OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Penerapan Fuzzy logic Pada Alat Ukur Kandungan Nutrisi Media Tanam Hidroponik
Pemberian nutrisi pada budidaya secara hidroponik diberikan sesuai dengan kebutuhan tanaman. Pada proses budidaya hidroponik, nutrisi yang terkandung dalam media tanam hidroponik akan berkurang dikarenakan penyerapan tanaman maupun transpirasi. Namun, petani tidak memiliki informasi mengenai jumlah nutrisi yang hilang. Akibatnya penambahan nutrisi diberikan pada takaran seperti pada awalnya saja. pemberian nutrisi dengan cara tersebut tidak efisien, karena banyak nutrisi yang terbuang. Maka dari itu informasi mengenai jumlah nutrisi pada media tanam hidroponik sangat penting untuk diketahui. Karena itu, diperlukan sebuah instrumen yang mampu mengukur kandungan nutrisi pada media tanam hidroponik secara akurat. Fuzzy logic merupakan metode yang mampu meyelesaikan suatu masalah nonlinier yang sangat kompleks. Penerapan fuzzy logic pada alat ukur mampu menghasilkan alat ukur yang akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan alat ukur yang dapat mengukur kandungan nutrisi pada media tanam hidroponik dengan menggunakan sistem fuzzy logic. Dari penelitian ini, dihasilkan alat ukur kandungan nutrisi pada media tanam hidroponik dengan total error sebesar 0,506 %
STUDI PEMBUATAN MINUMAN ISOTONIK BERBAHAN BAKU AIR KELAPA TUA (COCOS NICIFERA L) DAN EKSTRAK BELIMBING WULUH (AVVERHOA BILIMBI L) MENGGUNAKAN METODE STERILISASI NON-THERMAL SELAMA PENYIMPANAN: (Study Of Making Isotonic Drinks Based Raw Old Coconut Water (Cocos nucifera L) And Extract Of Star fruit (Avverhoa bilimbi L) By Using Sterilization non-Thermal For Storage)
Isotonic drinks is one type of beverages that serves to replace body fluids lost due to physical activity. The drink is made from raw materials of coconut water and extract ”wuluh” starfruit with the addition of sugar. Coconut water used from an optimally mature of coconut and young “wuluh” starfruit. The material formulation was conducted with coconut water as much as 88%, extract “wuluh” starfruit 5%, and the addition of sugar as much as 7%. Isotonic beverage was prepared by extracting “wuluh” starfruit and preparing coconut before mixing all ingredients. The treatment was filtering using by micro filter (0.5 and 0.1 micron) and without filtering. The mixing process of the material was carried out hygienically to obtain a viable product. Based on product visualization testing by using a filter tool can longer than without a filter tool
STUDI PEMBUATAN BROWNIES KUKUS DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG DAUN SINGKONG (MANNIHOT UTILISSIMA): (The Making Of Brownies Substituted with Cassava (Mannihot utilissima) Leaf Flour)
Cassava leaves are abundant green leaves and affordable. This research uses cassava leaves of sleedlings type with white, pink stalk with light green leaf colour made into flour to be processed food products. The purpose of this research was to analyze the physical properties and chemical content of brownies steamed by the addition of cassava leaf flour based on a mineral test (Ca, P, Fe), water content, ash content, protein content, fat content, carbohydrate and crude fibre content. A panellist assessment of brownies steamed based on organoleptic test results and determining the formulation of good brownies cake products from the ratio of wheat flour and cassava flour used. This research was designed using Completely Randomized Design (RAL) with three replications such as A0 (100% wheat flour: 0 (control)), A1 (85% wheat flour: 15% cassava flour), A2 (70% wheat flour: 30% cassava flour) and A3 (55% wheat flour: 45% cassava flour). The parameters observed were proximate tests which included (water content, ash content, protein content, fat content, carbohydrate content), mineral tests (Ca, P, Fe), crude fibrecontent, organoleptic test. The best treatment was A3 which has water content 20,83%, ash content 2,88%, protein content 9,48%, fat content 23,68%, carbohydrate 42,13% and fiber content 1,12%, content mineral calcium 12.56 g / kg, phosphorus 2.06 g / kg, iron 61.06 ppm. The result of the panellist's assessment of the level of preference to steamed brownies was A0 with the average value of organoleptic score is texture 4.08 (like), colour 4,1 (like), taste 4.04 (like), and flavour 4 (like
Pola Pembasahan Oleh Tetesan Pada Beberapa Tekstur Tanah
Irigasi tetes merupakan metode irigasi yang efektif dan efisien untuk sebagian besar tanaman pada daerah dengan curah hujan rendah. Penggunaan irigasi tetes yang tepat dapat menghemat penggunaan air. Banyaknya pemberian air yang ideal adalah sejumlah air yang dapat membasahi tanah di seluruh daerah perakaran sampai keadaan kapasitas lapang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pembasahan oleh tetesan pada berbagai tekstur tanah. Penelitian ini dilakukan pertama-tama dengan menentukan lokasi pengambilan sampel tanah kemudian diuji di laboratorium untuk mengetahui tekstur dari ketiga tanah tersebut dan menentukan volume air yang akan diberikan sehingga tanah yang telah ditetesi untuk melihat perubahan secara vertikal dan horizontal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tektur lempung liat berpasir memiliki kadar air yang tinggi dengan persentase sebesar 44,15% dengan tekstur liat lalu lempung berliat. Untuk nilai bulk density tekstur liat memiliki nilai tertinggi sebesar 0,89 g/cm3 karena liat memiliki kepadatan yang tinggi. Untuk pembasahan tanah dibagi menjadi dua yaitu perubahan pembasahan secara horizontal dan perubahan pembasahan secara vertikal. Tekstur lempung liat berpasir memiliki kadar air yang tinggi setelah tanah ditetesi selama 18 menit 30 detik yaitu 44,15 %. Tanah dan bulk density mempengaruhi kecepatan perubahan pembasahan tanah
UJI KINERJA DAN ANALISIS EKONOMI TRAKTOR TANGAN (YM 80) DENGAN BAJAK SINGKAL (MOLDBOARD PLOW) PADA LAHAN SAWAH DI DESA GALESONG KABUPATEN TAKALAR
Penggunaan alat dan mesin pertanian sudah sejak lama digunakan dan perkembangannya mengikuti dengan perkembangan kebudayaan manusia. Pengolahan tanah biasanya menggunakan alat dengan tenaga tarik hewan atau menggunakan tenaga traktor. Penggunaan tenaga tarik traktor akan meningkatkan kapasitas kerja dan hasil yang didapatkan pada pengolahan akan lebih baik dibandingkan dengan menggunakan tenaga hewan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi kerja dan biaya operasional traktor tangan dalam mengolah lahan sawah dengan menggunakan implemen bajak singkal di desa galesong, kecamatan galesong, Kabupaten takalar. Metode penelitian ini dilaksanakan dengan menggunkan 1 petakan dengan 3kali pengulangan pengolahan tanah . Berdasarkan hasil penelitian maka dapat diketahui bahwa kapasitas kerja traktor tangan dengan bajak singkal sebesar 0,072 ha/jam dengan tingkat efisiensi 93% dan slip roda traktor 3.59% sehingga biaya pokok pengoprasian traktor Rp 40.497,-/jam dengan konsumsi bahan bakar sebesar 1,290 liter/jam. Faktor yang mempengaruhi kapasitas kerja dan efisiensi sebauh traktor antara lain kecepatan traktor, ukuran dan bentuk petakan, keadaan vegetasi, keadaan tanah, pola pengolahan dan waktu hilang untuk belok
MEMPELAJARI HUBUNGAN ANTARA KONDISI PENYIMPANAN DAN KADAR AIR AWAL BIJI KAKAO (Theobroma cacao L) DENGAN PERTUMBUHAN JAMUR SELAMA PENYIMPANAN
