Jurnal Politeknik Negeri Jakarta (PNJ)
Not a member yet
    2322 research outputs found

    Membangun Jiwa Wirausaha Siswa Jurusan Pemasaran Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Baubau Melalui Pelatihan Pemanfaatan Pemanfaatan Pelepah Pisang Menjadi Keripik

    No full text
    The challenge of vocational education is to prepare the workforce in quantity and quality aspects specifically for the needs of various sectors, namely industrial and service sectors. In this era of globalization which is very competitive in various fields of life, it seems that vocational education is very important due to the increasing demand for human resources in the labor market. To help in the preparation Sekolah Menengah Kejuruan (SMK, or vocational high school) students after graduating the school, SMK student skills and knowledge must be improved. The aim of this community engagement is to foster the entrepreneurial spirit of the state vocational school, SMKN 1 Baubau students through training on using banana stems to make chips that can provide added value. The methods used were the first socialization discussing the processing of banana fronds, conducting training on making chips from banana fronds, assisting students in conducting training on banana fronds into chips, and empowering students of SMK Negeri 1 Baubau to shape their souls to become entrepreneurs. The result of this community engagement is to provide new knowledge to students in entrepreneurship, knowing that banana fronds can be a product. In addition, students are able to make chip products more developed in a delicious and useful way, so that they become attractive products for students. This community engagement or service also fosters the entrepreneurial spirit of students from an early age as entrepreneurs. With this banana chip product, students have been able to evolve and innovate it through different flavors. Therefore, this service can also provide training to students to use banana stems to make chips. Tantangan pendidikan kejuruan adalah untuk menyiapkan tenaga kerja baik secara kuantitas dan kualitas untuk keperluan bermacam sektor industri dan jasa. Pada jaman globalisasi yang serba kompetitif di bermacam bidang kehidupan saat ini tampaknya pendidikan kejuruan menjadi sangat penting, mengingat tuntutan sumber kekuatan manusia di pasaran tenaga kerja yang bertambah tinggi. Untuk mempersiapkan lulusan SMK yang memenuhi kualifikasi pasar kerja, maka kompetensi lulusan SMK wajib ditingkatkan. Tujuan PKM ini adalah untuk menumbuhkan jiwa wirausaha siswa SMKN 1 Baubau melalui pelatihan tentang pemanfaatan  pelepah pisang menjadi keripik yang dapat memberi nilai tambah. Metode pengabdian ini yaitu sosialisasi, membahas tentang pengolahan pelepah pisang, melakukan pelatihan pembuatan keripik dari pelepah pisang, pendampingan terhadap siswa dalam melakukan pelatihan pelepah pisang menjadi keripik, pemberdayaan siswa SMK Negeri 1 Baubau agar termotivasi menjadi wirausaha. Hasil pengabdian ini antara lain memberikan pengetahuan baru kepada siswa dalam berwirausha pelepah pisang dapat dijadikan produk. Setelah itu, siswa mampu membuat produk keripik lebih dikembangkan dengan nikmat dan bermanfaat, sehingga menjadi produk yang menarik dan menjadi peluang berwirausaha. Pengabdian ini juga memupuk jiwa wirausaha siswa sejak dini sebagai wirausaha. Adanya produk keripik pisang ini, siswa telah mampu berevolusi dan berinovasi dengan rasa yang berbeda. Oleh karena itu, pengabdian ini juga dapat memberikan pelatihan atau pengetahuan kepada siswa untuk memanfaatkan pelepah pisang menjadi keripik.ABSTRAK Tantangan pendidikan kejuruan adalah untuk mempersiapkan tenaga kerja didalam kuantitas dan kualitas spesifik cocok bersama keperluan bermacam sektor, lebih-lebih sektor industri dan jasa. Pada jaman globalisasi yang serba kompetitif di bermacam bidang kehidupan ini tampaknya pendidikan kejuruan jadi sangat penting, mengingat tuntutan sumber kekuatan manusia di pasaran tenaga kerja yang tambah tinggi. Untuk mempersiapkan lulusan SMK yang memenuhi kualifikasi pasar kerja, maka kompetensi lulusan. SMK wajib konsisten diperbaiki atau ditingkatkan. Tujuan PKM ini adalah untuk menumbuhkan jiwa wirausaha siswa SMKN 1 Baubau melalui pelatihan tentang pemanfaatan  pelepah pisang untuk menjadi keripik yang dapat memberi nilai tambah. Hasil dari PKM ini yaitu mampu membangun jiwa wirausaha siswa, meningkatkan potensi siswa pemasaran dalam berwirausaha. Mampu memanfaatkan pelepah pohon pisang sebagai salah satu membangunkan jiwa siswa untuk menjadi seorang wirausaha agar bisa mandiri dan mampu menciptakan generasi yang mandiri dan memiliki kreativitas. Pemberdayaan dapat di rasakan langsung oleh siswa dapat dilakukan terus menerus, sehingga  mereka memiliki kesadaran bahwa mereka mampu membangun jiwanya dengan melihat banyak potensi sumber daya alam yang ada disekitarnya salah satunya pelepah pisang bisa mereka manfatkan.   &nbsp

