Sekolah Tinggi Teologi Simpson (STT): Simpson Journals
Not a member yet
412 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Teknologi dalam Penginjilan dan Disiplin Rohani Pemuda Kristen
Penelitian ini membahas pemanfaatan teknologi dalam penginjilan dan disiplin rohani pada pemuda Kristen, mengingat perkembangan teknologi yang pesat dan pengaruhnya terhadap pola hidup generasi muda. Studi ini dilakukan di lingkungan komunitas pemuda Kristen sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara metode tradisional dengan pendekatan digital dalam pelayanan rohani. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara dan observasi partisipatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi seperti media sosial, aplikasi Alkitab digital, dan platform daring efektif meningkatkan partisipasi dan kedisiplinan pemuda dalam kegiatan keagamaan serta memperluas jangkauan penginjilan. Namun, diperlukan pengelolaan konten yang bijak agar nilai-nilai keagamaan tetap terjaga. Kesimpulannya, teknologi merupakan alat penting dalam mendukung penginjilan dan disiplin rohani pemuda Kristen, sehingga gereja dan lembaga terkait disarankan untuk mengintegrasikan teknologi secara strategis dalam program pembinaan rohani guna menghadapi tantangan zaman
Strategi Gereja dalam Mengembangkan Komunitas Digital sebagai Sarana Pembinaan Pemuda
Penelitian ini mengkaji pendekatan strategis gereja dalam membangun komunitas digital untuk pembinaan pemuda di era digitalisasi. Temuan utama menunjukkan bahwa gereja perlu mengadopsi tiga strategi kunci: pelayanan berbasis kemitraan, berbasis kebutuhan pemuda, dan berbasis teknologi. Pendekatan holistik ini memungkinkan gereja mengembangkan komunitas digital yang tidak hanya menjadi saluran komunikasi tetapi juga ruang pembinaan yang efektif. Konsep Digital Ecclesia menawarkan kerangka teologis dimana gereja tidak hanya menggunakan teknologi sebagai alat, tetapi mengintegrasikannya sebagai bagian dari strategi misi yang komprehensif. Penelitian ini juga mengidentifikasi lima implementasi praktis: pengembangan platform interaktif, pelatihan kepemimpinan digital, konten kontekstual, komunitas inklusif, dan integrasi pelayanan online-offline. Pendekatan ini memungkinkan gereja memenuhi kebutuhan spiritual Generasi Z sekaligus mempertahankan relevansi misinya di era digital
Dialog Antaragama Sudah Usang: Radical Hospitality dan Masa Depan Relasi Lintas Iman
Interreligious dialogue is a key mechanism for fostering peace and overcoming religious prejudices. However, in the context of the shift of the 21st century, traditional dialogue models seem increasingly inadequate. This study aims to examine the limitations of conventional interfaith dialogue and explore more relevant alternatives to contemporary interfaith relationships. Conducted in the context of rising interfaith tensions and the influence of digital on belief systems, this study uses a qualitative-critical design by analyzing interfaith literature and contemporary case studies. The findings suggest that passive tolerance and formal exchange no longer meet today\u27s challenges. Instead, the study highlights the urgent need for transformation towards interfaith solidarity, radical friendliness, and joint action for social justice. He concluded that while interfaith dialogue remains important, its form needs to be significantly rethought. The study advocates a transition from outdated frameworks to embrace context-sensitive, critically informed, and transformative methodologies. By introducing practical and forward-looking solutions rooted in urgent social imperatives and scientific rigor, the research advances the discourse on interreligious engagement, bridging the gap between theoretical reflection and urgent collective action
Spiritualitas Sebagai Resiliensi Dalam Krisis Pribadi Dan Sosial
