e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Studi Kartografi Marine Protected Area (MPA) di Pulau Sangiang Menggunakan Model Marine Information Overlay (MIO): Marine Protected Area (MPA) Cartography Study on Sangiang Island Using Marine Information Overlay (MIO) Model
MIO merupakan informasi non-wajib yang belum tercakup oleh IMO yang ada, IHO, atau IEC standar yang diperlukan oleh ECDIS untuk memastikan keamanan navigasi di laut. Informasi tambahan ini meliputi peliputan es, pasang / ketinggian air, aliran arus, habitat meteorologi, oseanografi dan laut. Area Konservasi yang juga dikenal dengan istilah MPA merupakan bagian dari MIO yang berguna untuk melindungi spesies ikan, habitat langka, atau seluruh ekosistem di laut. ENC sebagai alat navigasi wajib bagi para pelaut sudah mengakomodir unsur-unsur yang terkait dengan area konservasi, namun belum menyediakan informasi secara detail tipe dan jenis area konservasi tersebut. Pada penelitian ini, MPA yang merupakan bagian dari MIO yang nantinya akan dikembangkan sebagai Special publication S-122 MPA akan dibuat zonasi dengan informasi maupun batasan-batasan secara jelas dan detail dengan cara menerjemahkan dan menganalisa peraturan maupun perundang-undangan yang berlaku di Indonesia ke dalam bahasa peta selanjutnya disesuaikan sesuai dengan dengan standar internasional S-122 MPA sehingga mudah untuk dipahami oleh para pelaut. Hasil dari penelitian ini berupa hasil Analisa blok MPA dan MIO dalam format data vector, point, line dan area dengan struktur data, kodefikasi dan simbol tertentu wilayah Pulau Sangiang dan sekitarnya, sehingga dapat dipergunakan sebagai panduan bagi para pelaut untuk membantu dalam bernavigasi agar meminimalisir kesalahpahaman yang berdampak terhadap terjadinya hal-hal yang tidak diharapkan
Analisa Laju Sedimentasi dan Transpor Sedimen pada Pembangunan Breakwater Dermaga Lantamal III Pondokdayung di Tanjungpriok Jakarta: Analysis of the Sedimentation Rate and Sediment Transport in the Construction of the Lantamal III Pondokpayung Pier Breakwater in Tanjungpriok, Jakarta
Rencana pembangunan breakwater merupakan bagian dari 8 tahap pembangunan Dermaga Lantamal III Pondokdayung di Tanjungpriok Jakarta. Dalam pembangunan breakwater dan perencanaan pemeliharaan pelabuhan perlu dilaksanakan analisa sedimentasi mengenai laju sedimentasi dan pola transpor sedimen.
Penentuan laju sedimentasi dan analisa transpor sedimen pada saat pembangunan breakwater perlu ditinjau terlebih dahulu dari analisa kondisi sekarang, sehingga penelitian ini dilaksanakan dengan tiga tahap : (1) penghitungan selisih volume dan selisih kedalaman pada titik – titik di setiap segmen yang telah ditentukan berdasarkan tiga buah Lembar Lukis Teliti (LLT) tahun 1993, 2001, dan 2009; (2) melaksanakan simulasi pemodelan numerik dengan menggunakan software SMS 9.0 pada kondisi saat ini yang di bandingkan dengan penghitungan manual berdasarkan LLT dan hasil penghitungan Dishidros berdasarkan data survei tahun 2009; dan (3) melaksanakan pemodelan numerik simulasi breakwater sesuai siteplan dari Disfaslanal.
