OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Edukasi Pemanfaatan Limbah Styrofoam Sebagai Media Tanam Di Lahan Sempit Di Kelurahan Kadidi, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap
Kuliah Kerja Nyata (KKN) dilaksanakan oleh perguruan tinggi dalam upaya meningkatkan isi bobot pendidikan bagi mahasiswa dan untuk mendapatkan nilai tambah yang lebih besar pada perguruan tinggi. Kegiatan KKN merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang akan memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa untuk hidup di tengah-tengah masyarakat diluar kampus dan berperan sebagai problem solved bagi segala permasalahan yang ada dalam masyarakat. Edukasi Pemanfaatan Limbah Styrofoam Sebagai Media Tanam di Lahan Sempit di Kelurahan Kadidi, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidrap”. Dari program kerja tersebut, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya pola hidup bersih di masa pandemi ini dan memberi edukasi tentang pemanfaatan limbah styrofoam sebagai media tanam di lahan sempit dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan di masa pandemi covid-19 ini. Metode yang dilakukan dimulai dengan melakukan sosialisasi langsung di rumah warga kemudian dilakukan teknik menanam sayur ramah lingkungan yang sehat menggunakan media tanam yaitu hasil limbah styrofoam yang didemonstrasikan langsung kepada masyarakat. Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat, baik dalam keadaan ekonomi dan perubahan perilaku sosial
PKM Kelompok Tani Sawah Tadah Hujan di Kelurahan Banyorang Kecamatan Tompobulu Kabupaten Bantaeng
Padi adalah komoditas utama yang berperan sebagai pemenuh kebutuhan pokok karbohidrat bagi penduduk Indonesia. Usaha untuk meningkatkan produksi padi telah berhasil dilakukan oleh pemerintah, namun belum diikuti dengan penanganan pascapanen yang baik. Perontokan padi saat panen secara manual (gebot) menyebab tingkat kehilangan mendekati 5%. Sekitar 1000 ha persawahan yang ada di kecamatan Tompobulu berada pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut (mdpl) dengan petakan-petakan kecil (<0,15 ha) dan berpola sawah terassering. Masalah utama yang dihadapi petani di kecamatan Tompobulu kabupaten Bantaeng dalam penanganan pascapanen padi adalah tingginya susut (losses) baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Permasalahan tersebut berakibat adanya kecenderungan tidak memberikan insentif kepada petani untuk memperbaiki tingkat pendapatannya. Padi atau gabah yang kadar airnya tinggi mempunyai sifat mudah rusak dan akan mengalami susut pada saat penanganan pascapanen. Menurut BPS (2016) angka produksi gabah sebesar 75 juta ton GKG (Gabah Kering Giling) sesungguhnya dapat lebih tinggi lagi apabila dilakukan penanganan yang baik pada saat panen. Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS, 2016) menunjukkan bahwa susut hasil panen padi di Indonesia saat ini masih cukup tinggi, yaitu 9,5% yang terjadi pada saat panen dan 4,8% saat perontokan. Penanganan pascapanen yang baik dan tepat dapat menekan susut dan menghasilkan kualitas gabah/beras yang tinggi sehingga dapat meningkatkan harga jual gabah/beras petani. Teknologi penekanan kehilangan hasil yang dipilih untuk diterapkan harus teknologi yang sesuai dengan spesifik lokasi. Teknologi tersebut tidak bertentangan dengan masyarakat pengguna, baik secara teknis, ekonomis maupun sosial budaya masyarakat setempat. Secara umum metode atau teknologi untuk menekan kehilangan hasil panen dapat ditempuh dengan sistem panen beregu, yang dilengkapi dengan unit alat perontok dengan penerapan proses yang baik. Pada daerah dengan pemilikan lahan sempit, penerapan teknologi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pengembangan sistem panen yang dilengkapi dengan mesin perontok padi atau Power Thresher. Permasalahan di atas mengindikasikan bahwa teknologi tepat guna berupa perontok gabah (power thresher) sangat dibutuhkan oleh petani di kelurahan Banyorang kecamatan Tompobulu, mengingat topografi persawahan yang terletak di daerah perbukitan (ketinggian ± 500 mdpl) dengan persawahan berbentuk terasering sehingga tidak memungkinkan alat dan mesin panen modern (combine rice harvester) beroperasi di daerah tersebut
Analisis Ketersediaan dan Kebutuhan Air Berdasarkan Neraca Air di Sub DAS Cikeruh Jawa Barat
