Kumpulan Jurnal Universitas Madako
Not a member yet
744 research outputs found
Sort by
Perbandingan Morfometri Spermatozoa Kambing Kosta Dengan Kambing Kacang
Morfometri spermatozoa merupakan parameter penting dalam evaluasi kualitas semen dan potensi fertilitas pada ternak kambing. Perbedaan antar bangsa kambing dalam karakteristik morfometri spermatozoa dapat memberikan informasi bagi program pemuliaan dan manajemen reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik morfometri spermatozoa antara kambing Kosta, Kashmir, dan Kacang sebagai dasar evaluasi kualitas genetik dan potensi reproduksi. Sampel semen dikoleksi dari pejantan kambing Kosta yang berumur 2-3 tahun sebanyak 5 ekor kambing dengan total 50 sperma yang diukur, pembandingnya berupa data morfologi spermatozoa kambing Kashmir dan kambing Kacang yang diperoleh melalui literature review. Morfometri sperma kambing kosta diamati dengan membuat preparat ulas menggunakan pewarna eosin nigrosine. Parameter morfometri yang diukur meliputi panjang kepala, lebar kepala, panjang midpiece, panjang ekor, dan panjang total spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa kambing Kosta memiliki rataan panjang kepala 7,4 µm, lebar kepala 4,6 µm, panjang midpiece 12,4 µm, panjang ekor 24,6 mm, dan panjang total 49,16 µm (Tabel 1). Jika dibandingkan dengan data literatur, pada kambing Kacang dilaporkan ukuran panjang kepala 5,21-9,21 µm, lebar kepala 2,50-6,04 µm, panjang ekor total 25,83 – 42,08 mm, dan panjang total sekitar 32,71-49,58 µm. Hal ini menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa kambing kosta masih berada dalam rentang tetuanya.Morfometri spermatozoa merupakan parameter penting dalam evaluasi kualitas semen dan potensi fertilitas pada ternak kambing. Perbedaan antar bangsa kambing dalam karakteristik morfometri spermatozoa dapat memberikan informasi bagi program pemuliaan dan manajemen reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik morfometri spermatozoa antara kambing Kosta, Kashmir, dan Kacang sebagai dasar evaluasi kualitas genetik dan potensi reproduksi. Sampel semen dikoleksi dari pejantan kambing Kosta yang berumur 2-3 tahun sebanyak 5 ekor kambing dengan total 50 sperma yang diukur, pembandingnya berupa data morfologi spermatozoa kambing Kashmir dan kambing Kacang yang diperoleh melalui literature review. Morfometri sperma kambing kosta diamati dengan membuat preparat ulas menggunakan pewarna eosin nigrosine. Parameter morfometri yang diukur meliputi panjang kepala, lebar kepala, panjang midpiece, panjang ekor, dan panjang total spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa kambing Kosta memiliki rataan panjang kepala 7,4 µm, lebar kepala 4,6 µm, panjang midpiece 12,4 µm, panjang ekor 24,6 mm, dan panjang total 49,16 µm (Tabel 1). Jika dibandingkan dengan data literatur, pada kambing Kacang dilaporkan ukuran panjang kepala 5,21-9,21 µm, lebar kepala 2,50-6,04 µm, panjang ekor total 25,83 – 42,08 mm, dan panjang total sekitar 32,71-49,58 µm. Hal ini menunjukkan bahwa morfometri spermatozoa kambing kosta masih berada dalam rentang tetuanya.
