Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Stres Mempengaruhi Efikasi Diri Ibu Menyusui Neonatus Sakit yang Dirawat di Ruang Perawatan Neonatus

    Get PDF
    Breastfeeding is still an obstacle for some mothers who have sick neonates who are receiving treatment at the hospital. Breastfeeding self-efficacy is related to the duration of breastfeeding which has an impact on the mother's success in breastfeeding at least exclusively. The purpose of this study was to identify factors related to breastfeeding self-efficacy in mothers of sick neonatal care room. This study used a cross-sectional design, 88 respondents were recruited using a consecutive sampling method, using a questionnaire that had been tested for validity first, namely the Breastfeeding self-efficacy scale short form (BSE-SF) and Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) questionnaires, husband's support, family support, and friend support. The results of the Chi square analysis showed that there was no relationship between breastfeeding self-efficacy in mothers with maternal age, mother's education, family income, experience of breastfeeding mothers, experiences of others breastfeeding their babies, health education support, husband support, family support, and friend support with p value > 0.05, but it was found that stress factors were associated with breastfeeding self-efficacy in mothers with sick neonates (p=<0.01). Stress is a factor associated with breastfeeding self-efficacy in mothers with sick neonates.Menyusui masih menjadi kendala pada beberapa ibu yang memiliki neonatus sakit yang sedang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit. Efikasi diri menyusui berhubungan dengan durasi menyusui yang berdampak pada keberhasilan ibu dalam menyusui minimal secara eksklusif. Tujuan penelitian ini yaitu teridentifikasinya faktor yang berhubungan dengan efikasi diri menyusui pada ibu dari neonatus sakit yang dirawat di ruang perawatan neonatus. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, pada 88 responden yang direkrut dengan metode consecutive sampling, menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitasnya terlebih dahulu yaitu kuesioner Breastfeeding self-efficacy scale short form (BSE-SF) dan Endinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS), dukungan suami, dukungan keluarga, dan dukungan teman. Hasil analisis Chi square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara efikasi diri menyusui pada ibu dengan faktor usia ibu, riwayat pendidikan formal, pendapatan keluarga, pengalaman ibu menyusui, pengalaman orang lain menyusui bayinya, dukungan pendidikan kesehatan, dukungan suami, dukungan keluarga, dan dukungan teman dengan nilai p >0,05, namun ditemukan bahwa faktor stres berhubungan dengan efikasi diri menyusui pada ibu dengan neonatus sakit (p=<0,01). Stres merupakan faktor yang berhubungan dengan efikasi diri menyusui pada ibu dengan neonatus sakit

    Pendampingan Persalinan oleh Suami Berpengaruh terhadap Lama Persalinan Kala 1: Penelitian Kuasi Eksperiman

    Get PDF
    Labor and the birth of a baby which is a happy moment for husband and wife. Labor and birth are influenced by various dimensional factors, namely the birth canal, strength, mother's position, and psychological response. A husband’s participation during the delivery process is deemed necessary and becomes part of intrapartum management. This study was a quasi-experimental study on pregnant women and their husbands who gave birth at health care facilities in Kendari City. The time for conducting the research was in May-November 2020. The research population was pregnant women in Kendari City with an average number of births of 50 people. The sampling technique used purposive sampling method, which was divided into two groups, a control group of 30 respondents, and a treatment group of 30 respondents. The treatment group was given the Delivery Assistance Module. The module contains activity material that is important to do while accompanying childbirth, especially the first stage of labor. The average pain score is relatively the same (6.57) in both groups. The average duration of the first stage of labor was shorter (5.53) than the control group (8.00). Statistical tests paired sample t-test on pain (p > 0.05) and length of labor (p < 0.05, t -2.437). Variables of pain and duration of labor in the first stage in the control group and the treatment group statistically had differences in each characteristic. Statistically, childbirth assistance by the husband is related to the duration of the first stage of labor.Persalinan dan kelahiran bayi yang merupakan momentum bahagia bagi suami dan istri. Persalinan dan kelahiran dipengaruhi oleh berbagai faktor dimensional, yaitu jalan lahir, kekuatan, posisi ibu, dan respons psikologis. Partisipasi suami selama proses persalinan dipandang perlu dan menjadi bagian dalam manajemen intrapartum. Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen pada wanita hamil dan suami yang bersalin di Fasilitas Layanan Kesehatan di Kota Kendari. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Mei-November 2020. Populasi penelitian adalah wanita hamil yang ada di Kota Kendari dengan rata-rata jumlah yang bersalin 50 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yang dibagi ke dalam dua kelompok, kelompok kontrol sejumlah 30 responden, dan kelompok perlakuan 30 responden. Kelompok perlakuan diberikan bekal Modul Pendampingan Persalinan. Modul berisi materi kegiatan yang penting dilakukan saat mendampingi persalinan, khususnya persalinan kala I. Rata-rata skor nyeri relatif sama (6,57) pada kedua kelompok. Rata-rata lama persalinan fase kala I, lebih singkat (5,53) dari kelompok kontrol (8,00). Uji statistik paired sample t-test pada variabel nyeri (p > 0,05), dan lama persalinan (p < 0,05, t -2,437). Variabel nyeri dan lama persalinan kala I pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan secara statistik memiliki perbedaan pada setiap karakteristiknya. Secara statistik, pendampingan persalinan oleh suami berhubungan dengan lama persalinan kala I

