Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
Not a member yet
    262 research outputs found

    MEMADUKAN KEMBALI EKSOTERISME DAN ESOTERISME DALAM ISLAM

    Full text link
    Abstrak: Di kalangan sebagian Muslim terjadi kesenjangan pemahaman terhadap dimensi eksoterisme (dimensi lahir, syariat) dan esoterisme (dimensi batin, tasawuf) Islam. Bagi yang mengutamakan dimensi eksoterisme, dimensi esoterisme dianggap tidak penting dan bahkan kadang-kadang keluar dari ajaran Islam. Sementara yang mengutamakan dimensi esoteris memandang bahwa eksoterisme tidak diperlukan lagi, karena manusia sudah mampu menyingkap rahasia Tuhan. Sejatinya, antara dimensi eksoterisme dan esoterisme ini tidak dapat dipisah-pisahkan. Keduanya merupakan bagian ajaran Islam yang integral. Tulisan ini hendak mengungkapkan tarik-menarik pemahaman antara dimensi eksoterisme dan esoterisme Islam. Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa dimensi esoterisme (tasawuf) diperlukan manusia agar terjadi perimbangan dalam menghadapi hidup dan lebih memberi ruh dari pemahaman syariat yang dianggap kaku dan kering.Abstract: Reintegrating Exoterisme and Esoterisme in Islam. There have been a misnderstanding amonngst some Muslims between the exoteric of rituals or syariah and the esoteric dimension of tasawuf or mystisism in Islam. Those who give more weight for exoteric dimension regarded the esoteric of no great concern and even sometimes have departed from the Islamic teachings. For those who support the esoteric dimension, however, considered the exoteric to be unusefull, since man had been able to uncover the mystery of God. Ideally, the exoteric and esoteric dimensions are separate whole, both of which are an integrated part of Islamic tenets. This essay, is going to shed some lights on esoteric and exoteric dimension of Islam. The author concludes that the esoteric dimension of tasawuf is need by human being so that equilibrium can be maintained in facing their lives and will give more spiritual impetus in understanding the deemed rigid and wither syariah.Kata Kunci: tasawuf, fikih, esoterisme, eksoterisme, pemikiran Isla

    DESIGNING CURRICULUM, CAPACITY OF INNOVATION, AND PERFORMANCES: A STUDY ON THE PESANTRENS IN NORTH SUMATRA

    Full text link
    Abstrak: Sebenarnya cukup banyak artikel dan studi tentang pesantren yang telah dipublikasikan secara meluas. Hampir semua dari literatur tersebut adalah men-diskusikan tentang pesantren dari perspektif Islam (keagamaan) semata. Artikel ini mencoba menawarkan suatu perspektif baru dalam bidang pesantren, yaitu sebagai suatu entitas bisnis. Artikel berbasis riset ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana prestasi kerja suatu pesantren yang dipengaruhi oleh (kegiatan) mendeisain kurikulum pada tingkat kapasitas inovasi yang berbeda-beda. Data akan dianalisa dengan menggunakan metode stastikal deskriptif dan inferensial melalui frekuensi, regresi berganda, dan regresi bertingkat. Pada akhirnya, hipotesa dan kesimpulan akan diajukan. Artikel ini menunjukkan pengaruh dari aktivitas merancang kurikulum yang modern dan islami dari suatu pesantren dengan prestasi kerja yang diharapkan akan berbeda-beda sesuai dengan tingkat kapasitas inovasi yang ada di dalam pesantren tersebut. Abstract: Desain Kurikulum, Kemampuan Inovasi dan Performa: Studi Pesantren di Sumatera Utara. There have been many articles and studies on Pesantren that have been published. Unfortunately, Almost all of them discuss about the Pesantren from the perspective of Islam exclusively. This paper tries to offer a new perspective in looking at the Pesantren: as an entity of business. This is a research paper which aims to know how Pesantrens’ performances are influenced by designing curriculum at different levels of capacity of innovation. The data are analyzed using descriptive and inferential statistics, namely frequency, multiple regressions and hierarchical regression. This paper analyzes the influence of designing the curriculum on performances of the Pesantren and the important effects of capacity of innovation on them. This paper reveals that the influence of designing modern Islamic currciculum to the Pesantren’s performances is expected to be varied according to the levels of capacity of innovation at the Pesantren. Keywords: pesantren, social entrepreneurship, curriculum, performance, innovatio

