Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat
Not a member yet
68 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK DAN KERAGAMAN MORFOLOGIS BEBERAPA AKSESI PADI SAWAH LOKAL DATARAN TINGGI KABUPATEN MAMASA DAN POTENSI PENGEMBANGANNYA
Rice is a major component in the national food security system. Indonesia is one of the sources of rice diversity, where the Center for Rice Research has about 17,000 germplasm accessions. This diverse germplasm represents the basic capital for assembly and repair of rice varieties. Activity inventory and characterization of local rice paddy Mamasa done in 2014 and 2015 with survey method. The inventory and characterization data were tabulated and then analyzed descriptively. The result of inventory and characterization shows that in Batupapan and Siwi village, Nosu sub-district, Mamasa district was found 9 types of accession of local highland rice. Of the nine accessions of local rices, pare Tongoran is a type of rice belonging to Indica and eight other species (Pare Kamandang, Kuse, Riri, Lotting, Sassan, Bae' Putih, Bae' Merah/Ba'da and Bittoen) including Javanica. Three accessions that have many chicks, namely pare Kamandang (15-22 tillers/clumps), pare Tongaran (20-22 tillers/clumps), and pare Bittoen (18-19 tillers/clumps). The number of grains per grain ranged from 100-237 grains, panicle length of 24 -33 cm, and weight of 1000 seeds 25 - 31.6 g. Based on the color of rice, the accession is classified as rice of red rice (Pare Kuse, Bae' Merah / Ba'da, Tongoran and Kamandang) and one accession belonging to black rice (pare Lotting), four other accessions belonging to white rice (Bittoen, Bae' Putih, Sassan and Riri). One accession belongs to aromatic rice (pare Sassan). Accession of upland rice which has potential to be developed as a source of germplasm such as pare Lotting (black rice, health rice, and many used for social events), pare Tongoran and Kamandang (red rice, many tillers, health rice, number of grain/panicle are many; pare Sassan (aromatics, weight of 1000 grain seeds is high).
Keywords: characteristic, morphological diversity, potency, local rice, highland
FENOMENA ANAK JAMAN NOW “MEMILIH MENIKAH DI USIA MUDA” (Kaprawi Rahman)
Pernikahan dini Najlah Naqiyah : (2009) adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan mudah mudi dibawah umur 16 tahun. Aimatun (2009) menyebutkan pernikahan usia muda atau usia dini adalah pernikahan yang dilakukan ketika usia mereka belum mencapai 20 tahun, baik-laki-laki ataupun perempuan. Sementara itu gambaran pasangan menikah di provinsi Sulawesi Barat banyak menikah sebelum usia 19 tahun yang dibuktikan oleh BPS (Badan Pusat Statistik) pada tahun 2016 menyebutkan di Sulawesi Barat nilai rata-rata perkawinan anak sebesar 37 persen. Hal ini diperkuat dengan pendataan keluarga terkait usia kawin pertama di Sulawesi Barat tahun 2017, hasilnya kabupaten Polewali Mandar dengan angka perempuan menikah dibawah 21 tahun tertinggi di Sulawesi Barat. Ditemukan pada kecamatan Topoyo dan Budong-budong Kabupaten Mamuju tengah sebanyak 62 % responden menikah dini dengan alasan tak ingin berpacaran lama dan karena ingin meringankan beban orang tua. Sementara itu angka menikah usia muda tertinggi ditemukan di Kec. Wonomulyo dan Campalgian Kab. Polewali Mandar sebesar 78 %, faktor penyebab tertinggi juga karena alasan tak ingin berpacaran lama dan karena tidak lagi bersekolah.
