Texere (E-Journal)
Not a member yet
    111 research outputs found

    PENGARUH PENGGUNAAN ZAT AKTIF PERMUKAAN KATIONIK POLYQUATERNARY AMMONIUM UNTUK MENINGKATKAN KETUAAN DAN KETAHANAN LUNTUR WARNA HASIL PENCELUPAN KAIN KAPAS DENGAN ZAT WARNA REAKTIF

    Full text link
    Kain berbahan dasar serat kapas banyak dimanfaatkan dalam industri tekstil karena memiliki sifat nyaman dipakai, higroskopis, sirkulasi udara yang baik, serta bersifat biodegradable dan ramah lingkungan. Serat kapas tersusun terutama oleh selulosa yang memiliki gugus hidroksil (–OH) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi kimia dengan berbagai jenis zat pewarna, khususnya zat warna reaktif. Zat warna reaktif mampu membentuk ikatan kovalen dengan gugus hidroksil pada serat kapas, yang menghasilkan warna cerah serta ketahanan luntur yang baik. Namun, efektivitas proses fiksasi zat warna sangat dipengaruhi oleh kondisi pencelupan, terutama pH larutan dan interaksi antara zat warna dan serat. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan afinitas zat warna terhadap serat adalah melalui penambahan zat aktif permukaan kationik berbasis polyquaternary ammonium, yang bekerja melalui interaksi elektrostatik antara serat dan zat warna. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan zat aktif permukaan kationik terhadap ketuaan warna serta ketahanan luntur warna terhadap pencucian dangosokan

    ANALISIS VARIASI KAWAT KONDUKTIF PADA KAIN PEMANAS

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kinerja termal kain pemanas tipe rangkap yang memanfaatkan kawat nikelin sebagai elemen pemanas untuk aplikasi tekstil cerdas. Prototipe kain diproduksi menggunakan mesin narrow fabric dengan penyisipan kawat berdiameter 0,1 mm dan 0,3 mm dalam variasi jumlah serta tegangan suplai. Pengujian dilakukan untuk mengukur kecepatan kenaikan suhu, suhu maksimum yang dicapai, kemampuan mempertahankan panas setelah sumber energi dihentikan, serta pengaruh jumlah kawat terhadap karakteristik termal kain. Hasil menunjukkan bahwa jumlah kawat dan besar tegangan berperan penting dalam menentukan laju pemanasan dan suhu akhir. Konfigurasi paling optimal diperoleh pada 4 kawat 0,1 mm dengan tegangan 3 V, serta 2–3 kawat 0,3 mm pada tegangan yang sama, yang mampu mencapai suhu terapi aman (50 °C) secara cepat. Sebaliknya, penggunaan tegangan 6 V menghasilkan suhu berlebih yang berpotensi membahayakan. Selain itu, kawat berdiameter 0,3 mm menunjukkan kemampuan penyimpanan panas lebih baik dibandingkan kawat 0,1 mm. Temuan ini menegaskan pentingnya penentuan jumlah kawat dan tegangan yang tepat untuk menghasilkan kain pemanas yang aman dan efisien bagi aplikasi tekstil cerdas

    PEMBUATAN POLA KONSTRUKSI MASKER WAJAH DENGAN PENDEKATAN ANTROPOMETRI BERDASARKAN LANDMARK WAJAH

    Full text link
    Masker wajah merupakan alat untuk menutup muka, kain penutup mulut dan hidung (seperti yang digunakan oleh dokter dan perawat di rumah sakit) yang menggunakan tali kebagian telinga1. Masker wajah yang digunakan 10 menit sampai beberapa jam dapat menyebabkan ketidak nyamanan bagi pemakainya, karena desain tunggal dan satu ukuran (ukuran standar),sehingga terjadi ketidak cocokkan, iritasi tekstil, breathability dan fungsi sebagai penutup2. Oleh karena itu diperlukan masker yang ergonomis yang sesuai dengan ukuran wajah dengan tujuan dapat merancang dan membuat pola masker secara sehingga nyaman digunakan. Pola yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pola konstruksi dengan menggunakan ukuran wajah orang dewasa baik laki-laki ataupun perempuan. Software CLO3D secara ekstensif membantu dalam pembuatan desain dan pola masker secara bersamaan, sehingga menghasilkan desain dan pola masker Duckbill. Hasil pola masker duckbill CLO3D dirubah kedalam teknik konstruksi menggunakan Software CAD. Pembuatan pola konstruksi masker membutuhkan ukuran (data antropometrik) wajah pengguna. Enam titik landmark wajah yang dikutip dari Chu et.al dijadikan dasar dalam pengambilan ukuran wajah dalam pembuatan pola masker. Hasil pola konstruksi masker menggunakan ukuran; nasion ke outercanthus, nasion ke menton, nasion ke nosetop, outer canthus ke zygomatic, dan outer canthus ke jawline

