Midwifery Journal of Akbid Griya Husada Surabaya / Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
Not a member yet
    50 research outputs found

    A PENGARUH FAKTOR USIA IBU TERHADAP PENGETAHUAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI USIA 6-12

    No full text
    Introduction: Based on Household Health Survey (SKRT) states that under 6 months of age has been given complementary feeding of milk, so it can lead to various health problems in infants, such as diseases of the digestive system. the purpose of this study is to know the description of mother's knowledge about the provision of complementary feeding of milk in infants aged 6-12 months. Method: This research is descriptive research. The population in this study were mothers who had infants aged 6-12 months in RW 02 Village Sidokepung Buduran District Sidoarjo District. A total of 45 respondents. The sample size was 40 respondents. Data were collected using questionnaires. Sampling using probability sampling technique with simple random sampling technique, data analysis in the form of tables and cross tabulation. Result: The results showed that mothers aged > 35 years are well knowledgeable (16.7%). Discussion: After processed in percentage, it can be concluded that mother's knowledge about complementary feeding of baby at age 6-12 months is less. Suggestions for health workers to further improve counseling about the purpose of complementary feeding, and timing for complementary feeding, so that mothers understand the risks of complementary feeding when not on time.   Keywords : Knowledge, age, Breastfeeding CompanionPendahuluan: Berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menyatakan bahwa di bawah usia 6 bulan telah diberikan susu ASI secara komplementer, sehingga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada bayi, seperti penyakit pada sistem pencernaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang pemberian ASI komplementer susu pada bayi usia 6-12 bulan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi usia 6-12 bulan di RW 02 Desa Sidokepung Kecamatan Buduran Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 45 responden. Ukuran sampel adalah 40 responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner. Pengambilan sampel menggunakan teknik probability sampling dengan teknik simple random sampling, analisis data berupa tabel dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berusia> 35 tahun berpengetahuan luas (16,7%). Diskusi: Setelah diolah dalam persentase, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 6-12 bulan kurang. Saran untuk petugas kesehatan untuk lebih meningkatkan konseling tentang tujuan pemberian makanan pendamping ASI, dan waktu untuk pemberian makanan tambahan, sehingga ibu memahami risiko pemberian makanan pendamping ASI pada saat yang  tidak tepat.   Kata kunci: Pengetahuan, usia, pendamping AS

    PERBEDAAN EFFLEURAGE MASSAGE DENGAN TEKNIK KOMPRES HANGAT TERHADAP INTENSITAS NYERI IBU INPARTU FASE AKTIF

    Full text link
    Intensitas nyeri ibu bersalin dapat diturunkan dengan berbagai cara seperti effleurage massage atau kompres hangat. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan effleurage  massage dengan teknik kompres hangat terhadap intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif. Desain pra-eksperimen one group pretest-postest design. Populasi semua ibu bersalin fase aktif sebanyak 24 orang dengan sampel 20 responden diambil purposive sampling. Variabel bebas effleurage massage, teknik kompres hangat dan terikatnya intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis dengan uji t 2 sampel bebas. Hasil penelitian  hampir seluruh responden sebelum diberikan effleurage massage mengalami nyeri sedang yaitu 8 responden (90%), hampir seluruh responden sebelum kompres hangat mengalami nyeri sedang (90%), hampir seluruh responden sesudah diberikan effleurage massage mengalami nyeri sedang yaitu (90%), hampir seluruh responden sesudah kompres hangat mengalami nyeri ringan (90%), ada perbedaan effleurage massage dengan kompres hangat terhadap intensitas nyeri ibu bersalin fase aktif (uji T p value  0,008<0,05 Ho ditolak). Hal ini disebabkan kompres hangat lebih melebarkan pembuluh darah sehingga menurunkan nyeri sampai tingkat ringan. Disimpulkan kompres hangat lebih efektif menurunkan nyeri ibu bersalin fase aktif. Disarankan agar tempat peenelitian menetapkan kompres hangat sebagai salah satu metode menurunkan nyeri persalinan.   Kata kunci : effleurage, kompres hangat, nyeri persalinan &nbsp

    PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DENGAN KEJADIAN DIARE

    Full text link
    The incidence and mortality of diarrhea in children in developing countries is still high. Moreover, in children who get formula milk, the number is significantly higher compared to children who get breast milk, which protects babies against infection. Data obtained at the DKT Hospital in Gubeng Pojok Surabaya regarding data on the incidence of diarrhea in the last three years in infants, starting from 2014-2016, concluded that from 2014-2016 at the Hospital of Gubeng Pojok Surabaya, there was an increase in the incidence of diarrhea in infants aged 0- 6 months as much as 3-4% and exceeding the tolerance level, while the tolerance rate from the Hospital of Gubeng Pojok Surabaya DKT to the incidence of diarrhea in infants is 10%. Method: This study uses analytic design with Cross Sectional Survey. The study population was all infants aged 0-6 months at the DKT Gubeng Pojok Surabaya Hospital with 1,849 infants. Sampling is done by probability sampling with systematic random sampling and a sample of 225 infants is obtained. Results: The results showed that the majority of infants who received PASI had diarrhea of ​​124 infants (86.71%) compared to infants who received ASI did not suffer from diarrhea of ​​62 infants (75.61%). The Chi-Square test shows the following results, that x2 counts> x2 tables (87.84> 3.84), which means there is a relationship between PASI giving to infants aged 0-6 months with the incidence of diarrhea. Discussion: there is a relationship between PASI giving to infants aged 0-6 months with the incidence of diarrhea in hospitals DKT Gubeng Pojok Surabaya. Therefore, midwives as health workers need to encourage and motivate mothers to continue to give exclusive breastfeeding 0-6 months.Angka kejadian dan kematian diare pada anak di negara-negara yang sedang berkembang masih tinggi. Lebih-lebih pada anak yang mendapat susu formula, angka tersebut lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan anak-anak yang mendapat ASI, yang melindungi bayi terhadap infeksi. Data yang diperoleh di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya mengenai data kejadian diare dalam tiga tahun terakhir pada bayi yakni mulai tahun 2014-2016 dapat disimpulkan bahwa dari tahun 2014-2016 di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya terjadi peningkatan kejadian diare pada bayi usia 0-6 bulan sebanyak 3-4% dan melebihi angka toleransi,  sedangkan angka toleransi dari Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya terhadap kejadian diare pada balita sebesar 10%. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan Survey Cross Sectional. Populasi penelitian adalah Seluruh bayi berusia 0-6 bulan di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya sebanyak 1.849 bayi. Pengambilan sampel secara probability sampling dengan sistematik random samplingdan didapatkan besar sampel 225 bayi.  Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar bayi yang mendapatkan PASI menderita diare sebesar 124 bayi (86,71 %) dibandingkan dengan bayi yang mendapatkan ASI tidak menderita diare sebesar 62 bayi (75,61 %). Dengan uji Chi-Square didapatkan hasil sebagai berikut, bahwa x2 hitung > x2 tabel (87,84 > 3,84), yang artinya ada hubungan antara pemberian PASI pada bayi usia 0-6 bulan dengan kejadian diare. Diskusi: ada hubungan antara pemberian PASI pada bayi usia 0-6 bulan dengan kejadian diare di rumah sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya. Oleh karena itu, bidan sebagia tenaga kesehatan perlu menggalakan dan memotiuvasi para ibu untuk terus memebrikan ASI eksklusif 0-6 bulan

