E-Journal Universitas Bale Bandung
Not a member yet
1037 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN TINGKAT KEPATUHAN DIET PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DENGAN KADAR GULA DARAH DI POLIKLINIK ENDOKRIN RUMAH SAKIT.
Penelitian ini dilatar belakangi oleh ketidak patuhan pasien terhadap diet, dimana menjadi kendala dalam pengobatan Diabetes Mellitus (DM). DM menduduki peringkat ke dua penyakit kronis di Jawa Barat. Hal ini disebabkan oleh perilaku hidup dimana terjadi perubahan gaya hidup dalam mengkonsumsi makanan. Mempertahankan kadar gula darah salah satunya untuk mengatur pola makan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat kepatuhan diet pasien DM dengan kadar gula darah. Kepatuhan merupakan sejauhmana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan. Metode yang digunakan adalah deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Populasi yang diambil adalah pasien yang terdiagnosa DM. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dengan sampel 66 responden. Pengumpulan data menggunakan kuestioner dan hasil laboratorium pemeriksaan glukosa. Pengolahan data dengan analisis Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ( 66,7%) responden yangtidak patuh terhadap diet memiliki kadar gula darah yang tidak normal. Terdapat hubungan antara tingkat kepatuhan diet dengan kadar gula darah dengan p-value (0,045). Semakin patuh melaksanakan diet maka semakin rendah terjadinya pasien dengan gula darah yang abnormal, sebaliknya semakin tidak patuh menjalankan diet maka semakin tinggi terjadinya pasien dengangula darah yang abnormal. Rumah sakit diharapkan dapat memodifikasi metoda promosi kesehatan yang lebih efektif dari sebelumnya mengenai diet DM dan meningkatkan komunikasi antara tenaga kesehatan dengan pasie
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP KONDISI PENDERITA DIABETES MELLITUS TYPE II
Diabetes Mellitus ( DM ) merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan apabila tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan kematian, Jumlah penderita di Indonesia cenderung meningkat dan pada tahun 2020 diperkirakan 8,2 juta dari 178 jutq penduduk diatas 20 tahun menderita diabetes, Penyuluhan dipandang sebagai langkah tepat membangun perilaku hidup sehat dalam mencegah peningkatan angka kejadian diabetes. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan olah raga untuk penderita DM dengan media audiovisual ( Video ) terhadap kondisi pasien ( pengetahuan, sikap dan latihan olah raga ) penderita DM type II. Metodapenelitian iniadalah quasi eksperimen dengan model pengukuran pre dan post test. Berdasarkan 81 sample yang ditetapkan dimana 41 sample sebagai kelompok perlakukan dengan diberikan penyuluhan menggunakan media audio visual dan 41 sample sebagai kelompok kontol diberikan leaplet.Hasil penelitian menunjukan rata - rata pengetahuan sebelum perlakuan 7,73 ( SD=1.205) dan pengetahuan setelah penyuluhan 9,34 ( SD=2,895 ), ? = - 3,213 dan p(? =0,05 = 0,003. Sikap sebelum penyuluhan adalah 42, 93 (SD=2,895) dan sikap setelah penyuluhan 47,02 (SD=2,858),?= - 4,226 dan ? ( ? = 0,05 ) = 0.000. Sedangkan kegiatan latihan olah raga sebelum penyuluhan adalah 8,24 (SD=0,435 ) dan kegiatan olah raga setelahpenyuluhan 12, 66 (SD=2,689, ? = - 10,647 dan ?(? = 0,05) = 0,000. Hasil uji statistik menunjukan bahwa pengetahuan dan sikap tentang olah raga penderita DM serta kegiatan latihan olah raga meningkat, sehingga dapat diartikan bahwa audio visual tentang olah raga pada penyakit DM berpengaruh terhadap pengetahuan, sikap dan latihan olah raga penderita DM. Kesimpulan :pendidikan kesehatan tentang olah raga pada penderita DM melalui audio visual dapat meningkatkan pengetahuan, meningkatkan sikap mendukung (favorable) dan meningkatkan kegiatan olah raga penderita DM. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Type II, Pendidikan Kesehatan, Media Audio Visual
PERAWATAN LUKA INFUS MENGGUNAKAN OLES PAVIDONE IODINE 10 PERSEN TERHADAP KEJADIAN PLEBITIS
