Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
4951 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KELUHAN SUBJEKTIF GANGGUAN PENDENGARAN PADA PEKERJA PROYEK BENDUNGAN JRAGUNG PAKET 1 PT. WASKITA KARYA (PERSERO) TBK.
Latar Belakang: Gangguan pendengaran yang timbul akibat dari suara mesin yang digunakan
pada proses pembangunan akan berdampak pada Penyakit akibat kerja yang mengakibatkan
terganggunya produktivitas para pekerja sehingga menghambat proses pembangunan. banyak
mesin yang menimbulkan kebisingan melebihi Nilai Ambang Batas (NAB), diatas 85 db. Yang
jika di biarkan secara berkepanjangan dapat menimbulkan stres kerja, terganggu komunikasi
saat bekerja yang mempengaruhi keselamatan para pekerja yang ada di area kerja tersebut.
Berdasarkan hasil Studi endahuluan yang dilakukan di proyek bendungan jragung paket PT.
WASKITA KARYA(Persero) Tbk didapatkan hasil setelah pengukuran intensitas kebisingan
menggunakan Sound Level Meters didapatkan hasil sebesar 85 db, di area penimbunan inti
pada saat jam proses pengerjaan Area Timbunan Inti. Selain di area timbunan inti,peneliti juga
melakukan pengukuran di area Timbunan Random dengan menggunakan alat Sound Level
Meters didapatkan hasil yaitu sebesar 56 db.
Metode: Jenis Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Analitik
Observasional dengan menggunakan metode pendekatan Cross Sectional dan teknik sampling
yaitu Total Sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pekerja Yang berjumlah 72
Orang. Pengambilan data menggunakan kuesioner gejala subjektif gangguan pendengaran,
penggunaaan alat pelindung telinga(APT,serta perilaku merokok. Analisis Bivariat
menggunakan Uji Chi Square Test.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur (p=
0,967), Masa kerja (p= 0,597), Penggunaan alat pelindung telinga/APT (p= 0,340), Perilaku
merokok (p= 0,029) . Bila nilai p-value dibandingkan dengan nilai α yakni 0,05 maka nilai p-
value > 0,05, sedangkan untuk perilaku merokkok nilai p-Value < 0,05.
Simpulan: Terdapat 3 faktor yangyang berhubungan dengan Gejala Subjektif Gangguan
Pendengaran dan Perilaku Merokok terbukti secara statistik tidak memiliki hubungan yang
signifikan dengan Gejala Subjektif Gangguan Pendengaran.
Kata Kunci: Gangguan Pendengaran, Gejala Subjektif Gangguan Pendengaran, Faktor
Resik
ANALISIS PENERAPAN SISTEM PIDANA PENGAWASAN TERHADAP PERLINDUNGAN ANAK DITINJAU DARI RESTORATIF JUSTICE ( Studi Putusan Nomor: 3/Pid.Sus-Anak/2023/PN Unr)
Restoratif justice merupakan sebuah proses dimana semua pihak yang berkepentingan dalam
pelanggaran tertentu bertemu bersama untuk menyelesaikan secara bersama-sama dengan
cara memperhatikan kepentingan masa depan salah satunya diberikan penerapan pidana
pengawasan dalam perlindungan anak sebagaimana dalam putusan perkara Nomor :
3/Pid.Sus-Anak/2023/PN Unr. Prinsip dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang
Sistem Peradilan Anak yaitu dalam menjatuhkan hukuman untuk anak hal paling utama
adalah mempertimbangkan masa depannya. Sehingga berdasarkan latar belakang penelitian
maka terdapat dua permasalahan yaitu bagaimana dasar hakim dalam mempertimbangkan
penjatuhan pidana berupa pidana pengawasan dalam perkara Nomor : 3/Pid.Sus-
Anak/2023/PN Unr dan bagaimana penerapan sistem Pidana Pengawasan Anak ditinjau dari
Restoratif Justice. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normative adalah penelitian
hukum yang meletakan hukum sebagai bangunan system norma. Dalam proses penerapan
pidana pengawasan yang dijalankan telah berjalan dengan baik,anak melakukan prosedur
yang ada dan kini anak mampu kembali ke lingkungan Masyarakat diterima kembali dengan
baik dan bahkan dari pihak Bapas juga melakukan tugasnya dengan baik tidak ada Kendal
dalam pelaksanaannya.
Kata Kunci : Restoratif Justice ,Sistem Peradilan Anak , Pidana Pengawasa
TINJAUAN YURIDIS KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA TERHADAP WANITA
Rumah tangga seharusnya adalah tempat berlindung bagi seluruh anggota keluarga.
