OJS STIKES Guna Bangsa Yogyakarta
Not a member yet
272 research outputs found
Sort by
Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Masyarakat dalam Mematuhi Protokol Kesehatan Setelah Menerima Vaksinasi Covid-19 di Dusun Gubug Tahun 2022
The government carries out a Covid-19 vaccination program to protect the people from the danger of Covid-19. Though, some people think after receiving Covid-19 vaccination there is no need to comply with health protocols because it is safe. The results of observation in Gubug revealed some people did not wear mask and keep their distance. The interview with five people showed three people did not comply with the health protocol after vaccination because they felt safe. This research aims to know community’s knowledge, attitude, and action in obeying health protocol after receiving Covid-19 vaccination at Gubug Village in 2022. This was quantitative descriptive method research. The sample was 95 respondents taken by simple random sampling technique. The instrument was questionnaire with 30 questions and used univariate analysis. Result it showed 83 people (87.4%) had a good knowledge, 78 people (82.1%) had good attitudes, 59 respondents (62.1%) had a sufficient action in complying with health protocols after vaccination. Conclusion is the people of Dusun Gubug had good knowledge and attitude also sufficient action in complying with health protocols after receiving Covid-19 vaccination in 2022.
Pemerintah melakukan program vaksinasi Covid-19 untuk melindungi dari bahaya Covid-19, namun masyarakat beranggapan setelah vaksinasi Covid-19 tidak perlu mematuhi protokol kesehatan karena sudah aman. Hasil observasi di Dusun Gubug masih ada masyarakat saat keluar rumah tidak memakai masker dan menjaga jarak Hasil wawancara kepada 5 orang didapatkan 3 orang tidak mematuhi protokol kesehatan setelah menerima vaksinasi Covid-19 karena merasa aman.Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan tindakan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan setelah menerima vaksinasi Covid-19 di Dusun Gubug Argosari Sedayu Bantul tahun 2022. Desain penelitian menggunakan kuantitatif metode deskriptif. Penentuan sampel dengan teknik simple random sampling sebanyak 95 responden. Instrumen adalah kuesioner sebanyak 30 soal dan menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian masyarakat sebanyak 83 orang (87.4%) memiliki kategori baik, sikap sebanyak 78 orang (82.1%) memiliki kategori baik, dan tindakan sebanyak 59 responden (62.1%) memiliki kategori cukup dalam mematuhi protokol kesehatan setelah menerima vaksinasi Covid-19. Kesimpulannya masyarakat Dusun Gubug memiliki pengetahuan dan sikap kategori baik serta tindakan kategori cukup dalam mematuhi protokol kesehatan setelah menerima vaksinasi Covid-19 tahun 2022
Perbandingan Efektifitas Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) dan Buah Bit (Beta vulgaris L.) Dalam Meningkatkan Kadar Hemoglobin (Hb) Pada Remaja Putri Dengan Anemia
Adolescent girls are at high risk of suffering from anemia, because there is an increase in iron needs due to growth and menstruation. The normal limit for hemoglobin levels for adolescent girls is 12 g/dl. Natural supplementation that has an anti-anemia effect, namely Moringa Leaf Extract (Moringa oleifera L.) and Bit Fruit Extract (Beta vulgaris L.), so that it can be used as an alternative to non-pharmacological therapy in increasing Hb levels. Research Objectives is to determine the difference in the effectiveness of Moringa leaf extract and beet fruit extract on increasing Hb levels in adolescent girls at SMK Muhammadiyah I Pemalang. The type of research is Quasi Experiment, with a two group pre-test-post-test design. The sampling technique in this study used purposive sampling. The statistical test used is the Man Whitney U. Results: Moringa leaf extract (mean rank 27,50) was more effective than beet fruit extract (mean rank 9,50) in increasing Hb levels. Mann_Whitney U test obtained