Bina Generasi - Jurnal Kesehatan
Not a member yet
157 research outputs found
Sort by
THE RELATIONSHIP OF NURSE KNOWLEDGE ABOUT THERAPEUTIC COMMUNICATION WITH IMPLEMENTATION OF THERAPEUTIC COMMUNICATION IN CHILDREN AGE OF PRASEKOLAH (6 YEARS) IN THE CARE ROOM 1 POLEWALI MANDAR RSUD
Latar Belakang: Komunikasi terapeutik merupakan cara untuk membina hubungan terapeutik antara perawat-klien. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi, yang dapat digunakan sebagai alat yang efektif dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak. Ada beberapa kemungkinan kurang berhasilnya komunikasi terapeutik pada anak diantaranya dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan komunikasi terapeutik, sikap perawat, tingkat pendidikan, pengalaman, lingkungan, jumlah tenaga yang dirasa kurang dan lain-lain. Ruang perawatan 1 merupakan ruang perawatan penyakit anak dengan kapasitas tempat tidur berjumlah 10 buah dengan jumlah pasien anak usia prasekolah sebanyak 18 orang. Menurut SK Menkes No. 262 tahun 2000 Rasio jumlah tempat tidur dengan jumlah perawat pada RSU tipe C non pendidikan, 2 Tempat Tidur berbanding 3-4 tenaga perawat. Melihat data jumlah perawat dan jumlah kapasitas tempat tidur di ruang perawatan 1 RSDU Polewali Mandar sangat tidak seimbang, sehingga kemungkinan berhasilnya komunikasi terapeutik pada anak berkurang dan dapat mempengaruhi pengetahuan dan sikap perawat dalam komunikasi terapeutik pada anak usia prasekolah. Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya adalah dengan menggunakan komunikasi terapeutik secara efektif yang akan dan sedang dilakukan tindakan keperawatan seperti menggali perassaan, pikiran, perubahan prilaku sehingga akan mampu memecahkan masalah psikologis pada anak usia prasekolah.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui Hubungan tingkat pengetahuan perawat tentang komunikasi terapeutik dengan pelaksanaan komunikasi terapeutik pada anak usia prasekolah 6 tahun di ruang perawatan 1 RSUD Polewali Mandar. dengan jenis penelitian menggunakan studi cross sectional Populasi penelitian ini adalah ibu balita yang berada di kecamatan Matakali kabupaten Polewali Mandar dengan jumlah 2389 ibu balita. Background: Therapeutic communication is a way to foster therapeutic relationships between nurse-clients. In the communication process occurs the delivery of information, which can be used as an effective tool in providing nursing care to children. There are several possibilities of less successful therapeutic communication in children such as influenced by lack of knowledge of therapeutic communication, nurse attitude, education level, experience, environment, number of perceived power less and others. Treatment room 1 is a children's disease room with a bed capacity of 10 pieces with the number of preschool children as many as 18 people. According to Minister of Health Decree No. 262 year 2000 Ratio of number of beds with number of nurses in non-educational C type RS, 2 beds versus 3-4 nurses. Looking at the data on the number of nurses and the number of bed capacity in the treatment room 1 RSDU Polewali Mandar is very unbalanced, so the likelihood of successful therapeutic communication in children is reduced and can affect the knowledge and attitude of nurses in therapeutic communication in preschoolers. To overcome the problem one of them is by using effective therapeutic communication that will and is being done nursing actions such as digging perassaan, mind, behavioral changes so that will be able to solve psychological problems in preschool age children.The purpose of this study is to know the relationship nurse knowledge level about communication therapeutic with the implementation of therapeutic communication in 6-year-old preschool children in the treatment room 1 RSUD Polewali Mandar. with type of research using cross sectional study The population of this research is mother of balita