E-Jurnal Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari
Not a member yet
783 research outputs found
Sort by
Analisa Mycobacterium Tuberculosis Pada Penderita Diabetes Melitus Di RSUD Dr. R. M. Djoelham Binjai
Latar Belakang : Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu faktor risiko paling penting dalam terjadinya perburukan TB. Sejak permulaan abad ke 20, para klinisi telah mengamati adanya hubungan antara DM dengan TB, meskipun masih sulit untuk ditentukan apakah DM yang mendahului TB atau TB yang menimbulkan manifestasi klinis DM. Istilah DM menggambarkan suatu kelainan metabolik dengan berbagai etiologi yang ditandai oleh hiperglikemia kronis dengan gangguan metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, sebagai akibat defek pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Penyakit Tuberculosis (TB) Paru merupakan suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium tuberculosis. Penularan penyakit ini melalui perantaraan dahak atau droplet penderita yang mengandung bakteri Mycobacterium tuberculosis yang positif masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Tujuan : Untuk mengetahui analisa terjadinya Mycobacterium Tuberculosis (TB) paru pada penderita diabetes melitus di RSUD Dr. R.M Djoelham Binjai. Metode : Penelitian ini menggunakan jenis penelitian dengan metode deskriptif dengan rancangan bangun penelitian cross sectional, yang digunakan untuk mengetahui Pravelensi Terjadinya Tuberculosis (TB) Paru pada Penderita Diabetes Melitus di RSUD Dr. R.M Djoelham Binjai. Hasil Penelitian: Berdasarkan pemeriksaan terhadap 36 sampel, diketahui sebanyak 16 orang (44,4%) penderita diabetes melitus menderita tuberculosis (TB). Sedangkan sisanya sebanyak 20 orang (55,6%) diketahui negatif TB. Hal ini menunjukkan persentasi yang tidak besar karena tidak melebihi angka 50%. Dari 36 sampel yang diperiksa 16 orang diantaranya merupakan perempuan (44,4%) dan 20 lainnya adalah laki – laki(55,6%).Background: Diabetes mellitus (DM) is one of the most important risk factors for worsening TB. Since the beginning of the 20th century, clinicians have observed an association between DM and TB, although it is still difficult to determine whether DM precedes TB or TB causes the clinical manifestations of DM. The term DM describes a metabolic disorder with various etiologies characterized by chronic hyperglycemia with disturbances of carbohydrate, protein, and fat metabolism as a result of defects in insulin secretion, insulin action, or both. Pulmonary Tuberculosis (TB) is a disease infection caused by a rod-shaped bacterium (bacillus) known as Mycobacterium tuberculosis. Transmission of this disease through the intercession of patient's sputum or droplets containing positive Mycobacterium tuberculosis bacteria enters the human body through the respiratory tract. R.M Djoelham Binjai. Methods: This study used descriptive research with a cross-sectional study design, which was used to determine the prevalence of pulmonary tuberculosis (TB) in patients with diabetes mellitus at RSUD Dr. R.M Djoelham Binjai. Research Results: Based on examination of 36 samples, it was found that 16 people (44.4%) with diabetes mellitus had tuberculosis (TB). While the remaining 20 people (55.6%) were found to be negative for TB. This shows that the percentage is not large because it does not exceed 50%. Of the 36 samples examined, 16 of them were women (44.4%) and the other 20 were men (55.6%). 