Namun, pada kenyataannya, justru banyak rumah tangga menjadi tempat
penderitaan dan penyiksaan karena terjadi tindakan kekerasan. Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga,
bahwa “Setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikplogos, dan atau
pelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, atau
perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga”.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kajian yuridis dari Kekerasan Dalam
Rumah Tangga dan penegakan hukumnya. Metode penelitian yuridis-normatif
yaitu dengan mengkaji atau menganalisis data skunder yang berupa bahan-bahan
hukum sekunder dengan memahami hukum sebagai penelitian kepustakaan, yaitu
penelitian terhadap data sekunder. Penyebabnya adalah persoalan ekonomi, sosial
budaya, produk perundang-undangan yang bias gender dan diskriminatif,
ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakat terhadap isi undang-undang
Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dampak perempuan yang
mengalami kekerasan menunjukan adanya yang serius pada kesehatan mental dan
psikis perempuan. Segala bentuk tindak kekerasan dalam rumah tangga yang
dilakukan oleh suami baik secara fisik maupun psikis dapat berdampak serius.
Kata kunci: Kekerasan Dalam Rumah Tangga; Wanita
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE II RAWAT INAP DI RSUD SALATIGA TAHUN 2022
Diabetes melitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang di
tandai dengan kenaikan kadar glukosa darah atau hiperglikemia. Tujuan penelitian
menganalisis penggunaan obat antidiabetik pada pasien diabetes melitus tipe II.
Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif observasional dengan
pengambilan data secara retrospektif dari rekam medis pasien diabetes melitus di
rawat inap RSUD Salatiga Tahun 2022 dengan jumlah 60 pasien. Teknik
pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data dianalisa secara
deskriptif.
Hasil: Penderita diabetes melitus tipe II terbanyak pada usia 56-65 tahun
sebanyak 23 pasien (38,33%) dan pada perempuan sebanyak 32 (53,33%).
Penggunaan obat antidiabetik pada pasien diabetes melitus tipe II antara lain
golongan obat yang sering digunakan pada terapi tunggal adalah golongan
biguanid (metformin) sebanyak 10 pasien (16,67%), kombinasi 2 golongan obat
paling sering digunakan adalah insulin rapid-acting dengan insulin long-acting
sebanyak 19 pasien (31,67%), kombinasi 3 golongan obat paling sering digunakan
adalah biguanid, insulin rapid-acting dan insulin long-acting sebanyak 5 pasien
(8,33%) dan kombinasi 4 golongan obat yang digunakan adalah biguanid,
sulfonilurea, rapid-acting dan insulin long-acting sebanyak 1 pasien (1,67%).
Kesimpulan: Golongan obat yang paling sering digunakan pada terapi tunggal
adalah biguanid 10 pasien (16,67%), kombinasi 2 obat adalah insulin rapid-acting
dengan insulin long-acting 19 pasien (31,67%), kombinasi 3 obat adalah biguanid,
insulin rapid-acting dan insulin long-acting 5 pasien (8,33%) dan kombinasi 4
obat adalah biguanid, sulfonilurea, rapid-acting dan insulin long-acting sebanyak
1 pasien (1,67%)
FORMULASI DAN MUTU FISIK SERUM MINYAK BIJI LABU KUNING (Cucurbita moschata) SEBAGAI KANDIDAT KOSMETIKA ANTIAGING
Kosmetika antiaging merupakan kosmetika yang dapat
menghambat penuaan dini akibat radikal bebas. Penghambatan radikal bebas
merupakan aktivitas antioksidan. Salah satu antioksidan dari bahan alam yaitu biji
labu kuning. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi aktivitas antioksidan
minyak biji labu kuning dan evaluasi mutu fisik serum minyak biji labu kuning.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menghasilkan
minyak dari biji labu kuning menggunakan metode soxhletasi dan pembuatan
serum minyak biji labu kuning (Cucurbita moschata) kemudian dilakukan analisis
aktivitas antioksidan minyak biji labu kuning menggunakan metode DPPH dan
evaluasi mutu fisik serum secara organoleptis, pH, homogenitas daya sebar,