    Pengaruh self-efficacy, controllability dan norma subjektif terhadap intensi whistleblowing

    Get PDF
    This study aims to examine the effect of Self Efficacy, Controllability and Subjective Norms on Whistleblowing Intentions. This study used a sample of employees who worked at Harapan Hospital, Magelang City. The number of samples in this study were 113 respondents. The sample selection was carried out using a non-probability sample selection method, namely purposive sampling. Testing the hypothesis in this study using multiple linear regression. The results of the study show that Self Efficacy has a positive effect on Whistleblowing Intentions, while the Controllability variables and Subjective Norms have no effect on Whistleblowing Intentions.Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Self Efficacy, Controllability dan Norma Subjektif Terhadap Intensi Whistleblowing. Penelitian ini menggunakan sampel pegawai yang bekerja di Rumah Sakit Harapan Kota Magelang. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 113 responden. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan metode pemilihan sampel non-probabilitas yaitu dengan pemilihan sampel bertujuan (purposive sampling). Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukan Self Efficacy berpengaruh positif terhadap Intensi Whistleblowing, sedangkan variabel Controllability dan Norma Subjektif tidak memiliki pengaruh terhadap Intensi Whistleblowing

    Estimation Of Disharge Coefficient On Weir Configuration Based On Flow Rate And Velocity

    Get PDF
    The development of water treatment and water resources considers the flow rate adjusted using a weir. Weir is designed with many hydraulic factors, including the coefficient of discharge (Cd). Characteristics of the value of Cd show a decreasing trend on triangular and rectangular weirs. The value of Cd varies based on the flow's characteristics and the channel's geometry. Estimation of the best Cd value in flow discharge engineering and sediment deposition is necessary to know the accuracy of weir geometry. Some plans in water treatment and water resource building sometimes assume a Cd value based on literature. This study aims to estimate the value of Cd based on variations in flow rate and was conducted on a laboratory scale with weir shape limitations in the form of triangles and rectangles. The water sample was discharged by a water pump into an open channel. The angle of the weir opening was determined for the rectangular and triangular weir of 90°. Flow monitoring included flow discharge through the use of a current meter. Water was recycled in each measurement with a total of 60 cycles. The Cd values in a triangular weir were greater than in a rectangular weir. The Cd values for the rectangular weir ranged from 0.068 to 0.089, while the Cd values for the triangular weir ranged from 0.557 to 0.598. This value indicated that the greater the flow rate, the lower the Cd value. Therefore, weir configuration of water discharged using a triangular weir was better than a rectangular weir at low flow rates, less than 0.05 m3/s

