Health Information : Jurnal Penelitian
Not a member yet
    657 research outputs found

    Perbandingan Efektivitas Tindakan Laparoskopi Dan Open Herniotomi Sebagai Tatalaksana Hernia Pada Pasien Anak : Sebuah Review

    Get PDF
    Salah satu kelainan kongenital yang sering ditemukan pada bayi dan anak-anak adalah hernia. Tatalaksana pembedahan pada hernia sangat diperlukan agar dapat mencegah risiko terjadinya komplikasi. Tatalaksana pembedahan yang dapat dilakukan pada kasus hernia antara lain open surgery dan juga laparoskopi. Terdapat kelebihan dan kekurangan dari masing-masing prosedur tersebut begitupun penerapan untuk setiap jenis hernia juga berbeda. Guideline internasional sudah menetapkan tatalaksana pembedahan yang tepat untuk hernia inguinalis pada pasien dewasa. Namun sampai saat ini, belum ada pedoman yang baku terkait manakah yang lebih efektif digunakan pada kasus hernia anak, apakah open surgery ataukah laparoskopi. Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan efektivitas tindakan laparoskopi dengan open herniotomi sebagai tatalaksana hernia pada pasien anak. Metode: Tinjauan literatur dari empat database PubMed, DOAJ, Cochrane, dan Google Scholar yang diterbitkan dalam rentang waktu 5 tahun terakhir yaitu dari tahun 2018-2022. Hasil: Didapatkan 14 literatur yang melaporkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing prosedur. Kelebihan dari laparoskopi adalah dapat mengurangi hospital stay, waktu operasi, risiko inflamasi, dan rasa nyeri. Faktor estetik juga menjadi keunggulan dari prosedur ini karena tidak banyak menimbulkan luka bekas operasi. Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa laparoskopi dapat meminimalisir risiko terjadinya komplikasi dan juga kekambuhan pasca operasi. Maka dari itu, laparoskopi menjadi salah satu tindakan yang efektif dan aman sebagai tatalaksana hernia pada anak. Kesimpulan: Terdapat perbedaan hasil penelitian terkait efektivitas tindakan laparoskopi dengan open herniotomi sebagai tatalaksana hernia pada pasien anak. Kedua prosedur tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sehingga, pemilihan tindakan harus berdasarkan pertimbangan kedua belah pihak antara pasien dan dokter.Hernia is one of the most common congenital abnormalities in infants and children. Surgical management of hernias is required to reduce the risk of complications. In cases of hernias, surgical management options include open surgery and laparoscopy. Each of these procedures has advantages and disadvantages, and the application for each type of hernia is also different. International guidelines have established appropriate surgical management for adult patients with inguinal hernias. However, there are no standard guidelines regarding which one is more effective for use in cases of pediatric hernias, whether open surgery or laparoscopy. Objective: To compare the effectiveness of laparoscopic surgery with open surgery in pediatric patients with hernia. Methods: Literature review of four database; PubMed, DOAJ, Cochrane, and Google Scholar published within the last 5 years from 2018-2022. Results: There were 14 studies reporting the advantages and disadvantages of each procedure. Laparoscopy has the advantage of reducing hospital stay, operating time, risk of inflammation, and pain. This procedure also has an aesthetic advantage because it doesn't leave many surgical scars. According to several studies, laparoscopy can reduce the risk of complications and postoperative recurrence. As a result, laparoscopy is an effective and safe treatment for hernias in children. Conclusion: There are disparities in research findings regarding the effectiveness of laparoscopic procedures with open herniotomies as a hernia treatment in pediatric patients. Both procedures have advantages and disadvantages. As a result, the decision made must be considerate of both the patient and the doctor

    Hubungan Penggunaan KB Suntik Terhadap Siklus Menstruasi Dan Peningkatan Berat Badan Ibu Di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang IV Sipin Kota Jambi