Edukasi HPP dan Media Sosial sebagai Penguat UMKM Kampung Topi Punggul Sidoarjo
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal Indonesia, termasuk di Kampung Topi Punggul, Sidoarjo, yang telah dikenal sebagai sentra kerajinan topi sejak tahun 1970-an. Namun, sebagian besar pelaku UMKM di sana masih menghadapi kendala serius dalam manajemen operasional, khususnya dalam perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berdampak pada penetapan harga jual yang tidak akurat, serta kurangnya pemanfaatan media sosial untuk promosi dan perluasan pasar. Merespons permasalahan ini, kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui pendampingan penerapan sistem HPP dan pelatihan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi usaha. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui kerja sama langsung dengan masyarakat. Kegiatan ini berlangsung selama dua bulan (April-Mei 2025) dan meliputi survei dan wawancara awal, sosialisasi perhitungan HPP, serta edukasi dan pendampingan pemanfaatan media sosial untuk promosi. Hasil utama pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan pelaku UMKM dalam menghitung HPP yang sebelumnya belum sistematis. Selain itu, mereka mulai aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Business untuk promosi, didukung keterampilan dasar desain menggunakan Canva, serta menunjukkan perubahan positif menuju manajemen usaha yang lebih modern dan adaptif terhadap teknologi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan UMKM yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia, namun perlu adanya pendampingan lanjutan dan kolaborasi dengan berbagai instansi untuk mendukung keberlanjutan dan penyediaan fasilitas penunjang yang memadai, mengingat adanya kendala keterbatasan waktu dan perangkat digital.Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian lokal Indonesia, termasuk di Kampung Topi Punggul, Sidoarjo, yang telah dikenal sebagai sentra kerajinan topi sejak tahun 1970-an. Namun, sebagian besar pelaku UMKM di sana masih menghadapi kendala serius dalam manajemen operasional, khususnya dalam perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berdampak pada penetapan harga jual yang tidak akurat, serta kurangnya pemanfaatan media sosial untuk promosi dan perluasan pasar. Merespons permasalahan ini, kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui pendampingan penerapan sistem HPP dan pelatihan pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi usaha. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui kerja sama langsung dengan masyarakat. Kegiatan ini berlangsung selama dua bulan (April-Mei 2025) dan meliputi survei dan wawancara awal, sosialisasi perhitungan HPP, serta edukasi dan pendampingan pemanfaatan media sosial untuk promosi. Hasil utama pengabdian menunjukkan peningkatan pemahaman dan kemampuan pelaku UMKM dalam menghitung HPP yang sebelumnya belum sistematis. Selain itu, mereka mulai aktif memanfaatkan media sosial seperti Instagram dan WhatsApp Business untuk promosi, didukung keterampilan dasar desain menggunakan Canva, serta menunjukkan perubahan positif menuju manajemen usaha yang lebih modern dan adaptif terhadap teknologi. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan UMKM yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia, namun perlu adanya pendampingan lanjutan dan kolaborasi dengan berbagai instansi untuk mendukung keberlanjutan dan penyediaan fasilitas penunjang yang memadai, mengingat adanya kendala keterbatasan waktu dan perangkat digital
Analisis Potensi Pengembangan Ekosistem Halal Pada Destinasi Pantai Lon Malang Dalam Perspektif Hifdzul Bi\u27ah Dan Ekoteologi
Pengembangan pariwisata halal di Indonesia semakin penting seiring meningkatnya kesadaran wisatawan Muslim terhadap nilai keberlanjutan dan etika lingkungan. Pantai Lon Malang di Kabupaten Sampang, Madura, memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi bahari halal berbasis nilai Islam. Analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola dan masyarakat, serta dokumentasi terhadap aktivitas wisata dan lingkungan. Ditemukan bahwa konsep Hifdzul Bi’ah tercermin melalui praktik pelestarian lingkungan, seperti pengelolaan sampah terpadu dan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan pantai. Sementara Ekoteologi Islam memperkuat pandangan manusia sebagai khalifah dalam menjaga keseimbangan alam. Integrasi kedua konsep tersebut membentuk dasar ekosistem halal yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga menegakkan nilai spiritual, keadilan ekologis, dan kesejahteraan sosial. Model pengembangan ekosistem halal berbasis Hifdzul Bi’ah dan Ekoteologi Islam dapat menjadi acuan strategis bagi