Jurnal Kesehatan Madani Medika (JKMM)
Not a member yet
    240 research outputs found

    PENGARUH KONSENTRASI EKSTRAK JERUK NIPIS (CITRUS AURANTIIFOLIA) TERHADAP MUTU GRANUL DAN TABLET EFFERVESCENT

    No full text
    Lime (Citrus aurantiifolia) is a fruit rich in vitamin C, which plays an important role in enhancing immune function. In this study, lime extract was utilized as an active ingredient due to its immunostimulant properties that help strengthen the body’s defense system. Lime-flavored effervescent tablets represent an innovative pharmaceutical dosage form that is practical, appealing in taste and appearance, and may increase consumer compliance. This dosage form also provides a refreshing effect resulting from the acid–base reaction that produces carbon dioxide (CO₂). This experimental study formulated four lime effervescent granule formulations with varying extract concentrations (0%, 6.25%, 12.5%, and 18.75%) using the wet granulation method. The granules were evaluated for organoleptic properties, particle size distribution, flow rate, angle of repose, compressibility, pH, and dissolution rate. Tablet evaluation included organoleptic assessment, weight uniformity, size uniformity, and disintegration time. The data were analyzed using SPSS software with a one-way analysis of variance (ANOVA). The results showed that all three formulations containing lime extract demonstrated good physical quality of the granules, with formulation F3 producing effervescent tablets of the best physical quality.Jeruk nipis (Citrus aurantiifolia) adalah buah yang kaya akan vitamin C yang berperan dalam meningkatkan kekuatan sistem imun. Dalam penelitian ini, ekstrak jeruk nipis digunakan sebagai zat aktif karena memiliki efek imunostimulan yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Tablet effervescent rasa jeruk nipis adalah terobosan dalam bentuk sediaan farmasi yang praktis, memiliki daya tarik baik dari segi bentuk maupun rasa, sehingga mampu meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk mengonsumsi obat. Sediaan ini juga memberikan efek penyegaran yang disebabkan oleh reaksi antara asam dan basa, menghasilkan gas karbon dioksida (CO₂). Fokus dari penelitian ini adalah untuk menilai kualitas fisik tablet effervescent dari jeruk nipis. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan merumuskan empat formula granul effervescent jeruk nipis, yang berbeda dalam variasi konsentrasi ekstrak jeruk nipis, termasuk kondisi tanpa ekstrak, 6,25%; 12,5%; dan 18,75%, menggunakan metode granulasi basah. Penilaian granula mencakup pengujian organoleptik, distribusi ukuran partikel, waktu aliran, sudut penumpukan, kompresibilitas, pH, dan kecepatan pelarutan. Di sisi lain, penilaian tablet meliputi pengujian organoleptik, konsistensi berat, uniformitas ukuran, dan waktu disintegrasi tablet. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS dengan pendekatan One-Way Analysis of Variance (ANOVA).Berdasarkan hasil penelitian terhadap tiga formula dengan variasi konsentrasi ekstrak jeruk nipis, diperoleh bahwa uji mutu fisik granul menunjukkan hasil yang baik, dan F3 menghasilkan tablet effervescent dengan mutu fisik terbaik

    PENGARUH RANGE OF MOTION (ROM) DAN MIRROR THERAPY TERHADAP KEKUATAN OTOT PADA LANSIA DENGAN STROKE DI POSYANDU LANSIA DI SLEMAN

