Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang: Journals
Not a member yet
    4178 research outputs found

    DEVELOPING BLENDED ENTREPRENEURSHIP MODEL AS AN EFFORT TO INCREASE THE ECONOMICS

    No full text
    Fenomena yang terjadi masyarakat saat ini dalam hal kewirausahan dikarenakan (1) kerasnya persaingan di luar sana yang membuat dia tidak bisa menemukan pekerjaan yang lebih layak, (2) adanya sistem kontrak yang membuat Bang Black kehilangan pekerjaan, dan ditambah lagi susahnya mencari pekerjaan  disebabkan karena lapangan pekerjaan yang sedikit disediakan pemerintah. Kondisi saat ini tidak boleh dibiarkan, dengan demikian perlu adanya upaya serius untuk pemberdayaan guru kewirausahaan terutama  untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia. Diharapkan pula guru  mampu memberikan sumbangan untuk peningkatan kualitas SDM dan produktifitas kerja wirausaha muda di wilayah Malang Raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan  Model kewirausahaan berbasis karakter. Jenis penelitian adalah penelitian pengembangan. Dengan mengikuti program kewirausahaan di wilayah Malang Raya dapat memperoleh pengetahuan, kemampuan kewirausahaan, kemampuan dalam bidang produksi (Product Knowledge), pengetahuan dan kemampuan pasca panen (pemasaran), dan pada akhirnya kualitas SDM dan produktifitas bisa meningkat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah emik (emik view) (Pelto dan Pelto, 1978:54-66). Hasil penelitian ini adalah tersusunnya   Panduan Model pe kewirausahaan berbasis karakter.  Kata Kunci : Kewirausahaan, Berbasis karakte

    UPAYA PENEGAKAN KHILAFAH DAN SYARIAH DI INDONESIA: GAMBARAN BENTURAN IDENTITAS KEAGAMAAN DI ERA KONTEMPORER

    No full text
    Penegakan khilafah dan syariah di Indonesia menjadi wacana popular dalam fenomena keagamaan di Indonesia pada akhir-akhir ini. Kelompok kelompok Islam yang memiliki agenda tersebut memiliki beragam metode dalam upaya mewujudkan penerapan syariah dan tegaknya khilafah. Namun upaya tersebut harus berkontestasi dengan elemen kelompok Islam lokal lainnya yang lebih berprinsip nasionalisme dan demokrasi. Konstetasi kedua arus gerakan tersebut dapat berbentuk hanya sekedar saling mengkritik, perdebatan, intimidasi, hingga menjurus ke kontak fisik. Berdasar studi literatur dari berbagai referensi mengenai kajian sosiologi maupun kajian politik internasional, terdapat dua hal penting dari fenomena tersebut. Hal pertama, fenomena kontestasi dua arus gerakan tersebut adalah gambaran benturan antar identitas. Di satu sisi, terdapat kelompok “fundamentalis†yang merindukan idealisme keagamaan. Sedangkan di sisi lain, terdapat kelompok “modernis†yang menerima kondisi riil kontemporer sebagai kenyataan. Hal kedua, keberadaan kelompok fundamentalis merupakan salah satu reaksi dari modernisasi yang identik dengan identitas Barat.Modernisasi identik beriringan dengan proses westernisasi, sekulerisme, kapitalisme, dan individualisme. Terlebih pada awalnya, Barat membawa modernisasi melalui instrument kolonialisme dan imperialisme. Modernisasi juga identik dengan penggunaan rasionalisme dan empirisme yang seolah banyak menggantikan peran agama dalam menjelaskan berbagai masalah di dunia kontemporer. Modernisasi berjalan masif dan terstruktur ke seluruh lapisan kehidupan sosial. Fundamentalisme agama merupakan salah satu bentuk reaksi dari proses modernisasi tersebut. Pada dasarnya, fenomena fundamentalisme ini juga ditemukan di agama-agama lain. Kelompokkelompok fundamentalis ingin menggantikan tatanan dunia kontemporer dengan konstruksi visi dunia yang mereka tafsirkan. Kemunculan fundamentalisme agama merupakan hal lumrah jika ditinjau sebagai salah satu bentuk reaksi atas proses modernisasi. Permasalahannya, keinginan kelompok-kelompok fundamentalis tersebut harus berbenturan dengan struktur, nilai, dan norma sosial masyarakat yang telah mengalami proses modernisasi versi Barat. Jika ingin diterima secara luas, kelompok-kelompok fundamentalis memiliki tugas menerjemahkan visi mereka kepada masyarakat modern. Kelompok-kelompok tersebut harus mampu meyakinkan khalayak dengan menjawab berbagai pertanyaan yang ditujukan kepada mereka. Tentu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak hanya mengandalkan terbatas pada apologi keimanan. Kelompok-kelompok tersebut harus mampu memberi jawaban secara rasional. Selama tidak mampu menjawab berbagai pertanyaan secara rasional, maka kelompok-kelompok fundamentalis tetap mendapat resistensi dari masyarakat

