Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
    1395 research outputs found

    Fistula Arteriovenosa untuk Hemodialisis pada Penderita Gagal Ginjal Kronik

    Get PDF
    Jumlah penderita penyakit gagal ginjal kronik (PGK) di Indonesia tampak semakin meningkat. Angka pertumbuhannya diperkirakan sekitar 20% setiap tahunnya. Kondisi  ini menjadi masalah  karena biaya pengobatannya besar sekali. Penyakit gagal ginjal kronik adalah  kerusakan  atau  gangguan  fungsi  dan struktur  ginjal  selama  tiga  bulan  atau  lebih  dengan  atau  tanpa penurunan  laju  filtrasi  glomerulus (LFG) disertai  manifestasi  kelainan patologi  ginjal  atau  kerusakan  ginjal  meliputi  komposisi  darah  atau urin  dan  kelainan  pada  uji pencitraan ginjal. Penyakit gagal ginjal kronik  terjadi  bila ginjal mengalami penurunan fungsi LFG di bawah 60 ml/menit/1.73m² dengan  atau  tanpa  kerusakan  ginjal. Intervensi berupa terapi pengganti ginjal dilakukan pada saat keadaan LFG mencapai <15 ml/menit/1.73 m2. Beberapa faktor risiko yang menjadi penyebab PGK telah diketahui seperti usia, gagal jantung, sirosis hepatis, glomerulonefritis kronik, diabetes mellitus (DM), sistemik lupus erimatosus (SLE), polikistik, pielonefritis, nefrolitiasis, nefrosklerosis, dan obstruksi traktus urinarius. Terbatasnya jumlah donor ginjal untuk transplantasi dan tingginya komplikasi yang mungkin terjadi akibat peritoneal dialisis membuat hemodialisis (HD) cenderung menjadi pilihan yang utama apabila fungsi ginjal penderita sudah sangat menurun. Prinsip dasar HD adalah mengalirkan darah dari tubuh ke ginjal buatan untuk dilakukan penyaringan darah melalui suatu membran semi-permiabel agar terjadi proses difusi dan ultrafiltrasi darah di dalamnya. Darah yang sudah disaring kemudian dikembalikan ke dalam tubuh. Hemodialisis rutin dalam jangka panjang memerlukan pemasangan akses vaskular permanen. Fistula arteriovenosa (FAV) masih dianggap sebagai akses vaskular terbaik untuk HD, terutama karena angka patensinya yang tinggi, lebih rendah insidensi infeksi dan komplikasinya dibandingkan dengan kateter vena sentral atau graft arteriovenosa. Kelebihan dan kekurangan FAV telah dibahas dalam berbagai penelitian. Angka patensinya tampak sangat bervariasi antar peneliti.Kata kunci: gagal ginjal kronik, hemodialisis, fistula arteriovenosa, patens

    Mekanisme Resistensi Acinetobacter baumannii terhadap Antibiotik Golongan Karbapenem

    Get PDF
    Acinetobacter baumannii (A. baumanii) merupakan salah satu spesies Acinetobacter tersering diisolasi dari manusia, dan lebih sering dijumpai pada infeksi nosokomial dibandingkan dengan infeksi di komunitas. Eksistensi bakteri ini di lingkungan terkait dengan keragaman reservoir, kemampuan memperoleh gen pembawa sifat resisten antimikroba, dan sifat resisten terhadap pengeringan. Infeksi disebabkan strain A. baumannii yang resisten terhadap banyak antibiotik tidak mudah dikendalikan dan menjadi permasalahan di berbagai negara. Karbapenem merupakan antibiotik utama yang dipakai untuk mengobati pasien infeksi oleh Acinetobacter sehingga menyebabkan peningkatan resistensi bakteri ini terhadap karbapenem. Mekanisme kerja karbapenem yaitu dengan menghambat polimerisasi dan perlekatan peptidoglikan pada dinding sel. Kurangnya penetrasi obat (mutasi porin dan efflux pumps) dan atau carbapenem-hydrolyzing beta-lactamase enzymes seperti OXA carbapenamases dan metalo-beta-laktamase (MBL) memperantarai terjadinya resistensi karbapenem. Kata Kunci: karbapenem, resistensi antibiotik, Acinetobacter baumanni

