Megasains (Journal)
Not a member yet
    113 research outputs found

    Pemodelan Perubahan Banjir di Pamenang Barat Menggunakan HECRAS

    Full text link
    Flood is one of the most frequent hydrological disasters in Jambi province. The impact caused by the flood disaster can affect various sectors and cause material losses to fatalities. During the period 2010 to 2019 there have been 149 floods with the area experiencing the most damage, namely the West Pamenang sub-district. West Pamenang District is located in the Batanghari Watershed (DAS) precisely in the Batang Merangin Tembesi sub-watershed. Flood risk analysis can be done by modelling. One application that can be used is HECRAS with debit data input and DEMNAS. One of the outputs of this application is the flood area. The flood area obtained can be used to determine the impact on the physical area of an area, namely by overlaying it with administrative map data. In addition to flood modelling, analysis of daily rainfall trends, monthly rainfall and rainy days is also carried out to determine rainfall changes. The results of the analysis show that there are changes in the trend of daily rainfall, monthly rainfall and rainy days for five rain posts around the West Pamenang sub-district. In addition, daily rainfall is also related to the maximum river discharge. The increase in the maximum river discharge also results in an increase in the flood area which also makes the resulting impact wider.Banjir merupakan salah satu bencana hidrologi yang sering terjadi di provinsi Jambi. Dampak yang diakibatkan oleh bencana banjir dapat mempengaruhi berbagai sektor serta menyebabkan kerugian baik materil hingga korban jiwa. Selama periode 2010 hingga 2019 telah terjadi banjir sebanyak 149 dengan daerah yang paling banyak mengalami yaitu kecamatan Pamenang Barat. Kecamatan Pamenang Barat berada pada aliran Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari tepatnya pada sub DAS Batang Merangin Tembesi. Analisis resiko banjir dapat dilakukan dengan cara pemodelan. Salah satu aplikasi yang dapat digunakan yaitu HECRAS dengan inputan data debit serta DEMNAS. Keluaran dari aplikasi ini salah satunya yaitu luas banjir. Luas banjir yang didapatkan dapat digunakan untuk mengetahui dampaknya terhadap fisik suatu wilayah, yaitu dengan cara meng-overlay dengan data peta administrasi. Selain pemodelan banjir, analisis tren curah hujan harian, curah hujan bulanan serta hari hujan juga dilakukan untuk mengetahui perubahan curah hujan. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perubahan tren curah hujan harian, curah hujan bulanan serta hari hujan untuk lima pos hujan di sekitar kkecamatan Pamenang Barat. Selain itu curah hujan harian juga berhubungan dengan debit maksimum sungai. Peningkatan debit maksimum sungai juga mengakibatkan peningkatan luas banjir yang juga membuat dampak yang dihasilkan semakin luas

    Rancang Bangun Aplikasi Meteorologi Dan Geofisika Dengan Menggunakan Bahasa Pemrograman MATLAB dan GMT

    Full text link
    Station Geophysics of Kepahiang is a BMKG representative unit located in the Kepahiang province of Bengkulu. In carrying out its duties requires a fast, effective and efficient application of meteorological and geophysical data processing. This study aims to develop meteorological and geophysical data processing applications. This processing is related to the statistical parameters of meteorological and geophysical data displayed in the graph. This application can produce output in the form of 13 charts and 2 maps. The resulting graphs are graphs of average temperature, maximum and minimum temperature, humidity, precipitation, duration of solar radiation, detected earthquakes, earthquakes based on magnitude (bar chart and pie chart), earthquakes based on depth (bar chart and pie charts), earthquakes felt, earthquake based on source, earthquake RMS, seismicity maps and seismicity and cross-sectional maps. The processing time is around 3-5 minutes. Processing time with this application is faster when compared to processing with Microsoft Excel and ArcGis software.Stasiun Geofisika Kepahiang merupakan unit perwakilan BMKG yang berada di wilayah Kabupaten Kepahiang Bengkulu. Dalam menjalankan tugasnya diperlukan aplikasi pengolahan data meteorologi dan geofisika yang cepat, efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan aplikasi pengolahan data meteorologi dan geofisika. Pengolahan ini terkait dengan parameter statistik data meteorologi dan geofisika yang ditampilkan dalam grafik. Aplikasi ini dapat menghasilkan keluaran berupa 13 grafik dan 2 peta. Grafik yang dihasilkan adalah grafik suhu rata-rata, suhu maksimum dan minimum, kelembaban, curah hujan, durasi penyinaran matahari, gempa yang tercatat, gempa bumi berdasarkan magnitudo (diagram batang dan lingkaran), gempa berdasarkan kedalaman (diagram batang dan lingkaran), gempa dirasakan, gempa berbasis sumber, RMS gempa, peta seismisitas dan peta seismisitas serta penampang melintangnya. Waktu pemrosesan sekitar 3 - 5 menit. Waktu proses dengan aplikasi ini lebih cepat jika dibandingkan dengan software Microsoft Excel dan software ArcGis

