OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Development and efficacy assessment of an intense pulsed light sterilization device for pickled fruits and vegetables
This study presents the development and efficacy assessment of an intense pulsed light (IPL) sterilization device tailored for the pickled fruit and vegetable industry. The project aimed to (1) design and construct a compact IPL unit for industrial use, (2) validate its microbial reduction performance through laboratory and field testing, and (3) promote technology transfer via operational trials. The prototype integrates a xenon lamp, pulse generation circuit, conveyor belt, and control interface, allowing precise adjustment of exposure parameters. Experimental results showed over 90% microbial reduction within 120 seconds at an average light intensity of 1.7 mW/cm² and a frequency of one pulse per second. The findings demonstrate the device’s potential for improving food safety without compromising product quality. Furthermore, the study evaluates its industrial applicability, highlighting opportunities for broader adoption and scalability across production settings
Physicochemical properties of corn flour modified by mixed-culture (Aspergillus sp. and Lactobacillus fabifermentans) fermentation
Corn flour has undergone numerous modifications, however, the use of fermentation with Indigenous mixed cultures (molds and bacteria) followed by pregelatinization has not been extensively explored. The aim of the study was to assess the impact of fermentation with indigenous mixed cultures, specifically Aspergillus sp. (AS) and Lactobacillus fabifermentans (LF), on the physicochemical properties of modified corn flour, as well as its application in product quality. Corn flour was fermented using mixed cultures of AS and LF in a Complete Random Design (CRD) at five different ratios (AS: LF) of 1:0, 1:1, 1:2, 1:3, and 0:1. Each culture was incubated for 120 hours for AS and 48 hours for LF, then diluted by mixing 1 mL of the culture with 10 mL of sterile water. This diluted solution (according ratio) was aseptically added to a sterile corn flour dispersion at a ratio of 1:2 (w/v) and fermented under microaerophilic conditions for 48 hours. The fermented dispersions were dried and subsequently steamed (80°C) for 15 minutes at a 30% (w/v) ratio to prepare samples for analysis of amylose content, starch content, pasting, and rheological properties. The optimal AS: LF ratio determined through statistical analysis was 1:3, resulting in a final pH of 3.60 ± 0.10. The physicochemical properties of the corresponding steamed samples were as follows: amylose content (%), 17.45 ± 0.62; starch content (%), 68.94 ± 0.69; apparent consistency index (cP), 25,286 ± 512.9; and apparent power-law index, 0.32 ± 0.005, indicating pseudoplastic rheological behavior. The modified corn flour (AS: LF at 1:3) was then used in a 50% formulation for making bread and noodles. The resulting products showed potential for larger-scale development
Pengenalan Dan Pembagian Bibit Indigofera: Pakan Ternak Bernutrisi Dari Bpth Wilayah II.
KKN merupakan salah satu tridarma perguruan tinggi yang wajib dilaksanakan oleh semuamahasiswa sebagai salah satu syarat kelulusan dalam mencapai predikat sarjana atau diploma.Mahasiswa turut berpartisipasi dalam menyelesaikan permasalahan dan mendorong terciptanyakerja sama di masyarakat dengan menerapkan program yang sudah di rancang. Berdasarkanobservasi yang dilakukan, salah satu mata pencaharian masyarakat Desa Kaluku adalahberternak. Kualitas ternak dapat ditingkatkan melalui pakan ternak bernutrisi seperti Indigoferazollingeriana. Program ini bertujuan meningkatkan wawasan masyarakat mengenai tanamanIndigofera, sehingga metode yang digunakan adalah dengan mengadakan sosialisasi sekaliguspembagian bibit Indigofera. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan wawasanmasyarakat mengenai tanaman Indigofera dan meningkatnya jumlah tanaman hijau.Kesimpulannya, program ini berhasil mencapai tujuannya dalam meningkatkan wawasanmengenai tanaman Indigofera sebagai solusi pakan ternak bernutrisi
Teknologi Pemupukan Granular
