E-JOURNAL POLITEKNIK NEGERI BANJARMASIN
Not a member yet
924 research outputs found
Sort by
Pelatihan Manajemen Keuangan Keluarga Bagi Anggota Aisyiyah Banjarmasin 9 Kota Banjarmasin
The diverse needs of life need to be in the management of family finances, because there can be expenditure more than the amount of income. Lifestyle changes can be a trigger for increased family spending. The purchase of unneeded secondary items can also increase the amount of expenditure. Similarly, the acquisition of consumptive assets or productive asset through an increase in the amount of debt requires the calculation of the portion of debt in accordance with the income. In addition, unexpected events in the family such as the presence of sick family members or payment transactions of children's education funds requiring substantial funds require good management by mothers as household finance managers.The purpose of this community service is to provide training on the management of family finances to Aisyiyah members of Banjarmasin 9 Banjarmasin city. The benefit of this activity for the partner's devotion is to provide knowledge on how to plan the expenditure of family finances, implementation of family financial management and assessment/ supervision of family finances.
Keywords: Familiy financial management, training, Aisyiyah Banjarmasin 9 Banjarmasin Cit
PENGARUH PANJANG KONDENSOR TERHADAP KINERJA TERMAL HEAT PIPE
Heat pipe merupakan salah satu alat penukar kalor yang memungkinkan pemindahan sejumlah kalor melalui luas permukaan yang sangat kecil. Heat Pipe mempunyai peran penting dalam sistem pendinginan salah satunya dalam komponen elektronika. Dengan sistem pendinginan maka temperatur komponen akan terjaga sehingga terhindar dari kerusakan kerusakan yang diakibatkan dari panas yang berlebih (over heating). Heat pipe terdiri dari tiga bagian, yaitu evaporator, adiabatis dan kondensor. Kedalam pipa itu diberi fluida kerja yang berfungsi membawa panas dari evaporator dan melepaskannya di kondensor. Di bagian Evaporator, panas dari komponen yang didinginkan diserap dan dipindahkan ke ujung yang lain yaitu bagian Kondensor untuk dilepas panasnya dilingkungan. Heat pipe mempunyai prinsip yang hampir sama dengan thermosyphon, perbedaannya adalah di heat pipe menggunakan dinding wick.
Kegiatan penelitian ini bertujuan mengetahui sejauh mana kinerja termal dari heat pipe sebagai penukar kalor dengan variasi panjang kondensor. Heat Pipe didesain dengan variasi panjang kondensor sebesar 44 cm ,66 cm,88 cm,110 cm dan 132 cm..
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Tahanan thermal tertinggi pada panjang kondensor terpendek pada tempeatur 400C (14 C/W) dan terendah pada panjang kondensor terpanjang pada temperatur 1200 C(1 C/W). Pada semua temperatur, semua variasi panjang kondensor maka daya output dan fluks kalor akan semakin besar. Pada panjang kondensor ukuran yang sama dengan evaporator, semakin tinggi temperatur, maka semakin besar fluks kalor dan daya output. Proses pada eksperimen ini paling efektif pada panjang kondensor 1,25 kali (132 cm) dari panjang panjang evaporator, karena setelahnya nilai tahanan termal dan daya output akan mengalami kecernderungan tetap
PEMETAAN PROSES BISNIS UNTUK MEMUDAHKAN PENILAIAN KINERJA KOPERASI; STUDI KASUS PADA KOPERASI NELAYAN: Studi Kasus Pada Koperasi Nelayan
Fishermen cooperative is expected to be an economic entity that plays a significant role in enhancing welfare of fishermen. Through the cooperatives, fishermen are having opportunities to scale-up their resources and strengthen their position in the fishery supply chain system. Using a fishermen cooperative (the co-op) as a case, this study aims to build business process map in order to facilitate the assessment of co-op’s performance. The map is developed based on the data collected mainly by observation and interview with the board of the cooperative. The study reveals that the cooperative has no both clear pattern of business process and measured performance. The study proposes the business process map with clear pattern so that the performance of the co-op can be measured objectively. The co-op needs to be accompanied and supervised by strongly related stakeholders (in particular the Government) in an attempt apply the map. The map will be more favourable if there is a further research on developing supply chain model of the cooperatives