    Analisis Hubungan El Niño dengan Kekeringan Meteorologis dan Dampaknya Terhadap Produksi Padi di Provinsi Bali

    Full text link
    This research was intended to analyze the relation between the phenomenon of El Niño occurrence and meteorological drought in Bali Province and its effect to the rice production in Bali Province. This research used monthly rainfall of 45 rainfall posts during 1987-2017 period and anomaly data of sea surface temperature (SPL) during 2000-2017 period. In order to know the area drought rate, Standardized Precipitation Index (SPI) was used which was calculated from rainfall post data and the analysis using correlation coefficient method was used. The result was that there was a great strong relation between meteorological drought in Bali Province and the phenomenon of El Niño occurrence. Productivity of rice in the year of El Niño occurrence showed the trend of sustaining the declining in the year of moderate and weak El Niño however the moderate El Niño showed more significant declining trend.   Keywords: El Niño, SPI, SPLPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara terjadinya fenomena El Niño dengan kekeringan meteorologis serta dampaknya terhadap produksi padi di Provinsi Bali. Penelitian ini menggunakan data curah hujan bulanan 45 pos hujan di Provinsi Bali selama periode 1987-2017 dan data anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) tahun 2000-2017. Untuk mengetahui tingkat kekeringan wilayah digunakan metode Standardized Precipitation Index (SPI) yang dihitung dari data pos hujan kemudian dilakukan analisis menggunakan metode koefisien korelasi. Hasilnya bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara kekeringan meteorologis di Provinsi Bali dengan terjadinya fenomena El Niño. Produktivitas padi pada tahun terjadinya El Niño menunjukkan kecenderungan mengalami penurunan saat tahun El Niño sedang dan El Niño lemah, dimana saat El Niño sedang menunjukkan kecenderungan penurunan yang lebih signifikan

    Estimasi Debit Aliran Menggunakan Data Radar Cuaca (Studi Kasus : DAS Manna, Bengkulu)

    Full text link
    Weather radar has an advantage in estimating rainfall, because it has a high spatial resolution (up to 0.5 km). Weather radar estimate rainfall can be used for various needs, including for hydrological modeling. This study aims to utilize the Bengkulu BMKG weather radar to estimate discharge of the Manna watershed in December 2018. The Z-R equation is determined based on radar reflectivity (Z) and observed rainfall (R) data. Weather radar data processing uses Wradlib software based on the Python programming language. The HEC-GeoHMS and HEC-HMS hydrological models were used to calculate the discharge based on the weather radar rainfall input. The Gridded Soil Conservation Service Curve Number (SCS CN) and ModClark methods are used to determine the method of loss and travel time required for water to the outlet point. Meanwhile, base flow and routing use Recession and Lag methods. As a result, the equation between weather radar reflectivity and observed rainfall is Z=2,65R1,3. The simulation discharge produces an RMSE value of 11.99 m3/second before calibration, and an RMSE of 4.37 m3/second after calibration. In addition, the rainfall forecasted by weather radar has the same pattern as the daily discharge fluctuation of the Manna watershed.Radar cuaca memiliki kelebihan dalam megestimasi curah hujan, karena memiliki resolusi spasial yang tinggi (mencapai 0.5 km). Curah hujan estimasi radar cuaca dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, diantaranya untuk pemodelan hidrologi. Penelitian ini bertujuan memanfaatkan radar cuaca BMKG Bengkulu untuk estimasi debit aliran di DAS Manna pada bulan Desember 2018. Persamaan Z-R ditentukan berdasarkan data reflektifitas radar (Z) dan curah hujan pengamatan (R). Pengolahan data radar cuaca menggunkan perangkat lunak wradlib berbasis bahasa pemrograman python. Model hidrologi HEC-GeoHMS dan HEC-HMS digunakan untuk menghitung debit aliran berdasarkan inputan curah hujan radar cuaca.  Metode Gridded Soil Conservation Service Curve Number (SCS CN) dan ModClark digunakan untuk menentukan metode kehilangan dan waktu tempuh yang dibutuhkan air hingga ke titik outlet. Sedangkan aliran dasar dan routing masing-masing menggunakan metode Recession dan Lag. Hasilnya, diperoleh persamaan antara reflektfitas radar cuaca dan curah hujan pengamatan sebesar   Z=2,65R1,3.  Debit simulasi menghasilkan nilai RMSE seberas 11,99 m3/detik sebelum di kalibrasi, dan RMSE sebesar 4.37 m3/detik setelah di kalibrasi. Selain itu, curah hujan estimasi radar cuaca memiliki pola yang sama dengan fluktuasi debit harian DAS Manna