The increasing of the population along with changes in land use in the Cikeruh sub-watershed will affect the availability and the demand water as well as the level of water fulfillment in crucial sectors, namely: domestic, non-domestic, agriculture, industry, animal husbandry, and fisheries. This study aims to find out the most recent data on water availability and demand to determine the condition of the water balance in the Cikeruh sub-watershed. The method used in this research is descriptive analysis. Water availability was analyzed using the mock method and water availability was analyzed using SNI 6728.1-2015, Circular Letter of the Ministry of Public Works and Public Housing Number 07 of 2018, and related previous studies. The results showed that the total water availability in the Cikeruh sub-watershed was 212.901.228,61 m3/year with an average water availability of 17.741.769,05 m3/month and a total water demand of 462.306.728,53 m3/year with an average water requirement of 462.306.728,53 m3/month. The Cikeruh sub-watershed experiences a water shortage (deficit) throughout the year. The highest water deficit occurred in October, that -29.057.550,95 m3/month and the lowest deficit occurred in February, that -1.459.819,23 m3/month. The water availability in the Cikeruh sub-watershed only can fulfill the water needs of the domestic, non-domestic, animal husbandry, and fishery sectors. The water availability in the Cikeruh sub-watershed has not been able to fulfill the water needs of the agricultural and industrial sectors.Peningkatan jumlah penduduk disertai perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Cikeruh akan mempegaruhi ketersediaan dan kebutuhan air serta tingkat pemenuhan air sektor krusial, yaitu: domestik, non-domestik, pertanian, industri, peternakan, dan perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data terbaru ketersediaan dan kebutuhan air serta mengetahui kondisi neraca air di Sub DAS Cikeruh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Ketersediaan air dianalisis menggunakan metode mock dan ketersediaan air dianalisis menggunakan SNI 6728.1-2015, Surat Edaran Menteri PUPR (SE PUPR) Nomor 07 Tahun 2018, dan penelitian sebelumnya yang terkait. Hasil penelitian menunjukan total ketersediaan air di Sub DAS Cikeruh adalah 212.901.228,61 m3/tahun dengan ketersediaan air bulanan rata-rata 17.741.769,05 m3/bulan dan total kebutuhan air 462.306.728,53 m3/tahun dengan kebutuhan air bulanan rata-rata 38.525.560,71 m3/bulan. Sub DAS Cikeruh mengalami kekurangan air (defisit) sepanjang tahun. Defisit air tertinggi terjadi pada bulan Oktober yaitu -29.057.550,95 m3/bulan dan defisit terendah terjadi pada bulan Februari yaitu -1.459.819,23 m3/bulan. Ketersediaan air di Sub DAS Cikeruh hanya mampu memenuhi kebutuhan air sektor domestik, non domestik, peternakan, dan perikanan. Ketersediaan air di Sub DAS Cikeruh belum mampu mencukupi kebutuhan air sektor pertanian dan industri
The effect of rice types on chao properties during fermentation
Chao is a typical Indonesian dish from Pangkep Regency that is relatively unknown to the general public. Chao is made from fermented fish, which is subsequently fermented with rice. Chao has the properties of pasta-like, light-brown color, unique flavor, slightly acidic and salty taste. Pangkep communities typically use chao as a seasoning, condiment ingredient, or as a side dish. Due to the product's attractive features, which resemble stale food, make it less appealing to consumers. It necessitates innovation and processing technologies in order to improve the quality of Chao products. This research aimed to find out the effect of rice variations including white rice, red rice and black rice on the characteristics of Shrimp Chao during fermentation. The testing parameters in this study were total Lactic Acid Bacteria (LAB), total lactic acid, pH, and organoleptic. The highest LAB growth was found in the red rice that is 7.67 log cfu/g with the lowest pH value of 6.02 and the highest lactic acid content (1.8%). The best organoleptic test results own by white rice-based shrimp chao with preference average score of 3.85 and red rice 3.78 which imply “like” in organoleptic scale scoring
Chemical composition and antifungal activity of oil extracted from leaves turmeric (Curcuma longa)
