e-journal STTAL (Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut)
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Karakteristik Suhu dan Salinitas di Selat Makassar Berdasarkan Data CTD Cruise Arlindo 2005 dan Timit 2015: Characteristic of Temperature and Salinity in The Makassar Strait Based on Arlindo 2005 and Timit 2015 CTD Cruise Data
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Karakteristik massa air melalui Pola distribusi Suhu dan Salinitas secara menegak dan melintang serta analisa Diagram Tpot-S di Selat Makassar berdasarkan Data CTD Cruise Arlindo 2005 dan Timit 2015. Selat Makassar merupakan salah satu pintu utama Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang membawa massa air dari Samudera Pasifik menuju wilayah Indonesia sehingga pola distribusi Suhu dan Salinitas di Selat Makassar dipengaruhi oleh Arlindo, Berdasarkan hasil Analisa Diagram Tpot-S pada pengolahan data CTD Cruise Arlindo 2005 dan Timit 2015 dengan kedalaman mencapai 1000 meter telah teridentifikasi beberapa karakteristik massa air di Selat Makassar diduga dipengaruhi oleh oleh jenis BBW antara kedalaman 13 m sampai 68 m dengan ciri suhu 25,0°Csampai 29,0°Cdan salinitas 28 ‰ sampai 35 ‰, ESPCW antara kedalaman 69 m sampai 450 m dengan ciri suhu 8,0 sampai 24,0°C dan salinitas 34,4 ‰ sampai 36,4 ‰ dan WSPCW antara kedalaman 111 m sampai 860 m dengan ciri suhu 6,0°Csampai 22,0°C, dan salinitas 34,5 ‰ sampai 35,8 ‰.
Analisa Pembuatan Additional Military Layers (AML) Menggunakan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus Perairan Selat Madura): Analysis of Making Additional Military Layers (AML) Using Geographic Information Systems (Case Study of Madura Strait Waters)
Perkembangan teknologi militer sekarang ini menuntut tersedianya informasi dan analisa intelijen yang cepat, tepat waktu (up to date) dan menyeluruh yang akan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam suatu konflik atau pencegahannya, informasi dan analisa ini sangatlah penting bagi keberhasilan suatu operasi. Keunggulan informasi jika diatur dan dieksploitasi dengan baik, menjadikan kekuatan yang lebih kecil mampu memberikan efek yang lebih besar. (Ultimate force enabler).
Untuk memenuhi hal tersebut, diperlukan peta khusus yang ditujukan untuk kepentingan militer. Peta tersebut adalah Peta Laut yang diberi tambahan layermiliter atau disebut dengan AML (Additional Military Layers). Konsep AML diciptakan secara khusus untuk mendukung interoperability dalam suatu era dijital. AML mendukung operasi - operasi maritim baik di laut, di bawah atau di atas laut. AML dirancang untuk memenuhi kebutuhan pertahanan di luar kepentingan navigasi.
Dalam perkembangannya TNI AL telah memasang perangkat WECDIS di KRI (Kapal Perang Republik Indonesia) yang dapat menampilkan dan memanfaatkan AML untuk keperluan operasi pertahanan maritim. Namun TNI AL dalam hal ini Dishidros belum memiliki produk AML yang dapat dipakai dalam WECDIS.
Berdasarkan hasil pengolahan data, analisis spasial dan tabulasi atribut standar AML, diperoleh sel dasar (base exchangeset)pada 5 layer AML yang dapat ditampilkan pada perangkat lunak ORCA Navy yang merupakan suatu perangkat WECDIS yang disederhanakan
Analisis Panjang dan Tinggi Gelombang untuk Operasi KRI TNI-AL di Perairan Indonesia: Analysis of Wave Length and Height for KRI TNI-AL Operations in Indonesian Waters
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang sebagian besar wilayahnya adalah perairan, maka segala aktivitas di laut menjadi bagian penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia.Masih terbatasnya akses dalam memperoleh data dan informasi berkaitan dengan panjang dan tinggi gelombang di Perairan Laut Indonesia, menjadi salah satu penyebab yang dapat mempengaruhi operasi/pelayaran KRI dalam setiap melaksanakan tugas operasi di laut.Penelitian panjang dan tinggi gelombang bertujuan untuk mendukung operasi KRI. Informasi tentang panjang dan tinggi gelombang diperoleh dari hasil luaran model Wavewatch III (WWIII) selama kurun waktu 9 tahun dari tahun 2005 sampai 2013 sebagai data penelitian yang di validasi dengan Altimetri kemudian diolah menggunakan software GrADS dan Ferret.