    Potensi dan Peran Perempuan Dalam Gerakan Perdamaian

    No full text
    Abstrak Perempuan sebetulnya memiliki peranan yang cukup strategis dalam gerakan perdamaian. Hanya saja, selama ini pengalaman perempuan yang terkait dengan penyelesaian konflik maupun rekonsiliasi pasca konflik kurang mendapat banyak perhatian. Padahal perempuan memiliki potensi yang unik dalam memelihara dan menciptakan perdamaian. Potensi ini bisa digali melalui pemahaman akan ciri khas pendekatan feminis yang tanpa kekerasan, memperhatikan pengalaman hidup individu yang berkonflik dan dampaknya bagi kehidupan mereka, serta menghargai kehidupan manusia dan kelestarian bumi. Tulisan ini berisi kajian literatur seputar peran dan potensi perempuan dalam gerakan perdamaian. Tulisan ini juga akan memaparkan beberapa catatan tentang bagaimana peran tokoh perempuan di berbagai situasi konflik dalam konteks nasional dan juga global. Catatan-catatan ini membantu mempertegas bahwa gerakan perdamaian juga menjadi perhatian (concern) kaum perempuan. Kata kunci : Perempuan, Pendekata femini, Perdamaia

    IMPLEMENTASI PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME DALAM PENGEMBANGAN TOLERANSI DAN KEBANGSAAN DI MTS HASYIM ASY’ARI BLIMBING KOTA MALANG

    No full text
    AbstrakMultikultutralisme sampai saat ini memberikan pengandaian akan adanya pengakuan terhadap semua entitas budaya dan agama dalam satu tatanan sosial untuk hidup bersama. Dalam hal ini multikulturalisme meniscayakan keragaman dan pluralitas. Sebenarnya, multikulturalisme dan pluralisme memiliki prinsip yang sama. Dalam konteks wacana publik, konsep multikulturaisme nampaknya lebih bisa diterima daripada pluralisme.Konsep pluralisme menimbulkan banyak resistensi bagi kalangan agamawan dan lembaga agama konservatif. Hal ini dikarenakan konsep tersebut cenderung disalahartikan sebagai pencampuran agama-agama dan watak liberalnya. Sementara itu, multikulturalisme dibangun atas kesadaran kolektif sebuah komunitas yang mengarah pada pembentukan masyarakat madani yang multi etnik, multi budaya, multi agama yang dinaungi dalam negara hukum yang berkeadilan. Semangat yang muncul dalam multikulturalisme adalah toleransi dalam bingkai masyarakat majemuk. Persoalan kebangsaan dan upaya membangun kembali semangat toleransi di negeri ini harus ada prioritas dalam membangun peradaban bangsa. Kerja keras harus terus dilakukan mulai penyelenggara negara, agamawan, tokoh masyarakat, dan yang tidak kalah penting adalah intitusi agama dan pendidikan. Dalam konteks inilah menjadikan alasan memperkuat pendidikan multikulturalisme di seluruh intitusi pendidikan, khususnya institusi pendidikan berbasis agama. Dan, pendidikan multikulturalisme perlu menjadi ruh dan bersinergi dengan kurikulum pendidikan baik pendidikan formal, nonformal maupun informal. Lini paling mendasar dalam pengembangan pemahaman multikulturalisme adalah pada level pendidikan dasar dan menengah. Karena di lini inilah proses pendidikan karakter dan kepribadian di masa transisi anak terbentuk. Untuk itu rumusan dan model-model implementasi pendidikan multikultural sebagai bentuk ikhtiar yang harus dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun investasi peradaban bagi generasi penerus bangsa ini. Kata Kunci : pendidikan, multikulturalisme, toleransi, kebangsaa