    No full text
    Stroke is a condition in which blood flow to the brain is disrupted, resulting in muscle weakness that limits the daily functional abilities of older adults. Non-pharmacological therapies such as Range of Motion (ROM) and Mirror Therapy play an important role in stroke rehabilitation. This study aimed to examine the effect of ROM and Mirror Therapy on improving muscle strength among older adults with stroke. A quantitative quasi-experimental design with a pre-test–post-test control group was used. A total of 21 participants were divided into two groups: 11 participants in the experimental group received both ROM and Mirror Therapy, while 10 participants in the control group received only ROM therapy. Muscle strength was measured using the Manual Muscle Testing (MMT) instrument. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test, Paired Samples T-Test, and Mann–Whitney Test. The Wilcoxon test in the experimental group showed a significant increase in muscle strength (p = 0.005). The Mann–Whitney test revealed a significant difference between the post-test results of the control and experimental groups (p = 0.014), with the experimental group showing a higher mean score. The findings indicate that the combination of Range of Motion (ROM) and Mirror Therapy significantly improves muscle strength in older adults with stroke.Stroke adalah kondisi di mana aliran darah ke otak terganggu, menyebabkan kelemahan otot yang dapat membatasi aktivitas sehari-hari pada lansia. Terapi non-farmakologi seperti Range of Motion (ROM) dan Mirror Therapy merupakan bagian penting dari rehabilitasi stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi ROM dan Mirror Therapy terhadap peningkatan kekuatan otot pada lansia penderita stroke. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Quasi Eksperimen dan rancangan pre test - post test control group design. Total 21 sampel dibagi menjadi dua kelompok, yaitu 11 responden di kelompok eksperimen yang menerima terapi ROM dan Mirror Therapy, serta 10 responden di kelompok kontrol yang hanya menerima terapi ROM. Alat ukur yang digunakan adalah Manual Muscle Testing (MMT). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Ranks, Paired Samples T-Test dan Mann-Whitney Test. Hasil uji wilcoxon pada kelompok eksperimen, terdapat peningkatan kekuatan otot yang signifikan (p-value 0,005). Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara hasil post test kelompok kontrol dan kelompok eksperimen (p-value 0,014), di mana kelompok eksperimen memiliki nilai mean yang lebih tinggi. Terdapat pengaruh yang signifikan dari pemberian terapi kombinasi Range of Motion (ROM) dan Mirror Therapy terhadap peningkatan kekuatan otot pada lansia penderita stroke

    PENGARUH FORTIFIKASI SARI KACANG HIJAU DENGAN PEMANIS STEVIA TERHADAP KARAKTERISTIK ORGANOLEPTIK DAN TINGKAT KESUKAAN MINUMAN YOGURT

    No full text
    Fortification of mung bean (Vigna radiata) extract aims to enhance the nutritional content of yogurt. However, the distinctive sour taste of mung bean yogurt is often less preferred by consumers; therefore, stevia, a natural sweetener, was added to improve its flavor. This study aimed to evaluate the effect of mung bean extract fortification on the organoleptic characteristics and consumer preference of yogurt drinks, as well as to determine the formulation that meets acceptable pH and total titratable acidity (TTA) standards. Four yogurt formulations were prepared with different concentrations of mung bean extract: 0% (F1), 30% (F2), 60% (F3), and 90% (F4). The samples were analyzed for organoleptic properties, consumer preference, pH, and TTA. Data were analyzed using SPSS software. The results showed that the addition of mung bean extract significantly affected the aroma, taste, and viscosity of yogurt. Increasing concentrations of mung bean extract reduced consumer preference for aroma and taste. The pH values of fortified yogurts ranged from 3.73 to 4.42, while TTA values ranged from 0.16 to 0.95. Overall, the 30% mung bean extract formulation (F2) achieved the most favorable balance, with neutral preference scores and acceptable acidity levels.Fortifikasi sari kacang hijau (Vigna radiata) bertujuan untuk meningkatkan kandungan gizi dari yogurt. Rasa khas dari yogurt kacang hijau kurang disukai karena rasa asam yang dimilikinya sehingga perlu ditambahkan daun stevia untuk memperbaiki cita rasa yogurt. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari kacang hijau dengan karakter organoleptik dan tingkat kesukaan yang paling baik dengan nilai pH dan total asam tertitrasi yang memenuhi persyaratan. Penelitian dilakukan pada empat formula yogurt dengan variasi sari kacang hijau 0% (F1), 30%(F2), 60% (F3) 90% (F4). Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organolpetik, tingkat kesukaan, pH dan nilai total asam tertitrasi (TAT). Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS. Uji organoleptik menunjukkan penambahan sari kacang hijau mempengaruhi aroma, rasa dan kekentalan. Aroma dan rasa yang dihasilkan yogurt dengan fortifikasi kacang hijau yang lebih tinggi menurunkan tingkat kesukaan terhadap produk. Nilai pH yogurt terfortifikasi kacang hijau berkisar 3,73-4,42 dan nilai TAT adalah 0,16-0,95. Secara keseluruhan, formula dengan sari kacang hijau 30% yang terbaik dengan tingkat kesukaan yang netral dan tingkat keasaman yogurt sesuai persyaratan