    PROFIL PENDERITA HIV AIDS DI RSUD KOJA

    Get PDF
    Human Immunodeficiency Virus (HIV) menurunkan kualitas hidup penderitasesuai dengan perkembangan penyakit dan munculnya manifestasi klinisAcquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).Perlu diketahui profil penderita untuk menyediakan pengangan yang sesuai.Penelitiandeskriptif potong lintang inidilakukan di ruangan rawat inap Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Koja pada periode 26 Juni 2017 sampai dengan 9 Agustus 2017. Populasi sampel adalah semua pasien HIV/AIDS di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Koja Jakarta. Dari 19 orang pasien dengan HIV/AIDS yang dirawat, didapatkan prevalensi penderita laki-laki sebanyak 57,9% dan perempuan sebanyak 42,1%. Prevalensi pada kelompok usia 20-29 tahun sebesar 10,5%, kelompok usia 30-39 tahun 57,9%, kelompok usia 40-49 tahun 26,3% dan kelompok usia 50-59 tahun 5,3%. Status gizi pada penderita HIV/AIDS didapatkan berat badan kurang 73,7%, berat badan normal 21,1%, dan berisiko obesitas 5,2%. Ditemukan 68,4% menderita kelainan pada mulut dan 36,8% menderita kelainan pada kulit.. Prevalensi faktor risiko pada pasien yang diteliti sebagai berikut: pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) suntik sebanyak 36,8%, pasangan seks multipel 26,3%, risiko penularan heteroseksual 21,1% dan faktor risiko yang tidak diketahui sebanyak 21,1%.Simpulan:profil pasien HIV/ AIDS di RSUD Koja paling banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki dan dalam rentang usia 30-39 tahun. Manifestasi klinis yang paling sering ditemukan pada pasien tersebut merupakan kelaninan mulut yang ditandai dengan kandidosis oral. Faktor risiko yang paling banyak ditemui pada subjek adalah penggunaan NAPZAsuntik.Human Immunodeficiency Virus (HIV) menurunkan kualitas hidup penderitasesuai dengan perkembangan penyakit dan munculnya manifestasi klinisAcquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).Perlu diketahui profil penderita untuk menyediakan pengangan yang sesuai.Penelitiandeskriptif potong lintang inidilakukan di ruangan rawat inap Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Koja pada periode 26 Juni 2017 sampai dengan 9 Agustus 2017. Populasi sampel adalah semua pasien HIV/AIDS di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Koja Jakarta. Dari 19 orang pasien dengan HIV/AIDS yang dirawat, didapatkan prevalensi penderita laki-laki sebanyak 57,9% dan perempuan sebanyak 42,1%. Prevalensi pada kelompok usia 20-29 tahun sebesar 10,5%, kelompok usia 30-39 tahun 57,9%, kelompok usia 40-49 tahun 26,3% dan kelompok usia 50-59 tahun 5,3%. Status gizi pada penderita HIV/AIDS didapatkan berat badan kurang 73,7%, berat badan normal 21,1%, dan berisiko obesitas 5,2%. Ditemukan 68,4% menderita kelainan pada mulut dan 36,8% menderita kelainan pada kulit.. Prevalensi faktor risiko pada pasien yang diteliti sebagai berikut: pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA) suntik sebanyak 36,8%, pasangan seks multipel 26,3%, risiko penularan heteroseksual 21,1% dan faktor risiko yang tidak diketahui sebanyak 21,1%.Simpulan:profil pasien HIV/ AIDS di RSUD Koja paling banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki dan dalam rentang usia 30-39 tahun. Manifestasi klinis yang paling sering ditemukan pada pasien tersebut merupakan kelaninan mulut yang ditandai dengan kandidosis oral. Faktor risiko yang paling banyak ditemui pada subjek adalah penggunaan NAPZA suntik