    TINGKAT KEPUASAN IBU BERSALIN BERDASARKAN UMUR, PARITAS, PENDIDIKAN TERHADAP PELAYANAN KEBIDANAN

    Full text link
    In simple terms, satisfaction is an attitude based on perceived quality of the patient. Patient satisfaction depends on the appearance of services offered in relation to his expectations. Quality midwifery services are midwifery services that can satisfy every user of midwifery services according to the level of satisfaction of the average population, and implementation in accordance with the code of ethics and professional service standards applied. Based on a preliminary study at Anugerah Surabaya RB on April 5, 2018, 4 people were less satisfied with midwifery services provided. The purpose of the study was to determine the level of satisfaction of maternity services for midwifery services. Method: This study used a descriptive method with accidental sampling technique in which sampling was carried out on individuals who were easily found with a population of 72 mothers giving birth using a questionnaire as a research instrument. Results: Based on the results of research from 72 mothers who visited Anugerah Surabaya RB, 9.7% felt very satisfied with midwifery services, 87.5% were satisfied with midwifery services and 2.8% were dissatisfied with midwifery services. Discussion: With looking at these results it can be concluded that maternal satisfaction can be influenced by the midwifery services provided. Therefore health professionals must pay attention to comfort, friendliness and continuous and continuous costs to the community, especially women giving birth to the services provided, so that mothers can feel more satisfied with the services provided both from the place of delivery, health care workers and eligibility costs provided are in accordance with the services provided. But if there is a shortage of services, it is expected that the mother can provide advice to health workers.Secara sederhana kepuasan adalah suatu sikapyang berdasarkan persepsi mutu yang dirasakan pasien. Kepuasan pasien tergantung kepada penampilan jasa pelayanan yang ditawarkan hubungannya dengan harapannya.Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang diterapkan.Berdasarkan studi pendahuluan di  RB Anugerah Surabaya pada tanggal 5 April 2018 didapatkan 4 orang kurang puas Terhadap pelayanan kebidanan yang diberikan.Tujuan dari penelitian adalah mengetahui tingkat kepuasan ibu bersalin Terhadap pelayanan kebidanan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik accidental sampling yang pengambilan sampelnya dilakukan pada individu yang mudah ditemui dengan populasi 72 ibu bersalin dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian dari 72 ibu bersalin yang berkunjung di RB Anugerah Surabaya didapatkan 9,7 % merasa sangat puas terhadap pelayanan kebidanan, 87,5 % merasa puas terhadap pelayanan kebidanan dan 2,8 %  merasa tidak puas terhadap pelayanan kebidanan Diskusi: Dengan melihat hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan ibu bersalin dapat dipengaruhi oleh pelayanan kebidanan yang diberikan. Oleh karena itu tenaga kesehatan harus memperhatikan kenyamanan, keramahan petugas dan biaya secara terus menerus dan berkesinambungan pada masyarakat khususnya ibu bersalin Terhadap pelayanan yang diberikan, yaitu agar ibu bersalin dapat merasa lebih puas dengan pelayanan yang diberikan baik dari tempat bersalin, tanggapan petugas kesehatan dan kelayakan biaya yang diberikan sesuai dengan pelayanan yang diberikan. Tetapi apabila ada kekurangan dalam pelayanan diharapkan ibu dapat memberikan saran bagi petugas kesehata

    PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI USIA 6 BULAN – 2 TAHUN

    Full text link
    Diarrhea is more frequent defecation with a more runny consistency. Based on the results of the secondary data survey at BPS Ny. Ayu, the incidence of diarrhea in 2016 is still high from the target of 21.36%. Diarrhea can be caused because babies are not given exclusive breastfeeding, if the incidence of diarrhea is not treated, dehydration will occur and have a bad impact on the baby. Therefore this problem is deemed necessary to do research that aims to determine the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of diarrhea in BPS Ny. Ayu. Method: This study uses analytic design using a cross sectional design. Sampling is done by probability sampling with sistematic random sampling technique with a population of all infants aged 6 months - 2 years as many as 628 people and a total sample of 199 people. Secondary data collection from child registers. The results of the study were made frequency tables, cross tabulations and analysis by chi-square test with = 0.05. Results: Infants who were not given exclusive breastfeeding were 53.77%, and infants suffering from diarrhea were 50.25%. Based on the results of the chi-square test on exclusive ASI obtained χ2 Calculate> >2table which is 6.8> 3.84 so that H0 is rejected. Discussion: From the results of the study concluded that there is a relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of diarrhea. Therefore to reduce the incidence of diarrhea, health workers must provide IEC and counseling on the importance of exclusive breastfeeding and things that might occur if not given exclusive breastfeeding, in order to create healthy babies.Diare adalah buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi yang lebih encer. Berdasarkan hasil survei data sekunder di BPS Ny. Ayu, angka kejadian diare pada tahun 2016 masih tinggi dari target yaitu sebesar 21,36%. Diare dapat disebabkan karena bayi tidak diberikan ASI eksklusif, jika kejadian diare tidak ditangani akan terjadi dehidrasi dan membawa dampak yang buruk pada bayi. Oleh karena itu masalah ini dipandang perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare di BPS Ny. Ayu. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel secara probability sampling dengan teknik sistematic random sampling dengan populasi seluruh bayi usia 6 bulan – 2 tahun sebanyak 628 orang dan jumlah sampel sebanyak 199 orang. Pengambilan data secara sekunder dari register anak. Hasil penelitian dibuat tabel frekuensi, tabulasi silang dan analisa dengan uji chi-square dengan a = 0,05. Hasil: Bayi yang tidak diberikan ASI eksklusif sebesar 53,77%,dan bayi yang menderita diare sebesar 50,25%. Berdasarkan hasil uji chi-square pada pemberian ASI eksklusif didapatkan χ2Hitung  > χ2tabel yaitu 6,8 > 3,84 sehingga H0 ditolak. Diskusi: Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare. Oleh karena itu untuk menurunkan angka kejadian diare maka petugas kesehatan harus memberi KIE dan penyuluhan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif dan  hal - hal yang mungkin terjadi jika tidak diberikan ASI eksklusif, agar menciptakan bayi yang sehat

    TINGKAT UMUR DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN PRE-EKLAMPSIA

    Full text link