pemerintah daerah dan pengelola wisata dalam menciptakan destinasi berkelanjutan sesuai maqāṣid syariah.Pengembangan pariwisata halal di Indonesia semakin penting seiring meningkatnya kesadaran wisatawan Muslim terhadap nilai keberlanjutan dan etika lingkungan. Pantai Lon Malang di Kabupaten Sampang, Madura, memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi bahari halal berbasis nilai Islam. Analisis dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara dengan pengelola dan masyarakat, serta dokumentasi terhadap aktivitas wisata dan lingkungan. Ditemukan bahwa konsep Hifdzul Bi’ah tercermin melalui praktik pelestarian lingkungan, seperti pengelolaan sampah terpadu dan kesadaran masyarakat menjaga kebersihan pantai. Sementara Ekoteologi Islam memperkuat pandangan manusia sebagai khalifah dalam menjaga keseimbangan alam. Integrasi kedua konsep tersebut membentuk dasar ekosistem halal yang tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga menegakkan nilai spiritual, keadilan ekologis, dan kesejahteraan sosial. Model pengembangan ekosistem halal berbasis Hifdzul Bi’ah dan Ekoteologi Islam dapat menjadi acuan strategis bagi pemerintah daerah dan pengelola wisata dalam menciptakan destinasi berkelanjutan sesuai maqāṣid syariah
Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair Bioboost Terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Bandeng (Chanos-chanos)
Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan bandeng adalah dengan pemanfaatan pupuk organik cair (POC) Bioboost yang berfungsi memperbaiki kualitas air serta mendukung ketersediaan pakan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan dosis POC Bioboost terhadap laju pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan kualitas air media pemeliharaan ikan bandeng. Penelitian dilakukan selama 50 hari di Kelurahan Tambun, Kecamatan Baolan, dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) empat perlakuan (P0 = kontrol; P1 = 1,625 ml/L; P2 = 2,025 ml/L; P3 = 2,437 ml/L) dan tiga ulangan, menggunakan 180 ekor benih bandeng ukuran ±2 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan POC Bioboost berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak ikan bandeng, dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi pada perlakuan P3 (4,59 g) dan terendah pada P0 (0,72 g). Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi juga diperoleh pada perlakuan P3 (52,68 mm), meskipun secara statistik tidak berbeda nyata. Kelangsungan hidup ikan pada semua perlakuan mencapai 100%. Parameter kualitas air (suhu 25,6–26,2°C, pH 7,4–8,9, DO 3,2–5,1 mg/L, salinitas 22–26 ppt) masih dalam kisaran optimal untuk pemeliharaan bandeng. Dengan demikian, aplikasi POC Bioboost dosis 2,437 ml/L air direkomendasikan untuk mendukung pertumbuhan optimal ikan bandeng tanpa menurunkan tingkat kelangsungan hidup maupun kualitas lingkungan.Ikan bandeng (Chanos chanos) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan bandeng adalah dengan pemanfaatan pupuk organik cair (POC) Bioboost yang berfungsi memperbaiki kualitas air serta mendukung ketersediaan pakan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan dosis POC Bioboost terhadap laju pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan kualitas air media pemeliharaan ikan bandeng. Penelitian dilakukan selama 50 hari di Kelurahan Tambun, Kecamatan Baolan, dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) empat perlakuan (P0 = kontrol; P1 = 1,625 ml/L; P2 = 2,025 ml/L; P3 = 2,437 ml/L) dan tiga ulangan, menggunakan 180 ekor benih bandeng ukuran ±2 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan POC Bioboost berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot mutlak ikan bandeng, dengan rata-rata pertumbuhan tertinggi pada perlakuan P3 (4,59 g) dan terendah pada P0 (0,72 g). Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi juga diperoleh pada perlakuan P3 (52,68 mm), meskipun secara statistik tidak berbeda nyata. Kelangsungan hidup ikan pada semua perlakuan mencapai 100%. Parameter kualitas air (suhu 25,6–26,2°C, pH 7,4–8,9, DO 3,2–5,1 mg/L, salinitas 22–26 ppt) masih dalam kisaran optimal untuk pemeliharaan bandeng. Dengan demikian, aplikasi POC Bioboost dosis 2,437 ml/L air direkomendasikan untuk mendukung pertumbuhan optimal ikan bandeng tanpa menurunkan tingkat kelangsungan hidup maupun kualitas lingkungan
Pola Mahasiswa Mengonsumsi Ikan Laut Sebagai Sumber Pangan Bergizi
