Megasains (Journal)
Not a member yet
    113 research outputs found

    IDENTIFIKASI PERUBAHAN CURAH HUJAN DAN SUHU UDARA DI KOTA BENGKULU DAN KABUPATEN KEPAHIANG PROVINSI BENGKULU

    Full text link
    Climate change has far-reaching impacts in various regions of the world. The chance of extreme climate conditions in the form of high rainfall and drought is increasing as a result of climate change. Indonesia, which is in a tropical region and is a developing country, is vulnerable to being affected by climate change, so it is necessary to analyze climate change in Indonesia. This research analyzes climate change using extreme climate indices produced from the Expert Team for Climate Change Detection and Indices (ETCCDI) study. This index calculates changes in minimum temperature, minimum temperature, and rainfall. Statistical analysis using the Mann-Kendall method was also carried out to see whether or not there were changing trends in climate elements. The data used is data from the Bengkulu Meteorological Station as a representative of the Bengkulu City area which is on the coast and data from the Kepahiang Geophysical Station as a representative of Kepahiang Regency which is in the highland area. The data used is data for the period 1991 – 2020. The results of this research show that there has been a significant change in minimum temperature in both regions.Perubahan iklim memiliki dampak yang luas di berbagai wilayah di dunia. Peluang terjadinya kondisi iklim ekstrem berupa curah hujan tinggi dan kekeringan meningkat sebagai salah satu akibat dari perubahan iklim. Indonesia yang berada di wilayah tropis dan termasuk dalam negara berkembang rentan terdampak perubahan iklim sehingga perlu dilakukan analisis perubahan iklim di Indonesia. Penelitian ini menganalisis perubahan iklim menggunakan indeks iklim ekstrem yang dihasilkan dari kajian Expert Team for Climate Change Detection and Indices (ETCCDI). Indeks ini menghitung perubahan pada suhu minimum, suhu minimum, dan curah hujan. Analisis statistik menggunakan metode Mann-Kendall juga dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya tren perubahan pada unsur iklim. Data yang digunakan adalah data dari Stasiun Meteorologi Bengkulu sebagai perwakilan dari wilayah Kota Bengkulu yang berada di pesisir pantai dan data dari Stasiun Geofisika Kepahiang sebagai perwakilan dari Kabupaten Kepahiang yang berada pada daerah dataran tinggi. Data yang digunakan adalah data periode 1991 – 2020. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan suhu minimum yang signifikan pada kedua wilayah

    Rice Production Projection Simulation for 2030-2062 Compared to Rice Production in 1980-2012 Using AquaCrop model in Banyuwangi, East Java

    No full text
    Menggunakan data harian iklim periode  1980-2012  (33  tahun)  dari Stasiun Meteorologi   Banyuwangi   Jawa Timur,    telah dibuat proyeksi suhu maksimum, suhu minimum dan evapotranspirasi potensial (ETo) serta curah  hujan  50  tahun  ke  depan  (2030- 2062) berdasarkan tren linier perubahannya pada periode historis. Menggunakan  data  iklim  historis  (1980- 2012)   dan   data   iklim   proyeksi   (2030- 2062),   dilakukan simulasi produksi padi menggunakan model AquaCrop.      Suhu malam hari (suhu minimum) meningkat dengan  laju  yang  lebih  besar daripada suhu siang (suhu maksimum).   Proyeksi suhu   maksimum   di   Banyuwangi   pada tahun  2030-2062  berada  pada  kisaran 31.6°C  –  32.2  °C  dan  suhu  minimum pada kisaran 24.8°C – 26.0°C. Evapotranspirasi   mengalami   penurunan 0.3 mm/hari dari 1497 mm/tahun di tahun 1980  menjadi  1390  mm/tahun  di  tahun 2030 dan 1320 mm/tahun di tahun 2062. Dengan asumsi terjadi peningkatan curah hujan ekstrim sebesar 30%, curah hujan pada puncak musim hujan bertambah dan curah hujan pada puncak musim kemarau berkurang.     Produksi  padi  pada  tahun 2030-2062 diproyeksikan  meningkat setiap  bulan  sepanjang  tahun  sekitar  1 ton kecuali   bila tanam pada bulan April. Peningkatan curah hujan di masa mendatang,  memperpanjang  musim tanam  padi yang semula 9 bulan dalam setahun menjadi 11 bulanUsing daily climatic data period 1980- 2012 (33 years) of the Meteorological Station Banyuwangi, East Java, has developed the projected maximum temperature, minimum temperature  and  potential  evapotranspiration (ETo) and rainfall over the next 50 years (2030- 2062)  is  based  on  a  linear  trend  updates  on historical  period.   Using  historical  climate  data (1980-2012)  and  projected  climate  data  (2030- 2062),   carried   out   rice  production   simulations using AquaCrop model. Night time temperatures (minimum   temperature)   increased   at   a   rate greater than the daytime temperature (maximum temperature). Projected maximum temperature in Banyuwangi in 2030-2062 in the range of 31.6 ° C - 32.2 ° C and the minimum temperature in the range of 24.8 ° C - 26.0 ° C. Evapotranspiration decreased 0.3 mm / day from 1497 mm / year in 1980 to 1390 mm / year in 2030 and 1320 mm / year  in 2062. Assuming an increase in extreme rainfall by 30%, rainfall at the peak of the rainy season increases and precipitation at the peak of the  dry  season  is  reduced.  Rice  production  in 2030-2062 is projected to increase every month throughout the year about 1 ton except when planting in April. Increased rainfall in the future, to extend   the   rice-planting   season   which   was originally 9 months a year to 11 month