p value 0.000 < 0.05, which means that there are differences in effectiveness in the two intervention groups. There is a difference in effectiveness between Moringa leaf extract and beet fruit extract on increasing Hb levels in adolescent girls at SMK Muhammadiyah I Pemalang with a p value of 0.000. Moringa leaf extract is more effective than beet fruit extract in increasing Hb levels. Moringa leaf extract and beet fruit extract can be used as non-pharmacological therapy in increasing hemoglobin level.Remaja putri berisiko tinggi menderita anemia, karena terjadi peningkatan kebutuhan zat besi akibat pertumbuhan dan menstruasi. Batas normal kadar hemoglobin remaja putri ≥ 12 g/dl. Suplementasi alami yang memiliki efek anti anemia yaitu Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera L.) dan Ekstrak Buah Bit (Beta vulgaris L.), sehingga dapat dijadikan akternatif terapi nonfarmakologis dalam meningkatkan kadar Hb. Tujuan Penelitian adalah mengetahui perbedaan efektivitas ekstrak daun kelor dan ekstrak buah bit terhadap peningkatan kadar Hb remaja putri di SMK Muhammadiyah I Pemalang. Jenis penelitian Quasi Eksperiment, dengan rancangan two group pre- test-post-test design. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Uji statistik yang digunakan yaitu Man Whitney U. Hasil penelitian didapatkan selisih ekstrak daun kelor adalah (mean rank 27,50) lebih efektif digunakan dari pada ekstrak buah bit (mean rank 9,50) dalam meningkatkan kadar Hb. Uji Mann_Whitney U didapatkan p value 0,000 < α 0,05 yang artinya terdapat perbedaan efektivitas pada kedua kelompok intervensi. Terdapat perbedaan efektivitas antara ekstrak daun kelor dan ekstrak buah bit terhadap peningkatan kadar Hb pada remaja putri di SMK Muhammadiyah I Pemalang dengan p value 0,000. Ekstrak daun kelor lebih efektif dari pada ekstrak buah bit dalam meningkatkan kadar Hb. Ekstrak daun kelor dan ekstrak buah bit dapat dijadikan terapi nonfarmakologi dalam meningkatkan kadar hemoglobin
Percepatan Vaksinasi Covid-19 Bagi Kelompok Lansia: Percepatan Vaksinasi Covid-19 Bagi Kelompok Lansia
The first case of COVID-19 in Indonesia was confirmed by the government in early March 2020. This virus is growing rapidly throughout the world, especially in big cities such as the Special Capital Region of Jakarta. The elderly group has risk factors up to 60 times more severe than children -children, more than 95% of deaths due to Covid-19 occurred in the elderly. More than 50% of all deaths occurred in elderly people over the age of 80. During the pandemic, it was recorded that the group requiring hospital treatment was dominated by the elderly. As a group that is very vulnerable to being exposed to COVID-19, the government is prioritizing the elderly to receive the COVID-19 vaccine. The aim of community service activities This is to accelerate the vaccination target for the elderly group in the working area of ​​the Pulogadung sub-district health center, East Jakarta. The subject of this activity is a group of people aged 60 years and over. At SMKN 26 in the working area of ​​the Pulogadung sub-district health center, vaccination was carried out. The vaccination implementation method goes through 3 stages: Direction, Implementation and evaluation. Conclusion: vaccination achievement target reached 87%. as many as 77 people, or 13%, did not meet the requirements to carry out the Covid-19 vaccination because the elderly participants had comorbid diseases such as high blood pressure. Advice is expected for elderly people who will carry out vaccinations to maintain their previous health and for elderly people who have get the vaccine so that you come back for the second vaccine schedule.Kasus pertama COVID-19 di Indonesia dikonfirmasi oleh pemerintah pada awal Maret 2020. Virus ini berkembang dengan cepat di seluruh dunia, terutama di kota-kota besar seperti Daerah Khusus Ibukota Jakarta.kelompok lanjut usia memiliki faktor risiko hingga 60 kali lipat lebih parah