e-Journal Institut Injil Indonesia
Not a member yet
188 research outputs found
Sort by
KONTRIBUSI GAGASAN JÜRGEN HABERMAS BAGI HERMENEUTIKA POSTMODERN
Pertama, konteks sosial postmodern terdiri dari banyak bagian dan berubah-ubah, yang memengaruhi hermeneutika seseorang. Hermeneut menjadi titik tolak hermeneutika, dan ini menyebabkan hermeneutika menjadi penting. Karenanya, bila hermeneut meninggalkan makna teks dan maksud penulis, maka ia akan tenggelam dalam lautan relativitas postmodern, dan tak ada dimensi metanaratif yang absolut. Kedua, pewahyuan ilahi itu sendiri terkondisi secara budaya karena dikomunikasikan kepada berbagai budaya dalam berbagai bahasa yang tidaklah netral dan tak dapat dihapuskan oleh postmodern. Ketiga, teologi kritis bisa memberi kemungkinan mengerjakan refleksi-diri terus-menerus. Kritis atas kenyataan dunia harus dibarengi dengan kritik terhadap diri sendiri. Untuk itu diperlukan sebuah pola hermeneutik yang kritis atas teks-teks mapan yang ada. Keempat, jika hendak menginterpretasi secara benar dan tepat, maka kita harus mengupayakan dialog antara bahasa dan pengalaman di satu sisi dengan tindakan di sisi lain. Tidak memisahkan teori dan praksis, tidak melepaskan fakta dari nilai semata-mata untuk mendapat hasil yang objektif. Kelima, bahasa mencakup seluruh makna dan oleh sebab itu hermeneutika memiliki implikasi yang universal. Pentingnya sosiologi pengetahuan sebagai suatu sarana penafsiran. Keenam, kekuatan-kekuatan ideologis mengendalikan hermeneutika hampir semua orang. Calvinis atau Armenian, Reformed atau Dispensasional, Teolog Proses atau Pembebasan, tiap komunitas orang percaya telah memberikan kecenderungan-kecenderungan ideologis tertentu yang menuntun penafsiran. Karenanya, hermeneutika harus membebaskan pemahaman dari ideologi. Ketujuh, pemahaman hermeneutik sifatnya global, yaitu mengandaikan adanya tujuan khusus. Setiap komunikasi yang sehat adalah komunikasi dimana setiap partisipan bebas untuk menentang klaim-klaim tanpa ketakutan akan koersi, intimidasi, deceit dan sebagainya. Melalui tindakan komunikatif, pemahaman hermeneutik mempunyai bentuk yang hidup, yaitu kehidupan sosial Postmodern
TOLERANSI AGAMA DAN MOTIF MISI KRISTEN
Indonesia adalah negara yang kaya. Ada beribu-ribu pulau, banyak budaya dan bahasa, bahkan terdapat berbagai agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Mahaesa di bumi pertiwi ini. Toleransi beragama merupakan suatu agenda yang penting mengingat pluralitas agama yang ada di negara kita. Sebagai kaum Injili kita juga turut andil dalam toleransi agama dengan memberikan wawasan Alkitabiah toleransi agama serta memberi wawasan kebangsaan yang berjiwa Pancasila pada jemaat. Di samping itu kita juga harus mengagendakan upaya dialog antar umat beragama. Kemajemukan agama merupakan fakta keragaman bangsa Indonesia yang harus diterima dan disyukuri sebagai bagian dari kehendak Tuhan sendiri. Pluralitas tidak perlu diperdebatkan dan dieksploitasi sebagai sarana menggugat kelompok-kelompok tertentu atau bahkan disingkirkan demi supremasi dan kepentingan politik dan agama tertentu. Sebagai pengikut Kristus kita harus proaktif dalam mengupayakan terjadinya toleransi beragama di negeri ini. Upaya dan kerja keras sangat dibutuhkan mengingat ancaman disintegrasi bangsa. Pluralitas agama disatu pihak merupakan kekayaan dan keunikan bangsa Indonesia yang tidak dapat dipungkiri. Hal ini harus disikapi dengan bijak, agar masyarakat Indonesia dapat hidup dengan damai di negeri