    Get PDF
    Salah satu program pemerintah terkait Keluarga Berencana (KB) Nasional ialah penggunaan alat kontrasepsi suntik (Injectables).Dampak ditimbulkan berupa siklus menstruasi yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunnya daya tahan tubuh akibat peningkatan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah adanya hubungan penggunaan KB suntik terhadap ketidakteraturan siklus menstruasi dan peningkatan berat badan ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang IV Sipin. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Pengambilan data dilaksanakan dengan pengisian kuesioner dan data dianalisis menggunakan distribusi frekuensi. Berdasarkan uji statistik didapatkan p-value 0,015<0,05 artinya ada hubungan penggunaan KB suntik dengan siklus menstruasi ibu, dan adanya hubungan penggunaan KB suntik dengan peningkatan berat badan ibu dengan hasil p-value 0,001<0,005. Adanya hubungan penggunakan KB suntik terhadap siklus menstruasi dan peningkatan berat badan ibu serta efek samping tersebut paling banyak dirasakan oleh ibu pengguna jenis KB suntik 3 bulan daripada ibu pengguna jenis KB 1 bulan di wilayah Kerja Puskesmas Simpang IV Sipin.One of the government's programs related to National Family Planning (KB) is the use of injectable contraceptives. The impact is in the form of menstrual cycles that interfere with daily activities and decreased endurance due to increased body weight. This study aims to determine whether there is a relationship between the use of injectable birth control and menstrual cycle irregularities and an increase in maternal weight in the Simpang IV Sipin Health Center Work Area. This research is an analytic descriptive study with a cross-sectional approach. Data collection was carried out by filling out questionnaires and data were analyzed using a frequency distribution. Based on statistical tests, it was found that the p-value was 0.015 <0.05, meaning that there was a relationship between the use of injectable birth control and the mother's menstrual cycle, and there was a relationship between the use of injection contraceptives and an increase in maternal weight with a p-value of 0.001 <0.005. There is a relationship between the use of injectable birth control on the menstrual cycle and an increase in maternal weight and the side effects are most commonly experienced by mothers who use the 3-month injection type of family planning rather than mothers who use the 1-month type of family planning in the Simpang IV Sipin Health Center work area

    Efek Pemberian Curcumin Terhadap Outcome Penderita Sirosis Hepatis Dengan Non-Alcoholic Fatty Liver Disease: Sebuah Tinjauan Literatur

