E-Journal Center for Plant Conservation Botanic Gardens-LIPI (Indonesian Institute of Sciences / Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
Not a member yet
573 research outputs found
Sort by
KAJIAN ETNOKULINER TRADISIONAL LINGGA SEBAGAI PENOPANG PENGEMBANGAN PARIWISATA
Lingga traditional cuisine is a typical Malay dish of the archipelago that is still maintained until now, and has similarities with Lingga tourism. This study aims to reveal plant species in the Lingga ethno-culinary and analyze the secondary metabolite to support the development of Lingga tourism. This research was conducted from October 2019 to February 2020. The data were collected by interviewing several people related to ethno-culinary. Identification, secondary metabolites analysis and data analysis were carried out. The results showed 35 variants of Lingga traditional food that used 16 families and 31 plant species as main ingredients. The food is categorized into three groups and then divided into seven kinds of food, namely pastries, cakes, staple foods, side dishes, vegetables, and special Islamic holidays. This Lingga traditional cuisine uses several parts of plants, such as leaf, stem and tuber. Arecaceae, Lamiaceae, Euphorbiaceae and Zingiberaceae are among the families often used in the Lingga traditional cuisine. The families also contain medicinal properties and are used in traditional medicine by the Lingga Community. The results of the secondary metabolite test showed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, steroids, terpenoids, and tannins in the plants used in cuisine.Masakan tradisional Lingga merupakan masakan khas melayu nusantara yang masih dipertahankan sampai sekarang, dan identik dengan wisata Lingga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan dan pemanfaatan lokalnya pada etnokuliner Lingga, dan didukung dengan analisis metabolit sekunder sebagai penunjang pengembangan wisata Lingga. Penelitian ini dilakukan pada Oktober 2019 hingga Februari 2020. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara kepada informan. Selanjutnya dilakukan identifikasi, pengujian senyawa metabolit sekunder, dan analisis data. Hasil penelitian didapatkan 35 varian makanan tradisional Lingga yang menggunakan tumbuhan sebagai bahan utama dalam masakan yaitu 16 famili dan 31 jenis. Makanan tersebut terdiri atas tiga kelompok yang terbagi menjadi tujuh makanan yaitu kue kering, kue basah, makanan pokok, lauk pauk, sayur mayur, dan makanan khas hari besar Islam. Masakan tradisional Lingga ini banyak menggunakan bagian tumbuhan seperti daun, batang, dan umbi. Famili tumbuhan yang sering digunakan dalam masakan tradisional Lingga adalah Arecaceae, Lamiaceae, Euphorbiaceae, dan Zingiberaceae. Famili tersebut memiliki khasiat obat dan digunakan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat Lingga. Hasil uji metabolit sekunder menunjukkan adanya kandungan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, terpenoid, dan tanin di dalam tumbuhan yang digunakan dalam masakan
STUDI AWAL PEMULIAAN Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. (ORCHIDACEAE) MENGGUNAKAN IRADIASI SINAR GAMMA
Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. is a terrestrial orchid that is widely used as an ornamental plant because of its attractive and varied colored flowers and potential as a medicinal plant. Mutations with gamma-ray irradiation can be carried out to obtain morphological diversity of the plant, such as shorter stems and more extended flowering periods. This study aimed to determine the gamma-ray radiosensitivity of A. graminifolia protocorms and evaluate the plantlet growth after being irradiated by gamma-ray up to the second subculture (M1V2). Three months after germinating protocorms were irradiated at 0, 15, 30, and 45 Gy doses. The result indicated that the doses that reduced 20–50% of the population (LD20–50) were within the range of 49.68–73.96 Gy. Irradiation doses of 15–30 Gy reduced the average plant height and leaf length and also suppressed the formation of leaves and shoots at the plantlet stage. Plantlets at these irradiation doses survived and were expected to produce new mutants to select superior seedlings.Arundina graminifolia (D.Don) Hochr. merupakan salah satu jenis anggrek terrestrial yang banyak dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki bunga dengan bentuk dan warna yang menarik dan bervariasi, serta memiliki potensi sebagai tumbuhan obat. Mutasi dengan iradiasi sinar gamma dapat dilakukan untuk meningkatkan keragaman morfologi jenis ini, seperti tanaman yang berbatang lebih pendek dan masa berbunga yang lebih lama. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan radiosensitivitas protokorm A. graminifolia terhadap sinar gamma dan mengevaluasi keragaman pertumbuhan planlet yang telah diinduksi dengan sinar gamma sampai tahap subkultur kedua setelah iradiasi (tahap M1V2). Protokorm yang berumur 3 bulan setelah semai diiradiasi dengan dosis 0, 15, 30, dan 45 Gy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kemungkinan dosis yang mampu mematikan 20–50% populasi (LD20–50) berada pada kisaran 49,68–73,96 Gy. Dosis iradiasi 15–30 Gy telah mampu menurunkan rerata tinggi tanaman dan panjang daun, serta menekan pembentukan daun dan tunas pada tahap planlet. Planlet pada dosis iradiasi tersebut juga dapat bertahan hidup dan diharapkan memunculkan mutan baru untuk seleksi bibit unggul
