Repository Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
    4951 research outputs found

    Prevalensi Faktor Resiko Penyakit Kardiovaskular Pada Pasien Prolanis Di Puskesmas Lerep Kabupaten Semarang

    Full text link
    Latar Belakang: Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Faktor risiko yang berkontribusi terhadap penyakit ini mencakup gaya hidup tidak sehat, hipertensi, diabetes, dan dislipidemia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi faktor risiko pada pasien Prolanis di Puskesmas Lerep Kabupaten Semarang serta mengevaluasi pengobatan yang digunakan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional. Data dikumpulkan melalui lembar pengambilan data. Sebanyak 52 peserta prolanis, data lengkap dan bersedia menjadi peserta penelitian. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Dari 52 responden lebih banyak dialami perempuan. Usia paling banyak yaitu 60-75 tahun. Faktor risiko PKV yaitu diabetes melitus, hipertensi, hiper-TC, hiper-TG, hiper LDL-c, hipo HDL- c, pola makan tidak sehat, dan overweight. Riwayat pengobatan meliputi antihipertensi, antidiabetik, antiplatelet, penurun lipid, dan obat lain. Kesimpulan: Faktor Resiko utama PKV adalah diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia, pola makan yang tidak sehat, dan overweight. Obat utama untuk pengobatan dan pencegahan PKV meliputi obat antidiabetik, antihipertensi, penurun lipid, antiplatelet, dan obat lain. Perubahan dari gaya hidup dan pola makan yang tepat dianjurkan untuk menurunkan terjadinya PKV. Kata kunci: Prevalensi, faktor risiko, penyakit kardiovaskular, Prolanis, pengobatan

    GAMBARAN KONSEP DIRI PADA PASIEN YANG AKAN DILAKUKAN TINDAKAN AMPUTASI DI RUANG OPERASI RSUD Dr. H. JUSUF SK TARAKAN KALIMANTAN UTARA

    Full text link
    “Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan sebagian tubuh, sebagian atau seluruh ekstremitas. Konsep diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang akan mewarnai perilaku individu. Konsep diri dalam psikologi adalah konsep pusat (central construct) untuk dapat memahami manusia dan tingkah lakunya serta merupakan suatu hal yang dipelajari manusia melalui interaksinya dengan dirinya sendiri, orang lain, dan lingkungan nyata di sekitarnya. Metode: Metode yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif yang berfungsi mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti, dan menggunakan analisis univariat. Penelitian menggunakan rumus total sampling jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 21 orang. Hasil: Gambaran karakteristik dapatkan umur paling banyak kategori lansia akhir yaitu sebesar 7 orang atau (33,3%), jenis kelamin yang paling banyak yaitu perempuan yaitu sebesar 12 orang (57.1%), tingkat pendidikan paling banyak adalah SMA yaitu sebesar 13 orang (61.9%) dan sebagian besar responden dalam kategori konsep diri cukup yaitu sebesar 10 orang (47,6%). Simpulan: Penting untuk memberikan dukungan emosional dan informasi yang jelas untuk membantu pasien memahami proses dan mengurangi kecemasan mereka.

    Pengaruh Metode Ekstraksi Panas Dan Dingin Terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Bekatul Beras Putih (Oryza Sativa L.)

    Full text link
    Bekatul padi merupakan tanaman yang mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid dan alkaloid. Metabolit yang terkandung dalam bekatul padi memiliki potensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan metabolit sekunder esktrak bekatul (Oryza sativa L.) secara kualitatif menggunakan metode maserasi dan sokletasi. pengujian yang dilakukan adalah skrining fitokimia secara kualitatif. Ekstrak bekatul metode maserasi dan sokletasi positif mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin dan steroid. Kata kunci : bekatul, maserasi, sokletasi, flavonoi

    Hubungan Motivasi Kerja Dengan Kinerja Perawat Di Rumah Sakit Paru Dr. Ario Wirawan Salatiga