Peran Cranberry Terhadap Rekurensi Infeksi Saluran Kemih: Sebuah Review
Infeksi saluran kemih (ISK) berulang didefinisikan sebagai setidaknya tiga episode ISK dalam dua belas bulan, atau setidaknya dua episode dalam enam bulan. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit infeksi saluran kemih (ISK) adalah penyakit infeksi kedua tersering dan sebanyak 8,3 juta kasus dilaporkan per tahun. Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan dan kekambuhan ISK. Wanita yang pernah mengalami ISK berulang memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah terdiagnosis ISK. Antibiotik merupakan tatalaksana profilaksis pada ISK berulang. Namun ada alternatif yang tersedia, seperti cranberry, probiotik, dan obat tradisional cina. Cranberry merupakan alternatif yang dapat dipilih dalam pencegahan ISK di era tingginya angka resistensi terhadap antibiotik dan ISK berulang. Cranberry bekerja terutama dengan mencegah perlekatan pili tipe 1 dan strain p-fimbriae ke epitel saluran kemih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat penggunaan cranberry terhadap ISK berulang serta efektivitas penggunaan cranberry terhadap profilaksis terjadinya ISK berulang dibandingkan dengan antibiotik profilaksis. Metode penelitian ini merupakan literature review dengan pencarian dan pemilihan literatur-literatur yang diterbitkan dalam rentang 10 tahun terakhir kemudian telah dilakukan seleksi jurnal dengan kriteria akses terbuka dan yang memenuhi didapatkan 47 jurnal. Hasil penelitian menunjukkan jus Cranberry dikatakan dapat menurunkan pH urin untuk mengobati ISK dan memiliki zat proanthocyanidins sehingga mencegah perlekatan bakteri dalam saluran kemih. Studi lain melaporkan bahwa konsentrasi asam hipurat dalam urin tidak cukup untuk efek antibakteri. Selain itu beberapa studi menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara penggunaan produk Cranberry dengan pasien yang menerima placebo. Sehingga konsumsi ekstrak Cranberry ini tidak dapat menggantikan antibiotik saat terjadi ISK yang sedang aktif. Konsumsi ekstrak cranberry dapat disarankan untuk terapi tambahan pada ISK yang sedang aktif, maupun sebagai profilaksis ISK berulang, namun harus tetap bersamaan dengan antibiotik..Recurrent urinary tract infection (UTI) was defined as at least three episodes of UTI within twelve months, or at least two episodes within six months. According to the World Health Organization (WHO), urinary tract infection (UTI) is the second most common infectious disease and as many as 8.3 million cases are reported per year. There are many factors that can influence the development and recurrence of a UTI. Women who have had a recurrent UTI have a higher risk than those who have never been diagnosed with a uti. Antibiotics are a prophylactic treatment for recurrent UTIs. However there are alternatives available, such as cranberries, probiotics, and traditional Chinese medicine. Cranberry is an alternative that can be selected in the prevention of UTI in an era of high rates of antibiotic resistance and recurrent UTI. Cranberries work mainly by preventing the attachment of type 1 pili and p-fimbriae strains to the epithelium of the urinary tract. This study aims to determine the benefits of using cranberries for recurrent UTIs and the effectiveness of using cranberries for prophylaxis of recurrent UTIs compared to prophylactic antibiotics. This research method is a literature review by searching and selecting literature published in the last 10 years and then selecting journals with open access selection and 47 journals that fulfill this are obtained. The results showed that cranberry juice can lower urine pH to treat UTIs and has proanthocyanidins that prevent bacteria from sticking to the bladder. Another study reported that the concentration of hippuric acid in urine is insufficient for antibacterial effect. In addition, several studies stated that there was no significant difference between the use of cranberry products and patients who received a placebo. So consumption of Cranberry extract cannot replace antibiotics when an active UTI occurs. Consumption of cranberry extract can be recommended for additional therapy for active UTIs, as well as for recurrent ISK prophylaxis, but must be kept together with antibiotics
Patofisiologi Otitis Media Efusi (OME) Pada Pasien Dengan Refluks Laringofaringeal (LPR)