    PENGARUH KARAKTERISTIK ORGAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERHADAP PRAKTIK MANAJEMEN LABA

    Get PDF
    Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan menguji pengaruh dari karakteristik organ tata kelola perusahaan yang independen (mencakup: gender, keahlian akuntansi atau keuangan, dan tingkat pendidikan dari komisaris perusahaan yang independen, direktur perusahaan yang independen, maupun komite audit) terhadap praktik manajemen laba perusahaan. Penelitian ini menggunakan observasi sebanyak 325 firm-year yang merupakan perusahaan publik sektor manufaktur yang terdaftar di bursa efek Indonesia. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini, antara lain: (i) Perusahaan dengan jajaran direktur independen lebih banyak didominasi oleh pria memiliki praktik manajemen laba yang ternyata lebih rendah dibandingkan pada perusahaan dengan jajaran direktur independen yang lebih banyak didominasi oleh wanita; (ii) Keahlian di bidang akuntansi atau kehalian di bidang keuangan yang dimiliki oleh organ tata kelola perusahaan tidak berpengaruh terhadap praktik manajemen laba perusahaan; dan (iii) tingkat pendidikan yang dimiliki oleh organ tata kelola perusahaan tidak berpengaruh terhadap praktik manajemen laba perusahaan. Kata kunci: manajemen laba, tata kelola perusahaan, gender, keahlian akuntansi atau keuangan, tingkat pendidika

    The Influence of Brand Equity Towards Purchase Decision (Case Study of Korean Cosmetics Innisfree in Jabodetabek)

    Get PDF
    The purpose of this study is to identify the influence of brand equity (brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyalty) towards consumer purchase decision using quantitative research. This quantitative research will evaluate the influence of brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyalty towards purchase decision of Korean cosmetics Innisfree in Jabodetabek, Indonesia. This research using t-test for testing partial level of 0.05, f-test for testing simultaneous influence to dependent variable, and coefficient of correlation (R) and determination (R2). This research is conducted in Jabodetabek, Indonesia using non-probability sampling which is convenience sampling and using 220 respondents as the sample. The result indicates that brand association, perceived quality, and brand loyalty have significant influence towards purchase decision while brand awareness have no significant influence towards purchase decision. Perceived quality become the strong influence variable towards purchase decision in this research. This research also indicates that brand awareness, brand association, perceived quality, and brand loyalty have simultaneous significant influence towards purchase decision with .730 of the adjusted R2.Keywords: Brand Equity, Brand Awareness, Brand Association, Perceived Quality, Brand Loyalty, Purchase Decision

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Hipertensi dalam Kehamilan di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk Agustus 2016

    Get PDF
    Millenium Development Goals, WHO (World Health Organization) melaporkan pada tahun 2015 terdapat 830 kematian ibu setiap harinya dikarenakan komplikasi kehamilan dan proses melahirkan. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, kematian terbesar pada ibu masih disebabkan oleh perdarahan lalu diikuti oleh hipertensi pada kehamilan (hipertensi gestasional) dengan angka pada tahun 2013 sebesar 27,1%. Penelitian ini menggunakan desain studi analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 di Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk. Subjek penelitian sebanyak 102 ibu dengan teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling.Variabel tergantung berupa kejadian hipertensi pada kehamilan dan variabel bebas meliputi usia, gravida, dan riwayat hipertensi. Analisis yang digunakan adalah Chi Square dan Uji Fisher dengan taraf signifikansi 0.05%, dengan tingkat kepercayaan 95% menggunakan program SPSS v16. Uji statistik menunjukkan ada hubungan bermakna antara kejadian hipertensi dalam kehamilan dengan usia (p=0.016), jumlah kehamilan (p=0.003), dan riwayat hipertensi (p=0.002).Kata kunci: hipertensi gestasional, gravida, riwayat hipertensi, usia ib

    Perbedaan Jumlah Telur Cacing Usus pada Selada (Lactuta sativa) yang Segar dan yang Disimpan selama Satu Minggu di Lemari Es