    Full text link
    Latar Belakang : kinerja merupakan sebuah hasil kerja yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Dalam sebuah pekerjaan diperlukan motivasi dan suatu penggerak agar target dapat tercapai. Motivasi sebagai dorongan berperan penting dalam meningkatkan kinerja seseorang, semakin tinggi motivasi seseorang baik motivasi intrinsik atau ekstrinsik maka semakin besar kemungkinan mereka bekerja dengan lebih baik dan mencapai hasil yang optimal. Tujuan : Mengetahui Hubungan Motivasi Kerja dengan Kinerja Perawat di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Metode : penelitian ini menggunakan metode Kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan Penentuan sampel menggunakan teknik Probability Sampling memakai Rumus Slovin dari populasi total 124 perawat didapatkan jumah 57 responden yang memenuhi kriteria penelitian, alat ukur pada penelitian ini berupa kuesioner yang sudah di uji validitas dengan hasil r tabel kuesioner motivasi (0,522-0,813) dan kuesioner kinerja (0,532-0,853) dan uji reabilitas oleh peneliti di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gondo Suwarno Ungaran dengan nilai Cronbach Alpha 0,904 dan 0,932. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 47,4% perawat motivasi tinggi dan 52,6% motivasi kerja cukup. hasil kinerja perawat kategori tinggi 80,7% dan 19,3% kinerja kategori cukup. Dari hasil tersebut peneliti melakukan uji chi-square menggunakan SPSS versi 26 untuk mengetahui Hubungan motivasi dengan kinerja perawat dan didapatkan hasil tingkat signifikasi 0,031. Kesimpulan : berdasarkan uji chi-square dengan SPSS versi 26 hasil tingkat signifikasinya 0,031 < 0,05 artinya Terdapat Hubungan antara Motivasi Kerja dengan Kinerja Perawat di Rumah Sakit Paru dr. Ario Wirawan Salatiga. Saran : Dengan memperhatikan faktor motivasi dan kinerja maka diharapkan responden yang memiliki kinerja dengan kategori cukup dapat meningkatkan kinerjanya Kata kunci : Motivasi, Kinerja, Rumah Sakit, Perawat

    Hubungan Pola Asuh Keluarga Dengan Kecemasan Pada Remaja

    Full text link
    Latar Belakang: Masa remaja adalah periode transisi perkembangan yang signifikan, di mana remaja mengalami perubahan hormon, tubuh, dan otak yang terkait dengan pubertas, sehingga mereka sering merasakan kecemasan dalam derajat ringan hingga berat. Kecemasan yang tidak tertangani dengan baik dapat mengarah pada masalah yang lebih serius, seperti gangguan depresi, penurunan prestasi akademik, dan masalah perilaku yang lebih kompleks. Tingginya angka remaja yang mengalami kecemasan menjadikan masalah ini sebagai isu penting yang perlu mendapat perhatian lebih. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh keluarga dengan tingkat kecemasan pada remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik proportionate random sampling, dengan melibatkan 302 responden dari SMA N 1 Bergas. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pola asuh keluarga (PAQ) dan kuesioner kecemasan remaja (HARS). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berasal dari keluarga dengan pola asuh demokratis (83,5%), sedangkan pola asuh permisif (11,6%) dan otoriter (5,0%) ditemukan dalam proporsi yang lebih kecil. Sebagian besar remaja memiliki tingkat kecemasan sedang (61,1%), diikuti oleh kecemasan rendah (28,4%) dan kecemasan tinggi (10,6%). Analisis Fisher’s Exact Test menunjukkan bahwa nilai p = 0,007, yang mengindikasikan hubungan signifikan antara pola asuh keluarga dan tingkat kecemasan pada remaja. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola asuh demokratis berkontribusi pada tingkat kecemasan rendah, sedangkan pola asuh otoriter dan permisif meningkatkan risiko kecemasan sedang hingga tinggi. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi kepada orang tua untuk menerapkan pola asuh demokratis guna mendukung kesehatan mental remaja. Saran: Orang tua disarankan untuk menerapkan pola asuh demokratis dalam rangka mendukung kesehatan mental remaja, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan rasa percaya diri. Kata Kunci: Pola Asuh Keluarga, Kecemasan, Remaja, Pola Asuh Demokratis, Pola Asuh Otorite

    Hubungan Antara Pola Konsumsi Dan Siklus Menstruasi Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Di Mts Banat Tajul Ulum Brabo