    Pengaruh Seruakan Dingin Asia Terhadap Tinggi Gelombang Maksimum di Selat Karimata dan Laut Jawa

    Full text link
    Indonesia merupakan negara kepulauan di daerah tropis dengan 2 (dua) musim (hujan dan kemarau), yang sebagian besar daerahnya merupakan daerah lautan. Musim di Indonesia sangat dipengaruhi oleh aktivitas monsun dingin Asia Timur yang juga memberikan pengaruh terhadap munculnya aktivitas seruakan dingin Asia yang membawa massa udara dingin dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan melewati daerah kepulauan maritim (cross equatorial flow). Kondisi ini kemudian menyebabkan terbentuknya awan – awan hujan yang merata dengan durasi yang cukup lama di daerah tersebut. Selain berdampak pada meningkatnya intensitas dan durasi hujan, seruakan dingin Asia diduga kuat juga memberikan dampak terhadap peningkatan tinggi gelombang di daerah tersebut. Hal ini dikarenakan pergerakan angin dominan yang bertiup cukup lama sehingga meningkatkan ketinggian gelombang, terutama di Selat Karimata dan Laut Jawa. Dalam penelitian ini dianggap perlu untuk mencari hubungan antara seruakan dingin Asia dengan peningkatan tinggi gelombang, dalam hal ini di Selat Karimata dan Laut Jawa. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sebab akibat, guna memperoleh gambaran mengenai akibat yang ditimbulkan oleh seruakan dingin terhadap kenaikan tinggi gelombang maksimum. Terdapat jeda waktu antara meningkatnya aktivitas seruakan dingin Asia di Laut Cina Selatan dengan meningkatnya tinggi gelombang di Selat Karimata dan Laut Jawa, sehingga dapat dilakukan antisipasi dini dampak gelombang tinggi yang ditimbulkan. Akhirnya hasil yang diharapkan dalam penelitian ini diharapkan mampu menjadi pengetahuan baru dalam melakukan prediksi tinggi gelombang di Selat Karimata dan Laut Jawa ketika terjadi seruakan dingin Asia

    Analisis Karakteristik Fisik dan Meteorologi DAS Bengkulu

    Full text link
    Bengkulu watershed experiences flooding at least two times a year during the rainy season. The flood is one of the hydrometeorological disasters influenced by the physical and meteorological characteristics of the watershed. The characteristics are the basis for planning and management in the watershed. Therefore, this study aims to analyze the physical characteristics and meteorological characteristics of the Bengkulu watershed, as a basis for planning and managing the watershed, to minimize the incidence and impact of hydrometeorological disasters in the watershed. The method used in this research is a quantitative descriptive method of the physical and meteorological characteristics of the Bengkulu watershed. The physical characteristics of the watershed that were analyzed were morphometry, topography, soil type, and land use in the Bengkulu watershed. While the meteorological characteristics analyzed were rainfall and air temperature in the Bengkulu watershed. The results show that the physical characteristics of the Bengkulu watershed have a low capacity to store water, so that the infiltration is small, but the runoff rate is small and the flow type is moderate. However, runoff tends to increase. This is due to decreasing changes in forest land use, supported by increasing rainfall, and small variations in air temperature.DAS Bengkulu mengalami kejadian banjir setidaknya 2 kali dalam setahun pada musim hujan. Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh karakteristik fisik dan meteorologi DAS tersebut. Karakteristik tersebut merupakan dasar untuk melakukan perencanaan maupun pengelolaan di DAS tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik fisik dan karakteristik meteorologi DAS Bengkulu, sebagai dasar untuk melakukan perencanaan maupun pengelolaan DAS, sehingga dapat meminimalisir kejadian maupun dampak dari bencana hidrometeorologi di DAS tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif terhadap data karakteristik fisik dan meteorologi DAS Bengkulu. Karakteristik fisik DAS yang dianalisis yaitu morfometri, topografi, jenis tanah, dan penggunaan lahan di DAS Bengkulu. Sedangkan karakteristik meteorologi yang dianalisis yaitu curah hujan dan suhu udara di DAS Bengkulu. Hasil menunjukkan bahwa karakteristik fisik DAS Bengkulu mempunyai kemampuan menyimpan air yang rendah, sehingga infiltrasi kecil, namun laju limpasan kecil dan tipe pengaliran aliran sedang. Akan tetapi limpasan cenderung meningkat. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan hutan yang semakin berkurang, didukung oleh curah hujan yang semakin meningkat, dan variasi suhu udara yang kecil

