Buletin GAW Barir (E-Journal)
Not a member yet
50 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Metode Fuzzy Logic dalam Memprakirakan Hujan (2025 – 2030) di Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Hasanuddin
Sultan Hasanuddin International Airport is an airport with a unique topography, making the process of rainfall formation at this airport very dynamic. To ensure safe flight operations at Sultan Hasanuddin International Airport, rainfall forecasting is needed using fuzzy logic methods, with input data influencing rainfall formation, such as precipitable water, relative vorticity, and divergence. In this study, the data used for applying fuzzy logic can be divided into three types: training data (for developing the fuzzy logic method), validation data (for validating the fuzzy logic method), and testing data (for testing the fuzzy logic method). Therefore, validating the fuzzy logic method to obtain results and accuracy of rainfall events, as well as testing the fuzzy logic method for rainfall event forecasting, are the goals of this research. The precipitable water, relative vorticity, divergence, and rainfall data in this study are divided into three types: training data (2010 – 2021), validation data (2022 – 2024), and testing data (2025 – 2030). The validation results for 2022 – 2024 were dominated by non – rain events, with 7.051 occurrences, while there were 948 occurrences of rain events. The accuracy of the fuzzy logic validation method was found to be 78.58% during 2022 – 2024, allowing the fuzzy logic method to be applied for forecasting rainfall events in 2025 – 2030, beginning with the creation of input data using the moving linear regression algorithm. The forecasting results for 2025 – 2030 using the fuzzy logic method were dominated by non – rain events, with 15.232 occurrences, while there were 2.296 occurrences of rain events.Bandara Internasional Sultan Hasanuddin merupakan bandara dengan topografi yang unik sehingga proses pembentukan hujan di bandara tersebut sangat dinamis. Sebagai upaya terwujudnya kegiatan penerbangan yang aman di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, diperlukan prakiraan hujan dengan menggunakan metode fuzzy logic yang data inputnya mempengaruhi pembentukan hujan seperti precipitable water, relative vorticity, dan divergence. Dalam penelitian ini data yang digunakan dalam penerapan fuzzy logic dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu data training (untuk membuat metode fuzzy logic), data validasi (untuk memvalidasi metode fuzzy logic), dan data testing (untuk menguji metode fuzzy logic). Oleh karena itu, memvalidasi metode fuzzy logic untuk mendapatkan hasil dan akurasi kejadian hujan serta menguji metode fuzzy logic untuk mendapatkan prakiraan kejadian hujan merupakan tujuan dalam penelitian ini. Data precipitable water, relative vorticity, divergence, dan hujan pada penelitian ini dibagi menjadi 3 jenis yaitu data training (2010 – 2021), data validasi (2022 – 2024), dan data testing (2025 – 2030). Hasil validasi pada tahun 2022 – 2024 didominasi oleh kejadian tidak hujan sebanyak 7.051 kejadian sedangkan untuk kejadian hujan sebanyak 948 kejadian. Akurasi pada validasi metode fuzzy logic didapatkan sebesar 78.58% selama tahun 2022 – 2024, sehingga dengan akurasi tersebut metode fuzzy logic dapat diterapkan untuk memprakirakan kejadian hujan pada tahun 2025 – 2030 yang diawali dengan pembentukan data input dengan menggunakan algoritma moving linear regression. Hasil prakiraan pada tahun 2025 – 2030 dengan menggunakan metode fuzzy logic didominasi oleh kejadian tidak hujan sebanyak 15.232 kejadian sedangkan untuk kejadian hujan sebanyak 2.296 kejadian
Peningkatan Literasi Perubahan Iklim Generasi Muda di Universitas Muhammadiyah Sorong