Penghitungan selisih volume sedimen di lokasi penelitian sesuai area hitungan menunjukkan terjadi erosi dengan erosi rata – rata 4679,807 m3 per tahun. Begitu pula dengan penghitungan selisih kedalaman menunjukkan terjadi penurunan permukaan dasar laut dengan penurunan kedalaman rata – rata 0,006 meter per tahun. Berdasarkan penghitungan data lapangan sedimen suspensi rata – rata 0,0227 gr/ltr, deposisi antara 2,5 sampai dengan 7,5 cm per tahun. Sedangkan berdasarkan hasil analisa model sedimen suspensi rata –rata 0,182 gr/l, deposisi 3,6 cm per tahun. Pada model simulasi breakwater sedimen suspensi rata – rata 0,052 gr/ltr, deposisi di perairan 3,41 cm per tahun, di dalam kolam dermaga dan di pintu masuk kolam dermaga masing – masing 3,32 cm per tahun dan 2,46 cm per tahun.
Pada musim Timur pembangunan breakwater memberikan dampak sedimentasi yang cukup rendah, namun pada musim Barat dengan meninjau pola arus yang terjadi sedimentasi cenderung akan lebih tinggi
Pemutakhiran dan Penyesuaian Tampilan Simbol Peta Tematik Menggunakan Perangkat Lunak CARIS PCC 2.15: Updates and Adjustments of The Thematic Chart Symbol Display Using CARIS PCC 2.15 Software
Pembuatan Peta Tematik yang dilaksanakan di Pushidrosal sekarang ini berkembang menggunakan perangkat lunak Computer Aided Resource Information System Paper Chart Composer (CARIS PCC) 2.15. Namun dalam pembuatan Peta Tematik khususnya area tutupan lahan, prosesnya masih menggunakan teknik penggabungan data raster yang disesuaikan hingga membentuk gambar yang digunakan sebagai background pada pembuatan Peta Tematik, proses tersebut dinilai kurang efektif. Untuk itu perlu adanya optimalisasi tools dan feature dari perangkat lunak CARIS PCC 2.15. Optimalisasi tersebut dilakukan dengan teknik kustomisasi simbol berupa teknik penyesuaian objek (titik, garis, area, dan teks) peta pada perangkat lunak CARIS PCC 2.15 dan memodifikasi kode-kode bahasa Extensible Markup Language (XML) yang terdapat pada sistem perangkat lunak CARIS PCC 2.15. Pada penelitian ini penulis memfokuskan pada pemutakhiran dan penyesuaian simbol serta pembuatan pattern area menggunakan bahasa XML yang khusus digunakan untuk pembuatan Peta Tematik, hasil dari kustomisasi selanjutnya akan di tampilkan dan dibentuk suatu sistem khusus yang berfungsi sebagai pengumpul file-file yang telah di kustomisasi agar pembuatan Peta Tematik dapat sesuai dengan kebutuhan Pushidrosal
Penentuan Garis Pantai dan Batimetri dengan Citra Sentinel-2 Menggunakan Program Watcor-X (Studi Kasus di Pulau Kabetan): Determination of The Beachline and Bathymetry with Sentinel-2 Images using The Watcor-X Program (Case Study on Kabetan Island)
Pemetaan garis pantai dan batimetri menjadi hal yang penting yang mendasar untuk memanajemen kawasan pulau-pulau kecil. Negara Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia. Hal ini tentu memberikan suatu gambaran tentang informasi data kedalaman laut sekaligus tantangan untuk melaksanakan suatu kegiatan survei tanpa harus datang ke tempat tersebut untuk menghemat waktu dan biaya dengan menggunakan teknologi inderaja. Penelitian ini bertujuan menentukan garis pantai dan batimetri di pulau Kabetan, menggunakan citra satelit Sentinel-2 diolah dengan menggunakan program Watcor-X. Standar klasifikasi dalam survei hidrografi ditentukan oleh standar IHO (International Hydrographic