Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS)

Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS)

Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS)
Not a member yet
    121 research outputs found

    Kesadaran Ekologis dalam Film Pulau Plastik: Kajian Filsafat Ekosentrisme Arne Naess

    Full text link
     Penelitian ini menganalisis representasi krisis polusi plastik dalam film dokumenter "Pulau Plastik" melalui lensa filsafat Ekosentrisme Arne Naess atau Deep Ecology. Film dokumenter ini menyoroti dampak buruk sampah plastik di Indonesia sebagai krisis eksistensial. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian film dan analisis konten filosofis, penelitian ini bertujuan mengevaluasi sejauh mana narasi visual dan verbal film sejalan dengan prinsip-prinsip Ekologi Dalam Naess, seperti Biospherical Egalitarianism, nilai intrinsik alam, dan konsep Self-realization yang luas. Hasil penelitian menemukan bahwa Pulau Plastik berhasil melampaui kritik lingkungan yang dangkal (Shallow Ecology). Film ini tidak hanya menuntut reformasi kebijakan tetapi juga secara implisit mendorong pergeseran nilai fundamental dari antroposentrisme ke ekosentrisme. Film ini menantang penonton untuk menyadari diri sebagai bagian integral dari keseluruhan biosfer. Kesimpulannya, film Pulau Plastik berfungsi sebagai alat pedagogi lingkungan yang kuat, mempromosikan kesadaran ekologis mendalam yang esensial untuk solusi krisis lingkungan yang berkelanjutan.

    Analisis Bibliometrik Tren Penelitian Kebijakan Lingkungan untuk Pembangunan Berkelanjutan

    Full text link
    Isu lingkungan global seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan degradasi sumber daya alam menuntut kebijakan lingkungan yang strategis untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini menganalisis dinamika kajian kebijakan lingkungan dengan pendekatan bibliometrik dan metode PRISMA, mencakup pemetaan tren topik, identifikasi kesenjangan pengetahuan, dan analisis kolaborasi peneliti. Hasil menunjukkan minat riset meningkat pada isu mitigasi iklim, pengelolaan sumber daya, transisi energi, dan tata kelola global. Namun, topik seperti kebijakan adaptasi di negara berkembang, peran masyarakat adat, keadilan ekologis, dan evaluasi kebijakan lokal masih kurang dieksplorasi. Kolaborasi lintas disiplin dan negara terbukti meningkatkan kualitas serta dampak penelitian. Temuan ini memberi wawasan untuk agenda riset masa depan, menekankan pentingnya kerja sama global dan eksplorasi isu terabaikan guna mendukung kebijakan lingkungan yang lebih adil dan berkelanjuta

    Analisis Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Dalam Konservasi Cemara Laut di Kambang Barat

    Full text link
    Abrasi pantai merupakan permasalahan lingkungan yang berdampak serius terhadap keberlanjutan wilayah pesisir di Indonesia. Upaya penanggulangan abrasi dapat dilakukan melalui pendekatan vegetatif, salah satunya dengan penanaman cemara laut (Casuarina equisetifolia) sebagai pelindung alami pantai. Tujuan penelitian untuk menganalisis persepsi dan partisipasi masyarakat dalam konservasi cemara laut di Kambang Barat. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan populasi sebanyak 2.918 kepala keluarga, dan pengambilan sampel sebanyak 91 responden dengan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan penghitungan TCR (Tingkat Capaian Responden). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap penanaman cemara laut tergolong sangat baik dengan nilai TCR sebesar 89,04%. Faktor yang memengaruhi persepsi tersebut meliputi pengetahuan, manfaat ekologis, dan pengalaman masyarakat terhadap dampak abrasi. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi juga tinggi, dengan skor total 94,96%. Adanya partisipasi masyarakat dalam kegiatan penanaman cemara laut untuk mengurangi abrasi di Pantai Pasir Putih Kambang Barat. Keberhasilan konservasi cemara laut dipengaruhi oleh kesadaran ekologis masyarakat serta dukungan sosial dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir. Penanaman cemara laut merupakan strategi mitigasi abrasi yang efektif dan berkelanjutan berbasis partisipasi masyarakat.