which is in sub district of Matakali district Polewali Mandar with number 2389 mother of toddler. Sampling is done by total sampling method that is all nurses who work in treatment room I as much as 21 implementing nurses.wwwwwwThe results showed that there was a correlation between the level of nurse knowledge about therapeutic communication with the implementation of therapeutic communication in preschool age children (6 years) in the treatment room 1 RSUD Polewali Mandar. Means there is a tendency that the higher knowledge the better the implementation of therapeutic communication itself, especially in children with significant degree of significance p = 0.007> 0.05 means H1 is rejected and H0 received. Expected to the Public Hospital dareah Polewali Mandar In order to get the maximum service improvement, so that patients and visitors feel satisfied with the services provided
HUBUNGAN PELAKSANAAN BONDING DAN ATTACHMENT PADA IBU PRIMIPARA DENGAN REAKSI IBU DAN BAYI DI KAMAR BERSALIN RSUD POLEWALI MANDAR
Membentuk ikatan batin dengan bayi adalah : proses dimana hasil dari suatu interaksi terus –menerus antara bayi dan orang tua (bayi dan anggota keluarga lain) dengan kedua pihak memainkan peran aktif, suatu hubungan yang bersifat saling mencintai dan mantap tercipta dan memberikan keduanya pemenuhan emosional, rasa percaya diri, stabilitas, hubungan yang bersifat saling membutuhkan (meskipun nantinya menjadi kemampuan untuk mandiri / independent dan kapasitas untuk meyadari potensi mereka dalam kehidupan). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mempelajari Hubungan Pelaksanaan Boinding dan Attachment pada ibu primipara terhadap Reaksi Ibu dan Bayi di Kamar Bersalin RSUD Polewali Mandar.
Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional study. Tehnik sampel yang digunakan adalah Non Probability Sampling dengan metode Aksidental Sampling. Jumlah sampel yang didapatkan pada penelitian ini berjumlah 25 orang. Variabel independen adalah pelaksanaan bonding dan attachment, dan variabel dependen adalah reaksi ibu dan bayi. Data diolah secara univariat, dan bivariat dengan menggunakan Uji chi-square dengan tingkat kemaknaan ? =0,5 yang diolah dengan menggunakan softwere komputer.
Hasil penelitian ini didapatkan dengan menggunakan analisis fisher’s exact test by chi square di dapatkan nilai p = 0.012 < ?, artinya H0 ditolak yang berarti bahwa ada hubungan antara pelaksanaan bonding dan attachment dengan reaksi ibu dan bayi di Kamar Bersalin RSUD Polewali.
Kesimpulan: Dari penelitian ini adalah ada pengaruh Bonding dan Atachment terhadap reaksi ibu dan bayi . sehingga perlu disarankan kepada petugas di kamar bersalin untuk selalu menerapkan tehnik Bonding dan AttachmentMembentuk ikatan batin dengan bayi adalah : proses dimana hasil dari suatu interaksi terus –menerus antara bayi dan orang tua (bayi dan anggota keluarga lain) dengan kedua pihak memainkan peran aktif, suatu hubungan yang bersifat saling mencintai dan mantap tercipta dan memberikan keduanya pemenuhan emosional, rasa percaya diri, stabilitas, hubungan yang bersifat saling membutuhkan (meskipun nantinya menjadi kemampuan untuk mandiri / independent dan kapasitas untuk meyadari potensi mereka dalam kehidupan). Tujuan Penelitian ini adalah untuk mempelajari Hubungan Pelaksanaan Boinding dan Attachment pada ibu primipara terhadap Reaksi Ibu dan Bayi di Kamar Bersalin RSUD Polewali Mandar.
Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional study. Tehnik sampel yang digunakan adalah Non Probability Sampling dengan metode Aksidental Sampling. Jumlah sampel yang didapatkan pada penelitian ini berjumlah 25 orang. Variabel independen adalah pelaksanaan bonding dan attachment, dan variabel dependen adalah reaksi ibu dan bayi. Data diolah secara univariat, dan bivariat dengan menggunakan Uji chi-square dengan tingkat kemaknaan ? =0,5 yang diolah dengan menggunakan softwere komputer.