    DETERMINAN FREKUENSI KONSUMSI MINUMAN BERPEMANIS DALAM KEMASAN DI SMAIT MAHAD RAHMANIYAH AL ISLAMY

    No full text
    Consumption of sugar-sweetened beverages (SSBs) among adolescents has shown an increasing trend. Excessive intake of SSBs can increase the risk of non-communicable diseases (NCDs). This study aimed to analyze the factors associated with the frequency of SSB consumption among students at SMAIT Mahad Rahmaniyah Al Islamy, Bogor Regency, West Java, in 2025. A cross-sectional study design was employed using primary data collected through questionnaires distributed to students. The sampling technique applied was total sampling, involving 115 respondents. Data were collected using a validated and reliable questionnaire. Data analysis consisted of univariate analysis, bivariate analysis using the Chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that taste preference, pocket money, accessibility, peer influence, and parental control were significantly associated with the frequency of SSB consumption (p < 0.05). The factor most strongly associated with consumption frequency was pocket money. In conclusion, the determinants of SSB consumption frequency among adolescents include taste preference, pocket money, accessibility, peer influence, and parental control. Interventions are needed to promote healthy beverage preferences and enhance social control over SSB consumption among adolescents.  Konsumsi Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK) pada kalangan remaja menunjukkan kecenderungan meningkat. Asupan MBDK yang berlebihan berpotensi menimbulkan risiko Penyakit Tidak Menular (PTM). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan frekuensi konsumsi MBDK di SMAIT Mahad Rahmaniyah Al Islamy kabupaten Bogor, Jawa Barat tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data primer yang dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner kepada siswa/i. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah responden sebanyak 115 orang. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data meliputi analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-square, serta analisis multivariat dengan Regresi Logistik Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tingkat kesukaan, uang saku, aksesibilitas, teman sebaya dan kontrol orang tua berhubungan secara statistik dengan frekuensi konsumsi MBDK (p<0,05). Variabel yang paling berhubungan dengan frekuensi konsumsi MBDK adalah uang saku. Penelitian ini menyimpulkan bahwa determinan frekuensi konsumsi MBDK adalah tingkat kesukaan, uang saku, aksesibilitas, teman sebaya dan kontrol orang tua. Diperlukannya intervensi yang dapat menekankan pembentukan preferensi sehat serta kontrol sosial terhadap konsumsi MBDK dikalangan remaja. &nbsp

