OJS (Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin)
Not a member yet
447 research outputs found
Sort by
Efek Perkecambahan Biji Kedelai Terhadap Viskositas, Ph, Total Padatan Terlarut, Protein Terlarut, Dan Gugus Fungsi Pada Susu Kedelai
Soymilk is an alternative to cow's milk for lactose intolerant patients and vegetarians. In this study, soymilk was made from soybean seeds that have been germinated because it is known that the germination process can increase the nutritional value of soybean. This study aims to determine the effect of soybean germination on viscosity, pH, soluble protein, and functional groups in soymilk produced. There were five treatments of soybean used, namely soybean without soaking and germination (control), soybean soaked without germination, soybean soaked and germinated for 24 hours, 36 hours, and 48 hours. Soybean seeds were heated and then ground, filtered, and the filtrate was heated and sugar was added to obtain soymilk. The results showed that soybean germination was able to reduce viscosity and total soluble solids and increase soluble protein in the soymilk produced. In addition, N-H, C=N functional groups indicating protein, OH, C-H aromatic, C=C aromatic and C-O indicating isoflavone compounds were identified, and C=O and OH groups at 48 hours of germination which indicate carboxylic acid, thus indicating the presence of GABA compounds
Market acceptance of new formulated Sundanese Nasi Liwet: How branding affecting selling of traditional culinary
This research aimed to analyze the effectiveness of new formulated Sundanese Nasi Liwet. Six new formulated Nasi Liwet had been formulated with the innovation of color and condiments. Overall acceptability was conducted. The six new formulated was sold with a different brand, namely “Milwet” with banana tree nuance, “Liwet Kuy” with mega mendung pattern, “Ngeliwet Yuk” with reddish simplicity nuance, “Ngeliwet” with reddish typography emphasis, “Pawon Indung” with Sundanese traditional jug icon, and “Ini Nasi Liwet” with simple blue nuance. It was found that market acceptance differed with overall acceptability. Despite of lowest overall acceptability, “Milwet” performed the highest market acceptance, followed “Ini Nasi Liwet”, “Ngeliwet”, “Liwet Kuy”, and “Pawon Indung”. Applying good brands could be used as an alternative to popularize traditional culinary.
Pempek: Traditional fishcake dish from South Sumatra, Indonesia
Pempek is a traditional fishcake dish from South Sumatra, Indonesia. Its primary ingredients are narrow-barred Spanish mackerel (Scomberomorus commerson) and sago starch. As a dish, Pempek is usually served with a sweet and sour sauce called kuah cuko, containing palm sugar, vinegar, tamarind, and chili pepper. Historically, Pempek is highly influenced by Chinese cuisine.Pempek exists in different varieties, most of which are widely known and available in many Indonesian cities. The variation among different types of Pempek appears due to different additional ingredient, shape, filling, cooking method, and serving style. Some well-known types of Pempek include Pempek adaan (round shaped), Pempek lenjer (cylindrical shaped), Pempek kapal selam (egg stuffed), Pempek keriting (curly shaped), and Pempek kulit (made with fish skin). New innovations on Pempek recipe are also thriving owing to people’s creativity. The popularity of Pempek has made this dish the symbol of identity and pride for the people of South Sumatra. It is also rich in historical and philosophical values that represent the South Sumatran traditional way of life. In addition, Pempek is currently considered to be an Intangible Cultural Heritage by the UNESCO. This review discusses the history, traditional production process, philosophy, nutritional aspects, and different varieties of Pempek
RANCANGAN PENYULUHAN PEMBUATAN TEPUNG MODIFIED CASSAVA FLOUR (MOCAF) DI KELOMPOK WANITA TANI KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG
Ubi kayu merupakan tanaman pangan yang kaya akan karbohidrat. Ubi kayu adalah salah satu komoditas yang ada di Desa Sutojayan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Tujuannya penelitian ini adalah melakukan pemberdayaan kepada kelompok wanita tani sasaran melalui pembuatan tepung mocaf. Permasalahan yang ditemukan yakni hasil panen tanaman ubi kayu di Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang belum dimanfaatkan secara optimal, masih banyak petani yang menjual hasil panennya dalam bentuk segar sehingga banyak hasil panen terbuang sia-sia. Petani belum mampu memanfaatkan hasil panen menjadi produk yang memliki nilai jual tinggi dikarenakan tidak ada inovasi pemanfaatan hasil pertanian. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung mocaf merupakan suatu inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya pemanfaatan hasil pertanian melalui kaji terap yaitu dengan materi kajian pembuatan tpung mocaf. Pelaksanaan kajian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian (PHP) Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Malang pada bulan Maret s/d Mei 2023. Metode Penelitian yang digunakan ada 3 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan observasi. Melalui desain penyuluhan pembuatan tepung mocaf cukup efektif untuk mengukur tingkat pengetahuan dan keterampilan. Selain itu, analisis usahatani dalam pembuatan tepung mocaf ini sangat diperlukan dalam menentukan keberhasilan produksi sehingga dapat meningkatkan perekonomian kelompok wanita tani di Desa Sutojayan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang serta tercipta kesejahteraan bagi petani. Pelaksanaan rancangan penyuluhan berdasarkan hasil kajian terbaik yaitu resep ke-1. Proses pembuatan tepung mocaf yang baik yakni menggunakan resep k-1 yaitu terdapat proses perendaman dengan menggunakan starter Bimo-CF selama 18 jam dan pengeringan selama 5 jam disuhu 65°C. Sasaran penyuluhan yaitu anggota Kelompok Wanita Tani "Anggrek" Desa Sutojayan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang dengan materi pembuatan tepung mocaf. Kegiatan penyuluhan menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok dan praktek langsung serta media yang digunakan adalah folder, video dan benda sesungguhnya. Evaluasi penyuluhan bertujuan untuk dapat mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan dengan hasil persentase tingkat pengetahuan sebesar 86% berada pada kategori sangat tinggi. Pengukuran aspek kereteampilan sebe
Ubi kayu merupakan tanaman pangan yang kaya akan karbohidrat. Ubi kayu adalah salah satu komoditas yang ada di Desa Sutojayan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Tujuannya penelitian ini adalah melakukan pemberdayaan kepada kelompok wanita tani sasaran melalui pembuatan tepung mocaf. Permasalahan yang ditemukan yakni hasil panen tanaman ubi kayu di Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang belum dimanfaatkan secara optimal, masih banyak petani yang menjual hasil panennya dalam bentuk segar sehingga banyak hasil panen terbuang sia-sia. Petani belum mampu memanfaatkan hasil panen menjadi produk yang memliki nilai jual tinggi dikarenakan tidak ada inovasi pemanfaatan hasil pertanian. Pengolahan ubi kayu menjadi tepung mocaf merupakan suatu inovasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Berdasarkan permasalahan tersebut perlu dilakukan upaya pemanfaatan hasil pertanian melalui kaji terap yaitu dengan materi kajian pembuatan tpung mocaf. Pelaksanaan kajian dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian (PHP) Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian Malang pada bulan Maret s/d Mei 2023. Metode Penelitian yang digunakan ada 3 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan dan observasi. Melalui desain penyuluhan pembuatan tepung mocaf cukup efektif untuk mengukur tingkat pengetahuan dan keterampilan. Selain itu, analisis usahatani dalam pembuatan tepung mocaf ini sangat diperlukan dalam menentukan keberhasilan produksi sehingga dapat meningkatkan perekonomian kelompok wanita tani di Desa Sutojayan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang serta tercipta kesejahteraan bagi petani. Pelaksanaan rancangan penyuluhan berdasarkan hasil kajian terbaik yaitu resep ke-1. Proses pembuatan tepung mocaf yang baik yakni menggunakan resep k-1 yaitu terdapat proses perendaman dengan menggunakan starter Bimo-CF selama 18 jam dan pengeringan selama 5 jam disuhu 65°C. Sasaran penyuluhan yaitu anggota Kelompok Wanita Tani "Anggrek" Desa Sutojayan Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang dengan materi pembuatan tepung mocaf. Kegiatan penyuluhan menggunakan metode ceramah, diskusi kelompok dan praktek langsung serta media yang digunakan adalah folder, video dan benda sesungguhnya. Evaluasi penyuluhan bertujuan untuk dapat mengetahui tingkat pengetahuan dan keterampilan dengan hasil persentase tingkat pengetahuan sebesar 86% berada pada kategori sangat tinggi. Pengukuran aspek kereteampilan sebesar 90% responden berada pada kategori terampil. Analisis usahatani benefit cost ratio memiliki nilai ≥1. Hal ini dapat diartikan bahwa pembuatan tepung mocaf dapat dilanjutkan karena menguntungkan dan layak. BEP Harga tepung mocaf yang diperoleh dapat menutup seluruh biaya produksi. Sedangkan BEP Unit yang diproduksi dapat menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan. Menurut metode hayami, perhitungan nilai tambah sebesar Rp 1.900/kg. Ratio pada nilai tambah produk olahan tepung mocaf sebesar 24% yang tergolong sedang karena kurang dari 40%. Nilai yang didapatkan sudah mencukupi sehingga usaha pengolahan memiliki nilai tambah yang dapat dilanjutkan.
