Jurnal Online Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Not a member yet
28972 research outputs found
Sort by
LITERATUR REVIEW : KONTAMINASI TIMBaKONTAMINASI TIMBAL (Pb) PADA IKAN : LITERATUR REVIEWAL (Pb) PADA IKAN
Peningkatan aktivitas industri menyebabkan pencemaran, termasuk kontaminasi logam berat seperti timbal (Pb). Timbal, yang bersifat toksik dan dapat terakumulasi pada tubuh ikan, menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia melalui proses biomagnifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kontaminasi timbal pada ikan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Metode yang digunakan adalah kajian literatur dengan menelaah 25 artikel penelitian relevan yang diterbitkan dalam sepuluh tahun terakhir (2014–2024). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar Pb dalam air di sebagian besar lokasi penelitian masih berada di bawah ambang batas baku mutu menurut PP No. 82 Tahun 2001, yaitu 0,01 mg/L. Namun, di Sungai Gajah Wong dan Sungai Winongo, Yogyakarta, kadar Pb masing-masing mencapai 0,228 mg/L dan 0,054 mg/L. Meskipun kadar Pb dalam air rendah di beberapa lokasi, kadar Pb dalam ikan melebihi baku mutu SNI 7387:2009, yaitu 0,3 mg/kg, dengan kadar tertinggi sebesar 11,35 mg/kg pada organ viscera ikan di Sungai Winongo. Pencemaran ini terutama disebabkan oleh limbah domestik, industri, dan aktivitas pelabuhan. Konsumsi ikan yang terkontaminasi Pb berisiko menyebabkan gangguan organ, gangguan reproduksi, hingga peningkatan risiko keguguran dan kelahiran prematur. Langkah strategis diperlukan untuk mengurangi dampak pencemaran, seperti pengelolaan limbah dan pengawasan aktivitas industri
PENERAPAN KOMPRES HANGAT REBUSAN JAHE MERAH PADA LANSIA RHEUMATOID ARTHRITIS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN NYERI AKUT
Rematik merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utamanya poliartritis progresif pada membran sinoval, yang menyebabkan timbulnya nyeri hebat. Untuk mengurangi intensitas nyeri dapat diberikan terapi non farmakologis dengan kompres hangat rebusan jahe merah. Tujuan dari studi kasus ini untuk menjelaskan asuhan keperawatan gerontik dengan masalah utama nyeri akut pada klien rheumatoid arthritis dengan intervensi terapi kompres hangat rebusan jahe merah. Pada penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analisis menggunakan studi kasus dengan jumlah sampel 1 klien, instrument yang digunakan yaitu menggunakan format asuhan keperawatan gerontik sesuai ketentuan yang berlaku di institusi serta menggunakan lembar observasi Numeric Ratting Scale untuk menilai intensitas nyeri dari klien. Hasil penelitian ini menunjukan sebelum diberikan terapi intensitas nyeri klien berada pada rentan skala 6 dan setelah pelaksanaan terapi kompres hangat dengan rebusan jahe merah selama 3 kali pertemuan, dimana setiap pertemuan klien diberikan intervensi kompres hangat 10 – 20 menit dengan 100g jahe merah direbus dengan 1 liter air menunjukkan bahwa intensitas nyeri klien berkurang menjadi skala 3 atau dalam kategori nyeri ringan. Terapi kompres hangat dengan rebusan jahe merah terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri pada klien dengan rheumatoid arthritis
