia because there is a spatial dependency on the dependent variable. In the SEM model, the variables that have a significant effect on the Gini ratio are HDI, percentage of poor people, and investment.Penelitian ini bertujuan menganalisis ketimpangan pengeluaran penduduk di Indonesia. Variabel yang digunakan adalah IPM, persentase penduduk miskin, TPT, dan PDRB per Kapita dan investasi. Penelitian ini menggunakan analisis regresi berganda, Spatial Autoregressive (SAR) Model, dan Spatial Error Model (SEM). Kriteria kebaikan model yang digunakan adalah dengan membandingkan nilai R2 dan AIC dari kedua model tersebut. Model terbaik adalah model dengan R2 yang lebih tinggi dan AIC yang lebih rendah dari model lainnya. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa pola penyebaran gini rasio di Indonesia nampak berpola mengelompok antara wilayah yang saling berdekatan. Berdasarkan hubungan antara gini rasio dengan IPM, persentase penduduk miskin, TPT, PDRB per kapita, dan investasi, dapat diartikan bahwa persamaan dan perbedaan karakteristik pada tiap provinsi yang berdekatan dapat menimbulkan peningkatan atau penurunan gini rasio/tingkat ketimpangan pengeluaran di Indonesia. Model Regresi SEM lebih baik dibandingkan model regresi OLS dalam penentuan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat ketimpangan pengeluaran di Indonesia karena terdapat dependensi spasial pada variabel dependennya. Pada model SEM, variabel yang berpengaruh signifikan terhadap gini rasio adalah IPM, persentase penduduk miskin, dan investasi
PENGARUH SERVICE QUALITY DAN SOCIAL INTERACTION TERHADAP PURCHASE INTENTION
The study was conducted to determine the magnitude of the interaction effect on buying interest. So that it can improve customer service and buying interest. Interactions are measured by service quality and social interaction, using customer satisfaction and customer trust as a bridge to increase purchase intention. Research respondents were 160 active customers of PT Prudential Life Assurance. The study used a qualitative approach and used the SEM method on AMOS for data processing. It was found that Service Quality had an effect on purchase intention. while Social Interaction does not fully affect Purchase Intention directly. More effort is needed to build relationships, which can be done by giving customers more time to interact and respond. So that there is trust in the internal relationships between agents and customers.Penelitian dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh interaksi terhadap minat beli. Sehingga dapat meningkatkan pelayanan dan minat beli nasabah. Interaksi yang diukur dengan service quality dan social interaction, dengan menggunakan customer satistfaction dan customer trust sebagai jembatan untuk meningkatan purchase intention. Responden penelitian adalah nasabah 160 aktif PT Prudential Life Assurance. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode SEM pada AMOS untuk pengolahan data. Didapatkan bahwa Service Quality berpengaruh terhadap purchase intention. sedangkan Social Interaction tidak sepenuhnya mempengaruhi Purchase Intention secara langsung. Dibutuhkan usaha lebih untuk membangun hubungan dapat dilakukan dengan memberikan waktu yang lebih kepada nasabah untuk berinteraksi dan memberikan respon.Sehingga terdapat kepercayaan dalam hubungan internal yang dimiliki agen dan nasabah
Efektivitas Efikasi Pemberian Antivirus Favipiravir pada Pasien Covid-19: Evidence Based Case Report
Abstract—COVID-19 pandemic is still a major global health problem. Currently, there are no specific treatment recommendations for Covid-19 patients. Currently, the number of studies discussing antiviral therapy is increasing, but the efficacy of giving antiviral to Covid-19 patients is still being debated. Favipiravir is an antiviral regimen that is widely used to treat moderate to severe Covid-19 patients. This report aims to identify how effective Favipiravir in Covid-19 patients. Literature searching was carried in four internet databases, including Pubmed, Scopus, EBSCO, and Cochrane Library based on inclusion and exclusion criteria. The validity, importance, and applicability of the article is the further examined. The article under review should have the same problems, interventions, and outcomes as the case. There were three selected meta-analysis studies that were equally valid and applicable to our patients. Study from Manabe show OR = 1.60, 95% CI = 1.03–2.40, p = 0.04. Study from Hassanipour show RR= 1.24, 95% CI: 1.09–1.41; p= 0.001. Study from Shrestha show RR = 1.25. 95% CI = 1.01-1.53, p = 0.01. Administration of Favipiravir as an antiviral in the treatment of Covid-19 patients can reduce viral load faster and provide better clinical improvement.
