Sekolah Tinggi Teologi Simpson (STT): Simpson Journals
Not a member yet
412 research outputs found
Sort by
Pembinaan Rohani Anak Sekolah Minggu Oleh Guru Pendidikan Agama Kristen Di GKII Gracia Lebak Ubah
Pembinaan rohani anak Sekolah Minggu adalah salah satu komponen yang paling penting dan utama dalam gereja lokal, secara khusus di kalangan GKII Gracia Lebak Ubah, Daerah I Sintang, Wilayah II Kalimantan Barat. Pembinaan rohani anak Sekolah Minggu di GKII Gracia Lebak Ubah belum terlaksana secara maksimal. Hal itu terjadi karena gereja belum memiliki guru Sekolah Minggu secara khusus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengakaji serta menjelaskan upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh Guru Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan kualitas pembinaan rohani anak Sekolah Minggu di GKII Gracia Lebak Ubah, Daerah I Sintang Wilayah II Kalimantan Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif, yakni peniliti terlebih dahulu melaksanakan riset lapangan, yakni wawancara. Dalam penilitian ini, sampel penelitian adalah Guru Pendidikan Agama Kristen, yakni sebagai pembina rohani anak Sekolah Minggu GKII Gracia Lebak Ubah, Daerah I Sintang Wilayah II Kaliman Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu melalui observasi (riset) lapangan, yakni wawancara. Guru Pendidikan Agama Kristen telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik dalam pembinaan rohani anak Sekolah Minggu di GKII Gracia Lebak Ubah, Daerah I Sintang Wilayah II Kalimantan Barat.  Peran serta Guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembinaan rohani anak di GKII Gracia Lebak Ubah, Daerah I Sintang Wilayah II Kalimantan Barat, mengakibatkan pertumbuhan rohani anak.Â
Peran Guru Dalam Pembentukan Karakter Menghormati Orang Lain Pada Siswa Kelas IV SDN 003 Malinau Kota
Peran guru dalam pendidikan karakter menghormati orang lain dapat dilakukan melalui kegiatan rutin yang dilakukan berulang-ulang setiap hari. Guru juga dapat berperan melalui kegiatan spontan seperti memberi apresiasi dan menegur ketika siswa melakukan kesalahan. Selain itu guru juga dapat berperan melalui kegiatan – kegitan untuk mengkondisikan pembentukan karakter siswa. Dan guru juga dapat berperan dengan memberikan teladan yang baik kepada siswa. Guru juga dapat berperan melalui penguatan mata pelajaran di dalam RPP, proses belajar mengajar, serta penilaian dan evaluasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Untuk pengumpulan data peneliti menggunakan metode wawancara tak terstruktur kepada Wali Kelas, Guru Agama Kristen, Guru Bahasa Inggris, Guru Mulok, Guru PJOK dan 2 orang siswa sebagai responden. Untuk triangulasi data, peneliti membandingkan hasil wawancara para guru dengan wawancara kepada siswa. Hasil dari penelitian ini adalah guru sudah berperan dalam pembentukan karakter menghormati orang lain kepada siswa kelas IV SDN 003 Malinau Kota
Perceptions of Church Financial Transparency: Ethical-Theological Analysis and Financial Accountability
This paper examines the perception of transparency among the Church Councils with an ethical-theological analysis and an analysis of financial accountability. The background of the problem is that there are different perceptions among the congregations regarding church financial accountability. These differences reflect differences in theological ethical content. The data collection method used is a mix-method, which uses quantitative tools by distributing questionnaires and in-depth interviews with several church assemblies. The final number of respondents is 167 church assemblies from two church groups, namely the Indonesian Christian Church of the Central Java Regional Synod (Gereja Kristen Indonesia Sinode Wilayah Jateng/GKI SW Jateng) Region of Solo and the Javanese Christian Churches (Gereja-gereja Kristen Jawa/GKJ) Region of North Yogyakarta. The result is a moral obligation is proven to have a significant effect on transparency and intention to disclose financial information to the congregation. This moral obligation to make church finances transparent is based on the church community or congregation members. The ethical drive mainly comes from the community. Theologically, this result on the one hand confirms the existence of the church as a community of faith that drives the formation of values. On the other hand, it presents an opportunity for the church to make a program that formed a personal value of transparency in the Church Council. The research contribution is to the development of the Church Council\u27s guidance on financial accountability and the development of theological ethical values