Otitis media dengan efusi (OME) adalah suatu kondisi di mana terdapat efusi non-purulen pada telinga tengah tanpa disertai perforasi membran timpani. Selama beberapa dekade terakhir, refluks gastroesofageal, yang kemudian dapat berkembang menjadi refluks laringofaringeal, telah diusulkan sebagai salah satu faktor etiologi yang penting untuk OME. Sebuah studi prevalensi pada tahun 2019 menyatakan kejadian OME ditemukan 4,5 kali lebih banyak pada kelompok pasien dengan LPR dibandingkan kelompok tanpa riwayat LPR. Mekanisme patofisiologis ini sering dipertanyakan dalam penelitian terdahulu, karena terdapat berbagai hipotesis yang dapat menjelaskan pengaruh LPR terhadap patogenesis OME. Tujuan: Penulis ingin memberikan referensi baru yang lebih akurat mengenai patofisiologi terjadinya otitis media efusi pada kasus refluks laringofaringeal berdasarkan referensi-referensi yang telah dibuat sebelumnya. Metode: Pencarian literatur dilakukan dengan menggunakan database seperti PubMed, Cochrane Library, dan Science Direct dengan kata kunci “patofisiologi”, “otitis media efusi", “OME”, “refluks laringofaringeal” dan “LPR”. Kriteria inklusi dalam studi ini adalah semua studi yang membahas definisi, etiologi, epidemiologi dan mekanisme patofisiologi OME pada pasien dengan LPR. Literatur-literatur yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara sistematis dan disajikan dalam bentuk artikel, tabel dan diagram yang sesuai untuk mempermudah pemahaman mengenai patofisiologi otitis media efusi pada kasus refluks laringofaringeal. Hasil: Mekanisme LPR dalam mengembangkan OME dapat dibagi menjadi beberapa kemungkinan sugestif: a) disfungsi tuba Eustachius karena LPR; b) stimulasi inflamasi di telinga tengah oleh H. pylori; dan c) aktivitas proteolitik pepsin di telinga tengah. Konten yang mengalami refluks dari gaster dapat mencapai tuba Eustachius dan menyebabkan obstruksi tuba secara langsung atau menyebabkan inflamasi, adhesi, dan kolaps pada saluran tersebut sehingga memfasilitasi mikroorganisme untuk mengembangkan OME. Di sisi lain, konten refluks yang mengandung bakteri H. pylori dan pepsin juga berperan dalam memicu respon inflamasi yang menyebabkan OME. Kesimpulan: Mekanisme yang paling mungkin menjelaskan patogenesis otitis media efusi (OME) pada kasus refluks laringofaringeal (LPR) terbagi dalam tiga proses patofisiologi utama sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Pembahasan lebih lanjut mengenai upaya eradikasi H. pylori dan modifikasi gaya hidup yang bersifat preventif untuk LPR perlu dilakukan.Otitis media with effusion (OME) is a condition in which there is a non-purulent effusion in the middle ear without perforation of the tympanic membrane. Over the last few decades, gastroesophageal reflux, which can then develop into laryngopharyngeal reflux, has been proposed as one of the important etiologic factors for OME. A prevalence study in 2019 stated that the incidence of OME was found to be 4.5 times more in the group of patients with LPR than in the group without a history of LPR. This pathophysiological mechanism has often been questioned in previous studies because various hypotheses can explain the effect of LPR on the pathogenesis of OME. Objective: The author wants to provide a new, more accurate reference regarding the pathophysiology of otitis media with effusion in cases of laryngopharyngeal reflux based on previous references. Methods: A literature search was performed using databases such as PubMed, Cochrane Library, and Science Direct with the keywords "pathophysiology", "otitis media with effusion", "OME", "laryngopharyngeal reflux" and "LPR". The inclusion criteria in this study were all a study discussing the definition, etiology, epidemiology, and pathophysiological mechanisms of OME in patients with LPR. Literature that met the inclusion criteria was analyzed systematically and presented in appropriate articles, tables, and diagrams to facilitate an understanding of the pathophysiology of otitis media with effusion in cases of laryngopharyngeal reflux. Results: The mechanism of LPR in developing OME can be divided into several suggestive possibilities: a) Eustachian tube dysfunction due to LPR; b) stimulation of inflammation in the middle ear by H. pylori; and c) proteolytic activity of pepsin in the middle ear. gastric can reach the Eustachian tube and cause direct tubal obstruction a tau causes inflammation, adhesions, and collapse of the duct thereby facilitating microorganisms to develop OME. On the other hand, reflux content containing H. pylori bacteria and pepsin also plays a role in triggering the inflammatory response that causes OME. Conclusion: The mechanism that most likely explains the pathogenesis of otitis media with effusion (OME) in cases of laryngopharyngeal reflux (LPR) is divided into three main pathophysiological processes as previously described. Further discussion regarding efforts to eradicate H. pylori and lifestyle modifications that are preventive for LPR needs to be done
