UMI Medical Journal
Not a member yet
153 research outputs found
Sort by
Testicular Torsion in Adolescents: A Case Report and Surgical Management Approach
Background: Testicular torsion is a surgical emergency caused by twisting of the spermatic cord, which impedes blood flow to the testicle. If not treated within 4–6 hours of symptom onset, this condition can lead to ischemia, necrosis, and permanent testicular damage. Prompt treatment is crucial to prevent complications.
Case Description: A 19-year-old man presented to the emergency department (ED) with severe pain and swelling in the left scrotum for three days. His pain score (VAS) was 5/10. No systemic symptoms were found. Physical examination revealed edema and tenderness in the left scrotum. Scrotal ultrasound revealed an enlarged, heterogeneous, and avascular left testicle, while the right testicle was normal, and left testicular torsion was diagnosed. The patient subsequently underwent orchidectomy for the necrotic left testicle and orchidopexy for the right testicle.
Conclusion: Early diagnosis of testicular torsion is crucial to prevent further damage. Doppler ultrasonography was helpful in confirming the diagnosis. The definitive treatment for testicular necrosis is orchidopexy, and orchidopexy is an appropriate approach to prevent recurrence and preserve the function of the remaining testicl
Adjunctive Statin Therapy on Cholesterol and Clinical Symptoms in Schizophrenia Treated with Risperidone
Background: Schizophrenia is associated with the metabolic side effects of atypical antipsychotics, such as hypercholesterolemia.
Objective: To evaluate the effect of adjuvant statin therapy on total cholesterol levels and clinical symptoms in patients with schizophrenia treated with risperidone.
Methods: This randomized clinical trial was conducted on 36 patients with schizophrenia at RSKD Dadi, South Sulawesi. The subjects were randomized into risperidone-only and risperidone plus statin groups.
Results: Statin adjuvant therapy reduced total cholesterol levels and improved clinical symptoms (PANSS scores) compared to the control group.
Conclusion: Adjuvant statin therapy is potentially beneficial in reducing cholesterol levels and improving clinical outcomes in patients with schizophrenia receiving risperidone
Tatalaksana Nyeri Paska Operasi Seksio Saesarea
Latar belakang: Seksio sesarea (SC) merupakan prosedur bedah yang sering dilakukan untuk mengatasi komplikasi obstetri. Namun, nyeri pasca SC menjadi tantangan utama yang dapat memperlambat pemulihan dan meningkatkan risiko nyeri kronis. Manajemen nyeri yang efektif diperlukan untuk mengoptimalkan hasil pascaoperasi. Artikel ini bertujuan merangkum pendekatan terkini manajemen nyeri pasca seksio sesarea secara farmakologis, regional, dan non-farmakologis untuk mendukung pengendalian nyeri yang efektif.
Isi: Nyeri pasca SC bersifat nosiseptif dan neuropatik, memerlukan pendekatan multimodal yang mencakup terapi farmakologis dan non-farmakologis. Obat seperti OAINS, opioid, dan anestesi lokal terbukti efektif, sementara teknik regional seperti morfin intratekal memberikan analgesia jangka panjang. Terapi non-farmakologis, termasuk CBT dan TENS, juga berperan dalam mempercepat pemulihan.
Kesimpulan Manajemen nyeri pasca SC sangat penting untuk mempercepat pemulihan dan mengurangi risiko nyeri kronis. Pendektakan terapi multimodal efektif mengurangi morbitas pasien paska SC
Pengaruh Penambahan Reagen Anti-Rh terhadap Pemeriksaan Kolesterol CHOD-PAP pada Serum yang Mengandung Eritrosit
Latar belakang: Hemolisis dalam specimen serum menyebabkan pelepasan hemoglobin yang dapat mengganggu akurasi hasil pemeriksaan kimia klinik, termasuk kadar kolesterol. Penambahan reagen anti-Rh diharapkan dapat mengendapkan eritrosit dan menurunkan kadar hemoglobin bebas sehingga hasil pemeriksaan kolesterol tidak terpengaruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan reagen anto-Rh terhadap hasil pemeriksaan kolesterol pada serum yang mengandung eritrosit.
Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental dengan desain static group comparison. Serum hemolisis dengan kadar hemoglobin 0,53 g/dL, 0,81 g/dL dan 1,03 g/dL diberi tambahan reagen anti-Rh sebanyak 50 µL, 100 µL dan 200 µL. Kadar kolesterol diperiksa menggunakan metode CHOD-PAP [2]. Data dianalisis dengan uji ANOVA satu arah dan uji lanjut Post Hoc Duncan.