    ANALISIS METODOLOGIS-FILOSOFIS KONSEP TAFSIR JAMÂL AL-BANNÂ

    Full text link
    Abstrak: Artikel ini mencoba untuk mengulas metode penafsiran Jamâl al-Bannâ secara metodologis dan filosofis. Dimulai dengan upaya untuk mendekonstruksi interpretasi hasil dari semua mufasir klasik, Jamâl al-Bannâ mengusulkan tiga tahap dalam penafsiran al-Qur’an, yaitu pendekatan seni, pendekatan psikologis, dan pendekatan rasional. Ketiganya merupakan tahapan hierarkis untuk bisa sampai pada sebuah penafsiran. Setelah bisa sampai pada tahap penafsiran, Jamâl al-Bannâ tidak merekomendasikan metode tertentu atau membatasi ilmu pengetahuan tertentu sebagai metode analisa penafsiran. Ia menolak jika salah satu metode tertentu memiliki garansi sebagai satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran, karena al-Qur’an tidak harus dibatasi. Dalam sosiologi pengetahuan, pemikirannya mirip denganAgainst Method (Anarkisme Metode) Paul K. Feyerabend. Bagi Jamâl al-Bannâ, manusia sangat otonom dan bebas untuk menafsirkan selama itu sejalan dengan prinsip-prinsip humanis dan universal yang terkandung dalam al-Qur’an.Abstract: Methodological and Philosophical Analysis of Jamâl al-Bannâ’s Qur’anic Exegesis. This article seeks to analyze the method of Jamâl al-Bannâ’s interpretation. Beginning with an attempt to deconstruct the interpretation of the results of all classicalmufassir, Jamâl al-Bannâ proposed three stages in the interpretation of the Qur’an that include such approaches as stylistic, psychological, and rational method. All three approaches are utilized hierarchically in order to come to an interpretation. At the rational stage of Qur’anic exegesis, Jamâl al-Bannâ didn’t recommend a specific method or limit the science to a particular method. He refused that one particular method has the warranty as the only interpretation to seek the way for the truth, because the Qur’an should not be restricted. In the sociology of knowledge, his thinking is similar to that of Paul K. Feyerabend’s Against Method. According to Jamâl al-Bannâ, human beings are very autonomous and free to interpret the Qur’an as long as it is in line with the principles of humanistic and universal values as enshrined there in.Kata Kunci: Tafsir al-Qur’an, Jamâl al-Bannâ, pendekatan seni, metode penafsira

    MUSYÂRAKAH: ANTARA FIKIH DAN PERBANKAN SYARIAH

    Full text link
    Abstrak: Musyârakah merupakan salah satu model profit and lost-sharing (PLS) yang kehadirannya dalam bank syari‘ah paralel dengan Islam. Musyârakah dalam praktik perbankan syariah tidak dikonstruk melalui fikih an sich, tetapi telah diadaptasikan dengan situasi dan kondisi riil yang didasarkan pada fikih lokal kekinian, KHI atau fatwa MUI. Dalam fikih klasik, ulama sepakat bahwa jaminan, misalnya, tidak perlu mewujud dalam kontrak musyârakah, karena mitra adalah orang yang dipercaya, dan atas dasar “kepercayaan” ini, maka mitra yang satu tidak dapat menuntut jaminan dari mitra yang lain. Namun fikih lokal memberikan kelonggaran kepada bank syariah mensyaratkan mitranya untuk memberikan jaminan guna mereduksi risiko dalam pembiayaan musyârakah.Abstract: Musyârakah: Between fiqh and Syariah banking. Musyârakah is one of the profit and lost-sharing (PLS) models which is parallel with Islamic bank concept. At the practical level of syariah banking, musyârakah is not purely legal construction but it is a social adaptation to the real circumstances which are based on contemporary local fiqh (Islamic law). Classical fiqh does not require the guarantee to be embodied in a musyârakah contract, because the partner is a trustworthy person. Moreover, on the basis of trust, one partner cannot require a guarantee from the other party. Otherwise, local fiqh gives concessions to Islamic bank, i.e., it requires partners to provide assurance in order to reduce risk in the musyârakah financing.Kata Kunci: musyârakah, bagi hasil, fikih muamalah, bank syari‘a