sar 90% responden berada pada kategori terampil. Analisis usahatani benefit cost ratio memiliki nilai ≥1. Hal ini dapat diartikan bahwa pembuatan tepung mocaf dapat dilanjutkan karena menguntungkan dan layak. BEP Harga tepung mocaf yang diperoleh dapat menutup seluruh biaya produksi. Sedangkan BEP Unit yang diproduksi dapat menutupi seluruh biaya yang dikeluarkan. Menurut metode hayami, perhitungan nilai tambah sebesar Rp 1.900/kg. Ratio pada nilai tambah produk olahan tepung mocaf sebesar 24% yang tergolong sedang karena kurang dari 40%. Nilai yang didapatkan sudah mencukupi sehingga usaha pengolahan memiliki nilai tambah yang dapat dilanjutkan
A Food Bar Formulation Based on Local Soy Tempe Flour and Kepok Banana Flour: Food Bar
Food bars are a type of food with high calories and are produced from various ingredients or are usually called blended food, are rich in nutrients, and are dense and compact. Food bars generally contain high levels of protein, carbohydrates, and fiber. As one application of the food diversification program, it is necessary to develop the production of food bars from local ingredients such as soybean tempeh and kepok bananas. This research aims to determine the differences in chemical and sensory characteristics of food bars with different formulations of soybean tempeh flour and kepok banana flour and to obtain a formulation that produces the best chemical and sensory characteristics. The research design used was a Randomized Block Design (RBD) with one factor (p), namely the formulation of soybean tempeh flour and kepok banana flour (p), which consisted of five levels and five repetitions. The research results showed that the formulation of tempeh flour and kepok banana flour influenced the water content, ash content, fat content, and protein content but did not affect the crude fiber content of the food bar produced. The formula that produces the best chemical and sensory characteristics is the formulation of tempe flour and kepok banana flour (45:55) with a water content of 12.66%, ash content of 2.44%, fat content of 31.64%, protein content of 18.90%, carbohydrate content 34.35%, crude fiber content 0.97%, color assessment 2.93 (dislike – like), taste 3.38 (like – like very much), aroma 2.70 (dislike – like), texture 3.30 (like – like very much), and overall liking 3.22 (like – like very much).
Keywords : Protein, Fiber, Soy Tempeh Flour, Kepok Banana Flour, Tapioca, Food BarFood bar adalah jenis makanan dengan kalori tinggi dan dihasilkan dari bermacam bahan atau biasa disebut blended food, bersifat kaya akan nutrisi, dan berbentuk padat serta kompak. Food bar umumnya mengandung protein, karbohidrat dan serat yang tinggi. Sebagai salah satu aplikasi program diversifikasi pangan, perlu dikembangkan pembuatan food bar dari bahan-bahan lokal seperti tempe kedelai dan pisang kepok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik kimia dan sensori food bar dengan perbedaan formulasi tepung tempe kedelai dan tepung pisang kepok, serta mendapatkan formulasi yang menghasilkan karakteristik kimia dan sensori terbaik. Rancangan penelitianyang digunakan adalah Rancang Acak Kelompok (RAK) dengan satu faktor (p) yaitu formulasi tepung tempe kedelai dan tepung pisang kepok (p) yang terdiri dari 5 taraf dan 5 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi tepung tempe dan tepung pisang kepok mempengaruhi kadar air, kadar abu, kadar lemak dan kadar protein, namun tidak mempengaruhi kadar serat kasar food bar yang dihasilkan. Formula yang menghasilkan karakteristik kimia dan sensori terbaik adalah formulasi tepung tempe dan tepung pisang kepok (45:55) dengan kadar air 12,66%, kadar abu 2,44%, kadar lemak 31,64%, kadar protein
18,90%, kadar karbohidrat 34,35%, kadar serat kasar 0,97%, penilaian warna 2,93 (kurang suka – sangat suka), rasa 3,38 (suka – sangat suka), aroma 2,70 (kurang suka – sangat suka), tekstur 3,30 (suka – sangat suka), dan kesukaan keseluruhan 3,22 (suka – sangat suka).