Standar intervensi keperawatan yang merupakan lingkup tindakan keperawatan adalah upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah cairan (air dan elektrolit). Kebutuhan manusia terhadap cairan adalah sangat penting sekali untuk proses metabolisme tubuh. Pemasangan infus merupakan terapi intra vena bertujuan untuk mengoreksi dan mencegah gangguan cairan dalam tubuh, dengan permasalahan yang sering dihadapi pada pemasangan infus tersebut adalah flebitis. Flebitis mengacu ke temuan klinis adanya nyeri, nyeri tekan, bengkak, pengerasan, eritema, hangat dan terbanyak vena seperti tali. Semua ini diakibatkan peradangan, infeksi dan atau trombosis. Faktor patogenesis flebitis, antara lain : faktor kimia seperti obat atau cairan yang iritan. Flebitis kimia bisa terjadi ketika cairan dengan pH yang tinggi atau rendah, osmolaritas yang > 500 mOsm/L (seperti infus glukosa, nutrisi parenteral, darah, dll), faktor mekanis seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi, serta agen infeksius. Faktor pasien yang dapat mempengaruhi angka flebitis mencakup kondisi dasar yakni diabetes melitus, infeksi, luka bakar. Di Amerika Serikat, lebih dari 25 juta pasien di dipasang jalur intravena setiap tahun. 26% sampai 70% dari pasien yangterpasang infuse terjadi flebitis, sesuai dengan standar Intravenous Nurses Society, kalau itu lebih dari 5% tidak dapat diterima. Flebitis paling sering terjadi dalam 24 - 48 jam pertama setelah jalur intravena dilakukan, dan lebih mungkin terjadi ketika tempat penusukan dekat dengan penusukan yang terdahulu. Flebitis dapat berkembang sampai 96 jam setelah infus dihentikan.
Kata kunci: luka infus, oles povidone, plebiti
PENGARUH BERBAGAI PENGATURAN POSISI DUDUK TERHADAP FUNGSI VENTILASI PARU PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK
Pengaturan posisi duduk merupakan tindakan keperawatan pada pasien PPOK. Tindakan tersebut dapat meningkatkan fungsi ventilasi paru pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan pengaruh berbagai pengaturan posisi duduk terhadap fungsi ventilasi paru. Desain penelitian menggunakan quasieksperimen dengan pendekatan pre post test group design. Sampel berjumlah 48 orang. Teknik pengambilan sampelpurposive sampling. Pasien diberikan pengaturan posisi duduk semifowler, fowler, orthopneic, dan tripodmasing-masing 15 menit.Pengujian statistic menggunakan uji T test dependen.Hasil penelitian menunjukkan posisi semifowler tidak berpengaruh terhadap fungsi ventilasi paru ((P=0,487). Posisi fowler, orthopneic, dan tripod berpengaruh fungsi ventilasi paru (P=0,043, P=0,020, P=0,003).Rekomendasi hasil penelitian adalah perawat dapat melakukan pengaturan posisi fowler, orthopneic, atau tripod untuk meningkatkan fungsi ventilasi paru pasien PPOK. Kata kunci: PPOK, semifowler, fowler, orthopneic, tripod, fungsi ventilasi par
HUBUNGAN FAKTOR – FAKTOR RESIKO PNEUMONIA DENGAN TINGKAT KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA
Pneumonia di Indonesia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC. UNICEF dan WHO menyebutkan pneumonia sebagai penyebab kematian anak balita tertinggi. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kejadian Pneumonia pada balita yakni umur < 2 tahun, tingkat sosial ekonomi yang rendah, status imunisasi, kurangnya asupan gizi, berat badan lahir rendah, tidak mendapat ASI yang memadai, kepadatan penghuni, membedong bayi (menyelimuti berlebihan) dan pencemaran udara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya penyakit Pneumonia pada balita. Faktor-faktor yang diteliti meliputi : status gizi, status imunisasi, kepadatan penghuni dan pencemaran udara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan pendekatan cross sectional. Penentuan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik accidental sampling.Pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner yang berisi kolom isian dan analisa data yang digunakan adalah prosentase. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara faktor imunisasi dengan kejadian pneumonia (p=8.275), ada hubungan antara faktor status gizi dengan kejadian pneumonia (p=6.316), tidak ada hubungan antara faktor kepadatan penghuni dengan kejadian pneumonia (p=4.211 < 5,02),ada hubungan antara faktor pencemaran udara dengan kejadian pneumonia (p=12.160,).Simpulan dari hasil penelitian 3 faktor resiko mempunyai hubungan yang cukup kuat dengan nilai p hitung: status gizi dengan p=6.316, status imunisasi dengan p=8.275, dan pencemaran udara dengan p=12.160, sedangkan untuk kepadatan penghuni tidak terdapat hubungan dengan kejadian pneumonia karena nilai p=4.211 < 5,02. Peneliti menyarankan bagi para orang tua diharapkan rajin mengunjungi tempat pelayanan kesehatan agar tidak terjadi kasus pneumonia berulang dan bagi petugas kesehatan agar memberikan informasi yang intensif kepada masyarakat tentang faktor-faktor yang menyebabkan pneumonia.