Kadar jamur merupakan jumlah biji berjamur dalam 100 biji selama penyimpanan, kadar jamur dipengaruhi oleh kondisi penyimpanan yang digunakan, seperti kelembaban dan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kadar jamur biji kakao yang disimpan pada 4 jenis penyimpanan yaitu kotak penyimpanan tanpa perlakuan, sirkulasi (exhaust), AC 25 °C dan 20 °C selama 3 bulan penyimpanan berdasarkan pada kadar air awalnya, biji kakao yang digunakan yaitu fermentasi 3 dan 5 hari serta tanpa fermentasi dengan kadar air awal 7% dan 10 % masing-masing sampel. Berdasarkan pengujian yang dilakukan diperoleh kadar jamur paling rendah yaitu biji kakao pada kotak penyimpanan menggunakan AC dengan suhu 20 ºC, karena pada penyimpanan ini RH dapat dipertahankan sekitar 70% dan suhu juga saangat rendah mengakibatkan jamur tidak mudah berkembang, dan berdasarkan nilai yang diperoleh pada tabel korelasi menunjukkan bahwa adanya hubungan antara pertumbuhan jamur dengan kondisi penyimpanan, dimana tanda negatif pada kolom nilai menunjukkan bahwa semakin lama waktu penyimpanan maka pertumbuhan jamur semakin rendah
Rheology Cokelat Dari Formulasi Bubuk Kakao dan Margarin
Indonesia merupakan negara dengan tanaman kakao terluas di dunia, dan menjadi negara penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory Coast dan Ghana. Kakao (Theobroma cacao L) masih merupakan komoditi utama di Sulawesi, sekitar ± 70 % dari volume ekspor kakao Indonesia berasal dari Sulawesi. Karakteristik yang diinginkan dari produk cokelat meliputi rasa yang khas dan tekstur yang lembut. Rasa dan tekstur produk cokelat sangat ditentukan oleh formulasi dan kehalusan partikel sehingga kedua faktor ini sangat mempengaruhi sifat rheology dari cokelat yang dihasilkan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui sifat rheology dari formulasi bubuk kakao dan margarin sebagai pengganti lemak dari bubuk kakao, dengan penambahan pengemulsi. Setelah semua bahan ditimbang, kemudian dimasukkan kedalam mesin pemasta cokelat (ball mill mini) yang sudah diatur suhunya dengan 60°C dan lama proses penghalusan cokelat sekitar 5 jam. Setelah semua bahan tercampur rata menjadi pasta kemudian melanjutkan untuk proses conching.
Berdasarkan perhitungan yangdilakukan,Karakeristik rheology cokelat cair dengan formulasi bubuk kakao dan margarin dapat ditentukan dengan menggunakan metode Mitschka.Rheology cokelat cair yang diformulasi dari bubuk kakao, margarin, susu, dan gula memperlihatkan sifat pseudoplastic yang ditunjukkan oleh penurunan viskositas tampak dengan peningkatan shear serta nilai n berkisaran antara 0,3 – 0,6 Pa.s.Sifat rheology cokelat cair yang diformulasi dari bubuk kakao, margarin, susu, dan gula dipengaruhi oleh suhu dan komposisi bahan.Dan pengaruh formulasi terhadap nilai viskositas relatif kecil
Analisis Biofisik Tanaman Padi dengan Citra Drone (UAV) Menggunakan Software Agisoft Photoscan
Hasil pertanian yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia antara lain adalah padi. Akan tetapi, salah satu tantangan dalam membangun pertanian adalah adanya kecenderungan menurunnya produktivitas lahan. Salah satu upaya pencegahannya adalah menerapkan sehingga dapat memperoleh informasi berupa data citra penggambaran kondisi fisik tanaman (ketinggian atau kerapatan) sebagai data bantuan untuk menghitung produktivitas lahan sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahuitingkat produktivitas padiberdasarkan varietas dan pola tanam menggunakan pengolahan data citra tiga dimensi (3D). Tahapan dari penelitian ini dimulai dari pengambilan data citra dan pengukuran lapangan, kemudian data