yang tercinta ini. Hendaknya toleransi tidak sekedar menjadi suatu wacana saja tetapi harus teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa misi Kristen merupakan bukti keberadaan Kekristenan di dunia pada umumnya serta di Indonesia ini. Penginjilan yang memberi tempat pada kejujuran dan tanpa melukai atau merendahkan agama lain. Kemajemukan masyarakat di tengah-tengah pluralitas agama dan kebudayaan adalah perilaku yang harus di responi dengan sikap toleransi. Semua agama memiliki kedudukan yang sama di bumi pertiwi ini sesuai dengan dasar Negara Pancasila. Misi Kristen merupakan satu wujud keunikan iman Kristiani tanpa melupakan fakta adanya penganut agama lain, serta tanpa kehilangan identitas misi Kristen yang bersifat Misio Dei, yang turut memberi sumbangsih bagi kesejahteraan bangsa. Maka tidaklah dapat diragukan lagi misi Kristen merupakan hal yang sangat penting bagi kekristenan di masa mendatang
HAKEKAT MISI YESUS KEPADA PARA MURID DALAM MATIUS 10:1-15 SEBAGAI DASAR MISI GEREJA DALAM MENJALANKAN MISI ALLAH
Kedatangan Yesus ke dunia memiliki misi yang jelas, di mana Yesus datang untuk menyatakan kasih Allah yang menyelamatkan. Gereja sebagai tubuh Kristus bukan hanya diselamatkan tetapi juga dipanggil untuk menjadi pembawa berita keselamatan bagi orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Oleh karena itu gereja harus memiliki dasar pemahaman dan praktek misi yang benar sesuai dengan misi Yesus yang juga adalah misi Allah
MASA ‘ADOLESCENCE’ DAN POSTMODERINTAS: TUGAS PERKEMBANGAN ANAK REMAJA DAN ANCAMAN TATA NILAI “NEW MORALITY” MELALUI MEDIA TELEVSI
Alfred Kinsey, seorang ahli Zoology, dua buku karangannya yang telah mengguncangkan nilai-nilai kesusilaan dalam kehidupan seksual di dunia yaitu “Sexual Behavior in the Human Male” dan “Sexual Behavior in the Human”. Kinsey menuliskan “alam memenangkan kesusilaan.” Mereka yang menjalankan kehidupannya dengan berorientasi pada norma-norma agama dan dapat dicap oleh Kinsey sebagai “korban kesusilaan”. Kinsey menempatkan manusia di samping binatang. Pandangan biologis ini, mengakibatkan Kinsey menyebut “manusia human animal” dan “human mammal,” menurut Kinsey adalah baik kalau manusia memakai daya seksual seperti binatang, dan tidak baik kalau manusia menempatkan kesusilaan di atas alam. Menurut Scheneumann, pandangan manusia yang bilogis ini jauh berbeda dari pandangan manusia menurut Alkitab, manusia diciptakan menurut peta dan gambar Allah (Kej.1:27; 2:27). Dengan demikian manusia tidak dipimpin oleh insting, melainkan kepribadian yang terdiri dari satu trinitas kecil, yaitu roh, jiwa, tubuh; sehingga kehidupan seksual merupakan bagian integral dari kepribadian seluruhnya dan ditentukan oleh faktor-faktor fisiologis, psikologis, dan rohaniah. Telah dikemukakan sebelumnya tentang dasar filsafat revolusi moral, sejak zaman pencerahan (enlightenment), dunia Barat mengalami perubahan di segala bidang kehidupan termasuk teologi dan etika. Ada krisis moral yang melanda seluruh dunia, tatanan hidup masyarakat dengan nilai-nilai moral yang bersifat tradisional dan kuno, seperti pernikahan, keluarga, Negara yang dulu berlaku diubah. Revolusi moral ditujukan secara khusus di bidang etika dan kesusilaan. Moral baru ini tidak lain dari satu reaksi alam abad ke-20, yang mengganti hukum-hukum atau norma-norma kehidupan yang dari perintah Allah sebagai ketaatan manusia kepada Tuhan, sumber kebahagiaan manusia diganti dengan kepercayaan pada diri sendiri dan menjadi abad dasar