Perbedaan Komunitas Tumbuhan Sabana pada Gunung Tambora dan Rinjani di Nusa Tenggara Barat, Indonesia
Some savannas occur at high elevations in Indonesia, such as those found on the slopes of Mt. Rinjani and Mt. Tambora. Such savannas are poorly known compared to other savannas in Indonesia. This study investigates and compares the structural characteristics and species composition of savanna plant communities in the higher altitude areas of Mt. Rinjani and Mt. Tambora. Sampling was established purposively (with a random start) across each savanna to get the abundance of woody and groundcover species. The floristic data were analyzed using Analysis of Similarity (ANOSIM), CLUSTER, and SIMPER, which feature in PRIMER v.6 software. We recorded 45 plants species belonging to 27 families in the two savannas. Both savannas have similar species diversity (1.72 for Mt. Tambora and 1.85 for Mt. Rinjani). Saccharum spontaneum, Desmodium sp., Ziziphus rotundifolia, Acacia nilotica, Tabernaemontana sp. were the species only present on Mt Tambora; whereas Dicranopteris linearis, Stachytarpeta indica, Engelhardia spicata, Ocimum sp., Vanda sp., Rubus sp., and Nephrolepis sp. were the species only found on Mt. Rinjani. Imperata cylindrica is commonly found in both savannas and can increase wildfire risk in these savannas. The spread of the invasive alien species, Acacia nilotica, has started on Mt. Tambora.Sabana ternyata juga terdapat di dataran tinggi, seperti sabana yang terbentuk di lereng Gunung Rinjani dan Gunung Tambora. Informasi tentang kedua sabana tersebut belum banyak diketahui dibandingkan dengan sabana lain di Indonesia Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan karakteristik dan variasi komposisi komunitas tumbuhan sabana di dataran tinggi G. Rinjani dan G. Tambora. Metode pengambilan sampel dilakukan secara purposive (dengan awal acak) di sepanjang Sabana untuk mendapatkan informasi kelimpahan jenis tumbuhan berkayu dan juga kelimpahan jenis penutup tanah. Data vegetasi dianalisis dengan Analisis Kesamaan (ANOSIM), CLUSTER dan SIMPER dengan menggunakan perangkat lunak PRIMER V.6. Tercatat ada 45 spesies tumbuhan yang termasuk dalam 27 famili di dua sabana tersebut. Kedua sabana memiliki keanekaragaman spesies yang hampir sama (1,72 untuk G. Tambora dan 1,85 untuk G. Rinjani). Saccharum spontaneum, Desmodium sp., Ziziphus rotundifolia, Acacia nilotica, dan Tabernaemontana sp. hanya terdapat di G. Tambora, sedangkan Dicranopteris linearis, Stachytarpeta indica, Engelhardia spicata, Ocimum sp., Vanda sp., Rubus sp., dan Nephrolephis sp. hanya ditemukan di G. Rinjani. Imperata cylindrica banyak ditemukan dan berpotensi memicu kebakaran liar di kedua sabana tersebut. Invasi spesies asing invasif, seperti Acacia nilotica mulai terjadi di G. Tambora
Petunjuk Teknis Budidaya Sorgum di Lahan Alang-alang atau Lahan Marginal
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat Rahmat-Nya sehingga penulisan Buku dengan judul “Petunjuk Teknis Budidaya Sorgum di Lahan Alang-alang atau Lahan Marginal” telah dapat diselesaikan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penerbitan buku ini, khususnya kepada Japan International Cooperation Agency (JICA), serta para pimpinan di Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Hayati, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Buku ini merupakan salah satu capaian dari kegiatan Proyek Kerjasama Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) antara Kyoto University dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berlangsung sejak tahun 2016 sampai dengan 2022 dengan judul “Project for Producing Biomass Energy and Material Through Revegetation of Alang-alang (Imperata cylindrica) Field”. Melalui kegiatan Proyek SATREPS ini diharapkan akan dikembangkan teknologi yang mampu mengubah lahan alang-alang/lahan marginal menjadi areal yang lebih produktif. Di lahan yang produktif tersebut diharapkan akan menghasilkan dan juga memanfaatkan biomassa untuk produksi energi dan material terbarukan yang ramah lingkungan.
