Kumpulan Jurnal Universitas Madako
Not a member yet
744 research outputs found
Sort by
Kombinasi Perlakuan Pupuk Organik Dengan Pupuk Npk Phonska Terhadap Pertumbuhan Padi (Oryza sativa L) Varietas Inpari 32
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pencampuran pupuk kandang magau dengan pupuk NPK Phonska terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Kota Ginunggung, Kawasan Galang, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, selama 4 bulan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan yang diulang beberapa kali. Perlakuan tersebut merupakan kombinasi pupuk kandang magau dan pupuk NPK Phonska dengan sembilan taraf, yaitu: P0 (kontrol/tanpa pupuk), P1 (2000 gram pupuk kandang magau), P2 (1700 gram pupuk kandang magau + 10 gram NPK Phonska), P3 (1400 gram pupuk kandang magau + 20 gram NPK Phonska), P4 (1100 gram pupuk kandang magau + 30 gram NPK Phonska), P5 (800 gram pupuk kandang magau + 40 gram NPK Phonska), P6 (500 gram pupuk kandang magau + 50 gram NPK Phonska), P7 (200 gram pupuk kandang magau + 60 gram NPK Phonska), dan P8 (pupuk NPK Phonska 70 gram). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan, dengan asumsi terdapat pengaruh perbandingan pupuk kandang magau dan NPK Phonska terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan campuran pupuk kandang alami dengan NPK Phonska memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan pada perlakuan P6, yaitu campuran 500 gram pupuk kandang magau dan 50 gram pupuk NPK Phonska.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pencampuran pupuk kandang magau dengan pupuk NPK Phonska terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian dilaksanakan di Kota Ginunggung, Kawasan Galang, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, selama 4 bulan. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sembilan perlakuan yang diulang beberapa kali. Perlakuan tersebut merupakan kombinasi pupuk kandang magau dan pupuk NPK Phonska dengan sembilan taraf, yaitu: P0 (kontrol/tanpa pupuk), P1 (2000 gram pupuk kandang magau), P2 (1700 gram pupuk kandang magau + 10 gram NPK Phonska), P3 (1400 gram pupuk kandang magau + 20 gram NPK Phonska), P4 (1100 gram pupuk kandang magau + 30 gram NPK Phonska), P5 (800 gram pupuk kandang magau + 40 gram NPK Phonska), P6 (500 gram pupuk kandang magau + 50 gram NPK Phonska), P7 (200 gram pupuk kandang magau + 60 gram NPK Phonska), dan P8 (pupuk NPK Phonska 70 gram). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan, dengan asumsi terdapat pengaruh perbandingan pupuk kandang magau dan NPK Phonska terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan campuran pupuk kandang alami dengan NPK Phonska memberikan pengaruh terbaik terhadap tinggi tanaman dan jumlah anakan pada perlakuan P6, yaitu campuran 500 gram pupuk kandang magau dan 50 gram pupuk NPK Phonska
Sosialisasi Optimalisasi Manajemen Budidaya Udang Vanname Di Desa Bungkah, Kabupaten Aceh Utara
Budidaya udang vanname diwilayah Kabupaten Aceh Utara sebagian besar menjadi pencaharian bagi masyarakat di Aceh. Kegiatan sosialisasi optimiliasasi manajemen Budidaya udang vanname yang dilakukan dapat menambah pengetahuan bagi pembudidaya udang, sehingga para petani tambak udang lebih bersemangat dalam mengelola tambang udang yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekomian masyarakat. Dengan pelaksanaan pengabdian ini akan pembudidaya udang akan mendapat pengetahuan dalam manajemen budidaya udang vanname tentang optimalisasi manajemen budidaya udang vanname dalam mengelola tambak udang dan juga perlu petani mendapatkan wawasan tambahan tentang teknologi agar tercapainya tujuan hidup yang lebih baik dimanapun dan dalam situasi apapun.Budidaya udang vanname diwilayah Kabupaten Aceh Utara sebagian besar menjadi pencaharian bagi masyarakat di Aceh. Kegiatan sosialisasi optimiliasasi manajemen Budidaya udang vanname yang dilakukan dapat menambah pengetahuan bagi pembudidaya udang, sehingga para petani tambak udang lebih bersemangat dalam mengelola tambang udang yang pada akhirnya dapat meningkatkan perekomian masyarakat. Dengan pelaksanaan pengabdian ini akan pembudidaya udang akan mendapat pengetahuan dalam manajemen budidaya udang vanname tentang optimalisasi manajemen budidaya udang vanname dalam mengelola tambak udang dan juga perlu petani mendapatkan wawasan tambahan tentang teknologi agar tercapainya tujuan hidup yang lebih baik dimanapun dan dalam situasi apapun.