Hasil penelitian ini didapatkan dengan menggunakan analisis fisher’s exact test by chi square di dapatkan nilai p = 0.012 < ?, artinya H0 ditolak yang berarti bahwa ada hubungan antara pelaksanaan bonding dan attachment dengan reaksi ibu dan bayi di Kamar Bersalin RSUD Polewali.
Kesimpulan: Dari penelitian ini adalah ada pengaruh Bonding dan Atachment terhadap reaksi ibu dan bayi . sehingga perlu disarankan kepada petugas di kamar bersalin untuk selalu menerapkan tehnik Bonding dan Attachmen
HUBUNGAN PENGETAHUAN KEPALA KELUARGA DALAM PENGGUNAAN AIR BERSIH DENGAN KEJADIAN DIARE DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TUTAR KECAMATAN TUTAR KABUPATEN POLEWALI MANDAR TAHUN 2015
Irritant contact dermatitis is a direct effect of local sitotosik iritanbaik materials physics and chemistry, which are not specific, the epidermal cells with the inflammatory response in the dermis in sufficient time and concentration. (Juanda, S 2009)
The purpose of this study to determine the presence of inflammation decrease in the cocor bebek duck fisherman dermatitis patients in the village of takatidung polewali district polewali mandar district.
Quasy ekperiment, to test the effect of the use of the leaves with a reduction in fishing inflammatory irritant contact dermatitis patients in a comparison test to determine significant influence among the group given and not given cocor bebek.
The population is 2 patients of irritant contact dermatitis in Takatidung Village Polewali District in Polewali Mandar Regency. The sample technique used is Accidental sampling and consists of 2 respondents where 1 resonden is given normal saline and 1 is not given from the first day until the ninth day of respondents who meet the inclusion criteria. The data collection was done by unstructured interview and direct observation to the patient.
Research showed that no effect was given and not given the leaves of cocor duck to decrease inflamasi. This can be seen with a value of P = 0.169 Paired T test which is less than the significance level ? = 0:05 to show the administration duck cocor not effective in reducing the inflammatory irritant contact dermatitis.
Giving of duck cocor leaves for decreasing inflammation from day to day has a significant change but statistically there is no effect. While the advice recommended for researchers to increase the number of existing samples so that the results are more meaningful and more accurate from this study.Belakang: Penyakit diare merupakan masalah yang sering dihadapi di Indonesia. Masalah ini menjadi semakin serius karena keterlambatan pengambilan tindakan penanggulangannya. Untuk mengurangi permasalahan yang diakibatkan diare diperlukan upaya untuk mengetahui keadaan-keadaan yang menjurus akan terjadinya KLB diare. Beberapa faktor penyebab terjadinya penyakit diare adalah jauhnya jangkauan unit pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta, faktor pendidikan dan pengetahuan masyarakat serta perilaku masyarakat dalam menggunakan sarana air bersih dan faktor lingkungan yang belum memenuhi standar kesehatan.Angka penemuan kasus penyakit diare di Kabupaten Polewali Mandar pada tahun 2010 adalah 6.521 orang yang terdiri dari anak umur kurang dari 1 tahun sebanyak 1782 anak, umur 1 – 4 tahun sebanyak 2023 anak dan umur 5 tahun ke atas sebanyak 2716 anak. Angka kematian akibat diare sebanyak 4 orang yang terdiri dari bayi umur kurang dari 5 tahun sebanyak 2 orang dan sisanya anak umur lebih dari 5 tahun (Dinkes Polman, 2011) Lokasi penelitian ini bertempat di Wilayah Kerja Puskesmas Tutar yang angka kejadian diare tertinggi diantara puskesmas-puskesmas lainnya selama tahun 2011 yaitu sebanyak 315 kasus. Tingginya angka kejadian diare di Puskesmas Tutar Kecamatan Tutar Kabupaten Polman salah satunya dipengaruhi oleh rendahnya pengetahuan yangdimiliki kebanyakan masyarakat dalam penggunaan air bersih, kurangnya keluarga yang memiliki sumur gali/bor maupun PAM. Kebanyakan masyarakat menggunakan air untuk kehidupan sehari-harinya (mandi, cuci, kakus dan memasak) berasal dari sungai baik musim hujan maupun musim kemarau, dimana air sungai tersebut kurang jernih dan banyak mengandung kotoran (Puskesmas Tutar, 2011). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan pengetahuan kepala keluarga dalam penggunaan air bersih dengan kejadian diare di Puskesmas Tutar Kecamatan Tutar Kabupaten Polman dengan jenis penelitian menggunakan studi cross sectional Populasi penelitian ini adalah seluruh kepala keluarga yang ada di Puskesmas Tutar Kecamatan Tutar Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 5057 kepala keluarga. Tekhnik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proporsional random sampling, sebanyak 98 responden
HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DENGAN TIMBULNYA TANDA-TANDA SMOKER’S MELANOSIS DI LINGKUNGAN POKKO KECAMATAN ANREAPI KABUPATEN POLEWALI MANDAR
Smoking that is a problem for health in the world because can cause anything disease and we can kill because of that, smoking that’s a habit for some people in their dayly life and for the societies. Ironically most smokers actually comes from the low economic. The prepalence of smokers in the farmer bigger than another jobs. Part of the oral mucosa are exposed the second smoker can cause the smoker’s.The aims of the researchto know the relationship smoking habit with signs smoker’s melanosis in neighborhood pokko anreapi district polewali mandar. thas is analysis with cross sectional, population people smooking activemeet inclusion criteria.This research smple 64 respondent with using Simpel random sampling the instrument that using questionnaire a smoking habit with pieces observation in mouth cavity. The results of the statistical test using chi square test a ? = 0,05 then the ? : 0,000 this means that the value of ? < ? atau 0,000 < 0,05. The conclusion is have the relationship between relationship smoking habit with signs smoker’s melanosis in neighborhood pokko anreapi district polewali mandar. Advice for this research, the societiesfor the passive or active smoker’s we hope that can sate our health likes our tooth and mouth for be betteKeywords : Smooking habit, signs smoker’s melanosisMerokok masih merupakan masalah kesehatan dunia karena dapat menebabkan berbagai penyakit bahkan kematian, merokok sudah menjadi kebiasaan yang lazim ditemui dalam kehidupan sehari-hari yang meluas di masyarakat. Ironisnya sebagian besar perokok justru berasal dari golongan ekonomi yang rendah dimana prepalensi perokok pada petani lebih besar dibandingkan pekerjaan yang lain. Bagian mukosa mulut yang terpapar asap rokok dapat menyebabkan terjadinya Smoker’s Melanosis Untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan timbulnya tanda-tanda Smoker’s Melanosis dilingkungan Pokko KecamatanAnreapi. analitik dengan rancangan cross sectional, populasi yaitu seluruh masyarakat yang merokok aktif dilingkungan Pokko Kecamatan Anreapi yang memenuhi kriteria Inklusi.Sampel penelitian ini 64 responden yang didapat dengan menggunakan teknik Simpel random sampling. Instrumen yang digunakan yaitu kuesioner kebiasaan merokok dengan lembar observasi pemeriksaan rongga mulut. Hasil penelitian uji statistik menggunakan Chi Scuare pada tingkat kemakmuran ? = 0,05 dimana hasil penelitian diperoleh ? : 0,000 yang menunjukan ? < ? atau 0,000 < 0,05. terdapat hubungan yang bermakna antara hubungan kebiasaan merokok dengan timbulnya tanda-tanda Smoker’s Melanosis dilingkungan Pokko Kecamatan Anreapi. Saran masyarakat yang merokok maupun yang tidak merokokdiharapkan agar dapat menjaga kesehatan gigi dan mulut lebih baik lagi.
