Jurnal Universitas Kristen Krida Wacana
Not a member yet
1395 research outputs found
Sort by
Pemeriksaan Ultrasonografi dan CT-Scan untuk Diagnosis Apendisitis Akut pada Anak
Apendisitis akut merupakan suatu keadaan tersering yang memerlukan tindakan bedah pada anak. Ketepatan untuk menentukan diagnosis dan intervensi bedah berhubungan erat dengan luaran akhir. Diagnosis apendisitis akut dengan keluhan yang tidak spesifik sering membingungkan. Pendekatan diagnosis seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium rutin tidak selalu akurat. Pemeriksaan diagnostik pencitraan seperti ultrasonografi (USG) dan computed tomography scan (CT-scan) sering digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis. Tujuan pemeriksaan pencitraan untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan diagnosis apendisitis akut serta menentukan apendisitis tanpa atau dengan komplikasi. Keterlambatan menentukan diagnosis berhubungan erat dengan meningkatnya angka kesakitan, angka kematian, dan biaya perawatan. Komplikasi dapat berupa perforasi, abses abdominal, atau kematian. Perforasi umumnya terjadi pada usia anak dan remaja dengan angka kejadian berkisar 17-40%. Secara umum angka kematian akibat apendisitis kurang dari 1% dan meningkat 5-15% pada anak dan remaja. Pemeriksaan USG memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sama baiknya dengan pemeriksaan CT-scan.Apendisitis akut merupakan suatu keadaan tersering yang memerlukan tindakan bedah pada anak. Ketepatan untuk menentukan diagnosis dan intervensi bedah berhubungan erat dengan luaran akhir. Diagnosis apendisitis akut dengan keluhan yang tidak spesifik sering membingungkan. Pendekatan diagnosis seperti anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium rutin tidak selalu akurat. Pemeriksaan diagnostik pencitraan seperti ultrasonografi (USG) dan computed tomography scan (CT-scan) sering digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis. Tujuan pemeriksaan pencitraan untuk mengkonfirmasi atau menyingkirkan diagnosis apendisitis akut serta menentukan apendisitis tanpa atau dengan komplikasi. Keterlambatan menentukan diagnosis berhubungan erat dengan meningkatnya angka kesakitan, angka kematian, dan biaya perawatan. Komplikasi dapat berupa perforasi, abses abdominal, atau kematian. Perforasi umumnya terjadi pada usia anak dan remaja dengan angka kejadian berkisar 17-40%. Secara umum angka kematian akibat apendisitis kurang dari 1% dan meningkat 5-15% pada anak dan remaja. Pemeriksaan USG memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang sama baiknya dengan pemeriksaan CT-scan
Hubungan Nyeri Punggung Bawah dengan Faktor yang mempengaruhi pada PT X Divisi Sorting and Production
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu aspek kesehatan yang sering terjadi pada para pekerja. Meskipun sudah menggunakan oleh mesin dan teknologi yang canggih, namun masih ada beberapa pekerja bagian sorting dan production yang melakukan manual handling, yang memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya nyeri punggung bawah. Jika keadaan ini tidak dideteksi dan ditangani secara dini, ada berbagai dampak negatif yang akan timbul. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prevalensi nyeri punggung bawah dan faktor risiko yang mempengaruhi pada pekerja di divisi penyortiran dan produksi. Disain penelitian ini adalah cross-sectional yang bersifat deskriptif analitik, berlokasi di PT X dengan besar sampel sebanyak 60 orang (total sampling). Data yang dikumpulkan berasal dari kuesioner Rolland-Morris, pemeriksaan lasegue, observasi lapangan, dan wawancara. Pada penelitian ini digunakan uji statistik univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan prevalensi nyeri punggung bawah pada pekerja divisi sorting and production adalah 33,3%. Hasil uji statistika menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara lamanya duduk, beban berat angkat, umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, mengomsumsi kafein, dan kebiasaan senam dengan nyeri punggung bawah pada pekerja di PT X divisi sorting and production (p>0,05). Hasil yang didapat mengindikasikan perlunya dilakukan pengamatan terhadap penyakit penyerta pada pekerja dan lingkungan tempat bekerja.Nyeri punggung bawah merupakan salah satu aspek kesehatan yang sering terjadi pada para pekerja. Meskipun sudah difasilitasi oleh mesin dan teknologi yang canggih, namun masih ada beberapa pekerja bagian sorting dan production yang melakukan manual handling, dimana pekerjaan ini menuntut kemampuan fisik dan memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya nyeri punggung bawah. Jika keadaan ini tidak dideteksi dan ditangani secara dini, ada berbagai dampak negatif yang akan timbul. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prevalensi nyeri punggung bawah dan faktor risiko yang mempengaruhi pada pekerja di divisi penyortiran dan produksi. Disain penelitian ini adalah cross-sectional yang bersifat deskriptif analitik, berlokasi di PT Arwana Nuansa Keramik, Cikande, dengan besar sampel sebanyak 60 orang (total sampling). Data yang dikumpulkan berasal dari kuesioner Rolland-Morris, pemeriksaan lasegue, observasi lapangan, dan wawancara. Pada penelitian ini digunakan uji statistik univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan prevalensi nyeri punggung bawah pada pekerja divisi sorting and production adalah 33.3% pada seminggu terakhir dan 35.0% pada setahun terakhir. Hasil uji statistika menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara lamanya duduk, beban berat angkat, umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok, mengomsumsi kafein, dan kebiasaan senam dengan nyeri punggung bawah pada pekerja di PT Arwana Nuansa Keramik divisi sorting and production (p>0.05)
Description The Nerve Conduction Velocity Of Tibial Nerve To The Use Of High Heels On Students 2017 Faculty Of Medicine UKRIDA
Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa pemakaian sepatu hak tinggi minimal 5 cm selama lebih atau sama dengan 1 tahun dengan durasi minimal 6 jam menyebabkan keluhan nyeri ringan hingga berat. Secara umum otot-otot tungkai bawah dipersarafi terutama oleh nervus tibialis. Salah satu pemeriksaan neurofisiologis untuk menilai aktivitas sistem saraf perifer berupa pemeriksaan nilai Kecepatan Hantaran Saraf (KHS) dengan menggunakan alat berupa Elektroneuromiografi (ENMG). Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi hasil nilai KHS, yaitu faktor fisiologis berupa usia, indeks massa tubuh, tinggi badan, berat badan, dan jenis kelamin. Faktor kedua yaitu non-fisiologis berupa diameter serabut saraf, derajat mielinisasi dan jarak stimulasi. Desain penelitian ini adalah cross-sectional, dengan analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif, dan metode statistik menggunakan persentase dan rerata. Responden adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida sebanyak 42 orang. Hasil rerata nilai kecepatan hantaran saraf motorik tibialis berdasarkan ukuran tinggi hak 1-4 cm sebesar 56,43 m/s, 5-7 cm sebesar 52,77 m/s dan >7 cm sebesar 69,39 m/s. Hasil berdasarkan durasi penggunaan sepatu hak tinggi <1 tahun sebesar 54,96 m/s, 2-3 tahun 57,41 m/s dan >3 tahun sebesar 56,09 m/s, hasil ini menunjukkan bahwa berdasarkan ukuran tinggi hak maupun durasi penggunaan sepatu terhadap rerata nilai kecepatan hantaran saraf motorik tibialis tidak ditemukan hasil yang terlalu berbeda pada penelitian ini.High heels are used by women from teenagers to adults to increase the attractiveness of men to their users. Based on the size of the heel height and the duration of the use of high heels can cause musculoskeletal complaints and changes in the shape of the feet. In general, the muscles of the lower leg are innervated mainly by the tibial nerve. One of the neurophysiological examinations to assess the activity of the peripheral nervous system is to examine the value of Nerve Conduction Velocity (KHS) using a tool in the form of Electroneuromyography (ENMG). There are two main factors that affect the results of the KHS value, namely physiological factors such as age, body mass index, height, weight, and gender. The second factor is non-physiological in the form of nerve fiber diameter, degree of myelination and stimulation distance. Throughout the search, no research has been found that discusses the effect of using high heels based on the size of the heel height and duration of use on the quality of the tibial nerve. The research methodology used in this study is a descriptive study with approach cross-sectional. The results of the average value of the conduction velocity of the tibial motor nerve based on the size of the heel height 1-4 cm is 56,43 m/s, 5-7 cm is 52,77 m/s and >7 cm is 69,39 m/s. The results based on the duration of using high heels <1 year were 54,96 m/d, 2-3 years were 57,41 m/d and >3 years were 56,09 m/d. It can be seen clearly that based on the size of the heel height and the duration of the use of shoes on the average value of the speed of tibial motor nerve conduction, there was no significant difference in this study
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Student Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan Nilai Akademik Matematika Kelas 7A SMP Kristen Immanuel II Kubu Raya
