Jurnal Mitra Kesehatan
Not a member yet
    155 research outputs found

    PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN KESEHATAN KOMUNITAS BERBASIS APLIKASI PADA PONSEL UNTUK MANAJEMEN DIRI PASIEN DIABETES MELITUS: TINJAUAN LITERATUR

    Full text link
    Pendahuluan: Ketidakpatuhan pasien DM dalam menjalani terapi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan ketidakberhasilan dalam pencegahan komplikasi DM. Untuk mengurangi resiko terjadinya komplikasi penderita DM harus menjaga/mengontrol kondisinya agar dapat hidup lebih sehat. Kemampuan untuk mengontrol diri ini sering disebut self management atau Manajemen diri. Adanya keterampilan dan pengetahuan memecahkan masalah pada penyakit DM, memungkinkan pasien dapat membuat suatu keputusan tentang pengelolaan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Salah satu cara yang dapat dikembangkan untuk mendukung pelaksanaan self management yaitu dengan pemanfaatan teknologi dalam bidang kesehatan dengan menggunakan aplikasi pada ponsel. Tujuan: untuk mengetahui pengembangan sistem informasi keperawatan kesehatan komunitas berbasis aplikasi ponsel untuk manajemen diri pasien diabetes sebagai pencegahan komplikasi DM jangka Panjang. Metode: Menggunakan metode studi literatur review non sistematic yang diangkat berdasarkan topik terkait. Sumber data dari jurnal yang dipilih dibatasi penerbitan dari tahun 2016 sampai 2020. Hasil: Dari hasil telaah dan review 10 jurnal pilihan, penggunaan aplikasi pada ponsel memiliki manfaat untuk dapat memandirikan pasien DM dalam monitoring dan kedisiplan dalam perawatannya. Kesimpulan: Dalam penerapan penggunaan aplikasi pada ponsel untuk manajemen diri pasien DM tidak terlepas dari peran perawat komunitas sebagai pendidik, pembaharu, organisator dan fasilitator, sehingga dapat tercapai tujuan umum keperawatan komunitas

    DESKRIPSI KARAKTERISTIK KLIEN HIPERTENSI

    Full text link
    Pendahuluan: Hipertensi merupakan jenis penyakit tidak menular (PTM) yang sering di jumpai di Indonesia. Seseorang dikatakan hipertensi apabila tekanan darah systole lebih 140 mmHg dan tekanan darah diastole lebih dari 90 mmHg. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi. Faktor tersebut ada yang dapat dimodifikasi dan ada faktor yang tidak dapat dimodifikasi. Beberapa faktor yang tidak dapat dimodifikasi ini termasuk dalam karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, lama mengalami hipertensi dan Pendidikan sementara karakteristik resoponden yang dapat di modifikasi meliputi indeks massa tubuh, Indeks Massa Tubuh. Tujuan penelitian ini dilakukan agar dapat melihat gambaran karakteristik responden hipertensi. Metode: Metode penelitian ini yaitu  deskriptif cross-sectional. Teknik pengambilan sampling dengan  purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 66 orang. Hasil: Hasil penelitian menunjukan rerata usia responden yaitu 55 tahun, jenis kelamin mayoritas perempuan sebesar 68.2%, lama menderita rerata 7 tahun, rerata IMT 28,89 termasuk dalam obesitas derajat 1 dan Pendidikan mayoritas SMA sebesar 48,5%. Kesimpulan: Karakteristik responden dalam penelitian termasuk dalam golongan beresiko mengalami hipertensi

    GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DI POLI JANTUNG RSAL dr. MINTOHARJO

    Full text link
    Pendahuluan: Menurut data World Health Organization Tahun 2012 menunjukkan bahwa sebanyak 17.5 juta orang meninggal dunia akibat penyakit jantung koroner. Berbagai faktor risiko yang menyebabkan terjadinya Penyakit Jantung Koroner. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor risiko yang menyebabkan penyakit jantung koroner di RSAL Dr. Mintohardjo Jakarta. Metode: Metode yang digunakan adalah desain cross-sectional dengan menggunakan kuesioner kepada 95 pasien yang kontrol rawat jalan di poli Jantung RSAL. Dr Mintohardjo Jakarta. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar berusia lebih dari 55 tahun sebanyak 65 orang, berjenis kelamin laki-laki sebanyak 53 orang dan tidak memiliki riwayat merokok sebanyak 52 orang. Kesimpulan: Faktor risiko yang dapat dimodifikasi pada penderita penyakit jantung koroner adalah perokok pasif sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi adalah usia lebih dari 55 tahun dan jenis kelamin laki-laki. Penelitian ini menjadi dasar untuk penelitian berikutnya dan diharapkan mengindentifikasi factor risiko lainnya dalam jumlah sampel yang lebih besar