pada tingkah laku kebebasan perilaku terhadap aturan-aturan tradisional. Tinjauan filsafat yang melandasi paham “New Morality” seperti yang diuraikan dari ilmu filsafat, sosiologi, psikologi dan teologi, dan postmodernitas. Jadi, paham kebebasan tingkah laku berkembang dan bersumber dari aliran-aliran yang dikemukakan di atas. Suatu pemberontakan manusia terhadap Allah, gereja dan tradisi, berawal dari abad pencerahan di mana manusia merasa diri akil balig, dan menggusur keberadaan Allah dari kehidupan manusia. Dengan semboyan-semboyan, God Is dead, Glory To Man. Para penganut moralitas baru, ingin membebaskan dirinya dari kesusilaan yang berdasarkan hukum gereja, tuntutan masyarakat yang selama ini diterima dan disetujui sebagai norma-norma perbuatan sikap manusia yang beradab. Pengaruh postmodernitas yang menunjuk pada situasi dan tata sosial, produk teknologi informasi, globalisasi, fragmentasi gaya hidup, konsumerisme yang berlebihan, dll. Manusia yang hidup di milenium baru ke-21 ini dilanda oleh gejala atau faktor yang sangat mempengaruhi norma-norma moral yang melibatkan tindakan-tindakan etisnya, yaitu apa yang dikenal dengan istilah ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Teknologi informasi maju dengan pesatnya. Sebagai hasil informasi dari media cetak maupun media audio visual (televisi) yang mengubah wajah dunia. Televisi adalah media potensial sekali untuk menyampaikan informasi tetapi membentuk perilaku seseorang, baik kearah negatif maupun positif. Menurut Dwyer, sebagai media audio visual, televisi mampu merebut 94 % saluran masuknya pesan-pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia yaitu lewat mata dan telinga. Televisi mampu membuat orang mengingat 50% dari apa yang mereka lihat walau hanya sekali tayang, atau secara umum orang akan ingat 85% dari apa yang mereka lihat di televisi setelah 3 jam kemudian, 65 % setelah tiga hari kemudian. Masa awal remaja (12-15 tahun) adalah masa yang amat meresahkan, oleh karena pada masa pubertas seseorang mengalami perubahan, baik secara fisik maupun perubahan yang lain, mulai dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, berbarengan dengan perkembangan fisik, moral, emosi dan sosial, dan minat dari kehidupan seksual sampai kepada kehidupan religiositasnya. Oleh karenanya, peran pendampingan sangat diperlukan bagi penyesuaian diri secara positif terhadap setiap perubahan yang ada, agar anak mencapai tugas perkembangannya secara maksimal di usianya. Semoga!
MEMBANGUN KEMITRAAN GEREJA DALAM PELAYANAN MISI MASA KINI
Telah disadari bersama bahwa pelayanan misi merupakan pelayanan yang teramat luas, dan dalam memikirkan, merencanakan, mengatur bahkan melaksanakannya dibutuhkan wawasan yang luas pula demi tercapainya Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus. Kehadiran gereja sebagai komunitas orang percaya di dunia tidak dapat atau tidak akan mampu jika hanya sebagai pelaksana tunggal dalam melaksanakan mandat Ilahi “menyaksikan Kristus dalam pemberitaan Kabar Baik”. Melalui kemitraan dengan pelayanan-pelayanan misi, penting memulai penataan sistem atau pola kerja yang baik serta terorganisir, hal ini merupakan suatu gerakan yang dinamis dalam melaksanakan Amanat Agung. Kemitraan yang ada perlu sekali dukungan segala pihak karena dengan demikian kemitraan dapat mengembangkan pelayanan-pelayanan, bahkan lembaga yang ada sehingga segala program dan sasaran puncak dapat tercapai sesuai kerinduan dalam membangun kemitraan dan pelayanan bersama.  