    Analisa dan Perbaikan Kerusakan Cutter Mesin Milling F4.04

    Get PDF
    Failure studies on the F4.04 milling machine cutter that frequently occur in the manufacturing industry have been conducted using applied failure analysis and repair methods. This study aims to analyze the damage to the F4.04 milling machine cutter and carry out repairs according to existing standards. The analysis of the root causes of damage and appropriate repairs is expected to enhance efficiency, productivity, and reduce production costs in the manufacturing industry. This analysis describes the results of visual observations of damage to the cutter in the form of fractures at the edges and surface wear. Fractures at the cutter edges appear irregularly, caused by excessive cutting loads. Excessive cutting loads result from improper feed speeds and excessive cutting depths. Process instability also contributes to cutter damage. Excessive vibration in the milling machine generates impacts or collisions that damage the cutter and accelerate wear. Excessive cutting loads and cutting instability are initiated by damage to bearing components and the use of non-standard V-belt sizes. This study provides a better understanding of the types of cutter damage and influencing factors, which can be utilized to enhance cutting efficiency and cutter lifespan. It is expected that this study will contribute to identifying the exact causes of damage and designing appropriate repairs, thereby improving production quality, and reducing the risk of damage to F4.04 milling machines in the future.Studi kerusakan pada pisau (cutter) mesin milling F4.04 yang sering terjadi dalam industri manufaktur telah dilakukan menggunakan metode analisa kerusakan dan perbaikan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kerusakan pada cutter mesin milling F4.04 dan melakukan perbaikan sesuai dengan standarisasi yang ada. Analisis penyebab kerusakan yang tepat dan perbaikan yang sesuai diharapkan dapat meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan mengurangi biaya produksi di industri manufaktur. Analisa ini menggambarkan hasil pengamatan visual terhadap kerusakan pada cutter dalam bentuk patahan pada ujung-ujung dan keausan permukaan. Patahan pada ujung cutter terlihat secara tidak teratur, disebabkan oleh beban pemotongan yang berlebihan. Beban pemotongan berlebih diakibatkan oleh kecepatan pemakanan yang tidak sesuai, dan kedalaman potong yang berlebihan. Ketidakstabilan proses pemotongan juga berkontribusi pada kerusakan cutter. Vibrasi berlebihan pada mesin milling menghasilkan impak atau benturan yang merusak cutter dan mempercepat keausan. Beban pemotongan yang berlebihan dan ketidakstabilan pemotongan diinisiasi oleh kerusakan komponen bearing dan tidak standart ukuran V-belt yang digunakan. Studi ini memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai jenis kerusakan cutter dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi pemotongan dan masa pakai cutter. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam mengidentifikasi penyebab kerusakan yang tepat dan merancang perbaikan yang sesuai, sehingga kualitas produksi dapat ditingkatkan dan risiko kerusakan dapat dikurangi pada mesin milling F4.04 di masa depan.

    Analisis Pengendalian Kualitas Produk Reinforcement Suspension Member Menggunakan Metode Six Sigma

    Get PDF
    Customer satisfaction is the main requirement that must be provided by companies with products that meet the specified specifications, and quality is also a crucial factor in supporting customer satisfaction. The problem identified in this study is the occurrence of defects in reinforcement suspension member products that exceed the company's defect tolerance limit of 0.1%. The aim of this study is to analyze the causes of defects using the Six Sigma method with the DMAIC steps (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control), and to propose improvements to address the number of defects that occur. Some of the tools used in this study are the fishbone diagram and the P control chart. The results of this study indicate that the factors causing the failures are the method and environment factors. Meanwhile, the data processing resulted in a DPMO of 2745.21 with a sigma level of 4.28 a process capability index (Cp) of 1.43, and an average defective product rate of 0.28% with a total of 392 defective pieces, while the company's defect tolerance limit is 0.1%. Therefore, the company needs to implement quality control by making improvements to the method and environment factors.Kepuasan pelanggan merupakan syarat utama yang harus diberikan oleh perusahaan dengan produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang sudah ditetapkan, dan juga kualitas menjadi faktor yang sangat mendukung terhadap kepuasan pelanggan. Permasalahan  yang  ditemukan pada penelitian ini adalah adanya cacat yang terjadi pada produk reinforcement suspension member yang melebihi batas toleransi cacat perusahaan sebesar 0,1%. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis penyebab terjadinya cacat menggunakan metode six sigma dengan tahapan DMAIC (define, measure, analyze, improve, ,dan control), dan memberikan usulan perbaikan untuk untuk menanggulangi jumlah cacat yang terjadi. Beberapa tool yang digunakan pada peneilitan ini adalah fishbone diagram dan peta kontrol P. Hasil penelitian ini adalah bahwa faktor yang menjadi penyebab kegagalan adalah faktor methode dan faktor environoment. Sementara hasil pengolahan data diperoleh DPMO sebesar 2745,21 dengan level sigma 4,28 serta perolehan nilai kapabilitas proses (Cp) 1,43, serta rata-rata produk cacat sebesar 0,28% dengan jumlah cacat 392 pcs sementara batas toleransi cacat perusahaan adalah 0,1%. Sehingga perusahaan perlu melakukan pengendalian kualitas dengan melakukan perbaikan pada faktor methode dan faktor environment