viskositas, cycling test,dan skrining fitokimia dianalisis data mutu fisik
menggunakan SPSS
Hasil : Minyak biji labu kuning (Cucurbita moschata) berwarna coklat kehijauan
dengan nilai IC 50 111,90 ppm dengan kategori antioksidan sedang. Mutu fisik
serum minyak biji labu kuning dengan konsentrasi 1% secara organoleptik
berbentuk cair agak kental berwarna putih pucat dan konsentrasi 3% berbentuk
cair agak kental berwarna putih kehijauan, dengan masing-masing pH 6,48±0 dan
6,21±0, daya sebar masing-masing konsentrasi 58 mm dan 53 mm, viskositas
10,60 cps ± 0,57 dan 10,20 cps ±0. Tidak ada perbedaan signifikan pada mutu
fisik pH dan viskositas sebelum dan sesudah cycling test
Kesimpulan: Minyak biji labu kuning (Cucurbita moschata) memiliki aktivitas
antioksidan kategori sedang. Serum minyak biji labu kuning (Cucurbita
moschata) memiliki mutu fisik yang memenuhi persyaratan organoleptik,
homogenitas, pH dan daya sebar tetapi viskositas belum memenuhi persyaratan
ANALISIS TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN PENGGUNAAN PEMUTIH KULIT PADA SISWA MA NU AL-HIDAYAH KUDUS
Rebung memiliki potensi yang cukup besar namun
pemanfaatannya belum optimal. Sebagai upaya peningkatan pemanfaatan
konsumsi masyarakat terhadap rebung, maka perlu pengolahan yang tepat yaitu
mengubah rebung menjadi tepung rebung serta menciptakan produk pangan yang
digemari masyarakat seperti cookies yang mengandung serat tinggi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan dan
kandungan gizi cookies berbahan rebung bambu betung (Dendrocalamus asper)
dengan penambahan tepung mocaf
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian eskperimental. Uji
kesukaan menggunakan kuesioner dengan 30 subjek panelis tidak terlatih dengan
membandingkan cookies berbahan rebung dengan penambahan tepung mocaf
dengan perbandingan F1(100%), F2(75%:25%), F3(50%:50%), F4(25%:75%).
Hasil uji tingkat kesukaan tertinggi dilakukan uji kandungan zat gizi energi dan
serat. Analisis data menggunakan analisis univariat kemudian dideskripsikan
Hasil: Tingkat kesukaan tertinggi cookies F4 (25%:75) masuk dalam kategori
cukup dengan kandungan energi sebesar 507,928 per 100 gram, sehingga 50 gram
cookies dapat memenuhi kebutuhan energi sebesar 10,37% pada orang dewasa
usia 19-29 tahun dan serat 9,08 per 10 gram, sehingga 50 gram cookies dapat
memenuhi kebutuhan serat sebesar 13,16% pada orang dewasa usia 19-29 tahun.
Simpulan: Formulasi 4 merupakan formulasi tertinggi dengan kandungan energi
507,928 kkal dan kandungan serat 9,08% per 100 gra
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIK (KEK) PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMOWONO KABUPATEN SEMARANG
Ibu hamil memerlukan asupan gizi yang cukup dan seimbang
untuk memenuhi kebutuhan energi selama kehamilan. Saat ini KEK masih banyak
dialami oleh ibu hamil. Prevalensi KEK di Jawa Tengah mencapai angka 20%,
dan di Kabupaten Semarang (26,54%) .
Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat asupan energi dan protein dengan
kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sumowono Kabupaten
Semarang.
Metode : Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif korelasi dengan
pendekatan cross sectional, yang dilakukan pada ibu hamil trimester I, II, III di
Kecamatan Sumowono. Populasi dalah ibu hamil sebanyak 223 orang, sampel
yang diambil sebanyak 69 orang diambil dengan metode proporsional random
sampling. Data tingkat asupan energi dan protein diperoleh melalui wawancara
menggunakan form FFQ-SQ dan data KEK dengan mengukur LILA
menggunakan metline. Data dianalisis menggunakan uji Korelasi Rank
Spearman (p value < 0.05).
Hasil : Prevalensi responden menderita KEK sebesar 11,6%. Responden yang
memiliki tingkat asupan energi kurang 10,1%,dan tingkat asupan protein kurang
15,9%. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa tingkat asupan energi dan
protein berhubungan dengan KEK masing-masing yaitu (p=0.0001) dan
(p=0.0001).