dibandingkan anak-anak, lebih dari 95% kematian akibat Covid-19 terjadi pada lansia. Lebih dari 50% dari seluruh kematian terjadi pada lansia di atas usia 80, selama pandemi tercatat kelompok yang memerlukan perawatan di RS didominasi lansia Sebagai kelompok yang sangat rentan terpapar COVID-19, pemerintah memprioritaskan lansia untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Tujuan kegiatan pengabdian masyakat ini adalah untuk percepatan target vaksinasi pada kelompok lansia di wilayah kerja puskesmas kecamatan pulogadung Jakarta timur. Subjek kegiatan ini adalah kelompok orang yang berusia 60 tahun ke atas Di SMKN 26 di wilayah kerja puskesmas kecamatan Pulogadung, vaksinasi dilakukan. Metode pelaksanaan vaksinasi melalui 3 tahap: Pengarahan, Pelaksanaan, dan evaluasi. Kesimpulan: target capaian vaksinasi mencapai 87%. sebanyak 77 orang, atau 13%, tidak memenuhi syarat untuk melakukan tindakan vaksinasi Covid-19 yang di sebabkan peserta lansia memiliki penyakit komorbit seperti memiliki tekanan darah tinggi. Saran diharapkan bagi para lansia yang akan melakukan vaksinasi agar menjaga Kesehatan sebelumnya dan bagi lansia yang sudah mendapatkan vaksin agar datang kembali pada jadwal vaksin ke dua
Hubungan Pengembangan Karir Terhadap Sikap Profesional Perawat di Instalasi Rawat Inap Tulip/Kelas III RSUD Ulin Banjarmasin: The Relationship of Career Development to the Nurses Professional Attitude at Tulip Inpatient Installation/Class III RSUD Banjarmasin
Background : Professional attitude is an attitude or behavior that is applied by a nurse in the profession when carrying out their duties based on the nursing ethics principles. With the nurses’ professional attitude it will have an impact on the given services quality. However thing that can be done to improve professional attitudes is career development.
Objective : To find out the relationship of career development to the nurses’ professional attitude at Tulip Inpatient Installation/Class III RSUD Ulin Banjarmasin.
Methods : This study uses quantitative methods and cross sectional study approach. The number of samples is 80 people with purposive sampling technique. The data were analyzed using the spearman rank test with a significant value of p<0.05.
Result : The result of correlation test Spearman's rho with α = 0.05. From the result of the Spearman's rho statistical test obtained a significant value of 0.00 <0.05 indicated a relationship of career development to the nurses’ professional attitude with r = 0.479, which meant that the relationship of career development to the professional attitudes was in the medium category.
Conclusion : There is a relationship of career development to the nurses’ professional attitude at Tulip inpatient installation/class III RSUD Ulin Banjarmasin.
Keywords : Attitude, Career Development, Hospital, Nurse, ProfessionalLatar Belakang : Sikap profesional merupakan suatu perilaku yang diterapkan seorang perawat dalam profesi saat melakukan tugasnya berdasarkan prinsip etik keperawatan. Adanya sikap profesional perawat maka akan berdampak pada kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan. Adapun hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sikap profesional yaitu dengan pengembangan karir.
Tujuan : Untuk mengetahui hubungan pengembangan karir terhadap sikap profesional perawat di Instalasi Rawat Inap Tulip/Kelas III RSUD Ulin Banjarmasin.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan menggunakan pendekatan studi cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 80 orang dengan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji spearman rank dengan nilai signifikan p<0,05.
Hasil : Hasil uji korelasi Spearman’s rho dengan α = 0,05. Dari hasil uji statistik Spearman’s rho didapatkan nilai signifikan 0,00 < 0,05 menunjukkan adanya hubungan pengembangan karir terhadap sikap profesional dengan r=0,479 yang bermakna hubungan pengembangan karir terhadap sikap profesional termasuk dalam kategori sedang.