    Full text link
    Latar Belakang : Berdasarkan data pada Survei Kesehatan Indonesia (SKI) di tahun 2023 prevalensi anemia pada kelompok remaja usia 15-24 tahun tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 32%. Hal ini terjadi karena pada fase remaja pertumbuhan tubuh terjadi sangat pesat dan memerlukan sumber gizi yang cukup. Akan tetapi kebutuhan asupan yang cukup ini sering diabaikan remaja sehingga hal ini menimbulkan masalah-masalah kesehatan pada remaja. Tujuan : Mengetahui hubungan pola konsumsi dan siklus menstruasi dengan kejadian anemia pada remaja putri di MTS Banat Tajul Ulum Brabo, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan. Metode : Menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi seluruh siswa kelas 8. Lokasi penelitian di MTS Banat Tajul Ulum Brabo. Teknik sampling dengan Sebagian sampling sebanyak 80 remaja. Pengambilan data dengan kuesioner, recall, cek kadar hemoglobin data menggunakan uji chi-square. Hasil: Anemia pada remaja putri di MTS Banat Tajul Ulum Brabo sebanyak 33 remaja atau (41.2 %). Remaja memiliki pola konsumsi kategori lebih (>110% AKG) sebanyak 37 remaja atau (46.3 %), kategori baik (80%-110% AKG) sebanyak 33 remaja atau (41.3 %), kurang (<80% AKG) sebanyak 10 remaja (12.5%). Siklus menstruasi normal sebanyak 55 remaja atau (68.8%) dan yang memiliki siklus menstruasi tidak normal sebanyak 25 remaja atau (31.2%). Hasil uji chi-square dengan p-value sebesar 0,022 (p<0,05) dengan odd ratio 0.324 kali. Simpulan: Terdapat hubungan antara pola komsumsi dan siklus menstruasi dengn kejadian anemia pada remaja putri di MTS Banat Tajul Ulum Brabo. Kata Kunci : Anemia, Siklus Menstruasi, Pola Konsums

    Metode Perilaku Caring Perawat Kepada Pasien Rawat Inap Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan Keperawatan Di Rs Restu Ibu Balikpapan

    Full text link
    Latar Belakang: Perilaku caring perawat terhadap pasien rawat inap memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Pasien yang merasa diperhatikan dan dirawat dengan penuh kasih sayang cenderung lebih puas dengan pelayanan yang mereka terima. Dengan demikian, perilaku caring perawat bukan hanya sekadar tindakan kebaikan, tetapi merupakan komponen penting dari pelayanan keperawatan yang berkualitas. Tujuan: Pentingnya perilaku caring perawat kepada pasien rawat inap adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rawat inap. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi literature review. Sumber pustaka yang digunakan dalam penyusunan artikel ini adalah dengan melakukan telaah jurnal dan buku referensi dengan kata kunci perilaku caring perawat, dan kepuasan pasien. Hasil: Perilaku caring perawat berhubungan dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap rumah sakit. Perubahan leadership dalam profesi keperawatan terus dikembangkan, diharapkan dapat diaplikasikan secara nyata, semakin berkembang, semakin diakui dan dapat menunjukkan kinerja yang profesional dalam memberikan pelayanan kesehatan. Kesimpulan ada hubungan yang signifikan perilaku caring Perawat dengan tingkat kepuasan pasien di ruang rawat inap rumah sakit. Perilaku caring sangat penting bagi setiap orang, juga sangat dibutuhkan bagi perawat selaku pemberi asuhan keperawatan di rumah sakit. Kata Kunci : perilaku caring perawat, kepuasan pasien

    Analisis Yuridis Aborsi Korban Perkosaan Dalam Perspektif Hukum Pidana Dan Undang-Undang Kesehatan

    Full text link
    Aborsi karena pemerkosaan merupakan masalah yang kompleks di Sistem hukum Indonesia karena menyangkut hak hidup janin, hak asasi manusia perempuan, serta aspek kesehatan dan pidana. Di satu sisi, KUHP mengkriminalisasi aborsi, sedangkan UU Kesehatan memberikan pengecualian dalam kasus tertentu, termasuk kehamilan akibat perkosaan. Perbedaan pendekatan hukum ini menimbulkan ketidakpastian dalam implementasi kebijakan dan akses korban terhadap layanan kesehatan yang aman dan legal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaturan hukum mengenai aborsi bagi korban perkosaan dari perspektif hukum pidana dan kesehatan serta membandingkan implementasi kedua peraturan tersebut dalam praktik. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang- undangan dan pendekatan kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun UU Kesehatan memperbolehkan aborsi dalam kondisi tertentu, namun implementasinya masih menemui kendala, terutama dalam aspek tumpang tindih regulasi, keterbatasan akses korban terhadap layanan kesehatan yang legal, serta ketidakpastian hukum bagi tenaga medis yang melakukan aborsi. Ketidakharmonisan antara KUHP dan UU Kesehatan mengakibatkan adanya kendala bagi korban dalam memperoleh hak-haknya. Temuan ini menegaskan perlunya harmonisasi pengaturan antara hukum pidana dan hukum kesehatan agar kebijakan aborsi dalam kasus perkosaan dapat terlaksana secara efektif dan adil. Selain itu, perlindungan hukum bagi korban dan tenaga medis harus diperkuat untuk memastikan keadilan dan hak kesehatan perempuan terpenuhi secara optimal. Kata kunci: Aborsi; korban perkosaan; hukum Pidana; Kesehatan Atc; Hak-hak Perempuan