Pengaruh angin pada musim tertentu dapat mempengaruhi panjang dan tinggi gelombang signifikan yang terjadi di Perairan Indonesia. Perairan Selatan Jawa pada musim Timur lebih besar nilainya (panjang gelombang mencapai 450 m dan tinggi gelombangnya mencapai 6 m), di Laut Jawa pada Musim Barat (panjang gelombang mencapai 120 m dan tinggi gelombang mencapai 3 m). Di Selat Karimata pada Musim Barat (panjang gelombang mencapai 210 m dan tinggi gelombang mencapai 3,5 m). Di Selat Makassar pada Musim Barat (panjang gelombang mencapai 270 m dan tinggi gelombang mencapai 2 m) dan di Laut Arafuru pada Musim Barat (panjang gelombang mencapai 210 m dan tinggi gelombang mencapai 3,5 m). Berdasarkan parameter panjang gelombang untuk tipe KRI yang direkomendasikan beroperasi di wilayah Perairan Indonesia yaitu kapal dengan ukuran dengan panjang lebih dari 100 m. Sehingga kapal tersebut dapat dioperasionalkan di Perairan Indonesia pada saat Musim Barat maupun Musim Timur. Kapal yang dapat dioperasionalkan adalah KRI tipe Frigatte, Corvette, Amphibious dan Auxiliaries. Sedangkan dilihat dari parameter tinggi gelombang untuk tipe KRI yang dapat beroperasi di wilayah Perairan Indonesia baik pada saat Musim Barat maupun Musim Timur yaitu semua tipe KRI antara lain KRI tipe Frigatte, Corvette, Patrol Forces, Amphibious Forces, Mine Warfare Forces, Training Ships dan Auxiliaries
Analisis Variabilitas Nitrat dalam Hubungan dengan El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) di Perairan Selat Bali dan Sekitarnya: Analysis of Variability of Nitrate in Corellation with El Nino Southern Oscillation (Enso) and Indian Ocean Dipole (IOD) in The Bali Strait And Surroundings
Tingkat kesuburan perairan laut sangat terkait dengan kadar tinggi konsentrasi nutrien dalam kolom air. Nutrien menjadi tolak ukur merupakan nutrien. Selat bali dan sekitarnya merupakan wilayah kajian penelitian dengan koordinat 8°8'58"LS 114°25'7"BT. Metode yang digunakan adalah analisis dengan mengaplikasikan software ODV (Ocean Data View) dengan data yang diolah berupa data biogeokimia dan kedalaman dari website INDESO pada bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun 2014 hingga 2017, yang kemudian hasil dianalisis secara deskriptif.nDari hasil data dan grafik yang diperoleh diketahui bahwa dari ke empat kedalaman kadar nutrien (Nitrat) tertinggi berada pada kedalaman 53,850m, dan terendah berada di 0,505. Diantara ke tiga Zona yaitu nutrien yang paling tinggi berada di area Selat Bali dan Samudera Hindia. Sedangkan, nutrien terendah berada di area Laut Bali. Rata – rata kadar nitrat paling tinggi berada di Musim Timur karena pada musim tersebut adanya kejadian Upwelling yang menyebabkan nutrien yang ada di dasar naik ke permukaan. Nutrien juga dipengaruhi oleh fenomena ENSO dan IOD, karena adanya fenomena anomali pada angin, awan, dan SPL, yang dapat mempengaruhi perairan
Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Keselamatan Penyelaman Menggunakandata Kedalaman, Temperatur dan Jenis Dasar Laut (Studi Kasus di Perairan Teluk Ambon): Application of Geographic Information System for Diving Safety Using Depth, Temperature and Types of Seabed Data (Case Study in Ambon Bay Waters)
Pemanfaatan Citra Satelit untuk Penentuan Daerah Operasi Keamanan Laut dari Illegal Fishing (Studi Kasus di Perairan Natuna): Utilization of Satellite Imagery for Determining Marine Security Operation Areas from Illegal Fishing (Case Study in Natuna Waters)
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia dengan wilayah lautan yang sangat luas dan kekayaan ikan yang luar biasa. Hal tersebut memungkinkan adanya pencurian ikan (Illegal Fishing). Sasaran dari Illegal Fishing adalah suatu area yang banyak ikannya seperti di daerah pertemuan dua massa air dengan suhu yang berbeda (thermal front). Thermal front dapat dideteksi dengan memanfaatkan citra satelit penginderaan jauh NOAA-AVHRR (National Oceanic and Atmospheric Administration-Advance Very High resolution Radiometer).