    Application of SVD Method Using Magnetic Data to Identify Subsurface Structures at the Geothermal Area of Sonai Village and its Surroundings, Puriala, Konawe

    Full text link
    This research was conducted with the aim of identiying the subsurface structures of the geothermal area of ??Sonai Village and its surroundings, Puriala, Konawe using the Second Vertical Derivative (SVD) method. The magnetic data used were obtained through measurements at 126 points. The total magnetic anomaly value obtained after Diurnal and IGRF corrections was -171.17 to 82.47 nT. After carrying out Upward Continuation and further processing, a residual magnetic field anomaly value of around -150 to 90 nT was obtained. Then the SVD method is applied to residual anomalous data that has been reduced to the Pole. Based on the SVD results and 2D modeling, several types of fault structures were found in the research area, consisting of 2 upward faults and 4 normal faults. The closest minor fault to the manifestation is at coordinates 4°1\u2716.41"S and 122°7\u2723.23"E which is ±16 meters from the manifestation. These minor faults are thought to be the geothermal pathways, causing the water to become hot in the manifestation area. In addition, it was also found that the subsurface layers of the Sonai area and its surroundings are composed of 3 formations, namely Alluvium Deposits, Alangga Formation and Ultramafic Complex

    Membongkar Antroposentrisme Hukum Indonesia dalam Perspektif Aktor-Jaringan dan Struktur Sosial pada Fenomena Krisis Lingkungan

    Full text link
    The global environmental crisis demands a deconstruction of the legal paradigm that is still dominated by anthropocentrism, a view that places humans at the center of all norms and interests. Using a qualitative approach with a library study design, this article explores the thoughts of Bruno Latour and Murray Bookchin as two philosophers who offer alternative approaches to the relationship between humans, law, and nature. Through Latour\u27s perspective, law is understood as a network of actors, including non-human actors (nature), who have agency in political and legal processes. Meanwhile, Bookchin emphasizes the importance of social ecology and critiques hierarchical domination as the root of the ecological crisis. This article is a critical philosophical study with descriptive and reflective content analysis. This research shows that current ecological inequality is a highly dominant and hierarchical social structure. Actors in the formulation of law or policy are often limited, and the broader community is not widely involved in the policy-making process. This article is expected to encourage the reformulation of environmental law that is more inclusive of the entire network of actors in responding to contemporary ecological challenges—including the moral crisis within them.Krisis lingkungan global menuntut dekonstruksi paradigma hukum yang masih didominasi oleh antroposentrisme, yakni pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala norma dan kepentingan. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka, artikel ini bertujuan mengeksplorasi pemikiran Bruno Latour dan Murray Bookchin sebagai pendekatan alternatif terhadap hubungan manusia, hukum, dan alam. Melalui perspektif Latour, hukum dipahami sebagai jaringan aktor, termasuk non-manusia (alam), yang memiliki agensi dalam proses politik dan hukum. Sementara itu, Bookchin menekankan pentingnya ekologi sosial dan kritik terhadap dominasi hierarkis sebagai akar krisis ekologis. Artikel ini bersifat kajian fisafat kritis dengan analisis konten yang sifatnya deskriptif dan reflektif.  Hasil Penelitian ini menunjukkan, bahwa ketimpangan ekologis saat ini merupakan ketimpangan struktur sosial yang sangat dominative dan hirarkis. Aktor dalam perumusan hukum atau kebijakan seringkali terbatas, masyarakat secara luas tidak banyak diikutsertakan dalam proses penyusunan kebijakan. Artikel ini diharapkan mampu mendorong reformulasi hukum lingkungan yang lebih inklusif terhadap seluruh jaringan aktor dalam merespons tantangan ekologi kontemporer – termasuk krisis moral di dalamnya

    Analisis Perubahan Dinamika Abrasi dan Akresi Garis Pantai di Kota Kupang Berbasis Teknologi Penginderaan Jauh