    Pengukuran dan Analisa Data Radiasi Matahari di Stasiun Klimatologi Muaro Jambi

    Full text link
    Solar radiation is one of the most important quantities in research in the field of climatology, as it acts as a driving force in most of the dynamic processes of the atmosphere. Measurement of several solar radiation parameters at the Jambi Climatology Station has been carried out using a set of instruments called the automatic solar radiation station (ASRS) since 2017. In this paper, the measurement method, data quality control, and analysis of variability of the three types of solar radiation – direct radiation, diffuse radiation, and global radiation – in the period of 2018 – 2019, have been described. The results of data quality control indicate that in general, the three radiation parameters have a good spread of values. In the 2018 – 2019 period, the three parameters reached their peak at 13.00 LT and the daily average global radiation reached 4.4 ± 1.0 kWh/m2 day-1. The peak of insolation at the Jambi Climatology Station occurred in March and September, which coincided with the equinox events. The significant cloud growth in the Jambi region affects the radiation pattern that reaches the earth surface.Radiasi matahari merupakan salah satu besaran paling penting dalam penelitian di bidang klimatologi, karena berperan sebagai penggerak dalam sebagian besar proses dinamis di atmosfer. Pengukuran beberapa parameter radiasi matahari di Stasiun Klimatologi Muaro Jambi dilakukan menggunakan satu set instrumen automatic solar radiation station (ASRS) sejak tahun 2017. Dalam tulisan ini, metode pengukuran, kontrol kualitas data, dan hasil analisa variabilitas dari tiga jenis radiasi matahari – radiasi langsung, radiasi baur, dan radiasi global – dalam periode 2018 – 2019, telah dijabarkan. Hasil kontrol kualitas data menunjukkan bahwa secara umum ketiga parameter radiasi tersebut memiliki rentang nilai yang baik. Selama tahun 2018 – 2019, ketiga parameter radiasi tersebut mencapai puncak pada pukul 13.00 LT dan nilai rata rata akumulasi radiasi global dalam sehari mencapai 4.4 ± 1.0 kWh/m2 day-1. Puncak insolasi di Stasiun Klimatologi Muaro Jambi terjadi pada bulan Maret dan September, yang bertepatan dengan waktu terjadinya equinox. Kuatnya pertumbuhan awan di wilayah Jambi mempengaruhi pola radiasi yang mencapai permukaan bumi

    Verifikasi Parameter Presipitasi Akumulasi 24 Jam pada Model Cuaca Numerik Tahun 2017-2020

    Full text link
    The 24-hour accumulated precipitation parameters from four numerical models contained in the Synergie operational tool, namely GFS, IFS, ARPEGE, and WRF, were verified using daily surface observation data at 34 study points representing each province in Indonesia. Three verification methods, namely dichotomy, multi-category, and verification methods for continuous parameters are used to measure the performance of each model in predicting daily rainfall quantity in the period 2017 to 2020. The results show that the IFS model has the best performance in all of the classification done in this study compared to other 3 numerical models.   Keywords: Precipitation, Verification, AccuracyParameter presipitasi akumulasi 24 jam dari empat model numerik yang terdapat dalam operational tool Synergie, yaitu GFS, IFS, ARPEGE, dan WRF, diverifikasi menggunakan data observasi permukaan harian di 34 titik kajian yang mewakili setiap provinsi di Indonesia. Tiga metode verifikasi yakni dikotomi, multikategori, serta metode verifikasi untuk parameter kontinu digunakan untuk mengukur performa masing-masing model dalam memprediksi kuantitas curah hujan harian dalam periode tahun 2017 hingga 2020. Berdasarkan hasil kajian model IFS menunjukkan performa terbaik disetiap pengkategorian yang dilakukan dibandingkan dengan 3 model cuaca numerik lainnya

    Kajian Hasil Prediksi Konsentrasi Aerosol PM10 Dari Data ECMWF Dengan Hasil Pengukuran Di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang (Agam) dan Kota Padang

