e-Publikasi Ilmiah Unwahas (Universitas Wahid Hasyim)
Not a member yet
4995 research outputs found
Sort by
Fenomena Penyalahgunaan Narkoba Pada Remaja di Kota Semarang
Korban penyalahgunaan narkoba sebagian besar adalah usia remaja, yang seharusnya produktif dan merupakan aset bangsa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif tipe deskriptif. Pada mulanya zat Narkotika ditemukan orang yang penggunaannya ditujukan untuk kepentingan umat manusia, khususnya dibidang pengobatan Berdasarkan cara pembuatannya, narkotika dibedakan menjadi 3 jenis yaitu narkotika alami, narkotika semisintesis dan narkotika sintesis. Tiga faktor utama yang mempengaruhi apakah seseorang akan terlibat penyalahgunaan yaitu faktor predisposisi, faktor kontribusi, dan faktor pencetus. paling utama sebagai penentu remaja menyalahgunakan narkoba yaitu faktor ketersediaan, karena mudahnya atau tersedianya narkoba di pasar gelap menjadikan barang tersebut mudah didapatkan. Tak jarang ditemukan ketika hendak masuk ke dalam suatu organisasi tertentu dikalangan remaja disitu dilakukan beberapa tes
KUASA, PENGETAHUAN, DAN POLITIK STANDAR BERKELANJUTAN
Munculnya kerangka kerja standar berkelanjutan mencerminkan meningkatnya kepedulian global terhadap keberlanjutan. Namun, perumusan dan penegakan standar ini jauh dari proses yang netral atau diterima secara universal. Standar itu muncul dalam jaringan relasi kekuasaan, produksi pengetahuan melalui kontestasi yang sengit, serta pertimbangan geopolitik. Korporasi sering memimpin inisiatif penetapan standar, memanfaatkan sumber daya keuangan dan jangkauan global mereka untuk memengaruhi hasil yang selaras dengan model bisnis mereka. Selain itu, lembaga multilateral memainkan peran penting dalam membingkai tolok ukur global. Lembaga-lembaga ini diharapkan untuk mempertahankan netralitas dan inklusivitas tetapi secara inheren dibentuk oleh kepentingan dan ideologi anggotanya yang paling berpengaruh, biasanya negara-negara kaya dan perusahaan besar; ini menimbulkan pertanyaan tentang inklusivitas dan legitimasi standar ini, terutama bagi pemangku kepentingan di Negara Selatan yang mungkin tidak memiliki perwakilan dalam forum ini. Dominasi paradigma ilmiah Barat secara historis diposisikan sebagai otoritas tertinggi tentang keberlanjutan mencerminkan dan memperkuat ketidakseimbangan kekuatan global. Peneliti berusaha mengeksplorasi interaksi antara kekuasaan, produksi pengetahuan, dan kepentingan politik dalam mengembangkan dan menerapkan standar berkelanjutan. Adapun studi ini menggunakan kerangka metodologi kualitatif untuk menyelidiki bagaimana standar berkelanjutan muncul, kepentingan siapa yang mereka layani, dan implikasinya terhadap tata kelola global yang adil. Temuan ini mengungkapkan bahwa asimetri kekuasaan, produksi pengetahuan yang digerakkan oleh para ahli dan kepentingan geopolitik yang secara signifikan memengaruhi standar berkelanjutan. Hal ini meningkatkan kekhawatiran tentang legitimasi dan inklusivitas standar keberlanjutan yang diberlakukan secara universal.
Kata kunci: Dinamika kekuasaan, standar berkelanjutan, produksi pengetahuan, politik global, tata kelola
Analisis Konsentrasi dan Jenis Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Terhadap Pertumbuhan Bibit Bawang Merah (Allium ascalonicum L.)