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu kegiatan yang diberikan oleh perguruan tinggi kepada mahasiswa dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang tertuang pada poin ke tiga, mengenai aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, Universitas Hasanuddin memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa di tengah kehidupan masyarakat dengan turut serta membantu memecahkan masalah berdasarkan keilmuan sesuai dengan situasi, kondisi, masalah dan prioritas kebutuhan masyarakat di lapangan. Kuliah Kerja Nyata Inovasi Teknologi Tepat Guna Gel. 110, Posko 4 Kecamatan Tompobulu melakukan pengabdian terhadap mitra Sentra Industri Pengolahan Kopi Banyorang dan juga masyarakat di sekitar kelurahan banyorang. Salah satu program kerja yang dimiliki yaitu program kerja inidividu yang tetap dikerjakan secara bersama-sama, adapun programnya “Alternatif Teknologi Pemupukan Granuler Menggunakan Pipa Pralon”. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan studi literatur dan melaksanakan pembuatan alat yang terdiri beberapa tahap seperti perencanaan, penyiapan alat dan bahan, pembuatan alat pemupukan granuler serta melakukan sosialisasi mengenai alat pemupukan granuler yang telah termasuk cara pembuatan serta cara penggunaan alat. Program kerja ini merupakan program kerja wajib bagi peserta KKNT ITTG GEL. 110 Universitas Hasanuddin. Kegiatan ini dilakukan di kelurahan Banyorang kecamatan Tompobulu
Pemberdayaan masyarakat melalui inovasi produk ramah lingkungan: studi kasus pengolahan limbah kulit pisang menjadi sabun cuci piring di Desa Massaile, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sinjai, Sulawesi-Selatan
Pemberdayaan masyarakat melalui inovasi produk ramah lingkungan menjadi strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan lingkungan dan ekonomi di tingkat komunitas. Penelitian ini menganalisis efektivitas pendekatan tersebut dengan studi kasus pengolahan limbah kulit pisang menjadi sabun cuci piring di Desa Massaile, Kabupaten Sinjai. Permasalahan utama yang menjadi dasar penelitian adalah penumpukan limbah organik yang belum termanfaatkan dan ketergantungan masyarakat pada produk pembersih komersial. Melalui metode partisipatif dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang melibatkan sosialisasi dan pelatihan komprehensif, program ini berhasil meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi. Hasilnya, tidak hanya tercipta sabun cuci piring yang efektif, tetapi juga tumbuh kesadaran akan pentingnya daur ulang. Kesimpulannya, model pemberdayaan ini terbukti efektif sebagai solusi berkelanjutan yang mengatasi isu lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan kemandirian masyarakat
Edukasi pembuatan kompos dari kulit kopi pada masyarakat Desa Kahayya
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Hasanuddin. Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gel. 108 Universitas Hasanuddin mengusung berbagai macam tema salah satunya yaitu kopi Kahayya yang terletak di Desa Kahayya, Kecamatan Kindang Kabupaten Bulukumba. Tujuan dilakukannya pembuatan kompos dari limbah kulit kopi yaitu agar masyarakat dapat mengoptimalkan limbah kulit kopi yang terbuang percuma. Manfaat pembuatan kompos dari limbah kulit kopi yaitu mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan yang dapat merusak kesuburan tanah. Pembuatan kompos dari limbah kulit kopi dilaksanakan pada tanggal 15 Juli – 4 Agustus 2022 bertempat di Rumah Penjemuran Kopi dan Demonstrasi pembuatan kompos dari limbah kulit kopi dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2022, bertempat di Kebun Milenial Desa Kahayya. Adapun hasil yang diperoleh yaitu bertambahnya wawasan masyarakat mengenai pengolahan limbah kulit kopi yang terbuang percuma dan adanya produk yang dihasilkan yaitu Kompos Kopi Kahayya (KOPIYYA)
Aplikasi Edible Coating Pati Bengkuang (Pachyrhizus Erosus) Dan Kunyit (Curcuma Longa) Untuk Meminimalkan Kerusakan Buah Sawo (Manilkara Zapota) : Edible Coating untuk Mempertahankan Kualitas dan Masa Simpan Buah Sawo
Sapodilla fruit is one of the horticultural commodities with high nutritional value but is easily damaged, so it requires post-harvest treatment to extend its shelf life. One effort that can be made is the application of edible coating based on natural ingredients that can maintain fruit quality. This study aims to evaluate the effectiveness of edible coating made from yam starch with the addition of turmeric filtrate on the shelf life and quality of sapodilla fruit. The parameters observed include weight loss, skin colour, flesh colour, texture, aroma, and fruit tastes during storage. The coating method was carried out using a dipping technique in five treatment variations, namely K + (positive control), K- (negative control), F1 (EC + 5% turmeric filtrate), F2 (EC + 10% turmeric filtrate), and F3 (EC + 15% turmeric filtrate). The results showed that the F3 treatment was the most effective in extending the shelf life up to 21 days while maintaining the organoleptic quality of sapodilla fruit. The addition of turmeric filtrate in edible coating has been shown to slow down the rate of damage, so it