    Full text link
    Air pollutant emissions originating from forest and land fires as well as from transportation in urban areas are of concern to both stakeholders and the general public. One type of air pollutants that is considered as the main indicator of air pollution is particulate matter 10 micron (PM10). The limited number of locations for measuring PM10 concentrations in the field causes the availability of data and information on air pollutants. This study aims to study the use of data from the ECMWF model as a prediction for PM10 concentration in two locations, namely the Bukit Kototabang Global Atmospheric Monitoring Station and the City of Padang. The research method used refers to quantitative data analysis using correlation methods and descriptive statistics. The results of this study indicate that the concentration of PM10 using ECMWF data on observational data in the city of Padang shows a difference of 25% (H-1), 20% (H-2), and 17% (H-3), and the best predictive value. is for ECMWF data on H-3. Meanwhile, the prediction value of PM10 concentration using ECMWF data on observation data at the Bukit Kototabang Global Atmospheric Monitoring Station shows a value of 12% (H-1), 23% (H-2), and 24% (H-3). The best prediction value for PM10 concentration at the Bukit Kototabang Global Atmospheric Monitoring Station is for ECMWF data on H-1. In general, the PM10 concentration and the observed results show the same profile even though on average the results from the ECMWF provide different concentration values ​​in the two study locations. Keywords: PM10, ECMWF, Bukit Kototabang, Padang City.Emisi polutan udara yang bersumber dari kebakaran hutan dan lahan serta dari transportasi di wilayah perkotaan menjadi perhatian baik bagi pemangku kepentingan dan masyarakat. Salah satu jenis polutan udara yang sering menjadi indikator utama adalah particulate matter 10 micron (PM10). Sedikitnya titik lokasi pengukuran konsentrasi PM10 menyebabkan ketersediaan data dan informasi polutan udara ini terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian terhadap penggunaan data dari model ECMWF sebagai prediksi untuk konsentrasi PM10 di dua lokasi, yaitu di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang dan Kota Padang. Metode penelitian yang digunakan mengacu pada analisis data secara kuantitatif menggunakan metode korelasi dan statistik deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi PM10 dengan menggunakan data ECMWF terhadap data observasi di kota Padang menunjukkan nilai selisih 25% (H-1), 20% (H-2), dan 17% (H-3), dan nilai prediksi terbaik adalah untuk data ECMWF pada H-3. Sementara itu nilai prediksi konsentrasi PM10 dengan menggunakan data ECMWF terhadap data observasi di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang menunjukan nilai 12% (H-1), 23% (H-2), dan 24% (H-3). Hasil nilai prediksi terbaik konsentrasi PM10 di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang adalah untuk data ECMWF pada H-1. Secara umum, konsentrasi PM10 dan hasil observasi menunjukkan profil yang sama, meskipun hasil dari ECMWF memberikan nilai konsentrasi yang berbeda di dua lokasi penelitian. Kata kunci: PM10, ECMWF, Bukit Kototabang, Kota Padang

    Koreksi Instrumen pada Seismometer Broadband Trilium-120p dan Short-Period DS-04A Co-Located di Stasiun Geofisika Denpasar (Studi Kasus : Gempabumi Lombok 31 Maret 2016)

    Full text link
    Dalam penjalarannya sinyal seismik yang terekam oleh alat merupakan konvolusi dari sumber, penjalaran, efek lokal, dan yang menjadi pengaruh terbesar adalah respon instrumen.Oleh karena itu, sangat penting untuk menghilangkan respon instrumen pada rekaman seismogram untuk mendapatkan getaran tanah yang sesungguhnya. Penulis menggunakan rekaman gempabumi Lombok pada 31 Maret 2016 pukul 09:34:43 UTC magnitude 4,7 koordinat 8.480 LS dan 116.020 BT dengan kedalaman 10 km yang terekam oleh seismometer Broadband Trilium-120P dan Short-period DS-04A yang terpasang co-located di Stasiun Geofisika Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai korelasi kedua sinyal dari alat yang berbeda sehingga dapat menginterpretasikan getaran tanah sesungguhnya.Untuk memperoleh nilai getaran tanah yang sesungguhnya diperlukan informasi poles dan zeros guna mendapatkan nilai dari fungsi transfer yang selanjutnya didekonvolusi dengan sinyal seismogram. Hasil penghilangan pengaruh respon instrumen menunjukan kemiripan antara sinyal Broadband dan Short-period secara kualitatif dan peningkatan nilai normalisasi korelasi sinyal secara kuantitatif.Perubahan spektrum frekuensi pada sinyal setelah dekonvolusi menunjukan hasil kemiripan antara sinyal setelah koreksi instrumen dibandingkan dengan sebelum koreksi instrumen

    47

    full texts

    113

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Megasains (Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