PENGARUH BRAND TRUST TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN ULANG PADA NUTRITION CLUB HERBALIFE RAWASARI
Tujuan Penelitian ini (1) Untuk mengetahui apakah variabel Brand Trust yang terdiri dari brand reliability dan brand intention berpengaruh secara simultan terhadap keputusan pembelian ulang pada Nutrition Club Herbalife Rawasari, (2) Untuk mengetahui apakah variabel brand trust yang terdiri dari brand reliability dan brand intention berpengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian ulang pada Nutrition Club Herbalife Rawasari, (3) Untuk mengetahui variabel mana yang lebih dominan dari brand Trust yang terdiri brand reliability dan brand intention dalam keputusan pembelian ulang pada Nutrition Club Herbalife Rawasari. Metode Penelitan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan melalui Aplikasi SPSS for windows. Teknik Pengumpulan data menggunakan Kuisioner, Observasi, dan Studi Pustaka. Alat analisis untuk menganalisa data yaitu Regresi Linear Berganda. Hasil Penelitian ini terdapat pengaruh antara Brand Trust yang teridiri dari Brand reliability (X1) dan Brand intention (X2) sebesar 79% terhadap Keputusan pembelian ulang. Berdasarkan hasil analisis data dapat diketahui brand intention berpengaruh terhadap keputusan pembelian ulang namun pada brand reliability berdasarkan item pertanyaan tentang percaya, dapat diandalkan, memenuhi kebutuhan, dan pengembangan yang dirasakan konsumen masih rendah
ANALISIS GEOSPASIAL PRODUKSI BERAS TERHADAP KEBUTUHAN MASYARAKAT MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN BANJAR PROPINSI KALIMANTAN SELATAN
Production of agricultural products will depend on the area of ​​land used as land for farming. If the area of ​​agricultural land shrinks, the productivity of the land will be low, and conversely if the area of ​​agricultural land is expanded then the productivity of the land will increase. Banjar District, South Kalimantan Province is known as one of the rice producers and suppliers for most of the South Kalimantan region, even its agricultural products are also sent to meet the rice needs of other regions such as Central Kalimantan, East Kalimantan, and some areas in Java. This study aims to calculate the deviation between rice production with rice needs for the population regarding to rice production factors, and then apply geospatial analysis for calculation results in each district administration area using Geographical Information System. The results showed that Banjar in 2016 had rice production surplus 85,847.2 ton and in 2017 also had rice production surplus 69151.74 ton. This result shows that in 2016 and 2017 Banjar still fulfill the riceneeds for the population. However, after analyze in each sub-district, there are sub-district that has low rice production compare to the. This is influenced by several factors including the increase in population and the reduction in the area of ​​land planted with rice commodities in Banjar. This creates a lack of equal distribution of rice production in the sub-districts in BanjarProduksi hasil pertanian akan bergantung pada luas areal lahan yang digunakan sebagai lahan untuk bertani. Jika luas lahan pertanian menyusut maka produktivitas lahannya akan rendah, dan sebaliknya jika luas lahan pertanian diperluas maka produktivitas lahan pun akan meningkat. Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan dikenal sebagai salah satu penghasil beras dan pemasok bagi sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan, bahkan hasil pertaniannya juga dikirim untuk mencukupi kebutuhan beras daerah lain seperti wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan beberapa wilayah di pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan melakukan perhitungan deviasi antara produksi beras dengan kebutuhan pangan beras bagi masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor pendukung produksi beras, serta melakukan analisis secara geospasial terhadap luas lahan (ruang) pertanian berdasarkan hasil perhitungan pada masing-masing wilayah administrasi kabupaten dengan memanfaatakan teknologi Sistem Informasi Geografis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kabupaten Banjar pada tahun 2016 mengalami surplus produksi beras sebesar 85.847,2 ton beras dan tahun 2017 Kabupaten Banjar juga mengalami surplus produksi beras sebesar 69151,74 ton beras. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tahun 2016 dan 2017 Kabupaten Banjar masih bisa memenuhi kebutuhan beras penduduk. Namun setelah dilakukan analisis pada setiap kecamatannya terlihat bahwa pada tahun 2016 dan 2017 di Kabupaten Banjar masih terdapat beberapa kecamatan yang mengalami kekurangan jumlah produksi beras. Hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya yaitu pertambahan jumlah penduduk dan berkurangnya luas lahan yang ditanami dengan komoditi padi di Kabupaten Banjar. Hal ini menimbulkan kurangnya pemerataan jumlah produksi beras pada kecamatan yang ada di Kabupaten Banjar