Turmeric rhizomes are commonly used in the culinary, pharmaceutical, herbal medicine, and beverage industries. On the contrary, turmeric leaves are underutilized. The aims of this study were to extract the essential oil from turmeric leaves, characterize the chemical composition of the oil, and determine its antifungal activities against aflatoxin-producing fungi. Steam distillation was used to extract the essential oil from turmeric leaves. The properties of the oil were identified using GC-MS. Antimicrobial activities against Aspergillus flavus and Aspergillus parasiticus were determined. Spores of the fungi were inoculated into potato dextrose agar plates supplemented with various quantities of turmeric leaves essential oil and incubated at 30°C for 7 days. The oil's primary constituents were α-phelandrene(46.70 %), followed by α-terpinolene (17.39 %), 1,8-cineole (8.78 %), benzene (4.24 %), and 2-β pinene (3.64 %). At low (<1%) concentrations, the oil delayed mycelia formation and at high concentrations it significantly inhibit fungal growth (at 1%) and completely inhibit colony formation (at 2%) Additionally, the result show that turmeric leaves oil can inhibited fungus growth at the lowest concentration (0.25 %) when compared to the control over a seven-day incubation period
Pengaruh Ketebalan dan Frekuensi Pembalikan dalam Penjemuran Rumput Laut Gracilaria sp
Marketing of seaweed is still in the form of dried seaweed, but in fact the quality of the dried seaweedthat is sold by farmers has not met the standards required by the seaweed processing industry. One ofthe efforts that can be made to improve the quality of dried seaweed is by optimizing drying, namelyby adjusting the thickness and reversal frequency. Pile thickness of will determine the length of timedrying is carried out, while the frequency of reversal will determine the spread of heat that occurs inthe seaweed pile. The aim of this study was to determine the drying speed in seaweed Gracilaria spdrying and quality of dried sweaweed. The study was conducted with two treatments, namely pilethickness of 12, 16 and 20 cm and treatment of reversal frequency with an interval of 3 hours, 4 hoursand 5 hours. The parameters observed in this study were a decrease in water content, drying rate, andsensory test. The results showed that the drying of Gracilaria sp seaweed with a thicknessof 12 cm with a reversal frequency of each 3-4 hours is the best treatment in terms of color / brightnessand good texture with a drying rate of 0.462 kg H2O/kg solids hour.Pemasaran rumput laut saat ini masih dalam bentuk rumput laut kering, namun pada kenyataanyakualitas rumput laut kering yang dipasarkan oleh petani belum memenuhi standar yang dibutuhkanoleh industri pengolahan rumput laut. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki muturumput laut kering yaitu dengan mengoptimalkan penjemuran yaitu dengan mengatur ketebalan danfrekuensi pembalikan. Ketebalan tumpukan akan menentukan lama penjemuran yang dilakukansedangkan frekuensi pembalikan akan menentukan penyebaran panas yang terjadi pada tumpukanrumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kecepatan pengeringan dalam penjemuranrumput laut Gracilaria sp dan kualitas dari rumput laut kering. Penelitian dilakukan dengan duaperlakuan yaitu ketebalan penjemuran 12, 16 dan 20 cm dan perlakuan frekuensi pembalikan denganselang waktu 3 janm, 4 jam dan 5 jam. Parameter yang di amati dalam penelitian ini yaitu penurunankadar air, laju pengerigan, dan uji sensori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjemuran rumputlaut Gracilaria sp dengan ketebalan 12 cm dengan frekuensi pembalikan setiap 3-4 jam menjadiperlakuan yang terbaik dari segi warna/kecerahan dan teksur yang baik dengan laju pengeringan yaitu0.462 kg H2O/kg padatan jam
Program Inovasi Bisnis dan Adaptasi Perilaku Masyarakat Terkait Covid-19 Dalam Kehidupan Sehari-Hari Di Desa Alenangka Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai
Community service programs are the practice of science, technology and art (IPTEKS) institutionalized by higher education through direct scientific methods to people who need to succeed in development and human development. Thematic KKN based on Problem Solving to solve problems with certain themes so that student activities are focused on solving certain problems and to achieve certain targets. One of them is the 105th Thematic KKN "Behavior Change Ambassador for Covid-19 Prevention and Participatory Oversight in the 2020 Pilkada". The Covid-19 thematic Real Work Lecture (KKN) is a Community Service Program to form awareness in empowering and educating the public to prevent the spread of Coronavirus Disease 19 (Covid 19) while adhering to the Covid-19 health protocol, namely maintaining physical distancing and wearing masks . Students who take part in the KKN program are guided by KKN Pengampuh Lecturers (DPK) who process mentoring and monitoring using an online system. This service program through Thematic KKN is carried out using the during and offline service methods. The KKN program is carried out in Alenangka Village, which is the area of origin of students and this is done to minimize the spread of Covid-19. Work programs have produced several awards, including videos of public business innovations, and posters about Covid-19. On the other hand, there is an increase in community compliance with health protocols by always using a mask when leaving the house.Program pengabdian kepada masyarakat adalah merupakan pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) yang dilakukan oleh perguruan tinggi secara melembaga melalui metode ilmiah langsung kepada masyarakat yang membutuhkan guna menyukseskan pembangunan dan manusia pembangunan. KKN Tematik berbasis Problem Solving untuk memecahkan masalah dengan tema tertentu sehingga kegiatan mahasiswa terfokus untuk mengatasi masalah tertentu dan untuk mencapai target tertentu. Salah satu yaitu KKN Tematik “Duta Perubahan Perilaku Pencegahan Covid-19 dan Pengawasan Partisipatif Pilkada 2020” gelombang ke-105. Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik Covid-19 adalah Program Pengabdian guna membentuk kepedulian dalam memberdayakan dan mengedukasi masyarakat untuk mencegah penyebaran Coronavirus Disease 19 (Covid 19) dengan tetap mematuhi protokol kesehatan Covid-19 yaitu menjaga jarak fisik (Physical Distancing) dan memakai masker. Mahasiswa yang mengikuti program KKN dibimbing oleh Dosen Pengampuh KKN (DPK) yang proses pembimbingan dan monitoring menggunakan sistem daring. Program pengabdian melalui KKN Tematik ini dilaksanakan menggunakan metode pengabdian secara during dan luring . Program KKN dilaksanakan di Desa Alenangka yang merupakan daerah asal mahasiswa dan hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19. Program-program kerja menghasilkan beberapa luara diantaranya video inovasi bisnis umkm, dan poster tentang Covid-19. Disisi lain terjadi peningkatan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan dengan selalu menggunakan masker saat keluar dari rumah
The physiochemical properties of kefir using honey concentrations
Kefir has a sour taste and distinctive aroma. This condition affects the level of consumer acceptance. The level of consumer acceptance of kefir can be improved by adding a sweetener, namely honey. This study aims to determine the characteristics of kefir made from commercial liquid milk to total lactic acid, pH value, viscosity, organoleptic (taste and preference) panelists to kefir with the addition of honey. This study used a completely randomized design (CRD). The treatment of this research was 4 honey concentrations (5%, 7%, 9% and without the addition of honey (0%) as a control) and was repeated 3 times. Kefir addition of honey is made in the following way: the liquid milk is sterilized at 105oC for 5 minutes and then the sterile milk is cooled down to a temperature of about 40oC. After chilling, sterile milk was inoculated with 3% (v/v) pre-propagated kefir starter and incubated at 37oC for 24 hours. Furthermore, kefir was added with honey treatment with a concentration of 5%, 7% and 9% (v/v) respectively and homogenized. Kefir honey is carried out in a series of tests including total lactic acid, acidity (pH), viscosity, organoleptic (taste and preference). The results showed that the different use of honey kefir did not change the lactic acid content. Increasing use of honey concentration causes pH value, viscosity, sweetness, and preference to increase. The best use of honey concentration in making kefir is 9%.