Pendidikan dalam Gereja Sebagai Bentuk Partisipasi Kristen dalam Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
Pendidikan dalam gereja berpengaruh bagi generasi gereja. Pendidikan dalam gereja sebagai bentuk partisipasi Kristen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa didasari oleh fondasi teologis. Ada beberapa prinsip dalam Alkitab dan misi gereja yang menjadi dasar teologis pendidikan dalam gereja yaitu, pendidikan dalam gereja adalah tanggung jawab orang Kristen. Orang percaya harus meneruskan pengajaran dan pembinaan pada generasi selanjutnya. Kemudian pendidikan dalam gereja juga merupakan sebuah pembentukan karakter. Setiap anggota gereja didik untuk memiliki karakter yang serupa dengan Kristus. Selanjutnya, pendidikan dalam gereja juga adalah sebuah misi membawa orang menjadi murid Kristus. Kemudian, pendidikan dalam gereja juga untuk membawa jemaat mengenal Allah dan firman-Nya. Pendidikan dalam gereja membawa jemaat pada pembinaan iman dan ketekunan. Dari fondasi teologis yang terdapat dalam prinsip-prinsip Alkitab tersebut menghasilkan bentuk partisipasi Kristen dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan. Adapun bentuk pendidikan dalam gereja yang berkontibusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, yaitu Pendidikan Agama Kristen. Kontribusi yang dilakukan oleh pendidikan agama Kristen meliputi 1) Pengajaran dasar iman Kristen, studi Alkitab dan juga praktik spiritual; 2) Sekolah Minggu yang merupakan pendidikan non-formal yang diselenggaran gereja untuk memberikan pembentukan karakter anak-anak sehingga memiliki moralitas yang baik; 3) Membentuk kelompok kecil atau persekutuan dalam gereja dapat membantu anggota gereja dalam pembelajaran dan pertumbuhan rohani bagi anggota gereja dengan konsep belajar bersama, berdiskusi, saling mendudukang dan menerapkan nilai-nilai Kristen dalam kehidupan sehari-hari; 4) Gereja yang mendirikan sekolah Kristen tidak hanya memberikan kontribusi dalam aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter dan spiritual siswa; 5) Pelayanan Sosial dan Pembinaan Karakter. Gereja mendorong anggotanya untuk berkontribusi dalam pelayanan sosial sebagai bentuk partisispasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa
Prinsip Pembangunan Iman Jemaat Berdasarkan Kisah Para Rasul
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis prinsip-prinsip pembangunan iman jemaat yang terdapat dalam Kisah Para Rasul. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan pendekatan penelitian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan beberapa prinsip pembangunan iman jemaat dalam Kisah Para Rasul adalah Pertama, ajaran Injil menjadi pusat perhatian dan fokus utama para rasul. Para rasul berkomitmen untuk menyebarkan ajaran Injil kepada semua orang dan membentuk komunitas Kristen yang hidup berdasarkan prinsip-prinsip Injil; Kedua, Kisah Para Rasul menekankan pada kehidupan berjemaat sebagai fondasi dalam komunitas Kristen mula-mula. Kehidupan berjemaat dalam jemaat mula-mula melibatkan pengajaran, persekutuan, saling berbagi, penyembahan, dan pengukuhan iman bersama; Ketiga, Kisah Para Rasul memperlihatkan bahwa kuasa Roh Kudus berperan penting dalam pertumbuhan iman para rasul, hal ini tampak dari peran Roh Kudus yang memberikan mereka kekuatan, keberanian, pengertian, penggenapan janji, dan pengalaman rohani yang memperdalam hubungan mereka dengan Allah; Keempat, Pentingnya kesetiaan dalam penganiayaan bagi para pengikut Yesus yang terlihat dalam keberanian untuk terus memberitakan Injil, mengampuni para penganiaya, dan memuji Allah bahkan dalam situasi yang sulit dan penuh penderitaan
Dalihan Na Tolu Analogy as an Approach to Strengthen Men’s Ministry Role
Of all categorical ministry, men’s ministry are not as actively involved in the church ministry as others do. This article discusses the ways to strengthen men’s ministry role in the Batak Protestant Christian Church (HKBP) in present day through cultural approach. The research used cultural analogy approach. Data were collected by using observation and interviews. In analyzing the data, the researcher employed relevant literature sources such as books and journal articles. The research shows that the elements of Batak principles of Dalihan Na Tolu upholding a Batak person and his/her families of Hula-hula, Dongan Tubu, and Boru were found to be still relevant. The principle’s framework could be used as an approach to strengthen role of male church parishioners in the church by associating it with another three elements: the Church, Bibel (the Bible), and the family. Thus, Dalihan Na Tolu as a cultural principle is applicable to church ministry setting by association of: (1) the organized Church to Hula-hula, (2) the family to Boru, and (3) Bibel as Dongan Tub