    Pre-eclampsia is a disease with signs of hypertension, edema and proteinuri that arise due to pregnancy that occurs in the third quarter (Hanifa, 2002). In the last 3 years the incidence of pre-eclampsia in Brawijaya Hospital Surabaya in 2014 - 2015 has increased by 0.84% ​​and an increase from 2015 - 2016 of 1.12%. The pre-eclampsia event in 2017 described the incidence of pre-eclampsia in pregnant women based on age and parity in the period January-June 2017 and the tolerance rate according to the East Java Health Office at 5% could have an impact on prematurity until the death of the fetus in the womb, whereas in mothers there is inpending eclampsia up to eclampsia, and it can be a death in the mother. Factors that can increase the incidence of pre-eclampsia, ie at the age of <20 years and> 35 years, tend to experience pre-eclampsia and in multigravida pre-eclampsia can occur because the mother's uterus was initially empty without a fetus and pregnancy. Method: The study used the descriptive method of the study population were all pregnant women who examined in January - June 2017 as many as 530 people. The study sample consisted of 86 research people using systematic random sampling. Results: The results of the study showed that the incidence of pre-eclampsia was 15 people (17.44%), the majority of pregnant women> 35 were 12 people (27.27%) with a total of 6 people (27.27%). At the age of the majority of occurrences of pregnant women who experience pre-eclampsia occur at the age of ≥ 35 years as many as 12 people (27.27%). Whereas in the parity it was found that the majority of the cases of pregnant women who had pre-eclampsia occurred in the community as many as 6 people (27.27%). Discussion: It can be concluded that the incidence of pre-eclampsia is influenced by age and parity. Therefore, to reduce the incidence of pre-eclampsia early and routine examination is needed in pregnancy, so that complications can be detected early and immediately treat it, regulate food diets and expect pregnancies at reproductive age (20-35 years) so that pre-eclampsia in mothers getting pregnant can be handled quickly and precisely.Pre - eklamsia adalah penyakit dengan tanda – tanda hipertensi, edema dan proteinuri yang timbul karena kehamilan yang terjadi dalam triwulan 3 (Hanifa,2002). Dalam 3 tahun terakhir ini kejadian pre – eklamsia di RS Brawijaya Surabaya pada tahun 2014 - 2015 mengalami peningkatan sebesar 0,84% dan terjadi peningkatan dari tahun 2015 – 2016 sebesar 1,12%. Kejadian pre - eklamsia pada tahun 2017 menggambarkan kejadian pre – eklamsia pada ibu hamil berdasarkan umur dan paritas periode Januari – Juni 2017 dan angka toleransi menurut Dinkes Jatim yaitu sebesar 5% bisa berdampak pada partus prematurus sampai dengan kematian janin dalam rahim, sedangkan pada ibu bisa terjadi inpending eklamsia sampai dengan eklamsia, dan bisa menjadi kematian pada ibu. Faktor yang dapat meningkatkan kejadian pre eklamsia yaitu pada umur <20 tahun maupun > 35 tahun cenderung mengalami pre eklamsia dan pada multigravida dapat terjadi pre eklamsia karena semula rahim ibu kosong tanpa ada janin kemudian terjadi kehamilan.  Metode: Penelitian menggunakan metode deskriptif populasi penelitian adalah semua ibu hamil yang periksa bulan Januari – Juni 2017sebanyak 530 orang sampel penelitian sebanyak 86 orang penelitian secara sistematik random sampling. Hasil: Hasil penelitian didapatkan kejadian pre-eklamsia sebanyak 15 orang (17,44%) ibu hamil mayoritas > 35 sebanyak 12 orang ( 27,27%) dengan grandemulti sebanyak 6 orang (27,27%). Pada umur didapatkan mayoritas kejadian ibu hamil yang mengalami pre-eklamsia terjadi pada umur ≥ 35 tahun sebanyak 12 orang (27,27%). Sedangkan pada paritas didapatkan mayoritas kejadian ibu hamil yang mengalami pre-eklamsia terjadi pada grademulti sebanyak 6 orang (27,27%). Diskusi: Hal ini dapat disimpulkan bahwa kejadian pre-eklamsia dipengaruhi umur dan paritas. Oleh karena itu, untuk menurunkan kejadian pre - eklamsia diperlukan pemeriksaan sejak dini dan rutin pada kehamilan, sehingga dapat dideteksi dini adanya komplikasi dan segera mengobatinya, mengatur diet makanan dan diharapkan kehamilan pada umur reproduksi (20-35 tahun) sehingga pre-eklamsia pada ibu hamil dapat ditangani dengan cepat dan tepat

