e-Journal Kementerian Sosial RI
Not a member yet
599 research outputs found
Sort by
PENANGANAN DAMPAK SOSIAL PSIKOLOGIS KORBAN BENCANA MERAPI
Hidup di tempat pengungsian yang penuh dengan keterbatasan sering menimbulkan ketidakpastiansampai kapan mereka akan tinggal. Hal ini berkaitan pada kemampuan pemerintah dalam menyediakanpengganti tempat tinggal yang permanen, di samping kemampuan dari korban bencana itu sendiri.Lokasi pengungsian kurang memadai ditinjau dari kepadatan hunian, asupan gizi, sarana MCK, sanitasilingkungan, fasilitas sosial dan fasilitas umum. Kondisi ini dapat menyebabkan pengungsi terutama anakanakdan lansia rawan terhadap penyakit. Ketersediaan tenaga kesehatan, obat-obatan seringkali tidakseimbang dengan jumlah korban bencana yang membutuhkan penanganan kesehatan. Penanganannyaharus dilakukan secara terkoordinir dan terpadu dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, LSM,dunia usaha dan pemerintah terkait. Pada intinya dari hasil wawancara dan observasi pada informandapat disimpulkan bahwa para pengungsi telah ditangani secara fisik, psikis dan sosial. Pemenuhankebutuhan fisik meliputi pemenuhan kebutuhan makan, pakaian, tempat tinggal, pelayanan kesehatan, airbersih dan sarana MCK. Pemenuhan kebutuhan psikis dengan menghilangkan trauma (trauma healing)seperti menghibur, memberikan pembinaan mental psikologis agar tidak jenuh, pelayanan penguatanmental keagamaan, pendidikan dan informasi. Pemenuhan kebutuhan sosial dengan menerima kunjungantamu, advokasi dan fasilitasi kegiatan. Pemenuhan kebutuhan sosial psikologis di pengungsian dapatdikatakan terpenuhi meskipun serba terbatas. Oleh karena itu disarankan kepada pemerintah khususnyaKementerian Sosial dan lembaga terkait, dalam memberikan bantuan kepada korban perlu melakukananalisis kebutuhan agar tepat sasaran. Kepada masyarakat di daerah rawan bencana perlu peningkatankesadaran tentang risiko bencana melalui sosialisasi dan simulasi siaga bencana, agar masyarakatberdaya menghadapi bencana dan risikonya.Kata Kunci: Penanganan, Pengungsi, Korban Bencana Merap
PEMBERDAYAAN KELUARGA MISKIN DI SEKITAR INDUSTRI PERTAMBANGAN ; Di Desa Manduin, Kecamatan Muara Harus, Kabupaten Tabalong
Berbagai upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia telah dilaksanakan selama beberapa dekade, namun jumlah warga miskin relatif masih cukup banyak. Keberadaan mereka tersebar di berbagai daerah, yang secara geografi dibedakan kedalam delapan karakter wilayah antara lain mereka yang berdomisili di sekitar industri pertambangan. Pemberdayaan Keluarga Miskin di sekitar Industri Pertambangan merupakan penelitian kaji laksana dengan pendekatan partisipatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep model pemberdayaan yang disesuaikan dengan kondisi lingkungannya. Data dan informasi dihimpun dari tiga unsur (Public sector, privat sektor, collective action sector) dengan Observasi, diskusi kelompok, wawancara, dan dokumentasi. Dari analisis kualitatif terhadap data dan informasi yang terhimpun di Desa Manduin, diketahui bahwa (1) secara implisit program anti kemiskinan telah terakomodasi dalam pengelolaan industri. (2) pemerintah dan dunia suaha telah ada kesamaan persepsidan komitmen, namun di tingkat implementasinya masih belum berjalan secara sinergis. (3) dalam praktik pemberdayaan pendekatan yang sifatnya charity dapat berdampak ketergantungan kepada pemberi bantuan (4) optimalisasi dari hasil usaha pengembangan sosial ekonomi mengutamakan produk lokal unggulan (5) idealnya pemberdayaan keluarga miskin dilaksanakan secara komprehensif (menyeluruh) dengan pemberdayaan masyarakat. Dari hasil analisis tersebut Penelitian ini telah menemukan rumusan model pemberdayaan keluarga miskin di sekitar industri pertambangan. Kata kunci: pemberdayaan, keluarga, industri pertambanga
MASALAH DAN PELAYANAN RETARDASI MENTAL DI TEMANGGUNG: SUATU ANALISIS DESKRIPTIF