Keywords: covid-19, effectiveness efficacy, favipiravir
Abstrak—Pandemi COVID-19 masih menjadi permasalahan utama kesehatan dunia. Saat ini belum tersedia rekomendasi tatalaksana khusus pasien Covid-19. Jumlah studi yang membahas mengenai terapi antivirus semakin bertambah, namun efikasi pemberian terapi antivirus pada pasien Covid-19 masih menjadi perdebatan. Favipiravir merupakan regimen antivirus yang banyak digunakan sebagai tatalaksana pasien Covid-19 derajat sedang sampai berat. Laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana efektivitas efikasi Favipiravir pada pasien Covid-19. Penelusuran literatur dilakukan pada empat database internet yaitu Pubmed, Scopus, EBSCO dan Cochrane library berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Validitas, Kepentingan dan Aplikabilitas artikel kemudian ditelaah lebih lanjut. Artikel yang ditelaah harus memiliki masalah, intervensi dan outcome yang sama dengan kasus. Terdapat tiga studi meta-analysis terpilih yang memiliki validitas yang sama dan dapat diterapkan pada pasien kami. Studi oleh Manabe didapatkan OR = 1,60, 95% CI = 1,03–2,40, p = 0,04. Studi oleh Hassanipour didapatkan RR= 1,24, 95% CI = 1,09–1,41, p= 0,001. Studi oleh Shrestha didapatkan RR = 1,25, 95% CI = 1,01-1,53, p = 0,01. Pemberian Favipiravir sebagai antivirus dalam pengobatan pasien Covid-19 dapat menurunkan viral load lebih cepat dan memberikan perbaikan klinis yang lebih baik.
Kata kunci: covid-19, efektivitas efikasi, favipiravi
PENGARUH PERPUTARAN KAS DAN PERPUTARAN PIUTANG TERHADAP PROFITABILITAS
This study aims to determine whether cash turnover and receivable turnover have effects on profitability. The research was conducted at manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2017-2019. This study used a purposive sampling method, with the number of 55 companies each year, therefore the total sample is 165. The statistical method uses multiple linear regression analysis with t statistics hypothesis testing. The results of this study state that cash turnover has a significant positive effect on profitability. That states, company’s effectivity in managing its cash to generate revenue or sales is very impressive. Contrariwise, receivable turnover has a negative and significant effect on profitability. That states, high levels of receivable can reduce the profitability because the amount of receivable owned is small, which means the credit sales made are low, thus sales volume and profitability will decrease as well
Self Efficacy dan Burnout pada Guru
Abstract—Teachers play an important role in student achievement and development so teachers are required to perform well in the learning process. In addition, teachers have a variety of tasks that are so heavy that these demands can cause teachers to be vulnerable to burnout. This study aims to find out if there is a relationship between self-efficacy and burnout in teachers. The research subjects (N=107) were teachers at two Bondowoso Vocational Schools with a minimum teaching period of 5 years. Data collection was done using Maslach Burnout Inventory (Maslach & Jackson, 1981) and Teacher Sense of Efficacy Scale (Tschannen-Moran & Woolfolk, 2001). The results of the analysis used spearman values that showed that there is a significant negative relationship (p<0.05) between self-efficacy and burnout with r = -0.398. All three aspects of self-efficacy have significant value but in teacher efficacy for classrom management aspects have the highest contribution with burnout (r = -0.406). Burnout levels in the two SMK have very low values and have a high level of self-efficacy. The level of self-efficacy is related to the low burnout rate in teachers at Bondowoso Vocational High School.