ANALISIS SUKU DI INDONESIA MENGGUNAKAN ALGORITMA CLOSENESS CENTRALITY
Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keanekaragaman kebudayaan. salah satu keanekaragaman budaya yang dimiliki oleh negara indonesia ini adalah bahasa yang berbeda-beda antar suku serta lokasi. maka dengan keanekaragaman yang dimiliki negara indonesia ini perlu adanya pemetaan mengenai suku bangsa indonesia dengan menggunakan algoritma graph serta untuk menganalisis kedekatan antar node digunakan closeness algoritma dan node2vec untuk mencari hubungan dari setiap suku. Dalam pencarian data paper ini menggunakan data yang disediakan oleh dbPedia yang didapatkan menggunakan sparql. untuk menampilkan data yang memiliki dimensi yang tinggi maka digunakan TSNE untuk mengkonversi titik data. Kata Kunci: sparql, Graph algoritma, Node2vec, closeness algoritma, TSNE
Pengaruh Bentuk Rancangan Denah Terhadap Volume Dan Harga Rumah Tipe 36 Di Banjarmasin Selatan
Kepemilikan rumah untuk tempat tinggal merupakan kebutuhan tak terelakkan yang harus dipenuhi oleh setiap keluarga. Pertumbuhan penduduk di Banjarmasin yang semakin meningkat dan keterbatasan daya beli, hal ini menjadikan permintaan rumah tipe 36 sangat tinggi. Pengembang(developer) sebagai penyedia jasa perumahan berusaha memenuhi harapan konsumen untuk membangun rumah tipe 36 dengan harga terjangkau namun tetap memperhatikan kualitas, keindahan dan kenyamanan bagi penghuninya. Rumah tipe 36 ditawarkan dengan berbagai varian bentuk rancangan denah dan tampilannya sehingga konsumen binggung dalam menentukan pilihan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh bentuk rancangan denah terhadap volume pekerjaan dan biaya pembangunan rumah tipe 36. Denah rumah tipe 36 diambil dari Perumahan di wilayah Banjarmasin Selatan. Berdasarkan gambar kerja masing-masing bentuk rancangan denah dihitung volume kerjanya kemudian dianalisis Rencana Anggaran Biaya (RAB) menggunakan SNI tahun 2016. Dengan menggunakan metode deskriptif dan komparatif harga rumah masing-masing bentuk rancangan denah dibandingkan. Hai ini dapat menjadi acuan bagi pengembang untuk menentukan pilihan rancangan denah rumah tipe 36 dengan harga terjangkau oleh konsumen. Berdasarkan analisis Rencana Anggaran Biaya untuk rancangan dengah rumah tipe 36 Perumahan Mahatama memiliki harga yang paling ekonomis yaitu Rp. 225.790.322 dengan selisih harga 7,83 %
PERUBAHAN PENAMPANG SALURAN PADA BELOKAN AKIBAT PERUBAHAN PARAMETER ALIRAN
Perubahan morfologi saluran dapat terjadi secara alami karena kondisi alam yang tidak dapat dihindarkan seperti adanya tikungan pada saluran. Aliran yang melengkung dan menelusuri dinding saluran bagian luar akan mempengaruhi material dinding saluran yang disebut erosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan parameter aliran terhadap gerusan dibelokan pada sisi dalam dan sisi luar belokan saluran dan menganalisa kedalaman serta volume gerusan yang terjadi di sekitar belokan sungai.Penelitian dilakukan dengan uji model eksperimental di laboratorium dengan menggunakan 4 variasi debit (Q) dan 1 variasi belokan saluran yaitu 300 dan 4 variasi waktu pengaliran yaitu 15, 30, 45 dan 60 menit dengan tinggi aliran air h = 3,5; 4,0; 4,5; dan 5,0 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume gerusan yang terjadi di belokan saluran akibat peningkatan debit aliran diakibatkan oleh meningkatnya kecepatan aliran yang berbanding lurus terhadap debit aliran. Volume terjadinya gerusan pada jarak melintang dari pusat (x1 = 20 cm) paling besar terjadi gerusan dan (x3 = 70 cm) paling besar terjadi endapan, hal ini diakibatkan oleh kecepatan aliran ditikungan akan bergerak kearah luar belokan, setelah melewati pertengahan belokan kecepatan transversal menelusuri lengkung luar belokan. 