Kefir memiliki rasa asam dan aroma yang khas. Kondisi ini mempengaruhi tingkat penerimaan konsumen. Tingkat penerimaan konsumen terhadap kefir dapat ditingkatkan dengan menambahkan pemanis yaitu madu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kefir berbahan baku susu cair komersial terhadap total asam laktat, nilai pH, viskositas, organoleptik (rasa dan kesukaan) panelis terhadap kefir dengan penambahan madu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan penelitian ini adalah 4 konsentrasi madu (5%, 7%, 9% dan tanpa penambahan madu (0%) sebagai kontrol) dan diulang sebanyak 3 kali. Penambahan kefir madu dilakukan dengan cara sebagai berikut: susu cair disterilkan pada suhu 105oC selama 5 menit kemudian susu steril tersebut didinginkan hingga suhu sekitar 40oC. Setelah dingin, susu steril diinokulasi dengan starter kefir 3% (v / v) dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Selanjutnya kefir ditambahkan perlakuan madu dengan konsentrasi masing-masing 5%, 7% dan 9% (v / v) dan dihomogenisasi. Madu kefir dilakukan melalui serangkaian pengujian meliputi total asam laktat, keasaman (pH), viskositas, organoleptik (rasa dan kesukaan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan penggunaan madu kefir tidak mengubah kandungan asam laktat. Peningkatan penggunaan konsentrasi madu menyebabkan nilai pH, viskositas, kemanisan, dan kesukaan meningkat. Penggunaan konsentrasi madu terbaik dalam pembuatan kefir adalah 9%
Mikroenkapsulasi Tiga Pewarna Alami dengan Konsep Warna Dasar Cyan, Magenta, Yellow (CMY) dari Ekstrak Bunga Telang, Kayu Secang, dan Kunyit
Synthetic dyes in food can cause severe problems for health, so they need to be replaced by natural dyes. However, natural dyes are unstable, and encapsulation is one way to maintain the stability of natural dyes. This study was conducted to determine the best microencapsulation coating, storage stability, and color variations produced by butterfly pea, sappan wood, and turmeric extracts. The coating materials used were maltodextrin, carrageenan, and carboxy methyl cellulose (CMC) using the following formulations: 85% maltodextrin and 15% carrageenan (formula A) and 90% maltodextrin and 10% carrageenan (formula B) for coating butterfly pea and sappan wood extracts. Turmeric extracts were coating using 85% maltodextrin and 15% carrageenan (formula A) and 75% CMC and 25% starch (formula C). The encapsulation with maltodextrin (90%) and carrageenan (10%) was the best of encapsulation formula for butterfly pea and sappan wood extract. However, the encapsulation with maltodextrin (85%) and carrageenan (15%) was the best of encapsulation formula for turmeric extract. The green color was obtained from mixing butterfly pea and turmeric dyes in 1:4 ratio, purple from mixing butterfly pea and sappandyes in 1:8 ratio, and orange from mixing turmeric and sappan dyes in 1:2 ratio.Penggunaan pewarna sintetik pada bahan pangan dapat menyebabkan masalah serius pada kesehatan tubuh sehingga perlu dialihkan ke pewarna alami. Akan tetapi, pewarna alami memiliki sifat yang mudah rusak sehingga sulit menggantikan peran pewarna sintetik. Untuk itu, perlu ditambahkan suatu perlakuan untuk mempertahankan stabilitas yakni dengan metode mikroenkapsulasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyalut terbaik mikroenkapsulasi, stabilitas penyimpanan, serta variasi warna yang dihasilkan ekstrak bunga telang, kayu secang, dan kunyit. Prosedur yang dilakukan yaitu ekstraksi, evaporasi, mikroenkapsulasi, pengujian meliputi kadar air, aktivitas antioksidan, total padatan terlarut, intenstitas warna, dan uji stabilitas penyimpanan, lalu dilanjutkan perancangan warna dan pengolahan data. Hasil yang diperoleh dari pengujian pewarna terenkapsulasi terhadap seluruh parameter menunjukkan bahwa perlakuan maltodekstrin dan karagenan dengan konsentrasi 9:1 adalah perlakuan penyalut terbaik untuk semua sampel. Selain itu, dari prosedur pencampuran warna diperoleh warna hijau dari pencampuran pewarna telang dan kunyit dengan perbandingan 1:4, warna ungu dari pencampuran pewarna telang dan secang dengan perbandingan 1:6, dan warna jingga dari pencampuran pewarna kunyit dan secang dengan perbandingan 1:2