Kata Kunci : Protein, Serat, Tepung Tempe Kedelai, Tepung Pisang Kepok, Tapioka, Food Bar
Postharvest handling and processing of coffee beans at UKM Akarosta, Tana Toraja Regency
Postharvest handling and coffee processing must be carried out based on SNI standards to produce good quality and to increase selling value. In Tana Toraja Regency, there are various UKM engaged in the coffee processing industry but not many have analyzed the quality of the coffee produced. The purpose of this research is to know the postharvest handling and processing of coffee bean at UKM Akarosta and compare the proper postharvest handling process of coffee beans based on SNI standards. The results showed that the postharvest method carried out by farmers in Pasang Village, South Makale District, Tana Toraja Regency is a semiwash method which included harvesting, sorting, peeling fruit skins, washing, drying then stripping horn skins, sorting, roasting, grinding and packaging by UKM Akarosta. The postharvest process carried out by farmers has met with SNI. The quality of the coffee beans produced has met the SNI standard quality of coffee beans No. 01-3542-2004
In vitro bioactivities and simulated gastrointestinal digestion studies on Guras-based traditional fermented drinks collected from Singalila ridge of the Himalayas
Guras or Rhododendron wine and its distilled form (Raksi) are popular traditional and therapeutic drinks served in the Rhododendron growing regions of the Himalayas, mainly in the northern and northeastern part of India, Nepal and Indo-Nepal Singalila ridge. In this research, lali Guras (Rhododendron arboreum Sm.) based traditional beverages such as unfermented decoction (as control), fermented Guras wine and distilled spirit Guras ko Raksi were collected from Singalila ridge of the Himalayas for analysis. In vitro experiments such as physicochemical and qualitative and quantitative biochemical tests; antioxidant assays (DPPH and iodometric assay); antibacterial assay; and simulated gastrointestinal digestion were carried out. Phytochemically rich unfermented decoction exhibited the best results in total phenolic content assay (82.18±1.13 mg/100 mL gallic acid equivalent) and fatty acid quantification (1.86±0.08%) test while the wine was found to be the most potential sample in all bioactivity tests. The wine was found to contain high amounts of glycoside and fermented distilled liquor Guras Raksi showed high presence of glycerol. Both the fermented samples exhibited high rate of digestion in simulated human digestion system compared to the phenolic rich unfermented decoction. This research validated the therapeutic potential of these Guras-based beverages in high-altitude conditions like Singalila by focusing on their biochemistry
ANALISIS KUALITAS BIOBRIKET KARBONISASI LIMBAH BAMBU DENGAN PEREKAT TEPUNG SINGKONG DAN TEPUNG NASI AKING
The heavy dependence on fossil fuel sources has led to massive exploitation of fossil fuel sources, so it is feared that fossil fuels will run out quickly because they cannot be renewed. It is necessary to find alternative non-fossil fuels so as not to depend on these fuels. Utilization of agricultural waste or industrial waste is an alternative to fossil fuels by turning them into charcoal briquettes. Bamboo waste is included in the category of agricultural waste which is often found in the products of the bamboo industry. This bamboo waste has not been utilized and has the potential to be used to make charcoal briquettes. This study aims to determine the characteristics of waste bamboo charcoal briquettes, determine the effect of the type of adhesive and the percentage of adhesive in the manufacture of waste bamboo charcoal briquettes and determine the right combination of adhesive types and the percentage of adhesive suitable for waste bamboo charcoal briquettes. This study used a Completely Randomized Design (CRD) with a combination of 6 experimental variations. Replications were carried out 4 times to obtain 24 experimental units. The treatment factors used in this study were the type of adhesive (J) and the percentage of adhesive (P). The adhesive type factor (J) consisted of the type of cassava flour adhesive (J0) and rice aking flour (J1) while the adhesive percentage factor