Studi ini mengkaji spiritualitas sebagai sumber vital ketahanan dalam menghadapi krisis pribadi dan sosial. Krisis pribadi seperti kehilangan, penyakit, atau pergumulan keluarga, dan krisis sosial seperti bencana alam, konflik, atau pandemi, seringkali menyebabkan tekanan psikologis dan emosional yang mendalam. Spiritualitas, yang dipahami sebagai pencarian manusia akan makna dan hubungan dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan, melampaui agama formal dan memberikan kekuatan batin di masa-masa sulit. Penelitian menyoroti bahwa praktik spiritual mengurangi stres, kecemasan, dan depresi sekaligus meningkatkan kemampuan koping dan kesejahteraan psikologis. Pada tingkat individu, spiritualitas memungkinkan orang untuk menemukan makna dalam penderitaan, mengembangkan penerimaan diri, dan mempertahankan harapan. Pada tingkat komunal, spiritualitas memupuk solidaritas, memperkuat ikatan sosial, dan berfungsi sebagai landasan moral bagi persatuan dan rekonsiliasi. Praktik-praktik seperti doa, meditasi, refleksi, pembacaan kitab suci, ibadah bersama, dan kelompok pendukung berfungsi sebagai strategi efektif untuk memelihara ketahanan. Pada akhirnya, spiritualitas bukan sekadar sumber daya pribadi, melainkan kekuatan kolektif yang memberdayakan individu dan komunitas untuk bertahan, beradaptasi, dan bahkan bertumbuh melalui krisis
Biblical Money and the Church\u27s Mission in the Digital Age
This article examines the relationship between biblical money principles and the mission of the church in the digital age, focusing on Bitcoin as a form of "biblical money" that transcends the modern fiat money system. Based on Luke 16:9 and teachings such as Leviticus 19:36 and Proverbs 11:1, the author asserts that fair money should reflect honesty, avoid value-stealing inflation, and reduce dependence on debt. Bitcoin is judged to meet the principles of scarcity, fragmentability, portability, and resistance to censorship, making it most in line with biblical values of economic justice. In the Indonesian context, although still limited in regulation, Bitcoin has the potential to be used for the storage of value, funding cross-cultural missions, and empowering churches through decentralized financial technology. This article invites the church to rethink missiological finance by applying biblical money ethics in the midst of global economic challenges
Mentor Sebagai Sahabat Rohani: Peran Dalam Pembentukan Karakter
Menjadi serupa dengan Kristus adalah kehendak Allah dalam Firman-Nya. Belum semua orang percaya dapat menunjukkan kehidupan yang sama seperti Kristus. Setiap orang percaya mengalami proses pertumbuah rohani yang berbeda-beda. Ada yang memiliki pertumbuhan yang cepat dan ada yang lambat. Tetapi semua itu haruslah diperjuangkan. Orang Kristen juga mengalami kegagalan dalam mentaati Firman Tuhan. Mengalami sakit hati, kemarahan, kebencian, melakukan kebiasaan buruk dan sebagainya, yang intinya tidak mengalami perubahan dalam karakternya. Pada saat menerima pertolongan dari orang lain, belum tentu mendapatkan pendampingan yang tepat. Sehingga orang tersebut tidak merasa ditolong, tetapi justru mendapatkan masalah baru. Tujuan penelitian ini, peneliti memaparkan peran mentor dalam mendampingi mentee untuk perubahan karakter, dengan pendekatan sebagai seorang sahabat. Peran mentor dalam pembetukan karakter adalah: memberikan pendampingan dan arahan yang benar menuntun kepada kebenaran sesuai dengan Firman Tuhan dan memberikan contoh teladan hidup yang baik, sehingga pendampingan menjadi lebih efektif. Seorang mentor juga harus memiliki sikap yang baik yang perlu dikembangkan, yaitu: kasih dan penghargaan, lemah lembut, rendah hati, sabar, bersahabat dengan hangat, suka menolong, rela dan tulus, terbuka, rela berkorban dan memberi perhatian. Seorang mentor perlu menempatkan diri bahwa seorang mentor dan mentee memiliki derajat yang sama, yaitu sebagai manusia berdosa dan sama-sama mendapatkan kasih karunia dari Allah, yaitu pengampunan dosa. Oleh sebab itu, seorang mentor tidak berhak untuk menghakimi dan merendahkan. Yesus memberikan teladan dalam pelayanannya bahwa Yesus mendekati orang berdosa, tidak menjauhi. Yesus menegur dengan kasih dan memberi pengharapan untuk pemulihan sehingga orang yang dilayani dapat terbentuk karakternya, mengalami perubahan dan dapat dipakai Tuhan untuk menjadi alat-Nya untuk melayani Tuhan.