has the potential as a natural solution to maintain the quality of sapodilla fruit during storage.Buah sawo merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai gizi tinggi namun mudah rusak, sehingga memerlukan perlakuan pascapanen untuk memperpanjang masa simpannya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penerapan edible coating berbasis bahan alami yang mampu menjaga mutu buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas edible coating berbahan dasar pati bengkuang dengan penambahan filtrat kunyit terhadap masa simpan dan kualitas buah sawo. Parameter yang diamati meliputi susut bobot, warna kulit, warna daging, tekstur, aroma, dan rasa buah selama penyimpanan. Metode pelapisan dilakukan dengan teknik pencelupan (dipping) pada lima variasi perlakuan, yaitu K+ (kontrol positif), K- (kontrol negatif), F1 (EC + filtrat kunyit 5%), F2 (EC + filtrat kunyit 10%), dan F3 (EC + filtrat kunyit 15%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan F3 merupakan yang paling efektif dalam memperpanjang masa simpan hingga 21 hari dengan tetap mempertahankan mutu organoleptik buah sawo. Penambahan filtrat kunyit dalam edible coating terbukti memperlambat laju kerusakan, sehingga berpotensi sebagai solusi alami untuk mempertahankan kualitas buah sawo selama penyimpanan
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG KACANG TANAH (Arachis Hypogaea L.) TERHADAP KUALITAS GIZI DAN ORGANOLEPTIK PADA MOCHI BITES
ABSTRAK
Mochi bites adalah varian mini dari mochi Jepang yang memiliki tekstur kenyal dan lembut, namun rendah protein. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi mochi bites dengan menambahkan tepung kacang tanah yang kaya akan protein dan lemak. Penelitian dilakukan dengan menggunakan tepung ketan putih sebagai bahan dasar dan variasi penambahan tepung kacang tanah. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor: formulasi tepung kacang tanah dan lama pengukusan, yang menghasilkan 27 percobaan dengan tiga ulangan. Analisis yang dilakukan meliputi kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak, karbohidrat, serta uji organoleptik yang mencakup rasa, aroma, warna, tekstur, dan keseluruhan. Analisis statistik dilakukan menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) dan uji Fisher pada taraf signifikan 95% dengan software Minitab.
Hasil pengujian perlakuan terbaik diperoleh pada F9T9 (95% tepung ketan : 5% tepung kacang tanah) dengan kadar air 43,44%, kadar abu 0,040%, kadar protein 18,61%, kadar lemak 0,775%, karbohidrat 72,72%, serta nilai organoleptik rasa 3,8 (suka), aroma 3,21 (suka), warna 3,72 (suka), tekstur 4,4 (suka), dan keseluruhan 3,72 (suka)
Edukasi Alat Tangkap Ramah Lingkungan dan Regulasi Perikanan: Upaya Meningkatkan Kesadaran Masyarakat dalam Pengelolaan Sumber Daya Perikanan di Desa Lero
The Community Service Program (KKN) aims to increase awareness of the coastal community of Lero Village regarding the importance of using environmentally friendly fishing gear and enhancing knowledge about fisheries regulations. The improper use of fishing gear can damage the ecosystem and reduce catch yields. In this extension activity, education was provided on various environmentally friendly fishing gear and explanations of the regulations that must be adhered to to avoid violating provisions that harm the environment and the economy of the community. The implementation method of the program includes outreach and demonstrations in the field regarding the use of environmentally friendly fishing gear. The results show an increase in community understanding regarding the importance of maintaining the balance of the marine ecosystem through the application of appropriate fishing gear and awareness of fisheries regulations. This program has also been successful in encouraging changes in the attitudes and mindsets of fishermen to begin transitioning to more sustainable fishing practices. It is hoped that through this program, the Lero Village community can preserve the sustainability of marine resources and improve their economic welfare sustainably in the future.Edukasi alat tangkap ramah lingkungan merupakan program kerja Kuliah Kerja Nyata yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir Desa Lero terkait pentingnya penggunaan alat tangkap ikan ramah lingkungan serta meningkatkan pengetahuan mengenai regulasi perikanan. Penggunaan alat tangkap yang tidak tepat dapat merusak ekosistem dan menurunkan hasil tangkapan. Kegiatan penyuluhan ini, diadakan sebagai bentuk edukasi mengenai berbagai alat tangkap yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan penjelasan peraturan yang harus dipatuhi agar tidak