    Stabilisasi Densitas Filamen dari Komposit LLDPE-Karbon Mikro melalui Rancang Bangun Kanal Spider Leg

    Get PDF
    Proses Melt Blending telah berhasil dikembangkan untuk membuat filamen 3DP dari bahan polimer. Percobaan dilakukan dengan mesin ekstrusi single screw kapasitas laboratorium. Modifikasi dilakukan dengan perancangan spider leg channel. Tools tersebut digunakan untuk mendapatkan campuran yang lebih homogen dalam fasa liquid di dalam ruang Extruder Head. Selain itu juga untuk mendapatkan tingkat kompresi selama pembentukan filamen di ruang nozzle. Percobaan dilakukan dengan mengunakan variasi filler pada komposit polimer karbon, yaitu komposit polimer karbon mikro dan komposit polimer grafit. Kedua variasi dibuat dengan komposisi berat yang sama 50:50. Untuk ukuran partikel karbon mikro digunakan mesh #200. Material polimer Linear Low Density Polyethylene/LLDPE digunakan sebagai matriks dengan ukuran mesh #40. Pada komposit polimer karbon mikro, diperoleh densitas yang relatif stabil pada temperatur setting untuk extruder head 110°C. Untuk komposit polimer grafit pembentukan filamen dengan kepadatan seragam belum berhasil diperoleh pada temperatur 110°C. Dalam kondisi kepadatan tersebut, konduktifitas listrik komposit dengan filler karbon mikro dan grafit menunjukkan fenomena perubahan yang mirip. Nilai konduktifitas listrik maksimal diperoleh pada area kanal spider leg dari extruder head. Karbon mikro sebagai filler lebih sensitif terhadap pemanasan dibandingkan dengan grafit, dan penggunaan mesin ekstrusi single screw hanya dapat dicapai dengan penambahan tools berupa extruder head

    Analisis Energi pada Mesin Pembeku Sebelum dan Setelah Penambahan Receiver

    Get PDF
    Freezing machine is a tool that is widely used to maintain the quality of food ingredients. However, freezing technology requires more energy than other preservation technologies, therefore an energy-efficient freezer is required. The aim of this research is to study and determine the freezing process energy in a freezer using a receiver and without a receiver. This article reports a comparison of the energy used in a receiverless freezer and a receiver freezer, using R404A working fluid. Each to cool and freeze 1 kg of mass water for 180 minutes. The receiver is placed between the condenser and the filter dryer in the freezer system circuit. As a result, the freezer without a receiver has a COP of 2.55, and the highest use of electrical energy consumption is 1.90 [kWh] or the average electric power of the compressor drive is 634.4 [W]. While the use of electrical energy consumption in a freezer without a receiver is low at 1.01 kWh or the average electric power of the compressor drive is 335.7 [W]. Thus, the freezer using a receiver is 47% more efficient than a freezer without a receiver, the other result is that the water-ice temperature can reach -31oC lower than -14oC. This shows that the performance of the freezer with receiver is better than the freezer without receiver.Mesin pembekuan merupakan alat yang banyak digunakan untuk menjaga kualitas bahan makanan. Namun teknologi pembekuan membutuhkan lebih banyak energi daripada teknologi pengawetan lainnya, karena itu diperlukan mesin pembeku yang hemat energi. Tujuan penelitian adalah mengkaji dan mentukan energi proses pembekuan pada mesin pembeku menggunakan receiver dan tanpa receive. Artikel ini melaporkan perbandingan energi yang digunakan pada mesin pembeku tanpa receiver dan mesin pembeku dengan receiver, menggunakan fluida kerja R404A. Masing-masing untuk mendinginkan dan membekukan air masa 1 kg selama 180 menit. Receiver diletakkan antara kondensor dengan filter dryer pada rangkaian sistem mesin pembeku. Hasilnya, mesin pembeku tanpa receiver memiliki COP 2.55, dan penggunaan konsumsi energi listrik paling tinggi 1.90 [kWh] atau daya listrik rata-rata penggerak kompresor 634.4 [W]. Sedang penggunaan konsumsi energi listrik pada mesin pembeku tanpa receiver rendah 1.01 kWh atau daya listrik rata-rata penggerak kompresor 335.7 [W]. Dengan demikian mesin pembeku menggunakan receiver 47% lebih hemat dibanding mesin pembeku tanpa receiver, hasil lainnya suhu air-es dapat mencapai lebih rendah -31oC dibanding -14oC. Hal ini menunjukkan kinerja mesin pembeku dengan receiver lebih baik dengan mesin pembeku tanpa receive