Simpulan : Ada hubungan antara tingkat asupan energi dan protein dengan
kejadian KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Sumowono Kabupaten
Semarang
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PERAWATAN TALI PUSAT BAYI BARU LAHIR DI PUSKESMAS SUMOWONO
Latar Belakang: Perawatan tali pusat adalah melakukan pengobatan dan pengikat tali pusat yang menyebabkan pemisahan fisik ibu dengan bayi, dan kemudian tali pusat dirawat dalam keadaan bersih dan terhindar dari infeksi tali pusat. Perawatan tali pusat yang baik dan benar akan menimbulkan dampak positif yaitu tali pusat akan “puput” pada hari ke 5 sampai hari ke 7 tampa ada komplikasi, sedangkan dampak negative dari perawatan tali pusat yang tidak benar adalah bayi akan mengalami penyakit tetanus neonatorum dan dapat mengakibatkan kematian. Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Sumowono Tahun 2023 Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total Sampling. Sampel dari penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi baru lahir di wilayah kerja puskesmas sumowono yaitu sebanyak 30 responden. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir di Wilayah Kerja Puskesmas Sumowono sebagian besar berpengetahuan cukup yaitu ada 13 orang (43,3%) dan pengetahuan baik ada 5 orang (16,7%) sedangkan yang kategori kurang yaitu ada 12 orang (40,0%). Simpulan: Pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat pada bayi baru lahir di wilayah kerja puskesmas sumowono sebagian besar berpengetahuan cukup sebanyak sebanyak 13 responden (43,3%), kurang sebanyak 12 responden (40,0%), serta yang berpengetahuan baik sebanyak 5 responden (16,7%)
HUBUNGAN DUKUNGAN IBU DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI MENARCHE REMAJA DI MI MIFTAHUL HUDA SUMBEREJO 01 KECAMATAN PABELAN KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2023
Latar Belakang : Kecemasan menghadapi Menarche merupakan perasaan yang ditandai oleh ketegangan fisik, kekhawatiran dan anggapan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi saat Menarche. Orang tua terutama ibu berperan dalam memberikan dukungan meliputi pengetahuan dasar dan hal yang berkaitan dengan Menarche. Di MI Miftahul huda didapatkan 4 dari 7 remaja mengalami kecemasan, merasa tegang dan takut jika nantinya menghadapi Menarche karena belum mendapatkan dukungan ibu, dan 3 diantaranya juga merasa khawatir, dan cemas untuk menghadapi Menarche, meskipun sudah mendapatkan dukungan dari ibu. Sementara itu, sebanyak 3 remaja yang juga sudah mendapatkan dukungan dari ibu berupa dukungan informasional dan instrumental tidak mengalami kecemasan. Tujuan penelitian : Untuk mengetahui Hubungan Dukungan Ibu Dengan Kecemasan Menghadapi Menarche Remaja Di Mi Miftahul Huda Sumberejo 01 Tahun 2023 Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah remaja berusia 10 – 12 tahun yaitu sebanyak 49 remaja. Teknik sampling pada penelitian ini menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 46. Analisis data menggunakan analisis chi square. Hasil Penelitian : Didapatkan sebagian besar responden dengan dukungan baik sebanyak 26 responden (54,5%), dan responden yang mengalami cemas ringan sebanyak 16 (34,8%). Diperoleh nilai p value sebesar 0,000 < α (0,05), maka Ho ditolak, artinya ada hubungan yang signifikan antara dukungan ibu dengan kecemasan menghadapi Menarche. Simpulan : Ada hubungan antara dukungan ibu dengan kecemasan menghadapi Menarche. Hendaknya remaja mencari sumber informasi tambahan sehingga tidak mengalami kecemasan saat Menarch
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH DIPOSYANDU REMAJA DIDUSUN KALIKIDANG KELURAHAN PRINGAPUS
Latar Belakang : Menurut WHO (2018), remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-19 tahun, menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 tahun 2014,remaja adalah penduduk dalam rentang usia 10-18 tahun dan menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) tentang usia remaja adalah10-24 tahun dan belum menikah, dan masa remaja merupakan masa tahapan perkembangan dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Pada masa ini tersebut terjadi masa pertumbuhan yang sangat pesat yang disebut dengan adolescence growth spurt remaja. dan perubahan komposisi tubuh , dan masa remaja ditandai dengan pertumbuhan (growth) yang cepat baik tinggi maupun berat badan. Tujuan Penelitian : Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gabungan indeks massa dengan kadar glukosa darah pada posyandu remaja diDusun kalikidang Kelurahan pringapus. Metode : Desain pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah 1.227 responden dengan pengambilan sampel secara purposive sampling berjumlah 105 responden alat pengumpulan data dengan menggunakan kartu lembar pemeriksaan : dengan master tabel Tinggi badan, berat badan, dan alat kadar kadar kolestrol dalam darah . Analisis data menggunakan uji distribusi frekuensi dengan mengelolah data excel dan uji chi square dengn p 0,05, maka Ho di terima , yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara indeks masa tubuh dengan gula darah sewaktu pada posyandu remaja. Simpulan : tidak terdapat hubungan indeks massa tubuh dengan dengan kadar gula darah sewaktu di Dusun kalikidang Kelurahan Pringapu