Online Journal Universitas Garut
Not a member yet
2148 research outputs found
Sort by
Measuring lower secondary school students’ attitude towards science across gender and socioeconomic status: Validation of the BRAINS instrument
The attitude toward science has been studied among science education researchers for over 50 years. This study aims to test the validity of BRAINS (Behaviors, Related Attitudes, and Intentions toward Science) instrument using the IRT analysis and measure science attitude among lower secondary school students by comparing gender and socioeconomic status (SES). About 30 items of BRAINS instrument was administered to 1001 students. IRT analysis was run using TAM package in R to examine the instrument dimensionality, the item fit properties, the EAP (Expected A Posteriori) reliability, and WLE (Weighted Maximum Likelihood Estimation) reliability while LORDIF package in R was used to test the generalizability. Later, two-way ANOVA and clustering of students’ response were performed using the SPSS and mclust package in R, respectively. Generally, IRT analysis indicated that the BRAINS instrument is proper to measure the students’ attitude toward science. BRAINS consisted of five dimensions, and most BRAINS items had a good fit with the IRT. Item reliability was good in all dimensions, while person reliability was fair in two dimensions. The generalizability test showed that some items were flagged for differential item functioning (DIF). Regarding attitude towards science, females had a higher attitude towards science than males, significantly in behavior, intention and normative dimensions. Furthermore, a higher science attitude was found among low SES than high SES students, although this was only significant in control dimension. Clustering analysis revealed two groups of students based on their attitude towards science (those with high and low scores) and most of students in this study are classified into low science attitude group. The findings of this study imply that specific actions are needed to improve students’ attitudes towards science, especially among students from less privileged backgrounds. Schools could adopt inclusive, student-centered, and inquiry-based science teaching to make science more engaging.
Keywords: Attitude toward science, BRAINS, IRT analysis, Secondary school, Validity.The attitude toward science has been studied among science education researchers for over 50 years. This study aims to test the validity of BRAINS (Behaviors, Related Attitudes, and Intentions toward Science) instrument using the IRT analysis and measure science attitude among lower secondary school students by comparing gender and socioeconomic status (SES). About 30 items of BRAINS instrument was administered to 1001 students. IRT analysis was run using TAM package in R to examine the instrument dimensionality, the item fit properties, the EAP (Expected A Posteriori) reliability, and WLE (Weighted Maximum Likelihood Estimation) reliability while LORDIF package in R was used to test the generalizability. Later, two-way ANOVA and clustering of students’ response were performed using the SPSS and mclust package in R, respectively. Generally, IRT analysis indicated that the BRAINS instrument is proper to measure the students’ attitude toward science. BRAINS consisted of five dimensions, and most BRAINS items had a good fit with the IRT. Item reliability was good in all dimensions, while person reliability was fair in two dimensions. The generalizability test showed that some items were flagged for differential item functioning (DIF). Regarding attitude towards science, females had a higher attitude towards science than males, significantly in behavior, intention and normative dimensions. Furthermore, a higher science attitude was found among low SES than high SES students, although this was only significant in control dimension. Clustering analysis revealed two groups of students based on their attitude towards science (those with high and low scores) and most of students in this study are classified into low science attitude group. The findings of this study imply that specific actions are needed to improve students’ attitudes towards science, especially among students from less privileged backgrounds. Schools could adopt inclusive, student-centered, and inquiry-based science teaching to make science more engaging.