The Nature of Tolerance in the Frame of Christian Faith as a Contribution to Building the Unity of the Nation
Intolerant attitudes and actions that result in horizontal conflicts are inevitable in the life of a pluralistic nation like Indonesia. They hinder, however, the development of the nation\u27s integrity protected and fought for decades by its founding fathers. Through this paper, Indonesian Christians are expected to be aware of the importance of their nation\u27s integrity and of them living in harmony, which will bring peace. This study used a descriptive qualitative method with a literature study approach. It concluded that a correct understanding of the nature of tolerance within the framework of the Christian faith is necessary to contribute to building national unity. The tolerance possessed by Christians will maximize their role in contributing to practical building of national unity in daily life, such as in carrying out activities that emphasize coexistence and mutual respect as the realization of obedience to God\u27s word. Christians also need to participate in inter-religious dialogue to find solutions to the problem of disintegration. Thus, the role of Christians in building national unity and integrity through tolerance has an impact on the harmony, security, and sustainability of the state
Correlation between Church Digital Ministry and Semarang Baptist Youth\u27s Spirituality
The spirituality of today\u27s young generation is very prone to be bad. The church needs to serve the younger generation in a way acceptable to them. This study aims to see the correlation between church digital ministry and the spirituality of Baptist youths throughout the city of Semarang. This research used quantitative approach with survey research methods. It shows that the Baptist churches\u27 digital ministries were in the medium category and the Baptist youth\u27s spirituality was in the moderate category, while digital ministry of the churches correlated strongly and positively to their youth\u27s spirituality
The Influence of Christian Religious Education in Family and Parenting Styles on Adolescent Character Formation
This study aimed to test and prove through data collection that the formation of the character of Christ in adolescents is influenced by the implementation of Christian religious education in the family and parenting patterns. The research method used in this research was the survey method - correlational. Based on the data analysis, the results showed that: 1) Christian religious education in the family had a significant effect on the formation of the character of Christ in adolescents; 2) Parenting patterns have a significant effect on the formation of Christ\u27s character in adolescents; 3) Christian religious education in the family and parenting patterns together have a significant effect on the formation of the character of Christ. Thus, efforts to form the character of Christ in adolescents can be done by increasing the intensity of the implementation of Christian religious education in the family and increasing the right parenting pattern
A Discourse on Jubilee among Indonesian Pentecostals and Charismatics
This study aims to describe the Pentecostal-Charismatic discourse about the Jubilee. The study is a qualitative-descriptive study and used literature study approach. Sampling was conducted to Pentecostal-Charismatic circles in several Pentecostal-Charismatic denominations. The data sources are documents in the forms of sermons, magazines, brochures, Jubilee Committee work reports, articles, liturgies, and songs about the Jubilee. Results show that the Pentecostal-Charismatic perspective regarding the Jubilee was generally different from that of the non-Pentecostal-Charismatic. According to Pentecostals-Charismatics, slave liberation meant to be restoration of a man from sin, from shackles of bondage of the evil one, from sickness, from weakness, and from inner wounds & want/poverty by the power of Jesus’ cross; Then, the land that must be returned to its original owner was defined as the return of humans to their right position, that is, before they fall into sin. Regarding the relevance of land regulations in the Jubilee was the arrangement of the organizational structure or church management, in which the older generation began to retire and was replaced by the younger generation; whereas the rest itself was intended for humans to be able to have a fellowship with God, so that they do not get greedy and can appreciate others’ property