    STUDY OF THE RELATIONSHIP BETWEEN THE DISTRIBUTION OF THE 26 DECEMBER 2004 ACEH AFTERSHAKE AND THE DISTRIBUTION OF COULOMB STRESS CHANGE

    No full text
    Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan fokus mempelajari interaksi antara distribusi gempa susulan dan perubahan tegangan coulomb, serta interaksi antara satu gempa besar dengan kejadian gempa lainnya yang letaknya berdekatan. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengkaji sebaran gempa susulan gempa Aceh bulan Desember 2005 dari perubahan pola tegangan coulomb. Data utama gempa bumi beserta parameter keruntuhannya diperlakukan sebagai masukan untuk menganalisis perubahan tegangan coulomb, dengan bantuan paket perangkat lunak Coulomb v3.3. Hasilnya menunjukkan hal itu Sebesar 49,8% gempa susulan gempa Aceh tanggal 26 Desember 2004 tersebar pada wilayah yang dihitung perubahan tegangan coulomb positifnya, sedangkan sisanya terletak pada perubahan tegangan coulomb negatif.During the last few years, scientists have been focusing on studying the interaction between the aftershocks distribution and the change of coulomb stress, as well as the interaction between one major earthquake and other earthquake events, which were closely located. The aim of this paper is to examine the distribution of aftershocks of Aceh earthquake on December 2005 from the changes of coulomb stress pattern. The main earthquake data, along with rupture parameters, were treated as the inputs for analyzing the coulomb stress change, with the help from a software package, Coulomb v3.3. The results showed that 49.8% of the aftershocks of the Aceh earthquake on 26 December 2004 is distributed on the areas where positive coulomb stress change were calculated, whereas the rest is located on the negative chang

    KAJIAN INDEKS HUJAN EKSTREM PADA TIGA TIPE IKLIM DI WILAYAH INDONESIA

    No full text
    Extreme rainfall is defined as rain that occurs with heavy intensity or very high rainfall in a short period of time, which can lead to hydrometeorological disasters. This study analyzes the influence of extreme rainfall that plays an important role in the long-term period in several different climate types, namely tropical rainforest, tropical monsoon, and tropical savanna climate types, in the last 30 years, represented by Pontianak, Semarang, and Kupang, respectively. The results showed that the highest to lowest percentage of extreme rainfall events were recorded in Pontianak, Semarang and Kupang, respectively, throughout the study period. Furthermore, based on trend analysis, it is known that there is an increasing trend of extreme rainfall found in Pontianak for all extreme rainfall indices, a dominant downward trend in Kupang, and a variable trend (up/down) in Semarang. The findings of this study can be used as a reference for future climate change research and for the development of climate change adaptation and mitigation strategies in Indonesia.Hujan ekstrem didefinisikan sebagai hujan yang terjadi dengan intensitas lebat atau hujan sangat tinggi dalam waktu yang singkat, yang mampu mengakibatkan bencana hidrometeorologi. Kajian ini menganalisis tentang pengaruh hujan ekstrem yang memainkan peran penting pada periode jangka panjang di beberapa tipe iklim yang berbeda, yakni tipe iklim hutan hujan tropis, monsun tropis, serta sabana tropis, dalam periode waktu 30 tahun terakhir, yang masing-masing diwakili Pontianak, Semarang, dan Kupang. Hasil kajian menunjukkan kejadian hujan ekstrem dengan persentase tertinggi ke terendah berturut-turut tercatat di Pontianak, Semarang, dan Kupang, di sepanjang periode kajian. Selanjutnya, berdasarkan analisis tren, diketahui bahwa terdapat tren peningkatan hujan ekstrem ditemui di Pontianak untuk semua indeks hujan ekstrem, tren dominan turun di Kupang, dan tren bervariasi (naik/turun) di Semarang. Temuan dari penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian perubahan iklim di masa depan dan untuk pengembangan strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia

    ANALISIS KUALITAS UDARA PARAMETER PM2.5 DI WILAYAH KOTA SORONG BERBASIS ISPU

    Full text link
    Sorong City has an area of 1.105 km2 and is the most densely populated area in the Provinces of West Papua and Southwest Papua. As the population in Sorong City increases, human activities also increase which can contribute to increasing PM2,5 particulate concentrations. Sources of particulates in Sorong City came from anthropogenic activities such as city development projects, transportations, biomass burning, and other public activities in the area. PM2,5 that exceeds ambient air quality standards can harm human health. PM2,5 Observations were carried out at Global Atmosphere Watch Sorong Station using BAM Met-One 1020 automatic instrument. BAM-1020 automatically measures and records the level of particle concentrations in the air using Beta Ray Attenuation principle, namely the attenuation of beta particles through the collected solid matter. on fiber filters. PM2,5 solid matter collected in the fiber filter in a volume of ambient air that is drawn by the pump. In general, during September 2021 – June 2023, PM2,5 concentrations tend to increase. The results of the analysis showed that the daily average concentration of PM2,5 measured during September 2021 – June 2023 was in the range 1.21 – 18.71 ug/m3; still below the PM2,5 threshold value of 65 ug/m3 (24 hours). Based on the calculation of the PM2,5 parameter Air Pollutant Standard Index (ISPU), it is known that the ISPU value is in the range 0 – 50. Air quality conditions in Sorong area during this time were in the good category. The influence of meteorological parameters of rainfall and air temperature on PM2,5 concentrations in Sorong City has the most significant and strongest correlation, with a value of r=0.8 (air temperature) and r=-0.7 (rainfall).Kota Sorong merupakan wilayah yang memiliki luas wilayah sebesar 1.105 km2 dan menjadi wilayah terpadat penduduknya di Provinsi Papua Barat dan Papua Barat Daya. Seiring meningkatnya jumlah populasi di Kota Sorong, juga meningkatkan aktivitas manusia yang dapat berkontribusi pada meningkatnya konsentrasi PM2,5. Sumber partikulat di Kota Sorong berasal dari aktivitas antropogenik seperti proyek pembangunan kota, aktivitas kendaraan bermotor, pembakaran biomassa, serta aktivitas masyarakat di wilayah tersebut. Partikulat PM2,5 yang melebihi baku mutu udara ambiennya dapat mengganggu kesehatan manusia. Pengamatan PM2,5 dilakukan di Stasiun Pemantau Atmosfer Global Sorong mengunakan instrumen otomatis BAM Met-One 1020. BAM-1020 secara otomatis mengukur dan mencatat tingkat konsentrasi partikel di udara menggunakan prinsip Atenuasi Sinar Beta yaitu pelemahan partikel beta yang mana melalui materi padatan yang terkumpul pada filter fiber. Materi padatan PM2,5 yang terkumpul dalam filter fiber dalam satu volume udara ambien yang dihisap oleh pompa. Secara umum selama September 2021 – Juni 2023, konsentrasi PM2,5 cenderung mengalami kenaikan. Hasil analisis diperoleh bahwa konsentrasi rata-rata Harian PM2,5 terukur selama September 2021 – Juni 2023 berada pada range 1,21 – 18,71 ug/m3; masih dibawah nilai ambang batas PM2,5 sebesar 65 ug/m3 (24 Jam). Berdasarkan perhitungan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Parameter PM2,5, diketahui nilai ISPU berada pada rentang 0 – 50. Kondisi kualitas Udara di Wilayah Sorong selama waktu tersebut berada pada kategori Baik. Pengaruh parameter meteorologi curah hujan dan suhu udara terhadap konsentrasi PM2,5 di Kota Sorong memiliki korelasi paling signifikan dan kuat, dengan nilai r=0,8 (suhu Udara) dan r=-0,7 (curah hujan)