ANALISIS FAKTOR RISIKO TERJADINYA ANEMIA PADA MAHASISWI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kejadian anemia pada mahasiswi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Setia Budi. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan cross sectional menggunakan data primer pada bulan Februari-Maret 2024. Subjek penelitian dipilih dengan teknik Total sampling yaitu diambil seluruh populasi yang memenuhi syarat kriteria penelitian. Data berupa hasil pemeriksaan kadar hemoglobin dan pengisian kuisioner. Hasil penelitian dianalisis dengan statistik berupa perhitungan data frekuensi dan presentase pada setiap variabel. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden berada pada umur 20 tahun (34,55%), sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik (94,55%), status gizi normal (61,82%), pola makan kurang baik (89,09%), jarang konsumsi teh/kopi (63,36%), pola menstruasi normal (80%), tidak konsumsi suplementasi besi TTD (78,18%), tidak konsumsi obat cacing (74,55%), beraktivitas fisik ringan/sedang (87,27%) dan mempunyai personal hygiene yang baik (87,27%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 mahasiswi sebanyak 7 mahasiswi (12,73%) mengalami anemia yang ditandai dengan kadar hemoglobin di bawah 12g/dL. Anemia pada mahasiswi sebagian besar dipengaruhi oleh faktor pola makan yang kurang baik , tidak mengkonsumsi besi TTD, dan tidak mengkonsumsi obat cacing
PENGARUH HANDHELD FAN UNTUK MENGURANGI SESAK NAFAS PADA PASIEN CHF DI RUANG IGD RSUD TEMANGGUNG
Gagal jantung kongestif (Congestive Heart Failure) adalah sindrom klinis yang terjadi akibat ketidakmampuan jantung dalam memompa darah secara efektif ke seluruh tubuh, sehingga menyebabkan gangguan perfusi jaringan dan penumpukan cairan, terutama di paru-paru. Salah satu gejala yang paling sering dialami pasien CHF adalah sesak napas (dyspnea), yang dapat terjadi bahkan saat istirahat dan sangat memengaruhi kualitas hidup pasien. Penatalaksanaan sesak napas umumnya dilakukan melalui terapi oksigen dan pengaturan posisi, namun intervensi nonfarmakologis kipas angin genggam (handheld fan) juga dibutuhkan sebagai terapi tambahan yang mudah dan dapat dilakukan secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi kipas angin genggam (handheld fan) terhadap tingkat sesak napas pada pasien CHF di RSUD Temanggung. Desain studi kasus pada satu pasien perempuan yang didiagnosis CHF dengan keluhan utama sesak napas. Intervensi dilakukan dengan menggunakan handheld fan selama 5 menit yang diarahkan ke area wajah, dan pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah terapi menggunakan alat bantu seperti saturasi oksigen, frekuensi napas, dan Modified Borg Scale (MBS). Hasil terapi handheld fan menunjukkan adanya peningkatan saturasi oksigen dari 91% menjadi 96%, penurunan frekuensi napas dari 27x/menit menjadi 23x/menit, serta penurunan tingkat dyspnea dari MBS skala 3 menjadi skala 1. Hasil ini menunjukkan bahwa terapi handheld fan efektif untuk menurunkan sesak nafas pada pasien CHF
INTERVENSI EDUKASI GIZI BERBASIS KADER TERHADAP KEPATUHAN DIET LANSIA DENGAN HIPERTENSI DI WILAYAH PERDESAAN
Hipertensi banyak dialami lansia, terutama di daerah perdesaan yang minim akses informasi dan tenaga kesehatan. Salah satu cara mengendalikan tekanan darah adalah melalui diet rendah garam dan bergizi seimbang. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah edukasi gizi yang dilakukan oleh kader kesehatan bisa meningkatkan kepatuhan diet lansia hipertensi. Penelitian dilakukan di dua desa terpencil dengan 80 lansia, dibagi menjadi dua kelompok: intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi mendapat edukasi dari kader selama 8 minggu, sementara kelompok kontrol hanya mendapat penyuluhan satu kali dari tenaga kesehatan. Kepatuhan diet dan tekanan darah diukur sebelum dan sesudah intervensi. Hasilnya, kelompok intervensi lebih patuh pada diet dan mengalami penurunan tekanan darah yang lebih besar. Kader juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam memberi edukasi. Kesimpulannya, pendekatan ini efektif dan layak diterapkan di wilayah yang kekurangan tenaga kesehatan.
