E-Journal Politeknik Negeri Samarinda
Not a member yet
6430 research outputs found
Sort by
Assessing Technologies to Accelerate the Process of Monitoring, Reporting, and Verifying Emission Reductions Programs
This study explored the use of a
state-of-the-art collection of high-quality in situ
datasets, following best practices13 to inform biomass
estimates derived through remote sensing. The intention was
to circumvent (1) the challenge of extrapolating data
coverage from plot-level to satellite-level (for example,
for the entire ERP area) and (2) the limitations of using
allometric equations to estimate biomass from national
forest inventories. The ASA also explored a novel method of
creating data synergies within a 50,000-hectare (ha) region
of interest. It was expected that these processes would
improve the accuracy and bias of estimates so they could be
extrapolated to the larger ERP area with the support of
colleagues from Sylvera
World Development Report 2025: Standards for Development
Standards make everyday life run smoothly. You rarely notice them: the credit card that works in any corner of the world, the Wi-Fi signal that connects a remote village to the cloud, or the vaccine vial that fits syringes from Dakar to Delhi. When standards work, they build trust. They free people and firms to focus on creating, trading, and innovating, confident that the systems around them will hold. When standards fail, the effects are immediate and draining. Payments are declined, signals drop, vaccines spoil—and instead of being productive, people spend their energy just meeting their basic needs.
Standards, in short, are the hidden infrastructure of modern economies—and they have never been more important. Developing countries today must contend with a thicket of increasingly stringent international standards, a product of globalization and rapid technological change. Using standards—and shaping them—is now a prerequisite for export growth, technology diffusion, and the efficient delivery of public services. Yet standards are too often overlooked by policy makers, especially in developing countries.
World Development Report 2025: Standards for Development provides the most comprehensive assessment of the global landscape of standards today and how they can be used to accelerate economic development. It offers a practical framework for countries at all stages of development. Countries at the earliest stage should adapt international standards to suit local conditions when needed, whereas at more advanced stages, they should aim to align domestic markets with international standards. Meanwhile, all countries should author international standards in priority areas
Exploring Digital Skills Demand: Key Insights from Online Job Vacancies in South Africa, Nigeria, Kenya, and Uganda
Technological change is transforming labor markets globally and across Africa, reshaping the demand for skills, particularly digital competencies. To remain relevant, education and training systems must adapt to evolving labor market needs, equipping learners with the skills required to enter and remain competitive in the workforce. This paper analyzes millions of online job vacancies from Kenya, Nigeria, South Africa, and Uganda between 2020 and 2024 to assess the intensity and distribution of skill demand. Using a digital skills taxonomy, descriptive statistics, and cluster analysis, the study tracks trends over time and across occupations. Results show that nearly half of job postings in these countries require at least one digital skill, with gradual growth observed during the period. Basic digital skills, such as computer literacy, Microsoft office, and presentation tools appear in roughly one-third of postings, while advanced competencies, including computer science and data analysis feature in about 20 percent. Although still emerging, AI-related skills show early signs of growth. Cluster analysis reveals that digital skills are increasingly demanded across all occupational groups, regardless of their digital intensity, making them a core component of employability. Transversal skills such as communication and problem-solving are also consistently sought. These findings underscore the need for education and training systems to integrate digital and transversal skills with occupation-specific expertise to better prepare graduates for labor market demands and to build resilience and adaptability in a rapidly changing digital economy
Pengaruh Penggunaan Coolant 30/70 Pre-Mixed Dan Coolant Predilute 33% Pada Sistem Pendingin Terhadap Temperatur Engine Toyota Avanza Tipe-E 1300 CC M/T