Ditemukan fenomena menarik dan memerlukan perhatian dari berbagai profesi dan disiplin ilmu diTemanggung. Di wilayah kabupaten tersebut ditemukan populasi penyandang disabilitas intelektual ataulebih dikenal dengan istilah tuna grahita yang cukup banyak. Belum diketahui secara pasti apa penyebabutama dari fenomena dimaksud. Apakah iklim, mineral atau jenis tanaman tertentu yang membawadampak bagi kondisi ini? Sebagai telaah awal, diketahui bahwa Pemerintah Kolonial Belanda telahmelihat fenomena ini dan bahkan telah mendirikan sebuah tempat pelayanan yang diperuntukkan bagi tunagrahita dimaksud pada tahun 1908 (BBRSBG, 2010). Sebagai upaya untuk menanggulangi masalah initelah terdapat Balai Besar Rehabilitasi Tuna Grahita dengan sistem pendekatan melalui tiga model yaknilayanan dalam panti, day care services dan layanan melalui pemberdayaan orang tua dari penyandangtuna grahita dimaksud. Demikian juga Dinas Sosial telah melakukan berbagai upaya penanggulangansejak pendataan hingga pelayanan melalui pemberdayaan orang tua penyandang tuna grahita. Atas dasarfenomena ini, disarankan untuk diadakan telaah menyeluruh dengan melibatkan berbagai disiplin danprofesi agar penanggulangan lebih memadai.Kata kunci: retardasi mental, berbagai kategori disabilitas intelektual, pelayanan sosia
KEMISKINAN DAN KESEJAHTERAAN: SEBUAH KAJIAN KONSEP
Tulisan ini bermaksud mengulas korelasi antara persoalan kemiskinan dengan konsep karakteristik negarakesejahteraan. Jika yang dimaksud dengan “negara kesejahteraan’ adalah tata kenegaraan, di manatugas pemerintah menyediakan atau menyelenggarakan/mengelola seluruh atau sebagian pelaksanaankesejahteraan semua atau sebagian warganya, sudah jelas bahwa tugas sentral tata kenegaraan Indonesia,menurut pasal 34 UUD 1945, adalah negara kesejahteran. Berdasarkan human development Report(HDR) terungkap bahwa di Indonesia terdapat orang miskin multidemensi yakni yang diukur menurutindikator pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan ekonomi.Karakteristik negara kesejahteraan ditandaioleh empat hal pokok. Pertama, komitmen negara dalam menciptakan peluang lapangan pekerjaan untukmengakomodasi melimpahnya angkatan kerja aktif-produktif. Kedua, adanya jaminan asuransi sosial yangberlaku bagi semua warga negara yang meliputi seluruh aspek kehidupan, terutama kesehatan dan bilaterjadi kecelakaan. Ketiga, terselenggaranya pendidikan murah bermutu bagi rakyat, termasuk jaminanbeasiswa bagi mereka yang berprestasi, tetapi berasal dari kalangan ekonomi lemah. Keempat, kebijakansosial sebagai upaya redistribusi kekayaan.Kata Kunci: kemiskinan, kesejahteraa
TEKNIK EKONOMI TOKEN DALAM PENGUBAHAN PERILAKU KLIEN
Tingkah laku manusia dapat diubah dengan menggunakan berbagai pendekatan dan teknik. Dalampendekatan behavior, teknik yang lazim digunakan untuk perubahan tingkah laku klien adalah ekonomitoken. Ekonomi token dianggap efektif karena token yang diberikan kepada klien merupakan bentuk hadiahbagi peningkatan tingkah laku yang disukai dan pengurangan tingkah laku yang tidak disukai. Teknikini dapat digunakan pada berbagai setting pelayanan termasuk rumah sakit jiwa, lembaga koreksionalatau pusat rehabilitasi guna menata perilaku individu yang agresif atau tidak dapat diprediksi. Esensipenggunaan ekonomi token adalah mengajarkan tingkah laku yang tepat dan keterampilan sosial yangdapat dipergunakan dalam suatu lingkungan.Kata Kunci: ekonomi token, pekerja sosial, klien, praktek, dan keterampilan sosia
PENGEMBANGAN MASYARAKAT DENGAN MEMANFAATKAN ASET LOKAL ; Studi Deskriptif di Desa Mlatirejo & Desa Sendangmulyo yang berbatasan dengan Hutan Jati
Penelitian ini bertujuan mengembangkan aset lokal dalam kerangka pemberdayaan masyarakatsekitar hutan. Pendekatan penelitian ini kualitatif (action research). Hasil penelitian menunjukkan: (masyarakat) kelompok yang tergabung pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan)-Mlatirejo telah dapatmengembangkan pengolahan sumberdaya lokal: pembuatan criping pisang, ubi jalar, dan talas melalui teknologi sederhana. Yang belum dilakuan adalah pembuatan kompos dari kotoran ternak sapi/ kambing. Kelompok tersebut juga telah dapat melakukan aksi sosial: santunan anak yatim/piatu, pertemuan kelompok per-selapanan (35 hari) dan pencatatan atas kegiatan yang dilakukan/pengadministrasian, serta sekaligus penghimpunan dana dari oleh dan untuk anggota (masyarakat). Sementara itu LembagaMasyarakat Desa Hutan (LMDH)-Sendangmulyo juga telah dapat melakukan pembuatan criping gadung dan pisang. Seperti pada Gapoktan, pembuatan kompos juga belum dapat dilakukan yang sebenarnya telah mendapat pesanan dari calon pengguna sekitar dua ton-an (menunggu musim hujan). Kegiatan sosial yang dilakukan antara lain mengantar berobat seorang warga yang stress (ke Rumah Sakit Jiwa Solo), pertemuan kelompok sebulan sekali, dan melakukan pencatatan terhadap kegiatan yang dilakukan. Kata kunci: aset lokal, pemberdayaan masyarakat sekitar hutan