    Mesin Compression Molding Kapasitas 15 Ton untuk Fabrikasi Komposit Peredam Suara

    Get PDF
    Mesin compression molding merupakan alat pencetakan dengan mengkombinasikan pemanasan untuk melelehkan material plastik, serta penekanan untuk membentuk plastik dalam sebuah cetakan yang tertutup. Mesin compression molding dalam aktualnya, hanya diaplikasikan untuk industri mass production,sehingga membuat harga mesin serta biaya produksi mahal dan belum tentu dapat diaplikasikan pada industri rumahan atau Usaha Kecil Menengah (UKM). Penelitian ini bertujuan untuk membangun mesin compression molding untuk fabrikasi komposit peredam suara. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Quality function deployment (QFD) dengan menggunakan tools  House of Quality (HOQ) dalam menentukan kebutuhan konsumen dan spesifikasi teknis. Mekanisme kompresi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan power pack dengan kapasitas tekan 15 ton, dengan sisetm pengeluaran produk menggunakan tuas sesuai dengan prinsip pesawat sederhana. Tekanan yang diperoleh dari mesin compression molding digunakan untuk pembuatan komposit peredam suara dengan penggunaan material limbah ban bekas dan  kain polyester.Mesin compression molding merupakan alat pencetakan dengan mengkombinasikan pemanasan untuk melelehkan material plastik, serta penekanan untuk membentuk plastik dalam sebuah cetakan yang tertutup. Mesin compression molding dalam aktualnya, hanya diaplikasikan untuk industri mass production,sehingga membuat harga mesin serta biaya produksi mahal dan belum tentu dapat diaplikasikan pada industri rumahan atau Usaha Kecil Menengah (UKM). Penelitian ini bertujuan untuk membangun mesin compression molding untuk fabrikasi komposit peredam suara. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Quality function deployment (QFD) dengan menggunakan tools  House of Quality (HOQ) dalam menentukan kebutuhan konsumen dan spesifikasi teknis. Mekanisme kompresi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan power pack dengan kapasitas tekan 15 ton, dengan sisetm pengeluaran produk menggunakan tuas sesuai dengan prinsip pesawat sederhana. Tekanan yang diperoleh dari mesin compression molding digunakan untuk pembuatan komposit peredam suara dengan penggunaan material limbah ban bekas dan  kain polyester

    Analisis Desain Mold Compression Molding untuk Komposit Peredam Suara Diameter Dua Inci