    PERGESERAN POSISI AGAMA DALAM UNDANG-UNDANG PENDIDIKAN DI INDONESIA

    Full text link
    Abstrak: Agama akhirnya memperoleh posisi sebagai akar pendidikan nasional setelah melewati waktu 53 tahun sejak Undang-undang pendidikan pertama disahkan tahun 1950. Fokus kajian ini adalah untuk melihat pergeseran posisi agama dalam rumusan-rumusan dasar dan tujuan pendidikan nasional. Penulis mengemukakan bahwa posisi agama dalam rumusan-rumusan tujuan pendidikan nasional akhirnya juga meningkat lebih strategis yang diposisikan sebagai akar pendidikan nasional dalam Undang-undang pendidikan No. 2 tahun 1989 dan Undang-undang No. 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Penulis menyimpulkan bahwa pergeseran posisi agama tersebut secara historis terkait dengan kekuatan kelompok nasionalis agama di Dewan Perwakilan Rakyat dan dukungan masyarakat simpatisannya. Meskipun posisi agama lebih strategis, tetapi Pancasila dan UUD 1945 sejak awal tetap terpelihara posisinya sebagai dasar pendidikan nasional.Abstract: The Shift of Religious Position in the Education Laws of Indo- nesia, A Study on the Principles and Objectives of National Education. The position of religion as root of national education is finally affirmed by the 1989 and 2003 Laws of Education, well over half a century since Indonesia’s first Law of Education enacted in 1950. The main thrust of this study will be focused on analyzing the shift of religious position in the principles and objectives of national education. The author maintains that in the last Law of Education, religion recieves a much more important and strategic position which gave more weight as the root of education in the formulation of national education’s foundations and objectives. This shift clearly related to religious-nationalist parties in the House of Representatives as well as grass root groups that support them. It is observed, however, that the strengthening of religion position does not happen at the expense of the Pancasila and the Constitution of 1945.Kata Kunci: agama, pendidikan nasional, dasar pendidikan, tujuan pendidika