Kata Kunci: FaktorResiko, Pneumonia, Tingkat Kejadian
GAMBARAN MUTU PELAYANAN PENERIMAAN PASIEN RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT
Sebagai penyedia jasa kesehatan, rumah sakit harus dapat memenuhi kebutuhan pelayanan bagi pasien. Salah satu indikator mutu pelayanan rumah sakit adalah kepuasan pasien. Tempat penerimaan pasien rawat jalan menjadi ujung tombak dari pelayanan rumah sakit, karena di bagian inilah pasien pertama kali mendapatkan pelayanan dari rumah sakit. Dengan pelayanan terbaik, pasien akan merasa senang dan nyaman dilayani di rumah sakit tersebut, tetapi sebaliknya apabila pelayanan yang diberikan kepadanya tidak sesuai harapan dan tidak memuaskan, pasien tersebut mungkin tidak akan berobat lagi ke rumah sakit tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran mutu pelayanan penerimaan pasien rawat jalan di rumah sakit. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif ini dilakukan terhadap pasien rawat jalan di rumah sakit dengan jumlah sampel sebanyak 20 responden dan pengumpulan data dilakukan menggunakan angket. Hasil: Penelitian ini menunjukkan nilai variabel mutu pelayanan penerimaan pasien rawat jalan di rumah sakit menurut persepsi responden adalah sebesar 59,8%. Untuk nilai dimensi yaitu tangible, empaty, realibility, responsiveness, dan assurance, hasilnya secara berurutan adalah 65,31%, 61,25%, 62,9%, 51,25%, dan 46,25%. Kesimpulan: Mutu pelayanan penerimaan pasien rawat jalan di rumah sakit bernilai baik. Saran: Melakukan perubahan ke sistem komputerisasi dalam proses penerimaan pasien, menerapkan Sapa, Senyum, Salam, Sopan dan Santun dalam memberikan pelayanan kesehatan, perluasan ruangan TPPRJ, penyediaan alat-alat kebersihan yang lengkap dan pelatihan bagi petugas pelayanan penerimaan pasien agar pelaksanaannya lebih terarah. Kata Kunci: Pelayanan Rumah Sakit, Mutu, Kepuasan Pasie
THE EFFECTIVENESS OF STUDENTS BEST PHOTOGRAPH PICTURE TECHNIQUE IN TEACHING WRITING DESCRIPTIVE TEXT BY SEEKING THE SIGNIFICANT DIFFERENCE IN STUDENTS' SCORE BEFORE AND AFTER TREATMENT
This paper aims to find out the effectiveness of Students best photograph picture technique in teaching writing descriptive text by seeking the significant difference in students’ scores before and after treatment. The method used by the writer was quasi experimental design. The participants who were involved in the research were the students of SMPN 3 Cileunyi. The samples of this study were two classes: A and B. In collecting the data, the instruments are tests and questionnaire. The pre-test scores was analyzed to measure the students’ ability in writing descriptive text before receiving the treatment. The treatment wasgiven only to the experimental group. The result of post-test was analyzed to find out the scores development after sample receives the treatment. The questionnaire was provided towards the experimental group to know their responses about students’ best photograph technique in teaching writing descriptive text. The t-test was used to compare the values of the means fromtwo examples. With the df = N1 + N2 – 2 = 60 – 2 = 58, at p = .05 0f two tailed (level of significance), the critical value of t is 2.000. From the calculation, the ttest value is 2.173. The writer concluded that t-test is higher than t table (2.173 > 2.000). It means that the null hypothesis is rejected and the alternative hypothesis is accepted that says: There is significance difference betweenstudents’ best photograph technique and the conventional method in teaching writing descriptive text. The result also shows that this technique is effective. Seventy two percent (72%) of students felt comfortable, more easily, and increasing in writing descriptive with students’ best photograph technique in teaching writing descriptive text. This response strengths the effectiveness of students’ best photograph technique in teaching writing descriptive text. The finding of the research shows that students’ best photograph technique can be useful in improving students’ ability in writing descriptive text.