Satya Wacana Christian University
Institutional Repository of Satya Wacana Christian UniversityNot a member yet
14517 research outputs found
Sort by
Dokumentasi keadaan perpustakaan pusat UKSW tahun 70an
Dokumentasi foto keadaan perpustakaan pusat UKSW di tahun 70an
The Effect Of Taro Flour Substitution On The Characteristic Of Kepok Banana Flour Cookies
Cookies merupakan cemilan yang cukup banyak digemari oleh sebagian orang. Cookies menjadi makanan yang praktis karena mudah dibawa kemana saja dan dimakan kapan saja. Cookies tepung pisang kepok dengan subtitusi tepung talas memiliki daya tahan simpan yang relatif panjang karena tepung talas memberikan efek keras atau padat pada cookies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan tepung talas terhadap karakteristik cookies pisang kepok. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif. Model rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yang dilakukan 5 kali pengulangan, dengan jumlah responden penelitian sebanyak 30 orang panelis. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan skunder sebagai data pendukung. Data sudah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan sidik ragam dan uji lanjut BNJ (Uji Beda Nyata) dengan selang kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat substitusi tepung pisang kepok dengan tepung talas pada cookies memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan organoleptik warna, aroma, rasa dan tekstur. Hasil pengujian fisiokimia menunjukkan bahwa kadar air terbaik pada perlakuan PT3 dengan nilai 1,860%, kadar abu terbaik pada kontrol sebesar 1,897%, kadar N-total terbaik pada kontrol sebesar 5,497% dan kadar gula reduksi pada PT2 sebesar 7,225%. Cookies terbaik pada penelitian ini terdapat pada kontrol atau cookies dengan menggunakan 100% tepung pisang kepok.Cookies are a snack that is liked some people. Cookies are a practical food because they are easy to carry anywhere and eat at any time. Kepok banana flour cookies substituted with taro flour have a relatively long shelf life because taro flour gives the cookies a hard or dense effect. This research aims to analyze the effect of adding taro flour on the characteristics of banana kepok cookies. The research uses a quantitative approach. The experimental design model used in this research was a Randomized Group Design (CGD) with 5 treatments carried out 5 times, with a total of 30 research respondents as panelists. The data used in this research are primary and secondary data as supporting data. The data that has been obtained is the BNJ (Significant Difference Test) further test with a 95% confidence interval. The research results showed that the level of substitution of kepok banana flour with taro flour in cookies had a real influence on the level of organoleptic preference for color, aroma, taste and texture. The results of physiochemical testing can be seen that the best water content in the PT3 treatment was 1.860%, the best ash content in the control was 1.897%. The best N-total content in the control was 5.497% and the reduction sugar content in PT2 was 7.225%. The best cookies in this study were found in the control or cookies using 100% kepok banana flour
Ecofeminist Study of Women Fishermen's Views Regarding Hotel Development on the Kupanng Bay Coast
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi dari pemikiran ekofeminisme terhadap pandangan perempuan nelayan tentang pembangunan hotel di pesiisr pantai teluk Kupang. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Partisipasi penelitian ini terdiri dari perempuan-perempuan nelayang tinggal dan bekerja di wilayah laut teluk Kupang. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi perubahan yang terjadi saat pembangunan hotel serta dampak yang dirasakan oleh mereka. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perempuan nelayan mengalami ketidaknyamanan akan suasana perhotelan, krisis air akibat limbah cair hotel, serta yang paling utama yaitu pada ekonomi mereka. Karena lahan pesisir pantai dipakai untuk pembangunan hotel, maka mereka kesulitan untuk mencari hasil laut. Perjuangan perempuan nelayan dalam perspektif ekofeminisme bukan hanya tentang memperjuangkan hak-hak mereka sebagai perempuan, tetapi juga tentang mengatasi ketidakadilan sosial dan lingkungan yang mereka alami. Ekofeminisme menyoroti hubungan yang erat antara penindasan terhadap perempuan dan kerusakan alam, serta menuntut perubahan sistemik yang menciptakan keseimbangan antara keberlanjutan ekologi dan keadilan sosial. Perempuan nelayan, melalui pemberdayaan dan kesadaran ekologis, dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutanThis research aims to analyze the potential of ecofeminist thinking on the views of female fishermen regarding hotel development on the coast of Kupang Bay. This research will use qualitative methods with a descriptive approach. The participants in this research consisted of female fishermen who lived and worked in the Kupang Bay sea area. Data was collected through in-depth interviews which were analyzed systematically to identify changes that occurred during the construction of the hotel and the impacts felt by them. The results of this research show that female fishermen experience discomfort in the hotel atmosphere, the water crisis due to hotel liquid waste, and most importantly their economy. Because coastal land is used for hotel construction, they have difficulty finding marine products. The struggle of fishing women from an ecofeminist perspective is not only about fighting for their rights as women, but also about overcoming the social and environmental injustices they experience. Ecofeminism highlights the close relationship between the oppression of women and the destruction of nature, and demands systemic change that creates a balance between ecological sustainability and social justice. Fisherwomen, through empowerment and ecological awareness, can become agents of change in creating a more just and sustainable world