Kesimpulan : Adanya hubungan pengembangan karir terhadap sikap profesional perawat di instalasi rawat inap tulip/kelas III RSUD Ulin Banjarmasin
Manajemen Ulkus Diabetikum (Edukasi, Pelatihan dan Pendampingan) Melalui Family Care Giver Pada Penderita Diabetes Mellitus
Diabetic ulcers are a chronic complication of DM caused by angiopathy, neuropathy and the presence of infection, also of the most detrimental and serious complications of diabetes mellitus, 10% to 25% of diabetic patients develop foot ulcers diabetes. This activity is to improve the health status of the community with diabetic who can understand the prevention and know about the basic ways of treating diabetic ulcers. In this activity, counseling/education is carried out, demonstrations of foot callus care as well as basic diabetic wound care and care giver assistance in providing diabetic foot care to diabetic. It was held on August 18 2022, at Jabung, Sragen, attended by 20 elderly Posyandu cadres and 20 family with diabetic. There was a significant increase in the level of caregiver knowledge, before being given the material the highest level was in the sufficient of 16 and in the post-test the increase was dominated by a good level of 30 people. Of the 17 diabetics, on the day 2 visit after the training, 10 were still fully dependent on providing foot care, on the day 5 visit after the training, it increased to 9 who were independent, 6 were still assisted and only 2 were fully dependent. The conclusion of this activity is an increase in ability to practice DM foot exercise as an effort to avoid the risk of blood vascular disorders, neuropathy and infection of the feet. Participants of family caregiver showed increased knowledge and ability to provide basic diabetic ulcer care.Komplikasi kronik dari DM adalah ulkus diabetikum yang disebabkan oleh angiopati, neuropati dan adanya infeksi. 10% sampai 25% dari pasien diabetes yang memiliki luka berkembang menjadi ulkus kaki diabetic. Kegiatan ini bertujuan untuk peningkatan status kesehatan masyarakat terutama keluarga dengan anggota diabetisi dapat memahami tentang pencegahan ulkus diabetik serta mengetahui tentang cara perawatan dasar ulkus diabetik. Pada kegiatan ini yang dilakukan adalah penyuluhan/pemberian edukasi, demonstrasi dan simulasi perawatan kaki callus serta perawatan dasar luka diabetikum dan pendampingan care giver dalam pemberian perawatan kaki diabetikum pada diabetesi. Kegiatan ini dilaksanakan pada 18 Agustus 2022, bertempat di Desa Jabung Plupuh Sragen, diikuti oleh 40 orang peserta, 20 kader posyandu Lansia dan 20 anggota keluarga dengan diabetisi. Pada kegiatan ini terdapat peningkatan yang siginifikan pada tingkat pengetahuan caregiver, sebelum diberikan materi tingkat pengetahuan terbanyak kategori cukup 16 orang dan pada postes meningkat didominasi tingkat pengetahuan baik 30 orang. Dari 17 diabetesi, pada kunjungan hari ke-2 setelah pelatihan terdapat 10 orang masih bergantung penuh dalam memberikan perawatan kaki, tetapi pada kunjungan hari ke-5 setelah pelatihan meningkat menjadi 9 caregiver sudah mandiri, 6 masih dibantu dan hanya 2 yang bergantung penuh. Kesimpulan kegiatan ini adalah peningkatan kemampuan dalam praktik senam kaki diabetes mellitus sebagai upaya menghindari risiko terjadinya gangguan vaskular darah, neuropati dan infeksi pada kaki. Peserta family caregiver menunjukkan peningkatan pengetahuan Dan peningkatan kemampuan dalam memberikan perawatan dasar ulkus diabetikum
Dukungan Keluarga Berhubungan Dengan Kepatuhan Hemodialisis pada Pasien Gagal Ginjal Kronik (GGK): Literature Review