Keywords: burnout, teacher’s, self-efficacy
Abstrak—Guru memiliki peran penting dalam prestasi dan perkembangan siswa sehingga guru diharuskan untuk memiliki kinerja yang baik dalam proses pembelajaran. Selain itu guru memiliki berbagai tugas yang sangat berat sehingga tuntutan tersebut dapat menyebabkan guru rentan mengalami burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara self-efficacy dengan burnout pada guru. Subjek penelitian (N=107) adalah guru di dua SMK Bondowoso dengan minimal masa mengajar 5 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Maslach Burnout Inventory (Maslach & Jackson, 1981) dan Teacher Sense of Efficacy Scale (Tschannen-Moran & Woolfolk, 2001). Hasil analisis menggunakan nilai Spearman yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan (p<0.05) antara self-efficacy dan burnout dengan r = -0.398. Ketiga aspek self-efficacy memiliki nilai yang signifikan namun pada aspek teacher efficacy for classrom management memiliki kontribusi yang paling tinggi dengan burnout (r = -0.406). Tingkat burnout yang ada di dua SMK memiliki nilai yang sangat rendah dan memiliki tingkat self-efficacy yang tinggi. Tingkat self-efficacy memiliki keterikatan dengan rendahnya tingkat burnout pada guru di SMK Bondowosoara.
Kata kunci: burnout, guru, self-efficac
Optimalisasi Clinical Pathway “Penggunaan Antibiotik” dalam Praktik Kolaborasi Interprofesional Manajemen Perawatan Pasien Bedah Ortopedi di Surabaya
Praktik kolaborasi antar profesi kesehatan (interprofessional collaborative practice, IPC) dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda menggunakan clinical pathway (CP) atau alur klinis disepakati oleh Profesional Pemberi Asuhan (PPA) sangat diperlukan untuk memberikan kualitas pelayanan yang terbaik. Penerapan CP penggunaan antibiotik pada pasien bedah dapat menjadi model, mengingat penggunaan antibiotik profilaksis bedah yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko terjadinya Infeksi Luka Operasi (ILO) dan resistensi obat. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui persepsi tenaga kesehatan dalam praktik kolaborasi interprofesional manajemen perawatan pasien bedah ortopedi sebelum dan sesudah intervensi CP terintegrasi, dan profil penggunaan antibiotik. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen kuasi (quasi-experiment) dengan rancangan one group pretest-posttest design menggunakan kuesioner Collaborative Practice Assessment Tool (CPAT). Lima puluh dua kuesioner diberikan kepada semua tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan apoteker) yang berinteraksi dalam pengisian CP (tidak ada data gugur). Nilai persepsi tenaga kesehatan tentang praktik kolaborasi sesudah intervensi (212,17) lebih tinggi daripada sebelum intervensi (173,63); sedangkan nilai DDD/100 bed-days pre-intervensi lebih rendah daripada pos-intervensi. Namun kedua perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik
Formulasi dan Aktivitas Antioksidan Kombinasi Glutation dan Alfa Arbutin dalam Serum Kosmetik
Antioksidan adalah salah satu bahan aktif yang dapat digunakan untuk memperlambat penuaan dini kulit. Pada penelitian ini, bahan aktif antioksidan yang digunakan adalah kombinasi glutation dan alfa arbutin. Glutation dan alfa arbutin dapat mengalami oksidasi, sehingga digunakan natrium metabisulfit sebagai bahan tambahan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah memformulasi kombinasi glutation dan alfa arbutin dalam serum kosmetik menggunakan natrium metabisulfit pada konsentrasi 0,3% (formula 1) dan 0,5% (formula 2). Serum-serum tersebut dievaluasi karakteristik fisikokimianya yang meliputi organoleptik (warna, bentuk, bau), nilai pH, viskositas, dan sifat alir. Aktivitas antioksidan dievaluasi menggunakan metode peredaman 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH), dengan parameter inhibition concentration 50 (IC50). Evaluasi stabilitas fisikokimia dan aktivitas antioksidan dilakukan dengan menyimpan serum tersebut selama 30 hari pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik fisikokimia serum-serum tersebut sesuai untuk serum kosmetik dengan IC50 50-100 ppm. Karakteristik fisikokimia dan aktivitas antioksidannya tidak berbeda bermakna (p >0,05). Selama penyimpanan karakteristik fisikokimianya juga tidak berubah (p >0,05), kecuali viskositas (p <0,05), tetapi serum tetap berbentuk cair. Selain itu, IC50 serum meningkat (p <0,05), tetapi tetap memiliki aktivitas antioksidan yang kuat. Kesimpulannya adalah kombinasi glutation dan alfa arbutin dalam serum formula 1 dan 2 dapat diformulasikan dan efektif sebagai serum kosmetik antioksidan