melanggar ketentuan yang merugikan lingkungan dan perekonomian masyarakat. Metode pelaksanaan program meliputi penyuluhan dan demonstrasi di lapangan mengenai penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terkait pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut melalui penerapan alat tangkap yang sesuai dan kesadaran akan peraturan perikanan. Program ini juga berhasil mendorong perubahan sikap dan pola pikir para nelayan untuk mulai beralih ke praktik perikanan yang lebih berkelanjutan. Diharapkan, melalui program ini, masyarakat Desa Lero dapat mempertahankan kelestarian sumber daya laut serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka secara berkelanjutan di masa mendatang
KARAKTERISASI ENZIM PEKTINASE YANG DIHASILKAN DARI ISOLAT KHAMIR INDIGENUS YANG DIISOLASI SELAMA FERMENTASI BIJI KOPI ROBUSTA
The following research aims to understand indigenous yeast isolates that are pectinolytic, the effect of incubation time on pectinase enzyme activity, and the pH and temperature properties of pectinase enzymes obtained from indigenous yeast resulting from spontaneous fermentation of robusta coffee beans. The following type of research is experimentation through RAL (Completely Randomized Design). This research first carried out selection of pectinolytic yeast, then determined the optimum incubation duration, pH and optimum temperature of the pectinase enzyme. The yeast isolate used was selected using media (1% pectin + 0.1% Congo red + 2% agar) to determine the highest pectinolytic ability. Selected pectinolytic yeast isolates will proceed to the stage of determining the optimum incubation time with periods of 24, 48, 72, 96, 120, and 144 hours, where every 24 hours enzyme extraction is carried out. Furthermore, the crude extract of the pectinase enzyme produced from selected pectinolytic yeast isolates was characterized at pH (3, 3.5, 4, 4.5, 5, 5.5, 6) and temperature (30oC, 40oC, 50oC, 60oC, 70oC) to determine the optimum pH and temperature. The research results showed that tests on seven indigenous yeast isolates were pectinolytic and the one with the highest pectinolytic ability was isolate K24I7 with a clear zone diameter of 3.13 mm. In determining the optimum incubation time, it was found that at an incubation time of 24 hours, isolate K24I7 was able to produce enzyme activity that was similar to other incubation times with a specific enzyme activity of 10.08 U/mg. The results of the characterization of the pectinase enzyme produced from isolate K24I7 were optimum at pH 5.5 with a specific enzyme activity value of 10.09 U/mg and an optimum temperature in the range of 40oC-60oC with an average specific enzyme activity of 10.08 U/mg. The pectinase enzyme produced from isolate K24I7 is thermophilic because it is still active at 70oC.Riset berikut bertujuan guna memahami isolat khamir indigenus yang bersifat pektinolitik, pengaruh waktu inkubasi pada aktivitas enzim pektinase, dan sifat pH dan suhu enzim pektinase yang diperoleh dari khamir indigenus hasil fermentasi spontan biji kopi robusta. Jenis riset berikut ialah eksperimen melalui RAL (Rancangan Acak Lengkap). Riset ini terlebih dahulu dilaksanakan penyeleksian khamir pektinolitik, selanjutnya dilakukan penetapan durasi inkubasi optimum, pH maupun suhu optimum enzim pektinase. Isolat khamir yang digunakan diseleksi menggunakan media (1% pektin + congo red 0,1% + 2% agar) untuk mengetahui kemampuan pektinolitik tertinggi. Isolat khamir pektinolitik terpilih akan dilanjutkan ketahap penentuan waktu inkubasi optimum dengan rentan waktu 24, 48, 72, 96, 120, serta 144 jam dimana setiap 24 jam dilakukan ektraksi enzim. Selanjutnya ektrak kasar enzim pektinase yang dihasilkan dari Isolat khamir pektinolitik terpilih dikarakterisasi pada pH (3, 3.5, 4, 4.5, 5, 5.5, 6) dan suhu (30oC, 40oC, 50oC, 60oC, 70oC) untuk mengetahui pH dan suhu optimumnya. Hasil riset memperlihatkan bahwasanya pengujian terhadap tujuh isolat khamir indigenus bersifat pektinolitik dan yang memiliki kemampuan pektinolitik paling tinggi ialah isolat K24I7 berdiameter zona bening 3.13 mm. Pada penentuan waktu inkubasi optimum, diperoleh pada wakru inkubasi 24 jam isolat K24I7 telah mampu menghasilkan akvitas enzim yang serupa dengan waktu inkubasi lainnya dengan aktivitas spesifik enzim bernilai 10.08 U/mg. Hasil karakterisasi enzim pektinase yang dihasilkan dari isolat K24I7 optimum pada pH 5.5 dengan nilai aktivitas spesifik enzim ialah 10.09 U/mg dan suhu optimum pada kisaran 40oC-60oC dengan rata-rata aktivitas spesifik enzim yaitu 10.08 U/mg. Enzim pektinase yang dihasilkan dari isolat K24I7 bersifat termofil karena masih aktif pada suhu 70oC