The use of bulbs often reduces the quality of the results because the seeds often carry pathogens and reduce the productivity of shallots. One of the factors that causes the decline in the production of this plant is the lack of appropriate and effective cultivation technology. A potential solution is to improve seed quality by using organic fertilizers, especially PGPR fertilizers. This study aims to determine the concentration and type of PGPR that affect the growth of shallot seeds. The research method used was a randomized block design consisting of two factors, namely; PGPR concentration consisting of three levels, namely 10 ml / l (K1), 20 ml / l (K2), and 30 ml / l (K3). The second factor is the type of PGPR consisting of 3 levels, including: mimosa pudica roots (P1), bamboo roots (P2), and elephant grass roots (P3). The results showed that the PGPR concentration of 20 ml / l (K2) gave the best effect on the parameters of plant height and leaf length. Among the types of PGPR, bamboo roots (P2) gave the best results on the parameters of plant height, number of leaves and leaf length. There is also an interaction between the concentration and type of PGPR on plant height and leaf length parameters.Penggunaan umbi sering menurunkan kualitas hasil karena benihnya sering membawa patogen dan mengurangi produktivitas bawang merah. Salah satu faktor yang menyebabkan menurunnya produksi tanaman ini adalah kurangnya teknologi budidaya yang tepat dan efektif. Solusi yang potensial adalah peningkatan kualitas benih dengan menggunakan pupuk organik, khususnya pupuk PGPR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi dan jenis PGPR yang mempengaruhi pertumbuhan benih bawang merah. Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor, yaitu; konsentrasi PGPR yang terdiri dari tiga taraf yaitu 10 ml/l (K1), 20 ml/l (K2), dan 30 ml/l (K3). Faktor kedua yaitu jenis PGPR yang terdiri dari 3 taraf, diantaranya : akar putri malu (P1), akar bambu (P2), dan akar rumput gajah (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PGPR 20 ml/l (K2) memberikan pengaruh terbaik terhadap parameter tinggi tanaman dan panjang daun. Di antara jenis PGPR, perakaran bambu (P2) memberikan hasil terbaik pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun dan panjang daun. Terdapat pula interaksi antara konsentrasi dan jenis PGPR terhadap parameter tinggi tanaman dan panjang daun
Analisis Pertimbangan Hakim dalam Penegakan Hukum Tindak Pidana Narkotika di Pengadilan Negeri Kayu Agung
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hakim dalam penegakan hukum tindak pidana narkotika, khususnya terkait penerapan Pasal 112 Ayat (1) dan Pasal 127 Ayat (1) Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika di Pengadilan Negeri Kayu Agung. Meskipun undang-undang ini mengatur sanksi pidana yang berat untuk penyalahgunaan narkotika, termasuk rehabilitasi medis dan sosial bagi pecandu, praktik penegakan hukum sering kali tidak sejalan dengan ketentuan tersebut, di mana banyak pecandu narkotika dijatuhi hukuman penjara ketimbang rehabilitasi. Penelitian ini mengeksplorasi ketimpangan antara teori hukum yang terkandung dalam undang-undang dengan praktik di lapangan, serta mengidentifikasi kesenjangan yang terjadi dalam penerapan hukum yang dapat berujung pada ketidakadilan bagi pecandu narkotika. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk memperbaiki implementasi kebijakan rehabilitasi dalam penegakan hukum narkotika di Indonesia
SINTESIS BIODIESEL DARI MINYAK DEDAK PADI DENGAN KATALIS PADAT DARI LIMBAH PENGOLAHAN BAUKSIT (RED MUD)
Red mud, a solid waste from extraction process of bauxite mineral in Alumina Industry, was utilized as a solid catalyst for biodiesel production from rice bran oil. Red mud catalyst was prepared at calcination temperature of 800 °C and calcination time of 4 hours. The performance of this catalyst will be evaluated in terms of molar ratio of oil to methanol to, reaction temperature, and catalyst concentration. The results show that biodiesel yield is increasing by increasing molar ratio of methanol to oil, reaction temperature and catalyst concentration. The optimum reaction conditions were obtained at 65 C of reaction temperature, 1:12 of oil to methanol molar ratio, and 10% of catalyst amount. The highest biodiesel yield of 85% was obtained. Red mud catalyst has potential as an effective and economic viability as heterogeneous catalyst for biodiesel production, while offering a solution in the sustainable utilization of industrial waste
PENURUNAN KADAR COD PADA LIMBAH CAIR CINCAU DENGAN METODE KARBON AKTIF DAN AERASI