    No full text
    Selada (Lactuta sativa) merupakan sayuran yang sering dikonsumsi secara mentah. Kebiasaan masyarakat gemar menyimpan bahan mentah di dalam lemari es karena tidak mau berulang kali ke pasar. Suhu bisa memengaruhi cepat atau lambatnya telur cacing menetas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi telur cacing usus pada selada dan melihat apakah ada perbedaan bermakna jumlah telur yang ditemukan pada selada segar dan selada yang disimpan selama satu minggu di dalam lemari es. Penelitian bersifat observasional dan kemudian dianalisis secara statistik. Diambil sebanyak 44 sampel selada dari penjual yang berbeda dari pasar tradisional di Tanjung Duren dan kawasan sekitarnya. Parameter yang diperiksa pada penelitian ini adalah telur cacing usus yang dapat dilihat pada pemeriksaan mikroskopik serta membandingkan hasil pemeriksaan antara selada segar dan selada yang disimpan selama satu minggu. Dari 44 bagian sampel selada segar yang diperiksa didapatkan telur cacing pada 24 sampel (55%) dan pada 44 bagian sampel selada yang disimpan satu minggu didapatkan telur cacing pada 20 sampel (45%). Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara telur cacing usus yang didapatkan pada selada segar dan selada yang disimpan satu minggu di dalam lemari es. Kata kunci: selada, telur cacing usus, pemeriksaan mikroskopik, Lactuca sativ

    Pemeriksaan Molekular Treponema pallidum

    Get PDF
    Treponema pallidum adalah bakteri penyebab sifilis. Sifilis ditemukan pada abad ke XV di dataran Eropa, menyebar ke seluruh dunia dan menjadi isu global sampai saat ini. Sifilis dikenal dengan sebutan raja singa merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual yang penularannya tidak hanya melalui hubungan seksual. Infeksi lokal yang disebabkan oleh masuknya Treponema pallidum akan berkembang cepat menjadi sistemik dan bahkan dapat mengancam nyawa. Treponema pallidum tidak dapat dikultur secara in vitro. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis mengandalkan uji serologi. Saat ini, pemeriksaan standar untuk sifilis menggunakan mikroskop lapangan gelap sulit dilakukan. Pemeriksaan baru untuk mendeteksi Treponema pallidum menggunakan uji molekuler sudah mulai dikembangkan sejak abad XX. Penulisan ini mengambil ulasan dari beberapa jurnal penelitian yang menggunakan PCR sebagai alat diagnostik Treponema pallidum untuk membandingkan metode-metode pemeriksaan molekuler PCR Treponema pallidum. Spesifisitas PCR Treponema pallidum mencapai 100%. Sensitivisitas PCR bervariasi untuk setiap gen target dan jenis spesimen yang digunakan. Metode multiplex PCR banyak digunakan karena dapat mendeteksi Treponema pallidum dan patogen lain secara bersamaan. Pemeriksaan molekuler PCR Treponema pallidum masih perlu dikembangkan lebih lanjut di Indonesia. Kata kunci : Treponema pallidum, sifilis, uji serologi, mikroskop, pemeriksaan molekula

    PENGARUH LAMA PENYIMPANAN TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN BERBAGAI MACAM JUS BUAH DENGAN METODE DPPH