Kata Kunci : Fenomena Anak Jaman Now, menikah usia Mud
PENYIAPAN GRAND DESIGN PERMUKIMAN NELAYAN DESA SUMARE BERBASIS NEO-VERNACULAR
Tujuan penelitian ini adalah Menyiapkan Grand Design Permukiman Nelayan Desa Sumare Berbasis Neo-Vernacular. Desa Sumare merupakan daerah perikanan dengan suasana kampung. Grand design bentuk bangunan rumah yang menggambarkan kegiatan nelayan pertanian perlu dikembangkan sebagai tanggapan dari desain rumah yang ada. Untuk memudahkan mengidentifikasi kebutuhan ruang maka dilakukan pengelompokan berdasarkan tingkat kepentingan aktivitas sehingga menghasilkan tiga jenis kegiatan utama yang berfungsi sebagai hunian, produksi dan wisata dengan jumlah total ruangan 6.080.66 meter persegi. Penelitian ini juga menyajikan konsep hubungan dan organisasi ruang pada permukiman nelayan di Desa Sumare Kabupaten Mamuju. Hasil penelitian menyatakan bahwa Penyiapan grand design permukiman nelayan menggunakan fasilitas destinasi wisata baru berkonsep hunian – produksi – wisata berbasis Neo-Vernacular di Desa Sumare Kecamatan Simboro Kabupaten Mamuju. 
ANALISIS TATANIAGA KOPRA DI DESA LAMPOKO KECAMATAN CAMPALAGIAN KABUPATEN POLEWALI MANDAR
Petunjuk Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana saluran pemasaran pada usahatani kopra di Desa Lampoko, 2. Berapa harga kopra di tingkat petani dan pedagang Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada usahatani kopra di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian menggunakan teknik Purposive Sampling, Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Juli 2018 yang berlokasidi Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa saluran pemasaran di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar ada dua yaitu, petani, pedagang, konsumen, dan Saluran Langsung petani, ke pedagang 2. harga jual petani yang terendah terdapat pada pedagang pengumpul desa sebesar Rp 5.000/Kg, Kemudian yang tertinggi adalah pedagang Kecamatan Rp 5.500/Kg dan apabila petani menjual langsung ke pedagang besar dan konsumen karena modal untuk memasarkan produksi sangat terbatas. 
STRATEGI PEMBERDAYAAN PENGOLAH ABON IKAN BERORIENTASI PASAR DI KECAMATAN MAMUJU KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT
Kompleksnya permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri pengolahan hasil perikanan menuntut dilakukannya pemilihan prioritas komoditi, lokasi pengembangan dan pola olahan produk perikanan. Potensi sumber daya alam Provinsi Sulawesi Barat menjadi lengkap dengan didukung oleh posisi geografis provinsi ini yang sangat strategis, terletak di jantung Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berhadapan langsung dengan jalur lintas kepulauan Indonesia (Selat Makassar). Tujuan dari penelitian ini, antara lain mengidentifikasi tingkat keberdayaan pengolah ikan yang berorientasi pasar di kecamatan Mamuju dilihat dari aspek ekonomi,mengkaji kelayakan usaha industri pengolahan abon ikan di kecamatan mamuju, mengkaji bagaimana persepsi/keinginan konsumen terhadap produk olahan ikan yang diminati pasar, merumuskan strategi pengembangan industri pengolah abon ikan. Usaha abon ikan layak secara finansial jangka pendek dengan R/C ratio selama setahun mencapai 1.442 yaitu lebih besar dari 1, Keuntungan mencapai Rp 26,807,505,-., rentebilitas dalam satu tahun yaitu 44.17%, BEP sales senilai Rp. 22,245,242.91, dan BEP unit yaitu 6244 unit. Usaha abon ikan layak secara finansial jangka panjang yaitu NPV >0/bernilai positiftiv, Net B/C>1 dan IRR> 12% dengan Payback period hanya 0,28 tahun. Usaha abon ikan berada pada kuadran 1 dan strategi pengembangan usaha abon ikan yaitu dengan memanfaatkan kondisi sumber daya dengan baik dan memperluas daerah pemasaran abon ikan menjalin kerjasama yang menguntungkan dengan pihak supplier bahan baku dan pemasaran
PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP PENGGUNAAN KONTRASEPSI DI PROVINSI SULAWESI BARAT
Penelitian ini menganalisis pengaruh faktor sosial ekonomi terhadap penggunaan kontrasepsi di Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini menggunakan data SUSENAS 2015 dengan unit analisis wanita pernah kawin usia 15 – 49 tahun. Analisis dilakukan dengan metode univariat dan bivariat dengan menggunakan perangkat Statistical Package for the Social Sciences. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor umur, tempat tinggal, status pekerjaan, jumlah anak secara bersama-sama berpenaruh secara signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi. namun faktor pendidikan, status migrasi, usia kawin pertama tidak berpengaruh terhadap penggunaan kontrasepsei di Provinsi Sulawesi Barat. Kelompok umur wanita 15-20 tahun lebih cenderung dalam menggunakan KB sebesar 2,504 kali dibandingkan dengan umur 35-59 tahun. Begitu pula dengan kelompok umur 21-34 tahun lebih cenderung menggunakan KB sebesar 1,952 kali dibandingkan dengan kelompok umur 35-49 tahun. Wanita pernah kawin yang tinggal di kota lebih cenderung tidak menggunakan KB sebesar 0,696 kali dibandingkan dengan wanita pernah kawin di desa. Wanita pernah kawin yang bekerja lebih cenderung menggunakan KB sebesar 1,201 kali dibandingkan dengan wanita pernah kawin yang tidak bekerja. Wanita yang memiliki anak antara 1-2 orang lebih cenderung dalam menggunakan KB sebesar 180,447 kali dibandingkan dengan yang tidak memiliki anak. Begitu pula dengan wanita yang memiliki anak 3 orang atau lebih juga lebih cenderung menggunakan KB sebesar 262,299 kali dibandingkan dengan wanita yang belum mempunyai anak. 
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN PKN MATERI PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH DI KELAS VI.B SD INPRES BINANGA II KECAMATAN MAMUJU KABUPATEN MAMUJU TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Penelitian ini dilatar belakangi pentingnya guru dalam mengelola pembelajaran PKn yang bermakna sehingga siswa akanmemiliki pengalaman belajar yang mengesankan. Pengalaman yang diperoleh siswa akan semakin berkesan jika siswa dalam belajar dapat menemukan sendiri.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran PKn, (2) meningkatkan hasil belajar PKn.Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VI.B SD Inpres Binanga II dengan jumlah siswa 20 orang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan 3 siklus, masing- masing siklus terdiri dari kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan angket.Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match terbukti efektif dapat meningkatkan aktivitas danhasil belajar siswa. Peningkatan itu ditandai dari ketercapaian indikator keberhasilan.Peningkatan aktivitas siswa dari siklus I sebesar 32,4, siklus sebesar II 42,7, dan siklus sebesar III 66,5. Peningkatan hasil belajar pada siklus I rata-rata kelas sebesar 63,00, siklus II rata-rata kelas sebesar 73,25, dan siklus III 7 sebesar 9,00.
Kata kunci: Kualitas Pembelajaran PKn, Kooperatif Make a Match. 