Industri pangan merupakan salah satu industri yang berkembang pesat di Indonesia. Perkembangan industri haruslah diiringi dengan pengelolaan limbah yang baik agar tidak menimbulkan dampak bagi lingkungan. Pabrik cincau menghasilkan limbah padat dan cair.Limbah padat pabrik cincau dapat diolah menjadi pupuk, sementara limbah cair pabrik cincau belum ditemukan pemanfaatannya. Padahal jumlah limbah cair yang dihasilkan lebih banyak dibandingkan limbah padat. Sehingga diperlukan penelitian untuk mengurangi kadar polutan dalam limbah cair cincau agar sesuai dengan standar baku mutu limbah dan tidak mencemari lingkungan. Salah.satu parameter baku mutu limbah yang dapat dianalisa adalah COD (chemical oxygen demand). Tingginya nilai COD menunjukkan banyaknya kandungan zat organik dalam limbah cair. Nilai COD dapat diturunkan dengan beberapa metode, diantara metode penambahan karbon aktif dan metode aerasi. Pada penelitian ini diamati pengaruh penambahan karbon aktif seberat 25, 50, 75 dan 100 gram pada limbah cair cincau, serta pengaruh lama aerasi selama 1, 1,5 dan 2 jam. Nilai COD terendah didapatkan pada perlakuan penambahan karbon aktif seberat 100 gram yaitu 20,16 mg/L dan pada perlakuan aerasi selama 2 jam yaitu 20,24 mg/L. Semakin banyak karbon aktif yang ditambahkan ke dalam limbah cair cincau, semakin berkurang nilai COD. Semakin lama waktu aerasi, nilai COD semakin turun. Penambahan 100 gram karbon aktif atau perlakuan aerasi selama 2 jam pada 500 ml limbah cair cincau dapat menurunkan nilai COD sebesar 80%
PENGOLAHAN AIR LIMBAH PRODUKSI MIE INSTAN MENGGUNAKAN METODE OKSIDASI LANJUTAN H2O2 DENGAN FOTOKATALIS TiO2
Air Limbah mie instan dihasilkan dari mesin proses produksi seperti boiler, cleaning penggorengan berupa minyak goreng bekas. Karakteristik air limbahnya dapat ditentukan berdasarkan bahan baku yang digunakan sebagai bahan olahan seperti tepung terigu dengan kandungan karbohidrat, protein, vitamin dan mineral serta minyak kelapa. Kandungan tersebut dapat mengubah komposisi air sehingga berpengaruh pada nilai COD, BOD, pH, TSS, minyak dan lemak yang tidak sesuai baku mutu. Kualitas air yang menurun akan berdampak negatif jika tidak dilakukan pengolahan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi H2O2 dan pengaruh waktu fotokatalis TiO2 serta efektivitas oksidasi lanjutan H2O2 dengan kombinasi Fotokatalis TiO2 terhadap penurunan nilai pH, TSS, COD, Minyak dan Lemak.Waktu kontak optimal fotokatalis TiO2 adalah 2 jam dengan konsentrasi penurunan TSS 68,10% dan minyak lemak 94,67%. Penurunan parameter COD dan BOD optimal pada waktu kontak 3 jam yaitu 31,80% dan 44,32%, Metode oksidasi lanjutan dengan penambahan H2O2 30% lebih efektif terhadap penurunan parameter COD dan BOD yaitu 92,56% dan 91,97%. Penurunan parameter TSS, minyak dan lemak lebih efektif menggunakan metode gabungan penambahan H2O2 30% dan fotokatalis TiO2 dengan nilai efisiensi penyisihannya adalah 92,62% dan 95%
PENGARUH RASIO JUMLAH PATI SAGU DENGAN CARBOXY METHYL CELLULOSE (CMC) DAN JENIS PLASTICIZER TERHADAP KARAKTERISTIK BIODEGRADABLE FILM
Plastik yang mudah terurai atau sering disebut dengan biodegradable film merupakan plastik yang ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh komposisi pati sagu dengan CMC dan jenis plasticizer serta mendapatkan kondisi optimum biodegradable film berdasarkan karakteristik morfologi, ketebalan, ketahanan air, degradabilitas, tensile strength, dan elongation. Variabel bebas pada penelitian ini adalah komposisi jumlah pati sagu dengan CMC (75:25, 80:20, 85:15, 90:10, 95:5) (%) dan jenis plasticizer (gliserol dan sorbitol). Penelitian ini terdiri dari dua tahapan proses, yaitu: (1) Pembuatan CMC dari sabut kelapa, dan (2) Pembuatan biodegradable film. Pembuatan biodegradable film dilakukan selama kurang lebih 30 menit dengan perlakuan pemanasan dilanjutkan dengan pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CMC yang dihasilkan memiliki sifat fisik berbentukserabut pendek, berwarna kuning, larut dalam air, kental dan memiliki nilai derajat substitusi sebesar 0.033756. Hasil uji anova menunjukkan bahwa kombinasi pati sagu dan CMC dengan jenis plasticizer tidak berpengaruh terhadap karakteristik ketebalan, ketahanan air dan degradabilitas.. Pada komposisi pati sagu dan CMC rasio (95:5) menghasilkan morfologi, ketebalan, ketahanan air dan degradabilitas terbaik. Pada komposisi pati sagu dan CMC rasio (75:25) dengan plasticizer sorbitol menghasilkan nilai tensile strength tertinggi sedangkan pada komposisi jumlah pati sagu dan CMC rasio (85:15) plasticizer gliserol menghasilkannilai elongasi tertinggi
Implikasi Keluarnya Amerika Serikat dari Paris Agreement terhadap Kestabilan Politik Global
The United States' withdrawal from the Paris Agreement in 2025 under the Trump administration has raised significant questions about its implications for global political stability. This study examines the political implications of the US withdrawal, focusing on its impact on global leadership, multilateral cooperation, climate diplomacy, and domestic political dynamics. Using a qualitative case study approach and drawing on a variety of data sources, including official documents, academic literature, and policy analysis, this study finds that the US withdrawal has had a mixed impact. While it has created challenges for global climate governance and cooperation, it has also opened opportunities for other actors to play a more prominent role. The study concludes that the US withdrawal from the Paris Agreement is a significant event with far-reaching political implications, and further research is needed to fully understand its long-term consequences.