    Get PDF
    Liver cirrhosis is a state of liver fibrosis and nodule formation caused secondary to chronic injury resulting in changes in the normal lobular organization of the liver. In cirrhosis of the liver there is a turn of hepatocyte cells into scar tissue (fibrosis) resulting in liver function mediated by hepatocyte cells. One of the most common etiologies causing liver cirrhosis is non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Therefore, cirrhosis of the liver that occurs in patients with NAFLD needs special attention to prevent mortality from this disease. . Recent studies have increasingly investigated natural herbal medicines as potential therapies for cirrhosis of the liver, mainly because of their abundant source of antifibrogenic agents and their lower side effects, lower costs, and higher acceptability. One of the therapeutic agents that has been extensively studied recently is curcumin. Curcumin is the main bioactive component of Curcuma longa L., which has various biological and pharmacological functions such as anti-inflammatory, antioxidant, anti-carcinogenic, anti-angiogenic, anti-thrombotic, and others. Therefore, in this literature review, an analysis of the effect of giving curcumin on various outcomes of liver cirrhosis patients was carried out so that it could be used as clinical evidence-based medicine. Study searches were conducted on various databases such as Pubmed, ScienceDirect, Directory of Open Access Journals, and the Cochrane Library. From the search results obtained a total of 660 studies. The studies that met the inclusion and exclusion criteria were the 3 studies analyzed in this literature review. Administration of curcumin improved MELD, MELD-Na, Child-Pugh, CLDQ, SF-26 scores, and various other blood biochemical parameters. No adverse events were reported with any type of laser therapy in all inclusion studies. administration of curcumin 1000 – 1500mg can improve outcomes in patients with liver cirrhosis with NAFLD ranging from disease severity, QoL, to biochemical parameters that represent liver function.Sirosis hati adalah keadaan terjadinya fibrosis dan pembentukan nodul hati yang disebabkan secara sekunder akibat cedera kronis sehingga terjadi perubahan organisasi lobular hati yang normal. Pada sirosis hati terjadi pergantian sel hepatosit menjadi jaringan parut (fibrosis) sehingga terjadi fungsi hati yang diperantarai oleh sel hepatosit. Salah satu etiologi yang paling banyak menyebabkan sirosis hepatis adalah non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). Oleh karena itu, sirosis hati yang terjadi pada penderita NAFLD perlu mendapat perhatian khusus untuk mencegah mortalitas penyakit ini. Berbagai penelitian terbaru, lebih banyak menginvestigasi obat herbal alami sebagai terapi potensial untuk sirosis hati, terutama karena sumber agen antifibrogeniknya yang melimpah serta efek sampingnya yang lebih sedikit, biaya lebih rendah, dan penerimaan yang lebih tinggi. Salah satu agen terapi yang banyak diteliti akhir-akhir ini adalah Curcumin. Curcumin merupakan komponen bioaktif utama Curcuma longa L., yang memiliki berbagai fungsi biologis dan farmakologis seperti antiinflamasi, antioksidan, antikarsinogenik, antiangiogenik, antitrombotik, dan lain-lain. Oleh karena itu, pada tinjauan literatur ini, dilakukan analisis efek pemberian curcumin terhadap berbagai outcome pasien sirosis hati sehingga dapat dijadikan evidence based of medicine secara klinis. Pencarian studi dilakukan pada berbagai database seperti Pubmed, ScienceDirect, Directory of Open Access Journal, dan Cochrane Library. Dari hasil pencarian didapatkan total 660 studi. Adapun studi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 3 studi yang dianalisis pada tinjauan literatur ini. Pemberian curcumin memperbaiki skor MELD, MELD-Na, Child-Pugh, CLDQ, SF-26, dan berbagai parameter biokimia darah lainnya. Tidak ada efek samping yang dilaporkan pada penggunaan terapi laser jenis apapun pada keseluruhan studi inklusi. pemberian curcumin 1000 – 1500mg dapat memperbaiki outcome pada pasien sirosis hati dengan NAFLD mulai dari tingkat keparahan penyakit, QoL, hingga parameter biokimia yang merepresentasikan fungsi hati

    Case Study : Analysis The Causes Of Eye Injuries In Oil Palm at PTPN IV Adolina

    No full text
    Kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja dilingkungan kerja, termasuk kecelakaan kerja di perkebunan sawit dengan jumlah pekerja yang banyak dan pekerjaan yang beresiko tinggi terjadinya kecelakaan kerja. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui penyebab cedera mata pada pekerja pemanen kelapa sawit. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Observasional dengan menggunakan desain Studi Kasus. Penelitian ini dilakukan pada bulan November - Desesmber 2022 di PTPN IV Adolina. Pengumpulan data melalui data sekunder dan wawancara dengan Pengambilan sample Purposive sampling. Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan dari hasil data sekunder terdapat 8 pekerja yang mengalami cedera mata, kecelakaan kerja tersebut termasuk kecelakaan kerja tertinggi di PTPN IV Adolina, dari hasil penelitian melalaui wawancara yang dilakukan oleh peneliti didapatkan bahwa penyebab kecelakaan mata pada pekerja yaitu 1. Tidak memakai APD Safety Goggles, 2. APD berupa Safety Goggles yang berembun ketika dipakai, 3. Kurangnya kesadaran kesadaran diri pekerja, 4. Lemahnya pengawasan.Work accident can occur ant time in the work environtment, including work accident in oil palm plantations with a large number of workers and job have a high risk of work accidents. The purpose is to khowing the causes of eye injury in oil palm harvesting workers. This study use a qualitative method with an observational approach using a case study design. This research conducted in Novembel until December at PTPN IV Adolina. Data Colection by secondary data and Interviews. Base on Resulth of this Results, it was obtainde from the result of secondary data that there were 8 workers who suffered eye inhuries, these work accidents included the highest work accidents at PTPN IV Adolina, from the research results through interviews conducted by researchers it was found that the causes of eye injuries in workers were 1. Dont wearing PPE Safety goggles, 2. PPE in the form of safety gohles that are dewy when used, 3. Lack of self awareness of workers, 4. Weak supervision