Hasil: Reagen Anti-Rh dapat mengendapkan dan memisahkan eritrosit dalam serum yang mengandung eritrosit; Reagen anti-Rh mempengaruhi secara signifikan dalam pemeriksaan kolesterol pada sampel yang mengandung eritrosit dengan nilai Sig < 0,05 terhadap sampel yang mengandung eritrosit yang tidak ditambahkan reagen anti-Rh. Kadar Hb 0,53 g/dL dengan penambahan reagen anti-Rh 200 µL di sampel yang mengandung eritrosit, memberikan kadar kolesterol yang sama (tidak berbeda signifikan) terhadap kolesterol yang diukur pada serum normal.
Kesimpulan: Penambahan reagen anti-Rh efektif menurunkan kadar hemoglobin bebas dan mengurangi interferensi pada pemeriksaan kolesterol, tetapi kadar kolesterol tidak berbeda signifikan dengan serum normal (p > 0,05
Factors Affecting the Occurrence of Diabetic Ulceration in Patients with Type II Diabetes Mellitus
Background: Diabetes mellitus (DM) is a condition characterized by high blood glucose levels, which increases the risk of macrovascular and microvascular complications, thereby reducing patients\u27 quality of life. One complication of DM is neuropathy, which is characterized by reduced sensation in the feet and is often associated with foot ulcers. Approximately 50% of the diabetic population is at risk of developing diabetic foot ulcers.
Objective: This study aimed to identify factors associated with the occurrence of diabetic foot ulcers in patients with type II diabetes mellitus.
Methods: This study used a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach.
Results: The study found that diabetic foot ulcers in patients with type 2 DM were most prevalent in those over the age of 65 (25 individuals, 75.76%), female (19 individuals, 57.6%), with a normal Body Mass Index (BMI) (24 individuals, 72.73%), having suffered from type 2 DM for more than five years (26 individuals, 78.79%), high HbA1c levels (30 individuals, 90.91%), and regular foot care practices (22 individuals, 66.67%).
Conclusion: The most dominant factors associated with diabetic foot ulcers are older age (> 65 years), duration of diabetes of more than five years, high random blood glucose levels, and elevated HbA1c levels.
Faktor Sosial yang Mempengaruhi Seorang Menjadi Pekerja Seks Komersial di Makassar Sulawesi Selatan
Latar belakang: Faktor sosial, terutama kemiskinan, kerawanan pangan, pengucilan, dan diskriminasi, sangat memengaruhi seseorang dalam memilih profesi sebagai pekerja seks komersial (PSK). Krisis ekonomi, urbanisasi, dan perubahan sosial turut menyumbang pada peningkatan jumlah PSK. Dampaknya tidak hanya terbatas pada individu PSK, melainkan juga melibatkan keluarga, anak-anak, dan masyarakat secara luas, termasuk risiko tinggi terhadap penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Prevalensi PSK di Indonesia, terutama di SulSel, menunjukkan peningkatan yang berpotensi meningkatkan jumlah penderita HIV/AIDS, dengan pelanggan PSK sebagai kelompok risiko tertinggi.
Metode: Penelitian ini, bersifat kualitatif, dilakukan di Kota Makassar sejak Desember 2014 dengan menggunakan Responden Driven Sampling (RDS) untuk populasi tersembunyi seperti PSK.
Hasil: Faktor-faktor sosial yang memengaruhi keputusan menjadi PSK melibatkan aspek personal, dukungan sosial, dan perilaku seksual, sementara kesadaran terhadap penyakit menular seksual masih rendah.
Kesimpulan: Kendala untuk beralih profesi termasuk wawasan yang terbatas, lapangan pekerjaan yang terbatas, rendahnya upah, dan kurangnya pengetahuan tentang penyakit menular seksual
Analisis Riset Hipervirulensi dan Multi Drug Resisten Klebsiella Pneumoniae: Studi Bibliometrik Berbasis VOSviewer
Latar Belakang: Sifat co-transfer Gen pengkode hipervirulensi (hvKP) dan resistensi antibiotik (MDR-KP) Klebsiella Pneumoniae memfasilitasi konvergensi, membentuk superbug yang berpotensi menyebabkan wabah dengan gejala berat dan tak terobati. Untuk mengidentifikasi tema riset terbaru mengenai hvKP-MDR-KP, digunakan analisis berbasis co-occurance dari VOSviewer. Studi ini membantu mengubah metadata publikasi menjadi visualisasi kata kunci sesuai tema penelitian atau cluster pada disiplin ilmu tertentu, dan dianalisis berbasis publikasi dan keilmuan.