    IDENTIFIKASI KONSENTRASI CO, CO2, NO2, SO2, DAN PM10 YANG TERUKUR DI STASIUN GAW BUKIT KOTOTABANG SELAMA MUDIK LEBARAN TAHUN 2019-2023

    Full text link
    West Sumatra is regarded as one of the provinces that serves as a prominent location for the annual Eid homecoming tradition among migrants in Indonesia. In addition to this, West Sumatra serves as a popular tourist destination for individuals seeking leisure and recreation during the Eid holidays. Therefore, the rise in population activity and vehicle volume is expected to result in an escalation in air pollution levels. Furthermore, the influence of air pollution on respiratory health disorders is also substantial. Hence, the primary objective of this study is to ascertain alterations in the atmospheric concentrations of Carbon monoxide (CO), Carbon dioxide (CO2), Nitrogen dioxide (NO2), Sulphur dioxide (SO2), PM10 pollutants over the Eid period from 2019 to 2023 in the region of West Sumatra. The designated time intervals are H-10 following the conclusion of Eid and H+10. The data utilized in this study is derived from observations conducted at the Global Atmosphere Watch Bukit Kototabang Station. The findings of this study indicate that the observance of Eid activities has a discernible impact on the elevation of concentrations of carbon monoxide (CO), carbon dioxide (CO2), and nitrogen dioxide (NO2). In the interim, it has been shown that PM10 concentrations tend to be altered by ENSO conditions. However, there was no significant change seen in the SO2 parameter concerning population activity within the specified time frame. The parameters\u27 conditions during 2019-2023 remain within the favourable category.Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi yang menjadi tujuan mudik lebaran para perauntau di Indonesia. Selain itu, Sumatera Barat juga menjadi tujuan liburan para turis dan wisatawan saat libur lebaran. Sehingga, aktivitas penduduk dan volume kendaraan akan meningkat yang berdampak pada meningkatnya kondisi polusi udara yang ada. Terlebih lagi, dampak polusi udara sangat signifikan terhadap kondisi kesehatan pernapasan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kondisi konsentrasi gas di udara CO, CO2, NO2, SO2, dan polutan PM10 selama periode lebaran tahun 2019-2023 di Sumatera Barat. Waktu yang digunakan adalah H-10 setelah lebaran dan H+10. Data yang digunakan hasil dari observasi Stasiun GAW Bukit Kototabang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas lebaran berpengaruh terhadap kenaikan konsentrasi CO, CO2, dan NO2. Sedangkan untuk konsentrasi PM10 cenderung dipengaruhi oleh faktor ENSO. Namun, untuk parameter SO2 tidak mengalami perubahan sama sekali terhadap aktivitas penduduk selamat periode tersebut. Kondisi dari seluruh parameter selama periode 2019-2023 masih dalam kategori baik

    Design and Build a Maritime Automatic Weather Station

    No full text
    Pengamatan parameter  cuaca merupakan hal yang penting dalam memprakirakan cuaca dan melakukan analisa untuk mengetahui fenomena cuaca yang terjadi, minimnya pengamatan cuaca maritim di BMKG merupakan salah satu faktor dari tingkat akurasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG. Diperlukan alat atau instrumen pemantau parameter cuaca maritim yang bekerja otomatis merekam data pengamatan untuk mempermudah pengamatan cuaca. Rancangan alat Maritime Automatic Weather Station terdiri dari beberapa pengukuran parameter cuaca seperti suhu udara, kelembaban  udara,  tekanan  udara,  suhu  air  laut, arah angin dan kecepatan angin. Perangkat keras  terdiri  atas  sensor-sensor  yaitu  SHT11,  BMP180,  DS18B20,  HCSR04,  Wind  Speed,  Wind  Direction dan juga perangkat keras lainnya yaitu minimum sistem  ATmega  2560,  Atmega  328,  modul RTC3231, SD-Card, Telemetry 3DR, dan LCD 20x4 untuk   menampilkan   data,  sedangkan   perangkat lunak untuk membangun sistem terdiri dari Arduino IDE dan LabView. Data dari sensor-sensor akuisisi data diolah menggunakan mikrokontroller sehingga menghasilkan  data  parameter  cuaca,  selanjutnya data parameter tersebut dikirim menggunakan komunikasi nirkabel dan di tampilkan dalam aplikasi yang dibangun.Abstract  Observation  of  weather parameters are important for forecasting and analysing weather to determine the weather phenomenon, the lack of maritime weather observations in BMKG is one of the factors of the accuracy of weather forecasts issued by BMKG. Therefore, it required a tool or instrument to monitoring maritime meteorological parameters that work automatically to record data and facilitate weather observation. The design of Maritime Automatic weather station consists of several meteorological parameters such as air temperature, air  humidity,  air  pressure,  sea  water  temperature, wind   direction   and   wind   speed.   The   hardware consists   of   several   sensors   such   as   SHT11,  BMP180,  DS18B20,  HCSR04,  Wind  Speed,  Wind Direction and other supporting devices like ATmega 2560 and Atmega 328 minimum system, RTC3231, SD-Card, Telemetry 3DR, and LCD 20X4 to display data, while for the software consists of Arduino IDE to build the system and LabView. Data from sensors is processed using a microcontroller to generate weather  parameter  data,  then  they  will  be transmitted using wireless communication and displayed in software applicatio