Perbandingan Perhitungan Luas Tanah antara Metode Trilaterasi Segitiga dengan Metode Koordinat
Kesadaran pemilik lahan untuk melindungi status kepemilikannya terhadap ketidakcocokan keadaan bidang tanah lapangan dengan data yang ada di dokumen sertifikat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan pengukuran ulang lahan. Penggunaan alat dengan akurasi rendah dan metode yang kurang tepat menyebabkan data luas lahan yang dihasilkan menjadi kurang akurat. Hal ini menyebabkan kebingungan pada pemilik lahan maupun pemilik lahan disekitarnya. Sehingga perlunya data pembanding antara dua alat ukur berbeda dengan metode berbeda untuk memperkaya data perhitungan luas tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah menghitung luas lahan Gedung Pejuang Veteran Banjarmasin dengan Metode Trilaterasi (pendekatan luasan segitiga dengan ketiga sisi diketahui) menggunakan Pesawat Penyipat Datar (PPD) dan dengan Metode Koordinat menggunakan GPS. Hasil perhitungan tersebut akan dibandingkan dengan data resmi luas lahan yang diperoleh dari BPN.
Pengukuran dengan PPD diperoleh luasan sebesar 10.025,476 M2 dan dengan GPS sebesar 10.100,720 M2 dimana luas resmi lahan adalah 11.183 M2. Sehingga diperoleh persentase terhadap luas resmi berturut-turut sebesar 89,65 % dengan pengukuran menggunakan PPD dan sebesar 90,32 % dengan pengukuran menggunakan GPS. Berdasarkan hasil diatas, penggunaan kedua alat tersebut kurang disarankan untuk pengukuran luas lahan secara teliti serta perlunya memastikan batas tanah akurat di lapangan sebelum pengukuran.
Abstract
The awareness of land owners to protect their ownership status against the mismatch condition between land percil and the data in the documents resulted the increasing need for land re-measurement. Using tools with low accuracy and improper methods causes the result of land area data less accurated. This causes confusion among land owner and its nearby. The data comparisons are needed between two different measuring instruments with different methods to enrich the area calculation data its self.
This research aims to calculate the land area of ​​the Pejuang Veteran Banjarmasin Building with the Trilateration Method using an Automatic Level and the Coordinate Method using GPS. The results of these calculations will be compared with official land area data obtained from National Land Agency.
Measurement with Automatic Level obtained an area of 10.025,476 M2 and with GPS is 10.100,720 M2 where the official land area is 11.183 M2. The percentage amount between the official area versus Automatic Level and GPS consecutively are 89,65 % and 90,32 %. Based on that results, the use of these tools is less recommended to detailed land measurement and its important to ensure accurate percil boundaries in the field before measurement
Pemetaan Partisipasif Desa Bingkulu Kecamatan Tambang Ulang Kabupaten Tanah Laut
Desa Bingkulu yang berada di Kecamatan Tambang Ulang memiliki potensi-potensi yang beranekaragam, tetapi belum begitu dikenal masyarakat luas karena kurangnya informasi. Belum adanya proses pemetaan partisipasif dan survey toponimi di Desa Bingkulu menyebabkan sulitnya mengetahui informasi berbasis geografis yang ada di desa tersebut. Ketiadaan peta desa menyulitkan perangkat dan masyarakat desa untuk mengetahui informasi batas administratif, penggunaan lahan serta informasi toponimi di wilayah Desa Bingkulu, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat dalam rangka tridarma perguruan tinggi tahun 2019, Program Studi DIII Teknik Geodesi melaksanakan pemetaan desa dengan memanfaatkan partisipasi dari masyarakat dan aparatur Desa Bingkulu. Hal ini bertujuan untuk membuat Peta Administratif Desa Bingkulu yang bisa dimanfaatkan maksimal oleh perangkat desa khususnya dan masyarakat desa pada umumnya. Pemetaan partisipasif dilakukan dengan cara survei lapangan dan survei toponimi. Selanjutnya penyajian dari peta desa dilakukan dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis sehingga dihasilkan peta administratif desa tahun 2019 dan hasil survei toponimi sejarah beserta fasilitas umum yang ada di Desa Bingkulu.
Kata Kunci: pemetaan partisipasif, desa, survei toponim