Hypertension is a major non-communicable disease affecting older adults, especially in rural areas with limited access to health services and nutritional education. Compliance with a low-sodium and balanced diet is essential in managing blood pressure, yet remains low among the elderly in remote regions. This study aimed to assess the effectiveness of a cadre-based nutritional education intervention in improving dietary compliance among elderly patients with hypertension in rural settings. A quasi-experimental study with a pre-post control group design was conducted involving 80 elderly individuals with hypertension from two remote villages. Participants were selected using purposive sampling and divided equally into intervention and control groups. The intervention group received structured nutritional education from trained community health cadres over 8 weeks, while the control group received a single educational session by health professionals. Dietary compliance was measured using a modified Food Frequency Questionnaire (FFQ), and systolic blood pressure was recorded before and after the intervention. The intervention group showed a significant improvement in dietary compliance scores (p < 0.01) and a greater reduction in systolic blood pressure (mean decrease of 8.5 mmHg) compared to the control group (2.1 mmHg). Furthermore, cadre training improved communication skills and nutritional knowledge among local health volunteers. Cadre-based nutritional education is effective in enhancing dietary compliance and reducing blood pressure among hypertensive elderly individuals in rural areas. This community-based approach offers a practical and sustainable strategy for health promotion in underserved regions
ANALISIS SPASIAL DAN PEMODELAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN FILARIASIS DI SUMATERA BARAT
Sumatera Barat masih tergolong endemis filariasis dan terjadi peningkatan kasus baru pada tahun 2019 sebanyak 15 kasus. Provinsi Sumatera Barat menempati urutan ke-12 kasus filariasis tertinggi di Indonesia dan menduduki peringkat pertama angka prevalensi filariasis tertinggi di pulau Sumatera yaitu 3,3 per 100.000 penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis serta mengelompokkan dan memetakan kejadian filariasis berdasarkan faktor risiko di Provinsi Sumatera Barat tahun 2018-2022. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan design studi ekologi. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh kasus filariasis yang tercatat di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2018-2022. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2022- Juli 2023. Pengolahan data menggunakan analisis univariat, bivariat, multivariat, dan spasial. Hasil penelitian menunjukkan distribusi kasus filariasis mengalami penurunan. Hasil analisis korelasi kasus filariasis dengan kepadatan penduduk (p=0,013, r = -0,253), ketinggian wilayah (p=0,000, r =-0,497), kepadatan hunian (p=0,889, r=0,014), tingkat sosial ekonomi (p=0,01, r= 0,326), dinding rumah (p=0,073, r=0,185), suhu (p=0,222, r=0,127) kelembaban (p=0,048, r= 0,203), dan curah hujan (p=0,032, r= 0,22). Faktor resiko paling dominan adalah tingkat sosial ekonomi. Kabupaten Mentawai merupakan wilayah yang sering masuk kluster beresiko berat. Simpulan hasil penelitian yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara kepadatan penduduk, ketinggian wilayah, sosial ekonomi, kelembaban dan curah hujan dengan kejadian filariasis, tidak terdapat hubungan antara kepadatan hunian, dinding rumah dan suhu dengan kerjadian filariasis.
OPTIMALISASI WAKTU TUNGGU OBAT FARMASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT DENGAN PENERAPAN METODE LEAN MANAGEMENT: SEBUAH SCOPING REVIEW
Waktu tunggu obat di farmasi rawat jalan merupakan indikator penting yang memengaruhi kepuasan pasien dan efisiensi layanan di rumah sakit. Penerapan Lean Management, termasuk metode Lean 5S dan Kaizen, terbukti efektif dalam mengurangi aktivitas non-produktif dan meningkatkan efisiensi proses di sektor kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis efektivitas Lean Management dalam menurunkan waktu tunggu obat di rumah sakit. Scoping review ini menggunakan diagram alur pencarian literatur yang dirangkum dalam format PRISMA 2020 dari empat database utama: ProQuest, Science Direct, Emerald Insight, dan Google Scholar, dengan kriteria artikel asli, akses tanpa berbayar dan lengkap, relevan dengan Lean Management di farmasi rawat jalan, mempublikasikan hasil dalam rentang 2019–2024, serta berbahasa Indonesia atau Inggris. Dari 286 artikel, lima artikel memenuhi kriteria kelayakan. Hasil kajian menunjukkan Lean Management secara konsisten efektif dalam mengurangi waktu tunggu hingga 30%, meningkatkan kepuasan pasien, dan efisiensi operasional. Hal ini dicapai melalui optimalisasi alur kerja, pemisahan layanan, dan integrasi teknologi. Selain itu, Lean 5S dan Kaizen memperbaiki kenyamanan lingkungan kerja dan produktivitas staf. Implementasi Lean Management memerlukan dukungan sumber daya yang cukup, pelatihan berkelanjutan, dan adaptasi terhadap kebutuhan spesifik rumah sakit. Secara keseluruhan
PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH PADA ANAK SEKOLAH DASAR SEBAGAI BEKAL KESELAMATAN DIRI
Tes golongan darah dilakukan dengan pengujian sampel darah untuk menentukan keberadaan antigen dan antibodi tertentu yang menentukan golongan darah seseorang. Golongan darah yang diketahui secara umum adalah A, B, AB dan O. Kegiatan pemeriksaan kesehatan ini bertujuan untuk memeriksa golongan darah pada anak sekolah dasar sebagai bekal keselamatan diri. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 di MIT Mutiara Bangsa Kota Ambon. Peserta kegiatan sebanyak 107 anak dari kelas 1 sampai kelas 6. Hasil pemeriksaan golongan darah murid yaitu terbanyak mereka bergolongan darah O (46,88% laki-laki dan 37,21% perempuan). Sedangkan golongan darah murid paling sedikit adalah AB (3,12% laki-laki dan 11.63% perempuan). Golongan darah O dan A dominan pada murid perempuan (37.21% dan 34.88%) sedangkan murid laki-laki dominan bergolongan darah O (46,88%). Sebagian besar murid laki-laki dan perempuan memiliki golongan darah O. Manfaat mengetahui golongan darah di usia dini sangat banyak untuk keselamatan dan kesehatan di masa depan. Saran bagi petugas kesehatan di puskesmas atau tenaga kesehatan lainnya untuk dapat membuat kegiatan serupa di masyarakat
PELATIHAN JUMANTIK DALAM PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI PONDOK PESANTREN NURUL HUDA YAYASAN TRI SUKSES LAMPUNG, DESA PEMANGGILAN KECAMATAN NATAR KABUPATEN LAMPUNG SELATAN.