USIA EMAS (‘GOLDEN-AGE’): MENYOAL KEPEDULIAN ORANGTUA TERHADAP PAUD (Menyambut ‘Kehadiran’ FKIP Prodi: PAUD di I-3, Batu, Jawa Timur)
Berdasarkan berbagai penjelasan berkenan dengan kepedulian orangtua terhadap PAUD, maka beberapa faktor disebutkan sebagai berikut: Fakfor ‘Skill Anak’: Memberikan perhatian seperti sarana penunjang bagi kesehatan fisik anak; pemenuhan kebutuhan gizi anak melalui makan dan minuman yang sehat, serta kebutuhan vitamin, sampai kepada pemenuhan kebutuhan asupan-asupan penunjang lainnya; Faktor Pola Belajar Anak: Memberikan perhatian berupa kebutuhan fasilitas sarana prasarana belajar, seperti alat bermain anak untuk membangun antusiasme serta rasa keingin-tahuan anak, dengan berkesinambungan, konsistensi, keteraturan agar pembiasaan belajar itu menjadi ‘Daily Habit’; Faktor Respon Anak dalam Mengatasi Konflik: Memberikan pengalaman mencurahkan isi hati anak kepada orangtua; menempatkan diri di tengah persaingan, serta mempelajari pelbagai aturan atau norma yang berlaku. Melalui penjelasan di atas, dapat dirangkum beberapa indikator mengenai Kepedulian orangtua terhadap PAUD, sebagai berikut: (1) Faktor ‘Skill Anak’, dengan indikator-indikatornya, meliputi: a) Kesehatan Fisik, b) Kebutuhan Gizi; (2) Faktor Pola Belajar Anak, dengan indikator-indikatornya, meliputi: a) Fasilitas Belajar, b) Fasilitas bermain, c) Kebiasaan belajar; (3) Faktor Respon Anak dalam Mengatasi Konflik, dengan indikator-indikatornya, meliputi: a) Pencurahan hati, b) Persainan, c) aturan
KEMESIASAN YESUS BERDASARKAN LUKAS 4:18-19 SEBAGAI DASAR HOLISTIC MINISTRY GEREJA
Secara global, masyarakat dunia sedang menghadapi tiga masalah besar yaitu masalah degradasi lingkungan hidup, disintegrasi sosial dan masalah kemiskinan. Yang pertama, masalah degradasi lingkungan hidup. Sumber-sumber daya dunia sedang dihabiskan lebih cepat daripada mereka dapat digantikan. Pencemaran lingkungan dan Global Warming menjadi masalah utama dunia saat ini. Yang kedua, masalah disintegrasi sosial yang telah menghancurkan tatanan masyarakat. Masalah perceraian yang sedang booming, bunuh diri, tawuran, pemakaian obat-obat terlarang yang tidak dapat dibendung lagi. Relasi sosial antar masyarakat telah diwarnai dengan diskriminasi, intimidasi, anarkhisme. Yang ketiga, masalah kemiskinan. Pada dewasa ini dunia menghadapi kenyataan bahwa lebih dari satu milyard umat manusia (seperlima penduduk dunia) hidup dalam kemiskinan yang mutlak dan jumlah bilangan ini terus bertambah. Ada kesenjangan sosial yang semakin melebar antara si kaya dan si miskin. Melihat semua masalah di atas, gereja tentunya tidak boleh menutup mata atau melipat tangan dan mengatakan bahwa itu bukan urusan gereja
ALIRAN KEBATINAN DI PULAU JAWA DAN PENDEKATAN IMAN KRISTEN
Aliran kebatinan yang hanya menekankan soal persekutuan batin dengan Tuhan, menjadi tantangan bagi kita, orang Kristen. Kita sebaiknya berdialog dan menunjukkan kepada mereka bahwa persekutuan dengan Tuhan ini terjadi apabila kita berada dalam Kristus, dan bahwa berbakti kepada Tuhan tidak dapat hanya ditekankan pada segi batin saja, melainkan kita harus berbakti kepada-Nya dengan seluruh keadaan manusia, dengan perbuatan, pikiran serta hati, dengan lahir dan batin sebab Tuhan berfirman: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Mat 22:37). Kita juga harus menuntun mereka agar mau menggunakan Alkitab untuk mencari jawaban bagi persoalan-persoalan yang mereka hadapi, karena Kitab Suci inilah yang dapat memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman kepada Yesus Kristus (2 Tim 3:15). Karena segala tulisan dalam Alkitab itu diilhamkan oleh Allah untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran, sehingga tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2Tim 3:16,17). Terlebih daripada itu kita harus mampu menunjukkan dari teladan kita bahwa di dalam keresahan dan tekanan sosial, Kristus-lah sumber pengharapan kita. Jadi, jangan sampai kita menjadi batu sandungan bagi mereka sehingga mereka lari ke dunia mistik. Penulis setuju dengan John T. Seamands yang mengatakan bahwa cara hidup dan perbuatan kita harus benar-benar mencerminkan kasih Kristus. Kita harus menjadi saksi bahwa Yesus Kristus mempunyai kuasa untuk mengubah diri kita dan diri mereka juga. Kita uraikan bagaimana Yesus melayani yang sakit, yang lapar dan yang putus asa dan bukti dari kasih-Nya ketika sekalipun di kayu salib Dia masih berdoa: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan (Luk 23:34).”Yang terutama harus kita tonjolkan adalah kesucian dan kesalehan, kasih dan belas kasihan, perhatian dan pertolongan-Nya kepada yang miskin, yang di dalam keperluan, yang sakit dan yang berdosa. Pengharapan dari iman Kristen juga perlu ditekankan: damai Allah, sukacita, penghiburan, pengharapan akan kedatangan-Nya kembali dan harapan akan mewarisi kerajaan Sorga. Semoga dengan demikian mereka dapat diyakinkan betapa pentingnya mereka menerima Yesus sebagai Juruselamat menuju kehidupan kekal.