Smoking that is a problem for health in the world because can cause anything disease and we can kill because of that, smoking that’s a habit for some people in their dayly life and for the societies. Ironically most smokers actually comes from the low economic. The prepalence of smokers in the farmer bigger than another jobs. Part of the oral mucosa are exposed the second smoker can cause the smoker’s.The aims of the researchto know the relationship smoking habit with signs smoker’s melanosis in neighborhood pokko anreapi district polewali mandar. thas is analysis with cross sectional, population people smooking active meet inclusion criteria.This research smple 64 respondent with using Simpel random sampling the instrument that using questionnaire a smoking habit with pieces observation in mouth cavity. The results of the statistical test using chi square test a ? = 0,05 then the ? :0,000 this means that the value of ? < ? atau 0,000 < 0,05. The conclusion is have the relationship between relationship smoking habit with signs smoker’s melanosis in neighborhood pokko anreapi district polewali mandar. Advice for this research, the societies for the passive or active smoker’s we hope that can sate our health likes our tooth and mouth for be bett
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG INISIASI MENYUSU DINI DI WILAYAH KERJA BPS SALSA MANDING KECAMATAN POLEWALI KABUPATEN POLEWALI MANDAR
Latar Belakang : Pemberian ASI secara dini memberi kemungkinan delapan kali lebih besar dalam memberikan ASI eksklusif. Inisiasi menyusu dini (IMD) akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI ekslusif enam bulan. Kontak dini ibu dan bayi akan meningkatkan waktu menyusu menjadi dua kali lebih lama dibandingkan kontak yang lambat (Ertem,2001; Giugliani , 2004; Vaidya, K. Et al, 2005; Februhartanty, 2008). Berdasarkan studi pendahuluan di Bidan Praktek Swasta (BPS) “S” Manding Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar pada 10 orang ibu hamil dengan metode wawancara didapatkan hasil 6 orang (60%) dari 10 ibu hamil mempunyai pengetahuan kurang tentang IMD, 1 orang (10 %) dari10 ibu hamil mempunyai pengetahuan cukup tentang IMD dan 2 orang (20%) dari 10 ibu hamil mengetahui tentang IMD.
Tujuan penelitian : Untuk mengetahui secara umum Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini Di Wilayah Kerja BPS “S” Manding Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar.
Metode penelitian : Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang ada di BPS “S” Manding Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar, periode Januari sampai Maret 2014, dimana jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 120 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah 55 ibu hamil yang mendukung dan bisa membaca serta menulis; penentuan jumlah sampel dalam penelitian yang digunakan adalah Simple random sampling yaitu pengambilan sampel dengan cara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam dalam anggota populasi.
Hasil : rata-rata responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang pengertian inisiasi menyusu dini yaitu sebanyak 22 orang (44%), kriteria pengetahuan baik 23 orang (46%) dan kriteria pengetahuan kurang 5 orang (10%) dari 55 responden. responden memiliki pengetahuan yang kurang tentang manfaat inisiasi menyusu dini. Dimana tabel tersebut dapat dilihat bahwa ibu dengan tingkat pengetahuan cukup 14 orang (28%), pengetahuan kurang 20 orang (40%) dan pengetahuan baik terdapat 16 orang (32%) dari 55 responden. Responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup tentang hal yang harus diperhatikan saat proses inisiasi menyusu dini yaitu sebanyak 19 responden atau (38%), dan yang memperoleh kriteria baik sebanyak 12 responden atau (24%).
Simpulan dan saran : Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa peran tenaga kesehatan masih sangat diperlukan khususnya dalam memberikan pelayanan dan penyuluhan tentang inisiasi menyusu dini. Proses pendidikan hendaknya lebih memberikan wawasan dan juga ilmu yang lebih mendalam tentang inisiasi menyusu dini sehingga ilmu pengetahuan yang diperoleh peserta didik dapat diaplikasikan di masyarakat.