    PENGARUH EDUKASI KESEHATAN DENGAN MEDIA VIDEO TERHADAP PENGETAHUAN PRAKONSEPSI PADA REMAJA PUTRI

    No full text
    Introduction: Premarital sex among adolescents leads to unplanned pregnancies. Pregnant adolescents aged 10-19 years have a higher risk of eclampsia, endometriosis, systemic infections, and undergoing abortion. Adolescents require reproductive health education, particularly related to preconception, to increase knowledge about pregnancy preparation using appropriate, interesting, and easily accessible media, such as video. Aims: The aim of this study is to find out the influence of health education using video media on preconception knowledge in female adolescents in SMA Muhammadiyah 1 Sragen. Methods: The type of study was quantitative using a pre-experimental method with a one-group pre-test and post-test design. The population of the study was 245 respondents. The sampling technique used was purposive sampling with 71 respondents. The instrument of the study was a preconception knowledge questionnaire, which has been tested for its validity and reliability. Results: The results of the study showed that the average age of respondents was 17 years old. Before receiving health education using video media, 47 respondents (66,2%) had a moderate knowledge level, and after health education using video media, 63 respondents (88,7%) had a good knowledge level. This shows that video media has proven to be effective as an educational tool in increasing adolescent girls' understanding of preconceptions. The results of the Wilcoxon test showed a p-value of 0,000 (p-value<0,05). Conclusion: The results of the analysis showed that there is an influence of health education using video media on preconception knowledge in female adolescents in SMA Muhammadiyah 1 Sragen.Pendahuluan: Perilaku seksual di luar nikah pada remaja berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan. Ibu hamil pada remaja usia 10-19 tahun berisiko tinggi mengalami eklampsia, endometriosis, infeksi sistemik serta melakukan aborsi. Remaja membutuhkan edukasi kesehatan reproduksi terutama terkait prakonsepsi untuk meingkatkan pengetahuan tentang persiapan kehamilan, dengan menggunakan media yang tepat, menarik dan mudah diakses oleh remaja seperti video. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh edukasi kesehatan dengan media video terhadap pengetahuan prakonsepsi pada remaja putri di SMA Muhammadiyah 1 Sragen. Metode: Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, menggunakan metode pre-experimental dengan one grub pre and post test design. Populasi penelitian berjumlah 245 responden, teknik sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah sampel 71 responden. Instrument penelitian berupa kuesioner pengetahuan prakonsepsi yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan usia rata-rata responden 17 tahun. Tingkat pengetahuan sebelum dilakukan edukasi kesehatan dengan media video adalah cukup dengan jumlah 47 responden (66,2%) dan sesudah dilakukan edukasi kesehatan dengan media video adalah baik dengan jumlah 63 responden (88,7%). Hal ini menunjukkan bahwa media video terbukti efektif sebagai sarana edukatif dalam meningkatkan pemahaman remaja putri tentang prakonsepsi. Kesimpulan: Ada pengaruh edukasi kesehatan dengan media video terhadap pengetahuan prakonsepsi pada remaja putri di SMA Muhammadiyah 1 Sragen dengan p value 0,000 (p value<0,05)

    HUBUNGAN KARAKTERISTIK SOSIODEMOGRAFIS DENGAN KEJADIAN DEPRESI PASCA PERSALINAN PADA IBU NIFAS

    No full text
    Background: Postpartum depression (PPD) is a common mental health problem among postpartum mothers that adversely affects the well-being of both mother and child. The prevalence of PPD in Indonesia is considerably higher than in many other developing countries. Sociodemographic factors play a crucial role as primary determinants of PPD. However, a local predictive model that simultaneously considers these variables is still lacking. Objective: To examine the association between sociodemographic characteristics (education, income, parity, pregnancy status, and age) and the occurrence of postpartum depression. Methods: This analytical observational study with a cross-sectional design was conducted among 84 postpartum mothers in Indonesia between August 2024 and July 2025. Samples were obtained using accidental sampling. Data were collected using the Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). The Chi-square test and bivariate logistic regression were employed for data analysis. Results: Husbands’ income below the regional minimum wage increased the risk of PPD by 13.5 times (95% CI: 3.6–50.7; p<0.001). Low educational level increased the risk by 3.5 times (95% CI: 1.2–10.2; p=0.024), primiparity by 2.7 times (95% CI: 1.0–7.1; p=0.046), and unplanned pregnancy by 10.1 times (95% CI: 2.8–36.4; p<0.001). Maternal age was not significantly associated with PPD (p=0.65). Conclusion: Sociodemographic factors such as low income, low educational attainment, and primiparity are key determinants of postpartum depression. Early detection and interventions targeting social risk factors are essential to reduce the prevalence of PPD.Latarbelakang: Depresi pasca-persalinan (PPD) merupakan masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada ibu nifas dan berdampak terhadap kesejahteraan ibu dan anak dengan prevalensi di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan negara berkembang lainnya. Faktor sosiodemografis sebagai determinan utama dalam kejadian PPD. Belum tersedia model prediksi lokal yang mempertimbangkan variabel-variabel tersebut secara bersamaan. Tujuan: Menganalisis hubungan antara karakteristik sosiodemografis (pendidikan, pendapatan, paritas, status kehamilan, dan usia) dengan kejadian depresi postpartum. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada 84 ibu nifas di Indonesia dari Agustus 2024 hingga Juli 2025. Pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik bivariat. Hasil: Pendapatan suami < UMR meningkatkan risiko PPD 13,5 kali (95% CI 3,6–50,7; p<0,001), pendidikanrendah3,5kali(95%CI1,2– 10,2;p=0,024),primipara2,7kali(95%CI1,0–7,1;p=0,046),dan kehamilan tidak direncanakan 10,1 kali (95% CI 2,8–36,4; p<0,001). Usia tidak berhubungan signifikan (p=0,65). Kesimpulan: Faktor sosiodemografis seperti pendapatan rendah, pendidikan rendah, dan primiparitas merupakan determinan utama kejadian depresi postpartum. Deteksi dini dan intervensi berbasis risiko sosial sangat diperlukan untuk menurunkan prevalensi depresi postpartum. &nbsp