Isi: Riset hvKP dan MDR-KP mulai meningkat sejak tahun 2020, didominasi dari negara China (38 %), diteliti di berbagai bidang, terutama pada bidang mikrobiologi (41%), infeksi (38%) dan farmakologi (28%). Dari 39 artikel terpilih 39 kata kunci co-occurance, membentuk 5 cluster yang saling terkait.
Kesimpulan: Resistensi Carbapenem, prevalensi dan hipervirulensi Klebsiella pneumoniae merupakan kata kunci yg paling aktual, sehingga sangat disarankan menjadi tema riset terkait hvKP dan MDR-KP selanjutnya
Pengaruh Ekstrak Buah Tin dan Minyak Zaitun terhadap Berat Badan Tikus Putih
Latar belakang: Prevalensi obesitas telah meningkat di seluruh dunia dalam 50 tahun terakhir, dan mencapai tingkat pandemi. Banyak tumbuhan yang dikenal oleh masyarakat dan diketahui memiliki khasiat dalam menyembuhkan penyakit, diantaranya adalah buah Tin dan Zaitun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh ekstrak buah Tin dan minyak Zaitun terhadap berat badan tikus putih yang diinduksi diet tinggi lemak.
Metode: Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian true eksperimental dan desain penelitian pre-post test. Analisis statistik yang digunakan untuk melihat perbedaan pretest dan posttest pada semua kelompok adalah dengan menggunakan paired T-test dengan menggunakan SPSS.
Hasil: Didapatkan perubahan berat badan yang signifikan pada kelompok perlakuan III (KP III) yang diberikan perlakuan kombinasi ekstrak buah Tin dan minyak Zaitun selama 14 hari dengan p-value < 0,001.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh pada pemberian ekstrak buah Tin (Ficus carica L.) dan minyak Zaitun (Olea europaea. L) terhadap berat badan tikus yang diinduksi Diet Tinggi Lemak
Hubungan Pemberian ASI dengan Pertumbuhan dan Perkembangan pada Bayi Usia 0-6 Bulan
Latar belakang. Air Susu Ibu (ASI) merupakan indikator pembentuk utama dalam masa pertumbuhan dan perkembangan terutama pada bayi yang berusia 0-6 bulan. Tujuan penelitian mengetahui Hubungan Pemberian ASI Dengan Pertumbuhan dan Perkembangan Pada Bayi Usia 0-6 Bulan di UPT Puskesmas
Galesong
Metode: Metode yang digunakan yaitu observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian diambil dengan metode Purposive Sampling yaitu bayi usia 0-6 bulan serta memenuhi kriteria inklusi sebanyak 146 sampel.
Hasil: Untuk petumbuhan di dapatkan nilai p-value 0,001 (P<0,05) dan perkembangan di dapatkan nilai p-value 0,000 (P<0,05).
Kesimpulan:. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pemberian ASI dengan pertumbuhan dan perkembangan pada bayi
Pengaruh Infeksi Ascaris Lumbricoides terhadap Status Gizi pada Anak Usia 6-12 Tahun
Latar belakang: Ascaris lumbricoides merupakan nematoda usus atau cacing usus yang tertular melalui tanah yang menyebabkan penyakit Ascariasis. Infeksi kecacingan menyebabkan malabsorpsi dengan menghalangi daerah penyerapan mukosa usus halus, dimana status gizi merupakan ukuran seberapa baik kebutuhan gizi terpenuhi sebagai hasil keseimbangan antara kebutuhan dan masukan gizi. Infeksi kecacingan merupakan salah satu gangguan infeksi yang dapat mengakibatkan malnutrisi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian adalah anak usia 6-12 tahun di wilayah kerja Puskesmas Tabaringan Makassar, yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis dilakukan dengan uji chi square Fisher’s Exact Test.
Hasil: Penelitian dilakukan dengan jumlah sampel 55 anak, 8 anak (14,5%) positif terinfeksi Ascaris lumbricoides, dan 47 anak (85,5%) negatif. Di antara yang positif, 5 anak (62,5%) memiliki status gizi kurang; sementara dari yang negatif, 2 anak (25%) menunjukkan status gizi buruk.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh infeksi Ascaris lumbricoides terhadap status gizi pada anak usia 6-12 tahun