citra akan diolah menggunakan Software Agisoft Photoscan. Software Agisoft Photoscan ini memanfaatkan metode stereoskopis yang mengubah data citra 2D menjadi 3D. Pengukuran dilakukan pada beberapa sampel yang memiliki varietas dan pola tanam berbeda. Kemudian dilakukan validasi data antar kedua pengukuran agar tingkat akurasi dapat diperoleh. Selain itu, dilakukan juga pengukuran dengan menggunakan data uji yang berfungsi sebagai analisis prediksi nilai pengukuran kondisi fisik tanaman. Berdasarkan hasil pengolahan data didapatkan bahwa tingkat akurasi pengukuran menggunakan software Agisoft Photoscan untuk ketinggian tanaman mencapai 70%, sedangkan kerapatan tanaman mencapai tingkat akurasi sebesar 60%
Analisis Kandungan Nitrogen Tanah Sawah Menggunakan Spektrometer
Tanah merupakan media tumbuh alami yang menyediakan makanan (unsur hara) bagi kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan (tanaman). Tanah yang memenuhi syarat agar pertumbuhan tanaman dapat optimal yang memiliki kandungan unsur hara yang cukup. Kandungan nitrogen pada tanah berbeda-beda tergantung pada karakteristik tanah. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui korelasi kandungan nitrogen (N) dengan nilai spektral, serta mengetahui ketersediaan hara (Kandungan Nitrogen) pada tanah yang dapat mempengaruhi produksi tanaman padi. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu menggunakan speckrometer sebagai alat optik untuk menghasilkan garis spektrum cahaya dan mengukur panjang gelombang. Hasil pengukuran spektrometer inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi kandungan unsur hara pada tanah dimana hanya dengan melihat gelombang pada warna tanah. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kandungan nitrogen pada lahan yang sama tapi cara pemupukan yang berbeda memiliki tingkat perbedaan yang tidak terlalu jauh berbeda. Hubungan kandungan nitrogen dengan nilai reflektansi mengatakan bahwa semakin tinggi kandungan nitrogen pada tanah maka nilai reflektansi semakin rendah begitu pula sebaliknya
Pengaruh Penggunaan Zat Etefon Terhadap Sifat Fisik Pisang Kepok (Musa Paradisiaca L)
Buah pisang menempati posisi pertama dengan produksi dan luas panen tertinggi di Indonesia. Pada tahun 2002 produksinya mencapai 4.384.384 ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 triliun. Pisang di Indonesia juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri olahan pisang misalnya Pisang Epe, Pisang Ijo, Barongko, Es Palubutung dan tepung pisang. Hal itu menyebabkan tingginya permintaan buah pisang yang sudah matang sehingga pedagang biasanya melakukan pematangan buah dengan metode zat etefon. Sehingga perlu dilakukan efek mutu dan konsentrasi penelitian menggunakan zat etefon dengan formulasi yaitu 10ml, 15ml, 20ml, 25ml, dan 30ml. Buah pisang lalu direndam untuk membandingkan pengaruh banyakanya formulasi zat etefon terhadap perubahan warna (L*, a*, b*) dan bobot buah pisang selama dua minggu penyimpanan. Buah pisang dengan formulasi zat etefon 30ml menunjukkan perubahan pematangan buah pisang cenderung lebih cepat dari pada formulasi lainnya. Hal tersebut terlihat pada nilai L* buah yang cenderung lebih tinggi yaitu 60,18 pada hari ke tiga penyimpanan. Meskipun demikian, nilai a* tertinggi terjadi pada formulasi 15ml yaitu mencapai 15.68 pada hari ke delapan penyimpanan. Sedangkan nilai b* tertinggi terjadi pada buah dengan formulasi 30ml yaitu mencapai 27,35 pada hari ke depalan penyimpanan. Adapun susut bobot tertinggi yaitu 53,06 pada hari ke-14 penyimpanan. Hal ini terjadi pada buah pisang yang digunakan sebagai kontrol yaitu buah yang tidak direndam pada zat etefon