Jurnal EDUKES (Jurnal Penelitian Edukasi Kesehatan)
Not a member yet
129 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGGUNAAN IUD POST PLASENTA DI PMB WILAYAH KERJA KABUPATEN ACEH UTARA
Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah untuk melancarkan program KB adalah dengan mensosialisasikan metode kontrasepsi terkini yaitu IUD post plasenta. Beberapa faktor yang berhubungan dengan pengguanaan IUD post plasenta adalah usia, paritas, pendidikan dan pengetahuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidntifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan penggunaan IUD post plasenta di PMB Wilayah Kerja Kabupaten Aceh Utara. Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan desain studi “cross sectional”, dengan sampel sebanyak 32 orang dari total populasi seluruh ibu post partumyang kebetulan ada di Wilayah Kerja PMB Kabupaten Aceh Utara. Penelitian ini dilakukan dengan metode pengukuran penyebaran kuesioner. Pengolahan data dilakukan Hasil analisis univariat diperoleh bahwa pekerjaan ibu sebagian besar berada pada kategori tidak bekerja berjumlah 21 (66%), usia ibu sebagian besar berada pada kategori dewasa madya berjumlah 18 orang (56%), paritas ibu sebagian besar berada pada kategori primipara berjumlah 17 orang (53%), pendidikan ibu sebagian besar berada pada kategori menengah berjumlah 20 orang (62%), pengetahuan ibu sebagian besar berada pada kategori kurang berjumlah 17 orang (53%) dan penggunaan IUD post plasenta sebagian besar berada pada kategori tidak berjumlah 21 orang (66%) sedangkan hasil analisis bivariat diperoleh bahwa terdapat hubungan bermakna antara umur ibu dengan penggunaan IUD post plasenta dengan nilai p value sebesar 0.001, terdapat hubungan bermakna antara paritas ibu dengan penggunaan IUD post plasenta dengan nilai p value sebesar 0.001, terdapat hubungan bermakna antara pendidikan ibu dengan penggunaan IUD post plasenta dengan nilai p value sebesar 0.003 danterdapat hubungan bermakna antara pengetahuan ibu dengan penggunaan IUD post plasenta dengan nilai p value sebesar 0.002. Diharapkan kepada responden agar dapat menambah wawasan kepada masyarakat khususnya bagi wanita usia subur untuk memilih pemasangan kontrasepsi IUD post plasenta
Pengaruh Health Education Tentang Pijat Bayi Usia 3-6 Bulan terhadap Sikap Ibu di Desa Sidodadi Puskesmas Langsa Lama Tahun 2018
Health education merupakan proses perubahan sikap secara terencana pada diri individu ataupun masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat yang merupakan proses belajar dari tidak tahu menjadi tahu. Metode penelitian menggunakan “pra-eksperimental one group pra-post test design”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Health Education Tentang Pijat Bayi Usia 3-6 Bulan terhadap Sikap Ibu di Desa Sidodadi Puskesmas Langsa Baro Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian Pre-EksperimenOne grup Pretest-Postest. Hasil penelitian diperoleh bahwa bahwa dari 52 responden sebelum di berikan health education tentang pijat bayi usia 3-6 bulan,hampir seluruhnya mempunyai sikap negatif 41 (78,8%), dengan kriteri usia >35 tahun 20 (38,4%), tingkat pendidikan SMA 23 (44,2%), tingkat pekerjaan ibu rumah tangga 21 (40,4%), pernah/tidaknya mendapat informasi tidak pernah 33 (62,5%), sumber informasi Tv/Radio/Internet 6 (31,6%), tenaga kesehatan 6 (31,6%). dan setelah di berikan Health Education tentang pijat bayi usia 3-6 bulan sebagian besar responden mempunyai sikap Positif 33 responden (63,5%). Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara Health Education tentang pijat bayi usia 3-6 bulan terhadap sikap ibu di Desa Sidodadi Kecamatan Langsa Lama
Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pemeriksaan Kehamilan K1 di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Aman Kecamatan Darul Aman Kabupaten Aceh Timur
Kesehatan ibu dan perinatal merupakan masalah nasional yang perlu mendapat prioritas utama, asus kematian pada ibu dapat dicegah melalui pemeriksaan kehamilan secara rutin dan efektif (antenatal care). Jumlah ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Aman pada tahun 2016 sebanyak 534 orang. Namun ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan K1 sebanyak 300 orang (56,18%).