    Gambaran Perilaku Remaja Putri Dalam Mengkonsumsi tablet tambah darah di SMA NU Gresik dan MAN X Sidoarjo Tahun 2024

    No full text
    Anemia remains a significant health challenge for adolescent girls in Indonesia. Although a nationwide blood supplementation program has been implemented, the compliance rate of blood supplement consumption is still low. This study aimed to describe the behavior of adolescent girls in consuming TTD at SMA NU Gresik and MAN Sidoarjo, and identify supporting and inhibiting factors, including the role of schools and health center. This study used a qualitative approach with interviews, questionnaires, and Focus Group Discussion (FGD) methods. The results showed that differences in school policies, inaccurate understanding, negative perceptions, and unhealthy lifestyles were the main factors for low TTD consumption compliance. An attractive and consistent educational approach, as well as collaboration between schools, health centers, and parents are needed to increase awareness and compliance of adolescent girls in consuming TTD regularly.Anemia masih menjadi tantangan kesehatan yang signifikan bagi remaja putri di Indonesia. Meskipun program suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) telah dilaksanakan secara nasional, tingkat kepatuhan konsumsi TTD masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perilaku remaja putri dalam mengkonsumsi TTD di SMA NU Gresik dan MAN Sidoarjo, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, termasuk peran sekolah dan puskesmas. Penelitian ini menggunakan pendekatakan kualitatif  dengan metode  wawancara, kuesioner, dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan kebijakan sekolah, pemahaman yang kurang tepat, persepsi negatif, serta gaya hidup tidak sehat menjadi faktor utama rendahnya kepatuhan konsumsi TTD. Diperlukan pendekatan edukatif yang menarik dan konsisten, serta kolaborasi antara sekolah, puskesmas, dan orang tua untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan remaja putri dalam mengkonsumsi TTD secara rutin

    Hubungan Pola Asuh Dengan Status Gizi Balita Di Posyandu Tapak Dara Bangunjiwo Kasihan Bantul

    Get PDF
    Anak menjadi salah satu aset bangsa yang mempunya potensi untuk mencapai keberhasilan pembangunan suatu bangsa. Perlu adanya perhatian lebih terutama dalam hal gizi anak sejak dini. Status gizi yang baik sangat ditentukan oleh pemberian makanan yang dikonsumsi disesuaikan dengan kebutuhan gizi balita, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara normal, sehat dan kuat. Status gizi pada anak dapat dipengaruhi oleh sebab tidak langsung dan langsung. Sebab langsung terdiri dari kecukupan makanan dan kondisi kesehatan, sedangkan sebab tidak langsung diantaranya adalah pola asuh. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara pola asuh dengan status gizi balita. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional, dimana data diambil dari Posyandu Tapak Dara, Bangunjiwo Kasihan Bantul pada agustus sd desember 2023 dengan populasi semua ibu yang memiliki anak balita dengan sampel sebanyak 40 responden yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik random sampling. Pengumpulan data meliputi coding, editing, dan tabulating, kemudian data dianalisis secara computer dengan spearman rank test dengan P value = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan dari hasil uji spearman rank test menunjukkan bahwa ada hubungan pola asuh makan dengan status gizi balita dengan nilai P value 0,001 < 0,005. Kesimpulan penelitian ada hubungan antara pola asuh dengan status gizi balita