consisted of 5% adhesive percentage (P0), 7% adhesive percentage (P1) and 9% adhesive percentage (P2). ). The variables observed in this study included moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon, calorific value, density and compressive strength. The data obtained was analyzed using the F test and if it had a significant effect then it was continued with the 5% DMRT test to find out the difference in these factors. The results showed the characteristics of bamboo charcoal briquettes using cassava flour and aking rice flour adhesive, namely water content (5.07-5.16%), ash content (2.74-2.86%), volatile matter (1.17- 1.25%), fixed carbon (90.74-91.02%), calorific value (6078.40-7348.23 cal/g), density (0.45-0.53 g/cm3) and compressive strength (2.32-6.74 kg/cm2). The type of adhesive and the percentage of adhesive have a significant effect on ash content, volatile matter and fixed carbon and compressive strength. The best bamboo waste charcoal briquettes are using cassava flour adhesive with an adhesive percentage of 5%.Ketergantungan yang besar pada sumber bahan bakar fosil telah menyebabkan terjadinya eksploitasi besar-besaran pada sumber bahan bakar fosil, sehingga dikhawatirkan bahan bakar fosil akan cepat habis karena tidak dapat diperbaharui. Perlu dicari alternatif bahan bakar non fosil agar tidak tergantung pada bahan bakar tersebut. Pemanfaatan limbah pertanian ataupun limbah industri merupakan salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil dengan mengubahnya menjadi briket karbonisasi. Limbah bambu termasuk ke dalam kategori limbah pertanian yang banyak dijumpai dari hasil industri bambu. Limbah bambu ini belum dimanfaatkan dan mempunyai potensi digunakan menjadi briket karbonisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik briket karbonisasi limbah bambu, mengetahui pengaruh jenis perekat dan persentase perekat dalam pembuatan briket karbonisasi limbah bambu serta mengetahui kombinasi yang tepat antara jenis perekat dan persentase perekat yang sesuai untuk briket karbonisasi limbah bambu. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan kombinasi perlakuan sebanyak 6 variasi percobaan. Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 24 unit percobaan. Faktor perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis perekat (J) dan persentase perekat (P). Faktor jenis perekat (J) terdiri dari jenis perekat tepung gaplek (J0) dan tepung nasi aking (J1) sedangkan faktor persentase perekat terdiri dari persentase perekat 5% (P0), persentase perekat 7% (P1) dan persentase perekat 9% (P2). Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi kadar air, kadar abu, volatile matter, fixed carbon, nilai kalor, kerapatan dan kuat tekan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F dan apabila berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji DMRT 5% untuk mengetahui perbedaan pada faktor tersebut. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik briket karbonisasi limbah bambu menggunakan perekat tepung gaplek dan tepung nasi aking yaitu kadar air (5,07-5,16%), kadar abu (2,74-2,86%), volatile matter (1,17-1,25%), fixed carbon (90,74-91,02%), nilai kalor (6078,40-7348,23 kal/g), kerapatan (0,45-0,53 g/cm3) dan kuat tekan (2,32-6,74 kg/cm2). Jenis perekat dan persentase perekat memberikan pengaruh nyata terhadap kadar abu, volatile matter dan fixed carbon dan kuat tekan. Briket karbonisasi limbah bambu terbaik yaitu menggunakan perekat tepung gaplek dengan persentase perekat 5%
PENERAPAN SIRKULAR EKONOMI BAGI SISWA MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN HAND SANITIZER DARI ECO-ENZYME
This decade is developed a maximal utilization of products until there are no leftovers, known as the circular economy. The concept explained that organics waste should be used to produce a good product like eco-enzyme. Eco-enzyme is a fermentation product that has a lot of benefits for agriculture till personal sanitation. The benefit of circular economy through eco-enzyme application must be promoted and disseminated. The workshop that targeted teenagers provided long-term effects for applying the circular economy concept. The empowerment event aims to disseminate the circular economy concept through hand-sanitizer production from eco-enzyme, which