ASESMEN DALAM PEKERJAAN SOSIAL: RELEVANSI DENGAN PRAKTEK DAN PENELITIAN
Asesmen diartikan dalam terma profesional sebagai bentuk, batasan dan intensitas masalah klien yangdibawa ke dalam praktek pekerjaan sosial. Asesmen merupakan rentang yang luas dan termasuk penilaianmengenai potensi, kebutuhan dan jaringan sosial klien yang menentukan cakupan dan beratnya masalah.Dalam sebuah proses perubahan terencana, fokus pekerja sosial yang amat penting adalah mengumpulkaninformasi yang cukup dari klien dan orang lain yang ada di lingkungan klien. Pengumpulan data merupakanaktivitas memperoleh informasi yang diperlukan sebagai upaya untuk memahami situasi-situasi klien,yang menjadi syarat dalam merancang rencana pemecahan masalah klien. Oleh karena itu pekerja sosialdituntut memiliki keterampilan dalam memilah data mulai dari hasil wawancara sampai kepada kompilasidata, tujuannya agar ada kesesuaian data yang dibutuhkan untuk melakukan asesmen masalah. Dalampraktik pekerjaan sosial secara langsung, pekerja sosial perlu mengenalkan konsep-konsep diagnosisyang akan digunakan dalam proses pencarian data asesmen. Diagnosa dilakukan terhadap masalah klien,dan kondisi atau situasi klien serta dilakukan pengklasifikasian dan pengkategorian khusus seperti dalamsistem PIE (orang dalam lingkungannya).Kata kunci: asesmen, klien, praktik pekerjaan sosial, dan penelitian
FENOMENA BUNUH DIRI DI GUNUNG KIDUL: CATATAN TERSISA DARI LAPANGAN
Artikel ini merupakan catatan dari lapangan mengenai fenomena bunuh diri di Daerah Gunung Kidul,Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Tujuan utama penelitian adalah mengkaji keterkaitan antarafaktor-faktor mitos, kemiskinan dan perilaku belajar berpengaruh terhadap fenomena bunuh diri yangterjadi selama ini. Penelitian ini dijalankan menggunakan data sekunder dari tahun 1990-2006. Datadiperoleh dari Polres Gunung Kidul, Rumah Sakit Umum Daerah, dan Kantor Dinas Sosial. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa fenomena bunuh diri yang terjadi berkaitan dengan perilaku belajaryang salah mengenai mekanisme mengatasi masalah kehidupan. Pada awalnya perilaku bunuh diri ituberhubungan dengan mitos palung gantung dan kemiskinan, namun kemudian fenomena bunuh diri inibegeser dan lebih disebabkan oleh faktor perilaku koping yang dipelajari secara keliru dari satu generasike generasi berikutnya. Bunuh diri dianggap sebagai mekanisme koping dalam mengatasi permasalahanyang dihadapi. Hasil penelitian ini memberi implikasi terhadap program pencegahan perilaku bunuh diriberbasis masyarakat lokal.Kata Kunci: bunuh diri, perilaku bunuh diri, pencegahan, perilaku kopin
MODEL KEMITRAAN PEMERINTAH DENGAN PERUSAHAAN DALAM MENGELOLA CSR: STUDI KASUS DI KOTA CILEGON
Artikel ini membahas kemitraan antara Pemerintah Kota dengan Perusahaan di wilayah Kota Cilegondalam melaksanakan program Corporate Social Responsibility (CSR) melalui Lembaga CilegonCorporate Social Responsibility (CCSR). Jenis kajian ini deskriptif, menggunakan pendekatan kualitatif.Hasil kajian ini menyarankan agar status hukum CCSR ditingkatkan dari Peraturan Walikota (Perwal)menjadi Peraturan Daerah (Perda), lembaga CCSR perlu memaksimalkan sosialisasi, agar bertambahnyajumlah perusahaan yang menjadi anggota CCSR, CCSR perlu membuat basis data dan memiliki programprioritas sendiri, serta perlunya pelibatan masyarakat dalam seluruh tahapan program.Kata kunci: Kemitraan, pemerintah kota, perusahaan, corporate social responsibilityAbstrac
KEBERFUNGSIAN KELUARGA: KONSEP DAN INDIKATOR PENGUKURAN DALAM PENELITIAN
Pengukuran memainkan sangat penting dalam sebuah penelitian. Kegagalan seorang peneliti memahamiteori dan konsep dapat menyebabkan kegagalannya dalam merumuskan indikator dan parameterpengukuran yang hendak dilakukannya. Konsep keberfungsian keluarga mempunyai dimensi yang luas,sehingga pemahaman teori dan konsep ini dengan benar maka dapat menuntun peneliti dalam melakukanpengukuran dan pada akhirnya dapat membuahkan hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkansecara ilmiah.Kata Kunci: Keberfungsian Keluarga, Konsep, Indikator, Pengukuran dan Penelitia