Journal of Islamic Education Research
Not a member yet
49 research outputs found
Sort by
Strategi Pembelajaran Shalat oleh Guru Penddidikan Agama Islam Terhadap Anak Tunadaksa di SDLB Negeri Pangkalpinang
The focus of the study is on the Islamic religious education strategy for disabled children. Disabled children are those with orthopedic disorders or disorders of normal function in bones, muscles, and joints because of congenital birth, illness, or accident. So that any movement or walking is necessary. Physical disability of disabled children causes them to go through obstacles to performing the prayers. With disabilities different from other children, the education teachers of Islam guide disabled children in performing prayers. The study aims to describe the learning strategy and to provide more information about the weaknesses and strengths of the learning strategy used by the Islamic religious education teacher. The study uses descriptive types of qualitative research. Data is obtained through methods of interviews, observation, and documentation. Research shows that the strategy used by the Islamic education teacher in The State SDLB of Pangkalpinang is a factually, contextual, and cooperative learning strategy. The weaknesses of these three strategies are that they cannot be used to students with hearing problems, teachers must be more intense in their guidance, and implementation requires considerable time. The advantage is that teachers can control the sequence and the broadness of the material, the study is more fun and less boring, and communicate with others
Kesadaran Beribadah Shalat Dhuhur Siswa Kelas X IPS dan Upaya Meningkatkannya di SMA Muhammadiyah 1 Palembang
This research is intended to describe the religious consciousness of the praying dhuhr of students and the attempt to elevate it. This method of research involves qualitative work. Research data obtained from an Islamic religious teacher and student notebooks. The data analysis technique used that classifies, combines, interprets, and concludes. The study yielded the following conclusions: 1. The religious consciousness of praying dhuhr of students X IPS class at Muhammadiyah school 1 of Palembang was divided into a) a student whose consciousness was very good/good, b) a student of sufficient self-awareness and c) students who had poor spiritual awareness and still needed much improvement. The factors of student awareness in worship are due to a) Internal factor that is the factor comes from within the student; b). external factors such as family, school factors, and community factors. 2. Teacher PAI's role in raising awareness of worship the dhuhr student prayer, which is: a) acts as a teacher; b). acts as a tutor; c) acts as a leader; d) played the scientist; e) acts as a link; f) acting as a renewal. The role is performed by teachers supported by way: a) breeding; b. motivation; c. example; d. awareness; and e. surveillance
Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 3 Kuripan
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendidikan yang setiap tahunnya berubah dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman menuntut semua pihak terutama guru untuk meningkatkan kompetensinya. Karena guru merupakan komponen utama dalam sistem pendidikan Guru dalam proses belajar mengajar memiliki peranan yang sangat penting sebagai upaya untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa.oleh karena itu guru harus memiliki kompetensi dalam mengajar yang merupakan kecakapan atau keterampilan dalam mengelola kegiatan pembelajaran. Dengan demikian tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tentang kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, kesulitan guru dalam pembelajaran dan solusi guru untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam kelas VII di SMP Negeri 3 Kuripan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yang mana data diperoleh melalui metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun metode analisis data bersifat induktif yaitu mereduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Kompetensi pedagogik guru dalam pembelajaran pendidikan agama Islam sudah cukup baik yang meliputi: a) Kemampuan memahami peserta didik. b) Kemampuan merancang pembelajaran. c) Kemampuan melaksanakan pembelajaran yang mendidik dan dialogis. d) Kemampuan melakukan evaluasi. e) Kemampuan mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki. 2) Kesulitan dalam pembelajaran yang meliputi: a) Kemampuan daya serap peserta didik yang berbeda-beda. b) Kurangnya minat belajar siswa. c) Kurangnya perhatian orang tua terhadap belajar anak. d) Kurangnya fasilitas yang tersedia di sekolah. 3) Solusi untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran yaitu: a) Memberikan pendekatan khusus dan remedial bagi siswa yang lamban menerima materi dan memberikan materi lanjutan bagi siswa yang cepat paham. b) Memberikan motivasi atau dorongan. c) Bekerja sama dengan orang tua wali. d) Memanfaatkan media yang ada