Keywords: Paris Agreement, United States, climate change, global political stability, multilateral cooperation
Abstrak
Penarikan diri Amerika Serikat dari Paris Agreement pada tahun 2017 di bawah pemerintahan Trump telah menimbulkan pertanyaan signifikan tentang implikasinya terhadap stabilitas politik global. Studi ini meneliti implikasi politik dari penarikan diri AS, dengan fokus pada dampaknya terhadap kepemimpinan global, kerjasama multilateral, diplomasi iklim, dan dinamika politik domestik. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dan berbagai sumber data, termasuk dokumen resmi, literatur akademis, dan analisis kebijakan, studi ini menemukan bahwa penarikan diri AS memiliki dampak yang beragam. Meskipun menciptakan tantangan bagi tata kelola dan kerjasama iklim global, hal ini juga membuka peluang bagi aktor lain untuk memainkan peran yang lebih menonjol. Studi ini menyimpulkan bahwa penarikan diri AS dari Paris Agreement adalah peristiwa penting dengan implikasi politik yang luas, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya konsekuensi jangka panjangnya.
Kata kunci: Paris Agreement, Amerika Serikat, perubahan iklim, stabilitas politik global, kerjasama multilateral
 
KEBIJAKAN LUAR NEGERI PEMERINTAH THAILAND MENGHENTIKAN BEA MASUK (SAFEGUARDS) ATAS PRODUK BAJA CANAI PANAS DARI NEGARA INDUSTRI PADA TAHUN 2020
The imposition of Safeguard duties is an emergency and temporary additional tariff enacted by the government to protect domestic industries from a surge in imports that could cause significant damage. This study seeks to understand the reasons behind the Thai government's decision to discontinue Safeguard duties on hot-rolled steel products from industrialized countries in 2020. The research employs a qualitative descriptive method, using the foreign policy theory of Snyder, Bruck, and Sapin, which is known as the internal-external setting theory. This theory posits that both internal and external factors can influence foreign policy decisions. Among the internal factors are public opinion on the policy, a decline in the market share of imported steel, and Thailand's strategic position in the Asian automotive market. External factors include Thailand's compliance with World Trade Organization (WTO) regulations, which necessitates liberalization and the cessation of Safeguard duties. Additionally, the threat of trade disputes, such as those posed by Turkey's extension of Safeguard measures, could put Thailand at risk of trade retaliation.
Keywords : Discontinued import duties, Safeguards, Thailand, WTO
Abstrak
Pengenaan bea masuk Safeguards adalah bea masuk tambahan yang bersifat darurat dan sementara berdasarkan kebijakan pemerintah guna melindungi industri dalam negeri akibat dari lonjakan impor yang dapat menyebabkan kerugian serius. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan mengapa pemerintah thailand menghentikan bea masuk (safeguards) atas produk baja canai panas dari negara industri pada tahun 2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori kebijakan luar negeri dari snyder, bruck dan sapin yaitu teori internal eksternal setting. Dimana faktor internal dan external dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri. Diantaranya yaitu faktor internal karena opini masyarakat terkait kebijakan ini, adanya pangsa impor baja yang menurun dan letak strategis thailand dalam pasar otomotif di asia. Serta faktor external karena sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan WTO, maka liberisasi dan penghentian bea masuk Safeguards menjadi faktor eksternal kebijakan ini dilakukan dan adanya ancaman negara lain berupa sengketa perdagangan yang dilakukan oleh negara turki dengan memperpanjang safeguards dapat menempatkan Thailand dalam risiko pembalasan perdagangan.
Kata Kunci : Penghentian bea masuk, Bea masuk tindak pengamanan, Thailand, WT