Abstract — The objective of this research is to increase mathematics academic scores by using Student Teams Achievement Division (STAD). The research design used in this study was action research. The subject of the study was the students of class 7A of SMP Kristen Immanuel II Kubu Raya as many as 42 students. The researcher conducted two cycles of action in which the frst cycle consisted of nine meetings and the second cycle consisted of 16 meetings. The tools for collecting the data were observation, exercises, interview, quiz, test, feld notes and documentation. Stages were used in the form of classroom presentations, group work, test, score improvement of individual and group awards. The researcher found that during the action research, the students have shown their improvement. Compared to the frst pre-test, the students’ mean score increased as many as 6,68% at the end of the frst cycle and as many as 11,86% at the end of the second cycle. While compared to the frst cycle, it increased 4,76%. Compared to the preliminary data the percentage of the number of students who passed the minimum passing grade was also increased as many as 5,55% on the frst cycle and as many as 13,81% on the second cycle. While compared to the frst cycle, it increased 7,82%. From the students questionnaire and interview, the researcher found that during the action, the students have shown that they became more joyful in learning Math with STAD as the percentage of positive responses was 68% from the questionnaire and 87% from the interview.
Keywords — math, student teams achievement division,students achievemen
Pengaruh Kepuasan Kerja Dan Beban Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. Airmas Perkasa
Abstract — This study aims to determine: (1) The effect of job satisfaction on the performance of employees of PT. Airmas Perkasa (2) Effect of workload on the performance of employees of PT. Airmas Perkasa. Analysis of data using IBM SPSS Statistics 24. The research method used in this study is a quantitative research method, with a probability sampling technique of 102 samples. Meanwhile, the analytical method used is multiple linear regression method. The results of t-test calculations show that: (1) Job satisfaction variables have a positive and signifcant effect on employee performance, because the value of t count (5.470) <t table (1.9840) and a signifcant value of 0.000 <0.05. (2) Workload variables have a negative and signifcant effect on employee performance, because the value of t count (2,913) <t table (1.9840) and signifcant value 0.004 <0.05 based on the results of calculations that have been described, it can be concluded that the variable job satisfaction has a positive effect and signifcant to the performance of employees of PT. Airmas Perkasa and workload variables have a negative and signifcant effect on the performance of employees of PT. Airmas Perkasa.
Keywords—Research, Job Satisfaction, Workload, Employe
Obesitas Sebagai Faktor Prognosis Buruk pada Anak dengan Leukemia Limfoblastik Akut
Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk memberikan paparan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hasil akhir leukemia limfoblastik akut (LLA) pada anak. LLA merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada anak dan merupakan penyebab kematian akibat kanker terbanyak pada usia di bawah 20 tahun. Salah satu masalah kronis yang perlu diperhatikan secara serius terutama dalam kasus LLA adalah obesitas. Beberapa mekanisme dianggap berperan dalam kaitan antara LLA dengan obesitas. Salah satunya adalah meningkatnya hormon endogen (hormon seks steroid, insulin dan insulin growth factor-1) akibat akumulasi lemak tubuh yang berperan penting dalam mengontrol pertumbuhan, diferensiasi, dan metabolisme sel. Inflamasi kronik juga berperan dalam timbulnya sel kanker. Sel adiposit merupakan sumber poten untuk timbulnya sitokin inflamasi. Prognosis buruk pada pasien anak dengan obesitas berkaitan dengan beberapa faktor seperti dosis terapi yang tidak adekuat, usia dibawah 1 tahun atau di atas 10 tahun pada saat diagnosis, dan hitung leukosit di atas 50.000/mm3.Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk memberikan paparan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hasil akhir leukemia limfoblastik akut (LLA) pada anak. LLA merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada anak dan merupakan penyebab kematian akibat kanker terbanyak pada usia di bawah 20 tahun. Salah satu masalah kronis yang perlu diperhatikan secara serius terutama dalam kasus LLA adalah obesitas. Beberapa mekanisme dianggap berperan dalam kaitan antara LLA dengan obesitas. Salah satunya adalah meningkatnya hormon endogen (hormon seks steroid, insulin dan insulin growth factor-1) akibat akumulasi lemak tubuh yang berperan penting dalam mengontrol pertumbuhan, diferensiasi, dan metabolisme sel. Inflamasi kronik juga berperan dalam timbulnya sel kanker. Sel adiposit merupakan sumber poten untuk timbulnya sitokin inflamasi. Prognosis buruk pada pasien anak dengan obesitas berkaitan dengan beberapa faktor seperti dosis terapi yang tidak adekuat, usia dibawah 1 tahun atau di atas 10 tahun pada saat diagnosis, dan hitung leukosit di atas 50.000/mm3