Climate change has become a crucial issue affecting various aspects of life worldwide. The younger generation plays a vital role as agents of change in mitigating the impacts of climate change by increasing literacy and awareness of this issue. This study aims to examine the improvement of climate change literacy among young people in Muhammadiyah University of Sorong through an intervention in the form of material exposure. The research employs both quantitative and qualitative approaches with a pretest and post-test design, as well as the creation of climate action content. The intervention is conducted by providing material on climate change before the post-test is administered. Data is analyzed using the Normality Test and Hypothesis Test. The Paired Sample T – test is used as the Hypothesis Test to determine the difference in literacy levels before and after the intervention. A significant increase in students' understanding of climate change was observed, rising from 46% to 73%. The results indicate a significant improvement in climate change literacy after the intervention, demonstrating the effectiveness of this method.Perubahan iklim telah menjadi isu krusial yang mempengaruhi berbagai aspek kehidupan di seluruh dunia. Generasi muda memainkan peran penting sebagai agen perubahan untuk memitigasi dampak perubahan iklim melalui peningkatan literasi dan kesadaran akan isu ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan literasi perubahan iklim generasi muda di Universitas Muhammadiyah Sorong melalui pemberian intervensi berupa paparan materi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan desain pre-test dan post-test, serta pembuatan konten aksi iklim. Intervensi dilakukan dengan memberikan materi terkait perubahan iklim sebelum pelaksanaan post – test. Data dianalisis menggunakan Uji Normalitas dan Uji Hipotesis. Paired Sample T – test digunakan sebagai Uji Hipotesis yaitu untuk mengetahui perbedaan tingkat literasi sebelum dan sesudah intervensi. Diperoleh peningkatan signifikan terhadap pemahaman mahasiswa terkait perubahan iklim yaitu dari 46% naik menjadi 73%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan pada literasi perubahan iklim setelah intervensi, yang mengindikasikan efektivitas metode ini
Kalibrasi Estimasi Curah Hujan CHIRPS dengan Data Observasi di Semarang
Precipitation is a crucial component of weather and climate, playing a fundamental role in the Earth's water cycle. However, in situ, rain gauge networks are still limited in their ability to comprehensively monitor precipitation across all regions, including Semarang regency and city. Satellite – based remote sensing and cloud computing technology, such as Google Earth Engine (GEE), offer a solution for generating rainfall estimates with spatial coverage. This study optimizes CHIRPS rainfall estimates through a calibration process using BMKG rain gauge data over the Semarang region for 2021 – 2023. It evaluates the spatial distribution and performance of CHIRPS before and after calibration. Compared to observational data, the original CHIRPS dataset exhibited significant spatial discrepancies, with a daily RMSE of 44 mm/day, a coefficient of determination (RSQ) of 0.02, and a SMAPE of 99%. The collinearity analysis showed that the relationship between CHIRPS and observational data tends to be scattered and less linear on a daily scale, but after calibration, this relationship becomes stronger. Calibration using the Geographical Differential Analysis (GDA) method successfully improved CHIRPS accuracy, as indicated by a reduction in daily RMSE to 25 mm/day, an increase in daily RSQ to 0.62, and a decrease in daily SMAPE to 70%. These improvements were also observed in monthly and annual rainfall estimates. The calibrated CHIRPS data exhibited enhanced spatial distribution and performance, with a 10% reduction in annual RMSE, a 25% increase in annual RSQ, and a 20% decrease in annual SMAPE compared to the original dataset. Furthermore, sensitivity to rainfall intensity improved, particularly for heavy to extreme rainfall events, as evidenced by a 58% reduction in the FAR, a 73% increase in the POD, and a 48% improvement in the CSI.Presipitasi merupakan elemen cuaca dan iklim yang menjadi bagian utama dari siklus air di permukaan bumi. Upaya pengamatan presipitasi menggunakan jaringan penakar hujan in situ belum cukup menjangkau seluruh wilayah, termasuk di Kabupaten dan Kota Semarang. Penginderaan jauh berbasis satelit dan teknologi komputasi awan Google Earth Engine (GEE) dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan estimasi curah hujan dengan cakupan spasial. Penelitian ini mengoptimasi estimasi hujan CHIRPS melalui proses kalibrasi menggunakan data penakar hujan BMKG di wilayah Semarang pada periode 2021 – 2023 dan mengevaluasi sebaran spasial dan performanya sebelum dan setelah kalibrasi. Terhadap data observasi, hasil analisis data original CHIRPS menunjukkan perbedaan sebaran spasial cukup signifikan dengan RMSE harian mencapai 44 mm/hari, RSQ harian 0.02, dan SMAPE harian sebesar 99%. Analisis kolinearitas