    Identify Atmospheric Oscillations That Influence Variability Rainfall and Temperature in Bandung

    No full text
    Interaksi atmosfer-daratan-lautan di wilayah monsun Asia dan monsun Australia serta Samudera Pasifik salah satunya menghasilkan variabilitas   elemen   iklim   tahunan   di   wilayah tersebut  yang selanjutnya dikenal  sebagai  TBO. TBO (Tropospheric Biennial Oscillation) adalah salah satu bentuk variasi elemen iklim tahunan di lapisan troposfer (dari permukaan sampai tropopause)  dengan  perioda  sekitar  2-3  tahun yang terjadi di wilayah monsun Asia, monsun Australia,  lautan India Tropis  dan  lautan  Pasifik Tropis. Proses monsun asia musim panas dan El nino Southern Oscillation (ENSO) biasanya dijelaskan dengan skema sistem monsun- atmosfer-laut (Monsoon-Atmosphere-Ocean System, MAOS). Data yang digunakan dalam penelitian  ini  terdiri  dari  data  curah  hujan  dan suhu   rata-rata   bulanan,   periode   pengamatan 1971-2013 di  stasiun Geofisika Klas I Bandung. Metode yang digunakan dalam mengidentifikasi pengaruh ENSO terhadap pola curah hujan dan suhu, yaitu menggunakan analisis wavelet. Hasil pengolahan data dan analisis mengindikasikan bahwa curah hujan dan suhu di Bandung tidak terpengaruh ENSO tetapi dominan pengaruh monsun atau siklus satu tahunan dan siklus pengaruh lokal.The interaction of the atmosphere-land- ocean   in   the   Asian   monsoon   and   monsoon regions of Australia and the Pacific Ocean one of which generate annual variability of climatic elements in the region that became known as the TBO.  TBO  (Tropospheric  Biennial  Oscillation)  is one form of annual climatic element variations in the troposphere (from the surface to the tropopause)  with a  period of about  2-3 years is happening in the Asian monsoon region, the Australian monsoon, tropical Indian Ocean and tropical Pacific Ocean. Asian summer monsoon mechanism and El nino Southern Oscillation (ENSO) system is commonly expressed in the schema-atmosphere-ocean monsoon (Monsoon- Ocean-Atmosphere   System,   Maos).   The   data used in this study consisted of rainfall data and the average monthly temperature, the observation period 1971-2013 in Class I Geophysical station of Bandung. The method used to identify the influence of ENSO on rainfall patterns and temperature, using wavelet analysis. The results of data processing and analysis indicate that precipitation and  temperature  in Bandung is  not affected by ENSO but the dominant influence of the monsoon or annual cycles and cycles of local influenc