Introduction: Chronic kidney failure (CKD) or end-stage renal disease is a progressive disorder of kidney function, in which the body's ability to fail to maintain metabolism and fluid and electrolyte balance causes uremia and excessive amounts of other nitrogenous waste products in the blood. The big problem that contributes to the failure of hemodialysis is the problem of client compliance in following the program. Purpose: To determine the relationship between family support and adherence to undergoing hemodialysis in CRF patients. Methods: this study was conducted using 5 searched articles from June 24 to July 29, 2022. Results: 10 relevant research articles were obtained. After analyzing the articles, it was found that there was a relationship between family support and adherence to undergoing hemodialysis in CRF patients and there are several factors that affect family support in undergoing hemodialysis therapy including age, gender, education, duration of HD, knowledge of HD, smoking habits, motivation, access to health services, the role of patient perceptions of nurse services and family support. Conclusion: There is a relationship between family support and adherence to undergoing hemodialysis in patients with chronic renal failure (CKD).Pendahuluan: Gagal ginjal kronis (GGK) atau penyakit renal tahap akhir merupakan suatu gangguan fungsi ginjal yang progresif, dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan serta elektrolit yang menyebabkan terjadinya uremia dan produk buangan nitrogen lain dalam jumlah berlebihan dalam darah. Masalah besar yang berkontribusi pada kegagalan hemodialysis adalah masalah kepatuhan klien dalam mengikuti program tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan menjalani hemodialysis pada pasien GGK. Metode: studi ini dilakukan dengan menggunakan 5 artikel yang dicari mulai tanggal 24 juni sampai dengan 29 Juli 2022. Hasil: didapatkan 10 artikel penelitian yang relevan kemudian setelah dilakukan analisis pada artikel yang didapatkan bahwa ada hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan menjalani hemodialysis pada pasien GGK dan terdapat beberapa factor yang mempengaruhi dukungan keluarga dalam menjalani terapi hemodialysis diantaranya usia, jenis kelamin, Pendidikan, lamanya HD, pengetahuan tentang HD, kebiasaan merokok, motivasi, akses pelayanan kesehatan, peran persepsi pasien terhadap pelayanan perawat dan dukungan keluarga. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan menjalani hemodialysis pada pasian gagal ginjal kornik (GGK)
English English: Bahasa Indonesia
According to the World Health Organization (WHO), hyperemesis gravidarum occurs throughout the world, including the countries of the Americas with varying incidence rates ranging from 0.5-2%, 0.3% in Sweden, 0.5% in California, 0.8% in Canada, 10.8% in China, 0.9% in Norway, 2.2% in Pakistan and 1.9% in Turkey. Meanwhile, the incidence of hyperemesis gravidarum in Indonesia ranges from 1-3% of all pregnancies. The purpose of this study was to determine the effectiveness of giving warm ginger to the frequency of Emesis gravidarum in first trimester pregnant women. The type of research used was quantitative research with Pre-Experimental research design using One Group Pretest-Posttest design. The population in this study were all first trimester pregnant women who experienced emesis gravidarum who had their pregnancy checked at BPM Happy Purnama. Sampling in this study used a total sampling technique with a sample of 16 people. Data collection was obtained by using the Pregnancy Unique Quantification of Emesis questionnaire. The statistical results of the study obtained a p-value of 0.002, which means it is smaller than the significant value, which is <0.05, so it can be concluded that giving warm ginger is effective in reducing the frequency of emesis gravidarum. This study is also expected to be an alternative non-pharmacological treatment of emesis gravidarum in first trimester pregnant women.Menurut World Health Organization (WHO) hiperemesis gravidarum terjadi di seluruh dunia, termasuk negara-negara Amerika dengan angka kejadian yang bervariasi mulai dari 0,5-2%, 0,3% di Swedia, 0,5% di California, 0,8% di Kanada, 10,8% di Cina, 0,9% di Norwegia, 2,2% di Pakistan dan 1,9% di Turki. Sedangkan kejadian hiperemesis gravidarum di Indonesia berkisar 1-3% dari seluruh kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pemberian jahe hangat terhadap frekuensi Emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Pre-Experimental menggunakan desain One Group Pretest-Posttest design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil trimester I yang mengalami emesis gravidarum yang memeriksakan kehamilannya di BPM Happy Purnama. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 16 orang