Organization) S-44 edisi V tahun 2008. Hasil overlay garis pantai ada perbedaan pada area dermaga yang lebar (-) dari 10 meter dan area tanaman bakau (±) 40 meter. Hasil uji akurasi secara vertikal (TVU) pada periode survei hasil dari citra satelit Sentinel-2 pada tanggal 28 Juli 2020 yang sudah terkoreksi pasut pada kedalaman 0 sampai 20 meter mempunyai korelasi R sebesar 92,73 % dengan RMSE 1,77 meter dengan rincian data kedalaman yang diperoleh sebanyak 19.886 data yang terdiri dari 22,2 % masuk pada ketelitian orde khusus, 50,1 % masuk pada ketelitian orde IA/IB, 66,4 % masuk pada ketelitian orde 2 serta 33,6 % tidak masuk pada orde ketelitian
Analisi Ketidaksimetrisan Pasang Surut Akibat Pengaruh Morfologi di Teluk Kendari: Study of Tidal Asymmetry as The Morfological Effect in Kendari Coastal Bay
Teluk Kendari memiliki bentuk atau morfologi yang berbeda dari kebanyakan teluk yang ada. Morfologi Teluk Kendari tergolong unik, mulut teluk menyerupai kanal yang relatif sempit. Sedangkan pada sisi teluk bagian dalam, memiliki area yang meluas, atau dapat dakatakan Teluk Kendari menyerupai mulut botol. Bentuk teluk tersebut akan berpengaruh terhadap dinamika pasang surut. Penelitian ini menggunakan simulasi model hidrodinamika pasang surut (pasut) di perairan Teluk Kendari dengan menggunakan Mike – 21 dengan tujuan menentukan pengaruh ketidaksimetrian pasang surut di perairan tersebut. Hasil simulasi telah diverifikasi dengan data pengukuran lapangan dari Pushidrosal. Simulasi didasarkan pada perubahan morfologi, sedangkan batimetri yang digunakan sebagai input adalah kondisi alami di teluk. Hasil simulasi model menunjukkan kesesuaian yang baik dengan data lapangan, dimana koefisien korelasi dan selisih rata – rata kuadratnya adalah masing – masing 0,88 dan 2 cm (elevasi) serta 0,6 dan 0,6 cm/s (arus). Simulasi memperlihatkan bahwa variasi batimetri terhadap elevasi pengaruhnya kecil, sedangkan terhadap arus cukup besar. Pola arus saat fasa menuju pasang dan pasang maksimum bergerak dari mulut teluk menuju hulu dengan kecepatan rata - rata 24,32 dan 7,68 cm/s. Sebaliknya, saat menuju surut dan surut minimum arus bergerak dari hulu ke mulut teluk dengan kecepatan rata - rata 24,24 dan 11,07 cm/s. Variasi batimetri terhadap ketidaksimetrian pasut (tidal asymmetry) di Teluk Kendari terlihat pengaruhnya dengan jelas dimana lamanya surut lebih pendek dari pada pasangnya kecuali di hulu
Salinitas Absolut dan Arus Sebagai Pembaruan Variabel untuk Pemutakhiran Basisdata Sistem Fusi-Oseanografi: Absolute Salinity and Current as A Variable Update for Updating The Fusion- Oseanographic System Database
Sistem Basisdata Fusi-Oseanografi merupakan inovasi baru di bidang pengelolaan data observasi dan teknologi prediksi Oseanografi Nasional. Pembangunan sistem basisdata yang baru membutuhkan pengembangan yang berkelanjutan dengan menambahkan variabel lain seperti variabel Salinitas Absolut dan Arus. Data penelitian (Salinitas, Temperatur, dan Komponen Arus u,v) bersumber dari Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) tahun 2020. Ketiga variabel diatas dikomputasi dan divisualisasikan terhadap 32 kedalaman dan 12 WFO menggunakan software ODV versi 5.3.0 untuk menghasilkan kumpulan database peta Salinitas Absolut dan Arus. Kumpulan database tersebut, selanjutnya diunggah kedalam webdatabase purwarupa Fusi-Oseanografi