Gambaran Tingkat Pengetahuan Siswi Kelas 2 SMAN 23 Jakarta tentang Personal Hygiene saat Menstruasi sebelum dan sesudah Penyuluhan
Kebersihan organ reproduksi pada remaja sangatlah penting untuk diketahui sejak dini. Kebersihan organ reproduksi dapat disosialisasikan untuk menghindari penyakit-penyakit infeksi yang dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan kebersihan organ reproduksi. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kebersihan organ reproduksi adalah dengan penyuluhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pada remaja SMA kelas 2 tentang personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah penyuluhan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pre-experimental, dengan one group pre test and post test design. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling yaitu purposive sampling. Sebanyak 90 siswi kelas 2 SMAN 23 Jakarta, berpartisipasi dalam studi ini yang ditetapkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan, (p < 0.05) untuk semua variabel yang diteliti, yaitu tentang pengertian menstruasi, perubahan hormonal saat menstruasi dan personal hygiene saat mentruasi. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh peningkatan nilai pre test setelah diuji kembali di post test yang dilakukan setelah penyuluhan. Dapat disimpulkan bahwa penyuluhan merupakan salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kebersihan organ reproduksi.Kebersihan organ reproduksi pada remaja sangatlah penting untuk diketahui sejak dini. Kebersihan organ reproduksi dapat disosialisasikan untuk menghindari penyakit-penyakit infeksi yang dapat disebabkan karena kurangnya pengetahuan kebersihan organ reproduksi. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kebersihan organ reproduksi adalah dengan penyuluhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pada remaja SMA kelas 2 tentang personal hygiene saat menstruasi sebelum dan sesudah penyuluhan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode pre-experimental, dengan one group pre test and post test design. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling yaitu purposive sampling. Sebanyak 90 siswi kelas 2 SMAN 23 Jakarta, berpartisipasi dalam studi ini yang ditetapkan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan, (p < 0.05) untuk semua variabel yang diteliti, yaitu tentang pengertian menstruasi, perubahan hormonal saat menstruasi dan personal hygiene saat mentruasi. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh peningkatan nilai pre test setelah diuji kembali di post test yang dilakukan setelah penyuluhan. Dapat disimpulkan bahwa penyuluhan merupakan salah satu cara yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang kebersihan organ reproduksi
ANALISIS PENGGUNAAN MODEL ALTMAN Z-SCORE, MODEL SPRINGATE, MODEL GROVER, DAN MODEL ZMIJEWSKI SEBAGAI PREDIKTOR KEBANGKRUTAN
The purpose of this research to know: (1), to find out which firm is predicted being bankruptcy according to the Altman Z-score model, Springate model, Grover model and Zmijewski model, (2) to find out wether there is difference between the fourth model of bankruptcy prediction (3) to find out which model have highest level accuration to predict bankcruptcy of the oil and gas firm. After the oil and gas firm was analyzed with the fourth model of bankruptcy prediction, the result is (1) according the altman Z-score model there is 5 firm that predicted have potential to being bankruptcy and only 1 firm have a healthy financial condition (2) according the Springate model there is 5 firm that predicted have potential to being bankruptcy and 2 firm have a healthy financial condition, (3) according the Grover model there is 2 firm that predicted have potential to being bankruptcy and 5 furm have a healthy financial condition, (4) according the altman Zmijewski model there is 1 firm that predicted have potential to being bankruptcy and 6 furm have a healthy financial condition. According to the result of Kruskal Wallis Test using IBM SPSS 24 that Altman Z-score model with Springate model and Grover model with Zmijewski model have same average score result. The most accurate level achived by Springate model.
Keywords : bankruptcy, financial distress, altman z-score model, springate model, grover model, zmijewski mode