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Angka insidensi penyakit di Provinsi Lampung berfluktuasi dan terjadi peningkatan dalam tiga tahun terakhir yaitu dari 25,0/100.000 penduduk tahun 2021, dan meningkat menjadi 50,8/100.000 penduduk tahun 2022 dan mengalami penurunan menjadi 23,4/100.000 penduduk pada tahun 2023. Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2022 angka insidensi yaitu sebesar 25,4/100.000 penduduk, dan tidak ada kematian, Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan keadaan penyakit DBD, menurut informasi dan data dari Puskesmas Hajimena mengalami peningkatan dari Bulan Januari sampai Agustus 2024 sebanyak 55 kasus. Dalam rangka menekan terjadinya kasus DBD pada suatu wilayah diperlukan partisipasi masyarakat dalam rangka memonitor dan memberantas sarang nyamuk vektor penyakit, sehingga perkembangan populasi nyamuk tetap dalam kondisi aman tidak menjadi sumber penularan penyakit tersebut. Keterlibatan masyarakat dapat dilakukan terhadap potensi sumber daya yang ada di daerah, termasuk institusi pendidikan dan siswa pondok pesantren yang terdapat di wilayah tersebut sebagai sumber daya yang dapat dikembangkan dan membantu program. Maka oleh sebab itu diperlukan pengembangan “Pelatihan juru pemantau jentik dalam “Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)” di Pondok Pesantren Nurul Huda Lampung oleh dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Program Studi Sanitasi Program Diploma Tiga. Pendekatan ini digunakan dalam rangka membatu meningkatkan program pengendalian penyakit DBD di suatu wilayah
DIVERSIFIKASI PRODUK BERBASIS TALAS UNTUK PENINGKATAN EKONOMI DESA TUAPEJAT MENTAWAI, SUMATRA BARAT
Desa Tuapejat adalah sebuah desa yang terletak di kepulauan Mentawai dengan hasil budidaya masyarakat salahsatunya adalah talas. Talas merupakan tanaman lokal yang melimpah di wilayah ini, namun pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi tradisional, dan bahkan talas kadang hanya dijadikan sebagai makanan ternak di wilayah tersebut. Untuk meningkatkan nilai perekonomian masyarakat maka telah dilakukan kegiatan pelatihan pengolahan umbi talas menjadi berbagai macam makanan di desa Tuapejat. Kegiatan diikuti oleh peserta mitra dengan latar belakang ibu rumah tangga dan anggota PKK desa Tuapejat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengolahan umbi talas, meningkatkan diversifikasi produk olahan umbi talas untuk menciptakan nilai tambah dan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui pemasaran produk olahan talas. Program ini melibatkan sosialisasi dan praktik pembuatan berbagai olahan talas, seperti keripik talas dengan aneka rasa, nugget talas, cake talas, bola-bola talas isi cokelat, dodol talas cokelat, dan keripik talas balado. Peserta mitra diajarkan bagaimana pemilihan talas yang baik, cara mengupas, pengolahan dan pengemasan produk yang sudah jadi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa para peserta, terutama ibu-ibu, mulai memproduksi dan menjual olahan berbasis talas secara kelompok maupun mandiri. Tim selalu memberikan pendampingan terhadap peserta mitra untuk memantau dan memberikan penyuluhan agar peserta mitra dapat meningkatkan produksi dan penjualannya. Kegiatan ini berkontribusi pada peningkatan keterampilan peserta serta membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan pendapatan keluarga