Pola Mengonsumsi Ikan Sebagai Sumber Pangan Bergizi. Ikan laut merupakan salah satu sumber pangan hewani yang kaya akan protein, omega-3, vitamin, dan mineral penting bagi kesehatan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor perikanan laut, namun tingkat konsumsi ikan laut di kalangan masyarakat, termasuk mahasiswa, masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi ikan laut di kalangan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Ronggolawe Tuban, termasuk frekuensi konsumsi, jenis ikan yang dikonsumsi, sumber perolehan, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menyebarkan kuesioner kepada 20 responden yang merupakan mahasiswa aktif dari berbagai angkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengonsumsi ikan laut 1–2 kali per minggu, dengan jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi adalah tongkol (35%), tuna (25%), cakalang (15%), dan sarden (10%). Sebagian besar mahasiswa memperoleh ikan laut dari warung makan atau kantin sekitar kampus (65%), sedangkan sisanya dari rumah atau memasak sendiri. Faktor yang paling memengaruhi konsumsi adalah rasa (85%), harga (65%), dan kepraktisan penyajian (45%), sementara nilai gizi hanya menjadi pertimbangan bagi 30% responden. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman akademik mahasiswa terhadap manfaat pangan laut dan pola konsumsinya. Diperlukan pendekatan edukatif yang lebih aplikatif serta peningkatan akses terhadap ikan laut di lingkungan kampus untuk mendorong pola makan sehat yang berbasis potensi lokal dan mendukung ketahanan pangan laut secara berkelanjutan.Pola Mengonsumsi Ikan Sebagai Sumber Pangan Bergizi. Ikan laut merupakan salah satu sumber pangan hewani yang kaya akan protein, omega-3, vitamin, dan mineral penting bagi kesehatan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi besar dalam sektor perikanan laut, namun tingkat konsumsi ikan laut di kalangan masyarakat, termasuk mahasiswa, masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola konsumsi ikan laut di kalangan mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Ronggolawe Tuban, termasuk frekuensi konsumsi, jenis ikan yang dikonsumsi, sumber perolehan, serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menyebarkan kuesioner kepada 20 responden yang merupakan mahasiswa aktif dari berbagai angkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengonsumsi ikan laut 1–2 kali per minggu, dengan jenis ikan yang paling banyak dikonsumsi adalah tongkol (35%), tuna (25%), cakalang (15%), dan sarden (10%). Sebagian besar mahasiswa memperoleh ikan laut dari warung makan atau kantin sekitar kampus (65%), sedangkan sisanya dari rumah atau memasak sendiri. Faktor yang paling memengaruhi konsumsi adalah rasa (85%), harga (65%), dan kepraktisan penyajian (45%), sementara nilai gizi hanya menjadi pertimbangan bagi 30% responden. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman akademik mahasiswa terhadap manfaat pangan laut dan pola konsumsinya. Diperlukan pendekatan edukatif yang lebih aplikatif serta peningkatan akses terhadap ikan laut di lingkungan kampus untuk mendorong pola makan sehat yang berbasis potensi lokal dan mendukung ketahanan pangan laut secara berkelanjutan
Rumput Gajah sebagai Pakan Ternak Berkelanjutan: Implikasinya terhadap Efisiensi Produksi dan Mitigasi Perubahan Iklim
Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan spesies hijauan tropis dengan potensi hasil biomassa tinggi, nilai gizi yang baik, dan kemampuan adaptasi lingkungan yang kuat, sehingga menjadikannya kandidat ideal sebagai pakan ternak berkelanjutan. Artikel tinjauan ini membahas karakteristik agronomis dan nutrisi rumput gajah, potensi pemanfaatannya dalam sistem produksi ternak, serta perannya dalam meningkatkan efisiensi produksi dan mitigasi perubahan iklim. Rumput gajah mendukung produksi ternak yang efisien dan ramah lingkungan melalui peningkatan serapan karbon tanah, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta integrasinya dalam sistem silvopastura dan agroforestri. Integrasi ini berkontribusi pada ketahanan pangan ternak, keberlanjutan lingkungan, dan peningkatan ekonomi petani di wilayah tropis
Pengaruh Substitusi Tepung Tapioka dengan Tepung Singkong (Manihot esculenta) terhadap Mutu Organoleptik Bakso Ayam