    PENGARUH BAHASA TERHADAP PERBEDAAN PENDAPAT PARA IMAM MUJTAHID DALAM MENAFSIRKAN AYAT-AYAT HUKUM

    Full text link
    Abstrak: Pada tataran tertentu, para ulama berbeda dan tidak sepakat tentang beberapa persoalan hukum. Ketidaksepakatan itu dilatarbelakangi oleh berbagai hal, salah satu di antaranya adalah persoalan kebahasaan. Artikel ini membahas bagaimana para mujtahid berbeda dalam menafsirkan ayat-ayat hukum yang menurut penulis terdiri dari enam aspek, yaitu 1) pemaknaan hurûf jâr dan hurûf  ‘athf, 2) penentuan makna fi‘il (kata kerja) dan ism (kata benda), 3) menentukan objek yang ditunjuki ism isyârah, 4) menentukan tempat pengembalian ism dhamîr, 5) menentukan kuantitas dan kualitas makna suatu lafal, dan 6) penentuan makna haqîqy atau majâzy suatu lafal. Penulis mengemukakan bahwa sebagai konsekuensi dari perbedaan kebahasaan ini, para imam mujtahid memiliki pemahaman dan penafsiran yang berbeda terhadap ayat-ayat hukum Islam, yang pada gilirannya melahirkan keragaman umat Islam dalam beribadah dan bermuamalah.Abstract: The Linguistic Influence on the Divergence of Jurisprudents Opinion in Interpreting Qur’anic Legal Verses. At certain level, the jurisprudents disputed and disagreed on a number of legal issues. Such disagreement stems from various aspects, one of which is linguistic problem. This article studies how the jurisprudents are different in interpreting legal verses, which according to the author consists of six aspects, namely identifying hurûf jâr (preposition) and hurûf  ‘athf (conjuntion); determining the meaning of fi‘l (verb) and ism (noun); deciding the object to which ism isyârah and pronoun refers to; deciding quantity and quality of the meaning of a word and sentence; and identifying ma’na haqîqy (definite or real meaning) of a word and sentence and its ma‘na majâzy (metaphor). The author argues that as a consequence of these differences, Muslim scholars have different understanding of Islamic legal verses, which in turn lead to divergence of implementation of Islamic laws within the Muslim community both in the ritual and social dealings.Kata Kunci: hukum Islam, perbedaan pendapat, bahasa, penafsira

    THE RITUAL OF KHANDURI LAÔT IN LOWLAND ACEH: An Ethnographic Study in South, South West and West Aceh

    Full text link
    Abstract: This article aims to describe and analyze critically about the ritual of khanduri laôt in lowland Aceh. This annual ritual has been performed from one generation to another for it cannot be separated from the life of fishermen and it leaves a deep impression among the participants. This research is a field research and its data is obtained through meticulous observation of the ritual action and in-deep interview, discussion with the main protagonists of the ritual performance. The result of the research shows that the village fishermen made the offering (cosmological exchange) besides reciting the verses from the Qur’an. The offering is made to “the possessor of the fish” and is also given to “the sea water spirit” who takes care of the fish pond, the coast sea, the sea’s surface, the waves, and the deep sea. The village fishermen considered that cosmological exchange is important to be done as the protection for the fishermen from harm at sea besides the fish will go near the sea coast and taste the khanduri so that the fishermen can easily catch them. Abstrak: Ritual Kenduri Laut di Daratan Aceh: Kajian Etnografi di Aceh Selatan, Barat dan Baratdaya. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa secara kritis tentang ritus khanduri laôt di dataran rendah Aceh. Ritus tahunan ini telah dilaksanakan dari generasi ke generasi karena tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nelayan dan meninggalkan impresi yang mendalam diantara pengikutnya. Penelitian ini adalah penelitian lapangan dan datanya diperoleh melalui pengamatan terhadap aktivitas dan upacara ritus, wawancara mendalam dan diskusi dengan informan kunci. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa nelayan desa membuat sesajian (pertukaran cosmos) selain membaca ayat-ayat al-Qur’an. Sesajian juga dibuat untuk the possessor of the fish, dan juga kepada the sea water spirit yang menjaga kolam ikan, pantai laut, permukaan laut, gelombang dan laut dalam. Nelayan-nelayan desa menganggap bahwa pertukaran kosmos perlu dilakukan sebagai proteksi bagi mereka dari gangguan di laut dan ikan akan pergi mendekat ke tepian dan memakan sesajian, sehingga nelayan bisa menangkapnya dengan mudah. Keywords: ritual of the khanduri laôt, sea water spirit, cosmological exchang

    BUDAYA AKADEMIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN DAYAH SALAFIYAH DI ACEH

