Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
4951 research outputs found
Sort by
Hubungan Kualitas Tidur Dengan Tingkat Hipertensi Pada Lansia Di Puskesmas Gedangan
Latar Belakang: Lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai masalah kesehatan, salah satunya adalah hipertensi. Kualitas tidur yang buruk dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah karena mempengaruhi sistem saraf otonom, keseimbangan hormon, serta proses peradangan dalam tubuh. Dampak yang akan terjadi jika hipertensi terus meningkat maka akan terjadi komplikasi hipertensi, seperti stroke.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan tingkat hipertensi pada lansia di Puskesmas Gedangan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi lansia berjumlah 482, metode penentuan samplingnya adalah purposive sampling, sampel dalam penelitian ini berjumlah 218 lansia yang mengalami hipertensi. Kualitas tidur diukur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), sedangkan tingkat hipertensi diperoleh melalui rekam medis. Analisis data dilakukan menggunakan uji Korelasi Spearman.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar lansia memiliki kualitas tidur yang buruk (97,7%). Selain itu, kategori tekanan darah tertinggi berada pada hipertensi tingkat 1 (40,8%). Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kualitas tidur dengan tekanan darah (r = 0.233, p = 0.001), yang menunjukkan bahwa semakin buruk kualitas tidur, semakin tinggi tekanan darah lansia.
Kesimpulan: Ada hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan tingkat hipertensi pada lansia di Puskesmas Gedangan. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran lansia tentang pentingnya menjaga kualitas tidur guna mengurangi risiko hipertensi dan komplikasi kesehatan lainnya.
Kata kunci: Kualitas tidur, hipertensi, lansia
Gambaran Status Gizi Balita Posyandu Balita Flamboyan Rw 5 Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang
Latar Belakang: Anak-anak yang mengalami masalah gizi tersebut mempunyai
risiko kematian sebanyak 11.6 kali lebih tinggi dari pada anak-anak yang
memiliki kondisi gizi yang baik. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu,
bagaimana gambaran status gizi balita Posyandu Balita Flamboyan RW 5
Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui gambaran status gizi balita Posyandu Balita
Flamboyan RW 5 Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota
Semarang.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian study cross sectional.
Jumlah sampel 42 balita dengan teknik pengambilan sampel teknik total sampling.
Instrumen penelitian menggunakan timbangan, stadiometer dan metlin.
Hasil: tidak ada balita 0-59 bulan dengan status gizi buruk berdasarkan indeks
BB/U, 6 (14.3%) balita dengan status gizi kurang berdasarkan indeks TB/U,
sedangkan LiLA/U dan lingkar kepala/U semua 42 (100%) balita status normal.
Simpulan: sebagian besar 35 (83.3%) dalam status gizi baik, dan 100% balita
dengan LiLA dan lingkar kepala normal.
Kata Kunci: Status Gizi, Balit
Analisis Yuridis Pencabutan Kewenangan Jaksa Penuntut Umum Atas Peninjauan Kembali Terhadap Putusan Bebas (Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/Puu-Xxi/2023
Pencabutan kewenangan Jaksa Penuntut Umum untuk mengajukan Peninjauan
Kembali terhadap putusan bebas merupakan persoalan hukum yang menimbulkan
berbagai perdebatan. Sebelum adanya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor
20/PUU-XXI/2023, Jaksa berwenang untuk mengajukan Peninjauan Kembali
sebagaimana diatur dalam Pasal 30C huruf h UU Kejaksaan. Namun, Mahkamah
Konstitusi memutuskan kewenangan tersebut bertentangan dengan UUDNRI Tahun
1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis norma hukum terkait kewenangan Jaksa Penuntut Umum untuk
mengajukan Peninjauan Kembali terhadap putusan bebas dan mengkaji dampak
pencabutan kewenangan tersebut terhadap sistem peradilan pidana di Indonesia.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif dengan pendekatan
perundang-undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pencabutan kewenangan Jaksa Penuntut Umum untuk mengajukan Peninjauan
Kembali telah sejalan dengan asas due process of law yang menegaskan bahwa
Peninjauan Kembali merupakan hak eksklusif terpidana atau ahli warisnya. Namun
demikian, putusan ini juga berimplikasi pada upaya hukum dalam menjamin keadilan
substantif, khususnya dalam perkara yang berkepentingan bagi negara untuk
mengoreksi putusan yang dinilai tidak mencerminkan kebenaran materiil. Penelitian
ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kepastian hukum dan keadilan
dalam sistem peradilan pidana. Oleh karena itu, diperlukan pengaturan yang lebih
komprehensif untuk mengakomodir perlindungan hukum bagi negara, korban, dan
pihak ketiga, tanpa mengabaikan asas-asas dasar hukum pidana yang berlaku.