Realitas Pesantren dan Kebijakan Pendidikan Islam dalam Perspektif Hegemoni Antonio Gramsci
Sigfinifikansi tulisan ini berupaya untuk mengkonseptualisasi proses hegemoni dalam penetapan kebijakan pendidikan pesantren di Indonesia dan peran elit pesantren (intelektual organik) sebagai suatu kelompok yang kontra hegemonik terhadap kelompok kepentingan dalam tubuh pemerintahan. Tulisan ini diangkat untuk memberikan sumbangan pemikiran terkait konsep mengenai politik kebijakan pendidikan Islam, hegemoni dan kontra hegemoni dalam kebijakan pendidikan Islam agar dapat dikaji dan dikembangkan ke arah yang lebih komprehensif dan holisitik. Perspektif Hegemoni dari Antonio Gramsci dipakai untuk menganalisis apa ayang terjadi dalam proses munculnya kebijakan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan instrumen utama dokumentasi, penulis melihat telah terjadi rangkaian hegemoni dan kontra hegemoni yang kompromistik antara pemerintah dan pesantren. Meskipun model kompromistik ini bukan hal baru dalam penetapan kebijakan, namun model kompromi yang dianut lebih cenderung radikal karena pemerintah memberikan kebebasan yang luas terhadap bentuk maupun model sistem pendidikan pesantren
Penerapan Metode Role Playing untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Fiqih di MTsN Rarangjami Tasikmalaya
Pembelajaran Fiqih di MTsN Rarangjami Tasikmalaya masih didominasi oleh metode ceramah atau ekspositori. Metode ini tidak banyak mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa untuk memecahkan suatu masalah di sekitarnya dan tidak memotivasi siswa untuk berperan secara aktif dalam pembelajaran, sehingga kualitas pembelajaran rendah dan prestasi belajar siswa juga rendah. Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut diatas adalah penerapan metode Role Playing dalam pembelajaran Fiqih. Mengingat hal tersebut di atas, penulis mencoba meneliti tentang penerapan metode Role Playing sebagai salah satu cara untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dan prestasi belajar siswa. Fokus penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa dan prestasi belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode Role Playing. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri atas 2 siklus dengan 4 kali tatap muka, dengan subjek penelitian adalah siswa kelas IX A MTsN Rarangjami Tasikmalaya yang berjumlah 40 orang. Analisis data kuantitatif dilakukan secara deskriptif dengan teknik ketuntasan belajar dan teknik kategorisasi, dan data kualitatif yang merupakan data pendukung dianalisis melalui tahapan reduksi data, pemaparan data, dan penyimpulan hasil analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan penerapan metode Role Playing behasil meningkatkan aktivitas belajar dan prestasi belajar siswa Mata Pelajaran Fiqih di MTsN Rarangjami Tasikmalaya. Indikator keberhasilan ini terlihat dari adanya peningkatan aktivitas belajar siswa secara klasikal dari 62% pada siklus I menjadi 82% pada siklus II, dan peningkatan ketuntasan belajar dari 72,5% pada siklus I menjadi 95% pada siklus II
Transformasi Kepemimpinan: Adaptasi Pesantren Bustanul Ulum Krai Lumajang dalam Menjawab Globalisasi
oai:ojs2.jier.iain-jember.ac.id:article/2Artikel ini hendak melihat problem krusial di pondok pesantren yakni transformasi kepemimpinan. Seperti diketahui, keberadaan pesantren tidak bisa dipisahkan dari Kiai sebagai pendiri, pemilik dan pengasuh pondok pesantren. Keadaan ini menyebabkan kiai menjadi figur sentral di dalamnya. Kiai muncul sebagai sosok yang kharismatik dan cenderung “otoriter”. Namun seringkali muncul problematika dalam proses suksesi kepemimpinannya. Kerapkali para penerus pendiri, tidak memiliki kharisma dan pengaruh yang sama dengan pendahulunya. Keadaan ini membuat pesantren mengalami penurunan kualitas output dan membuat sebagian pesantren gulung tikar. Atas dasar itulah, penulis ingin melihat bagaimana pesantren melakukan perubahan-perubahan pola kepemimpinan. Locus riset di Pondok Pesantren Bustanul Ulum Krai Yosowilangun Lumajang. Pesantren ini sejak berdiri hingga hari ini dapat disebut sebagai pesantren yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari hasil riset ditemukan bahwa untuk menjaga eksistensi pesantren, para penerus melakukan perubahan pola kepemimpinan, dari pola tunggal menjadi kepemimpinan kolektif kolegial dan berbentuk yayasan. Hasilnya, eksistensi pesantren dapat tetap terjaga, dan hingga hari ini pesantren mengalami perkembangan yang cukup maju