Keywords: Attitude toward science, BRAINS, IRT analysis, Secondary school, Validity
Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis Augmented Simulation Menggunakan PhET untuk Materi Medan Magnet
This study aims to develop an interactive learning media based on Augmented Simulation using PhET for magnetic field material, with the goal of enhancing students' understanding of physics concepts that are difficult to grasp through conventional methods. The research method used is Research and Development (R&D), based on a 4D development model simplified into 3D (Define, Design, Develop). The results show that the developed media can accurately and interactively depict magnetic field phenomena, contributing to improved student understanding. The validation results from media and physics content experts indicate that this media meets curriculum standards and is effective in increasing student engagement. However, some aspects still need improvement, particularly in the functionality of feedback and the development of physics models in the simulation. The implications of this research are significant in the context of technology-based education, given the great potential of Augmented Simulation to enhance students' learning experiences.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran interaktif berbasis Augmented Simulation menggunakan PhET untuk materi medan magnet, dengan tujuan meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep fisika yang sulit dipahami secara konvensional. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D), yang mengacu pada model pengembangan 4D yang disederhanakan menjadi 3D (Define, Design, Develop). Hasil penelitian menunjukkan bahwa media yang dikembangkan dapat menggambarkan fenomena medan magnet secara interaktif dan akurat, yang berkontribusi pada peningkatan pemahaman siswa. Hasil validasi dari pakar media dan pakar konten fisika menunjukkan bahwa media ini memenuhi standar kurikulum dan efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa. Namun, beberapa aspek masih perlu perbaikan, terutama pada fungsionalitas umpan balik dan pengembangan model fisika dalam simulasi. Implikasi penelitian ini sangat penting dalam konteks pendidikan berbasis teknologi, mengingat potensi besar Augmented Simulation dalam meningkatkan pengalaman belajar siswa
Pengaruh Metode Pembelajaran Concrete Pictorial Abstrack (CPA) Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Materi Pecahan Kelas V SD
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang melibatkan dua jenis kegiatan yang tidak dapat dipisahkan. Kegiatan penelitan pembelajaran matematika pada materi pecahan dilakukan di kelas V SD Islam Al Fatah. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana gaya mengajar yang tepat. penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain Quasi Experimental Design dengan jenis Non-Equivialent Control Group Design. Desain ini membuat dua kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen. Teknik pengambilan sampel yang peneliti lakukan menggunakan teknik Probability Sampling dengan berdasarkan kelas atau disebut Cluster Sampling. Cluster Sampling adalah teknik pengambolan sampel yang berdasrkan kelas yang sudah ada sebelumnya. Sehingga dari kelas yang terdapat di kelas V SD Islam Al Fatah maka pada penelitian ini dipilih dua kelas yaitu kelas VA sebanyak 16 siswa sebagai kelas eksperimen (sampel) dan kelas VB sebanyak 15 siswa siswa sebagai kelas kontrol. Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu tes hasil belajar siswa sebanyak 13 soal berbentuk uraian yang terdiri dari soal pretest dan posstest. Hal ini dibuktikan oleh hasil rata-rata yang diperoleh antara hasil pretest dan posttest untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil olah data uji sampel ganda t menghasilkan sig. (2-tailed) 0,000 < 0,005. Ini menunjukkan bahwa Ho tidak diterima dan Ha diterima. Berdasarkan hasil penelitian ini, pendidik sangat disarankan untuk menggunakan metode pembelajran CPA saat mengajar siswa pada mata Pelajaran matematika. Diharapkan bahwa guru akan mampu mengajar matematika dengan cara yang lebih sesuai dengan dunia nyata anak-anak dengan menggunakan contoh dari benda nyata
