Jurnal Ilmiah Biologi Eksperimen dan Keanekaragaman Hayati (J-BEKH)
Not a member yet
231 research outputs found
Sort by
KETERKAITAN JUMLAH DAERAH TERMUTASI PADA GEN β-GLOBIN DENGAN INDEKS KORPUSKULAR PEMBAWA SIFAT β-THALASSEMIA
Thalassemia is a genetic disorder caused by point mutations on the globin gene that decrease the corpuscular index in thalassemia carriers. Three to five percent of Indonesians are thalassemia carriers, with β-thalassemia being the most common type. This research aimed to identify the relationship between the number of mutated regions on the β-globin gene and the decrease in corpuscular index among β-thalassemia carriers. Data was collected from 2012 to 2013 in Yogyakarta. Hematological analysis was performed by assessing the corpuscular index, including mean corpuscular volume (MCV), mean corpuscular hemoglobin (MCH), and mean corpuscular hemoglobin concentration (MCHC) at Prodia Laboratory. Molecular analysis was conducted using the polymerase chain reaction-single strand conformation polymorphism (PCR-SSCP) method at the Laboratory of Genetics and Laboratory of Falitma, Biology Faculty, University of Gadjah Mada. Out of a total of 96 individuals screened, there were 9 suspected β-thalassemia carriers with 1 mutated region of the β-globin gene, showing an average MCV of 63.1 fl, MCH of 19.76 pg, and MCHC of 32.34 g/dl. Seven suspected β-thalassemia carriers with 2 mutated regions showed an average MCV of 61.16 fl, MCH of 19.74 pg, and MCHC of 32.3 g/dl. One suspected β-thalassemia carrier with 3 mutated regions showed an average MCV of 64.2 fl, MCH of 19.5 pg, and MCHC of 30.4 g/dl. The number of mutated regions in the β-globin gene was not the main factor affecting the decrease in corpuscular index among β-thalassemia carriers
PERBANDINGAN PERKEMBANGAN LARVA Graphium agamemnon (LEPIDOPTERA: PAPILIONIDAE) PADA BEBERAPA JENIS TANAMAN PAKAN LARVA
Penelitian perbandingan perkembangan larva Graphium agamemnon pada beberapa jenis tanaman pakan larva dilakukan pada bulan Februari-April 2016 di Taman Kupu-kupu Gita Persada Lampung untuk mengetahui perbandingan perkembangan larva pada enam jenis tanaman dan mengetahui tanaman yang paling baik digunakan dalam perkembangan larva. Penelitian menggunakan metode rancangan acak kelompok dengan 10 kali pengulangan. Lima pasang kupu-kupu G. agamemnon dilepaskan dalam kandang penangkaran untuk mendapatkan telur. Setelah menetas, larva G. agamemnon dikembangkan pada daun enam jenis tanaman pakan larva yaitu sirih hutan (Piper aduncum), cempaka (Michelia champaca), sirsak (Annona muricata), alpukat (Persea americana), glodokan (Polyalthia longifolia), dan srikaya (Annona squamosa). Parameter yang diukur adalah panjang tubuh, berat tubuh, lebar kepala, dan lama waktu untuk menjadi pupa. Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan menggunakan ANARA yang dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf nyata 5 %, dengan bantuan program SPSS versi 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan perkembangan larva G. agamemnon pada enam jenis tanaman pakan larva. Pada instar dua dan instar tiga, pertumbuhan panjang dan berat larva pada tanaman sirih hutan lebih baik dari pada larva pada tanaman pakan yang lainnya. Lama waktu perkembangan yang dibutuhkan larva menjadi pupa paling cepat adalah 17 hari yaitu pada tanaman sirih hutan