    Hubungan antara pengetahuan siswa tentang rokok dengan perilaku merokok di SMA negeri 2 Kendari

    No full text
    Hubungan antara pengetahuan siswa tentang rokok dengan perilaku merokok di SMA negeri 2 Kendar

    Kepatuhan Hand Hygiene Petugas Kesehatan Rumah Sakit di Negara Berpendapatan Rendah dan Menengah: A Systematic Review

    Get PDF
    Latar Belakang: Infeksi nosokomial (HAIs) merupakan ancaman serius dalam layanan kesehatan global, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, disebabkan oleh kurangnya kepatuhan terhadap praktik hand hygiene di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami tingkat kepatuhan petugas kesehatan di rumah sakit di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah terhadap praktik hand hygiene. Metode: Penelitian ini menggunakan systematic review dengan pencarian literatur di PubMed dan Science Direct, mengikuti panduan PRISMA. Kata kunci mencakup "Compliance" OR "Adherence" AND "Hand hygiene" OR "Hand washing" AND "Healthcare worker" OR "Healthcare providers" AND "Hospital" AND "In Low-And Middle Income Countries" dalam artikel bahasa Inggris yang diterbitkan antara 2019-2023. Dua belas artikel sampel termasuk sepuluh studi cross-sectional dan dua studi kualitatif. Hasil Penelitian: Tingkat kepatuhan bervariasi dari 14,9% hingga 46,8%, dengan perawat menunjukkan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi. Namun, tingkat kepatuhan secara keseluruhan masih rendah, menunjukkan perlunya upaya lebih besar untuk meningkatkan praktik hand hygiene di rumah sakit di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Faktor-faktor yang memengaruhi kepatuhan termasuk profesi, pelatihan, sumber daya, pengetahuan, sikap, dan dukungan sosial. Hambatan melibatkan persediaan yang tidak mencukupi, reaksi kulit, beban kerja, kurangnya fasilitas, pengaruh sosial, keyakinan tentang konsekuensi, kurangnya pengetahuan, dan kondisi kerja yang buruk. Kesimpulan: Temuan ini memiliki implikasi signifikan untuk meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah serta menyoroti pentingnya kesadaran terhadap faktor-faktor yang memengaruhi praktik hand hygiene di berbagai konteks kesehatan global.Background: Nosocomial infections (HAIs) pose a serious threat to global healthcare services, especially in low- and middle-income countries, due to inadequate adherence to hand hygiene practices in healthcare facilities. The aim of this study is to understand the compliance levels of healthcare personnel in hospitals in low- and middle-income countries regarding hand hygiene practices.  Method: This study employed a systematic review, with literature searches conducted on PubMed and Science Direct, following PRISMA guidelines. The keywords used included "Compliance" OR "Adherence" AND "Hand hygiene" OR "Hand washing" AND "Healthcare worker" OR "Healthcare providers" AND "Hospital" AND "In Low-And Middle Income Countries" in English-language articles published between 2019 and 2023. The study included 12 sample articles, comprising ten cross-sectional studies and two qualitative studies.  Results: Compliance rates ranged from 14.9% to 46.8%, with nurses demonstrating higher compliance rates. Nevertheless, overall compliance rates remained low, indicating the need for greater efforts to improve hand hygiene practices in hospitals in low- and middle-income countries. Factors affecting compliance included profession, training, resources, knowledge, attitudes, and social support. Barriers involved inadequate supplies, skin reactions, workload, insufficient facilities, social influences, beliefs about consequences, lack of knowledge, and poor working conditions. Conclusion: These findings have significant implications for enhancing patient safety in hospitals in low- and middle-income countries, highlighting the importance of awareness regarding factors influencing hand hygiene practices in various global healthcare contexts