    TINGKAT KARAKTERISTIK (Umur, Paritas, Pendidikan) IBU HAMIL TENTANG KEJADIAN KEHAMILAN RESIKO TINGGI

    Full text link
    High-risk pregnancy is pregnancy with a state of normal deviation that can directly cause morbidity and death for both mother and baby (Dinkes jatim, 2010). The high risk pregnancy tolerance rate according to the East Java Health Office in 2010 is 20%. In the last 3 years the incidence of high-risk pregnancies in the Polindes of Sidorejo Village in 2014-2016 has increased, ie from 2014 to 2015 it increased by 3.55%. While from 2015 to 2016 it decreased by 2.45%, but this is still above the tolerance level. The purpose of this study was to describe the incidence of high-risk pregnancies based on age, parity and education. Method: In this study the descriptive method was used in which the sampling was done by total sampling with a sample size of 194 people. The research instrument by utilizing secondary data by looking at the pregnancy register data in the Polindes of Sidorejo Village was then processed using frequency tabulation and cross tabulation. Results: Based on the results of the study it was found that the incidence of high-risk pregnancies was 71 people (36.60%). At the age of the majority of high risk pregnancies were found at age ≥ 35 years as many as 39 people (92.86%). Parity was found that the majority of high risk pregnancies occurred in pregnant women with grandemultipara parity of 39 people (70.91%). Whereas in education the majority of high risk pregnancies occur in mothers with primary education as many as 40 people (68.97%) Discussion: From the results of the study it can be concluded that the majority of high-risk pregnancies occur at ≥ 35 years old, grandemultipara and have basic education. Therefore, to reduce the incidence of high-risk pregnancies, an examination is required early in pregnancy, so that it can be detected if there are complications and can immediately treat it.Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan dengan keadaan penyimpangan dari normal yang secara langsung dapat menyebabkan kesakitan dan kematian bagi ibu maupun bayinya (Dinkes jatim, 2010). Angka toleransi kehamilan risiko tinggi menurut Dinkes Jatim tahun 2010 yaitu sebesar 20%. Dalam 3 tahun terakhir ini kejadian kehamilan risiko tinggi di Polindes Desa Sidorejo pada tahun 2014-2016 mengalami peningkatan, yaitu dari tahun 2014 ke tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 3,55%. Sedangkan dari tahun 2015 ke tahun 2016 mengalami penurunan sebesar 2,45%, tetapi hal ini masih diatas angka toleransi. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan kejadian kehamilan risiko tinggi berdasarkan umur, paritas dan pendidikan. Metode: Dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif yang pengambilan sampelnya dilakukan secara total sampling dengan jumlah sampel sebesar 194 orang. Instrumen penelitian dengan memanfaatkan data sekunder dengan melihat data register kehamilan di Polindes Desa Sidorejo kemudian diolah menggunakan tabulasi frekuensi dan dilakukan tabulasi silang. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian didapatkan kejadian kehamilan risiko tinggi sebanyak 71 orang (36,60%). Pada umur didapatkan mayoritas kehamilan risiko tinggi terjadi pada umur ≥ 35 tahun sebanyak 39 orang (92,86%). Paritas didapatkan mayoritas kehamilan risiko tinggi terjadi pada ibu hamil dengan paritas grandemultipara sebanyak 39 orang (70,91%). Sedangkan pada pendidikan mayoritas kehamilan risiko tinggi terjadi pada ibu dengan pendidikan dasar sebanyak 40 orang (68,97%) Diskusi: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kehamilan risiko tinggi mayoritas terjadi pada umur ≥ 35 tahun, grandemultipara dan berpendidikan dasar. Oleh karena itu, untuk menurunkan kejadian kehamilan risiko tinggi diperlukan pemeriksaan sejak dini pada kehamilan, sehingga dapat terdeteksi jika terdapat komplikasi dan segera dapat mengobatinya

    TINGKAT PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG KEJADIAN RUAM POPOK PADA BAYI DI BPS ZULFIAH SURABAYA

    Full text link
    Diaper rash, also called diaper dermatitis, is a skin disorder (skin rash) that results from inflammation in diaper-covered areas, namely in the genitals, around the anus, buttocks, folds of the thighs and lower abdomen. This disease often occurs in infants and toddlers who use diapers, usually at the age of less than 2 years (Tjokronegoro, A., 2000: 19).Based on preliminary studies at BPS Ny. Retno Soepomo Surabaya on April 25, 2018 found 10 babies who came to BPS Zulfiah Surabaya and as many as 7 babies (69.97%) had diaper rash. Even though diaper rash should not occur in infants. The purpose of this study was to describe the knowledge and attitudes of mothers with the incidence of diaper rash in infants.Method: using descriptive method with quota sampling technique, which is taken by specifying a number of sample members in the April 2018 period by using a questionnaire as a research instrument. The data analysis technique uses frequency tables and cross tabulations with the population are all mothers who came to check their babies at BPS Zulfiah Surabaya. Results: the results of the study were obtained by mothers with good knowledge (17.5%), sufficient knowledge (32.5%) and lack of knowledge (50%). Whereas from the attitudes obtained strongly agree (7.5%), agree (20%), disagree (25%) and strongly disagree (47.5%) Discussion: Conclude that mothers who have less knowledge , the majority of their babies experience diaper rash. This is influenced by the mother's ignorance about how to properly care for the baby. Health workers are expected to be able to provide information about how to care for babies properly so that diaper rash does not occur in infants.Diaper rash disebut juga dermatitis popok, adalah kelainan kulit (ruam kulit) yang timbul akibat radang di daerah yang tertutup popok, yaitu di alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Penyakit ini sering terjadi pada bayi dan anak balita yang menggunakan popok, biasanya pada usia kurang dari 2 tahun (Tjokronegoro, A., 2000 : 19). Berdasarkan studi pendahuluan di BPS Ny. Retno Soepomo Surabaya pada tanggal 25 April 2018 didapatkan 10 bayi yang datang di BPS Zulfiah Surabaya dan sebanyak 7 bayi (69,97%) mengalami ruam popok. Padahal seharusnya ruam popok tidak boleh terjadi pada bayi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu dengan kejadian ruam popok pada bayi. Metode : menggunakan metode deskriptif dengan teknik quota sampling yang pengambilan sampelnya dilakukan dengan cara menetapkan sejumlah anggota sampel periode April 2018dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Tehnik analisa data menggunakan tabel frekuensi dan tabulasi silang dengan populasinya adalah semua ibu yang datang memeriksakan bayinya di BPS Zulfiah Surabaya. Hasil :hasil penelitian didapatkan ibu dengan pengetahuan baik (17,5 %), pengetahuan cukup (32,5 %) dan pengetahuan kurang (50 %). Sedangkan dari sikap didapatkan sikap sangat setuju (7,5 %), sikap setuju (20 %),  sikap tidak setuju (25 %) dan sikap sangat tidak setuju (47,5 %).Diskusi :.Disimpulkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan kurang, mayoritas bayinya mengalami ruam popok. Hal ini dipengaruhi oleh ketidaktahuan ibu tentang cara merawat bayi dengan benar. Diharapkan petugas kesehatan mampu memberikan informasi tentang cara merawat bayi dengan benar supaya ruam popok tidak terjadi pada bayi

    TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN KEJADIAN KEP PADA ANAK USIA (3-5 TAHUN) DI POS PAUD TERPADU MULIA SURABAYA

    Full text link
    Protein Energy Deficiency (KEP) is a state of malnutrition caused by low consumption of energy and protein in daily food so that it does not meet the nutritional adequacy rate (Ministry of Health, 2000). The incidence of PEM in children aged 3-5 years at the Mulia Integrated Paud Post in Surabaya tends to increase from 2017-2018 by 12.5 - 15%, expected not to exceed the prevalence rate set by MDG's at 15.5%. The purpose of this study was to determine the description of the education level of mothers with the incidence of PEM in children aged (3-5 years) at the Mulia Integrated Paud Post Surabaya in July 2018. Method: the research used was descriptive. The population is 80 children. Sampling using Non Probability sampling with saturated sample techniques, the sample in the study were 80 children. Primary and secondary data collection by weighing children and looking at the mother's level of education from the child's report card. The data is then made a frequency table and cross tabulation and conclusions are then made. Results: From the results of the study it can be concluded that mothers who have a low level of education, the majority of children experience PEM. Therefore, health workers are expected to provide information on balanced nutrition for mothers who have children aged 3-5 years.Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (Depkes RI, 2000). Angka kejadian KEP pada anak usia 3-5 tahun di Pos Paud Terpadu Mulia Surabaya cenderung mengalami peningkatan dari tahun 2017-2018 sebesar 12,5 – 15 %, diharapkan tidak melebihi angka prevalensi yang sudah ditetapkan oleh MDG’s sebesar 15,5%. Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan ibu dengan kejadian KEP pada anak usia (3-5 tahun) di Pos Paud Terpadu Mulia Surabaya bulan Juli Tahun 2018. Metode : penelitian yang digunakan bersifat Deskriptif. Populasi sebanyak 80 anak. Pengambilan sampel menggunakan  Non Probability sampling  dengan teknik sampel jenuh,  sampel pada penelitian sebanyak 80 anak. Pengumpulan data secara primer dan sekunder dengan cara melakukan penimbangan pada anak dan melihat tingkat pendidikan ibu dari rapot anak. Data kemudian dibuat tabel frekuensi dan tabulasi silang kemudian dibuat kesimpulan. Hasil : Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ibu yang tingkat pendidikan rendah mayoritas anaknya mengalami KEP. Oleh karena itu diharapkan petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang gizi seimbang pada ibu yang mempunyai anak usia 3-5 tahun