Membaca Pendidikan Islam di Era Disrupsi: Perspektif Strukturalisme Transendental
Era disrupsi meniscayakan kehidupan manusia tidak lagi linear dan susah diprediksi. Pilihannya hanya bergerak dengan berinovasi atau diam menjadi penonton. Sebagai salah satu elemen penting Islam, Pendidikan Islam dituntut untuk mampu bertransformasi dan beradaptasi dengan era ini seperti perubahan gaya belajar-mengajar, literasi digital, paradigma berfikir, perilaku pendidik maupun peserta didik hingga manajemen lembaga yang inovatif, liniear dengan dimensi-dimensi teknologi-digital yang tengah terjadi. Problem utamanya adalah upaya tersebut disinyalir akan merubah pendidikan Islam ke arah struktur yang bersifat materialistis. Tulisan ini secara simplifikatif menganalisa pendidikan Islam di era disrupsi dengan menggunakan paradigma strukturalisme transendental yang diperkenalkan oleh Kuntowijoyo. Struktur pendidikan Islam telah memenuhi ciri: 1) totalitas unsur yang dimiliki; 2) perubahan sebagai kekuatan pembentuk struktur, serta; 3) kemandirian sistem
Pembelajaran Literasi Membaca di Pondok Pesantren Sidogiri Kraton Pasuruan
Era teknologi dan informasi mengharuskan penghuninya untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing, pada era tersebut persaingan di segala bidang tak terelakkan dan manusia membutuhkan ketelitian, keteguhan, amanah, tanggung jawab dan berani menghadapi risiko dari berbagai tindakan dan profesi yang menjadi pilihan, peningkatan kompetensi tersebut salah satunya harus dilakukan melalui pengembangan literasi. Realitas mayoritas lulusan pesantren masih banyak yang belum mencapai kompetensi minimal pada ranah kognitif , afektif dan psikomotorik. Hal ini bisa ditelusuri banyaknya lulusan pesantren yang masih belum sepenuhnya menguasai baca kitab, memahami dan menuntaskan materi minimal. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan regulasi dan implementasi pembelajaran literasi membaca di pondok pesantren. Jenis penelitian menggunakan field research, dengan paradigma fenomenologi yang mengambil kasus dua pesantren di Jawa Timur yaitu pesantren Sidogiri . Teknik pengumpulan data menggunakan dept interview, observasi partisipan dan dokumentasi. Dengan uji keabahan data trianggulasi, uji kredibilatas dan perpanjangan keterlibatan, dependabilitas, konfirmabilitas dan transferabilitas data. Hasil penelitian menunjukan bahwa Regulasi pembelajaran literasi membaca di pondok pesantren Sidogiri direncanakan berdasarkan musyarawarah pengurus dengan nama jam belajar dan musyawarah yang kemudian dikonsultasikan kepada pengasuh untuk mendapatkan persetujuan untuk dilaksnakan dan implemenasinya berupa kegiatan jam belajar, musyawarah dan belajar mandiri
Metode Experiental Learning dalam Pembelajaran Akidah Akhlak di SMA An Nuriyyah Bumiayu
Pembelajaran Akidah Akhlak merupakan bagian dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Pembelajaran ini banyak bersentuhan dengan fitrah dan jiwa manusia. Oleh karena itu, pembelajaran Akidah Akhlak termasuk dalam jenis pembelajaran teaching about thinking. Jenis pembelajaran ini diarahkan pada upaya untuk membantu peserta didik agar sadar terhadap proses berfikirnya. Metode pembelajaran yang sesuai untuk jenis pembelajaran seperti ini adalah metode partisipatif, seperti diskusi, simulasi, proyek, dan experiental learning. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan perencanaan dan pelaksanaan metode experiental learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak di SMA An Nuriyyah Bumiayu dan respon peserta didik terhadap mata pelajaran Akidah Akhlak dengan metode experiental learning. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, atau kejadian tertentu dengan data yang bersifat kualiatif. Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data model interaktif, yaitu melalui proses reduksi, penyajian dan verifikasi. Metode experiental learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak di SMA An Nuriyyah Bumiayu ini mampu meningkatkan respon peserta didik terhadap pembelajaran Akidah Akhlak, di antaranya ditampakkan dengan dengan semangat dan antusiasme peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu, metode ini mampu memunculkan kegembiraan sehingga dalam suasana menyenangkan, mata pelajaran Akidah Akhlak dapat menjadi penyejuk dan penguat iman peserta didik