    - DAMPAK LA NINA TERHADAP PENAMBAHAN CURAH HUJAN DAN TINGKAT RESIKO DI JAWA TENGAH

    No full text
    Central Java Province is one of the national food buffer provinces. One of the factors that influence the productivity of the agricultural and horticultural sectors is weather/climate conditions, including anomalies that cause weather/climate changes. Therefore, analysis and research related to weather/climate potential, especially regarding rainfall, needs to be updated to determine adaptation actions for farmers and related stakeholders. Rainfall as a climate element apart from its dynamic nature, the physical processes involved are also very complex. This rain uncertainty becomes greater when climate anomalies occur in the form of El Nino and La Nina. The influence of the La Nina phenomenon on increasing rainfall intensity is also possible in Central Java Province. Based on analysis of monthly rainfall data and monthly nino 3.4 index data for 30 years (1991-2020) using the frequency analysis method and bootstrapping method, the moderate to very high risk was concentrated in the SON period in most areas of Central Java with increasing rainfall (40 -70%). The impact of La Niña provides an increase in rainfall of up to >100% with a moderate to high risk of occurring during the JJA period in the West Coast to East Pantura areas of Central Java. Meanwhile, the DJF and MAM periods increased rainfall (20 – 70%) but with low to very low risk in almost all areas of Central Java.Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi penyangga pangan nasional. Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas sektor pertanian dan hortikultura adalah kondisi cuaca / iklim, termasuk anomali yang menyebabkan perubahan cuaca / iklim. Oleh karenanya analisa dan penelitian terkait potensi cuaca / iklim khususnya terhadap curah hujan perlu pemutaakhiran guna menentukan tindak adaptasi bagi petani dan stake holder terkait. Curah hujan sebagai unsur iklim selain sifatnya yang dinamis, proses fisis yang terlibat juga sangat kompleks. Ketidakpastian hujan ini semakin besar ketika terjadi anomali iklim berupa El Nino dan La Nina. Pengaruh fenomena La Nina terhadap peningkatan intensitas curah hujan juga dimungkinkan terjadi di Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan analisis data curah hujan bulanan dan data indeks nino 3.4 bulanan selama 30 tahun (1991-2020) menggunakan metode frekuensi analisis dan metode bootstrapping didapatkan bahwa resiko moderate hingga sangat tinggi terkonsentrasi pada periode SON pada sebagian besar wilayah Jawa Tengah dengan peningkatan curah hujan (40-70%). Dampak La Niña memberikan peningkatan curah hujan hingga >100% dengan resiko moderate hingga tinggi terjadi pada periode JJA di wilayah pantura barat hingga pantura timur Jawa Tengah. Sedangkan pada periode DJF dan MAM memberikan peningkatan curah hujan (20 – 70%) namun dengan resiko rendah hingga sangat rendah hampir di seluruh wilayah Jawa Tengah

    Characteristics of Cloud to Ground (CG) Lightning Strike Patterns in Subulussalam region

    No full text
    Subulussalam terletak didekat ekuator tidak menutup kemungkinan banyak pertumbuhan awan  konvektif  aktif  yang  mengakibatkan terjadinya petir. Penelitian bertujuan   mengkaji hubungan   antara   petir   CG   (Cloud   to   Groud) dengan pola curah hujan di Subulussalam dengan menggunakan metode korelasi pearson, nilai IKL dan  SIG  untuk  pemetaan  kerapatan  sambaran petir. Hasil analisis curah hujan diketahui wilayah Subulussalam mempunyai pola ekuatorial yang dicirikan ada dua puncak curah hujan yaitu pada bulan Maret-April dan Oktober-November. Hubungan antara petir CG dengan curah hujan mempunyai  hubungan  yang  cukup  erat  dengan nilai korelasi r = 0.5. Nilai Isoceraunic Level (IKL) untuk wilayah Subulussalam termasuk dalam klasifikasi rawan petir sangat tinggi  dengan nilai antara 59.72% - 85.48%. Dari analisis spasial terlihat   bahwa  wilayah   Subulussalam mempunyai     aktifitas   petir   yang   cukup tinggi untuk wilayah Kecamatan Simpang Kiri, Longkip, Penanggalan dan Sultan DaulatSubulussalam is located near the equator, which does not rule out the possibility of a lot of active convective cloud growth resulting in lightning. The research aims to examine the relationship between CG (Cloud to Groud) lightning and rainfall patterns in Subulussalam using the Pearson correlation method, IKL and GIS values ??for mapping lightning strike density. The results of the rainfall analysis show that the Subulussalam region has an equatorial pattern which is characterized by two peaks of rainfall, namely in March-April and October-November. The relationship between CG lightning and rainfall is quite close with a correlation value of r = 0.5. The Isoceraunic Level (IKL) value for the Subulussalam area is classified as very high lightning prone with a value between 59.72% - 85.48%. From the spatial analysis, it can be seen that the Subulussalam area has quite high lightning activity for the Simpang Kiri, Longkip, Penanggalan and Sultan Daulat sub-districts

    47

    full texts

    113

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Megasains (Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