PENGEMBANGAN MEDIA INTERAKTIF PADA MUATAN PELAJARAN IPS MATERI KEKAYAAN BUDAYA INDONESIA KELAS IV
Fokus penelitian ini adalah pada pengembangan media interaktif pada pembelajaran IPS dengan tema “Kekayaan Budaya Indonesia”. Tujuannya adalah untuk mendapatkan media pembelajaran interaktif yang valid, praktis dan efektif untuk kelas IPS kelas IV pada tema "Kekayaan Budaya Indonesia". Model penelitian ini merupakan studi pengembangan dengan menggunakan model ADDIE yang meliputi lima fase pengembangan yaitu: analisis, desain, pembuatan produk, implementasi, dan evaluasi. Produk ini dikembangkan dalam Power Point dan diubah ke format Apk. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN Tambakroto 02 tahun ajaran 2024/2025. Data penelitian akan berasal dari hasil kajian tentang kelayakan dan kepraktisan media yang dirancang dan diimplementasikan. Berdasarkan pengembangan yang dilakukan, hasil validasi ahli diperoleh dengan skor 84% termasuk dalam kategori “sangat layak”, sedangkan angket reaksi guru dan siswa diperoleh dengan skor 84%. , termasuk dalam kategori "sangat layak". Nilai yang diperoleh sebesar 86%. Bersifat “doable”, media menunjukkan nilai sebesar 91% pada hasil tes tiruan berdasarkan jawaban siswa dan guru, mencapai 90% dalam kategori sangat baik
ENGENALAN DAN PENINGKATAN PENGETAHUAN KONSEP GIZI SEIMBANG PADA ANAK SEKOLAH
Kecukupan gizi seimbang yang dikonsumsi setiap hari harus mengandung berbagai zat gizi dengan jenis serta jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Beberapa data menunjukkan bahwa anak usia sekolah masih banyak yang mengalami krisis gizi. Meningkatnya angka stunting dan obesitas merupakan akibat dari pola makan yang tidak sehat dan kurangnya pendidikan gizi. Kegiatan penyuluhan berlokasi di SD Negeri 2 Sirnajaya Garut dengan tema “Optimalisasi Gizi Seimbang”, dilaksanakan oleh tim PKM mahasiswa farmasi Universitas Padjajaran didukung oleh mahasiswa dari farmasi UNIGA. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak tentang pentingnya gizi seimbang dalam mendukung pertumbuhan fisik dan kognitif. Kegiatan ini melibatkan siswa kelas 5 dan 6 dimulai dengan pretest, posttest, pemberian materi edukasi yang disampaikan melalui presentasi, pembagian flyer serta dilakukan sesi tanya jawab. Berdasarkan pertanyaan mengenai definisi makanan sehat, definisi gizi seimbang, dan pedomanan gizi seimbang, didapatkan hasil penyuluhan ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa sebesar 13%, serta siswa memiliki kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat agar memperoleh gizi yang seimbang.Kecukupan gizi seimbang yang dikonsumsi setiap hari harus mengandung berbagai zat gizi dengan jenis serta jumlahnya sesuai dengan kebutuhan. Beberapa data menunjukkan bahwa anak usia sekolah masih banyak yang mengalami krisis gizi. Meningkatnya angka stunting dan obesitas merupakan akibat dari pola makan yang tidak sehat dan kurangnya pendidikan gizi. Kegiatan penyuluhan berlokasi di SD Negeri 2 Sirnajaya Garut dengan tema “Optimalisasi Gizi Seimbang”, dilaksanakan oleh tim PKM mahasiswa farmasi Universitas Padjajaran didukung oleh mahasiswa dari farmasi UNIGA. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman anak-anak tentang pentingnya gizi seimbang dalam mendukung pertumbuhan fisik dan kognitif. Kegiatan ini melibatkan siswa kelas 5 dan 6 dan meliputi pretest, posttest, pemberian materi edukasi yang disampaikan melalui presentasi, pembagian flyer serta dilakukan sesi tanya jawab. Berdasarkan pertanyaan mengenai definisi makanan sehat, definisi gizi seimbang, dan pedomanan gizi seimbang, didapatkan hasil penyuluhan ini berhasil meningkatkan pemahaman siswa dari 59% menjadi 72%
Edukasi Pentingnya Gizi Seimbang Dan Sarapan Sehat Untuk Siswa SD Melalui VIDEO Penyuluhan Kesehatan