Efektivitas Prenatal Yoga terhadap Nyeri Punggung pada Ibu Hamil Trimester III di Wilayah Kerja Puskesmas Telagasari, Kabupaten Karawang, Tahun 2023
Latar Belakang: Nyeri punggung pada kehamilan biasanya akan meningkat intensitasnya seiring dengan bertambahnya usia kehamilan karena nyeri ini merupakan akibat dari pergeseran pusat gravitasi dan postur tubuhnya. Prenatal yoga diharapkan akan membantu dalam mengatasi ketidaknyamanan selama kehamilan terutama trimester ke III. Membawa ibu hamil kedalam suasana kehamilan yang lebih tenang serta mempersiapkan tubuh fisik ibu hamil dengan baik. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Efektivitas prenatal yoga terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Telagasari Kabupaten Karawang tahun 2023”. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui efektivitas prenatal yoga terhadap nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja puskesmas telagasari tahun 2023. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental dengan random sampling dengan sampel sebanyak 30 orang. Teknik data termasuk dalam analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan perhitungan statistik program SPSS. Hasil penelitian:Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,000 lebih kecil dari nilai ?=0,05 artinya Prenatal yoga efektif menurunkan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Telaasari Kabupaten Karawang Tahun 2023. Kesimpulan dan Saran: Terdapat penurunan nyeri punggung pada ibu hamil trimester III yang sudah dilakukan prenatal yoga. Diharapkan prenatal yoga dapat diimplementasikan pada asuhan kebidanan komplementer, khususnya untuk asuhan kehamilan.Background: Back pain will usually increase in intensity with increasing gestational age because this pain is the result of a shift in the center of gravity and body posture. Prenatal yoga is expected to help overcome discomfort during pregnancy, especially the third trimester. Bringing pregnant women into a calmer pregnancy atmosphere and preparing the physical body of pregnant women well. Based on this background, researchers are interested in conducting research with the title: "Effectiveness of prenatal yoga on back pain in third trimester pregnant women in the working area of the Telagasari Health Center, Karawang Regency in 2023". Research Objectives: To determine the effectiveness of prenatal yoga on back pain in third trimester pregnant women in the Telagasari Health Center working area in 2023. Research Method: This study used a quasi-experimental with random sampling with a sample of 30 people. Data techniques included in univariate analysis using frequency distribution and bivariate analysis using SPSS program statistical calculations. The results of the study: The results of the statistical test obtained a value of p = 0.000 which is less than the value of ? = 0.05, meaning that Prenatal yoga is effective in reducing back pain in third trimester pregnant women in the working area of the Telaasari Health Center, Karawang Regency, in 2023. Conclusions and Suggestions: There is a decrease in back pain in third trimester pregnant women who have done prenatal yoga. It is hoped that prenatal yoga can be implemented in complementary midwifery care, especially for pregnancy care
Determinan Kejadian Gangguan Pendengaran pada Pekerja Pabrik di PT. Citra Raja Ampat Canning Sorong
Hasil observasi dari peneliti jumlah tenaga kerja yang ada di perusahaan tersebut berjumlah 294 orang. Dalam melakukan proses produksinya berasal dari ikan cakalang yang diolah menjadi produk ikan kaleng menghasilkan dan tentunya pekerja di sana tidak terlepas dari bahaya kebisingan. Bahaya kebisingan di area PT. Citra Raja Ampat Canning Sorong antara lain berasal dari peralatan kerja dan proses produksi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui determinan kejadian gangguan pendengaran pada pekerja pabrik di PT.Citra Raja Ampat Canning Sorong
Desain penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 09 September 2019 sampai dengan 18 Oktober 2019. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling, dengan jumlah sampel 169 orang dengan menggunakan metode simple random sampling.