PREVALENSI PROTOZOA USUS PADA KUKANG SUMATERA (Nycticebus coucang) MELALUI PENGGUNAAN BERBAGAI MACAM MEDIA PENGAWET DAN KONSENTRASI BERBEDA DI PUSAT REHABILITASI YIARI CIAPUS, BOGOR
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis protozoa, jumlah ookista dan prevalensi kukang sumatera (Nycticebus coucang) yang terinfeksi protozoa usus dengan menggunakan berbagai macam media pengawet dan konsentrasi berbeda. Penelitian ini dilakukan pada lima ekor kukang sumatera. Pengambilan sampel dilakukan pada malam hari dan diawetkan pada berbagai macam media kontrol (tanpa larutan), alkohol 70%, alkohol 80%, formalin 5%, dan formalin 10%. Penelitian ini menggunakan dua metode yaitu metode pemeriksaan natif dan metode apung. Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Diagnostik, YIARI dan Laboratorium Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung. Hasil pemeriksaan dengan metode natif diperoleh dua kelompok protozoa yaitu protozoa parasitik dan protozoa non parasitik. Protozoa parasitik diperoleh tiga famili yaitu Eimeriidae, Endamobidae, dan Balantiidae dengan empat jenis yaitu Isospora sp., Cryptosporidium parvum, Entamoeba coli, dan Balantidium coli. Sedangkan hasil identifikasi Protozoa non parasitik hanya ditemukan famili Oxytrichidae dengan satu jenis yaitu Oxytricha granulifera. Hasil perhitungan dengan metode apung diperoleh ookista Eimeria sp. dengan jumlah 200 sel/gram. Prevalensi protozoa usus melalui penggunaan berbagai macam media dan konsentrasi berbeda pada kukang sumatera yaitu 2% pada kontrol, 9,2% pada alkohol 70%, 13% pada alkohol 80%, 5,8% pada formalin 5%, dan 5,4% pada formalin 10%. Media alkohol 80% menjadi rekomendasi paling bagus sebagai media pengawet protozoa usus dibandingkan dengan alkohol 70%, formalin 5%, dan formalin 10%
PENGARUH EKSTRAK AIR DAUN BABANDOTAN (Ageratum conyzoides) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annuum L.)
Babandotan (Ageratum conyzoides) mengandung senyawa alelopati yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak air daun Ageratum conyzoides mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) Penelitian ini dilaksanakan bulan Juni sampai Juli 2016 di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, Jurusan Biologi, Universitas Lampung. Variabel dalam penelitian ini adalah tinggi, berat segar, berat kering, kadar air relatif, dan kandungan klorofil total tanaman cabai merah, sedangkan sebagai parameter adalah nilai tengah semua variabel. Penelitian dilakukan dalam rancangan acak lengkap dengan faktor utama adalah ekstrak air daun babandotan dengan 5 taraf konsentrasi yaitu 0% v/v (kontrol), 25% v/v, 50% v/v, 75% v/v, 100% v/v. Analisis ragam dan uji BNT dilakukan pada taraf nyata 5 %. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak air daun babandotan menurunkan secara nyata tinggi tanaman (y= -0.022x + 10.12 R2=0.706), berat segar tanaman (y= -0.184x + 34.49 R2=0.932), berat kering tanaman (y= -0.14x + 21.09 R2=0.819), namun meningkatkan kadar air relatif (y= -0.136x + 39.26 R2=0.410). Tidak ada efek ekstrak air daun babandotan terhadap kandungan klorofil total. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ekstrak air daun babandotan bersifat alelopati terhadap tanaman cabai merah yaitu menghambat pertumbuhan tanaman cabai merah
STRUKTUR TULANG BELAKANG FETUS MENCIT (Mus musculus L.) SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL RIMPANG TEKI (Cyperus rotundus L.)