    Full text link
    Abstrak: Artikel ini mengkaji budaya akademik dalam sistem pendidikan dayah Salafiyah di Aceh. Secara historis, dayah dikenal telah melahirkan banyak ulama dari berbagai disiplin ilmu, sehingga akan menarik untuk mengkaji perkembangan budaya akademik pada sistem pendidikan dayah yang melahirkannya. Artikel ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, dan menemukan bahwa budaya akademik di dayah Salafiyah masih belum berkembang. Kondisi ini lebih disebabkan oleh empat faktor, yakni budaya akademik di dayah telah berkembang secara turun temurun, masih menggunakan kurikulum dan metodologi pengajaran yang masih  tradisional, serta organisasinya belum dikelola dengan manajemen yang sistematis. Keempatnya berpengaruh pada budaya akademik dalam sistem pendidikan dayah yang meliputi budaya belajar, memberi pendapat, pengembangan keilmuan, dan berorganisasi.Abstract: Academic Culture of Dayah Salafiyah Education System in Aceh. As a center of education, propagation, and religious development, Dayah (traditional Islamic boarding school) has produced a large number of ulama from various fields of disciplines. This article attempts to study academic culture of Dayah Salafiyah education system in Aceh. This articles utilizes qualitative approach, and found that academic culture of Dayah Salafiyah has not yet developed. It is argued that there are at least four aspects that underpins the condition, namely, academic culture, the use of traditional curriculum, methology as well as organization. In reality, however, the academic culture of Dayah has not shown an open and inclusive culture. As such, the existence of Dayah has been put under a big question mark. Although the number of Dayah has been significantly increasing in Aceh Besar, its teaching and learning quality has been declining, and its roles in government and community system have also been weakening.Kata Kunci: budaya akademik, dayah, Salafiyah, sistem pendidika

    PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK USIA DINI MENURUT IBN MISKAWAIH

    Full text link
    Abstrak: Selama era Reformasi, sistem pendidikan nasional sedang menghadapi sejumlah problem. Dalam aspek tujuan pendidikan nasional, misalnya, lembaga- lembaga pendidikan tampak belum bisa mencapai tujuan pendidikan nasional secara utuh. Pembentukan akhlak mulia dalam diri anak sebagai salah satu bagian dari tujuan pendidikan nasional masih menjadi persoalan. Banyak faktor penyebab problem ini, antara lain adalah kurangnya peran orangtua dan guru dalam membentuk akhlak anak sejak usia dini. Tulisan ini akan menyajikan pandangan Ibn Miskawaih tentang urgensi pembentukan akhlak anak sejak usia dini. Kajian ini menemukan bahwa seorang anak akan mampu menampilkan akhlak mulia manakala pendidik, baik orangtua maupun guru, mampu memahami kejiwaan anak sembari mulai mengajari dan membiasakan anak dengan akhlak mulia sejak kecil, serta memilih lingkungan yang sehat secara moral untuk anak tersebut.Abstract: Early Childhood Character Building in the View of Ibn Miska- waih. During the reformation era, the national education system is apparently facing some problems. On the goal of national education, for instance, educational institutions have not achieved their goals in the true sense. The noble character building in the child as part of the national education objective has yet become problem. There are a number of factors that led to these problems, some of which are the minor role of the parents and teachers in building child’s character since early childhood. This writing cast some lights on the importance of child character building since early childhood in Ibn Miskawaih’s view. This study finds that a child will be able to be acquainted with noble character when educators, whether parents or teachers, are capable of understanding the child’s psychological state and begin teaching to live with it since childhood. Also contributed to the character building success is choosing healthy environment morally for the child.Kata Kunci: akhlak, anak usia dini, Ibn Miskawai

    K.H. NAWAWI BANTEN (w.1314/1897) Akar Tradisi Keintelektualan NU

    Full text link
    Abstract: K.H. Nawawi Banten (w. 1314/1897): The Root of Intellectual Tradition of NU. The emergence of young ‘liberal’ thinkers from the NU tradition has surprised many, partly because this organization has always been pictured as intellectually conservative and traditional. The present author argues that in fact NU has excellent roots to support modern intellectual undertakings by examining the life, works, and the methodology of K.H. Nawawi Banten, whose thought was considered to be very influential in the formation of NU intellectual tradition.Kata Kunci: NU, Nawawi Bante

    248

    full texts

    262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Miqot Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