Pemodelan Matematika Karakteristik Pengeringan Lada Putih Pada Pengering Spouted Bed Dengan Perlakuan Preheating Gelombang Mikro
To study the effect of drying on white pepper seeds, a thorough knowledge of the drying kinetics is required. The drying kinetics of a material can be explained using a mathematical model which is usually used to estimate the drying time of the material. This study aims to determine the appropriate drying mathematical model for drying white pepper spouted beds with microwave preheating treatment. The equipment used in this study was a spouted bed dryer designed for laboratory scale. The material used in this study was wet white pepper seeds obtained from smallholder plantations in Enrekang district, South Sulawesi province with an age of approximately 8-9 months after flowering. The white pepper was directly put into the spouted bed drying room for non-preheating treatment, while for the preheating treatment the pepper was stored in a container then put in a microwave oven for 2 minutes. During the drying process, several parameters for drying analysis are measured. There are seven different mathematical drying models evaluated. In determining the most appropriate mathematical model, model validation is required through statistical methods. The statistical methods used were correlation analysis, reduced chi-square (χ2) test, and root means square error (RMSE) analysis. Based on the analysis, the Weibull model fulfills the criteria to be the best model with the correlation coefficient r (0.99990) being the highest and the χ2 (0.00001) and RMSE (0.00385) values being the lowest. Thus, the Weibull model can be used to predict drying time and moisture content.Untuk mempelajari pengaruh pengeringan terhadap biji lada putih diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang kinetika pengeringan. Kinetika pengeringan bahan dapat dijelaskan melalui model matematika yang biasanya digunakan untuk memperkirakan waktu pengeringan bahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model matematika pengeringan yang tepat untuk pengeringan spouted bed lada putih dengan perlakuan preheating gelombang mikro. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengering spouted bed yang dirancang untuk skala laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa biji lada putih basah yang diperoleh dari perkebunan rakyat di kabupaten Enrekang provinsi Sulawesi Selatan dengan umur kira-kira 8-9 bulan setelah pembungaan. Lada putih langsung dimasukkan ke dalam ruang pengeringan spouted bed untuk perlakuan non-preheating sedangkan untuk perlakuan preheating lada disimpan dalam wadah kemudian dimasukkan ke dalam oven microwave terlebih dahulu selama 2 menit. Selama proses pengeringan, beberapa parameter untuk analisis pengeringan diukur. Terdapat tujuh model matematika pengeringan berbeda yang dievaluasi. Dalam penentuan model matematika yang paling sesuai, diperlukan validasi model melalui metode statistika. Metode statistik yang digunakan adalah analisis korelasi, uji chi-square (χ2) tereduksi dan analisis root mean square error (RMSE). Berdasarkan hasil analisis, model Weibull memenuhi kriteria untuk dijadikan model terbaik dengan koefisien korelasi r (0,99990) adalah yang tertinggi serta dan nilai χ2 (0,00001) serta nilai RMSE (0,00385) adalah yang terendah. Dengan demikian, model Weibull dapat digunakan untuk memprediksi waktu dan kadar air pengeringan