    Full text link
    Shorelines are dynamic and perpetually evolving due to hydro-oceanographic variables and anthropogenic activity, which influence the processes of erosion and deposition. This study seeks to quantify shoreline alterations and examine the extent of erosion and deposition in coastal Kupang City by employing remote sensing technologies on Landsat image datasets from 2014, 2018, and 2023, obtained from USGS, in conjunction with Geographic Information System (GIS). Analytical methods were implemented via the Digital Shoreline Analysis System (DSAS) within GIS. The results indicated that alterations manifested as abrasion and accretion with differing magnitudes. From 2014 to 2018 and from 2018 to 2023, notable alterations transpired, with the maximum erosion value attaining -37.98 m in the Kelapa Lima sub-district and the peak deposition measuring 187.09 m in the Kota Lama sub-district. From 2014 to 2018, the regions impacted by abrasion in Kelapa Lima, Kota Lama, and Alak measured 4.01 hectares, 0.63 hectares, and 1.24 hectares, respectively. This technology enables the management and analysis of visual data, offering great temporal resolution, cost-effectiveness, and extensive coverage.Garis pantai bersifat dinamis dan terus berubah akibat faktor hidro-oseanografi dan aktivitas manusia, yang mempengaruhi proses abrasi dan akresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan garis pantai serta menganalisis tingkat abrasi dan akresi di pesisir Kota Kupang dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh pada dataset citra landsat (tahun 2014, 2018, dan 2023) yang diunduh dari usgs dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Teknik analisis diterapkan melalui Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dalam SIG. Hasil menunjukkan perubahan yang terjadi dalam bentuk abrasi dan akresi dengan nilai yang bervariasi. Antara tahun 2014-2018 dan 2018-2023, terjadi perubahan signifikan, dengan nilai abrasi terbesar mencapai -37,98 m di Kecamatan Kelapa Lima dan akresi tertinggi 187,09 m di Kecamatan Kota Lama. Pada periode 2014-2018, luas wilayah yang terkena abrasi di Kelapa Lima, Kota Lama, dan Alak masing-masing sebesar 4,01 ha, 0,63 ha, dan 1,24 ha. Teknologi ini mempermudah pengelolaan dan interpretasi data citra, dengan keunggulan resolusi temporal yang tinggi, biaya yang terjangkau, serta cakupan liputan yang luas

    Evaluasi Kebijakan Moratorium Pertambangan di Indonesia: Systematic Literature Review

    Full text link
    Moratorium pertambangan di Indonesia merupakan kebijakan penting yang diterapkan untuk menghentikan sementara penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) di kawasan hutan primer dan lahan gambut. Evaluasi kebijakan ini bertujuan untuk memperbaiki tata kelola sumber daya alam, mengurangi kerusakan lingkungan, serta menekan laju deforestasi. Artikel ini mengkaji efektivitas kebijakan moratorium dengan menggunakan analisis literatur dan bibliometrik melalui perangkat Publish or Perish dan VOSviewer. Pembahasan mencakup evaluasi kebijakan di tingkat pusat dan daerah, serta dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi. Studi kasus di Kalimantan Timur, di mana lebih dari 1.000 IUP dicabut karena tidak memenuhi standar lingkungan, menunjukkan bahwa kebijakan moratorium berhasil mengurangi deforestasi. Namun, tantangan seperti lemahnya penegakan hukum, kolusi, dan ketidaksinkronan kebijakan pusat-daerah masih menjadi hambatan utama dalam pelaksanaannya. Kesimpulannya, kebijakan ini efektif dalam beberapa aspek, namun membutuhkan peningkatan dalam hal transparansi, pengawasan, dan kolaborasi multistakeholder. Rekomendasi untuk perbaikan kebijakan termasuk pengetatan regulasi, peningkatan pengawasan berbasis teknologi, dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan

    Pemeriksaan Kualitas Fisik, Kimia, Biologi, pada Limbah Cair di RSUD Patuh Patju Lombok Barat

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pengelolaan limbah cair di RSUD Patut Patuh Patju, Kabupaten Lombok Barat, dengan membandingkan hasil uji laboratorium terhadap baku mutu berdasarkan Permen LHK No. P.68 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain cross-sectional, menggunakan data hasil uji laboratorium semester II tahun 2024. Sistem IPAL yang digunakan mengadopsi teknologi anaerob-aerob dengan MBBR. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa parameter limbah cair melebihi baku mutu, yaitu BOD (hingga 43,3 mg/L; BML: 30 mg/L), amonia (hingga 12,8 mg/L; BML: 10 mg/L), dan total coliform (hingga 6.200 JPT/100 ml; BML: 3.000 JPT/100 ml). Kelebihan ini terjadi pada bulan tertentu akibat gangguan teknis serta peningkatan beban limbah dari operasional rumah sakit. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum IPAL telah berjalan, efektivitasnya belum optimal untuk semua parameter. Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk perbaikan sistem IPAL secara teknis dan kelembagaan agar pengelolaan limbah cair lebih berkelanjutan dan tidak mencemari lingkungan