    PENINGKATAN KUALITAS BENANG RAYON VISKOSA SEBAGAI BAHAN BAKU KAIN TENUN TRADISIONAL

    Full text link
    Benang rayon 100% produk PT XYZ memiliki kekuatan tarik benang yang lebih rendah dari standar yang telah ditentukan sehingga benang tersebut tidak dapat dijadikan benang lusi untuk ditenun dalam ATBM. Untuk meningkatkan kekuatan benang dapat dilakukan dengan menambahkan twist atau melakukan penggintiran dan Penganjian. Proses penggintiran yang terdiri dari 2 helai serta proses penganjian untuk benang single dilakukan untuk meningkatkan kualitas benang rayon viskosa. Dari masing-masing sample kemudian dilakukan percobaan dibuat kain menggunakan ATBM. Hasil proses penggintiran didapatkan hasil sifat mekanik yang lebih baik dari benang single dan dapat dibuat menjadi kain tenun menggunakan ATBM. Sedangkan benang hasil penganjian tidak bisa dilanjutkan proses pertenunan menggunakan ATMB. Sehingga untuk meningkatkan daya mampu tenun dari benang Rayon MVS PT XYZ dapat dilakukan dengan cara penggintiran

    POLIAKRILAT PADA BENANG KATUN SEBAGAI SOLUSI PENENUNAN PADA KONDISI KELEMBABAN RENDAH

    Full text link
    Low humidity during weaving processes causes cotton yarns to become brittle and prone to breakage. To address this issue, polyacrylate has been explored as an alternative sizing agent due to its flexibility and high adhesion. This study aims to review the effectiveness of polyacrylate sizing on cotton yarns in dry environments. A narrative literature review was conducted by analyzing ten scientific articles published between 2021 and 2025 from reputable databases. The findings show that polyacrylate can enhance yarn tensile strength by up to 30%, reduce energy consumption, and extend the lifespan of weaving machinery. Moreover, bioactive-based polyacrylate formulations support sustainability through improved biodegradability and environmental friendliness. However, certain formulations still pose compatibility challenges with textile finishing processes, such as reactive dyeing and digital printing. Further reformulation and industrial-scale testing are necessary to ensure both technical performance and ecological safety. This review offers strategic insights into the development of future sizing agents that are adaptive, efficient, and sustainableKondisi kelembapan rendah dalam proses pertenunan menyebabkan benang kapas menjadi rapuh dan mudah putus. Untuk mengatasi masalah ini, poliakrilat digunakan sebagai bahan sizing alternatif yang menawarkan fleksibilitas dan adhesi tinggi. Kajian ini bertujuan untuk meninjau efektivitas poliakrilat sebagai bahan sizing pada benang kapas dalam kelembaban rendah . Metode narrative literature review digunakan dengan menganalisis sepuluh artikel ilmiah terbitan 2021–2025 dari database terpercaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa poliakrilat dapat meningkatkan kekuatan tarik benang hingga 30%, menurunkan konsumsi energi, serta memperpanjang usia mesin tenun. Selain itu, formulasi poliakrilat yang berbasis bioaktif mendukung keberlanjutan karena lebih mudah terurai dan ramah lingkungan. Namun, beberapa formulasi masih menunjukkan keterbatasan dalam proses finishing tekstil, seperti pewarnaan reaktif dan pencetakan digital. Diperlukan reformulasi yang lebih kompatibel serta pengujian skala industri untuk memastikan kinerja optimal secara teknis maupun ekologis. Kajian ini memberikan gambaran strategis bagi pengembangan bahan sizing masa depan yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam mengisi keterbatasan penelitian sebelumnya yang jarang mengevaluasi poliakrilat secara spesifik pada kondisi kelembapan rendah. Selain itu, hasil kajian ini relevan bagi pendidikan vokasi tekstil karena menawarkan rekomendasi praktis untuk pengembangan formulasi sizing yang efisien pada skala industri

    PENGARUH SUHU BAKING TERHADAP HASIL PENCAPAN ETSA PUTIH (WHITE DISCHARGE) PADA KAIN DENIM (KAPAS-SPANDEK) HASIL CELUP ZAT WARNA INDIGO