 
Navigating Class, Religion, and Education: Exploring Nigerian Christian Middle-Class Dynamics in Nigeria
The Nigerian middle class has been the subject of extensive sociological inquiry, yet the intersection of religion, education, and social mobility within this group remains underexplored, particularly among Christian communities in Lagos State. This paper examines the historical and contemporary factors shaping the emergence and reproduction of the Nigerian Christian middle class. Drawing on existing studies, the analysis highlights the role of missionary education, familial strategies, and professional advancement in fostering upward mobility. The heterogeneity of Christian denominations, stratification within religious communities, and the role of gender and migration are explored to provide a nuanced understanding of how Nigerian Christians navigate social hierarchies. The study also identifies gaps in current research, emphasizing the need for focused empirical studies to unpack the complex interplay of religion, class, and education. Findings contribute to the broader discourse on the sociology of religion and middle-class identity formation in Nigeria
Shalom as a Theological Foundation for Reconciliation: Implications for Christian Leadership in Contemporary Indonesian Society
Multi-faceted problems require diverse, creative responses from the church and Christian leaders. Deeper theological engagement is necessary to facilitate the work of reconciliation. This article explores in depth the concept of shalom and its theological reflections in the work of reconciliation. To analyze and address this issue, the researcher employed an appreciative inquiry approach, emphasizing that theology must be developed appreciatively, highlighting not only redemptive theology but also creation theology. The study was conducted in two stages: first, an exploration of the meaning of shalom from a biblical perspective; and second, the construction of theological reflections. The findings of this study are threefold. First, theological reflection on shalom leads the church to view Jesus as the ultimate source of shalom. Therefore, the church is called to strengthen the vertical relationship of its members with God. Second, the church’s concrete actions in the world must be grounded in the values of shalom rather than merely humanitarian agendas. This foundation is rooted in both redemptive and creation theology, working hand in hand to call the church toward restoring human relationships and the created order. Third, the ultimate goal of a shalom community is the realization of justice, love, reconciliation, and hope for the future
Pemahaman Gembala tentang Bulan Misi dan Kaitannya dengan Gerakan Misi Gereja
This study addressed the social and scientific importance of understanding pastors’ perceptions of “Mission Month” and its relationship to church mission movements, particularly within the GKII Central Java 1. The research aimed to analyse how pastors comprehend the significance of Mission Month and how this understanding influences the effectiveness of mission initiatives at the local church level. Using a qualitative phenomenological approach, data were collected through purposive sampling of eight ordained pastors with at least three years of service, employing unstructured and in-depth interviews as well as participatory observation. Results indicated that pastors perceived Mission Month as a strategic period to mobilise congregational participation in evangelism and mission, reinforcing commitment to the church’s vision. The effectiveness of Mission Month was closely linked to the pastors’ transformative leadership and managerial abilities
Editorial: Seminar Nasional Pendidikan Kristen dan Teologi, "Youth Spirituality in the Digital Age", 23 Mei 2025
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memimpin dan menyertai terselenggaranya Seminar Nasional dengan tema "Youth Spirituality in the Digital Age" pada tanggal 23 Mei 2025. Seminar ini merupakan respons teologis dan edukatif terhadap realitas kehidupan generasi muda masa kini yang hidup dan bertumbuh dalam konteks era digital yang kompleks, cepat berubah, dan penuh tantangan spiritual.