Jenis penelitian ini menggunakan Cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 123 ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Aman. Data dalam penelitian dianalisis secara bivariat dengan menggunakan uji chi square dan multivariate menggunakan uji regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berpengaruh terhadap pemeriksaan kehamilan K1 yaitu pendidikan, pengetahuan, status pekerjaan, jarak tempat tinggal dan dukungan keluarga. Kesimpulan penelitian bahwa ada pengaruh variabel pendidikan, pengetahuan, status pekerjaan, jarak dan keluarga terhadap pemeriksaan kehamilan K1 di Wilayah Kerja Puskesmas Darul Aman
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kepatuhan Ibu Hamil Terhadap Konsumsi Tablet Fe (Besi) Selama Kehamilan Di Puskesmas Rantau Selamat Kab.Aceh Timur Tahun 2018
Millenium Development Goals (MDGs) merupakan tujuan yang mempunyai batasan waktu dan target terukur untuk menanggulangi kemiskinan, kelaparan, pendidikan, deskriminasi perempuan, kesehatan ibu dan anak, pengendalian penyakit, dan perbaikan kualitas lingkungan . Metode penelitian menggunakan penelitian bersifat Deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mempengaruhi faktor-faktor kepatuhan ibu hamil terhadap konsumsi table Fe (besi) selama kehamilan di Puskesmas Rantau Selamat Kab.Aceh Timu. Hasil penelitian diperoleh bahwa bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi Tablet Fe selama kehamilan. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa terdapat ada hubungan antara dukungan keluarga dengan Pengetahuan ibu terhadap mengkonsumsi tablet Fe (Besi) selama kehamilan
Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Pelaksanaan Cuci Tangan Sebelum Tindakan di Ruang Rawat Inap RSUD Langsa Tahun 2018
Petugas kesehatan mempunyai peran besar dalam rantaitransmisi infeksi ini. Akan tetapi kepatuhan hand hygiene seringkali kurang optimal. Penelitian yang dilakukan pada 40 rumah sakit yang melaporkan bahwa kepatuhan tenaga kesehatan yang melakukan hand hygiene sebelum dan setelah ke pasien bervariasi antara 24% sampai 89% (rata-rata 56,6%). Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelaksanaan cuci tangan sebelum tindakan di Ruang Rawat Inap RSUD Langsa tahun 2018.
Jenis penelitian ini bersifat analitik dengan desain crossectional. Data yang telah dikumpulkan dianalisa secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perawat pelaksana di Ruang Rawat Inap RSUD Langsa dengan jumlah responden sebanyak 73 responden menggunakan teknik proporsional stratified random sampling.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara sikap perawat dengan pelaksanaan cuci tangan sebelum tindakan p-value (Continuity Correction) 0,001 (p<0,05), ada hubungan yang signifikan antara fasilitas dengan pelaksanaan cuci tangan sebelum tindakan p-value (Continuity Correction) 0,000 (p<0,05) dan ada hubungan yang signifikan antara supervisi dengan pelaksanaan cuci tangan sebelum tindakan p-value (Continuity Correction) 0,000 (p<0,05)
Pemberdayaan Sosial Dan Pengembangan Partisipasi Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat dengan demikian berarti mengembangkan kemampuan masyarakat untuk dapat menjadi subyek pembangunan, problem solver dan memiliki kemandirian dalam menentukan nasib dan masa depannya sendiri. Fokus pemberdayaan masyarakat berorientasi pada keluarga.
Proses-proses yang terjadi dalam komunikasi kelompok memungkinkan unsur-unsur kebudayaan, norma sosial, kondisi situasional, tatanan psikologi, sikap mental, konteks tradisi budaya, maupun pengaruh ritual semuanya berproses dan turut menentukan proses-proses pemberdayaan. Dengan demikian, komunikasi kelompok merupakan proses yang sistematik dan terstruktur serta membentuk suatu sistem yang terdiri dari komponen-komponen sistemnya, seperti konteks komunikator, konteks pesan, dan konstruksi ide, konteks pola interaksi, konteks situasional, konteks sikap-sikap individu terhadap kelompok dan konsep toleransi yang ada dalam kelompok itu sendiri.