    Full text link
    Pencapan etsa putih (white discharge) merupakan salah satu teknik pencapan yang dilakukan pada bahan tekstil yang telah melalui proses pencelupan maupun pencapan, kemudian dilakukan pencapan menggunakan pasta cap yang mengandung zat perusak/pengetsa, sehingga warna putih kain semula tampak kembali pada bagian motif yang diinginkan. Zat pengetsa yang digunakan dapat berupa reduktor maupun oksidator. Pada penelitian ini zat pengetsa yang digunakan ialah kalium permanganat (KMnO4) yang berbasis oksidator. Untuk membantu proses oksidasi zat warna bejana menggunakan KMnO4 diperlukan bantuan suhu tinggi dengan pemanasan menggunakan metode uap kering (baking) guna membantu proses penguraian oksigen aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu baking terhadap hasil pencapan etsa pada kain denim (kapas 95% - spandek 5%). Variasi suhu baking yang dilakukan diantaranya 140, 150, 160, 170 dan 180oC dengan waktu selama 4 menit. Pengujian yang dilakukan meliputi derajat putih kain, ketajaman motif dan kekuatan tarik kain. Berdasarkan hasil percobaan derajat putih kain yang paling tinggi ialah pada suhu baking 150oC yaitu sebesar 54,248. Hasil ketajaman motif kain diperoleh 100% pada suhu 150, 160, 170 dan 180oC. Untuk kekuatan tarik menunjukkan bahwa makin tinggi variasi suhu baking berpengaruh terhadap penurunan kekuatan tarik kain. Pada suhu baking 150oC selama 4 menit menunjukkan hasil yang optimal

    Analytical Data for Sewing Production Efficiency: A Model Based on Artificial Neural Networks (ANNs)

    Full text link
    The labor-intensive apparel manufacturing sector is continually focused on meeting output goals, necessitating continuous improvements in production efficiency. Achieving targets at the lowest feasible cost is crucial for production management efficiency, especially in clothing production. The sewing component plays a vital role in enhancing the usefulness of clothing through a series of steps to produce ready-made garments. To optimize this process, we developed a model using an artificial intelligence (AI)-based method, specifically Artificial Neural Networks (ANNs), to enhance sewing production efficiency. The model focused on optimizing parameters that significantly influenced efficiency. Our results demonstrate that the ANNs model, with 1000 iterations, successfully replicates empirical data with an R-squared value of 0.98. The research introduces the novel use of an ANNs model with a five-node configuration and 1000 iterations, proving effective in optimizing sewing process parameters. This AI-based approach is a powerful tool for improving production efficiency in the textile industry, making significant theoretical and practical contributions. The findings offer substantial practical implications for practitioners in the textile industry and provide a robust framework for optimizing sewing production process parameters to achieve higher efficiency

    STRATEGI PENCEGAHAN KECELAKAAN KERJA BERBASIS HIRARC PADA AREA CUTTING DI CV SNT GARMENT

    Full text link
    Bagian cutting di industri garmen memiliki tingkat risiko kecelakaan kerja yang tinggi akibat penggunaan alat tajam, paparan bahan kimia, serta kondisi lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menilai tingkat risiko, serta menyusun strategi pengendalian kecelakaan kerja di bagian cutting CV SNT Garment menggunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control). Penelitian dilakukan secara kuantitatif melalui observasi lapangan, wawancara, dan penyebaran kuesioner kepada tujuh pekerja, serta analisis data berdasarkan standar AS/NZS 4360. Hasil identifikasi menunjukkan 14 potensi bahaya, dengan klasifikasi risiko terdiri dari 72% risiko rendah, 14% risiko sedang, dan 14% risiko tinggi. Setelah dilakukan penerapan strategi pengendalian seperti penggunaan APD, penataan ruang kerja, instruksi kerja, dan checksheet harian, seluruh risiko mengalami penurunan menjadi 100% risiko rendah. Selain menurunkan tingkat risiko secara kuantitatif, penerapan metode HIRARC juga meningkatkan kesadaran pekerja terhadap keselamatan kerja. Penelitian ini membuktikan bahwa metode HIRARC efektif dalam mengendalikan risiko kecelakaan kerja di industri garmen dan dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan K3 yang sistematis