Perkembangan teknologi informasi dan media sosial telah membentuk cara generasi muda berpikir, berinteraksi, dan membangun identitas. Di satu sisi, dunia digital membuka peluang besar bagi pelayanan dan pertumbuhan rohani; namun di sisi lain, juga membawa ancaman terhadap kedalaman spiritualitas, relasi personal dengan Tuhan, dan kehidupan bergereja. Dalam konteks inilah, penting bagi gereja, lembaga pendidikan teologi, dan para pelayan Tuhan untuk merefleksikan kembali strategi pembinaan iman generasi muda.
Seminar ini menghadirkan Dr. Herwinesastra dari Sekolah Tinggi Teologi Pontianak sebagai pembicara utama yang memberikan landasan teologis sekaligus wawasan praktis mengenai dinamika spiritualitas kaum muda di era digital. Paparan beliau menjadi dasar yang kuat bagi diskusi-diskusi lanjutan dalam forum ini.
Prosiding ini memuat artikel-artikel yang dipresentasikan oleh para pemakalah dari berbagai sekolah tinggi teologi, yaitu: Sekolah Tinggi Teologi Tenggarong, Sekolah Tinggi Teologi Immanuel Sintang, dan Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran.
Para penulis menyumbangkan kajian mendalam terkait:
Peran gereja dalam membimbing generasi digital. Topik ini penting sebab gereja perlu membimbing generasi muda terutama Generasi Z menghadapi kehidupan yang komplek di era digital (Darmawan et al., 2021; Hendrawan et al., 2023; Sastrohartoyo et al., 2021). Mengacu pada penelitian Sianipar et al. (2022) fungsi didaskalia gereja sangat vital dalam membangun pondasi ketahanan generasi muda Kristen di era digital yang penuh tantangan ideologi transnasional radikal.
Strategi pendidikan Kristen yang relevan untuk membangun kedewasaan iman remaja. Perkembangan teknologi menuntuk perlunya strategi pendidikan Kristen yang relevan dengan kehidupan remaja dan pemuda (Darmawan et al., 2024; Nainupu & Darmawan, 2021). Sianturi et al. (2023) menekankan perlunya strategi yang relevan untuk membimbing remaja agar dewasa secara iman dan moral.
Potensi media digital sebagai sarana penginjilan dan pembinaan. Diana et al. (2023) mengkaji potensi media digital sebagai sarana pembinaan iman Kristen. Peluang ini perlu dikaji secara mendalam. Kemudian terdapat kebutuhan guru Pendidikan Agama Kristen mengadopsi transformasi pembelajaran digital yang kontekstual agar dapat memanfaatkan teknologi sebagai sarana membangun kedewasaan iman dan memperkuat komunitas gereja (Darti et al., 2023; Serdianus et al., 2025). Media digital juga berpotensi membawa dampak negatif seperti hoax dan penipuan, tetapi dengan pendidikan agama Kristen yang tepat, media digital dapat dimanfaatkan positif sebagai sarana pembinaan dan penginjilan dalam konteks menjaga nilai-nilai Kristiani (Pandie, 2022).
Tantangan etika dan krisis identitas yang dihadapi kaum muda Kristen saat ini. Berbagai penelitian menyoroti bahwa remaja Kristen menghadapi krisis identitas akibat tekanan sosial dan media digital, di mana standar sosial dan gaya hidup yang ditampilkan media seringkali menimbulkan kebingungan identitas diri dan moralitas. Pendidikan Agama Kristen berperan penting untuk membentuk self-concept dan karakter Kristen yang kuat agar mampu menghadapi tantangan ini (Andrian, 2024).
Kami percaya bahwa artikel yang diterbitkan dalam prosiding ini bukan hanya menjadi bahan bacaan akademik, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi praktisi pelayanan generasi muda, pendidik, pemimpin gereja, dan semua yang rindu melihat kebangkitan spiritual kaum muda di tengah gelombang zaman.
Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pemakalah, tim reviewer, panitia seminar, serta institusi penyelenggara yang telah mendukung penuh terselenggaranya seminar ini dan proses penerbitan prosiding. Kiranya Tuhan memakai hasil kerja ini untuk memperkuat tubuh Kristus, khususnya dalam menjangkau dan membina generasi digital agar hidup dalam terang kebenaran-Nya.