PERBANDINGAN PUPASI DUA JENIS KUPU-KUPU Troides helena DAN Pachliopta aristolochiae (LEPIDOPTERA: PAPILIONIDAE)
T. helena dan P. aristolochiae merupakan spesies kupu-kupu yang memakan tanaman pakan yang sama (Aristolochia tagala) pada fase larva. Ketika akan memasuki fase pupa, larva kupu-kupu T. helena dan P. aristolochiae mengalami pupasi yang diawali dengan aktifnya hormon prothoracicotropic (PTTH) yang memicu larva untuk berhenti makan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tahapan dan waktu yang dibutuhkan dari awal pupasi hingga terbentuk pupa dari dua jenis kupu-kupu. Penelitian dilakukan pada bulan Januari 2016 di Taman Kupu-kupu Gita Persada Lampung. Sepuluh larva instar terakhir T. helena dan P. aristolochiae hasil penangkaran diamati aktivitasnya setiap satu jam hingga terbentuk pupa, serta pengukuran panjang benang dan penimbangan berat pupa. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, uji t (Independent Sample Test), dan analisis korelasi untuk panjang benang dan berat pupa. Hasil menunjukkan bahwa pada awal memasuki pupasi, larva instar terakhir T. helena dan P. aristolochiae memiliki aktivitas yang sama, yaitu berhenti makan dan mencari tempat yang cocok yang akan digunakan sebagai tempat menggantung. Larva memendekkan tubuhnya, membuat benang, menggantung dan kemudian membentuk pupa. Pembuatan benang T. helena dan P. aristolochiae terjadi pada malam hari. Hasil analisis uji t menunjukkan bahwa rata-rata lama pupasi kupu-kupu T. helena dan P. aristolochiae berbeda nyata ( < 0,03), rata- rata pupasi T. helena 4,8 jam lebih lama dibandingkan P. aristolochiae. Adanya korelasi positif antara panjang benang dan berat dengan nilai r T. helena : 0,94 dan r P. aristolochiae : 0, 6
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK RIMPANG RUMPUT TEKI (Cyperus rotundus L.) DENGAN OBAT IMODIUM TERHADAP ANTIDIARE PADA MENCIT (Mus musculus L.) JANTAN YANG DIINDUKSI OLEUM RICINI
Diare merupakan pengeluaran feses cair berulang kali atau lebih dari tiga kali sehari. Penyebab diare bermacam-macam, antara lain adanya infeksi virus, infeksi bakteri, makanan basi, beracun atau alergi terhadap makanan. Zat aktif kimia yang terdapat dalam rimpang rumput teki (C. rotundus L.) teki antara lain: alkaloid, flavonoid, tanin, pati, glikosida serta secara farmakologi rimpang teki mengandung senyawa antidiare sedangkan obat imodium merupakan obat kimia yang dapat mengatasi penyakit diare. Dengan adanya berbagai zat kimia tersebut maka dilakukan penelitian mengenai uji efektivitas ekstrak rimpang rumput teki (C. rotundus L.) dengan obat imodium untuk mencegah terjadinya diare. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Lampung pada bulan April-Juni 2016. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas ekstrak rimpang rumput teki dengan obat imodium dalam upaya menurunkan diare. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan, kontrol negatif, diberi 0,4 ml /40 gr BB aquabides (A), dosis ekstrak rumput teki 4,5 mg/ 40 gr BB dalam 0,4ml/100 grBB aquabides (B), dosis ekstrak rumput teki 45 mg/40 grBB dalam 0,4ml/100 gr BB aquabides (C), dosis ekstrak rumput teki 135 mg/40 grBB dalam 0,4ml/100 gr BB aquabides (D), dosis obat antidiare dengan dosis 0,4 mg dalam 0,4 ml/100 gr BB aquabides (E). Kesimpulan penelitian ini adalah ekstrak rimpang rumput teki (C. rotundus L.) dengan dosis 135 mg/40 grBB dapat menunjukkan adanya khasiat antidiare, tetapi efeknya lebih kecil dibandingkan dengan obat imodium (Loperamide). Hal ini disebabkan karena di dalam rimpang rumput teki terkandung senyawa flavonoid dan alkaloid sebagai senyawa antidiare pada mencit