menunjukkan bahwa hubungan antara CHIRPS dan data observasi cenderung menyebar dan kurang linier pada skala harian, tetapi setelah kalibrasi, hubungan ini menjadi lebih kuat. Kalibrasi dengan metode Geographical Differential Analysis (GDA) berhasil memperbaiki keakuratan CHIRPS yang tercermin dari penurunan RMSE harian menjadi 25 mm/hari, peningkatan RSQ pada skala harian menjadi 0.62, dan pengurangan SMAPE harian menjadi 70%. Peningkatan performa ini juga teramati pada estimasi hujan skala bulanan dan tahunan. Data calibrated CHIRPS menghasilkan sebaran spasial dan performa lebih baik, dengan penurunan RMSE tahunan mencapai 10%, peningkatan RSQ tahunan sebesar 25%, dan SMAPE tahunan sebesar 20% dari data original – nya. Sensitivitas terhadap intensitas hujan juga mengalami peningkatan, dengan perbaikan indikator deteksi khususnya untuk hujan lebat-ekstrem, yaitu penurunan FAR hingga 58%, serta peningkatan POD hingga 73% dan CSI 48%
Analisis Nilai Percepatan Tanah Maksimum dan Klasifikasi Kelas Situs di Kota Serang Provinsi Banten
Serang City exhibits a high level of seismic vulnerability due to its tectonic position near the convergent boundary between the Indo – Australian and Eurasian plates. Additionally, the local geological conditions, which are dominated by alluvial deposits, make seismic waves more susceptible to amplification and resonance, thereby increasing earthquake hazard potential. The objective of this research is to identify site class characteristics and calculate surface PGA values to assess seismic threat levels in the urban area. The data used include ground acceleration values from microzonation maps, local geological information, and regional seismic parameters. The analysis was conducted by classifying site conditions based on the average shear wave velocity to a depth of 30 meters (Vs30), and by estimating surface PGA values using local amplification factors. The results indicate that most areas of Serang City are classified as SE site class (soft soil), followed by SD site class (medium soil), predominantly in the southwestern part of the city. Surface peak ground acceleration values range from 0.84 to 0.91 g, which are considered very high. These findings suggest that all six districts in Serang City–Serang, Cipocok Jaya, Taktakan, Curug, Kasemen, and Walantaka–are at significant seismic risk in the event of an earthquake. Therefore, appropriate risk mitigation strategies are essential, including the reinforcement of spatial planning systems, the design of earthquake – resistant structures, and the development of more detailed seismic microzonation maps.Kota Serang memiliki tingkat kerentanan seismik yang tinggi karena secara tektonik berada dekat dengan zona pertemuan lempeng Indo – Australia dan Eurasia. Selain itu, kondisi geologi yang didominasi oleh endapan aluvial menyebabkan gelombang seismik lebih mudah mengalami amplifikasi dan resonansi, yang berdampak pada peningkatan risiko bahaya gempa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik kelas situs serta menghitung nilai PGA permukaan guna mengevaluasi potensi ancaman seismik di wilayah perkotaan. Data yang digunakan meliputi data percepatan tanah dari peta mikrozonasi, data geologi setempat, serta parameter seismik regional. Metode analisis dilakukan dengan mengklasifikasikan kelas situs berdasarkan nilai kecepatan gelombang geser rata – rata hingga kedalaman 30 meter (Vs30), serta menghitung nilai PGA permukaan melalui pendekatan faktor amplifikasi lokal. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Serang diklasifikasikan ke dalam kelas situs SE (tanah lunak), diikuti oleh kelas situs SD (tanah sedang) yang tersebar terutama di bagian barat daya kota. Nilai percepatan tanah puncak permukaan berada dalam rentang 0.84 hingga 0.91 g, yang tergolong sangat tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa seluruh enam kecamatan di Kota Serang yaitu Serang, Cipocok Jaya, Taktakan, Curug, Kasemen, dan Walantaka memiliki potensi risiko seismik yang signifikan apabila terjadi gempabumi. Oleh karena itu, diperlukan strategi mitigasi risiko yang tepat melalui penguatan sistem tata ruang, desain bangunan tahan gempa, serta pemetaan mikrozonasi yang lebih detail
Analisis Sebaran Data Curah Hujan di Provinsi DKI Jakarta sebagai Proses Quality Control Data Secara Spasial