Efektivitas Seduhan Daun Labu Siam dan Seduhan Daun Salam Terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin Pada Remaja Putri
Background: Deficiency in hemoglobin levels is still a public health problem in Indonesia, including young women, caused by menstruation or heavy blood loss and a lack of iron and protein intake. According to World Health Organization data for 2022, globally the prevalence of anemia worldwide is 29.9% in women of childbearing age (15-49 years), the prevalence of deficiency in hemoglobin levels in Indonesia is 32%, the incidence rate in the Special Region of Yogyakarta is 19, 3% and the Sleman area as much as 22.86%. Objective: To determine the effectiveness of steeping chayote and bay leaves on increasing hemoglobin levels in female adolescents. Method: this study used a Quasi-Experimental Two Group Pretest-Postest Design. The subjects in this study were 40 young women who met the criteria. Data analysis used Wilcoxon test and Mann Whitney test. Results: The average Wilcoxon test before and after administration of chayote leaf infusion obtained a p-value of 0.003 <0.05, which means that there was a significant difference between before and after administration of bay leaf infusion with a p-value of 0.278 > 0.05 which means no there was a significant difference between before and after treatment. Based on the Mann Whitney test, the average after steeping chayote leaves and steeping bay leaves had a significant p value of 0.002 (0.002 <0.05) which showed a significant difference in the increase in hemoglobin levels in female adolescents. Conclusion: Infusion of chayote leaves is more effective than bay leaf infusion in increasing hemoglobin levels in female adolescents.Latar belakang: Kekurangan kadar hemoglobin masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia termasuk remaja putri yang disebabkan oleh menstruasi atau kehilangan banyak darah serta kurangnya asupan zat besi dan protein. Menurut data World Health Organization pada tahun 2022, secara global prevalensi anemia di seluruh dunia sebesar 29,9% pada wanita usia subur (15-49 tahun), prevalensi kekurangan kadar hemoglobin di Indonesia sejumlah 32%, Kejadian di Daerah Istimewah Yogyakarta sebanyak 19,3% dan daerah Sleman sebanyak 22,86%. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas seduhan daun labu siam dan daun salam terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri. Metode: penelitian ini menggunakan jenis desain Quasi Eksperiment Two Group Pretest-Postest Design. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja putri sejumlah 40 responden yang memenuhi kriteria. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann Whitney. Hasil: Uji Wilcoxon rata-rata sebelum dan sesudah pemberian seduhan daun labu siam didapatkan hasil p-value 0.003 < 0.05 yang artinya terdapat perbedaan bermakna antara sebelum dan sesudah perlakuan, dan seduhan daun salam didapatkan p-value 0.278 > 0.05 yang artinya tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah perlakuan. Berdasarkan uji Mann Whitney rata-rata setelah pemberian seduhan daun labu siam dan seduhan daun salam memiliki nilai signifikansi p-value 0.002 (0.002 < 0.05) yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada remaja putri. Kesimpulan: Seduhan daun labu siam lebih efektif dibandingkan dengan seduhan daun salam dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja putri
Efektifitas Prenatal Yoga Terhadap Nyeri Melahirkan: Studi Tinjauan Literatur Sistematik