DAMPAK KEGIATAN WIRAUSAHA BATU BATA TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DI KECAMATAN KALUKKU KABUPATEN MAMUJU PROVINSI SULAWESI BARAT
Pemanfaatan sumber daya alam merupakan salah satu hal yang tidak dapat dihindari. Bahkan sudah menjadi kewajiban manusia untuk memanfaatkannya dengan penuh kehati-hatian demi keberlanjutan. Salah satu bentuk pemanfaatan SDA tersebut adalah pengolahan tanah jenis tertentu dalam menghasilkan batu bata, yang selanjutnya merupakan bahan dasar dalam melaksanakan proses pembangunan infrastruktur dan lainnya. Industri skala kecil pembuatan batu bata ini merubah bentuk dan fungsi alam sehingga memberikan dampak bagi lingkungan disekitarnya. Proses ini juga berdampak bagi kondisi social ekonomi masyarakat setempat. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah mengenali dampak lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas tersebut dan menemukan opsi-opsi solusi yang mungkin ditempuh untuk mengatasinya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Action Research (PAR) merupakan penelitian yang melibatkan secara aktif masyarakat dan pihak-pihak yang relevan dalam mengkaji tindakan yang sedang berlangsung dalam kehidupan masyarakat sebagai upaya untuk melakukan perubahan dan perbaikan kearah yang lebih baik. Hasil penelitian ini menemukan dampak lingkungan dari industry batu bata berupa galian tambang tanah dan pencemaran air. Solusi-solusi yang mungkin dijalankan diantaranya reklamasi lubang tambang serta inventarisasi industry batu bata oleh pemerintah agar dapat dilakukan pengawasan.
Kata kunci: Batu Bata, Dampak Lingkungan, Solus
KAJIAN ANALISIS KOMPARATIF USAHA TANI UBI KAYU TERHADAP TANAMAN PANGAN LAINNYA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pendapatan dan kelayakan usaha tani singkong pada tanaman pangan lain di Desa Tommo, Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju. Data utama yang digunakan sebagai sumber diskusi dalam penelitian ini adalah petani singkong di Desa Tommo, Kabupaten Mamuju, 30 orang dipilih sebagai responden menggunakan teknik wawancara menggunakan kuesioner. Data sekunder diperoleh dari kantor Biro Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mamuju dan agensi yang terkait erat dengan penelitian ini. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kuantitatif menggunakan statistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pada tingkat harga yang berlaku selama penilaian, diketahui bahwa singkong memiliki keunggulan kompetitif atas padi sawah dan sawah dengan produksi minimum 67,53% dari produktivitas aktual dan harga, (2) Pada tingkat harga tetap, singkong dapat bersaing dengan jagung, kedelai dan kacang tanah jika mereka mampu menghasilkan dan harga minimum 59,96%, 70,04% dan 20,02% masing-masing produktivitas dan harga aktual, dan (3) pertanian kacang tanah memiliki daya saing terkecil dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya, terutama kedelai. Untuk meningkatkan keunggulan kompetitif ubi kayu ke tanaman pangan lainnya diperlukan bimbingan petani secara intensif, tepat, terarah dan berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan kualitas melalui penerapan teknologi pengolahan atau hasil pascapanen.
Kata kunci: Pendapatan, Pertanian, Singkon
“Penggemuk” (Penggunaan Elektrik Nyamuk) Tradisional Berbahan Tempurung Kelapa Serta Ekstrak Kemangi Sebagai Cairan Insektisida Alami Pembasmi Nyamuk
Karya yang dibuat di SMA Negeri 1 Sendana ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam dan mengetahui seberapa besar manfaat penggunaan Elektrik tadisional dari tempurung kelapa dan ekstrak kemangi ini sebagai insektisida alami,. Alat elektrik pembasmi nyamuk tradisional ini sangat bermanfaat bagi manusia dan ramah lingkungan, sebab tidak mengandung bahan kimia yang dapat berpengaruh buruk terhadap kesehatan manusia, juga mengurangi limbah organik di lingkungan, serta dapat digolongkan sebagai teknologi tepat guna karena dipandang dari aspek ekonomi, budaya dan sosial..
The work made in SMA Negeri 1 Sendana aims to optimize the utilization of natural resources and find out how much benefit of traditional electrical use of coconut shell and basil extract as a natural insecticide. This traditional electric mosquito repellent tool is very beneficial for humans and environmentally friendly, because it does not contain chemicals that can adversely affect human health, also reduce organic waste in the environment, and can be classified as appropriate technology because viewed from the economic, cultural and social aspects