Sarapan pagi memberikan peranan penting bagi anak sekolah di usia 6-12 tahun yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar untuk menjamin pemenuhan gizi di pagi hari. Apabila anak-anak terbiasa dengan sarapan pagi, maka akan berpengaruh terhadap kecerdasan otak, terutama untuk daya ingat dan mendukung prestasi belajar menuju arah yang lebih baik. Tujuan dilakukan penyuluhan edukasi gizi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya sarapan dan pemenuhan gizi seimbang untuk siswa-siswi SDN 1 Talaga. Sistem penyuluhan dilakukan secara langsung dengan membagikan brosur dan melakukan pre dan post test. Berdasarkan hasil survei diperoleh persentase siswa sarapan 28% dan yang tidak sarapan 8%, sedangkan untuk siswi yang sarapan 23% dan yang tidak sarapan 41%. Peningkatan pengetahuan pentingnya membiasakan sarapan dengan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, setelah pemberian brosur, dan penyampaian materi secara langsung dan audio visual sebesar 25%. Setelah melakukan kegiatan penyuluhan ini diharapkan siswa-siswi SDN 1 Talaga dapat mengetahui makanan yang baik untuk dikonsumsi pada saat sarapan, serta mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat tidak sarapan.Sarapan pagi memberikan peranan penting bagi anak sekolah di usia 6-12 tahun yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar untuk menjamin pemenuhan gizi di pagi hari. Tujuan di lakukan penyuluhan edukasi gizi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pentingnya sarapan dan pemenuhan gizi seimbang untuk siswa-siswi SDN 1 Talaga. Sistem penyuluhan di lakukan secara langsung dan pembagian brosur penyuluhan dan dilakukan pre dan post test. Berdasarkan survei diproleh presentase siswa sarapan 28% dan yang tidak sarapan 8%, sedangkan untuk siswi yang sarapan 23% dan yang tidak sarapan 41%. Peningkatan pengetahuan pentingnya membiasakan sarapan dengan makanan yang sehat dan bergizi seimbang, setelah pemberian brosur, dan penyampaian materi secara langsung dan audio visual sebesar 25%. Setelah melakukan kegiatan penyuluhan ini diharapkan siswa-siswi SDN 1 Talaga dapat mengetahui makanan yang baik untuk di konsumsi pada saat sarapan, serta mengetahui dampak yang ditimbulkan akibat tidak sarapan
Sosialisasi dan Pelatihan Pemanfaatan Potensi Lokal Daun Kersen (Mutingian Calabura) Sebagai Teh Herbal Di Desa Paas Kecamatan Pameungpeuk
Daun kersen (Muntingia calabura L) merupakan salah satu potensi lokal yang melimpah di Desa Paas Kecamatan Pameungpeuk, namun pemanfaatannya masih terbatas. Masyarakat umumnya hanya memanfaatkan buahnya, padahal daun kersen memiliki potensi besar sebagai teh herbal yang memiliki berbagai manfaat kesehatan membantu mengontrol gula darah, mencegah diabetes, mengatasi sakit kepala, dan memiliki sifat antiinflamasi. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK Desa Paas dalam mengolah daun kersen menjadi teh herbal. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi tentang manfaat daun kersen sebagai teh herbal dan pelatihan praktik pembuatan teh kersen. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ibu-ibu PKK Desa Paas memiliki kemampuan membuat teh kersen.Daun kersen (Muntingia calabura) merupakan salah satu potensi lokal yang melimpah di Desa Paas Kecamatan Pameungpeuk, namun pemanfaatannya masih terbatas. Masyarakat umumnya hanya memanfaatkan buahnya, padahal daun kersen memiliki potensi besar sebagai teh herbal yang memiliki berbagai manfaat kesehatan. Kegiatan sosialisasi dan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu-ibu PKK Desa Paas dalam mengolah daun kersen menjadi teh herbal. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi tentang manfaat daun kersen sebagai teh herbal dan pelatihan praktik pembuatan teh kersen. Untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, dilakukan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa ibu-ibu PKK Desa Paas menjadi mampu membuat teh kersen dan terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan mengenai pengolahan daun kersen menjadi teh herbal antara sebelum dan sesudah kegiatan.