    PENGGUNAAN APLIKASI M-HEALTH /SMARTPHONE TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN PADA PASIEN TUBERKOLOSIS: TELAAH JURNAL

    Full text link
    Pendahuluan: Pemantauan terhadap penderita Tuberculosis (TB) paru dalam meningkatkan kewaspadaan pasien untuk patuh berobat sehingga mencapai kesembuhan, memutus rantai penyakit TB dan menghindari munculnya resistensi obat sangat dibutuhkan untuk kesembuhan pasien TB. Saat ini, terdapat aplikasi berbasis teknologi yang telah ditemukan dan dikembangkan untuk memaksimalkan program ini. Aplikasi yang dikenal dengan M-Health oleh WHO ini terintegrasi dengan text message dalam smartphoneagar memudahkan pasien TB paru untuk kontrol secara teratur. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat kegunaan aplikasi M-Health/Smartphone terhadap kepatuhan pengobatan pada pasien Tuberculosis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode telaah jurnal/literature review dari online database: Scopus, ScienceDirect, Clinical Key dan Springer Linkdengan menggunakan kata kunci Smartphone, Mobile Phone, Messaging, Technology, Tuberculosis, Treatment. Hasil: Dari hasil pencarian online dan seleksi jurnal, akhirnya dipilih 10 jurnal untuk ditelaah. Dari kesepuluh jurnal didapatkan bahwa aplikasi M-Health/Smartphone memberikan kemudahan dalam pemberian pelayanan kesehatan. Pasien maupun petugas kesehatan sama-sama menerima dan memberi pelayanan yang efisien dan efektif sehingga dapat menekan angka putus obat terhadap pasien penderita Tuberculosis. Kesimpulan: M-Health sangat memberikan manfaat dan kesempatan bagi dunia kesehatan untuk mengontrol kepatuhan pasien penderita Tuberculosis

    EFEKTIVITAS E-HEALTH DALAM MENGURANGI KECEMASAN ORANGTUA DI NEONATAL INTENSIVE CARE UNIT: A LITERATURE REVIEW

    Full text link
    Pendahuluan: Orangtua dengan bayi sakit kritis yang dirawat di NICU memiliki stres emosional dan kecemasan akibat dari hospitalisasi. Kebutuhan setiap orangtua berbeda-beda karena banyak faktor yang memengaruhi kebutuhan tersebut. Keseragaman informasi sangat di butuhkan agar perawatan setelah di rumah dapat dilakukan secara baik guna tumbuh kembang bayi. Tujuan: Memberikan gambaran dan gagasan dari hasil literature review tentang kemungkinan pengembangan sistem informasi keperawatan berbasis mobile elektronik tentang kesehatan anak. Metode: Menggunakan studi literatur dalam memilih dan menelaah sepuluh jurnal pilihan keperawatan yang berhubungan dengan penggunaan aplikasi elektronik dalam bidang kesehatan. Hasil: Dari penelusuran literatur jurnal pilihan, didapatkan pemanfaatan E-Health dengan pendekatan mobile elektronik efektif dalam mengurangi kecemasan orangtua dan meningkatkan kualitas pelayanan di NICU. Kesimpulan: Pengembangan sistem informasi manajemen keperawatan pada bidang kesehata (e – Health) terutama yang berkontribusi pada pemberian informasi secara tepat dan akurat terbukti dapat mengurangi tingkat stress dan kecemasan. Para praktisi kesehatan khususnya perawat bisa memanfaatan teknologi ini guna memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna, sehingga perawatan bayi bisa berkesinambungan bahkan sampai pada saat bayi dipulangkan

    FORMULASI PEWARNA RAMBUT DARI BIJI PEPAYA (Carica papaya L.) DALAM BENTUK SEDIAAN GEL

    Full text link
    Pendahuluan: Sediaan pewarna rambut adalah kosmetika yang digunakan dalam tata rias rambut untuk mewarnai rambut, baik untuk mengembalikan warna rambut asli atau mengubah warna rambut asli menjadi warna baru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pembuatan pewarna rambut alami dari biji papaya dengan penambahan bahan pembangkit warna piragolol, juga untuk mengetahui konsentrasi ekstrak biji pepaya yang menghasilkan warna terbaik. Metode: Metode dilakukan dengan maserasi, pengujian ini dengan berbagai konsentrasi ekstrak biji papaya yaitu 3%, 5% dan 8% masing-masing dicampur dengan formula gel yang mengandung HPMC 2,5%, gliserin 6,25%, propilenglikol 15%, dmdm hidantoin 0,6% sebagai pengawet antimikroba dan piragolol 1%. Formula sediaan yang telah dihasilkan dilakukan uji stabilitas fisik meliputi pengamatan secara visual, pH, viskositas, stabilitas warna terhadap pencucian, stabilitas warna terhadap sinar matahari, uji daya sebar, dan uji biologis (iritasi). Hasil: Hasil penelitian menujukkan bahwa warna rambut yang dihasilkan dipengaruhi oleh konsentrasi ekstrak biji pepaya dan waktu perendaman, yaitu semakin tinggi konsentrasi ekstrak dan semakin lama waktu perendaman akan menghasilkan warna yang semakin gelap dari pirang sampai dengan pirang kecoklatan. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak biji pepaya dapat diformulasikan sebagai pewarna rambut. Konsentrasi ekstrak biji pepaya 8% memberikan warna terbaik yaitu pirang kecoklatan, pH masih sesuai persyaratan pH gel untuk kulit yaitu 5,0-10. Viskositas mengalami perubahan turun naik, perubahan ini kemungkinan disebabkan oleh faktor yang berpengaruh selama penyimpanan. Stabilitas terhadap pencucian, sinar matahari langsung, daya sebar dan tidak menimbulkan reaksi iritasi pada kulit