untuk ditampilkan di Aplikasi Android Fusioseanografi V3 bagi pengguna. Untuk mengetahui kevalidan data model dari CMEMS, maka diperlukan adanya verifikasi dengan data observasi lapangan. Verifikasi/validasi dilakukan sampai dengan level tertentu, dengan data pembanding berasal dari World Ocean Dataset (WOD) dan data primer. Penelitian menghasilkan database peta variabel Salinitas Absolut dan Arus sejumlah 3865 gambar. Kadar salinitas absolut tertinggi sebesar 38 g/Kg di WFO-04 kedalaman 50 meter, nilai terendahnya 28 g/kg di WFO-04 kedalaman 0.5 meter. Rata-rata dari 12 WFO, nilai salinitas absolut tertinggi sebesar 35.63 g/Kg dan terendahnya 32.85 g/Kg. Kecepatan arus akan mengalami penurun secara berangsur-angsur dilapisan kedalaman yang semakin dalam. Verifikasi data menghasilkan nilai kuantitatif yang baik dengan nilai RMSE variabel Salinitas Absolut berkisar antara 0.00002 g/Kg sampai dengan 0.3605 g/Kg dengan nilai rata-rata nya sebesar 0.0408 g/Kg. Kecepatan arus memiliki nilai kuantitatif RMSE pada kisaran nilai antara 0.03477 m/s sampai dengan 0.1348 m/s dengan nilai rata-rata 0.0877 m/s
Perolehan Data Batimetri Menggunakan Metode Satellite Derived Bathymetry untuk Percepatan Pembuatan Electronic Navigational Chart di Perairan Raja Ampat: Acquisition of The Bathymety Data using Satellite Derived Bathyemetry Method to Accelerate The Making of Electronic Navigational Chart in Raja Ampat Waters
Insiden kapal kandas di perairan Raja Ampat yang paling diingat yakni pada tahun 2017 yang melibatkan kapal cruise MV. Caledonian Sky berbendera Bahama di sekitar perairan Pulau Mansuar. Akibatnya, sekitar 1600 m² terumbu karang menjadi rusak. Untuk mencegah insiden serupa, perolehan data batimetri menggunakan metode Satellite Derived Bathymetry (SDB) ini dianggap efektif dan efisien dalam mendapatkan informasi kedalaman di perairan dangkal, guna percepatan dalam pembuatan Electronic Navigational Chart (ENC) di perairan Raja Ampat. Dalam penelitian ini, dilakukan pemodelan empirik menggunakan algoritma yang dikembangkan oleh Stumpf et al (2003) dengan menggunakan citra dari satelit SPOT-7 sebanyak 3 scene citra di sekitar perairan Raja Ampat, Papua Barat. Hasil analisa akurasi yang didapat berupa nilai R² sebesar 0.6214 (62,14%). Selanjutnya dilakukan perhitungan Total Vertical Uncertainty (TVU) sesuai ketentuan S-44 IHO Edisi 5 (2008) terhadap 6 kelompok kedalaman, yakni kurang dari 1 meter (<1m), 1 sampai 2 meter (1-2m), 2,1 sampai 5 meter (2.1-5m), 5,1 sampai 10 meter (5.1-10m), 10,1 sampai 15 meter (10.1-15m), dan 15,1 sampai 20 meter (15.1-20m). Dari hasil yang didapat, pada kedalaman tidak lebih dari 5 meter merupakan data yang terbaik untuk diaplikasikan ke dalam pembuatan ENC. Jumlah lokasi destinasi wisata yang dipilih untuk pembuatan ENC sebanyak 8 lokasi yang tersebar di perairan Raja Ampat
Pemanfaatan Citra Planet Scope untuk Estimasi Batimetri (Studi Kasus di Perairan Laut Dangkal Pulau Karimun Jawa Jepara Jawa Tengah): Utilization of Scope Planet Image for Batimetry Estimation (Case Studi in Shallow Sea Waters Of Karimunjawa Island, Jepara, Central Java)
