Jurnal Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Not a member yet
1127 research outputs found
Sort by
Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Dalam Penanggulangan COVID 19 Melalui Booklet Komunikasi Risiko Penularan Pada Masyarakat Kelurahan Trihanggo Kecamatan Sleman Yogyakarta
Komunikasi merupakan salah satu dari delapan pilar yang harus dibangun oleh pemerintah, untuk mengendalikan peristiwa dan keadaan darurat kesehatan. Salah satu strategi penting dalam manajemen risiko pandemi influenza yang diterapkan adalah komunikasi harus memberikan informasi yang dapat dipahami, tepat waktu, transparan dan terkoordinasi sebelum, selama dan setelah keadaan darurat kesehatan. Komunikasi melalui berbagai media merupakan bagian penting dalam menangani bencana termasuk COVID 19. Komunikasi yang tidak efektif telah mengakibatkan banyak kebingungan dan kesalahpahaman publik, serta kesalahan serius dalam menanggapi ancaman kesehatan yang terus berkembang yang menyebabkan bencana kesehatan dan dampak sosial bagi publik dan memperpanjang pandemi. Pengabdian masyarakat ini merupakan kelanjutan dari penelitan yang dilakukan Ida,dkk tahun 2021 dengan judul Aspek Komunikasi yang Dapat Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Masyarakat dalam Penatalaksanaan Covid 19. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat jarang mengakses informasi tentang COVID 19 dari situs resmi pemerintah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan melibatkan dosen serta mahasiswa serta masyarakat RT 03 Panggungan yang mengikuti sebanyak 70 orang pre dan 61 orang post. Tindakan yang dilakukan adalah pemberian booklet pencegahan Covid-19. Pengetahuan dan perilaku diukur sebelum dan sesudah pemberian booklet dengan hasil terdapat peningkatan pengetahuan tentang pencegahan Covid-19 dari rata-rata 86,2% sebelum menerima informasi melalui booklet menjadi 92,7% setelah membaca booklet pencegahan Covid-19. Terdapat peningkatan nilai pengetahuan sebesar 31 poin. Terdapat peningkatan rata rata peningkatan perilaku pencegahan Covid-19 sebesar 13,10%, dengan peningkatan perilaku pada semua tindakan pencegahan Covid-19.
Pendidikan dan Pelatihan Tentang Higiene Sanitasi Makanan Pada Penjamah Makanan di UPT RPSLUT Budhi Dharma Yogyakarta
Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk mendukung kesehatan. Peningkatan mutu makanan tidak terlepas dari peran penjamah makanan yang terlibat langsung dalam proses pengolahan makanan yang dikonsumsi oleh konsumen. Upaya higiene makanan pada dasarnya melibatkan orang yang menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan pengolahan makanan, penyimpanan makanan dan penyajian makanan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pelatihan dan pendidikan (diklat) mengenai higiene sanitasi makanan, peralatan makanan, etika batuk dan bersin serta cara penggunaan APD yang benar. Sasaran dalam kegiatan ini adalah penjamah makanan di UPT RPSLUT Budhi Dharma. Metode yang digunakan adalah pendidikan dan pelatihan serta pretest dan posttest. Hasil yang didapatkan bahwa setelah diklat dilakukan, pengetahuan para penjamah makanan meningkat dan menerapkan materi dari pendidikan dan pelatihan yang telah diberikan. Dengan demikian pemberian pendidikan dan pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai higiene sanitasi makanan
Work related to reproductive health risk analysis for female healthcare workers
Female workers have a risk of being exposed to various hazards in the work environment which can cause health problems including of reproductive health. However, evidence linking workplace hazards—such as job type, work shift, and exposure to chemical, biological, or physical agents—with menstrual and pregnancy disorders remains limited. This study aims to analyze work related to reproductive health risk of female healthcare workers at the hospital. A cross-sectional quantitative study using path analysis was conducted at Gadjah Mada University Academic Hospital, Indonesia, from April to November 2022. A total of 71 female healthcare workers (doctors, nurses, midwives, pharmacists, radiologists, and allied professionals) were recruited using stratified random sampling. Data were collected through structured questionnaires, interviews, and field observations, covering sociodemographic characteristics, work-related exposures, menstrual disorders, and pregnancy outcomes. Path analysis with regression modeling was performed to assess direct and indirect effects, and model fit was evaluated using standard indices. The majority of respondents were aged 20–35 years (72%), nulliparous (61%), and