    Gambaran Beban Kerja Perawat Di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr H Jusuf SK

    Full text link
    Latar belakang : Kualitas mutu pelayanan keperawatan sangat di pengaruhi oleh beban kerja perawat yang berada diruangan tersebut. Yang dimaksud dengan beban kerja perawat adalah kemampuan tubuh perawat untuk menjalankan tugas selama menjalankan tugasnya Sedangkan pendapat yang dikemukan oleh Pudjiraharjo (2013) menjelaskan bahwa sudut pandang subjektif dan perspektif objektif adalah dua cara di mana beban kerja perawat dapat dilihat. Metode : Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Metode Total Sampling dengan jumlah responden sebanyak 32 Perawat. Instrumen penelitian yang dilakukan dengan cara mengisi kuisioner Nursalam, 2017. Hasil : Hasil distribusi frekuensi terlihat mayoritas tingkat pendidikan responden perawat adalah tingkat pendidikan D III sebanyak 71,9 %. Masa kerja responden yang paling besar adalah 1 - 10 tahun sebanyak 71,9 %, dengan umur yang paling besar adalah 27 - 35 tahun sebanyak 59,4 % dan jenis kelamin terbanyak adalah laki laki dengan perolehan sebanyak 56,3%. hasil analisis pada tabel 4.2 diatas, dapat dijelaskan bahwa dari 32 responden terdapat tingkat beban kerja sedang sebanyak 40,6 %, tingkat beban kerja berat sebanyak 34,4 % dan beban kerja Ringan sebanyak 25,0%. Simpulan : Sebagian besar responden dalam penelitian ini dalam ketegori beban kerja sedang. Peningkatan beban kerja terjadi karena kondisi lingkungan kerja, tuntutan waktu, dan keluarga serta harapan pimpinan terhadap pelayanan yang berkualitas. Kurangnya staf dibandingkan jumlah pasien yang datang juga menjadi beban kerja yang berat bagi perawat. Mengobervasi pasien secara terus-menerus selama jam kerja bukan merupakan beban kerja bagi perawat. Kata Kunci : (Beban Kerja, Perawat, IGD

    HUBUNGAN PAPARAN PESTISIDA DENGAN GANGGUAN FUNGSI PARU PADA PETANI DI KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG

    Full text link
    Paparan pestisida merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang signifikan, terutama bagi para petani yang terpapar dalam jangka waktu lama. Pestisida mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, salah satunya adalah gangguan fungsi paru. Pajanan yang terus-menerus dapat mengakibatkan iritasi saluran pernapasan, penurunan kapasitas paru, hingga penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). WHO memperkirakan kasus keracunan pestisida terjadi pada 1-5 juta orang setiap tahunnya pada pekerjaan pertanian dengan tingkat kematian mencapai 220.000 korban jiwa. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui hubungan paparan pestisida dengan gangguan fungsi paru pada petani di Kecamatan Bandungan. Metode : Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah quota sampling. Data diambil dari 100 petani di Kecamatan Bandungan melalui wawancara dan pemeriksaan fungsi paru dengan Peak Flow Meter.  Analisis bivariat menggunakan uji chi square dan Fisher’s Exact test. Hasil : Hasil penelitian didapatkan nilai P value usia (p = 0,019), masa kerja (p = 0,034), frekuensi penyemprotan (p = 0,000) , penggunaan masker (p = 0,014) &lt; 0,05 maka H0 ditolak artinya ada hubungan dengan gangguan fungsi paru pada petani. Simpulan : Dengan semikian dapat disimpulkan Terdapat hubungan antara usia, masa kerja, frekuensi penyemprotan dan penggunaan masker dengan gangguan fungsi paru pada petani di Kecamatan Bandungan

    4,702

    full texts

    4,951

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Repository Universitas Ngudi Waluyo
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