    Get PDF
    Limbah produk berbahan dasar karet sintetik dan polyester sangat sulit diurai secara alami sehingga dapat mencemari lingkungan. Solusi untuk menekan jumlah limbah tersebut yaitu mendaur ulang untuk dibentuk kembali menjadi produk lain contohnya sebagai bahan baku pembuatan komposit peredam suara dengan metode compression molding. Metode compression molding membutuhkan sebuah mold (cetakan) untuk membentuk produknya sehingga tujuan penelitian ini adalah membuat sebuah mold untuk metode compression molding. Mold cavity yang dibuat dengan material S45C memiliki dimensi diameter dalam 52,3 mm dan diameter luar 71 mm dengan tinggi 75 mm serta menggunakan sambungan baut agar dapat dilepas pasang pada base plate dengan material SS400 berukuran 250x210x35 mm. Upper punch dengan material S45C berdiameter 52,3 mm dengan tinggi 80 mm serta menggunakan sambungan baut agar dapat dilepas pasang pada upper plate dengan material SS400 berukuran 250x150x20 mm. Produk yang dibentuk berupa kepingan bundar berbahan campuran karet ban dengan serat polyester. Dari hasil percobaan produk dengan visual terbaik dicapai pada parameter suhu 160 °C dan tekanan 12 ton.Limbah produk berbahan dasar karet sintetik dan polyester sangat sulit diurai secara alami sehingga dapat mencemari lingkungan. Solusi untuk menekan jumlah limbah tersebut yaitu mendaur ulang untuk dibentuk kembali menjadi produk lain contohnya sebagai bahan baku pembuatan komposit peredam suara dengan metode compression molding. Metode compression molding membutuhkan sebuah mold (cetakan) untuk membentuk produknya sehingga tujuan penelitian ini adalah membuat sebuah mold untuk metode compression molding. Mold cavity yang dibuat dengan material S45C memiliki dimensi diameter dalam 52,3 mm dan diameter luar 71 mm dengan tinggi 75 mm serta menggunakan sambungan baut agar dapat dilepas pasang pada base plate dengan material SS400 berukuran 250x210x35 mm. Upper punch dengan material S45C berdiameter 52,3 mm dengan tinggi 80 mm serta menggunakan sambungan baut agar dapat dilepas pasang pada upper plate dengan material SS400 berukuran 250x150x20 mm. Produk yang dibentuk berupa kepingan bundar berbahan campuran karet ban dengan serat polyester. Dari hasil percobaan produk dengan visual terbaik dicapai pada parameter suhu 160 °C dan tekanan 12 ton

    PEMBUATAN EDIBLE FILM DARI PATI TAPIOKA DAN PEKTIN DARI KULIT JERUK MANIS (Citrus sinensis) DENGAN PENAMBAHAN PLASTICIZER SORBITOL DAN KITOSAN

    Get PDF
    Penggunaan plastik sebagai kebutuhan hidup manusia terus meningkat sehingga menimbulkan masalah utama bagi manusia dan lingkungan karena tidak dapat diperbaharui. Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengembangkan kemasan plastik berbahan dasar alami atau yang biasa dikenal dengan edible film. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi optimal dan menganalisis pengaruh penambahan plasticizer sorbitol dan kitosan terhadap karakteristik sifat fisik, sifat mekanik, dan sifat kimia edible film yang dihasilkan. Metode penelitian ini diawali dengan ekstraksi pektin kulit jeruk manis, pembuatan edible film dari pati tapioka dan pektin dari kulit jeruk manis, dan melakukan pengujian terhadap nilai ketebalan, kuat tarik, persen elongasi, elastisitas (modulus young), uji swelling dan ketahanan air, dan uji kelarutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai optimal edible film untuk ketebalan dan persen elongasi terdapat pada  penambahan konsentrasi sorbitol 1,5 ml dan kitosan 1 ml secara berturut-turut adalah 0,141 mm dan 13,333%. Nilai optimal edible film untuk kuat tarik, modulus young, ketahanan air, dan kelarutan terdapat pada perlakuan sorbitol 1 ml dan kitosan 0,75 ml secara berturut-turut adalah 3,764 Mpa, 0,288 Mpa, 99,147%, dan 27,333%. Nilai optimal uji swelling terdapat pada perlakuan sorbitol 1 ml dan kitosan 0,5 ml sebesar 0,865%. Berdasarkan pengujian Analisis Varians penambahan plasticizer sorbitol dan kitosan dalam penelitian ini tidak memberikan pengaruh terhadap ketebalan, persen elongasi, uji swelling, dan uji kelarutan. Hal ini dikarenakan penambahan kosentrasi sorbitol dan kitosan yang digunakan dalam pembuatan edible film sedikit sehingga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil uji statistik

    2,061

    full texts

    2,322

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Politeknik Negeri Jakarta (PNJ)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