Rainfall plays an important role in the global water and energy cycle. Accurate rainfall predictions are very important to be used as a warning for hydrometeorological disasters. Therefore, it is necessary to calculate the relationship (correlation) of rainfall between regions to see the extent to which rainfall in one place affects rainfall in another place. It is also necessary to see the difference in rainfall values between these regions to be used as a reference that this difference in value is the minimum acceptable value. The Spatial Quality Control (QC) method is used to see the difference in rainfall values between locations. This method uses the calculation of rainfall data correlation, then an analysis is carried out from the results of the correlation value and associated with the distance between the locations. The results obtained are that the distance considered ideal in the rainfall phenomenon in Jakarta Province is 7.9 km with a correlation value above 0.71, while the average rainfall value that is still considered good is below 10 mm / day.Curah hujan memainkan peran penting dalam siklus air dan energi global. Prediksi curah hujan yang akurat sangat penting untuk dijadikan peringatan bencana hidrometeorologi. Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan hubungan (korelasi) curah hujan antar wilayah untuk melihat sejauh mana curah hujan di satu tempat berpengaruh terhadap curah hujan di tempat lain. Perlu juga melihat selisih nilai curah hujan antar wilayah tersebut untuk dijadikan acuan bahwa perbedaan nilai ini merupakan nilai minimal yang dapat diterima. Metode Quality Control (QC) Secara Spasial dipakai untuk melihat perbedaan nilai curah hujan antar lokasi. Metode ini menggunakan perhitungan korelasi data curah hujan kemudian dilakukan analisis dari hasil nilai korelasi dan dikaitkan dengan jarak antar lokasi tersebut. Hasil yang diperoleh adalah jarak yang dianggap ideal dalam fenomena curah hujan di Provinsi Jakarta adalah 7.9 Km dengan nilai korelasi diatas 0.71, sedangkan nilai Curah Hujan rata-rata yang masih dianggap baik adalah dibawah 10 mm / hari
Analisis Arah dan Kecepatan Angin Permukaan untuk Operasional Penerbangan di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid
Zainuddin Abdul Madjid International Airport (BIZAM), located on Lombok Island, serves both international and domestic flight operations. In aviation, wind effects are categorized as headwind, tailwind, and crosswind. However, tailwind and crosswind with significant speeds are generally considered hazardous to flights. This research aims to analyze surface wind direction and speed patterns at BIZAM to identify potential flight risks associated with tailwind and crosswind phenomena and provide appropriate mitigation recommendations. The study employed windrose diagrams and statistical methods, using 10 years of surface wind direction and speed data (2014–2023) obtained from synoptic observations at the Class II Zainuddin Abdul Madjid Meteorological Station. Findings indicate that wind patterns in the BIZAM area are influenced by monsoon wind movements, with peak wind speeds exceeding ≥21.58 knots. A significant temporal shift in wind dominance was observed: westerly winds (from the west to southwest sector) are now dominant not only from December to February but also extend into March. Conversely, the dominance of winds from the southeast sector begins earlier, in April, and persists until December, reflecting the Australian Monsoon's earlier onset and longer duration than usual. The highest incidence of crosswind events with speeds >13 knots was recorded in December, accounting for 0.15%. Assuming aircraft are landing on Runway 31, pilots are recommended to use this runway in January, February, March, and December, as the percentage of tailwind during these months is lower than the percentage of headwind. Given the potential hazards posed by crosswind and tailwind events, pilots and flight operators are advised to exercise caution when flying during these months.Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) merupakan bandara yang terletak di Pulau Lombok dan melayani operasional penerbangan baik rute internasional maupun domestik. Dalam kegiatan operasional penerbangan, pengaruh angin terbagi dalam tiga kategori, yaitu headwind, tailwind, dan crosswind. Namun, yang umumnya membahayakan bagi penerbangan adalah tailwind dan crosswind yang memiliki kecepatan signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pola arah dan kecepatan angin permukaan di BIZAM guna mengidentifikasi potensi risiko penerbangan terkait fenomena tailwind dan crosswind serta memberikan rekomendasi mitigasi yang tepat. Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk menganalisis arah dan kecepatan angin adalah menggunakan diagram windrose dan metode statistik. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data arah dan kecepatan angin permukaan selama 10 tahun (2014 – 2023) yang diperoleh dari pengamatan sinoptik Stasiun Meteorologi Kelas II Zainuddin Abdul Madjid. Berdasarkan hasil dan pembahasan yang didapatkan, pola angin di wilayah BIZAM dipengaruhi oleh pergerakan angin monsun dengan kecepatan angin tertinggi dapat melampaui ≥21.58 knot. Terdapat pergeseran temporal di mana angin baratan dominan tidak hanya pada Desember hingga Februari, tetapi diperpanjang hingga bulan Maret. Sebaliknya, dominasi angin dari sektor tenggara mulai terbentuk lebih awal, yaitu sejak April, dan bertahan hingga Desember. Jumlah terbanyak kejadian crosswind dengan kecepatan >13 knot terpantau ada dibulan Desember dengan persentase sebesar 0.15%. Sementara itu, dengan asumsi pesawat terbang menuju arah runway 31, maka pada bulan Januari, Februari, Maret, dan Desember, pilot direkomendasikan untuk menggunakan runway 31 karena nilai persentase tailwind pada bulan – bulan tersebut lebih kecil dibandingkan nilai persentase headwind. Peristiwa crosswind dan tailwind berpotensi membahayakan pesawat, sehingga pilot dan operator penerbangan dihimbau untuk mewaspadai penerbangan di bulan – bulan tersebut
Perspektif Masyarakat Sulawesi Tengah terhadap Isu dan Dampak Perubahan Iklim
Limited public understanding and perception of climate change indicate that adaptive capacity at the local level remains constrained. This study aims to examine the perceptions, awareness, and engagement of Central Sulawesi communities regarding climate change. A mixed-mode survey—offline and online—was conducted using a questionnaire with 14 structured items and an open-ended essay prompt for additional suggestions. From the sampled respondents drawn from the entire population of Central Sulawesi, the Margin of Error (MoE) was calculated at 7.92%, with a confidence level of 92.08%. The findings reveal that 96% of participants are aware of climate change, although only a small proportion consider themselves well-informed. Furthermore, 75% regard climate change education as highly important, and 96% identify social media as an effective means for disseminating climate knowledge. Moreover, 43% of respondents believe climate change significantly affects their lives, and 45% express concern about its impacts. A majority support mitigation efforts, endorsing reforestation and educational programs as priority strategies. While public awareness appears relatively high, a gap persists between knowledge and tangible action. These insights highlight community readiness—and existing limitations—for supporting local-level climate change interventions.Rendahnya pemahaman dan persepsi masyarakat terhadap perubahan iklim menunjukkan keterbatasan kapasitas adaptif di tingkat lokal, sehingga kajian ini bertujuan untuk menggali persepsi, kesadaran, dan keterlibatan masyarakat Sulawesi Tengah terhadap isu perubahan iklim. Dalam kajian ini, digunakan metode survei yang dilakukan secara online dengan menyebar kuesioner yang berisi 14 pertanyaan dan satu pesan maupun saran dalam bentuk essay untuk menggali informasi lainnya. Berdasarkan penyebaran kuesioner terhadap jumlah reponden yang disurvei dari total populasi masyarakat Sulawesi Tengah, nilai Margin of Error (MoE) atau deviasi maksimum dari data yang didapatkan sebesar 7.92%, dengan tingkat kepercayaan data yang dihasilkan sebesar 92.08%. Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat terhadap perubahan iklim cukup tinggi, dengan 96% responden mengetahui tentang isu ini, namun hanya sebagian kecil yang mengaku sangat paham. Sebanyak 75% responden menilai edukasi perubahan iklim sangat penting, dan 96% responden mengganggap media sosial sebagai saluran efektif untuk menyebarkan pengetahuan tentang perubahan iklim. Didapatkan juga sebanyak 43% responden yang meyakini bahwa perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap kehidupan mereka, dan 45% merasa khawatir akan dampaknya. Hasil lainnya yang didapatkan menunjukkan bahwa responden mendukung upaya mitigasi perubahan iklim, dengan dilakukannya reboisasi dan edukasi sebagai strategi yang baik yang perlu diutamakan. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat cukup tinggi, namun masih terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan implementasi tindakan nyata. Temuan ini memberikan gambaran penting tentang kesiapan masyarakat dalam mendukung penanganan perubahan iklim di tingkat lokal