This study aimed to determine the effect of substituting tapioca flour with cassava flour on the organoleptic quality of chicken meatballs. The experiment was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 5 treatments and 4 replications. The treatments were substitution levels of tapioca flour with cassava flour, namely A = 0% (control), B = 25%, C = 50%, D = 75%, and E = 100%. The parameters observed included organoleptic tests covering color, taste, aroma, and texture, which were evaluated by semi-trained panelists using a hedonic scale. The results showed that cassava flour substitution had a significant effect on the organoleptic quality of chicken meatballs. The treatment with a 50% substitution level (C) obtained the highest scores across all parameters, particularly in texture and chewiness, and was preferred compared to other treatments. Substitution levels above 75% tended to decrease the organoleptic quality, producing a coarser texture and a less desirable aroma. Therefore, the use of cassava flour as a tapioca substitute up to a level of 50% can be applied as an economical alternative raw material while maintaining the organoleptic quality of chicken meatballs.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung tapioka dengan tepung singkong terhadap mutu organoleptik bakso daging ayam broiler. Penelitian dilaksanakan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah substitusi tepung tapioka dengan tepung singkong pada berbagai level, yaitu A = 0% (kontrol), B = 25%, C = 50%, D = 75%, dan E = 100%. Parameter yang diamati meliputi uji organoleptik yang mencakup warna, rasa, aroma, dan tekstur, dengan penilaian dilakukan oleh panelis semi-terlatih menggunakan skala hedonik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung singkong berpengaruh nyata terhadap kualitas organoleptik bakso ayam. Perlakuan dengan level substitusi 50% (P3) memberikan skor tertinggi pada seluruh parameter, khususnya tekstur dan kekenyalan, serta lebih disukai dibanding perlakuan lainnya. Substitusi di atas 75% cenderung menurunkan kualitas organoleptik karena menghasilkan tekstur yang lebih kasar dan aroma yang kurang disukai. Dengan demikian, penggunaan tepung singkong sebagai pengganti tapioka hingga level 50% dapat diterapkan sebagai alternatif bahan baku yang ekonomis dan tetap mempertahankan mutu organoleptik bakso ayam
IMPLEMENTASI PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG LARANGAN PEREDARAN DAN PENJUALAN MINUMAN BERALKOHOL (STUDI KASUS DESA SIBALUTON KABUPATEN TOLITOLI)
Memaknai dan mendeskripsikan implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang larangan peredaran dan penjualan minuman beralkohol merupakan tujuan penelitian ini dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Dalam penelitian ini terdapat 6 informan yang dipilih melalui teknik purposive. Teori yang digunakan implementasi kebijakan model Edwars III. Analisa implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 di Desa Sibaluton Kecamatan Basidondo Kabupaten Tolitoli menggunakan 4 indikator yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan; 1) lemahnya transmisi pesan dan kurangnya kejelasan informasi yang disampaikan oleh para pembuat kebijakan serta kurangya sosisalisasi yang dilakukan mengakibatkan komunikasi antara pemerintah desa dengan masyakat tidak berjalan optimal. 2) sumber daya manusia atau implementor masih rendah dan tidak didukung oleh alokasi anggaran yang memadai. 3) sikap pemerintah desa sebagai pelaksana kebijakan belum menunjukkan komitmen dalam mengimplementasikan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008. 4) tidak adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang di tingkat desa, serta tidak adanya prosedur tetap (SOP) yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan.Penelitian ini bertujuan untuk memaknai pelaksanaan dari pemerintah daerah dalam menjalankan implementasi peraturan Pemerintah Daerah Nomor 4 Tahun 2008 tentang larangan peredaran dan penjualan minuman beralkohol (Studi Kasus Desa Sibaluton Kecamatan Basidondo Kabupaten Tolitoli). Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif, Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan Dalam penelitian ini terdapat 6 informan yang dipilih melalui teknik purposive. Teori yang digunakan model implementasi kebijakan Edwars III Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Implementasi Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Larangan Peredaran Dan Penjualan Minuman Beralkohol di Desa Sibaluton Kecamatan Basidondo Kabupaten Tolitoli dengan menggunakan empat indikator yaitu 1. Komunikasi, yaitu lemahnya transmisi pesan dan kurangnya kejelasan informasi yang disampaikan oleh para pembuat kebijakan serta kurangya sosisalisasi yang dilakukan. Akibatnya, komunikasi antar pihak pemerintah desa kepada masyakat tidak berjalan optimal. 2. Sumber daya, yaitu sumber daya manusia atau implementor masih rendah dan tidak didukung oleh alokasi anggaran yang memadai. 3. Disposisi, yaitu sikap pemerintah Desa Sibaluton sebagai pelaksana kebijakan belum menunjukkan komitmen dalam mengimplementasikan Peraturan Daerah tersebut. 4. Struktur birokrasi, yaitu tidak adanya kejelasan pembagian tugas dan wewenang di tingkat desa, serta tidak adanya prosedur tetap (SOP) yang dijadikan acuan dalam pelaksanaan Peraturan Daerah nomor 4 tahun 2008 tentang larangan peredaran dan penjualan minuman beralkohol