Penelitian ini menggunakan citra satelit NOAA 18 untuk mendeteksi sebaran suhu permukaan laut dengan cepat dalam cakupan area yang luas . Berdasarkan sebaran suhu permukaan laut ini maka dapat ditentukan posisi titik koordinat thermal front yang dijadikan sebagai Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI). Titik koordinat ZPPI dapat dihubungkan dengan koordinat kapal ikan yang berasal Vessel Monitoring System (VMS) dan operasi kapal pengawas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Validasi menggunakan metode pengukuran jarak antara titik ZPPI dengan koordinat kapal ikan. Hasil penelitian membuktikan bahwa ada hubungan antara titik ZPPI dengan koordinat kapal ikan dimana jarak terjauh adalah 7 kilometer .Jarak tersebut masih di dalam cakupan radar KRI kelas parchim sejauh 40 mil atau 74,08 Km. Dengan demikian hasil tersebut bila dikaitkan dengan kemampuan jangkauan radar KRI maka titik koordinat ZPPI dapat dijadikan sebagai acuan dalam menentukan arah operasi. Berdasarkan dari pembuktian ini maka titik ZPPI dapat dijadikan sebagai masukan kepada TNI AL sebagai titik rawan Illegal Fishing yang dapat digunakan dalam menentukan daerah operasi pengamanan laut dari illegal fishing
Konsep Penyempurnaan Batas Wilayah Kerja Lanal-Lanal di Jajaran Lantamal III Ditinjau dari Perspektif Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004: The Concept of Completing the Boundary of the Lanal-Lanal Work Area in the Line of Lantamal III Viewed from the Perspective of the Law of the Republic of Indonesia Number 32 of 2004
Lantamal III TNI AL merupakan bagian Gelar Pangkalan Utama di jajaran Koarmabar, dengan pembagian wilayah kerja tertentu sangat penting dalam menanggulangi berbagai bentuk ancaman yang ada. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian sebagai dasar penarikan batas wilayah kerja Lanal-lanal dibawah Lantamal III.
Untuk menetapkan batas wilayah kerja Lanal-lanal di jajaran Lantamal III dibutuhkan landasan hukum dan aspek teknis yang diakui oleh Undang-undang RI Nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri I/2006 tentang pedoman penegasan batas daerah.