Pengaruh ENSO terhadap Curah Hujan di Sulawesi Tengah
The El Nino – Southern Oscillation (ENSO) has an influences rainfall variability in Central Sulawesi. This study aims to analyze the relationship between ENSO, measured using the Oceanic Nino Index (ONI), and rainfall anomalies at four observation locations: Stamet Luwuk, Poso, Toli – Toli, and Palu. Rainfall data were obtained from BMKG meteorological station observations, while ONI data were sourced from the Climate Prediction Center (CPC) for the period 1991–2024. Analysis was conducted using Pearson correlation and the coefficient of determination to assess the relationship between ENSO and rainfall anomalies. The study results indicate that, in general, El Nino tends to cause a decrease in rainfall, whereas La Nina is often associated with increased rainfall. However, the influence of ENSO is not uniform across all regions and largely depends on its intensity. A relatively strong negative correlation was found in Stamet Toli – Toli and Palu, whereas in Luwuk and Poso, other factors such as local atmospheric variability and intraseasonal phenomena played a more dominant role in determining rainfall patterns. Strong and Very Strong El Nino events have a more significant impact on reducing rainfall, while La Nina exhibits a more varied pattern of influence.ENSO (El Nino Southern Oscilation) memiliki pengaruh terhadap variabilitas curah hujan yang ada di Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah. Studi ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ENSO, yang diukur menggunakan Oceanic Nino Index (ONI), dengan anomali curah hujan pada empat lokasi pengamatan Stamet: Luwuk, Poso, Toli – Toli, dan Palu. Data curah hujan diambil dari pengamatan stasiun meteorologi BMKG, sementara data ONI diperoleh dari Climate Prediction Center (CPC) dengan periode 1991 – 2024. Analisis dilakukan dengan metode korelasi pearson dan koefisien determinasi untuk menilai hubungan antara ENSO dengan anomali curah hujan. Secara umum El Nino cenderung menyebabkan penurunan curah hujan, sedangkan La Nina sering cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan. Namun, pengaruh ENSO memiliki perbedaan di masing masing lokasi pengamatan dan sangat dipengaruhi oleh besar intensitas ENSO yang terjadi. Korelasi negatif yang cukup kuat ditemukan di Stamet Toli – Toli dan Stamet Palu, sementara di Stamet Luwuk dan Stamet Poso, faktor lain seperti variabilitas atmosfer lokal dan fenomena intraseasonal lebih berperan dalam menentukan pola curah hujan. Intensitas El Nino Kuat dan Sangat Kuat memiliki dampak yang lebih signifikan terhadap penurunan curah hujan, sedangkan La Nina menunjukkan dampak yang lebih bervariasi pada masing masing intensitasnya
Penggunaan Proyeksi Iklim untuk Optimalisasi Tata Tanam dengan Kc Berbeda (Studi Kasus : Tanaman Jagung di Satu Titik Tertentu di Jawa Timur)
Planting plans in East Java have not yet incorporated climate information. Maize cropping plan is affected by climate change. Many studies related to climate and agriculture still rely on a constant crop coefficient (Kc). This research aims to provide an overview of the use of climate projections in planting plans by employing two different Kc approaches (constant and variative). The 8.5 emission scenarios, subsequently used as inputs in RegCM4 and CSIROMk3.6, used as input of climate change information. Historical interpolated rainfall observation data from 1991 – 2020 (official operational data) is utilized to correct projected rainfall. Projected maximum, average, and minimum temperature data are used to calculate evapotranspiration, which is then refined using in – situ openpan evaporimeter data. Soil water availability is calculated based on parameters outlined in the FAO56 document. Irrigation requirement data is derived from the difference between water availability and the target, determined by the depletion factor using two distinct Kc approaches. The results illustrate how climate projection information, corrected with in-situ data, can be applied to future planning (2021 – 2050 and 2051 – 2080). Consistent with the