    No full text
    Radikal bebas adalah suatu senyawa oksigen yang bersifat tidak stabil karena memliki elektron bebas yang tidak berpasangan, sehingga jumlah elektronnya ganjil. Karena sifatnya yang tidak stabil maka radikal bebas selalu berusaha mencari pasangan elektron baru dengan cara mengambil elektron molekul lain yang berdekatan. Radikal bebas yang terlalu banyak dapat menyebabkan stress oksidatif sel. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat atau mencegah kerusakan akibat oksidasi dari senyawa radikal bebas. Tubuh dapat menciptakan antioksidan alami seperti enzim gluthatione, catalase dan superoxydedismutase. Namun karena pembentukan antioksidan alami tidak sebanding maka dibutuhkan asupan antioksidan yang lebih banyak lagi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh lama penyimpanan terhadap aktivitas antioksidan dalam 4 macam jus buah. Pada penelitian kali ini 4 macam buah yang digunakan yaitu ; buah stroberi, jeruk, pisang dan alpukat. Radikal bebas yang biasa digunakan pada sampel pada penelitian antioksidan adalah 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Metode DPPH sering digunakan karena sederhana , cepat dan mudah untuk skrining aktivitas penangkap senyawa radikal bebas. Parameter untuk menginterpretasikan hasil pengujian DPPH adalah IC50 (inhibition concentration). Hasil penelitian menunjukkan IC50 buah stroberi sebesar 31.45 ppm, IC50 buah jeruk sebesar 58.01 ppm, IC50 buah alpukat sebesar 78.83 ppm dan IC50 buah pisang sebesar 92.99 ppm. Penelitian ini menggunakan analisis statistik  One Way Anova dan mendapatkan hasil p= 0.992, dikarenakan p  > 0.05 maka hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama penyimpanan terhadap nilai IC50 dari hari ke 1 sampai ke 4. Dapat disimpulkan bahwa lama waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara bermakna terhadap nilai IC50 setiap buah.  Radikal bebas adalah suatu senyawa oksigen yang bersifat tidak stabil karena memliki elektron bebas yang tidak berpasangan, sehingga jumlah elektronnya ganjil. Karena sifatnya yang tidak stabil maka radikal bebas selalu berusaha mencari pasangan elektron baru dengan cara mengambil elektron molekul lain yang berdekatan. Radikal bebas yang terlalu banyak dapat menyebabkan stress oksidatif sel. Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat atau mencegah kerusakan akibat oksidasi dari senyawa radikal bebas. Tubuh dapat menciptakan antioksidan alami seperti enzim gluthatione, catalase dan superoxydedismutase. Namun karena pembentukan antioksidan alami tidak sebanding maka dibutuhkan asupan antioksidan yang lebih banyak lagi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh lama penyimpanan terhadap aktivitas antioksidan dalam 4 macam jus buah. Pada penelitian kali ini 4 macam buah yang digunakan yaitu ; buah stroberi, jeruk, pisang dan alpukat. Radikal bebas yang biasa digunakan pada sampel pada penelitian antioksidan adalah 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Metode DPPH sering digunakan karena sederhana , cepat dan mudah untuk skrining aktivitas penangkap senyawa radikal bebas. Parameter untuk menginterpretasikan hasil pengujian DPPH adalah IC50 (inhibition concentration). Hasil penelitian menunjukkan IC50 buah stroberi sebesar 31.45 ppm, IC50 buah jeruk sebesar 58.01 ppm, IC50 buah alpukat sebesar 78.83 ppm dan IC50 buah pisang sebesar 92.99 ppm. Penelitian ini menggunakan analisis statistik  One Way Anova dan mendapatkan hasil p= 0.992, dikarenakan p  > 0.05 maka hasil ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna antara lama penyimpanan terhadap nilai IC50 dari hari ke 1 sampai ke 4. Dapat disimpulkan bahwa lama waktu penyimpanan tidak berpengaruh secara bermakna terhadap nilai IC50 setiap buah

    Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Diversifikasi Portofolio Pada Investor Ritel

    Get PDF
    This study examined the effect of Financial Literacy and the Retail Investor Portfolio. Data obtained directly by distributing questionnaires to 190 respondents to the independent investor. The research design used in this study is hypothesis testing. The analytical method used in this research is multiple regression. The results of this study were (1) Age does not affect the Portfolio diversification. (2) Gender positive effect on portfolio diversification. (3) Income does not affect the Diversified Portfolio (4) Financial Literacy does not affect the Portfolio diversification. (6) does not affect the size of the Portfolio Diversification Portfolio (6) Familiarity negative effect on portfolio diversification. (7) Availability positive effect on Diversified Portfolio (8) Too Believe positive effect on portfolio diversification. So with that can be input and learning to the Indonesia Stock Exchange to provide assistance and services to companies that want to do the listing on the Indonesia Stock Exchange. Keywords: portfolio diversification, demographic factors, availability, familiarity, financial literacy, overconfidence, portfolio siz

    1,003

    full texts

    1,395

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