Kaitannya dengan unsure-unsur Lantamal/Lanal yang terbatas kemampuannya, Komandan Lantamal/Lanal sebagai Muspida (musyawarah pimpinan daerah) Provinsi dan Kabupaten/Kota, bila disesuaikan batas laut daerah akan lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan keamanan laut di daerah tersebut
Studi Konstanta Harmonik Pasang Surut Terhadap Data Suhu Permukaan Laut di Perairan Pulau Pari: Study of Tidal Harmonic Constants on Sea Surface Temperature Data in Pari Island Waters
Salah satu permasalahan dalam survei hidro-oseanografi adalah kendala teknis pada saat pengamatan pasut, seperti palem miring atau terlepas dari pondasinya, kemudian juga jika pengamatan menggunakan alat otomatis tidak jarang alat tersebut hilang atau berpindah tempat, sehingga harus dilaksanakan pengamatan ulang. Penelitian ini melakukan eksperimen menentukan tipe pasut berdasarkan analisis harmonik terhadap data runtut waktu (time series) suhu permukaan laut di Pulau Pari (2 stasiun T-Logger), Kepulauan Seribu. Hal ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa pasang surut dan suhu permukaan laut secara bersama-sama mendapatkan transferan energi matahari secara langsung, dan juga yang dipantulkan oleh bulan. Analisisharmonik menggunakan T_tide_v1.3 beta, kemudian konstanta harmonik yang diperoleh digunakan untuk melakukanperhitungan prediksi pasut. Tipe pasut ditentukan menggunakan rumus bilangan form. Hasil penelitian ini menghasilkan total sekitar 27 konstanta harmonik. Secara umum karakteristik suhu permukaan laut di Pulau Pari dipengaruhi oleh kombinasi sistem matahari dan bulan. Konstanta diurnal signifikan antara lain K1 (~ 1.1541°C,freq0.041781 cph), P1 (~0.38°C, freq 0.041553 cph), dan O1 (~0.06°C, freq 0.038731 cph).Konstanta semidiurnal signifikan antara lain S2 (~ 0.2321°C, freq 0.083333 cph), M2 (~0.1298°C, freq 0.080511 cph), N2 (~0.0772°C, freq 0.078999 cph), dan K2 (~ 0.0632 °C, freq 0.08356 cph). Konstanta laut dangkal (higher harmonics) signifikan antara lain MS4 (~ 0.047°C, freq 0.16384 cph) dan M4 (~0.025°C, freq 0.16102 cph). Tidak dihasilkan konstanta periode panjang signifikan dalam hal ini. Adapun tipe pasut yang dapat diturunkan dari konstanta harmonik di perairan Pulau Pari adalah diurnal (pasang surut harian tunggal)
Ekstraksi Kedalaman Laut Untuk Mendukung Daerah Latihan Pendaratan Pasukan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus Pulau Damar Provinsi DKI Jakarta): Extraction of Sea Depths to Support Troop Landing Training Areas Using Remote Sensing Technology and Geographic Information Systems (Case Study of Damar Island, DKI Jakarta Province)
Dengan Kondisi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Merupakan Negara kepulauan yang berbentuk republik. Masing-masing pulau mempunyai corak dan struktur yang berbeda-beda mulai dari bentuk pulau dan jenis tanah yang ada di pulau tersebut. Oleh karena itu perencanaan dan penentuan suatu operasi amfibi membutuhkan informasi yang benar terhadap kondisi permukaan dan hidrografi pantai, dengan adanya teknologi penginderaan jauh untuk menentukan suatu medan pendaratan amfibi dapat dilakukan dengan citra satelit SPOT-6 Walaupun terdiri dari kepulauan, Pertahanan suatu Negara tentu tidak dapat diukur dari seberapa besar alokasi anggaran ideal untuk bidang pertahanan, namun dalam arti tersebut bagaimana meningkatkan sumber daya manusia berkualitas tinggi dan semakin kompetitif dari segi pemikiran dan penguasaan teknologi. Dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengekstraksi informasi kedalaman laut dengan menggunakan citra satelit SPOT-6 dimana area tersebut untuk menentukan daerah pendaratan amfibi dipulau damar kepulauan seribu DKI. Jakarta. Serta harus mengetahui parameter-parameter untuk penentuan daerah pendaratan amfibi yang dapat di ekstraksi untuk mendapatkan nilai kedalaman dan tingkat akurasi dengan menggunakan metode Van Hengel dan Spitzer penginderaan jauh SPOT-6 dengan resolusi tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan menggunakan 4 band yang terdiri dari band 1,2,3,4 citra satelit SPOT-6 dipulau damar kepulauan seribu dapat memberikan informasi kedalaman laut dari 0 meter sampai dengan 20 meter. Adapun pemetaan batimetri menghasilkan nilai akurasi dengan interval 0 meter-5 meter tingkat ketelitian 0,9103 meter, sedangkan kedalaman 5 meter-10 meter tingkat ketelitian 1,2549 meter, dan kedalaman 10 meter-15 meter tingkat ketelitian 4,3241 meter. Informasi peta pendaratan dari hasil pengolahan adalah pada area yang dibatasi dengan titik kordinat A. 106° 84' 64.3" E - 05° 96' 17.3" S dan B. 106° 84' 52.4" E - 05° 95' 96.67" S dan C. 106° 84' 61.1" E - 05° 95' 96.67" S dan D.106° 84' 71.5" E - 05° 96' 06.86" S