non-nurse medical staff (56%). Menstrual disorders were reported by 46% of participants, while 39% experienced pregnancy-related complications (e.g., abortion, preeclampsia, preterm birth). Exposure to chemical hazards was reported by 65%, biological hazards by 68%, and radiation by 38%. Path analysis showed that agent exposure (direct effect = 0.392, p<0.05) and work shift (direct effect = 0.223, p<0.05) significantly increased the risk of pregnancy disorders, while type of job influenced outcomes only indirectly (direct effect = 0.105; indirect effect = 0.210). The model explained 71.9% of the variance in pregnancy disorders (R² = 0.719).Occupational hazards, particularly agent exposure and shift work, are significant predictors of reproductive health problems among female healthcare workers. These findings highlight the need for institutional policies on safer shift scheduling, exposure monitoring, and reproductive health protection in hospital settings. Strengthening occupational health regulations is essential to safeguard maternal and fetal outcomes in the healthcare workforce
Faktor risiko yang berhubungan dengan keluhan subjektif carpal tunnel syndrome
CV. Subur Makmur adalah salah satu UMKM yang ada di Kabupaten Malang dengan bidang usaha konveksi, yaitu memproduksi kebaya, mukena, baju pria muslim, pakaian bordir wanita, tas, masker bordir dan juga baju batik. Hasil studi pendahuluan menunjukan bahwa dari 10 responden yang diwawancarai, terdapat 8 respon yang mengalami keluhan carpal tunnel syndrome (CTS). Berdasarkan hal tersebut dirumuskan masalah faktor apa saja yang mempengaruhi CTS pada para pekerja di CV. Subur Makmur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan keluhan CTS. Jenis penelitian kuantitatif yang bersifat analitik observasional, dengan rancangan studi potong-lintang. Populasi sekaligus sampel penelitian berjumlah 50 responden dengan teknik sampling adalah total sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasional , dan carpal tunnel syndrome (CTS) questionnaire. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil uji statistik menunjukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gerakan berulang, masa kerja, dan postur janggal dengan pvalue sebesar 0,000. Sedang faktor risiko terbesar pada variabel gerakan berulang yaitu 96,8 kali, kemudian postur janggal tangan 22,67 kali dan masa kerja 15,6 kali. Gerakan berulang, masa kerja, dan postur janggal merupakan faktor yang sangat berpengaruh dengan keluhan carpal tunnel syndrome, oleh karena itu perlu adanya upaya pencegahan keluhan CTS dengan melakukan gerakan-gerakan peregangan pada otot tangan/lengan.
Abstract: CV. Subur Makmur is one of the MSMEs in Malang Regency with a convection line of business, namely producing kebaya, mukena, Muslim men's clothes, women's embroidered clothes, bags, embroidered masks and also batik clothes. The purpose of this study was to identify and analyze the risk factors associated with CTS complaints. This type of quantitative research is observational analytic, with a cross-sectional study design. The population as well as the research sample totaled 50 respondents using the total sampling technique. Methods of data collection using a questionnaire, observational, and carpal tunnel syndrome (CTS) questionnaire. Data analysis used the chi square test. The results of the statistical tests showed that there was a significant relationship between repetitive motions, length of work, and awkward postures with a pvalue of 0.000. While the biggest risk factor in the variable repetitive movements is 96.8 times, then awkward hand postures are 22.67 times and work period is 15.6 times. Repetitive movements, work periods, and awkward postures are factors that greatly influence carpal tunnel syndrome complaints, therefore it is necessary to prevent CTS complaints by doing stretching movements in the hand/arm muscles
Penurunan COD Penurunan COD air limbah menggunakan aerasi dengan EM4 konsentrasi 5%
PT.X bergerak di bidang produksi teh menghasilkan limbah dari proses pencucian mesin produksi. Air limbah hasil pencucian mengandung bahan organik dan oli yang menjadi faktor tingginya COD, mencapai 11.647 mg/L melebihi NAB (300 mg/L). Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan waktu kontak aerasi 1 hari, 2 hari dan 3 hari terhadap penurunan kadar COD. Jenis penelitian studi eksperimen (desain pretest–posttest without control) secara grab sampling. Pengukuran 3 variasi dan 6 kali pengulangan setiap variasi. Volume reaktor 47,7 liter dan EM4 5%. Penurunan COD tertinggi adalah variasi waktu kontak 3 hari yaitu 8249 mg/L (80%) menjadi 2023 mg/L dari kadar awal COD 10.271 mg/L setelah pengendapan 1 hari. Persentase penurunan variasi 1 (64%), 2 hari (74%) dan 3 hari (80%). Uji One–Way Anova (p value?0,05). Persentase COD kurang maksimal diketahui karena kondisi oksigen yang tidak seimbang dengan jumlah bakteri. Saran yang dapat diberikan yaitu dengan pre treatment atau sedimentasi sebelum aerasi, serta menambahkan EM4 konsentrasi lebih tinggi agar menghasilkan penurunan COD sesuai baku mutu