    ELEMEN YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBERHASILAN INISIASI MENYUSU DINI (IMD) DI BPM BIDAN “B” SUKASARI SERANG BARU KABUPATEN BEKASI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2017

    Full text link
    Pendahuluan: Pada faktanya tidak semua Ibu yang baru melahirkan memberikan ASI secara ekslusif kepada anak yang baru dilahirkannya, padahal hal tersebut merupakan sebuah pelaksanaan dari program Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Kegiatan pemberian ASI tersebut biasanya dilakukan pada jam pertama kehidupan bayi yang bertujuan untuk mencegah kematian di masa awal kehidupan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui elemen yang berhubungan dengan keberhasilan Inisiasi Menyususi Dini (IMD). Metode: Metode penelitian ini adalah deskripsi analitik menggunakan pendekatan cross sectional. Dalam pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode kuisioner pada keseluruhan sample (total sampling), yakni 55 responden Adapun analisis data menggunakan univariate dan bivariate. Hasil: menunjukan bahwa pendidikan ibu bersalin tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD (p. Value 0,098) Pengetahuan ibu bersalin tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD (p. value 0,220). Paritas tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD dengan p. value 0,508, Dukungan keluarga tidak memiliki hubungan dengan keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini (p value 0,650,). Sedangkan, sikap bidan memiliki hubungan yang signifikan dengan keberhasilan IMD dengan (p. value sebesar 0,007) karena nilai p lebih rendah dari 0,05. Kesimpulan: Bahwa dari lima faktor yang diteliti diperoleh hasil 4 faktor tidak berhubungan signifikan dengan keberhasilan IMD. Dukungan keluarga merupakan faktor yang tidak berhubungan dengan keberhasilan IMD. Sikap bidan memiliki hubungan yang signifikan dengan keberhasilan IMD. Sikap bidan yang positif berperan dalam keberhasilan Inisiasi Menyusu Dini. Diharapkan Hubungan yang baik dan sikap positif dapat memudahkan bidan dalam memberikan informasi kesehatan kepada ibu bersalin

    IDENTIFIKASI PIGMEN FIKOBILIPROTEIN PADA KAPPAPHYCUS ALVAREZII DALAM PELARUT BUFFER FOSFAT DENGAN METODE FREEZE THAW CYCLE

    Full text link
    Pendahuluan: Kappaphycus alvarezii mengandung pigmen fikobiliprotein yang terdiri dari fikoeritrin, fikosianin, dan alofikosianin. Pigmen tersebut telah banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, seperti sebagai fotosensitiser pada terapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pelarut buffer fosfat dan waktu freeze thaw cycle pada jumlah fikobiliprotein dalam Kappaphycus alvarezii dan mengidentifikasi pigmen tersebut. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Faktor yang diuji adalah konsentrasi pelarut yang terdiri dari 4 taraf konsentrasi dan waktu freeze thaw cycles yang terdiri dari 3 taraf sehingga diperoleh 12 kombinasi perlakuan dengan 2 kali ulangan. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi buffer fosfat dan lama freeze thaw cycle tidak berpengaruh pada jumlah pigmen fikobiliprotein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pigmen fikobiliprotein berwarna merah muda; memiliki tiga puncak absorbansi maksimal pada 565, 545; dan 498 nm dan lebih stabil pada pH 7. Kesimpulan: Identifikasi pigmen fikobiliprotein pada penelitian ini menunjukkan bahwa Fikoeritrin adalah pigmen yang paling dominan