 
JATI DIRI PEREMPUAN MENURUT KEJADIAN 1-2 DAN RELEVANSINYA BAGI SIKAP KRISTIANI TERHADAP PENGARUH GERAKAN FEMINISME DI INDONESIA
Gerakan Feminisme lahir dari kerinduan para perempuan ingin keluar dari kungkungan atau tekanan budaya patriarkhat yang cenderung merendahkan dan merugikan kaum perempuan. Dan gerakan Feminisme ini juga berpengaruh dalam Theologia, sehingga melahirkan Theologia Feminisme, yang melahirkan juga pola-pola penafsiran Alkitab, yang menguntungkan kaum perempuan. Gerakan Feminisme di Indonesia bisa memotivasi kaum perempuan untuk mendapatkan hak-haknya. Namun gerakan ini tidak mampu secara tuntas meniadakan budaya patriarkhat yang sudah mendarah-daging di masyarakat Indonesia. Untuk itu, kaum perempuan, terma suk perempuan Kristen tidak bisa memaksakan haknya. Di kalangan Gereja, tentunya bukan karena adanya Gerakan Feminisme barulah orang Kristen memberi penghargaan kepada kaum perempuan secara proporsional, melainkan berdasarkan Firman Tuhan sendiri, khususnya dalam Kitab Kejadian pasal 1-2, di mana perempuan diciptakan Tuhan sejajar dengan laki-laki, yakni menurut gambar atau rupa Allah sendiri, dengan tugas yang sama dalam melaksanakan Amanat Budaya, meskipun peran konkritnya berbeda. Dalam relasinya dengan laki-laki/suami, perempuan bertugas sebagai penolong/ pendukung. Ini satu tugas yang istimewa. Dan bahwa perempuan diciptakan untuk dikasihi dan dilindungi, karena dari satu tulang rusuk yang berasal dari laki-laki
TEKNOLOGI DAN TANGGUNG JAWAB ORANG KRISTEN
Kemajuan dunia di segala bidang melalui ilmu pengetahuan dan teknologi sesungguhnya berakar atau bersumber pada karya Tuhan sendiri yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang diberikan kemampuan untuk merekreasi kreasi Tuhan. Itu sesuai dengan amanat Tuhan sendiri kepada manusia yaitu amanat kebudayaan yang tertulis dalam Kejadian 1:28. Amanat budaya ini hanya diberikan kepada manusia sebagai ciptaan Allah yang paling istimewa, karena manusia diciptakan menurut gambar atau rupa Allah. Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab dalam menunaikan tugas usaha pengembangan ilmu dan teknologi, baik bagi para teknokrat, maupun usahawan, buruh, pemerintah dan juga orang-orang yang turut ambil bagian dalam ilmu dan teknologi, harus selalu mengingat syarat pokok keagamaan dan kesusilaan yang dituntut oleh Tuhan dari manusia dalam mengusahakan dan mengembangkan ilmu dan teknologi itu, antara lain: (1) Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan (Ams 1:7a); (2) Jangan mengucapkan saksi dusta (Kel 20:16a), yang penting di dalam ilmu dan teknologi ialah mengucapkan atau memberi kesaksian; (3) Syarat keagamaan dan kesusilaan yang perlu dipertahankan dalam bidang ilmu dan teknologi ialah rendah hati, dan tidak sombong