theory, water availability is expected to decrease, potential harvests to decline, and irrigation needs to rise. This study provides quantitative data that can be further utilized. Future research should consider that employing constant Kc may lead to significant discrepancies in water requirement calculations, contrast with the fact that each plant growth phase has different Kc.Rencana tata tanam di Jawa Timur masih belum memperhatikan informasi iklim. Penanaman jagung dipengaruhi oleh perubahan iklim. Banyak penelitian terkait iklim dan pertanian yang masih menggunakan Koefisien Tanaman (Kc) sama. Penelititan ini bertujuan memberikan gambaran penggunaan proyeksi iklim dalam rencana tata tanam dengan dua pendekatan Kc (sama dan berbeda). Skenario emisi RCP8.5 yang kemudian dijadikan masukan dalam RegCM4 dan CSIROMk3.6 digunakan sebagai informasi perubahan iklim. Data historis curah hujan 1991 – 2020 hasil observasi terinterpolasi (data resmi operasional) digunakan sebagai koreksi curah hujan proyeksi. Data proyeksi suhu maksimum, rata – rata, dan minimum digunakan untuk menghitung evapotranspirasi yang kemudian dikoreksi menggunakan data openpan evaporimeter in-situ. Ketersediaan air tanah dihitung menggunakan parameter – parameter yang disediakan dokumen FAO56. Data kebutuhan irigasi dihasilkan dari selisih ketersediaan air dengan target berdasarkan faktor deplesi dengan dua pendekatan Kc yang berbeda. Hasil mendemonstrasikan bagaimana informasi proyeksi iklim terkoreksi data in-situ dapat digunakan perencanaan terkait masa depan (2021 – 2050 dan 2051 – 2080). Sesuai dengan teori umum, ketersediaan air akan berkurang, potensi panen menurun, dan kebutuhan irigasi meningkat. Penelitian ini dapat menghasilkan data dalam angka yang dapat diaplikasikan secara lebih lanjut. Penelitian sejenis ke depannya perlu memperhatikan bahwa penggunaan Kc sama dapat menghasilkan selisih perhitungan kebutuhan air yang cukup signifikan, padahal kenyataannya, setiap fase tanaman memiliki Kc yang berbeda
Prediksi Hujan Bulanan di Bali Selatan Menggunakan Regresi Berganda Berdasarkan Indikator Suhu dan Kelembaban Udara
Southern Bali, characterized by intensive development and aviation activities, requires accurate rainfall information due to the influence of tropical atmospheric dynamics. This study employs a regression model based on air temperature and humidity using climatological data from 2000–2023 to analyze rainfall patterns. The results show that air temperature has the highest Pearson correlation with rainfall (r = 0.75), followed by air humidity (r = 0.67). However, RMSE evaluation indicates that humidity provides more accurate predictions (183.09 mm) than temperature (190.40 mm). These findings emphasize that correlation does not always reflect prediction quality, as it only represents linear relationships, whereas RMSE directly assesses model accuracy. Physically, humidity plays a direct role in cloud formation and rainfall, while temperature only regulates the atmosphere’s capacity to hold water vapor. Despite limitations during seasonal transition periods and extreme events, this model demonstrates potential to support data-driven rainfall prediction for risk mitigation, aviation meteorological services, and development planning in Southern Bali.Wilayah Bali Selatan dengan aktivitas pembangunan dan penerbangan yang tinggi memerlukan informasi curah hujan yang akurat akibat pengaruh dinamika atmosfer tropis. Penelitian ini menggunakan model regresi berbasis suhu dan kelembaban udara dengan data klimatologis periode 2000–2023 untuk menganalisis curah hujan. Hasil menunjukkan bahwa suhu memiliki korelasi Pearson tertinggi terhadap curah hujan (r = 0.75), diikuti oleh kelembaban udara (r = 0.67). Namun, berdasarkan evaluasi RMSE, kelembaban menghasilkan prediksi yang lebih akurat (183.09 mm) dibandingkan suhu (190.40 mm). Temuan ini menegaskan bahwa korelasi tidak selalu mencerminkan kualitas prediksi, karena hanya menggambarkan hubungan linier, sementara RMSE menilai keakurasian model secara langsung. Secara fisis, kelembaban berperan langsung dalam pembentukan awan dan hujan, sedangkan suhu hanya mengatur kapasitas udara dalam menahan uap air. Meskipun memiliki keterbatasan pada periode transisi musim dan kejadian ekstrem, model ini berpotensi mendukung prediksi curah hujan berbasis data untuk mitigasi risiko, layanan meteorologi penerbangan, dan perencanaan pembangunan di Bali Selatan