Background: Prenatal Yoga is a type of body, mind, and mental exercise that can reduce risk of preterm delivery, caesarean section, and fetal death. The objective of the present study was to determine the effect of Yoga on labor pain. Methods: This was a systematic literature review using seven electronic databases for searching: ScienceDirect, PubMed, GoogleScholar, Cochrane, ResearchGate, and Portal Garuda. Randomized Controlled Trial and Quasy Experiment studies examining yoga met the inclusion criteria. Results: Of 578 non-duplicated studies. 7 met criteria for full-text reviews. The finding in studies suggest prenatal yoga may be safe and may effectively decrease pain level while labor. Conclussion: Yoga appear to be safe and may reduce pain on labor. However, due to the limited number of high-quality Randomized Controlled Trials study, more reseach are needed to draw conclusions about improvement in other pregnancy outcomes.Latar belakang: Prenatal Yoga adalah jenis latihan tubuh, pikiran, dan mental yang dapat mengurangi risiko persalinan prematur, operasi caesar, dan kematian janin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Yoga terhadap nyeri persalinan. Metode: Menggunakan tinjauan literatur sistematis dengan memanfaatkan tujuh database elektronik untuk pencarian: ScienceDirect, PubMed, GoogleScholar, Cochrane, ResearchGate, dan Portal Garuda. Studi Randomized Controlled Trial dan Quasy Experiment yang melakukan penelitian mengenai yoga digunakan sebagai kriteria inklusi. Hasil: Dari 578 studi non-duplikasi. 7 penelitian memenuhi kriteria untuk ulasan teks lengkap. Temuan dalam penelitian menunjukkan yoga prenatal terbukti aman dan dapat secara efektif mengurangi tingkat nyeri saat persalinan. Kesimpulan: Yoga terbukti aman dan dapat mengurangi nyeri persalinan. Namun, karena terbatasnya jumlah studi Uji Randomized Controlled Trial yang berkualitas tinggi, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menarik kesimpulan tentang peningkatan dari variabel – variabel terkait kehamilan lainnya
Modifikasi Puzzle untuk Pemeliharaan Fungsi Kognitif pada Lansia di Wilayah DIY
Latar belakang: Lansia menjadi puncak dari siklus hidup manusia. Tantangan ketika seseorang memasuki masa lanjut usia adalah bahwa mereka akan mengalami berbagai perubahan baik secara fisik, mental, psikososial dan spiritual sehingga mereka harus siap dengan berbagai perubahan yang terjadi. Salah satu perubahan fisik yang menjadi fokus disini adalah perubahan pada fungsi otak lansia, dimana kemampuan daya ingat akan mulai mengalami penurunan seiring bertambahnya usia. Dr Ni Wayan Suriastini, M Phil dari Survey Matter di 20th Asia Passific Regional Conference Alzheimer Disease Intrenational menambahkan prevalensi demensia di DIY ternyata masuk kategori lebih tinggi dibandingkan prevalensi secara global. Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya demensia ini dikaitkan dengan kurangnya aktivitas yang menstimulasi otak. Demensia ditandai dengan seringnya mengulang pertanyaan atau cerita yang sama, kurangnya partisipasi dalam hobi sebelumnya, meningkatnya kecelakaan, dan janji yang terlewat. Demensia memang tidak bisa dicegah tetapi ada salah satu cara yang bisa dilakukan untuk pemeliharaan fungsi kognitif pada lansia, yaitu dengan menyusun puzzle yang didesain khusus. Tujuan: Mengetahui pengaruh modifikasi puzzle terhadap pemeliharaan fungsi kognitif pada lansia. Metode: Penelitian quasi-eksperimental dengan pendekatan one group pre test dan post test melibatkan 60 responden lansia dengan teknik cluster sampling. Kelompok intervensi mendapatkan perlakuan dengan pemberian puzzle selama dua kali seminggu selama dua minggu berturut-turut. Instrument MoCA-Ina digunakan untuk melihat fungsi kognitif lansia. Analisa data dilakukan dengan SPSS menggunakan uji statistic Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil: Terdapat pengaruh pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok control dengan Asymp. Sig. 2-tailed < 0.05. Kesimpulan: Modifikasi puzzle dapat diterapkan untuk pemeliharaan fungsi kognitif pada lansia