Preventif Tuberkulosis Paru Melalui Edukasi Kesehatan Kepada Masyarakat
Tuberculosis remains a health issue not only in Indonesia but also globally. The country needs to strive for the realization of a resilient and Tuberculosis-free Indonesian society through a Tuberculosis elimination program. The aim of this educational activity is to provide Information, Education, and Communication (IEC) related to Pulmonary Tuberculosis to the community at Puskesmas Ch. M Tiahahu in Ambon City. This educational initiative is conducted through lecture-style presentations and the distribution of leaflets to attendees at the health center. The results of the activity indicate that the education provided has generally met the targets outlined in the Program Operational Event (POA). However, the number of participants still does not cover the entire working area of Puskesmas Ch. M. Tiahahu. This is attributed to the fact that the education sessions are conducted before the commencement of services at the health center, limiting the number of participants at that time.Tuberkulosis masih menjadi permasalahan kesehatan, tidak hanya di Indonesia, melainkan juga secara global. Negara perlu mengupayakan terwujudnya masyarakat Indonesia yang tangguh dan bebas dari penyakit Tuberkulosis melalui program eliminasi Tuberkulosis. Tujuan dari kegiatan edukasi ini adalah memberikan KIE terkait Penyakit TB Paru Pada Masyarakat Di Puskesmas Ch. M Tiahahu Kota Ambon. Kegiatan edukasi ini dilaksanakan pada tanggal 26 September dengan metode penyuluhan dan pembagian leaflet kepada masyarakat yang hadir di puskemas. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi yang dilakukan ini umumnya telah mencapai target yang tercantum dalam Program Operasional Acara (POA). Meskipun demikian, jumlah peserta masih belum mencakup seluruh wilayah kerja Puskesmas Ch. M. Tiahahu. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa penyuluhan dilakukan sebelum dimulainya pelayanan di puskesmas, sehingga jumlah peserta pada saat itu masih terbatas
Mengurangi Risiko Low Back Pain (LBP) pada Lansia melalui Edukasi Kesehatan di Posyandu Lansia Desa Laha, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon
Gangguan muskuloskeletal menjadi masalah umum yang sering dialami lansia. Seiring bertambahnya usia, jaringan muskuloskeletal menunjukkan peningkatan kerapuhan tulang, hilangnya kekuatan otot dan redistribusi lemak hingga menurunkan kemampuan jaringan untuk menjalankan fungsi normalnya. Salah satu contoh gangguan muskuloskeletal yang sering diderita lansia adalah low back pain (LBP). Edukasi kesehatan terkait LBP kepada lansia merupakan langkah awal yang penting dalam mencegah dan mengelola nyeri punggung bawah pada lansia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko LBP pada lansia di Desa Laha melalui program edukasi kesehatan yang dilaksanakan di posyandu lansia. Kegiatan Pengabdian masyaralat ini dilaksana pada tanggal 20 September 2023 bertempat di Desa Laha, Kota Ambon. Kegiatan ini dihadiri sebanyak 25 lansia desa Laha. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pembagian leaflet, demonstrasi langsung dan penyuluhan. Pembagian leaflet bertujuan untuk memberikan informasi tertulis yang mudah dibaca dan dipahami oleh lansia, mengenai cara-cara pencegahan LBP serta informasi penting terkait kesehatan punggung. Selain itu, dilakukan demonstrasi langsung yang memungkinkan peserta untuk melihat secara langsung teknik-teknik atau gerakan-gerakan yang benar, seperti cara postur yang baik saat duduk, berdiri, atau mengangkat barang, yang dapat mengurangi risiko LBP. Terakhir, penyuluhan dilakukan untuk menjelaskan secara mendalam penyebab, gejala, dan cara-cara pencegahan LBP, dengan pendekatan interaktif yang memberikan kesempatan kepada lansia untuk bertanya dan berdiskusi mengenai masalah kesehatan yang mereka alami.Gangguan muskuloskeletal menjadi masalah umum yang sering dialami lansia. Seiring bertambahnya usia, jaringan muskuloskeletal menunjukkan peningkatan kerapuhan tulang, hilangnya kekuatan otot dan redistribusi lemak hingga menurunkan kemampuan jaringan untuk menjalankan fungsi normalnya. Salah satu contoh gangguan muskuloskeletal yang sering diderita lansia adalah low back pain (LBP). Edukasi kesehatan terkait LBP kepada lansia merupakan langkah awal yang penting dalam mencegah dan mengelola nyeri punggung bawah pada lansia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko LBP pada lansia di Desa Laha melalui program edukasi kesehatan yang dilaksanakan di posyandu lansia. Kegiatan Pengabdian masyaralat ini dilaksana pada tanggal 20 September 2023 bertempat di Desa Laha, Kota Ambon. Kegiatan ini dihadiri sebanyak 25 lansia desa Laha. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pembagian leaflet, demonstrasi langsung dan penyuluhan. Pembagian leaflet bertujuan untuk memberikan informasi tertulis yang mudah dibaca dan dipahami oleh lansia, mengenai cara-cara pencegahan LBP serta informasi penting terkait kesehatan punggung. Selain itu, dilakukan demonstrasi langsung yang memungkinkan peserta untuk melihat secara langsung teknik-teknik atau gerakan-gerakan yang benar, seperti cara postur yang baik saat duduk, berdiri, atau mengangkat barang, yang dapat mengurangi risiko LBP. Terakhir, penyuluhan dilakukan untuk menjelaskan secara mendalam penyebab, gejala, dan cara-cara pencegahan LBP, dengan pendekatan interaktif yang memberikan kesempatan kepada lansia untuk bertanya dan berdiskusi mengenai masalah kesehatan yang mereka alami
Model dan Modul Edukasi ‘Financial English’ untuk Meningkatkan Literasi Keuangan dan Investasi Gen-Z di Kabupaten Tolitoli
Financial literacy and investment awareness are essential competencies for young people in the digital economy era. However, students of Generation Z in regional areas such as Tolitoli Regency continue to face significant gaps in understanding basic financial concepts and common investment terms—especially when such information is presented in English. This study aims to: (1) identify the current state of financial and investment literacy, along with English comprehension related to financial contexts among Gen-Z students in Tolitoli; (2) develop an educational model and module of Financial English tailored to local needs; and (3) evaluate the effectiveness of the module in enhancing financial understanding and decision-making skills. The research employed a research and development approach, combining surveys, interviews, pre- and post-tests, and expert validation as data collection methods. Findings revealed low levels of investment literacy and limited comprehension of financial English terminology, with language acting as a major barrier to accessing credible financial information. The developed module, which integrates localized financial education with contextual English learning, proved effective in improving both conceptual understanding and students’ confidence in managing financial decisions. These results suggest that a contextual, dual-focus approach can serve as a strategic solution for strengthening the financial preparedness of young people in underserved regions.Literasi keuangan dan investasi merupakan kompetensi penting bagi generasi muda di era ekonomi digital. Namun, pada kenyataannya, mahasiswa Gen-Z di wilayah daerah seperti Kabupaten Tolitoli masih menunjukkan tingkat pemahaman yang rendah, baik terhadap konsep keuangan maupun terminologi dasar investasi, terlebih yang disampaikan dalam Bahasa Inggris. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi kondisi literasi keuangan, investasi, dan kemampuan pemahaman Financial English mahasiswa Gen-Z di Kabupaten Tolitoli; (2) mengembangkan model dan modul edukasi Financial English berbasis kebutuhan lokal; serta (3) menguji efektivitas modul dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan literasi finansial. Metode penelitian menggunakan pendekatan research and development dengan teknik pengumpulan data melalui survei, wawancara, pre-test dan post-test, serta validasi ahli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi investasi dan pemahaman istilah finansial berbahasa Inggris masih rendah, dengan kendala utama terletak pada akses terhadap sumber belajar yang sesuai. Modul edukasi yang dikembangkan terbukti efektif meningkatkan pemahaman dan kepercayaan diri mahasiswa dalam mengelola informasi keuangan dan mengambil keputusan finansial yang lebih bijak. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan terpadu antara literasi keuangan dan Bahasa Inggris kontekstual dapat menjadi solusi strategis dalam membangun kesiapan finansial generasi muda di daerah
Evaluasi Uji Radicle Emergence dengan Uji Kecepatan Tumbuh Benih Selada