    KEMAMPUAN MENYUSU PADA BAYI DENGAN PERSALINAN TINDAKAN

    Full text link
    Pendahuluan: Tingginya angka kejadian Sectio Caesarea tanpa indikasi, berdampak terhadap tingginya komplikasi pada ibu dan bayi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan menyusu bayi yang lahir  dengan persalinan tindakan  di  Rumah Sakit swasta Jakarta dan Bekasi dengan menggunakan kuesioner Assessment scale of newborn sucking for breastfeeding dari UNICEF. Metode: Metode yang digunakan adalah analitik deskriptif dengan menggunakan desain cross sectional untuk mengidentifikasi ada tidaknya hubungan variable independent: persalinan tindakan terhadap variable dependen: Kemampuan bayi menyusu dalam satu kali pengukuran. Sampel penelitian (70 orang) diambil dengan teknik non probability sampling jenis consecutive sampling. Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menunjukkan nilai p:  0,19 dengan nilai a= 0,05 yang bermakna tidak ada hubungan tindakan persalinan dengan kemampuan bayi menyusu. Proporsi terbesar bayi yang memiliki kemampuan menghisap kurang (71,4%) lahir  dengan  persalinan  ekstraksi vacum, bayi yang lahir dengan induksi memiliki kemampuan menghisap lemah dan kuat setara yaitu sama-sama 50%, sedangkan bayi dengan SC mayoritas memiliki kemampuan menghisap kuat (63,2 %). Rata-rata berat badan bayi yang mengisap lemah adalah 2959,8 gram dengan standar deviasi 304,49 sedangkan rata-rata berat badan bayi yang menghisap kuat adalah 3201,1 dengan standar deviasi 337,86. Nilai p value uji t pada varian yang sama yaitu 0,03 dengan a (0,05) yang bermakna ada perbedaan signifikan rata-rata berat badan bayi yang menyusu kuat dan yang menyusu lemah. Usia ibu juga tidak berpengaruh terhadap kemampuan bayi menyusu dengan p value : 0,4 (a=0,05). Mayoritas responden dilahirkan secara SC (81,4%) dan 8,6 % permintaan sendiri tanpa indikasi medis. Kesimpulan: Data ini dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam memberikan informasi kesehatan tentang dampak persalinan SC terhadap ibu

    KETAHANAN PANGAN RUMAH TANGGA DAN AKSES PANGAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO TERJADINYA DIABETES MELITUS TIPE 2

    Full text link
    Pendahuluan: Tidak tahan pangan adalah situasi ketika seseorang tidak memiliki akses secara fisik, sosial dan ekonomi untuk memenuhi pangan yang cukup, beragam, aman dan bergizi sesuai kebutuhan untuk hidup sehat dan aktif, yang selanjutnya tidak tahan pangan berhubungan dengan penyakit kronis, termasuk diabetes melitus tipe 2 (DM2). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah tidak tahan pangan dan rendahnya akses pangan merupakan faktor risiko terjadinya DM2 di Kabupaten Kulon Progo. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain kasus dan kontrol. Kasus adalah 63 penyandang DM2 yang terdaftar di 4 kecamatan di Kulon Progo. Sedangkan kontrol adalah 63 responden bukan penyandang DM2. Penentuan sampel menggunakan metode purposive dengan penyetaran umur, jenis kelamin dan tempat tinggal. Ketahanan pangan diukur dengan 10 pertanyaan di kuesioner Radimer/Cornel, sedangkan akses pangan dihitung dengan pangsa pengeluaran pangan (PPP) dari kuesioner ekonomi nasional. Variabel lain adalah pendidikan, riwayat keluarga dan pendapatan keluarga. Hasil: Sebagian responden menempuh pendidikan>9 tahun (50,79% di kelompok kasus dan 60,31% kelompok kontrol). Mereka juga memiliki penghasilan keluarga yang tinggi (>3,2 juta) di kedua kelompok (kasus=65,07;kontrol=74,60%). Riwayat keluarga positif 52,38 di kelompok kasus. Berdasarkan uji x2, riwayat keluarga memiliki hubungan yang bermakna dengan DM2 (p<0,05;OR=10,45;95%CI=3,70-33,32). Tidak tahan pangan lebih banyak terjadi pada kelompok kontrol (79,36%) daripada kasus (66,67%). Total pengeluaran pangan dan bukan pangan di kelompok kasus lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Prosentase PPP tinggi (>60%) sebanyak 84,13% di kasus dan 77,78% di kontrol. Mc Nemar menunjukkan tidak tahan pangan dan akses pangan secara statistik tidak bermakna (p>0,05). Berdasarkan regresi logistik, riwayat keluarga memiliki hubungan paling kuat berkembangnya DM2 (p<0,05;OR=11,95), tidak tahan pangan memiliki nilai p=0,034 dan OR=0,37. Kesimpulan: Tidak tahan pangan dan akses pangan bukan merupakan faktor risiko DM2, akan tetapi riwayat keluarga memiliki faktor risiko timbulnya DM2 di Kulon Progo tahun 2015

    142

    full texts

    155

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mitra Kesehatan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