Abstract: PT.X is engaged in the production of tea producing waste from the washing process of production machines. The washed wastewater contains organic matter and oil which is a factor in the high COD, reaching 11,647 mg/L exceeding the NAV (300 mg/L). The purpose of the study was to determine the difference in aeration contact time of 1 day, 2 days and 3 days on the decrease in COD levels. The type of research is an experimental study (pretest–posttest without control) by grab sampling. Measurement of 3 variations and 6 repetitions of each variation. The reactor volume is 47.7 liters and EM4 is 5%. The highest decrease in COD was the variation in 3-day contact time of 8249 mg/L (80%) to 2023 mg/L from the initial COD level of 10,271 mg/L after 1 day precipitation. The percentage decrease in variation was 1 (64%), 2 days (74%) and 3 days (80%). One-Way Anova test (p value?0.05). The percentage of COD is not optimal because of oxygen conditions that are not balanced with the number of bacteria. Suggestions that can be given are pre-treatment sedimentation, and adding a higher concentration of EM4 to produce a decrease COD according to quality standard
The Water, Sanitation, and Hygiene (WASH) practices and the risk of skin and mucosal infections in cancer patients undergoing radiotherapy: A systematic review
Radiotherapy (RT) is integral to cancer care but frequently damages skin and mucosal barriers, predisposing patients to infection. This systematic review examined whether water, sanitation, and hygiene (WASH) practices influence skin and mucosal infections in adults receiving RT, with emphasis on low- and middle-income countries (LMICs). We searched PubMed, Embase, Scopus, CINAHL, and the Cochrane Library from inception using controlled terms and keywords for RT, WASH, and infection; two reviewers screened records and appraised quality (Cochrane RoB, ROBINS-I). Twelve studies met inclusion: two randomized trials of washing vs. no washing during breast RT (n?198), one pediatric RCT of topical honey for oral care, two oncology cohorts describing pathogens and risk, and seven LMIC studies adapted to RT contexts evaluating facility or household WASH. Washing reduced moist desquamation and grade ?2 skin toxicity; honey decreased severe mucositis, microbial colonization, and length of stay. Severe radiodermatitis strongly predicted culture-confirmed infection (OR?5.9), with Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and Pseudomonas aeruginosa most common. Facility WASH programs improved hand hygiene/compliance, and household WASH deficits were associated with higher infectious risk, though RT specific endpoints were limited. Conclusion: Low-cost, WASH-aligned hygiene bundles permissive skin washing, structured oral care, and basic facility/household WASH supports are biologically plausible, feasible in LMICs, and should accompany RT while RT specific LMIC trials with infection endpoints are prioritized
Pendidikan dan Pelatihan MPASI Anak Usia 6 – 24 Bulan pada Ibu Balita di Wilayah Puskesmas Tempel 1
Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 menyatakan bahwa prevalensi stunting nasional sebesar 21,6% dengan target nasional yaitu 14%. Penurunan prevalensi stunting difokuskan difokuskan pada masa sebelum kelahiran dan anak usia 6 – 23 bulan dengan intervensi spesifik seperti ASI Eksklusif dan Pemberian Makanan Pendamping ASI. Kejadian stunting berhubungan dengan masalah pemenuhan nutrisi sesuai dengan kebutuhan menurut usia anak. Peran ibu sangat penting bagi anak dalam memantau pertumbuhan anak, sehingga perlu memahami pemberian makan yang baik pada saat anak sudah diberikan MPASI. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2023 di Aula Puskesmas Tempel 1 dengan peserta sebanyak 12 orang ibu balita. Tahapan kegiatan meliputi pendidikan dengan metode penyuluhan dan pelatihan dengan metode demonstrasi. Demonstrasi pembuatan MPASI sesuai anjuran Menu 4 Bintang meliputi makanan pokok, sayuran, protein nabati, dan protein hewani. Hasil kegiatan menyatakan bahwa terjadinya peningkatan pengetahuan terkait MPASI dan akan menerapkan kepada anak.