    Praktik Pemberian Makan Prelakteal di Daerah Urban dan Rural Indonesia: studi data Survei Dasar Kesehatan Indonesia 2017

    Get PDF
    Based on WHO data, globally, the achievement of exclusive breastfeeding is still relatively low (<50%). Pre-lacteal feeding is a challenge for the success of exclusive breastfeeding. This study aims to analyze the relationship between residence in rural and urban areas with the practice of pre-lacteal feeding and the type of pre-lacteal food given. The study use secondary data from Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS)-2017 with a cencus block sample frame from the results of the 2010 population cencus. The variables studied were the subject's residence (rural-urban), pre-lacteal feeding, and the type of pre-lacteal food given. The subjects of this study were 8841 subjects. Data analysis carried out included univariate and bivariate analysis. There was no relationship between residence in rural/urban areas and the practice of pre-lacteal feeding (p>0.05). There was a relationship between residency in rural/urban areas and the type of pre-lacteal food given, namely milk other than breast milk, plain water, sugar water, formula milk, honey, coffee, and other fluids (p<0.001; p=0.003; p<0.001 ; p<0.001; p<0.001; p=0.011; p<0.001). Water, sugar water, honey, and coffee are pre-lacteal foods frequently given in rural areas. Milk other than breast milk and formula milk is pre-lacteal food frequently given in urban areas. Residency in rural/urban areas is not related to pre-lacteal feeding practices but is related to the type of pre-lacteal food given. Suggestion: it is necessary to conduct a national study to analyze the factors related to the types of pre-lacteal food given in rural and urban areas.Secara global, capaian pemberian ASI eksklusif saat ini masih tergolong rendah (<50%). Pemberian makanan prelakteal merupakan tantangan bagi keberhasilan ASI eksklusif. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tempat tinggal di wilayah rural dan urban dengan praktik pemberian makanan prelakteal dan jenis makanan prelakteal yang diberikan. Penelitian dengan desain cross sectional ini menggunakan data sekunder SDKI Tahun 2017 dengan kerangka sampel blok sensus dari hasil Sensus Penduduk Tahun 2010 (SP2010). Variabel yang diteliti yaitu tempat tinggal subjek rural/urban, pemberian makanan prelakteal, dan jenis makanan prelakteal yang diberikan. Subjek penelitian ini sebanyak 8841 subjek. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat. Tidak terdapat hubungan antara tempat tinggal di wilayah rural/urban dengan praktik pemberian makanan prelakteal (p>0,05). Terdapat hubungan antara tempat tinggal di wilayah rural/urban dengan jenis makanan prelakteal yang diberikan yaitu susu selain ASI, air putih, air gula, susu formula, madu, kopi, dan pemberian cairan lainnya (p<0,001; p=0,003; p<0,001; p<0,001; p<0,001; p=0,011; p<0,001). Air putih, air gula, madu, dan kopi seringkali diberikan sebagai makanan prelakteal di daerah rural. Susu selain ASI dan susu formula merupakan jenis makanan prelakteal yang sering diberikan di daerah urban. Tempat tinggal di wilayah rural/urban tidak berhubungan dengan praktik pemberian makanan prelakteal tetapi berhubungan dengan jenis makanan prelakteal yang diberikan