Pemberdayaan manusia yang dilakukan dengan benar akan menuju kepada kemandirian. Dengan adanya shared vision yang dikomunikasikan oleh pimpinan komunitas bersama para fasilitator secara partisipatif, dialogis, konvergen dan demokratis, akan timbul collective action dalam mencapai tujuan komunitas atau kelompok. Dengan demikian terjadi pemberdayaan sosial dan kemitraan yang tidak hanya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat namun juga menjaga berbagai nilai, norma dan budaya yang baik dalam komunitas
Hubungan Ketersediaan Alur Pelayanan dan Peran Petugas Kesehatan Dengan Waktu Tunggu Pelayanan Rekam Medis Di Poliklinik Rumah Sakit Umum Daerah Langsa
Lama waktu tunggu pasien mencerminkan bagaimana rumahsakit mengelola komponen pelayanan yang disesuaikan dengan situasi dan harapan pasien (Depkes RI,2007). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan ketersediaan alur pelayanan dan peran petugas kesehatan dengan waktu tunggu pelayanan rekam medis di poliklinik di RSUD Langsa Tahun 2016.
Jenis penelitian bersifat Analitik, dengan Desain penelitian Crossectional Study.Jumlah sampel yaitu 96 responden di poliklinik Rumah Sakit Kota Langsa Langsa kota, yang diambil dengan Accidental Sampling. Pengumpulan data diperoleh dengan wawancara melalui kuesioner dan lembar checklist, kemudian hasil penelitian diolah dan dianalisa.
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa pengetahuan setelah Setelah dilakukan uji statistik ( uji chi square) diperoleh nilai x2dengan nilai P = . 009 ( P<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan alur pelayanan terhadap waktu tunggu rekam medis di poliklinik RSUD Langsa.Peran Petugas setelah dilakukan uji statistik (uji chi squre) diperoleh nilai x² dengan nilai P = .005 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara Peran Petugas terhadap waktu tunggu pelayanan
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Anak Usia 24-59 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas IDI Kabupaten Aceh Timur Tahun 2018
Prevalensi Stunting di Indonesia menempati Peringkat kelima terbesar di dunia Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi stunting dalam lingkup nasional sebesar 37,2 Persen, terdiri dari prevalensi pendek sebesar 18,0 persen dan sangat pendek sebesar 19,2 Persen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Faktor-Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas IDI Kabupaten Aceh Timur Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian Studi analitik observasional dengan desain Cross Sectional. Hasil penelitian diperoleh bahwa karakteristik keluarga terdiri dari tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan ibu tentang gizi, tingkat pendapatan keluarga, dan jumlah anggota rumah tangga. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat asupan energi, rerata durasi sakit, berat badan lahir, tingkat pendidikan ibu, dan tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di wilayah kerja puskesmas IDI Kabupaten Aceh Timu
Pengaruh Pijat Bayi Terhadap Durasi Menyusui Pada Bayi Di BPM Puskesmas Langsa Lama Tahun 2018
Durasi lama menyusui bayi berbeda-beda sesuai dengan pola hisap bayi. Jika kegiatan menyusui berlangsung terlalu lama (lebih dari setengah jam) atau terlalu pendek (kurang dari 4 menit), hal ini menunjukkan kemungkinan adanya masalah pada perlekatan antara bayi dan puting susu ibu. Penelitian ini bertujuan untuk Pengaruh pijat bayi terhadap durasi menyusui pada bayi di BPM Puskesmas Langsa Lama. Penelitian ini merupakan Penelitian Experiment dengan Jenis Quasi-Experiment. Hasil penelitian diperoleh bahwa sebelum dan sesudah dipijat bayi menghasilkan. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa ada Pengaruh pijat bayi terhadap durasi menyusui pada bayi di BPM Puskesmas Langsa Lama