Tanaman sorgum terpilih karena mampu tumbuh di lahan kering ataupun kurang subur, serta dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk pangan tetapi juga untuk pakan, energi dan bahan industri. Tanaman ini bisa dibudidayakan secara intercropping system dengan tanaman lainnya termasuk tanaman revegetasi yang memiliki nilai ekonomi maupun merupakan tanaman langka serta bisa beradaptasi dengan kondisi lahan yang akan dimanfaatkan tersebut.
Akhir kata, tim penulis berharap buku petunjuk teknis ini bisa bermanfaat bagi para pembacanya. Penulis juga memohon masukan dan saran jika masih ada kekurangan yang perlu ditambahkan untuk kesempurnaan buku ini. Terima kasih
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARBON DI HUTAN TEMBAWANG ALAK, SINTANG, KALIMANTAN BARAT
The production forest area in West Kalimantan has been fragmented as a result of plantations, industrial forest, mining, and others. This causes the loss of primary forests, leaving secondary forests, shrubberies, and open areas. Fragmented forests affect biodiversity. This study aimed to determine vegetation structure, composition, potential biomass, and carbon content in the secondary forests of Tembawang Alak Forest in West Kalimantan. Research on diversity and carbon content was conducted in the area in March 2020. Plots of one hectare (100x100 m2) were placed randomly in old and young secondary forest areas. Observation in the old secondary forest recorded 109 species of plants belonging to 43 families, trees (diameter >= 10 cm) comprised 103 species and 947 trees. Observation in the young secondary forest recorded 41 plants belonging to 24 families, trees consisted of 30 species and a total of 702 trees. The dominant species in the old secondary forest comprised Combretocarpus rotundatus, Porterandia sp., and Gironniera nervosa. Ilex cymosa, Ptychopyxis sp. and Knema cinerea dominated the young secondary forest. The biomass and carbon content of the old secondary forest stands (diameter >= 10 cm) were 306.54 tons/ha or 144.07 tons C/ha. In contrast, whereas the young secondary forest were 127.31 tons/ha or 59.83 tons C/ha.Kawasan hutan produksi di Kalimantan Barat sebagian telah terfragmentasi akibat dari usaha perkebunan, hutan tanaman industri, pertambangan, dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan hilangnya hutan primer dan menyisakan hutan sekunder, semak belukar, dan areal terbuka. Hutan yang terfragmentasi mengakibatkan keanekaragaman terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, komposisi vegetasi, potensi biomassa, dan kandungan karbon hutan sekunder di hutan Tembawang Alak, Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2020. Plot penelitian dibuat di hutan sekunder tua dan hutan sekunder muda, berbentuk bujur sangkar ukuran 100x100 m2 (1 ha). Hasil penelitian di hutan sekunder tua tercatat 109 jenis tumbuhan dari 43 suku, pohon berdiameter
>= 10 cm ada 103 jenis, berjumlah 947 pohon. Pada hutan sekunder muda tercatat 41 jenis tumbuhan dari 24 suku, pohon berdiameter >= 10 cm ada 30 jenis, berjumlah 702 pohon. Jenis yang dominan berturut-turut di hutan sekunder tua adalah prepat (Combretocarpus rotundatus), penduk (Porterandia sp.), dan pelai (Gironniera nervosa). Pada hutan sekunder muda jenis yang dominan berturut-turut adalah ubah (Ilex cymosa), medang (Ptychopyxis sp.), dan kumpang (Knema cinerea). Biomassa dan kandungan karbon tegakan hutan sekunder tua yang berdiameter >= 10 cm yaitu sebesar 306,54 ton/ha atau 144,07 ton C/ha, sedangkan pada hutan sekunder muda sebesar 127,31 ton/ha atau 59,83 ton C/ha
KERAGAMAN JENIS AGATHIS DI DUNIA DAN RIAP TAHUNAN Agathis dammara (Lamb.) Poir. DAN Agathis borneensis Warb. DI KEBUN RAYA EKA KARYA, BALI
The success of botanic gardens in carrying out their duties and functions can be seen in their plant collections and conservation efforts, including restoration, reintroduction, and cultivation. As a scientific basis, the success needs to be supported by primary data, namely species diversity, growth and habitat suitability. This research aims to inventory the diversity of Agathis species in the world and obtain information on the growth of Agathis grown exsitu in the Eka Karya Botanic Garden, Bali. This research used a literature study and a census on A. borneensis and A. dammara tree collections. Observed parameters included measurements of growth, annual increments, and environment. The results of a literature study show that there are 17 species of Agathis in the world. The Eka Karya Bali Botanic Garden has only collected four species, namely A. australis, A. borneensis, A. dammara, and A. robusta, whereas seven collection numbers have not yet been identified in species level. A. borneensis and A. dammara are classified as endangered and vulnerable threatened species according to the IUCN Red List ver. 3.1. This research showed that the mean annual increments of A. borneensis were higher than that of A. dammara on trees aged 12 and 50 years. Both species' mean annual increments in height and diameter continued to increase at a young age (3–12 years) and stagnated at a mature age (50–64 years).Keberhasilan kebun raya dalam menjalankan tugas dan fungsinya dapat dilihat dari kelengkapan koleksi tumbuhan dan usaha konservasinya yang meliputi restorasi, reintroduksi, dan pembudidayaannya. Hal ini perlu didukung oleh adanya data dasar seperti keragaman jenis, pertumbuhan, dan kesesuaian habitat suatu jenis tumbuhan sebagai basis ilmiah. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi keragaman jenis Agathis yang ada di dunia dan memperoleh informasi pertumbuhan Agathis yang ditanam secara ex-situ di Kebun Raya Eka Karya, Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah penelusuran pustaka dan sensus pada koleksi A. borneensis dan A. dammara. Parameter yang diamati meliputi pengukuran pertumbuhan, riap tahunan, dan lingkungan. Hasil penelusuran pustaka menunjukkan bahwa keragaman Agathis di dunia tercatat ada 17 jenis. Kebun Raya Eka Karya, Bali telah mengoleksi empat jenis yang terdiri dari A. australis, A. borneensis, A. dammara, dan A. robusta, sedangkan tujuh nomor koleksi masih belum teridentifikasi hingga jenis. A. borneensis dan A. dammara termasuk dalam jenis genting dan rentan, berdasarkan IUCN Red List ver. 3.1. Hasil pengamatan menunjukkan riap tahunan rata-rata A. borneensis lebih besar daripada riap tahunan rata-rata A. dammara pada pohon yang berumur 12 dan 50 tahun. Riap tinggi dan riap diameter kedua jenis Agathis terus bertambah pada usia muda (3–12 tahun) dan stagnan pada usia tua (50–64 tahun)
ASESMEN KESEHATAN POHON PUSAKA Eucalyptus alba Reinw. ex Blume DI KEBUN RAYA BOGOR SECARA VISUAL DAN TEKNOLOGI TOMOGRAFI
Eucalyptus alba Reinw. ex Blume is a heritage tree in the Bogor Botanic Gardens, planted in 1892 (130 years old in 2022). Only one specimen in the Garden has a unique trunk shape. Trees that are a match for the heritage category need to be preserved by paying attention to its health condition. The study aimed to analyze tree health conditions based on visual tree assessment (VTA), tomographic technology, and recommendations for its maintenance. The method used is VTA using the International Society of Arboriculture (ISA) and tomographic technology using PiCUS 3 Sonic Tomograph. The results showed that visually E. alba had a low fall/break potential on the main stem. However, using tomographic technology found that decaying on the main stem at various height levels was as follows: 50 cm (95%), 140 cm (76%), 550 cm (18%), and 810 cm (11%). Therefore, E. alba has a high potential to fall on the lower stems because the percentage of decay exceeds 70% with a large diameter (275 cm). Some recommendations are provided, such as maintaining the physiological process of trees by keeping soil fertility, installing termite bait, making a circular fence to the north, periodically decaying measurements (once a year), and providing information boards related to current tree conditions as well as hazard mitigation. Complete or partial logging is not recommended, given the status of E. alba as a heritage tree.Eucalyptus alba Reinw. ex Blume merupakan pohon pusaka di Kebun Raya Bogor yang ditanam pada tahun 1892 (umur 130 tahun di tahun 2022), hanya ada satu spesimen, dan memiliki bentuk batang yang unik. Pohon dengan kategori pusaka ini perlu dilestarikan dengan memperhatikan kondisi kesehatannya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi kesehatan pohon secara visual dan teknologi tomografi serta rekomendasi penanganannya. Metode yang digunakan adalah pengamatan visual berdasarkan International Society of Arboriculture dan teknologi tomografi menggunakan PiCUS 3 Sonic Tomograph. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara visual E. alba memiliki potensi tumbang/patah yang rendah pada batang utama. Namun setelah dilakukan pengukuran pelapukan pada batang utama di berbagai level ketinggian dengan teknologi tomografi, hasilnya adalah di ketinggian 50 cm (95%), 140 cm (76%), 550 cm (18%), dan 810 cm (11%). Oleh karena itu, E. alba memiliki potensi tumbang yang besar pada batang bagian bawah karena persentase pelapukan yang melebihi 70% dengan diameter yang besar (275 cm). Rekomendasi penanganan pohon berisiko adalah mempertahankan proses fisiologis pohon dengan menjaga kesuburan tanah, pemasangan umpan rayap, pembuatan pagar melingkar ke arah utara, pengukuran pelapukan berkala (satu tahun sekali), dan pemberian papan informasi terkait kondisi terkini dan mitigasi bahayanya. Penebangan total atau sebagian tidak direkomendasikan mengingat status E. alba sebagai pohon pusaka