Sistem pendinginan mempunyai peran penting dalam kendaraan bermotor, karena fungsinya untuk menjaga temperatur kerja dari engine, supaya temperaturnya tidak melebihi ambang batasnya (over heating), karena penyebab sering terjadinya panas yang berlebihan akibat dari penggunaan air pendingin dalam radiator. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental, dimana tujuannya untuk mengetahui pengaruh coolant terhadap temperatur engine dari penggunaan beberapa jenis aditif coolant. Air pendingin yang digunakan adalah coolant 30/70 pre-mixed dan coolant predilute 33%. Pengujian ini dilakukan pada putaran [600, 1500, 2000, 2500, 3000] RPM. Objek penelitian ini adalah mobil Toyota Avanza Tipe-E 1300 CC M/T. Dari hasil penelitian data temperatur mesin dengan pemakaian coolant 30/70 Pre-mixed pada berbagai variasi putaran mesin didapatkan temperatur rata-rata 94,13 OC. Sedangkan pemakaian coolant Predilute 33% terlihat temperatur rata-rata pada pengujian mencapai 94,4 OC. Berdasakan uraian hasil data pengujian yang sudah dilakukan, didapatkan kesimpulan bahwa penggunaan coolant 30/70 pre-mixed maupun coolant predilute 33% mempunyai pengaruh yang sama terhadap temperatur engine Toyota Avanza Tipe-E 1300 CC M/T
Pengaruh Konsentrasi Aktivator Asam Klorida (HCl) pada Aktivasi Karbon Aktif dari Ampas Teh
Tea dreg is a waste that is often wasted, the utilization of tea waste is still very limited and in a small scope. The field of animal husbandry uses tea as an addition in making compost, besides being used as organic fertilizer, tea dregs can also be used as activated carbon as an adsorbent. In making activated carbon, the content of tea pulp that is taken into account is holocellulose, which is 60.81%. Tea pulp consists of cellulose of 29.42%, and lignin of 36.94%. In making activated carbon, the carbonization process needs to be done. The purpose of this study was to determine the effect of hydrochloric acid (HCl) concentration on the activation of activated carbon from tea dregs on the quality characteristics of activated carbon produced referring to SNI standard No. 06-3730-1995. Tea dregs were carbonized using a furnace at 400 ℃ for 20 minutes with varying concentrations of HCl 0.5 M; 1 M; 1.5 M; 2 M and 2.5 M for 48 hours. The best results were found at 1 M HCl concentration with an iodine absorption value of 896.287 mg/g, moisture content of 8.26%, ash content of 2.91%, volatile matter of 24.33% and fixed carbon of 64.5%
PENGARUH PERBANDINGAN DIAMETER PUTARAN PULLY TERHADAP DAYA LISTRIK YANG DIHASILKAN ALTERNATOR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN: The Effect of Pulley Diameter Ratio on the Electrical Power Generated by the Alternator in a Wind Power Generator
Pembangkit listrik tenaga angin (PLTB) adalah suatu pembangkit energi listrik yang menggunakan angin sebagai media penggeraknya untuk menghasilkan energi listrik. Cara kerja Pembangkit ini dengan hembusan angin sehingga dapat memutarkan turbin. Turbin angin ini bekerja berbalik dengan kipas angin, kemudian hembusan angin akan memutar sudut turbin, sehingga rotor yang ada pada Alternator akan berputar dan mengeluarkan arus listrik. Metode yang digunakan pada saat perancangan untuk pengisian daya pada Aki diawali dengan pembuatan konsep. Hasil dari aki ber voltase rendah menjadi terisi ketika kincir atau blade berputar lalu diteruskan oleh putaran dari alternator dan menghasilkan daya yang dapat mengecas Aki tersebut. Pengambilan data untuk mencari kecepatan putaran blade dan daya yang dihasilkan adalah selama 4 jam di lakukan pada saat cuaca cerah dan mendung. Yang awal voltase aki adalah 12,24v menjadi 12,32v yaitu jika di presentasekan dari saat kondisi Aki mengecas 7,21 % per jam dengan waktu pengecasan selama 4 jam pada waktu yang sudah kami tentukan sesuai dengan tabel. Dan dengan rata rata kecepatan putaran dari blade yang berkisar 48,49 rad/s bisa menghasilkan 11,97V yang masuk ke Aki dengan bantuan alat step up DC to Dc 2
Penerapan Perhitungan PPh Pasal 21 Studi Kasus pada PT Soulab Teknindo Gemilangan
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Penerapan Perhitungan PPh Pasal 21 Berdasarkan PMK Nomor 168 Tahun 2023 pada karyawan di PT Soulab Teknindo Gemilang jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian yang menggunakan metode kuantitatif. Penelitian ini dilakukan dengan cara mempelajari penerapan perhitungan PPh Pasal 21 pada perusahaan, apakah perhitungan PPh Pasal 21 yang dipotong oleh PT Soulab Teknindo Gemilang telah sesuai dengan Undang-Undang dengan peraturan terbaru yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2023 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 Tahun 2023. Berdasarkan hasil penelitian tidak ditemukan kesalahan dalam Perhitungan Pajak Pasal 21 pada PT Soulab Teknindo Gemilang, maka pemberi kerja wajib melakukan penyetoran PPh Pasal 21