    Cahaya Intensitas Rendah (10 lux) Berpengaruh pada Frekuensi Nafas dan Saturasi Oksigen Bayi Berat Badan Lahir Rendah: penelitian kuasi eksperimen satu grup

    Get PDF
    Babies with Low Birth Weight (LBW) are at risk of various health problems in the early stages of birth. Environmental conditions outside the womb cause stressors and affect their physiological functions, and environments with strong lighting can reduce the baby's adaptation process. The aim of the study was to determine the effect of low-intensity light intervention on the breathing frequency and oxygen saturation of LBW infants in the NICU room of Bethesda Hospital, Yogyakarta. The research design used a quasi experiment in one group with pre and post test designs. The total sample was determined using the quota method in March-September 2020, and a total of 20 respondents. Data collection by measuring respiratory frequency and oxygen saturation, before and after giving 10 lux low intensity light. After intervention with low intensity light, respiratory rate was 42.9x/minute, and oxygen saturation was 95.7%. Statistical test results on both variables with a p value <0.05. Low light intensity of 10 lux is statistically associated with decreased respiratory rate and increased oxygen saturation in infants with low birth weight.Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) berisiko terhadap berbagai masalah kesehatan pada masa awal kelahiran. Kondisi lingkungan di luar rahim menyebabkan stresor dan mempengaruhi fungsi fisiologisnya, dan lingkungan dengan pencahayaan yang kuat dapat menurunkan proses adaptasi bayi. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh intervensi cahaya intensitas rendah terhadap frekuensi nafas dan saturasi oksigen bayi BBLR di ruang NICU Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Desain penelitian menggunakan kuasi eksperimen pada satu grup dengan desain pra dan pascates. Total sampel ditentukan dengan metode kuota pada bulan Maret-September 2020, dan sejumlah 20 responden. Pengumpulan data dengan pengukuran frekuensi pernafasan dan saturasi oksigen, sebelum dan sesudah pemberian cahaya intensitas rendah 10 lux. Setelah intervensi cahaya intensitas rendah, frekuensi pernafasan 42,9x/menit, dan saturasi oksigen 95,7%. Hasil uji statistik pada kedua variabel dengan p value <0,05. Cahaya intensitas rendah 10 lux secara statistik berhubungan dengan penurunan frekuensi nafas dan peningkatan saturasi oksigen pada bayi dengan berat badan lahir kurang

    Detection of Fungal Gene of Candida spp. from Throat Swab of Tuberculosis Patient with Polymerase Chain Reaction Method

    Get PDF
    Tuberculosis paru merupakan penyebab utama kematian yang dikaitkan dengan kompleks Mycobacterium tuberculosis secara global. Angka kejadian tuberkulosis dihitung sebagai membagi jumlah kasus penyakit baru dalam setahun dalam seratus ribu populasi. Banyak faktor resiko terkait dengan TB yaitu koinfeksi dengan jamur Candida spp. Koeksistensi antara patogen jamur dan TB paru adalah suatu kondisi klinis yang umumnya terjadi pada pasien imunosupresif. Maka diperlukan adanya skrining pada penderita pasien tuberculosis yang berkoinfeksi dengan Candida spp, terutama dalam kasus pasien dengan respons yang tidak adekuat terhadap terapi OAT. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gen candida spp pada swab tenggorok pasien penderita TB di Puskesmas Kalumata. Metode yang digunakan yaitu deskriptif analitik dengan desain Cross Sectional. Adapun gen yang digunakan yaitu C. albicans (665 bp), C. parasilopsis I (837 bp), C. parasilopsis II (310 bp), C. guilliermondii (205 bp) dan C. lusitaniae (799 bp). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 sampel ditemukan 7 sampel (23,3%) Spesies Candida albicans, Candida parasilopsis II sebanyak 8 sampel (26,7%) dan 15 sampel negatif (50%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dari 30 sampel terdeteksi 15 sampel yang mempunyai gen Candida spp.Pulmonary tuberculosis is the leading cause of death associated with the Mycobacterium tuberculosis complex globally. The incidence of tuberculosis is calculated as dividing the number of new cases of the disease in a year in one hundred thousand population. Many risk factors associated with TB are coinfection with the fungus Candida spp. Coexistence between fungal pathogens and pulmonary TB is a common clinical condition in immunosuppressed patients. Thus, there is a need for screening in patients with tuberculosis co-infected with Candida spp, especially in cases of patients with inadequate response to OAT therapy. The purpose of this study was to determine the candida spp gene in throat swabs of TB patients at the Kalumata Health Center. The method used is descriptive analytic with a cross sectional design. The genes used were C. albicans (665 bp), C. Parasilopsis I (837 bp), C. Parasilopsis II (310 bp), C. guilliermondii (205 bp) and C. lusitaniae (799 bp). The results showed that from 30 samples found 7 sampels (23,3%) Candida albicans species, Candida parasilopsis II as many as 8 samples (26.7%) and 15 samples were negative (50%). The conclusion of this study is that from 30 samples, 15 samples were detected that had the Candida spp gene