Hasil penelitian uji chi-square ada hubungan kebisingan dengan gangguan pendengaran pada pekerja pabrik PT. Citra Canning Sorong p value = 0,003, ada hubungan pengetahuan dengan gangguan pendengaran pada pekerja pabrik PT.Citra Canning Sorong p value = 0,030 dan ada hubungan penggunaan APD dengan gangguan pendengaran pada pekerja pabrik PT. Citra Canning Sorong p value = 0,006.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan kebisingan, pengetahuan dan penggunaan APD dengan gangguan pendengaran pada pekerja pabrik PT. Citra Canning Sorong. Saran hendaknya pihak perusahaan menyediakan alat pelindung diri khususnya bagi bekerja di unit produksi, dan sebaiknya tenaga kerja harus memakai alat pelindung telinga pada saat berada di lingkungan kerja yang kebisingannya melebihi nilai ambang batas yaitu 85 dB, sehingga tenaga kerja mampu meminimalisir risiko gangguan pendengaran
Pengaruh Kelengkapan Formulir Resume Medis Rawat Inap Terhadap Mutu Rekam Medis Di Rsud Majalaya
The discharge summary, also known as a medical resume, is a concise compilation of the entire period of patient care and treatment, encompassing the efforts made by medical staff and relevant parties. Typically, it includes information about the type of treatment provided, the patient's condition upon discharge, and follow-up plans. In this study, the focus is directed towards examining how the completeness of the inpatient medical resume form affects the quality of medical records at RSUD Majalaya. The results of the statistical analysis with a significance level of ? = 5% (0.05) or a confidence level of 95% indicate a significant impact of 46.5% from the completeness of the inpatient medical resume on the quality of medical records. Some identified issues include: (1) Incomplete components of the inpatient medical resume form. (2) Delays in information entry, affecting coding processes, insurance claims, and reporting to hospital management. (3) Suboptimal supervision and awareness among medical personnel. Based on the research findings, it can be concluded that the completeness of the medical resume at RSUD Majalaya is still not optimal, as there are still several sections that remain unfilled or have not been completed by authorized doctors or personnel responsible for filling out the form.Ringkasan riwayat pulang, juga dikenal sebagai resume medis, merupakan kompilasi singkat dari seluruh periode perawatan dan pengobatan pasien, mencakup upaya-upaya yang dilakukan oleh staf medis dan pihak terkait. Biasanya, ini memuat informasi tentang jenis pengobatan yang diberikan, kondisi pasien saat pulang, serta rencana tindak lanjut. Dalam penelitian ini, fokus ditujukan pada bagaimana kelengkapan formulir resume medis rawat inap berpengaruh terhadap kualitas rekam medis di RSUD Majalaya. Hasil analisis statistik dengan tingkat signifikansi ? = 5% (0,05) atau kepercayaan 95% menunjukkan adanya dampak sebesar 46,5% dari kelengkapan resume medis rawat inap terhadap kualitas rekam medis. Beberapa permasalahan yang teridentifikasi meliputi: (1) Tersedianya komponen resume medis rawat inap yang belum terisi dengan lengkap. (2) Keterlambatan dalam pengisian informasi, berdampak pada proses pengkodean, klaim asuransi, dan pelaporan kepada manajemen rumah sakit. (3) Pengawasan dan kesadaran petugas medis belum optimal. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kelengkapan resume medis di RSUD Majalaya masih belum optimal, karena masih terdapat beberapa bagian yang tidak terisi atau belum diisi oleh dokter atau petugas yang berwenang untuk melengkapi formulir tersebut
Uterine leiomyoma: Analysis of Clinical Manifestation and Different Risk Factors in Women of Reproductive Age at Siloam Hospitals Manado
Uterine leiomyoma is the most common benign tumor in women of reproductive age. This problem is becoming increasingly relevant to the fact that many cases of uterine fibroids are asymptomatic, so they are often overlooked and only found accidentally. This study aims to identify the risk factors and clinical manifestations of uterine leiomyoma in women of reproductive age. This research method involved databased medical records at the in-patient department of Siloam Hospitals Manado and literature studies from various sources related to uterine leiomyoma. The design of this study uses a cross-sectional design. This design allows researchers to observe and analyze the relationship between variables without intervention or manipulation so that they can describe how often characteristics appear in the population at a certain time. The results showed that genetics, age, hormones, and ethnicity affect a person's risk of developing uterine leiomyoma. The clinical manifestations of uterine leiomyoma variants range from mild clinical manifestations to those that have a significant impact on women's quality of life. Further research is needed