Kata Kunci: Peninjauan Kembali; Jaksa Penuntut Umum; Mahkamah Konstitusi
Tinjauan Yuridis Tentang Kedudukan dan Peran Paralegal dalam Sistem Penegakan Hukum di Indonesia
Paralegal memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memperoleh akses keadilan,
terutama bagi kelompok yang kurang mampu dalam mendapatkan bantuan hukum. Namun,
kedudukan dan batasan peran paralegal dalam sistem hukum Indonesia masih menjadi perdebatan,
terutama setelah adanya Putusan Mahkamah Agung No. 22 P/HUM/2018 yang membatasi
kewenangan paralegal dalam memberikan bantuan hukum di pengadilan. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis pengaturan hukum mengenai paralegal dalam sistem penegakan hukum di
Indonesia serta meninjau kedudukan dan peran mereka dalam membantu masyarakat mengakses
keadilan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dengan analisis
terhadap peraturan perundang-undangan, putusan pengadilan, serta teori hukum, khususnya teori
Rechtsstaat dan teori bekerjanya hukum dari William Chambliss & Robert B. Seidman. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa meskipun paralegal memiliki peran yang signifikan dalam
membantu advokat dan memberikan pendampingan hukum kepada masyarakat, terdapat berbagai
tantangan dalam implementasinya. Salah satu tantangan utama adalah ketidaksesuaian antara
kebutuhan masyarakat dengan pembatasan peran paralegal dalam praktik hukum. Oleh karena itu,
diperlukan harmonisasi regulasi untuk memperjelas kedudukan hukum paralegal agar dapat
berperan lebih efektif dalam sistem hukum Indonesia.
Kata Kunci: Paralegal; Akses Keadilan; Penegakan Hukum
Gambaran Persepsi Pasien Pre Operasi Terhadap Caring Perawat Di Rsud Dr. H. Jusuf Sk Tarakan Kalimantan Utara
Latar Belakang: Untuk mengurangi masalah psikologis seperti kecemasan dan
perasaan tidak berdaya saat menghadapi pembedahan, maka dibutuhkan perawatan
yang komprehensif, salah satunya ditentukan oleh sikap kepedulian perawat. Caring
merupakan sikap kepeduliaan perawat terhadap klien dalam pemberian asuhan
keperawatan dengan cara merawat klien dengan kesungguhan hati, keikhlasan,
penuh kasih sayang, baik melalui komunikasi, pemberian dukungan, maupun
tindakan secara langsung. Selain itu, caring sebagai sentral untuk praktek
keperawatan dimana seorang perawat dituntut untuk lebih peduli kepada pasien.
Metode: Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif yang berfungsi
mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti, dan
menggunakan analisis univariat. Penelitian menggunakan rumus slovin jumlah
sampel pada penelitian ini sebanyak 68 orang.
Hasil: Gambaran karakteristik dapatkan umur paling banyak Dewasa awal 26-35
tahun yaitu sejumlah 19 responden (27,9%), jenis kelamin yang paling banyak yaitu
perempuan sejumlah 38 responden (55,9%), tingkat pendidikan paling banyak
adalah SMA yaitu sejumlah 27 responden (39,7%) dan perilaku caring perawat
paling banyak pada kategori Cukup yaitu sejumlah 35 responden (51,5%).
Simpulan: bagi perawat diharapkan dapat memberikan perhatian kepada pasien
yang akan melaksanakan operasi.