Human development index, geographic disparities and strategies to reduce maternal mortality in Indonesia : an ecological study
Recent data shows disparities and setbacks in maternal health services. In Indonesia, there was an increase in maternal mortality in 2020 compared to 2019. Inequality is a powerful predictor of maternal mortality. This study aims to find whether inequality indicators, namely the Human Development Index and Geographic Units, can be predictors of maternal mortality. This research uses an ecological study design with a unit of analysis in 34 provinces in Indonesia. The data used in this study is secondary data from the Ministry of Health and Statistics Indonesia. Descriptive analysis and Poisson regression were used to determine whether the Human Development Index and geographic units could be predictors of maternal mortality. The increase in maternal mortality occurred in 21 (61%) provinces in Indonesia. The province's lowest maternal mortality rate was 48, and the highest was 565 per 100,000 live births. The Human Development Index and geographic units can significantly predict maternal mortality (P < 0.05). Human development indices and geographic units are significant predictors of maternal mortality. Strategies that can be done to reduce maternal mortality are improved education, health services, and specific and collaborative interventions according to provincial needs
Analysis of The Most Dominant Dental Carries Risk Factors on High def-t and DMF-T Value of Students Age 6-12 Years
Background: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) shows that the highest rate of dental caries in children occurs in the 5–9 y.o group (92.6%). Dental caries should be prevented early by reducing the factors that cause caries. The def-t/DMF-t caries index can be used to assess the severity of dental caries, while the caries risk assessment can be used to study the various variables that cause dental caries. Objectives: To analyze the most dominant risk factors for dental caries with the highest def-T/DMF-T values in students in grades 1-6 at SDN Cenlecen 1 Pakong Pamekasan. Methods: This study is analytical and observational with a Cross-sectional method approach. The data analysis used the Chi-square test to examine the relationship between the variables. Results: This study shows that the most significant correlation value for high deft-t/DMF-T is eating and drinking sweet foods (p-value, 0.027), followed by having a mother who had dental caries experience, receiving dental care, having teeth lost as a result of caries, having visible plaque, and exposed root surfaces. Conclusion: The most dominant risk factor for dental caries for high def-T/DMF-T rates at SDN Cenlecen 1 Pakong Pamekasan is eating and drinking sweet foods
Mengunyah Buah Semangka dan Buah Pepaya California Terhadap Debris Indeks Pada Anak Tunanetra (Studi di SLB A YPAB Surabaya)
Latar Belakang: Penyandang tunanetra sering memiliki status kebersihan mulut yang lebih buruk dibandingkan dengan masyarakat umum. Kebersihan gigi dan mulut yang buruk juga dapat berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari, seperti melemahnya kepercayaan diri dan mengganggu kinerja seseorang serta mempengaruhi tingkat kehadiran di sekolah atau tempat kerja. Skor debris indeks dapat dipengaruhi oleh jenis makanan yang dikonsumsi seseorang. Angka debris indeks dapat diturunkan dengan cara mengonsumsi makanan yang kaya akan serat dan air. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan mengunyah buah semangka dan pepaya California terhadap debris indeks pada anak tunanetra. Metode: Jenis penelitian ini adalah quasi experiment dengan rancangan pre dan post design dengan populasi 32 siswa SLB A YPAB Surabaya. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi. Teknik analisis data menggunakan uji Mann Whitney. Hasil: Dari uji Mann Whitney didapatkan nilai ? debris indeks sebelum dan sesudah mengunyah buah semangka sebesar 0.000 dengan nilai Mean ± SD 1.219 ± 0.603. Nilai ? debris indeks sebelum dan sesudah mengunyah buah pepaya California sebesar 0.004 dengan nilai Mean ± SD 1.438±0.620. Hal ini menunjukkan bahwa nilai ? < nilai ? (0,05). Kesimpulan: Adanya perbedaan mengunyah buah semangka dan buah pepaya California terhadap debris indeks pada anak tunanetra. Buah semangka adalah alternatif buah untuk menurunkan angka debris