to understand the mechanisms of development and the best interventions for this condition.Uterine leiomyoma merupakan tumor jinak yang paling sering terjadi pada wanita usia reproduksi. Masalah ini menjadi semakin relevan dengan kenyataan bahwa banyak kasus mioma uteri tidak menunjukkan gejala sehingga sering terlewatkan dan hanya ditemukan secara tidak sengaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko serta manifestasi klinis Uterine leiomyoma pada wanita usia reproduksi. Metode penelitian ini melibatkan basis data rekam medis pada in-patient department Siloam Hospitals Manado dan studi literatur dari berbagai sumber terkait Uterine leiomyoma. Desain penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Desain ini memungkinkan peneliti untuk mengamati dan menganalisis hubungan antara variabel tanpa intervensi maupun manipulasi sehingga dapat menggambaran seberapa sering karakteristik muncul dalam populasi pada waktu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor genetika, usia, hormon, dan etnis mempengaruhi risiko wanita untuk mengembangkan Uterine leiomyoma. Manifestasi klinis varian Uterine leiomyoma sangat beragam, mulai dari klinis yang ringan hingga yang berdampak signifikan terhadap kualitas hidup wanita. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme perkembangan dan intervensi terbaik untuk kondisi ini
Hubungan Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Universitas Gunadarma
Menstruation is a cycle of shedding the endometrial lining in response to the hormonal interactions produced by the hypothalamus, pituitary gland, and ovaries. Nutritional status, BMI, physical activity, hormonal conditions, and stress influence the menstrual cycle. Stress is a normal part of life that we often encounter. Everything that triggers stress is referred to as a stressor. For students, facing or undergoing intense schedules, labs, assignments, and the thesis-making process can trigger stress, leading to irregular menstrual cycles. This study aims to investigate whether there is a correlation between stress levels and the pattern of menstrual cycles among female students at Gunadarma University. This research employs a quantitative analytical approach with a cross-sectional design and applies a simple random sampling technique. Participation in this study involves 195 individuals who meet the inclusion and exclusion criteria. The collected data is analyzed using the Chi-Square test. Findings from this analysis indicate that the P value in this study is 0.001, signifying that the value is below the significance threshold of 0.05. Therefore, it can be concluded that there is a significant relationship between stress levels and the pattern of menstrual cycles among female students at Gunadarma University.Menstruasi merupakan suatu siklus peluruhan dinding endometrium sebagai respon terhadap interaksi hormon yang dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis dan ovarium. Siklus menstruasi di pengaruhi oleh beberapa faktor seperti status gizi, IMT, aktivitas fisik, kondisi hormonal dan stres. Stres merupakan bagian yang normal yang sering kita hadapi. Semua yang menghasilkan stres disebut stressor. Pada mahasiswa ketika menghadapi atau menjalani kuliah yang terlalu padat, praktikum, tugas, dan proses pembuatan skripsi merupakan faktor yang dapat memicu terjadinya stres sehingga menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur. Maksud dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki apakah ada korelasi antara tingkat stres dan pola siklus menstruasi pada mahasiswi di Universitas Gunadarma. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif analitis dengan desain potong lintang (cross-sectional) dan menerapkan teknik sampling acak sederhana. Partisipasi dalam penelitian ini melibatkan 195 individu yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Temuan dari analisis ini mengindikasikan bahwa nilai P dalam penelitian ini sebesar 0,001, menandakan bahwa nilai tersebut berada di bawah ambang signifikansi 0,05. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan pola siklus menstruasi pada mahasiswi Universitas Gunadarma
Kepuasan Pengguna Mobile JKN menggunakan Delone dan Mclean Framework