    Persepsi Pekerja Perkebunanan Kelapa Sawit Tentang Recognition (Pengenalan) Bahaya pada Perkebunan Kelapa Sawit di Kabupaten Bengkulu Tengah

    Get PDF
    Pekerja petani kelapa sawit selalu berinteraksi dengan bahaya dan risiko di tempat kerja dengan pemahaman yang baik tentang keselamatan dan kesehatan kerja dapat melindungi diri pekerja dari bahaya ditempat kerja. Pengenalan potensi bahaya ditempat kerja oleh pekerja perkebunan kelapa sawit dapat mencegah kecelakaan yang mengakibatkan kematian pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan ekplorasi persepsi pekerja perkebunan kelapa sawit tentang pengenalan potensi bahaya di perkebunan kelapa sawit. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jumlah informan sebanyak 10 orang yang diambil secara purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan melakukan wawancara mendalam. Teknik pengolah data menggunakan software olah data kualitatif NVivo 12. Hasil yang didapat yaitu bahaya kerja di perkebunan kelapa sawit meliputi tertusuk duri,tertimpa pelepah dan buah kelapa sawit, terluka, cuaca dan angin kencang, hewan beracun,keracunan,iritasi dan gatal kulit, gangguan pernapasan dan musculoskeletal. Dapat disimpulkan bahwa pengenalan bahaya kerja di perkebunan kelapa sawit meliputi bahaya fisik, biologi,kimia,dan ergonomi. Sehingga kedepannya pekerja yang bekerja di lahan perkebunan kelapa sawit dapat menjadikan potensi bahaya tersebut sebagai pengendalian terjadinya kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Kata kunci : Bahaya fisik, bahaya ergonomi, bahaya kimia, bahaya biologi, pekerja perkebunan kelapa sawitOil palm farmer workers always interact with dangers and risks in the workplace. A good understanding of occupational safety and health can protect workers from workplace dangers. Recognition of potential hazards in the workplace by oil palm plantation workers can prevent accidents that result in worker death. This research aims to explore the perceptions of oil palm plantation workers regarding the recognition of potential dangers in oil palm plantations. This research method uses a qualitative approach with a total of 10 informants taken by purposive sampling. Data collection techniques by conducting in-depth interviews. The data processing technique uses qualitative data processing software NVivo 12. The results obtained are that the dangers of working on oil palm plantations include being pricked by thorns, being hit by palm fronds and fruit, being injured, strong weather and winds, poisonous animals, poisoning, skin irritation and itching, disturbances. respiratory and musculoskeletal. It can be concluded that the introduction of work hazards in oil palm plantations includes physical, biological, chemical and ergonomic hazards. So that in the future workers who work on oil palm plantations can use these potential dangers to control the occurrence of work-related accidents or diseases

    Menginang Sirih dan Tradisi yang Hampir Hilang pada Masyarakat Banjar serta Perspektifnya dalam Kesehatan Gigi untuk Wujudkan Indonesia Bebas Karies 2030