 
Pengaruh Marinasi Kapulaga (Amomum Compactum) Terhadap Sifat Fisik Dan Total Plate Count Pada Daging Ayam Broiler: Effect of Cardamom Marination (Amomum Compactum) on Physical Characteristics and Total Plate Count of Broiler Chicken Meat
Daging ayam broiler memiliki beberapa kekurangan, yaitu mudah rusak karena kontaminasi bakteri, sehingga diperlukan pengolahan lebih lanjut seperti marinasi untuk mempertahankan kesegaran dan menghambat pertumbuhan bakteri. Salah satu rempah yang sering digunakan untuk marinasi adalah biji kapulaga. Biji kapulaga mengandung senyawa antibakteri yaitu flavonoid, alkaloid, terpenoid, dan tanin. Komponen tersebut dapat mengganggu kinerja pertumbuhan bakteri selama penyimpanan daging ayam broiler. Penelitian dilakukan untuk mengindentifikasi pengaruh, interaksi dan lama marinasi konsentrasi ekstrak biji kapulaga yang menghasilkan karakteristik fisik dan Total Plate Count terbaik daging ayam broiler. Desain Rancangan Acak Kelompok (RAK) digunakan dalam penelitian ini dengan 2 faktor, yaitu lama marinasi P1 (4jam), P2 (8jam), P3 (12jam) dan konsentrasi ekstrak biji kapulaga A1 (1,25%), (2,5%), (5%) dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati yaitu pH, susut masak, daya ikat air, total plate count. Dari penelitian ini didapat hasil bahwa konsentrasi biji kapulaga yang bervariasi dan lama marinasi berpengaruh nyata terhadap pH, daya ikat air, susut masak, TPC daging ayam broiler. Serta interaksi antara lama marinasi dan kosentrasi ekstrak biji kapulaga berpengaruh nyata terhadap susut masak & TPC. Perlakuan terbaik adalah P1A3 (konsentrasi ekstrak biji kapulaga 5% dan lama marinasi 4 jam) terhadap pH (5,66), susut masak (23,82%), daya ikat air (67,46%), TPC(5,75 x 106 CFU/g).
Kata kunci: Daging ayam broiler ; Biji kapulaga ; Marinas
Uji Organoleptik Selai Lembaran Dengan Variasi Formulasi Berbagai Jenis Buah
Selai lembaran dengan variasi formulasi berbagai jenis buah adalah jenis selai oles yang lebih praktis dan mudah dalam penyajian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh dari formulasi berbagai jenis buah terhadap uji organoleptik serta menentukan formulasi terbaik berbagai jenis buah dalam pembuatan selai lembaran berdasarkan uji organoleptik. Metode penelitian ini menggunakan uji organoleptik hedonik pada tiga sampel selai lembaran dengan perlakuan P1 (40% Sirsak 30% Sunkist 30% Belimbing), P2 (30% Sirsak 30% Sunkist 40% Belimbing), P3 (30% Sirsak 40% Sunkist 30% Belimbing). Hasil penelitian formulasi berbagai jenis buah tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap warna dan tekstur namun memiliki pengaruh yang nyata terhadap aroma, rasa dan keseluruhan. Formulasi terbaik selai lembaran terdapat pada perlakuan P1 (40% Sirsak 30% Sunkist 30% Belimbing) antara lain warna 2,28 (suka), aroma 1,88 (suka), rasa 2,28 (suka), tekstur 2,44 (suka) dan keseluruhan 2,36 (suka).
Kata kunci: Selai lembaran; Sirsak; Belimbing; Sunkist
 
Strategi Guru PAI Dalam Memanfaatkan Teknologi Dan Media Pembelajaran Untuk Generasi
Perkembangan teknologi digital memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dunia pendidikan, khususnya dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Generasi Z sebagai peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan digital yang serba cepat dan praktis, sehingga menuntut guru untuk mampu menyesuaikan strategi pembelajaran dengan karakteristik mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi guru PAI dalam memanfaatkan teknologi dan media pembelajaran guna meningkatkan efektivitas pembelajaran bagi generasi Z. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi literatur dan analisis data dari berbagai sumber relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi guru PAI mencakup pemanfaatan platform digital seperti e-learning, media sosial, aplikasi pembelajaran interaktif, serta penggunaan multimedia dalam menyampaikan materi keagamaan. Penerapan strategi ini terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar, partisipasi aktif, serta pemahaman peserta didik terhadap materi PAI. Namun demikian, guru tetap perlu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan tujuan utama pendidikan Islam, yaitu pembentukan karakter dan akhlak mulia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi dan media pembelajaran secara tepat dapat mendukung keberhasilan pembelajaran PAI yang adaptif dan relevan dengan kebutuha