 
HUBUNGAN LAMA DAN POSISI DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PENJAHIT BAJU DI PASAR SENTRAL POLEWALI DAN PASAR WONOMULYO KABUPATEN POLEWALI MANDAR
Low back pain (LBP) is usually caused by musculoskletal defect at work. Low back pain is a pain occuring below part of the back and capable of moving to feet particularly in the back and outside. Low Back Pain in prolonged sitting is caused by strained and sprained muscles and ligaments on the back. Besides of prolonged sitting, the position of sitting is the other risk for Low Back Pain. A sitting static less ergonomic as sit in a bent position can trigger work powerful muscles and long without sufficient the recovery and the flow of blood to the obstructed
Objective The objective of this study is to find relationship prolonged and position of sitting with complaints low back pain to tailor clothes in Central Market Polewali and Market Wonomulyo Polewali Mandar
Methods the sample collecting technique utilizes total sampling that there are 35 samples.
Result from the research result using chi-square statistic test, it is attained that there is relation which means prolonged sitting with the complaints low back pain to to tailor clothes in central market polewali and market wonomulyo polewali mandar ?-value=0,002. There is relation which means position sitting with the complaints low back pain to to tailor clothes in central market polewali and market wonomulyo polewali mandar ?-value=0,006.Nyeri punggung merupakan gangguan muskuloskeletal yang paling sering didalam aktivitas kerja. Nyeri punggung adalah rasa nyeri yang terjadi di daerah punggung bagian bawah dan dapat menjalar ke kaki terutama bagian belakang dan samping luar. Duduk lama dapat mengakibatkan ketegangan dan keregangan ligamentum dan otot tulang belakang sehingga mengakibatkan keluhan Nyeri Punggung Bawah. Selain lamanya duduk, posisi duduk turut mempengaruhi risiko Nyeri Punggung Bawah. Posisi duduk statis yang kurang ergonomis seperti duduk dalam posisi membungkuk dapat memicu kerja otot yang kuat dan lama tanpa cukup pemulihan dan aliran darah ke otot terhambat.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan lama dan posisi duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah pada penjahit baju di Pasar Sentral Polewali Dan Pasar Wonomulyo Kabupaten Polewali Mandar.
Metode penelitian yaitu studi korelasi. Cara pengambilan sampel menggunakan total sampling dengan jumlah sampel 35 orang
GAMBARAN PENGETAHUAN WANITA USIA SUBUR TENTANG FACTOR RESIKO KEHAMILAN DI ATAS USIA 35 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS POLEWALI KECAMATAN BINUANG KABUPATEN POLEWALI MANDAR
Latar Belakang : resiko yang meningkat saat kehamilan diatas usia 35 tahun baik untuk sang ibu (tekanan darah tinggi) dan untuk sang bayi (resiko Down Syndrome) dapat mengganggu optimalisasi ibu maupun janin selama masa kehamilan.Tujuan : untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil tentang pengertian, faktor resiko pada janin, faktor resiko pada ibu. Metode penelitian : bersifat deskriptif, subjek penelitiannya yaitu wanita usia subur di wilayah kerja Puskesmas Polewali. Sedangkan objek penelitiannya adalah gambaran pengetahuan wanita usia subur tentang faktor resiko kehamilan diatas usia 35 tahun. Total populasi yaitu 94 (WUS) dengan menggunakan random sampling. Alat pengambilan data yang digunakan adalah lembar kuesioner yang terdiri dari 3 sub pertanyaan, yaitu pengertian, faktor resiko pada janin, faktor resiko pada ibu. Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian di dapatkan pengetahuan ibu hamil tentang pengertian, kriteria baik sebanyak 53 responden, (46,38%), faktor resiko pada janin kriteria cukup sebanyak 42 responden, (44,68%), faktor resiko pada ibu kriteria cukup sebanyak 51 responden, (54,26%)