Kata Kunci: Caring, Pre operas
Analisis Yuridis Kedudukan Dan Tanggung Jawab Notaris Dalam Pembuatan Akta Jaminan Fidusia
Kedudukan dan tanggung jawab notaris dalam pembuatan akta jaminan fidusia, sebuah instrumen hukum yang penting dalam dunia bisnis dan keuangan. Jaminan fidusia memberikan perlindungan hukum bagi kreditur dengan menjadikan barang sebagai agunan tanpa mengalihkan kepemilikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran notaris dalam menyusun akta jaminan fidusia, yang meliputi proses pembuatan, verifikasi identitas para pihak, dan pendaftaran akta di lembaga yang berwenang. Notaris sebagai pejabat publik diharapkan bertindak objektif dan profesional, serta memberikan nasihat hukum yang diperlukan kepada para pihak untuk memastikan bahwa akta yang dibuat sah dan mengikat. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanggung jawab notaris meliputi keharusan untuk memenuhi syarat formal dan material dalam pembuatan akta, serta menjaga keabsahan dokumen yang dihasilkan. Selain itu, penelitian ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi notaris dalam praktik sehari-hari serta pentingnya pengawasan terhadap praktik notaris untuk mencegah potensi penyalahgunaan. Kesimpulan dari skripsi ini adalah bahwa kedudukan notaris sangat strategis dalam menciptakan kepastian hukum dalam transaksi jaminan fidusia, dan tanggung jawab mereka berperan penting dalam melindungi hak-hak para pihak yang terlibat. Rekomendasi diberikan untuk meningkatkan pemahaman dan kapasitas notaris dalam menangani akta jaminan fidusia demi terciptanya praktik hukum yang lebih baik.
Kata kunci : notaris ; akta jaminan fidusia ; kedudukan dan tanggungjawab notari
HUBUNGAN ANTARA POSTUR KERJA DENGAN KELUHAN MUSCULOSKELETAL DISORDER PADA KELOMPOK WANITA TANI DEWI SRI DI DESA NGRAPAH KECAMATAN BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG JAWA TENGAH
Bertani merupakan salah satu pekerjaan sektor informal memiliki
risiko tinggi mengalami penyakit akibat kerja pada bagian otot-otot skeletal. Petani
sering kali melaporkan adanya nyeri pada beberapa bagian tubuh, antara lain
punggung, area yang terkena termasuk tangan, pergelangan tangan, lutut, kaki, bahu,
dan leher. Secara spesifik, keluhan tersebut sebanyak 9,90% berasal dari petani dan
buruh tani (Kemenkes RI, 2018). Saat menanam padi secara tradisional, para petani
melakukan pekerjaannya dengan posisi membungkuk, mengandalkan punggung dan
kaki sebagai sokongan utama serta bagian yang terkena termasuk tangan, bahu, leher.
Hal tersebut mengakibatkan rasa nyeri pada otot-otot skeletal. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui hubungan antara postur kerja dengan keluhan musculoskeletal
disorders pada kelompok wanita tani Dewi Sri di Desa Ngrapah.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan
pendekatan cross-sectional. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah total
sampling. Penelitian ini menggunakan uji chi-square untuk analisis data.
Hasil : Penelitian menunjukkan nilai p sebesar 0,003 (p < 0,05) yang berarti terdapat
hubungan antara postur kerja dengan keluhan MSDs pada kelompok Wanita tani
Dewi Sri di Desa Ngrapah Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Jawa Tengah
tahun 2024
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PEKERJA DI PT. SEDAP ABADI SEJAHTRA KABUPATEN SEMARANG
Gangguan fungsi paru pada pekerja adalah isu kesehatan yang
sering ditemui, terutama bagi pekerja yang bekerja di sektor yang terpapar polutan
udara, debu, asap, atau bahan kimia berbahaya. Faktor lain yang mempengaruhi
meliputi usia, jenis kelamin, masa kerja, durasi paparan, kebiasaan merokok, dan
penggunaan APD masker. Pajanan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan
masalah pernapasan yang parah dan meningkatkan risiko kematian. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan gangguan fungsi
paru pada pekerja di industri briket arang PT. Sedap Abadi Sejahtra, Kabupaten
Semarang
Metode: Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif menggunakan desain analitik
observasional dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 76 pekerja. Instrumen
penelitian ini adalah lembar kuesioner dan pengukuran kapasitas fungsi paru
dengan Peak Flow Meter. Analisis data penelitian menggunakan chi square dan
uji fisher dengan tingkat kemaknaan α = 0.05
Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara umur (p=
0,573) dan masa kerja (p= 0,661) dengan gangguan fungsi paru. Terdapat
hubungan antara jenis kelamin (p=0,008) kebiasaan merokok (p=0,008)
penggunaan APD masker (p=0,037) dan divisi kerja (p=0,033) dengan gangguan
fungsi paru pekerja PT. Sedap Abadi Sejahtra Kabupaten Semarang.
Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara umur dan masa kerja dengan
gangguan fungsi paru. Terdapat hubungan antara jenis kelamin, kebiasaan
merokok, penggunaan APD masker dan divisi kerja terhadap gangguan fungsi
par
HUBUNGAN UNSAFE ACTION DAN UNSAFE CONDITION DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA PADA NELAYAN DI KAMPUNG TAMBAK MULYO KOTA SEMARANG
Pekerjaan nelayan di sektor informal memiliki risiko
kecelakaan kerja yang tinggi dan tidak terlepas dari bahaya. Berdasarkan survei
pendahuluan di Tambak Mulyo, Kota Semarang, ditemukan bahwa tindakan tidak
aman (unsafe action) dan kondisi tidak aman (unsafe condition) dapat
menyebabkan kecelakaan kerja pada nelayan, seperti kecelakaan di atas kapal,
kram saat menyelam, dan penggunaan peralatan kerja yang rusak. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tindakan tidak aman dan kondisi
tidak aman dengan kecelakaan kerja pada nelayan di Tambak Mulyo Kota
Semarang.
Metode : Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan
cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah 86 responden yang berlokasi di
Tambak Mulyo, Kota Semarang. Pengumpulan data menggunakan metode
wawancara dengan instrumen pedoman wawancara. Data yang didapat diolah
menggunakan uji chi-square.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara
unsafe action dengan kecelakaan kerja pada nelayan di Tambak Mulyo Kota
Semarang dengan p-value = 0,000 (p > 0,05). Dan terdapat hubungan unsafe
condition dengan kecelakaan kerja pada nelayan di Tambak mulyo kota semarang
dengan p-value = 0,000 (p > 0,05). Saran dari penelitian ini diharapkan bagi para
nelayan untuk mematuhi keselamatan dan kesehatan kerja pada saat bekerja
dengan alat-alat yang perlu digunakan
GAMBARAN KESEHATAN LINGKUNGAN PADA TEMPAT FASILITAS UMUM (TFU) SEKOLAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ARGA MULYA KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2024
Upaya kesehatan lingkungan merupakan salah satu cara yang dilakukan untuk
mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia, biologi dan sosial yang
memungkinkan setiap masyaraka tmencapai derajat kesehatan yang setinggi - tingginya.
Lingkungan sehat mencakup lingkungan permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi,
serta tempat dan fasilitas umum. Sanitasi dasar merupakan syarat kesehatan lingkungan
minimal yang harus dipunyai oleh setiap masyarakat untuk memenuhi keperluan sehari
- hari. Ruang lingkup sanitasi dasar yakni sarana penyediaan air bersih, sarana jamban
keluarga, sarana pembuangan sampah, dan sarana pembuangan air limbah. Tujuan
Penelitian ini adalah gambaran kesehatan lingkungan sekolah diwilayah kerja
Puskesmas Arga Mulya tahun 2024. Penelitian ini yaitu observasional deskriptif yang
dilakukan pada bulan Oktober – November tahun 2024 di Wilayah Kerja Puskesmas
Arga Mulya total populasi berjumlah 7 Sekolah. Kesehatan lingkungan sekolah dinilai
menggunakan formulir inspeksi kesehatan lingkungan sekolah melalui observasi
langsung dengan pengukuran berdasarkan total nilai dari 38 pertanyaan dalam
kuisioner. Data dianalisis secara deskriptif untuk menentukan apakah kesehatan
lingkungan sekolah memenuhi syarat atau tidak. Berdasarkan hasil inspeksi kesehatan
lingkungan pada 7 sekolah di wilayah kerja Puskesmas Arga Mulya menunjukkan
bahwa sebagian besar sekolah telah memenuhi standar kesehatan lingkungan, namun
masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperbaiki. Penyediaan air bersih telah
mencukupi di 71,4% sekolah, namun 28,6% masih terkontaminasi bakteri E. coli.
Tingkat pencahayaan di ruang kelas hanya memenuhi syarat pada 57,2% sekolah.
Sanitasi toilet sesuai standar pada 57,2% sekolah, sementara sistem pembuangan air
limbah belum ada yang memenuhi syarat. Sebanyak 71,4% sekolah telah memiliki
tempat sampah berpenutup dan terpisah sesuai jenisnya. Pengawasan vektor
menunjukkan 57,2% sekolah bebas dari lalat dan jentik nyamuk