    Rapid Diagnostic Test for Hemaglobin Levels in Patients with Plasmodium Infection at the Doom Health Center, Sorong, West Papua

    Get PDF
    Malaria merupakan penyakit parasit di negara tropis dan disebabkan oleh parasit malaria yang merupakan protozoa darah termasuk dalam genus plasmodium yang dibawa oleh nyamuk Anopheles. Kasus kejadian malaria meningkat setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini untuk menilai potensi pemeriksaan tes diagnostik cepat Kadar Hemoglobin (Hb) pada penelitian yang menggunakan rancangan survei analitik cross-sectional pada bulan Juli-Agustus 2022 di Puskesmas Doom, Sorong, Papua Barat. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pasien yang penderita infeksi malaria sebanyak 48 orang. Metode penentuan sampel menggunakan total sampling. Responden malaria dengan kadar hemoglobin rendah yaitu sebanyak 28 responden (65,0%) lebih tinggi dari pada responden dengan Hb normal yaitu sebanyak 15 responden (35,0%). Penderita malaria mengalami gangguan hematologi dengan kadar hemoglobin rendah pada mayoritas responden. Diperlukan penelitian lanjutan dengan setting yang lebih baik untuk mengkonfirmasi efektifitas penggunaan tes diagnostik cepat.Malaria is a parasitic disease in tropical countries and is caused by the malaria parasite which is a blood stage paracites belonging to the genus Plasmodium which is carried by the Anopheles mosquito. The incidence of malaria is increasing every year. The purpose of this study was to assess the potential for a rapid diagnostic test for hemoglobin (Hb) levels in a study using a cross-sectional analytic survey design in July-August 2022 at the Doom Health Center, Sorong, West Papua. The population in this study were all patients with malaria infection as many as 48 people. The method of determining the sample using total sampling. Malaria respondents with low hemoglobin levels, namely 28 respondents (65.0%), were higher than respondents with normal Hb, namely 15 respondents (35.0%). Malaria sufferers experience hematological disorders with low hemoglobin levels in the majority of respondents. Further studies are needed in better settings to confirm the effectiveness of using rapid diagnostic tests

    Acceptability and Nutritional Content of Sate and Tum Processed using Sere Soybean and Banana Weevil Formulations