is taken from organic waste. The object of this event was students in 10th and 11th grade from Muhammdiyah 2 High School, Surabaya. The workshop used a combination of methods between lecturing and demonstration. This workshop was assessed by 5 indicators, i.e., workshop theme, competencies of lecturer, communication effectiveness, workshop duration, and availability of visual aid. Data was collected by the questioner at the end of the workshop. The result showed that 4 of 5 indicators provided good responses. Indicators of workshop duration need to evaluate for the next event. The workshop succeeded in providing knowledge about how to make hand sanitizer from eco-enzyme. The next event should discuss and demonstrate the production of another personal hygiene.Dekade ini berkembang konsep pemanfaatan produk secara maksimal hingga tidak ada sumber daya yang tersisa yang dikenal dengan konsep ekonomi sirkular. Berdasarkan konsep tersebut, sampah organik seyogyanya dapat kembali diolah menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya menjadi eco-enzym. Eco-enzyme merupakan produk fermentasi yang dapat diaplikasikan manfaatnya mulai dari pertanian hingga kesehatan. Berdasarkan manfaat yang didapat tersebut, seharusnya penerapan konsep ekonomi sirkular ini melalui pengolahan sampah organik menjadi eco-enzym perlu disebarluaskan dan diajakan. Pelatihan yang ditujukan kepada generasi muda dapat memberikan efek jangka panjang bagi penerapan ekonomi sirkular ini. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini untuk memberikan pemahaman tentang konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan eco-enzym dari sampah organik menjadi hand sanitizer. Objek kegiatan pengabdian ini adalah siswa-siswi kelas X dan XI SMA Muhammadiyah 2 Surabaya. Kegiatan pengabdian mengkombinasikan metode ceramah dan instruksi kerja. Evaluasi keberhasilan kegiatan pengabdian didasarkan atas 5 indikator, yaitu topik pelatihan, kompetensi narasumber, teknik penyampaian materi, durasi pelatihan, dan alat/fasilitas peraga. Pengumpulan data dilakukan melalui pengisian kuisioner setelah pelatihan. Berdasarkan hasil evaluasi didapatkan bahwa 4 dari 5 indikator evaluasi menunjukkan nilai yang memuaskan. Indikator durasi pelatihan perlu dievaluasi untuk kegiatan pelatihan selanjutnya. Kegiatan pengabdian ini berhasil memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana memanfaatkan eco-enzyme menjadi hand sanitizer. Untuk selanjutnya, perlu dilaksanakan kegiatan pengabdian tentang pemanfaatan eco-enzym untuk produk hygiene lainnya
STASIUN CHARGING HP DENGAN KINCIR ANGIN VERTICAL UNTUK KAWASAN WISATA PANTAI KONDANG MERAK
Pantai kondang merak menjadi destinasi wisata yang ramai dikunjungi wisatawan untuk berwisata. rata-rata wisatawan berasal dari daerah perkotaan yang sudah terbiasa dengan alat elektronik untuk aktifitas kehidupan sehari-hari. berdasarkan fakta dari survey awal diperoleh bahwa kendala yang sering dihadapi oleh pengunjung wisata adalah jaringan listrik yang belum diakses pln. listrik dibutuhkan oleh pengunjung untuk mengisi ulang baterai gadget dan untuk keperluan lainnya. pasokan listrik selama ini didapatkan dari generator diesel yang hanya beroperasi pada malam hari. oleh karena itu, dibutuhkan pasokan listrik yang bisa beroperasi 24 jam terutama pada saat pengunjung banyak datang pada siang hari. kita bisa memanfaatkan potensi energi yang tersedia di pantai seperti angin, matahari, dan gelombang laut.PANTAI KONDANG MERAK MENJADI DESTINASI WISATA YANG RAMAI DIKUNJUNGI WISATAWAN UNTUK BERWISATA. RATA-RATA WISATAWAN BERASAL DARI DAERAH PERKOTAAN YANG SUDAH TERBIASA DENGAN ALAT ELEKTRONIK UNTUK AKTIFITAS KEHIDUPAN SEHARI-HARI. BERDASARKAN FAKTA DARI SURVEY AWAL DIPEROLEH BAHWA KENDALA YANG SERING DIHADAPI OLEH PENGUNJUNG WISATA ADALAH JARINGAN LISTRIK YANG BELUM DIAKSES PLN. LISTRIK DIBUTUHKAN OLEH PENGUNJUNG UNTUK MENGISI ULANG BATERAI GADGET DAN UNTUK KEPERLUAN LAINNYA. PASOKAN LISTRIK SELAMA INI DIDAPATKAN DARI GENERATOR DIESEL YANG HANYA BEROPERASI PADA MALAM HARI. OLEH KARENA ITU, DIBUTUHKAN PASOKAN LISTRIK YANG BISA BEROPERASI 24 JAM TERUTAMA PADA SAAT PENGUNJUNG BANYAK DATANG PADA SIANG HARI. KITA BISA MEMANFAATKAN POTENSI ENERGI YANG TERSEDIA DI PANTAI SEPERTI ANGIN, MATAHARI, DAN GELOMBANG LAUT