Pola Aktivitas Fisik Masyarakat Pra-lansia (Usia 40-55 tahun) Desa Tluwah Kabupaten Pati
Aktivitas adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia. Aktivitas yang dimaksud adalah aktivitas fisik yang merupakan berubahnya posisi anggota tubuh yang dilakukan otot rangka yang disertai adanya sumber energi yang diperlukan untuk meningkatkan kebugaran. Intensitas aktivitas fisik merupakan ukuran kuantitatif dari aktivitas fisik atau tingkatan seberapa keras seseorang melakukan aktivitas fisik dan dikategorikan menjadi intensitas ringan, sedang, dan berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas aktivitas fisik masyarakat di Desa Tluwah, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati Pra-Lansia Usia 40-55 tahun. Metode dalam penelitian ini adalah metode survei dengan jenis penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah masyarakat desa yang berjenis kelamin perempuan Tluwah yang berusia 40-55 tahun. Responden dipilih dengan teknik sampling menggunakan rumus Slovin dengan margin of error 10% sehingga didapatkan responden dalam penelitian ini sebesar 65 orang.Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan instrumen GPAQ (Global Physical Activity Quesionnaire). Data diolah menggunakan aplikasi SPSS dan pengolahan data dalam penelitian ini akan dideskrispsikan dalam bentuk tabel menggunakan uji Chi- Square. Hasil penelitian menunjukan responden pra lansia berjenis kelamin wanita dengan aktivitas fisik tingkat sedang saja cukup mendominasi dan kombinasi aktivitas fisik tingkat berat dan sedang harus menjadi perhatian khusus karena nilai rata ratanya jauh di atas standar MET aktivitas fisik berat dan sedang yaitu 6362 dari 3000 menit/minggu berdasarkan patokan standar aktivitas fisik berat. Selain itu, persentase responden dengan aktivitas fisik berat dan sedang termasuk banyak yaitu 24,15% dari 65 responden. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar pra lansia melakukan intensitas aktivitas fisik responden dalam kategori sedang saja dan sedikit yang melakukan aktivitas fisik dalam kategori berat.
Kata kunci : Aktivitas fisik, intensitas aktivitas fisik, pra lansiaActivity is an activity carried out by humans. The activity in question is physical activity which is a change in the position of the limbs carried out by skeletal muscles accompanied by a source of energy needed to improve fitness. The intensity of physical activity is a quantitative measure of physical activity or the level of how hard a person does physical activity and is categorized into light, moderate, and heavy intensity. The objectives of this study was to determine the intensity of the physical activity of the community in Tluwah Village, Juwana District, Pati Regency Pre-elderly aged 40-55 years. The method in this research is a survey method with quantitative research type. The population of this research is the village community who are Tluwah women aged 40-55 years. Respondents were selected by sampling technique using the Slovin formula with a margin of error of 10% so that the respondents in this study were 65 people. The level of physical activity was measured using the GPAQ (Global Physical Activity Questionnaire) instrument. The data is processed using the SPSS application and the data processing in this study will be described in tabular form using the Chi- Square test. The results showed that preelderly female respondents with moderate levels of physical activity were quite dominant and the combination of heavy and moderate levels of physical activity should be of particular concern because the average value is far above the MET standard of moderate and heavy physical activity, which is 6362 of 3000 minutes/week. based on the standard standard of strenuous physical activity. In addition, thepercentage of respondents with heavy and moderate physical activity is 24.15% out of 65 respondents. These data indicate that most of the pre- elderly did the intensity of the physical activity of the respondents in the moderate category and a few who did the physical activity in the heavy category
Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Usaha Kosmetik Tanpa Izin Produksi
Kosmetik merupakan sebuah kebutuhan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia belakangan ini. Permasalahan yang sering terjadi banyaknya produk kosmetik yang masih belum memiliki izin dari BPOM, baik izin produksi maupun izin edar. Legal isu dalam penelitian ini adalah dari frasa produksi dalam Undang-Undang Kesehatan pertanggungjawaban hukum Pasal 435 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2023 tentang Kesehatan. Penelitian ini akan mengkaji lebih lanjut tentang Pertanggungjawaban Pidana Terhadap Pelaku Usaha Kosmetik Tanpa Izin Produksi dalam putusan No. 1774/Pid.B/2010/PN Jkt. Ut yang telah berkekuatan hukum tetap. Sehingga untuk menjawab bagaimanakah pertanggungjawaban dari pelaku produksi kosmetik yang belum memiliki izin produksi dari BPOM memerlukan keselarasan dalam penerapan penegakan hukum dari hukum yang sudah ada. Pasal yang ada dalam Undang-Undang kesehatan memiliki makna yang luas sehingga sangat sulit untuk diterapkan, pada faktanya masih ada saja beberapa produk kosmetik yang masih belum memiliki izin produksi dari BPOM