PENDAMPINGAN DAN PELATIHAN PENYUSUNAN MODUL AJAR UNTUK OPTIMALISASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI SD 2 MALOMBA
The implementation of the Independent Curriculum requires teachers to have the ability to develop learning modules that are tailored to student needs and school conditions. However, many elementary school teachers still experience difficulties in designing learning modules that are systematic, contextual, and oriented towards learning outcomes. Therefore, this community service activity was carried out at Malomba 2 Elementary School with the aim of improving teacher competency in developing learning modules. The implementation methods included lectures, training, mentoring, and hands-on practice in developing learning modules. The results of the activity showed an increase in teachers\u27 understanding of the structure of learning modules and their ability to produce learning modules that meet the Independent Curriculum standards. Furthermore, there was an increase in teacher interest and motivation to develop creative and relevant learning within the school context. Based on these findings, it is recommended that further training be conducted regularly and continuously to strengthen the implementation of the Independent Curriculum in elementary schools.Pelaksanaan Kurikulum Merdeka menuntut guru memiliki kemampuan menyusun modul ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan kondisi sekolah. Namun, kenyataannya banyak guru SD masih mengalami kesulitan dalam merancang modul ajar yang sistematis, kontekstual, dan berorientasi pada capaian pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di SD 2 Malomba dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun modul ajar. Metode pelaksanaan mencakup ceramah, pelatihan, pendampingan, dan praktik langsung penyusunan modul ajar. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman guru mengenai struktur modul ajar, serta kemampuan dalam menghasilkan modul ajar yang sesuai standar Kurikulum Merdeka. Selain itu, terjadi peningkatan minat dan motivasi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan konteks sekolah. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar pelatihan lanjutan dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sebagai upaya memperkuat implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasar
EDUKASI LITERASI GIAT MENABUNG UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN SISWA SEKOLAH DASAR DI DUSUN II BONTOLUGUS, DESA BALAROA, KECAMATAN DAMPAL UTARA
Community Service (KKN) activities play a crucial role in instilling positive values in the younger generation, particularly elementary school students. This community service program was implemented by KKN students from Madako University, Tolitoli, in Balaroa Village, Dusun II Bontolugus, North Dampal District. The main objective of the program is to build children\u27s awareness of the importance of saving from an early age through simple, fun, and easy-to-understand financial literacy education. The implementation method includes thematic material delivery, interactive discussions, educational games, and savings simulations using piggy banks as learning tools. The results of the program showed high student enthusiasm in participating in all series of activities, as well as an increased understanding of the benefits of saving for the future, such as learning discipline, planning desires, and preparing for long-term needs. This program is expected to foster positive habits in financial management from an early age and have a lasting impact on students, families, and the school environment.Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar. Program pengabdian ini dilaksanakan oleh Mahasiswa KKN Universitas Madako Tolitoli di Desa Balaroa, Dusun II Bontolugus, Kecamatan Dampal Utara. Tujuan utama kegiatan adalah membangun kesadaran anak-anak akan pentingnya menabung sejak dini melalui edukasi literasi keuangan yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami. Metode pelaksanaan meliputi penyampaian materi tematik, diskusi interaktif, permainan edukatif, serta simulasi praktik menabung menggunakan media celengan sebagai alat pembelajaran. Hasil kegiatan menunjukkan tingginya antusiasme siswa dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, serta meningkatnya pemahaman mereka terkait manfaat menabung untuk masa depan, seperti belajar disiplin, merencanakan keinginan, dan menyiapkan kebutuhan jangka panjang. Program ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif dalam pengelolaan keuangan sejak usia dini dan memberikan dampak berkelanjutan bagi siswa, keluarga, dan lingkungan sekolah