    Get PDF
    Introduction: Dental health problems in Indonesia are still relatively high. Based on the 2018 Riskesdas results, the prevalence of caries in Indonesia reached 57.6%. In South Kalimantan Province, 46.90% of the population suffers from dental caries. One of the factors thought to be related to the prevalence of dental caries is the habit of "Menginang Sirih" which is the culture of the Banjar people. Objective: This study aims to analyze the relationship between the tradition of menginang sirih with the incidence of dental caries and analyzing aspects of menginang culture in society. Method: This research uses a mixed method which combines quantitative methods with a case control approach to determine the relationship between the menginang tradition and dental health and qualitatively by conducting in-depth interviews to find out cultural reasons in society. Results: The research subjects were 46 respondents, consisting of 36 women and 10 men. It was found that there was no relationship between menginang habit, age, duration of menginang habit, frequency in a week, chewing time, materials used and brushing teeth with the incidence of dental caries (p-value = 0.375; 0.964; 0.083; 1.000; 1.000; 0.462; 0.739; 0.462). Based on the results of the analysis of cultural aspects, it is known that the menginang tradition usually occurs at sacred events such as weddings, which symbolizes the union of two souls. Conclusion: The menginang tradition can be preserved by continuing to pay attention to personal hygiene and regular dental check-ups.Pendahuluan: Masalah kesehatan gigi di Indonesia masih tergolong tinggi. Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, prevalensi karies di Indonesia mencapai 57,6%. Provinsi Kalimantan Selatan 46,90% penduduknya menderita karies gigi. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan prevalensi karies gigi adalah kebiasaan “menginang sirih” yang merupakan budaya masyarakat Banjar. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tradisi “menginang sirih” dengan kejadian karies gigi dan menganalisis aspek budaya menginang dimasyarakat. Metode: Penelitian ini menggunakan mix mehod yang menggabungkan metode kuantitatifdengan pendekatan case control untuk mengetahui hubungan antara tradisi menginangdengan kesehatan gigi dan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam untuk mengetahui alasan budaya di masyarakat. Hasil: Subjek penelitian berjumlah 46 responden, terdiri dari 36 perempuan dan 10 laki-laki. Ditemukan bahwa tidak adahubungan antara kebiasaan menginang, umur, lama kebiasaan menginang, frekuensidalam seminggu, lama mengunyah, bahan yang digunakan dan menyikat gigi dengan kejadian karies gigi (p-value = 0,375; 0,964; 0,083; 1,000; 1,000; 0,462; 0,739; 0,462). Berdasarkan hasil analisis aspek budaya diketahui tradisi menginang sirih biasanyaterjadi dalam acara sakral seperti pernikahan, yang melambangkan penyatuan dua jiwa. Kesimpulan: Tradisi Menginang Sirih dapat dipertahankan dengan terusmemperhatikan kebersihan diri dan pemeriksaan gigi secara rutin

    Hubungan Kompetensi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan dengan Kinerja dalam Melaksanakan Praktik Rekam Medis dan Informasi Kesehatan di Fasilitas Layanan Tingkat Pertama

    Get PDF
    The goal of competency is getting a result from encouragement or motive. Meanwhile, performance is a function that describes the indicator of competency which are knowledge, skills, behavior, and experience to carry out a  job or role effectively. Medical recorders and health information technicians in public health centers must comply with the competencies contained in KMK No. 312 of 2020. The study's purpose is to determine the relation of Medical recorders and health information technicians with performance in implementing medical record practices and health information in first-level health services facilities. The research uses observational and cross-sectional approach methods. The sample is all Medical recorders in the public health center in Cirebon City that 32 medical recorders and health informations technicians. The univariate test shows that medical record and health informations technician competency in 50% for the capable category. Meanwhile, the performance in 59,4% for the good category. The output of the chi-square test process shows a p-value of 1,000> 0,05. It means that there's no relationship between medical recorders and health informations technician competency with performance in implementing medical record practices and health information in first-level health services facilities. To improve medical recorder competency and performance, should have been held such as training, socialization, dissemination, and case discussion.Tujuan dari kompetensi adalah memperoleh suatu hasil dari dorongan atau motif yang dilakukan. Sementara itu, Kinerja merupakan fungsi yang melukiskan indikator dari kompetensi antara lain knowledge, skill, dan attitude. Dalam memberikan pelayanan atau melaksanakan kewajiban lainnya, petugas rekam medis harus melakukannya berdasarkan KMK  No. 312 Tahun 2020. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara kompetensi perekam medis dan informasi kesehatan dengan kinerja petugas rekam medis di puskesmas kota Cirebon 2022. Metode penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh petugas rekam medis yang bekerja di wilayah kerja Puskesmas Dinas Kesehatan Kota Cirebon yang berjumlah 32 petugas rekam medis. Berdasarkan hasil uji univariat menyatakan bahwa kompetensi petugas rekam medis dalam kategori mampu sebanyak 50%. Kinerja petugas rekam medis dalam kategori baik sebanyak 59,4%. Hasil uji chi-square didapatkan nilai p-value sebesar 1,000 > 0,05. Artinya Tidak terdapat hubungan antara kompetensi PMIK dengan kinerja petugas rekam medis. Untuk meningkatkan kompetensi dan kinerja, petugas rekam medis mengikuti pelatihan, sosialisasi, diseminasi dan diskusi kasus