Pelatihan Jurnalistik Dasar untuk Pelajar SMK di Bandongan Magelang
Dari hasil observasi didapati bahwa di SMK Muhammadiyah Bandongan masih belum ada gerakan atau aktivitas jurnalistik yang mapan. Hal ini ditakutkan akan menyebabkan komunikasi publik di lingkungan sekolah tidak produktif dan malah destruktif. Oleh sebab itu, tim pengusul meyakini perlu adanya upaya meningkatkan pemahaman dan keterampilan jurnalistik guna menumbuhkan pola komunikasi publik yang produktif dan sehat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberi pemahaman tentang jurnalistik dasar yang diharapkan dapat dijadikan bekal dalam menerima berita dan/atau informasi dari media massa. Selain itu, pengabdian ini dimaksudkan untuk membekali target sasaran kegaitan keterampilan jurnalistik dasar dalam rangka membangun aktivitas jurnalistik yang sehat di lingkunagan sekolah. Ruang jurnalisme yang sehat diharapkan akan menjadi sarana bagi seluruh komponen sekolah, terutama siswa, dalam menyampaikan aspirasi. Kesimpulan yang dapat ditarik dari kegiatan ini adalah bahwa penting mengenalkan dunia jurnalistik sejak dini, terutama pada pelajar SMK/Sederajat yang notabene sudah mendekati usia dewasa. Pentingnya pemahaman jurnalistik bagi pelajar dapat membangun generasi yang tidak latah dengan pemberitaan di media. Beranjak dari kesimpulan yang didapat, yang menjadi rekomendasi utama ialah perlunya membangun budaya jurnalistik di lingkungan sekolah. Jurnalisme sekolah, selain sebagai penyedia informasi, dapat juga menjadi media bagi siswa untuk menyampaikan aspirasinya
Pembuatan Produk Plastik Menggunakan Mesin Extrusion Blow Molding Kepada Siswa SMKN 2 Depok Sleman
Dengan pertumbuhan industri plastik yang semakin pesat tentunya sangat berpengaruh pada kebutuhan tenaga kerja industri. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bekal keterampilan pembuatan produk plastik dengan menggunakan mesin extrusion blow molding kepada siswa dan siswi SMKN 2 Depok Sleman. Pelatihan dilakukan dengan metode sosialisasi dan praktik kepada 35 peserta siswa dan siswi SMKN 2 Depok Sleman. Evaluasi pelatihan dilakukan dengan metode angket menggunakan kuesioner. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa peserta pelatihan mampu membuat produk plastik dengan menggunakan mesin extrusion blow molding. Peserta pelatihan menunjukkan antusiasme dan keaktifan yang tinggi selama kegiatan, serta memberikan umpan balik positif terkait pelaksanaan kegiatan. Hasil evaluasi keterserapan materi yang disampaikan selama pelatihan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai rerata dari 60,57 (pretest) menjadi 89,40 (posttest). Penilaian peserta terhadap berbagai aspek pelatihan juga menunjukkan hasil yang baik, dengan rata-rata nilai mencapai 4,45
Pengembangan Desa Produktif Melalui Inovasi Olahan Melon sebagai Produk Unggulan dan Digital Marketing di Bojonegoro
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan Desa Kayulemah, Bojonegoro, sebagai desa produktif melalui inovasi olahan melon dan penerapan digital marketing. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan nilai tambah komoditas melon sebagai produk unggulan desa dan membekali masyarakat dengan keterampilan pemasaran berbasis teknologi digital. Metode pelaksanaan meliputi pelatihan pembuatan selai melon, pelatihan digital marketing, dan pendampingan implementasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pelatihan pembuatan selai melon berhasil meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghasilkan produk berkualitas dengan nilai ekonomis tinggi, sedangkan pelatihan digital marketing mendorong masyarakat untuk memanfaatkan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi dan penjualan produk. Tantangan seperti keterbatasan infrastruktur dan keterampilan teknis masyarakat diatasi melalui pendampingan intensif dan penggunaan metode praktis. Program ini berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan kapasitas komunitas, dan penguatan potensi lokal sebagai daya saing ekonomi desa. Dengan keberhasilan ini, Desa Kayulemah diharapkan dapat menjadi model pengembangan desa produktif berbasis inovasi dan teknologi digital di wilayah pedesaan