    Pengaruh Pupuk  Limbah Cair Tahu dari Produsen yang Berbeda terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai Merah Keriting

    Full text link
    Tofu industry waste consists of solid and liquid waste. Tofu liquid waste contains high organic materials such as C, H, O, N, P, and S, which are useful as nutrients for plants. This study was conducted to see the difference in the effectiveness of liquid organic fertilizer from tofu liquid waste, considering that the levels of elements in each production unit are not the same. In this study, the effectiveness test was carried out on curly red chili plants (Capsicum annum L.). The experiment was carried out with a simple randomized block design and the data obtained were analyzed by the F test with a level of 5% if there was a significant difference followed by a 5% BNT test. Based on the analysis of variance, it is known that the growth of curly red chili plants (Capsicum annum L.) including plant height, number of leaves, stem diameter, and leaf diameter is influenced by the provision of fertilizer and the type of waste as the basic material for fertilizer. While the wet weight and length of plant roots are not affected by the provision of fertilizer or the type of waste.Limbah industri tahu terdiri dari limbah padat dan cair. Limbah cair tahu mengandung bahan organik tinggi seperti C, H, O, N, P, dan S, yang bermanfaat sebagai unsur hara bagi tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan efektivitas pupuk organik cair dari limbah cair tahu, mengingat kadar unsur pada setiap unit produksi tidak sama. Dalam penelitian ini uji efektivitas dilakukan pada tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) karena tanaman ini mudah beradaptasi dan memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Percobaan dilakukan dengan rancangan acak kelompok sederhana dan data yang diperoleh dianalisis dengan uji F dengan taraf 5% jika ada perbedaan yang sifnifikan dilanjut dengan uji BNT 5%. Berdasarkan analisis ragam diketahui  pertumbuhan tanaman cabai merah keriting (Capsicum annum L.) meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan diameter daun dipengaruhi oleh pemberian pupuk dan jenis limbah sebagai bahan dasar pupuk. Sedangkan berat basah dan panjang akar tanaman tidak dipengaruhi oleh pemberian pupuk maupun jenis limbah

    Strategi Start-Up Produksi Biogas Dari Vinasse: Transisi Operasi dari Kotoran Sapi ke Vinasse

    Full text link
    Vinasse utilization as biogas forming substrate requires special handling because of it’s acidic state which is inhibitor to methanogens. At start-up, the performance of microbial group should be in state of equilibrium between methanogens and non-methanogens. This is attempted by adding inhibitor substrates incrementally. Start-up conduct in semi continue process with vinasse dry base composition 0% (S0), 50% (S1), 75% (S2), 90% (S3) up to 100% (S4). Biodigester loading rate is 40 kg/(m3/hari) with 8 litre effective slurry volume. Substrat is fed at 6,5% TS. The best pH stability obtained on S2 feed composition which is 6.3 for eleven consecutive days.This reflects the balance of methanogen and non-methanogenic microbes performance. The highest average daily biogas production was achieved at feed composition S3 of 3780mL even though the average pH tended to decrease to 6.18. At S4, pH and average biogas volume is decreased significanly to 5.9 and 1932mL.Pemanfaatan vinasse sebagai substrat penghasil biogas memerlukan penanganan khusus karena keasamannya bersifat inhibitor terhadap metanogen. Pada start-up biodigester diupayakan adanya keseimbangan mikrobia metanogen dan non metanogen dengan pemberian penambahan komposisi substrat yang mengandung inhibitor secara bertahap. Start-up dilakukan dengan proses semi kontinyu mengunakan campuran komposisi basis berat kering vinasse 0% (S0), 50% (S1), 75% (S2), 90% (S3) hingga 100% (S4). Loading rate biodigester 40 kg/(m3/hari) dengan volume efektif slurry 8 liter. Umpan diberikan pada 6,5% TS. Pada komposisi umpan S2 didapatkan kestabilan pH terbaik selama 11 hari sebesar 6,3 yang mencerminkan keseimbangan mikrobia metanogen dan non metanogen. Produksi rerata harian biogas tertinggi tercapai pada komposisi umpan S3 sebesar 3780mL meskipun rerata pH cenderung turun menjadi 6,18. Pada komposisi umpan S4, rerata pH turun lebih jauh lagi menjadi 5,9 dan produksi rerata harian biogas menurun hingga 1932m

    112

    full texts

    121

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ekologi, Masyarakat & Sains (EMS) is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