    Usia, Pendidikan, dan Penggunaan Aplikasi Kesehatan Berhubungan dengan Penerimaan Penggunaan Aplikasi Deteksi Penyakit Kronis

    Get PDF
    The results of the examination of patients who take part in the Prolanis program are only recorded at health care facilities, while the patients themselves do not know the results of the examination. To bridge this, chronic disease detection applications are designed. There are several factors that can affect a user's willingness to use the application, one of which is the user's characteristics. This study aims to examine the relationship between respondent characteristics and acceptance of chronic disease detection applications. The type of research used is quantitative research with the location of the study, namely in health service facilities in Semarang Regency, namely Lerep Health Center, Ungaran Health Center and Niki Helti Clinic. Data were obtained through questionnaires with a linkert scale filled out by patients in health care facilities as system users as many as 131 respondents. The study will be conducted in June-August 2023. Data analysis techniques using Chi square test and Spearman Rank test. The results showed that there was a relationship between age (p value 0.001), education (p value 0.000), length of use of mobile phones (p value 0.001) and use of health applications (p value 0.012) on the acceptance of chronic disease detection applications. Gender (p value 0.051), occupation (p value 0.626) and length of work (p value 0.293) were not associated with acceptance of chronic disease detection applications. In further research, it is recommended to conduct a mix method study, apply a qualitative approach, and add variables such as digital literacy.Hasil pemeriksaan pasien yang mengikuti program Prolanis hanya tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan, sedangkan pasien sendiri tidak mengetahui hasil pemeriksaannya. Untuk menjembatani hal tersebut dirancang aplikasi deteksi penyakit kronis. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kesediaan pengguna untuk menggunakan aplikasi salah satunya yaitu karakteristik pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan karakteristik responden dengan penerimaan aplikasi deteksi penyakit kronis. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan lokasi penelitian yaitu di fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Semarang yaitu Puskesmas Lerep, Puskesmas Ungaran dan Klinik Niki Helti. Data diperoleh melalui kuesioner dengan skala linkert yang diisi oleh pasien di fasilitas pelayanan kesehatan sebagai pemakai sistem sebanyak 131 responden. Penelitian dilaksanakan bulan Juni-Agustus 2023. Teknik analisa data dengan menggunakan uji Chi square dan uji Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan usia (p value 0,001), pendidikan (p value 0,000), lama menggunakan mobile phone (p value 0,001) dan penggunaan aplikasi kesehatan (p value 0,012) terhadap penerimaan aplikasi deteksi penyakit kronis. Sedangkan jenis kelamin (p value 0,051), pekerjaan (p value 0,626) dan lama bekerja (p value 0,293) tidak memiliki hubungan dengan penerimaan aplikasi deteksi penyakit kronis. Pada penelitian lanjutan disarankan melakukan studi mix method, menerapkan pendekatan kualitatif, dan menambah variabel seperti literasi digital

    477

    full texts

    657

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Health Information : Jurnal Penelitian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