    Pengaruh Relaksasi Napas Dalam Terhadap Nyeri Pasien Pasca Pembedahan

    Get PDF
    Latar belakang: Pembedahan merupakan tindakan yang dapat menimbulkan trauma jaringan dan rasa nyeri. Oleh karena itu, dilakukan anestesi, tetapi ketika efek anestesi hilang akan muncul rasa nyeri yang dapat mempengaruhi sistem tubuh baik fisik maupun psikis. Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri pasca pembedahan salah satunya relaksasi nafas dalam, teknik ini dapat memanipulasi rasa nyeri yang dirasakan pasien. Tujuan: Mengetahui pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap nyeri pasien pasca pembedahan. Metode: Penelitian pre-eksperimental one group pre-test and post-test ini melibatkan 18 pasien pasca pembedahan. Skala nyeri diukur menggunakan numeric rating scale. Data penelitian dianalisis menggunakan uji wilcoxon. Hasil: Sebelum intervensi, mayoritas skala nyeri pasien 3. Sesudah intervensi, sebanyak 9 pasien memiliki skala nyeri 1 (50%), 3 pasien skala nyeri 2 (17%), dan 3 pasien skala nyeri 3 (17%). Terdapat 16 pasien mengalami penurunan skala nyeri (negative ranks 16, ties 2) dengan nilai median (min-max) pre 3-7 post 1-5, mean 3,89-2,11, SD 1,278-2,11, p-value 0,000 (p-value < 0,05), terdapat pengaruh relaksasi nafas dalam terhadap nyeri pasien pasca pembedahan. Kesimpulan: Relaksasi napas dalam dapat membantu menurunkan nyeri pada pasien pasca pembedahan sehingga diharapkan intervensi ini menjadi salah satu perlakuan tetap untuk menerunkan skala nyeri utamanya pasca pembedahan

    Gambaran Pengetahuan Calon Pengantin (CATIN) Tentang Gizi Prakonsepsi Di KUA Wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta

    Get PDF
    Latar Belakang: Gizi pada masa remaja putri atau saat masa konsepsi sangat penting untuk kelangsungan dan kesehatan ibu, pertumbuhan janin, dan pertumbuhan anak usia dini. Gizi prakonsepsi ialah upaya untuk mempertimbangkan status gizi calon pengantin, untuk memastikan agar tercapai keluarga yang sehat dan keturunan yang sehat. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Calon Pengantin (CATIN) tentang Gizi Prakonsepsi di KUA Wilayah Kabupaten Sleman Yogyakarta. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan jumlah responden sebanyak 34 responden, pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling melalui pengisian kuesioner kemudian dianalisis menggunakan metode Univariat, penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari – Agustus 2024 di KUA Kapanewon Gamping dan KUA Kapanewon Mlati Sleman Yogyakarta. Hasil Penelitian: Karakteristik sebagian besar responden berusia 26 – 30 tahun sebanyak 17 responden (50,0%), tingkat pendidikan sebagian besar perguruan tinggi yaitu sebanyak 23 responden (67,6%), bekerja sebagai karyawan swasta sebanyak 21 responden (61,8%), sumber informasi yang digunakan adalah internet sebanyak 18 responden (52,9%). Tingkat pengetahuan Calon Pengantin di KUA Kapanewon Gamping dan KUA Kapanewon Mlati sebagian besar kategori pengetahuan baik (97,1%). Kesimpulan: Sebagian besar pengetahuan calon pengantin yang mendaftar menikah di KUA Kapanewon Gamping Sleman Yogyakarta dan KUA Kapanewon Mlati Sleman Yogyakarta memiliki pengetahuan yang baik yaitu sebanyak 33 calon pengantin (97,1%)

    206

    full texts

    240

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Madani Medika (JKMM)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