    Perubahan Iklim sebagai Penyebab Terjadinya Kekerasan dan Migrasi: Studi Kasus Konflik Darfur

    No full text
    Migration has always identified with people movement to avoid the occurrence of violence or to seek a better life. It has lasted from the beginning until today, but not many people are aware that migration and violence was also fueled by climate change, not only war and natural disasters. The linkage between climate change and the appearance of a conflict cannot be seen directly, it needs to see the root reasons of the conflicts itselselves. But seen from some of the acts of violence that occurred in some countries such as African countries, violence has always triggered by competition over scarce natural resources such as waters. So this article will be focussing on how the linkages between climate change problems that could encourage violence as well as the causes of migration, by linking the impact of geopolitical and environmental degradation.Migrasi selalu diidentikkan dengan perpindahan penduduk yang selalu identik dengan tindakan untuk menghindari terjadinya kekerasan ataupun mencari tempat hidup yang lebih baik. Hal tersebut telah berlangsung dari dulu hingga saat ini, akan tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa migrasi dan kekerasan juga didorong oleh perubahan iklim bukan hanya peperangan dan bencana alam. Keterkaitan antara climate change dengan munculnya konflik memang tidak bisa dilihat secara langsung, melainkan perlu ditelusuri akar dari konflik itu sendiri. Akan tetapi dilihat dari beberapa aksi-aksi kekerasan yang terjadi di beberapa Negara seperti Negara-negara Afrika, kekerasan yang ada justru dipicu oleh perebutan sumberdaya alam yang semakin terbatas seperti air. Sehingga dalam artikel ini akan difokuskan mengenai bagaimana keterkaitan antara masalah perubahan iklim yang mampu mendorong terjadinya kekerasan serta menyebabkan terjadinya migrasi, dengan mengaitkan dampak geopolitis dan degradasi lingkungan

    Pengaruh Gerakan Perempuan Terhadap Partisipasi Politik Perempuan di Indonesia dan Amerika Serikat

    No full text
    The dominance of men in a system of government has been common in various countries. In Indonesia, there have been sexist perceptions of women circulating, even though it is known that there have been a series of laws that protect women's involvement in politics. It is regrettable that the Indonesian people have not yet considered the low representation of women in government as a problem. In comparison, the representation of women in the United States is also not better than Indonesia. Interestingly, in the United States it is known that there are many movements initiated by women. The question arises to what extent a system of government, feminist culture, and the legal umbrella in both Indonesia and the United States influence women's participation in the government system. This article further elaborates on the low escalation of women's issues in politics through a comparison between Indonesia and the United States.Dominasi kaum laki-laki dalam suatu sistem pemerintahan telah jamak berlaku di berbagai macam negara. Di Indonesia telah beredar persepsi-persepsi seksis terhadap perempuan, padahal diketahui telah ada serangkaian Undang-Undang yang melindungi hak keterlibatan perempuan dalam politik. Sangat disayangkan masyarakat Indonesia belum menganggap rendahnya keterwakilan perempuan dalam pemerintahan sebagai sebuah masalah. Sebagai perbandingan, keterwakilan perempuan di Amerika Serikat juga tidak lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. Menariknya, di Amerika Serikat diketahui terdapat banyak gerakan-gerakan yang diinisiasi oleh perempuan. Muncul pertanyaan sejauh mana sebuah sistem pemerintahan, kultur feminisme, dan payung hukum baik di Indonesia maupun Amerika Serikat berpengaruh terhadap partisipasi perempuan dalam sistem pemerintahan. Artikel ini secara lebih lanjut mengelaborasi tentang rendahnya eskalasi isu perempuan dalam politik melalui perbandingan antara Indonesia dengan Amerika Serikat

    Pendekatan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah (Intergovernmental Relations) dalam Pengelolaan Das Brantas