    PENERAPAN QR CODE DALAM PENATAAN GUDANG UNTUK MENGURANGI WAKTU PENCARIAN BENANG di PT X

    Full text link
    PT X yarn warehouse have various leftover yarns of different types, colors, and yarn numbers. These leftover yarns can be reused for small-scale production. However, the problem in PT X's yarn warehouse is the difficulty in finding yarns due to their stacked positions and the lack of identification on the yarn piles. As a result, the search time for yarns in the warehouse becomes lengthy, affecting production efficiency. The average search time for one leftover production yarn is 20 minutes and 27 seconds. This study aims to design and implement a QR Code system for organizing raw materials in the yarn warehouse to reduce yarn search time. The research method begins with data collection of the yarns in the warehouse. Next, warehouse organization is carried out by grouping and placing the yarns based on type, color, and yarn number on designated racks. The collected data will form a database in an addressing document in Google AppSheet. Warehouse employees can do scanning the code and be directly directed to a specific page in Google AppSheet, Google Drive, or Google Spreadsheet to quickly obtain yarn location information. The study results show that the implementation of QR Codes leading to a reduction in search time until 98,45%. The average of searching time before the implementation is 20 minutes and 27 seconds and reduced become 19 seconds to locate the yarn position.Gudang benang PT X memiliki berbagai benang sisa dengan jenis, warna dan nomor benang berbeda. Benang sisa dapat digunakan kembali untuk jumlah produksi yang sedikit. Permasalahan yang terjadi di gudang benang PT X adalah sulitnya mencari benang karena posisi benang bertumpuk dan minimnya identitas pada tumpukan benang. Hal ini mengakibatkan lamanya waktu pencarian benang sehingga akan berpengaruh terhadap waktu produksi. Rata-rata waktu pencarian 1 (satu) benang sisa yaitu 20 menit 27 detik. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang dan mengimplementasikan QR Code dalam penataan bahan baku di gudang benang, guna mengurangi waktu pencarian benang. Metode penelitian dimulai dengan pendataan benang di gudang benang. Selanjutnya penataan gudang dilakukan dengan mengelompokkan dan menempatkan benang berdasarkan jenis, warna dan nomor benang pada rak-rak yang sudah ditentukan. Hasil pendataan akan menjadi database pada dokumen addressing. QR Code akan terhubung dengan dokumen addressing pada Google AppSheet. Karyawan gudang dapat melakukan pemindaian terhadap link dan langsung diarahkan kedalam halaman tertentu pada Google AppSheet, Google Drive, bahkan Google Spreadsheet sehingga informasi mengenai keberadaan benang akan lebih cepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan QR Code dapat menurunkan waktu pencarian benang hingga 98,45%. Waktu yang dibutuhkan untuk mencari benang sebelum penerapan rata-rata 20 menit 27 detik berkurang menjadi 19 detik hingga ditemukan posisi penempatan benang

    ANALISIS PENGARUH pH ALKALI TERHADAP KEKUATAN TARIK KAIN POLIESTER-KAPAS (65%-35%) PADA PENCELUPAN MENGGUNAKAN ZAT WARNA DISPERSI-REAKTIF

    Full text link
    Polyester-cotton fabric was dyed using disperse and reactive dyes. Dyeing of polyester using disperse dyes is commonly performed under acidic pH condition. However, reactive dyes dyeing process requires an alkaline pH condition so that the dye can be fixed on the cotton fiber. The usage of strong alkaline can cause erosion of the surface of the polyester fiber and result in a decrease in tensile strength. This research discusses about alkaline usage in the dyeing process of polyester-cotton fabric with disperse and reactive dyes to obtain good dyeing quality without reducing the tensile strength value of the fabric. The type of alkaline used was Na 2CO3 with concentration of 10 g/L (pH 11), 15 g/L (pH 12) and 20 g/L (pH 13). The dyeing process is carried out continuously using one bath two stages (1B2S). The characterization carried out on the dyeing samples were analyzed by tensile strength testing, color strength, color evenness using spectrophotometer, and color fastness to rubbing test. The results of the research showed the best condition under pH 12 with the usage of 15 g/L Na2CO3 had greater value of 39 kg for warp tensile strength, 28.08 kg for weft tensile strength, 12.69 of color strength, 1.17 of color evenness, color fastness to wet rubbing of 4 and color fastness to dry rubbing of 4-5.Kain poliester-kapas dicelup menggunakan zat warna dispersi dan zat warna reaktif. Pencelupan poliester dengan zat warna dispersi umumnya pada kondisi pH asam. Namun, proses pencelupan zat warna reaktif diperlukan suasana pH alkali agar zat warna dapat terfiksasi pada serat kapas. Penggunaan alkali kuat dapat mengakibatkan pengikisan permukaan serat poliester dan berdampak pada penurunan kekuatan tarik. Pada penelitian ini membahas mengenai pengunaan alkali dalam proses pencelupan kain poliester-kapas dengan zat warna dispersi dan reaktif untuk mendapatkan kualitas pencelupan tanpa menurunkan nilai kekuatan tarik kain. Alkali yang digunakan adalah Na2CO3 dengan variasi konsentrasi 10 g/L (pH 11), 15 g/L (pH 12) dan 20 g/L (pH 13). Proses pencelupan dilakukan dengan metode kontinyu dengan cara one bath two stage (1B2S). Karakterisasi yang dilakukan terhadap hasil pencelupan dianalisa dengan pengujian kekuatan tarik, pengujian ketuaan warna, kerataan warna menggunakan spektrofotometer, dan ketahanan luntur warna terhadap gosokan. Hasil penelitian menunjukkan kondisi terbaik pada pH 12 dengan penggunaan Na2CO3 sebesar 15 g/L memiliki nilai kekuatan tarik lusi 39 kg, kekuatan tarik pakan 28,09 kg, ketuaan warna 12,69, kerataan warna 1,17, ketahanan luntur warna terhadap gosokan basah 4, dan ketahanan terhadap gosokan kering 4-5

    104

    full texts

    111

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Texere (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