KOMBINASI KOTORAN TERNAK (AYAM, KAMBING, DAN KUDA) SEBAGAI MEDIA KULTUR PERTUMBUHAN Daphnia sp.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan populasi dan laju pertumbuhan Daphnia sp. pada beberapa media yang menggunakan kotoran ayam, kotoran kuda, kotoran kambing, dan kombinasi kotoran tersebut serta mengetahui media kultur terbaik dalam menunjang peningkatan populasi Daphnia sp. Disamping itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kepadatan fitoplankton media dengan kepadatan Daphnia sp. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari enam perlakuan yang diulang 3 kali, yaitu P1: kotoran ayam 100%, P2: kotoran kambing 100%, P3: kotoran kuda 100%, P4: kotoran ayam 50% + kotoran kambing 25% + kotoran kuda 25%, P5: kotoran kambing 50% + kotoran ayam 25% + kotoran kuda 25%, P6: kotoran kuda 50% + kotoran ayam 25% + kotoran kambing 25%. Parameter yang diamati adalah kepadatan populasi Daphnia sp., laju pertumbuhan populasi spesifik, pertumbuhan fitoplankton sebagai pakan Daphnia sp., uji proksimat (kotoran ayam, kambing, kuda, dan kombinasinya), dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kotoran ternak (ayam, kambing, dan kuda) memberikan pengaruh yang nyata terhadap kepadatan populasi Daphnia sp. (p<0,05) serta berpengaruh nyata juga terhadap laju pertumbuhan populasi spesifik Daphnia sp. (p<0,05). Perlakuan P4 kombinasi kotoran ayam 50% + kotoran kambing 25% + kotoran kuda 25% menghasilkan kepadatan puncak populasi Daphnia sp. terbaik sebesar 1.840 individu/L dan laju pertumbuhan populasi spesifik sebesar 56,51%/hari
LAJU PERTUMBUHAN Oithona sp. YANG DIBERI PAKAN ALAMI Nannochloropsis sp., Isochrysis sp., DAN KOMBINASINYA
Peningkatan produksi perikanan adalah dengan memperhatikan kualitas pakan ikan pada fase larva. Salah satu jenis pakan alami yang dipergunakan antara lain Oithona sp. karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan ikan. Untuk meningkatkan produktivitas Oithona dibutuhkan pakan yang berkualitas seperti mikroalga. Mikroalga yang banyak digunakan sebagai pakan alami zooplankton diantaranya Nannochloropsis sp. dan Isochrysis sp. karena kandungan nutrisinya yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju pertumbuhan Oithona sp. yang diberi pakan alami Nannochloropsis sp. (N), Isochrysis sp. (Is) dan kombinasinya. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2016 – April 2016 di Laboratorium Akuatik, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (N 100% ; N 75% dan Is 25% ; N 50% dan Is 50% ; N 25% dan Is 75% : Is 100%), dan diulang 4 kali. Data dianalisis ragam (ANOVA) dan diuji lanjut dengan uji beda nyata terkecil (BNT) pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan alami Nannochloropsis sp. 75% dan Isochrysis sp. 25% memberikan hasil kepadatan puncak populasi Oithona sp yang paling tinggi yaitu 215 ind/L dan laju pertumbuhan tertinggi 5,08%/hari
DIVERSITAS PHYTOTELMATA DI BEBERAPA WILAYAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE DI PROVINSI LAMPUNG, INDONESIA
Provinsi Lampung termasuk wilayah yang subur dan kaya akan keanekaragaman tumbuhan termasuk tumbuhan golongan phytotelmata. Phytotelmata adalah tumbuhan yang dapat menampung genangan air pada organ atau bagian tubuhnya, yang dimanfaatkan oleh berbagai organisme sebagai tempat berkembang biak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas phytotelmata di beberapa wilayah endemis Demam Berdarah Dengue di Provinsi Lampung. Hasil penelitian menunjukkan ditemukan 18 jenis phytotelmata yang termasuk ke dalam 14 famili tumbuhan meliputi Araceae, Arecaceae, Asparagaceae, Bromeliaceae, Costaceae, Euphorbiaceae, Gnetaceae, Malvaceae, Oxylidaceae, Musaceae, Oxylidaceae, Pandanaceae, Poaceae,Ruscaceae, dan Sapindaceae; ditemukan enam tipe phytotelmata yaitu: tipe kelopak daun (KD), lobang akar (LA), lobang pohon (LP), kelopak bunga (KB), lobang buah (LB) dan tunggul bambu (TG). Volume genangan air yang paling banyak ditemukan pada tipe lobang buah yaitu jenis Cocos nucifera (50-60 ml); tipe tunggul bambu yaitu pada jenis Bambusa sp.(80-95 ml)