Benih selada mempunyai vigor rendah ketika ditanam di lapang yang disebabkan karena suhu tinggi. Benih bervigor rendah menghasilkan perkecambahan yang lambat dan tidak seragam di lapang sehingga berpengaruh terhadap produksi tanaman. Untuk mengetahui vigor benih secara cepat, dibutuhkan metode uji perkecambahan yang mencerminkan performa benih di lapang. Uji Radicle Emergence (RE) digunakan untuk mendeteksi vigor benih secara cepat namun validasinya terbatas pada beberapa komoditas saja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan metode penghitungan uji RE pada benih selada serta mengetahui korelasi antara uji RE dengan uji kecepatan tumbuh benih (KCT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial yang terdiri dari varietas selada (Grand Rapids, Ava Red, Red Coral, Karina) dan hari pengecambahan (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 hari). Terdapat 28 kombinasi perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 15 kali sehingga terdapat total 420 satuan percobaan. Variabel pengamatan penelitian merupakan persentase KCT dan RE. Perhitungan RE dilakukan menggunakan beberapa rumus dengan satuan %/etmal, %, benih/etmal, dan hari. Perhitungan RE menggunakan satuan hari dilakukan dengan pendekatan Mean Germination Time (MGT). Hasil menunjukkan bahwa evaluasi RE menggunakan hitungan %/etmal, %, dan benih/etmal dilakukan pada rentang 1-2 hari. Evaluasi RE menggunakan MGT dilakukan pada 1.2 – 3.69 hari. Metode penghitungan RE menggunakan MGT berkorelasi erat dengan KCT namun hubungannya negatif (r = -0.856, R2 = 0.7333, p<0.001), semakin tinggi KCT maka waktu munculnya radikula semakin cepat.Benih selada mempunyai vigor rendah ketika ditanam di lapang yang disebabkan karena suhu tinggi. Benih bervigor rendah menghasilkan perkecambahan yang lambat dan tidak seragam di lapang sehingga berpengaruh terhadap produksi tanaman. Untuk mengetahui vigor benih secara cepat, dibutuhkan metode uji perkecambahan yang mencerminkan performa benih di lapang. Uji Radicle Emergence (RE) digunakan untuk mendeteksi vigor benih secara cepat namun validasinya terbatas pada beberapa komoditas saja. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan metode penghitungan uji RE pada benih selada serta mengetahui korelasi antara uji RE dengan uji kecepatan tumbuh benih (KCT). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial yang terdiri dari varietas selada (Grand Rapids, Ava Red, Red Coral, Karina) dan hari pengecambahan (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 hari). Terdapat 28 kombinasi perlakuan, setiap perlakuan diulang sebanyak 15 kali sehingga terdapat total 420 satuan percobaan. Variabel pengamatan penelitian merupakan persentase KCT dan RE. Perhitungan RE dilakukan menggunakan beberapa rumus dengan satuan %/etmal, %, benih/etmal, dan hari. Perhitungan RE menggunakan satuan hari dilakukan dengan pendekatan Mean Germination Time (MGT). Hasil menunjukkan bahwa evaluasi RE menggunakan hitungan %/etmal, %, dan benih/etmal dilakukan pada rentang 1-2 hari. Evaluasi RE menggunakan MGT dilakukan pada 1.2 – 3.69 hari. Metode penghitungan RE menggunakan MGT berkorelasi erat dengan KCT namun hubungannya negatif (r = -0.856, R2 = 0.7333, p<0.001), semakin tinggi KCT maka waktu munculnya radikula semakin cepat
Peran UMKM dalam Kontribusi Terhadap Pengangguran dan Kemiskinan: Studi Kasus Kabupaten Bangkalan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bangkalan memiliki peran strategis sebagai penyangga ekonomi, khususnya dalam menghadapi tekanan ekonomi seperti krisis dan terbatasnya lapangan kerja formal. Karakteristik UMKM yang berskala kecil dan berbasis potensi lokal membuatnya fleksibel dan adaptif terhadap perubahan kondisi. Namun, kontribusi UMKM dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan di daerah ini belum sepenuhnya optimal. Berbagai hambatan struktural, seperti keterbatasan akses pembiayaan, rendahnya kapasitas manajerial, minimnya pemanfaatan teknologi, serta lemahnya integrasi dalam rantai nilai industri, menjadi kendala utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran UMKM dalam penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bangkalan, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi daerah. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode studi kepustakaan melalui telaah literatur ilmiah, artikel jurnal, buku, laporan resmi, dan dokumen relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat, namun masih menghadapi keterbatasan dukungan kelembagaan dan kebijakan yang tidak terkoordinasi dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan ekosistem UMKM secara komprehensif, mencakup peningkatan akses pembiayaan, pendampingan manajerial, serta integrasi dalam rantai nilai industri guna mendukung pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan.Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Bangkalan memiliki peran strategis sebagai penyangga ekonomi, khususnya dalam menghadapi tekanan ekonomi seperti krisis dan terbatasnya lapangan kerja formal. Karakteristik UMKM yang berskala kecil dan berbasis potensi lokal membuatnya fleksibel dan adaptif terhadap perubahan kondisi. Namun, kontribusi UMKM dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan di daerah ini belum sepenuhnya optimal. Berbagai hambatan struktural, seperti keterbatasan akses pembiayaan, rendahnya kapasitas manajerial, minimnya pemanfaatan teknologi, serta lemahnya integrasi dalam rantai nilai industri, menjadi kendala utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran UMKM dalam penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bangkalan, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat kontribusinya terhadap pembangunan ekonomi daerah. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode studi kepustakaan melalui telaah literatur ilmiah, artikel jurnal, buku, laporan resmi, dan dokumen relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UMKM berkontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat, namun masih menghadapi keterbatasan dukungan kelembagaan dan kebijakan yang tidak terkoordinasi dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan ekosistem UMKM secara komprehensif, mencakup peningkatan akses pembiayaan, pendampingan manajerial, serta integrasi dalam rantai nilai industri guna mendukung pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan
Inovasi Arsitektur Amfibi dan Rekayasa Lanskap Adaptif untuk Ketahanan Permukiman terhadap Banjir di Bantaran Sungai Tuweley, Tolitoli
The increasing risk of flooding in settlements along the Tuweley River, Tolitoli, driven by climate change and environmental degradation, has resulted in more frequent and intense flood events. These conditions have caused significant infrastructure damage, reduced living standards, and substantial socio-economic losses. Addressing this challenge requires integrated solutions that combine flood control measures with interconnected drainage systems and building designs capable of adapting to inundation. This study aims to develop concepts of amphibious architecture and adaptive landscape engineering to enhance regional resilience. Amphibious architecture enables structures to adjust dynamically to fluctuating water levels through flexible design systems. At the same time, adaptive landscape engineering applies ecological principles to mitigate flood impacts and improve water infiltration capacity. The research methodology consists of three main stages: (1) vulnerability assessment using GIS mapping and HEC-RAS simulations, (2) participatory design processes involving local communities through focus group discussions (FGDs) to incorporate indigenous knowledge and practical needs, and (3) small-scale prototype testing to evaluate the performance of proposed solutions. Anticipated outcomes include an amphibious architectural model, nature-based landscape strategies, and policy recommendations for local authorities. Implementation will be pursued through Memorandums of Understanding (MoUs) with key stakeholders, supported by follow-up FGDs to develop strategies for collaboratively creating safer, more resilient, and sustainable settlements.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko banjir di permukiman bantaran Sungai Tuweley, Tolitoli, akibat perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang memicu frekuensi serta intensitas banjir lebih tinggi. Dampaknya meliputi kerusakan infrastruktur, penurunan kualitas hidup, dan kerugian sosial-ekonomi. Diperlukan solusi terpadu berupa pengendalian banjir yang terintegrasi dengan sistem drainase, serta desain konstruksi yang mampu beradaptasi terhadap genangan. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan konsep arsitektur amfibi dan rekayasa lanskap adaptif untuk meningkatkan ketahanan kawasan. Arsitektur amfibi memungkinkan bangunan menyesuaikan diri terhadap naik-turunnya muka air melalui sistem fleksibel, sementara rekayasa lanskap adaptif memanfaatkan pendekatan ekologi untuk mitigasi banjir dan meningkatkan resapan air. Metode penelitian meliputi tiga tahap: (1) analisis kerentanan melalui pemetaan GIS dan simulasi HEC-RAS, (2) perancangan desain partisipatif dengan masyarakat melalui FGD untuk mengakomodasi kearifan lokal, dan (3) uji prototipe skala kecil guna mengukur efektivitas desain. Hasil yang diharapkan meliputi model arsitektur amfibi, strategi lanskap berbasis alam, dan rekomendasi kebijakan daerah. Implementasi direncanakan melalui MoU dengan pihak terkait, disertai FGD lanjutan untuk merumuskan strategi bersama pemangku kepentingan demi menciptakan lingkungan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan
Evaluasi Pemekaran Desa Terhadap Pembangunan Infrastruktur; Studi Di Desa Ogolali Kecamatan Dampal Utara Kabupaten Tolitoli
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemekaran terhadap pembangunan infrastruktur di Desa Ogolali dengan menggunakan kerangka evaluatif Dunn (efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif; data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam (11 informan purposive), dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil menunjukkan bahwa pemekaran berhasil mewujudkan sejumlah output infrastruktur seperti fasilitas pendidikan, irigasi, dengan capaian teknis sekitar 80%; namun pencapaian outcome yang berdampak nyata terhadap kesejahteraan (terutama perbaikan jalan desa) belum konsisten. Faktor penghambat meliputi keterbatasan fiskal, kapasitas teknis lokal, koordinasi antar-institusi, dan mekanisme partisipasi masyarakat yang belum optimal. Secara umum, pemekaran memperpendek jalur birokrasi dan meningkatkan potensi alokasi sumber daya, tetapi efektivitas dan kecukupan hasil masih perlu penguatan melalui prioritas anggaran untuk infrastruktur kritis, penguatan tata kelola dan transparansi dana, serta mekanisme monitoring partisipatif. Keterbatasan penelitian: studi kasus tunggal dan desain cross-sectional yang membatasi generalisasi
STRATEGI KEPALA DESA DALAM MENANGGULANGI KEMISKIN DI DESA RANGALAKA
This study aims to describe the strategies employed by the Village Head of Rangalaka in tackling extreme poverty in Rangalaka Village, Kotabaru Subdistrict, Ende Regency, East Nusa Tenggara. A descriptive qualitative approach was used in this study, with data collection techniques including interviews, observation, and documentation of the Village Head, village officials, community leaders, and program beneficiaries. The results of the study show that the Head of Rangalaka Village implemented four main strategies in combating extreme poverty, namely: (1) distribution of assistance and social security through the BLT-DD, BPNT, KIS, and KIP programs; (2) community economic empowerment through the establishment of BUMDes and training in productive business skills; (3) improving human resource capacity through entrepreneurship and financial management training; and (4) optimizing Village Funds for productive economic activities. Factors supporting the success of these strategies include community and traditional leader support, budget transparency, and synergy with cross-sector institutions. However, obstacles include low education levels, limited capital, and dependence on government assistance. Overall, the strategy of the Rangalaka Village Head demonstrates a community-based development approach that is oriented towards the economic empowerment and independence of residents. This approach is in line with national policies and sustainable development goals (SDGs), particularly in efforts to eradicate extreme poverty at the village level.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi Kepala Desa Rangalaka dalam menanggulangi kemiskinan ekstrem di Desa Rangalaka, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap Kepala Desa, perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga penerima manfaat program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kepala Desa Rangalaka menerapkan empat strategi utama dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem, yaitu: (1) penyaluran bantuan dan jaminan sosial melalui program BLT-DD, BPNT, KIS, dan KIP; (2) pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pembentukan BUMDes dan pelatihan keterampilan usaha produktif; (3) peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan kewirausahaan dan pengelolaan keuangan; serta (4) optimalisasi Dana Desa untuk kegiatan ekonomi produktif. Faktor pendukung keberhasilan strategi ini antara lain adanya dukungan masyarakat dan tokoh adat, transparansi anggaran, serta sinergi dengan lembaga lintas sektor. Namun, kendala yang dihadapi mencakup rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan modal, dan ketergantungan terhadap bantuan pemerintah. Secara keseluruhan, strategi Kepala Desa Rangalaka menunjukkan pendekatan pembangunan berbasis masyarakat (community-based development) yang berorientasi pada pemberdayaan dan kemandirian ekonomi warga. Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan nasional dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam upaya penghapusan kemiskinan ekstrem di tingkat desa