    Get PDF
    Sere kedele merupakan makanan tradisional khas Bali dan terbuat dari hasil fermentasi kedelai secara alami yang potensial untuk dikembangkan. Seperti hasil fermentasi kedelai lainnya, sere kedele kaya akan zat gizi, namun karena aromanya yang sangat tajam kurang sehingga kurang begitu dimanfaatkan. Pengolahan sere kedele perlu dikombinasikan dengan pangan lain. Penelitian ini bertujuan untuk menilai daya terima, dan menguji kandungan gizi formula sere kedele yang dikombinasikan dengan bonggol pisang. Formulasi sere kedele dan bonggol pisang dengan 5 jenis formula. Kandungan gizi diuji menggunakan metode HPLC, dan daya terima menggunakan uji hedonik yang melibatkan 30 panelis. Perbedaan daya terima antar formula dianalisis dengan Uji ANOVA. Semua formula sere kedele dan bonggol pisang pada produk sate dan tum disukai oleh panelis. Formula yang paling disukai untuk sate adalah F1 dengan komposisi sere kedele dan bonggol pisang 3:1 dengan angka hedonik 3,80, sedangkan produk tum yang paling disukai adalah adalah F3 dengan perbandingan sere kedele dan bonggol pisang 1:1 dengan angka hedonik 3,97.Sere kedele is a traditional Balinese food made from naturally fermented soybeans which has the potential to be developed. Like other fermented soy products, sere kedele is rich in nutrients, but due to its very sharp aroma it lacks it so it is underutilized. sere kedele processing needs to be combined with other foods. This study aims to assess the acceptability, and to test the nutritional content of the soy sere formula combined with bonggol pisang. sere kedele formulation and bonggol pisang with 5 types of formula. Nutritional content was tested using the HPLC method, and acceptability using a hedonic test involving 30 panelists. Differences in acceptability between formulas were analyzed by ANOVA test. All the formulas for sere kedele and bonggol pisang in satay and tum products were liked by the panelists. The most preferred formula for satay was F1 with a composition of sere kedele and bonggol pisang 3:1 with a hedonic number of 3.80, while the most preferred tum product was F3 with a ratio of sere kedele and bonggol pisang of 1:1 with a hedonic number of 3.97

    Pengaruh Terapi Komplementer Bekam Basah terhadap Perubahan Darah Rutin Perokok Aktif di Kota Kendari: Penelitian Kuasi Eksperimen

    Get PDF
    Smoking can cause chronic hypoxia, increased production of red blood cells, and accompanied by a decrease in plasma volume. Wet cupping therapy is a complementary therapeutic approach that helps to cure disease, balance tissue blood flow, eliminate inflammatory agents and toxins, improve lymph node function and enhance the immune system through the mechanism of blood loss. This study aims to determine the effect of wet cupping therapy on routine blood hematology changes in active smokers. The research was designed using a pre-experimental method with a pre-test and post-test group model. The research was carried out in the PKM Poltekkes building, Ministry of Health Kendari on 26 male respondents aged 20-50 years. The results of the paired t-test statistic showed a significant change in routine blood hematology values ??after wet cupping, this change occurred in the components of WBC, HB, HCT, MCV, MCH, MCHC, with P value < 0.05. Complementary wet cupping therapy is beneficial in restoring the body's balance by strengthening the immune system, eliminating pathogenic factors, and increasing blood circulation. The increase in HB, HCT, MCV, MCH, MCHC in smokers is the main red blood cell index that helps measure the average size and composition of red blood cell hemoglobin in active smokers.Merokok dapat menyebabkan hipoksia kronis, peningkatan produksi sel darah merah, dan disertai penurunan volume plasma. Terapi bekam basah merupakan pendekatan terapeutik komplementer yang membantu menyembuhkan penyakit, memberi keseimbangan aliran darah jaringan, mengeliminasi agen inflamasi dan racun, meningkatkan kerja kelenjar getah bening dan meningkatkan sisten imunitas melalui mekanisme pengeluaran darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi bekam basah terhadap perubahan hematologi darah rutin pada perokok aktif. Penelitian yang didesain menggunakan metode pra eksperimen dengan model satu grub prates dan pascates. Pelaksanaan penelitian dilakukan di gedung PKM Poltekkes Kemenkes Kendari pada 26 responden laki-laki yang berusia 20-50 tahun. Hasil uji statistik paired t-test menunjukkan signifikansi perubahan nilai hematologi darah rutin setelah bekam basah, perubahan ini terjadi pada komponen WBC, HB, HCT, MCV, KIA, MCHC, dengan nilai P < 0,05. Terapi komplementer bekam basah bermanfaat dalam memulihkan keseimbangan tubuh dengan memperkuat sistem kekebalan tubuh, menghilangkan faktor patogen, dan meningkatkan sirkulasi darah. Peningkatan HB, HCT, MCV, MCH, MCHC pada perokok merupakan indeks sel darah merah utama yang membantu mengukur rata-rata ukuran dan komposisi hemoglobin sel darah merah pada perokok aktif

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