Mobile JKN is an application that can be accessed with smartphone device. This application has been introduced by BPJS Kesehatan with the aim of facilitating users in the registration process, changing membership data, and making it easier to provide criticism or suggestions. The number of Mobile JKN downloaders until May 2022 is around > 10 million downloaders. Active user data in Tangerang City in 2022 is 692,866 out of a total of 1,704,283 BPJS participants. The use of Mobile JKN is still low, most people complain when using Mobile JKN. This study aims to evaluate the satisfaction of Mobile JKN users in Tangerang City. Observational research using a cross-sectional design asa population, namely all residents of Tangerang City who have downloaded mobile JKN with a sample size of 241 people. The sampling technique uses accidental. The technique of collecting data uses a questionnaire through a Likert scale that measures the variables of system quality, information, service and user satisfaction. Use of multiple linear regression as a data analysis technique. The results explained that system quality (p-value 0.002 < 0.05) and service quality (p-value0.000 < 0.05) have a significant effect on user satisfaction. However, information quality (p-value 0.709 > 0.05) does not significantly affect user satisfaction. Mobile JKN user satisfaction is influenced by system quality and service quality by 17.4%, while the remaining 82.6% is influenced by other variables. With this research, JKN participants are increasingly making use of Mobile JKN in facilitating services such as speeding up service time, reducing service queues, and reducing transportation expenses.Mobile JKN adalah sebuah aplikasi yang dapat diakses dengan perangkat smartphone. Aplikasi ini telah diperkenalkan oleh BPJS Kesehatan dengan tujuan mempermudah pengguna dalam proses pendaftaran, perubahan data kepesertaan, serta memudahkan dalam memberikan kritik atau saran. Jumlah pengunduh Mobile JKN sampai Mei tahun 2022 sekitar > 10jt pengunduh. Data pengguna aktif di Kota Tangerang tahun 2022 sebanyak 692.866 dari total peserta BPJS sebanyak 1.704.283 Jiwa. Penggunaan Mobile JKN masih rendah, sebagian besar masyarakat mengeluh saat menggunakan Mobile JKN. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kepuasan pengguna Mobile JKN di Kota Tangerang. Penelitian observasional melalui desain cross-sectional sebagai populasinya yaitu seluruh masyarakat Kota Tangerang yang telah mendownload Mobile JKN yang jumlah sampelnya sebesar 241 orang. Teknik sampling memakai accidental. Teknik mengumpulkan datanya memakai kuesioner melalui skala Likert yang mengukurnya variabel kualitas sistem, informasi, layanan dan kepuasan pengguna. Penggunaan regresi linier berganda sebagai teknik analisis data. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kualitas sistem (p-value 0.002 < 0.05) dan kualitas layanan (p-value 0.000 < 0.05) pengaruhnya signifikan terhadap kepuasan pengguna. Namun kualitas informasi (p-value 0.709 > 0.05) tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan pengguna. Kepuasan pengguna Mobile JKN dipengaruhi kualitas sistem dan kualitas layanan sebanyak 17.4%, sementara yang tersisa sebanyak 82.6% diberikan pengaruh dari variabel lainnya. Dengan penelitian ini peserta JKN semakin memanfaatkannya Mobile JKN dalam memudahkan layanan seperti mempercepat waktu pelayanan, mengurangi antrean pelayanan, dan mengurangi biaya pengeluaran transportas
Pola Makan Dan Kepatuhan Tablet Tambah Darah Pada Anemia Ibu Hamil : Literature Review
Masalah anemia di Indonesia masih termasuk masalah kesehatan di dunia, tak terkecuali di Indonesia terdapat tiga penyebab utama kematian ibu salah satunya yakni perdarahan yang penyebab tidak langsungnya terjadi akibat anemia yang dialami selama kehamilan. Menurut Riskesdas terdapat peningkatan pravalensi anemia dari tahun 2013 37.1 % dan pada tahun 2018 sebanyak 48.9%. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran hubungan pola makan dan kepatuhan tablet tambah darah pada anemia ibu hamil. Metode yang digunakan adalah literature review yang mengkaji artikel 5 tahun terakhir dari tahun 2019-2023. Penelusuran dengan kata kunci yaitu pola makan, kepatuhan tablet tambah darah, dan anemia ibu hamil menghasilkan 265 artikel. Beberapa artikel didiskualifikasi karena tidak sesuai dan teks tidak lengkap. Sehingga ada 7 artikel yang diikutsertakan dalam proses pembuatan artikel. Analisi menunjukkan adanya hubungan pola makan dan kepatuhan tablet tambah darah terhadap anemia ibu hamil.The problem of anemia in Indonesia is still a health problem in the world, including in Indonesia there are three main causes of maternal death, one of which is bleeding, which is caused indirectly due to anemia experienced during pregnancy. According to Riskesdas, there was an increase in the prevalence of anemia from 37.1% in 2013 and 48.9% in 2018. This article aims to provide an overview of the relationship between diet and blood supplement adherence in pregnant women anemia. The method used is a literature review which examines the last 5 years of articles from 2019-2023. A search with keywords namely diet, adherence to iron tablets, and anemia of pregnant women resulted in 265 articles. Several articles were disqualified because they were inappropriate and the text was incomplete. So that there are 7 articles included in the article creation process. The analysis shows that there is a relationship between diet and blood supplement adherence to anemia in pregnant women