    BEBERAPA FAKTOR TERJADINYA PERSALINAN SECTIO CAESAREA

    Full text link
    Sectio Caesarea is an artificial labor, in which the fetus is born through an incision in the abdominal wall and uterine wall on the condition that the condition is intact and the fetus weighs above 500 grams. Labor with Sectio Caesarea is based on the indication of the mother and fetus. At the Hospital DKT Gubeng Pojok Surabaya the 2015 incidence of Sectio Caesarea labor was 1003 people (80%) from the normal labor rate. Objective: This study aims to determine several factors in the occurrence of Sectio Caesarea labor in the DKT Hospital of Gubeng Pojok Surabaya in 2016. Method: This study used a descriptive design, the population of Sectio Caesarea mothers in 2016 was 534 people. Sampling using Systematic Random Sampling with a sample of some Sectio Caesarea delivery mothers in 2016 as many as 174 people. The instrument in this study used secondary data from the registration of maternity mothers and then processed using frequency tabulation and cross tabulation. Results: The results of the study showed that the majority of Sectio Caesarean mothers with primipara parity (55.17%) and work (64.94%). Based on age, Sectio Caesarea indications occur in mothers aged> 35 years (1.15%), past labor history with Caesarean section (32.76%), premature rupture of membranes (14.37%), at the request of the mother herself (31 , 03%), large infants (3.45%), abnormalities of fetal location (13.22%) and fetal distress (3.45%). Conclusions: the majority of Sectio Caesarea events occur in mothers with a previous history of labor. Therefore, it is expected that mothers before pregnancy or during pregnancy regularly check their pregnancy according to the standard, namely a minimum of 4x visits, counseling in the antenatal class accompanied by a husband, participating in pregnancy exercises and orientation in the maternity room so that the mother is ready to face childbirth.Sectio Caesarea adalah suatu persalinan buatan, dimana janin dilahirkan melalui insisi pada dinding perut dan dinding rahim dengan syarat dalam keadaaan utuh dan berat janin diatas 500 gram. Persalinan dengan Sectio Caesarea dilakukan berdasarkan indikasi ibu dan janin. Di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya angka kejadian persalinan  Sectio Caesarea Tahun  2015 sebanyak 1003 orang (80%) dari angka persalinan normal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor terjadinya persalinan Sectio Caesarea di Rumah Sakit DKT Gubeng Pojok Surabaya tahun 2016. Metode: Penelitian ini menggunakan design deskriptif, populasi ibu Sectio Caesarea tahun 2016 adalah 534 orang. Pengambilan sampel menggunakan Tehnik Systematik Random Sampling dengan sampel yaitu sebagian ibu bersalin Sectio Caesarea tahun 2016 sebanyak 174 orang. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan data sekunder dari registrasi ibu bersalin kemudian diolah menggunakan tabulasi frekuensi dan tabulasi silang. Hasil: Hasil penelitian diperoleh bahwa mayoritas ibu bersalin Sectio Caesarea dengan paritas primipara (55,17%) dan bekerja (64,94%). Pada indikasi Sectio Caesarea berdasarkan usia terjadi pada ibu usia > 35 tahun (1,15%), riwayat persalinan yang lalu dengan operasi Caesar (32,76%), ketuban pecah dini (14,37%), atas permintaan ibu sendiri (31,03%), bayi besar (3,45%), kelainan letak janin (13,22%) dan  fetal distress (3,45%). Kesimpulan: kejadian Sectio Caesarea mayoritas terjadi pada ibu dengan riwayat persalinan yang lalu operasi. Maka dari itu diharapkan ibu sebelum hamil atau dalam masa hamil rutin memeriksakan kehamilannya sesuai standar yaitu minimal 4x kunjungan, penyuluhan dikelas antenatal dengan didampingi suami, mengikuti senam hamil dan orientasi dikamar bersalin sehingga ibu siap dalam menghadapi persalinan

    39

    full texts

    50

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Midwifery Journal of Akbid Griya Husada Surabaya / Jurnal Kebidanan Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