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar didunia yang luas wilayahnya mencapai 6.400.000 km2 dengan panjang garis pantai 108.000 km, Berdasarkan hal tersebut diatas peta laut Indonesia yang harus dituntut selalu diperbaharui.Tetapi pada kenyataan yang terjadi tidak berjalan secara optimal, mengingat luas wilayah laut indoneisa lebih luas 2/3 dari luas wilayah Indonesia. Seiring dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, peran teknologi penginderaan jauh saat ini adalah solusi yang diharapkan dapat menyajian data dan informasi yang di butuhkan untuk pelaksanaan kegiatan survei dengan jangka waktu yang relative pendek dan biaya murah serta hasil yang optimal guna memperbaharui peta laut tersebut, Maka metode ravid survei merupakan suatu parameter yang dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode Satellite Derived Bathymetry (SDB). Penelitian ini dilakukan dengan pemodelan batimetri secara empirik pada citra satelit Planet menggunakan algoritma Rasio Band diperairan Laut Dangkal Pulau Karimunjawa Jepara Jawa Tengah. Hasil analisa akurasi yang didapat berupa nilai Hasil koefisien determinasi nilai R²=0,9052 atau sebesar 90,52%, Hasil matriks konfusi akurasi dengan nilai akurasi sebesar 71% dengan jumlah data 210 data dan Hasil dari perhitungan TVU Pada rentang kedalaman 0-2 dengan ketelitian 0,56 meter dari 52 data yang digunakan menghasilkan 96% data masuk kedalam kriteria standar S-44 IHO, kedalaman 2,1-5 dengan ketelitian 1,61 meter dari 55 data yang digunakan menghasilkan 46% data masuk kedalam kriteria standar S-44 IHO, kedalaman 5,1-10 dengan ketelitian 3,09 meter dari 32 data yang digunakan menghasilkan 9% data masuk kedalam kriteria standar S-44 IHO, kedalaman 10,1-20 dengan ketelitian 5,43 meter dari 31 data yang digunakan menghasilkan 3% data masuk kedalam kriteria standar S-44 IHO, kedalaman
>20 dengan ketelitian 4,96 meter dari 40 data yang digunakan menghasilkan 25% data masuk kedalam kriteria standar S-44 IHO. Serta kedalaman maksimal hasil ekstraksi citra planet mencapai kedalaman >20 meter atau pada kedalaman 30,54 meter
Analisa Variasi Nilai Konstanta Komponen Harmonik Tahunan Metode Admiralty dengan Prediksi Elevasi Pasang Surut di Sendang Biru Malang: Analysis of Variations in the Value of Annual Harmonic Component Constants in the Admiralty Method with Prediction of Tidal Elevation in Sendang Biru Waters, Malang
Metode admiralty merupakan metode pengolahan data pengamatan pasang surut yang dapat digunakan pada rentang waktu pengamatan selama 15 hari atau 29 hari dan menghasilkan 9 komponen pasang surut dan mempresentasikan jenis pasang surut yang terjadi pada suatu lokasi yaitu diurnal K1, P1 dan O1, semi-diurnal M2, K2, S2 dan N2, kuarter-diurnal M4 dan MS4. Penentuan konstanta harmonik pasang surut pada suatu Perairan dengan menggunakan metode admiralty akan menghasilkan variasi nilai dan jumlah konstanta komponen harmonik yang berbeda pada setiap Bulan dalam satu tahun dan berpengaruh pada prediksi elevasi pasang surut.
Pada pengolahan data pengamatan yang dilaksanakan di Perairan Sendang Biru Malang dengan metode admiralty pada setiap Bulan pada tahun 2020 diperoleh variasi nilai konstanta harmonik yang cukup signifikan dan mempengaruhi hasil data prediksi. Nilai Root Mean Square Error maksimum terjadi pada data prediksi hasil pengolahan konstanta komponen harmonik Bulan Oktober dan nilai Root Mean Square Error minimum terjadi pada data prediksi hasil pengolahan konstanta komponen harmonik Bulan Januari. Tipe pasang Perairan Sendang Biru Malang merupakan campuran condong ke harian gand