    No full text
    Watersheds or watersheds actually have a very important role for the survival of many living things, including humans. Not only to meet the various needs of the agricultural sector, watersheds can also provide a number of positive things, such as healthy drinking water, to become a source of food for humans and animals. Good management of the watershed will have a beneficial impact, but if there is a mistake in managing it will certainly bring losses that are not only felt by some areas, but will also be felt by other areas. The Brantas watershed deserves to be in the spotlight because it is currently experiencing various quite complex problems, one of which is the dominance of economic interests which often overrides ecological interests. The three local governments (Batu City Government, Malang Regency Government, and Malang City Government) have a big challenge in building a framework of understanding and agreement for the preservation of the ecosystem around them. Intergovernmental Relations or relations (cooperation) between related governments becomes urgent to be implemented immediately. This study aims to find solutions to the various problems currently being faced by the Brantas Watershed through a model of cooperation between Regional Governments. The method used is a qualitative research method. The focus of this research is to find forms of cooperation between local governments in the management of the Brantas watershed. Data collection techniques with observation, interviews, and documentation. Methods of data analysis with data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of this study conclude about the need for cooperation between the Regional Governments above through the establishment of an independent committee or body that specifically has planning, organizing, implementation/implementation, monitoring and evaluation authority.Daerah Aliran Sungai atau DAS sesungguhnya memiliki peran yang sangat penting bagi keberlangsungan sekian banyak makhluk hidup, termasuk manusia. Tidak hanya untuk memenuhi berbagai kebutuhan sektor pertanian, DAS juga dapat menyediakan beberapa hal positif, seperti air minum yang sehat, hingga menjadi sumber makanan bagi manusia dan hewan. Pengelolaan yang baik atas DAS akan memberikan dampak yang menguntungkan, namun bila terjadi kesalahan dalam mengelola tentu akan membawa kerugian yang tidak hanya dirasakan oleh sebagian kawasan, tetapi juga akan dirasakan oleh kawasan lainnya. DAS Brantas layak menjadi sorotan karena tengah mengalami berbagai persoalan yang cukup kompleks, salah satunya adalah, begitu besarnya dominasi kepentingan ekonomi yang seringkali mengalahkan kepentingan ekologis. Tiga pemerintahan daerah (Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Kabupaten Malang, dan Pemerintah Kota Malang) memiliki tantangan yang besar dalam membangun sebuah kerangka kesepahaman dan kesepakatan demi terjaganya ekosistem disekitar mereka. Intergovernmental Relations atau hubungan-hubungan (kerjasama) antar pemerintah terkait menjadi mendesak untuk segera dilaksanakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi atas ragam problematika yang sedang dihadapi DAS Brantas melalui model kerja sama antar Pemerintah Daerah. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Fokus dalam penelitian ini adalah mencari bentuk kerjasama antar Pemerintah Daerah dalam pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) Brantas. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan tentang perlunya kerjasama antar Pemerintah Daerah di atas melalui pembentukan suatukomite atau badan independen yang secara khusus memiliki otoritas perencanaan, pengorganisasian, implementasi/pelaksanaan, monitoring dan evaluasi

    Analisis Kebijakan Menteri Pendidikan Tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi PAI

    Full text link
    Curriculum is a set of lesson plans, the setting of objectives, content, and learning materials that are developed as guidance for the implementation of learning activities to achieve specific educational objectives. The curriculum that is implemented today is the Curriculum 2013. This curriculum is a refinement of the previous curriculum, the School-based Curriculum. The implementation of Curriculum 2013 is aimed at improving the students’ competence to be more analytic and requiring the teachers to be more creative and innovative during the process of learning. This paper analyzed two main core of National Standards of Education which are Standards of Graduate Competency and Standards of Content in School-based Curriculum and Curriculum 2013. Currently, the implementation of Standards of Graduate Competency for School-based Curriculum is based on Permendiknas RI No. 23 of 2006 on Standards of Graduate Competency for primary and secondary schools. Meanwhile, Curriculum 2013 refers to Permendiknas RI No. 54 of 2013 on Standards of Graduate Competency for primary and secondary schools. Besides, the implementation of Standards of Content for School-based Curriculum is based on Permendiknas RI No. 22 of 2006 on the Standards of Content for primary and secondary education. On the other hand, Curriculum 2013 refers to Permendikbud RI No. 64 of 2013 the Standards of Content for primary and secondary education. However, the complex problems lie under the Standards of Graduate Competency and Standards of Content, both in substantive and procedural factors, so these problems affect the technical implementation in the field as well. Therefore, the education’s quality in Indonesia must be enhanced by defining a clear and definite objective without disregarding the potential, geographical situation, and demographic situation, as well as the diverse socio-economic condition of the people.Keywords: Standards of Graduate Competency, Standards of Content for Islamic Education, Analysis of Polic

    3,371

    full texts

    4,178

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang: Journals
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